Akhir minggu tiba. Api begitu gembira menyambut kehadirannya. Ia membuka tirai lebar-lebar sehingga cahaya matahari tak perlu malu-malu lagi untuk menerangi ruangan.
Selanjutnya Api keluar dari kamarnya. Langkahnya berjalan riang menuju kamar sebelah—kamar milik Air. Senyum lebar Api luntur setelah mengetahui bahwa si empunya kamar belum membuka matanya. Ia menggembungkan pipinya sembari mengamati Air dengan kasur rapinya. Api berpikir terkait kerapian yang ia lihat adalah—seprei masih mulus, selimut menutupi badan Air, dan bantal-bantal yang tidak berantakan—sesuatu yang jarang terjadi.
Air mau sombong ke Api, ya? Api berpikir lagi.
Tanpa ragu ia mengguncang Air, memanggil namanya, dan mengingatkannya tentang janji untuk bermain bersama di akhir minggu. "Air, jangan ingkar janji, deh!"
Tidak ada jawaban yang Api dapat. Air masih tenang dan tidak menanggapi entah itu helaan napas atau satu-dua kata dari mulutnya.
"Ya sudah, Api sarapan dulu. Nanti Api bilangin kalau Air belum bangun."
Air, Ayo Bangun!
by Ayzahra
Api kembali ke kamar Air. Ia sudah membawa wadah mainan-mainannya. "Air, kok, masih tidur? Ish," ujar Api kesal begitu mendapati saudaranya masih setia di kasurnya. Api memutuskan untuk menurunkan wadah di tangannya dan mengeluarkan mainan-mainannya. "Ayo, bangun, Air!" teriaknya seraya membariskan mainan robotnya.
Karena tak kunjung mendapat balasan, Api berdiri sambil berkacak pinggang. "Tadi malam Air tidur jam berapa, sih?" tanyanya seraya mendekati jendela lalu menyibak tirainya. Langkahnya berbalik menuju lampu tidur yang juga belum dimatikan. Kemudian ia duduk di tepi ranjang. Netranya mengamati mimik muka Air yang tenang. "Air capek, ya?" tanyanya bersamaan dengan tubuhnya yang ia baringkan di sebelah Air. Kini pandangannya terarah ke langit-langit kamar. "Air capek gara-gara Api ngajak Air bermain terus, ya? Padahal, Air lebih suka baca buku, eh?" Api langsung duduk seolah ia baru saja teringat sesuatu yang penting.
Api beranjak dari kasur dan berjalan mengendap-endap menuju rak buku di sudut ruangan. Ada banyak buku di sana. Api menggaruk kepalanya pertanda ia bingung buku mana yang menjadi buku kesukaan Air. Ia mengambil satu buku secara acak berjudul Kumpulan Resep Kue Lezat. Api segera mengembalikan buku itu ke tempat semula. Kalau tidak salah, kemarin Air membaca buku tentang Pinocchio—Air menyebutkannya sendiri sebagai alasan penolakan atas ajakan Api untuk bermain. Tanpa menunggu lama lagi Api mencari buku tersebut. Jika sudah ditemukan, Api akan meneriakkan ancaman kepada Air bahwa ia akan merusak buku kesukaannya.
Sayangnya, Api tidak menemukan yang sedang ia cari atau buku itu tidak tertangkap oleh matanya dan Api sudah lelah mencari. Dengan lesu ia menghampiri dan duduk di dekat robot-robotnya. "Memangnya apa salahnya bermain dengan Api?" gumamnya seraya menggenggam dua robot dan menggerakkan keduanya seolah sedang saling serang.
Lagi-lagi Air tidak mau bermain dengannya. Selanjutnya Api mulai serius memikirkan dirinya dan Air, seperti dirinya yang kekanakan atau Air yang tak peduli. Anak berusia kurang dari sepuluh tahun itu melempar robotnya ke sembarang arah. Matanya yang berkaca-kaca melirik ke Air dengan sebal dan langsung ikut masuk ke dalam selimut adiknya. Ia menggeser Air hingga anak itu terjatuh. "Air, ayo bangun!" teriaknya seraya merentangkan tubuhnya di kasur milik Air, "Jangan ingkar janji, Air!" lanjutnya disusul tangisnya.
Tidak mendapat tanggapan yang cepat membuat Api heran. Sebegitu nyenyakkah Air sampai-sampai ia tak berdiri dan menatap tajam dirinya? Api pernah bertindak seperti tadi, sementara Air dapat langsung terbangun dan berdiri sehingga terhindar dari dinginnya lantai. Namun, kali ini Air tidak melakukan apa-apa. Bahkan, Api tidak mendengar suara Air. Semuanya di luar rencana.
Api berjongkok di sebelah Air. Ia mengguncang tubuh Air yang telah ia balik dari posisi telungkup. "Air, bangun!" Air tidak menanggapi entah itu perkataan atau guncangan yang ia buat. Api panik. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi sehingga ia langsung berlari keluar untuk memanggil orang tuanya.
Kekhawatiran timbul. Api tak bisa mengenyahkannya. Setelah orang tuanya mengambil alih, ia hanya berdiri di belakang mereka. Jantungnya berdegup kencang. Api sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Ia diam karena ia tidak tahu apa-apa.
Mama tidak langsung memberitahu permasalahan yang sedang terjadi. Beliau langsung menyeret Api ke dalam pelukan. Pelukan itu terasa sangat erat. Bukan hanya mama, tangis papa pun pecah walau sepertinya tak sebanding dengan mama. Di tengah-tengah tubuh bergemetar memeluknya Api bertanya lirih, "Ada apa, Ma?"
Kala akhir minggu berikutnya tiba, Api menyibak tirai jendela kamarnya sebelum keluar ruangan. Ia terdiam sebentar di depan pintu sambil menatap pintu ruangan sebelah. Selanjutnya ia melangkahkan kaki langsung ke ruang makan tanpa mengunjungi kamar itu. Yang Api tahu adalah Air sudah tiada. Andai janji untuk bermain bersama bisa ditukar oleh kehidupan seseorang, tentu Api memilih didiamkan saja oleh Air seperti biasanya. Toh, Api sudah tidak peduli dengan janji yang nyatanya ia sendiri yang menetapkan tanpa sepengetahuan Air. Api menyebutnya sebuah trik baru yang membuat Air seolah lupa bahwa dirinya telah membuat sebuah janji. Dengan begitu, jika sukses, Air akan meninggalkan bacaannya sejenak untuk bermain dengan Api.
"Oh, hei, Api! Tunjukkan semangatmu!"
Setelah mendengar teriakan itu, Api langsung berwajah cerah. Ia mengikuti gerakan papanya, yaitu bersiap menyerang. "Robot merah akan menyerang. Hyaaa!" teriakan itu mengundang tawa kecil dari mama yang sedang mengaduk teh, sementara papa menghindar dari Api dengan gesit.
Sekali lagi, yang Api tahu adalah Air sudah tiada. Namun, itu bukan berarti semangat Api akan hilang. Setidaknya itu adalah salah satu hal baik yang bisa dilakukan Api sekarang karena banyak anggota keluarganya yang pada intinya menyuruhnya untuk tetap semangat. Tentu Api pun tidak akan menyanggah jika ditanya apakah ia sedih. Ada rasa sesal yang dapat dijadikan pelajaran.
Mimpi-mimpi meminta untuk diwujudkan. Kalau lelah, beristirahatlah, tapi jangan sampai lupa waktu. Ada hal-hal baik menunggumu.
Tiba-tiba teringat Air dan Api. Api terlalu polos enggak, ya? Terus buku tentang Pinocchio itu pernah kutemukan di salah satu rak perpustakaan. Tertarik, tapi belum kupinjam karena ada buku-buku lain yang mau kupinjam dulu buat referensi. Buku itu makainya bahasa Inggris, sih, dan aku lupa judul tepatnya apa. Kalau yang dibaca Air, sih, bisa aja yang khas anak-anak.
