An Encore

Chapter 1

The First Time You Talk To Me

- Jaehyun

- Johnny


Happy Reading


Suara alarm berdering nyaring memenuhi kamar yang cukup luas untuk seorang remaja berusia lima belas tahun. Deringan alarm yang memekakan telinga mengusiknya, memutus kehidupannya dialam mimpi. Alis tebalnya tertaut, dengan satu tangan yang menutupi wajahnya, menggeram pelan dengan suara deringan alarm yang memaksanya untuk terbangun.

"Jaehyun-ah. Ayo bangun, sudah pagi. Aku tidak mau terlambat sekolah karena menunggumu."

Suara wanita yang tidak kalah nyaring dengan alarm dikamarnya ikut menggema. Remaja yang dipanggil Jaehyun itu dengan terpaksa membuka matanya. Tangannya dengan cekatan mematikan dering alarm dan dalam sekejap Ia bangkit dari tidurnya, menarik napas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya begitu saja. Butuh beberapa saat untuknya mengumpulkan seluruh nyawanya yang mungkin masih tertinggal dialam mimpi yang indah, sedikit tidak rela sebenarnya meninggalkan mimpi indahnya dan kembali ke dunia nyata. Tapi suara menggelegar wanita yang ada diluar sana kembali menyambutnya.

"JUNG JAEHYUN! SUDAH BANGUN BELUM?" Wanita itu berteriak sambil mengetuk pintu kamarnya dengan brutal.

"Iya..iya..Noona ini aku sudah bangun."

Jaehyun beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya, disambut dengan tatapan dingin kakaknya.

"Cepat mandi sana."

"Ck! bawel sekali. Iya ini aku mau mandi."

Wanita yang merupakan kakaknya itu kini pergi meninggalkannya dan menuju dapur untuk bergabung dengan sang ibu menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka. Sesuai instruksi sang kakak, Jaehyun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bersiap untuk menjalani kewajibannya sebagai seorang pelajar. Selesai membersihkan diri, Jaehyun langsung mengenakan seragam berwarna kuning yang dipadukan dengan hitam, seragam khas sekolahnya. Ia menyemprotkan sedikit parfum beraroma segar dan menata rambutnya dengan rapi. Bercermin sebentar, dan merapikan dasinya, Jaehyun sudah siap. Kaki jenjangnya menuntunnya ke arah dapur untuk bergabung dengan keluarganya menikmati sarapan pagi bersama.

"Anak Eomma sudah tampan, ayo sini sarapan dulu nak."

Jaehyun disambut dengan ramah oleh ibunya yang cantik, lantas Ia langsung duduk disamping sang ibu, menenggak susu yang sudah disediakan dihadapannya.

"Ck! Dasar manja." Gerutu sang kakak saat melihat adiknya yang begitu dimanja oleh ibunya.

"Aigoo..uri Soojung iri pada adiknya yah." Sang ayah mengelus pelan rambut anak perempuannya yang sudah memasang wajah merengut sambil mengunyah makanan.

"Aku tidak." Jawabnya kesal.

"Iya Noona iri."

"Tidak!"

"Iya."

"Sudah-sudah jangan bertengkar pagi-pagi begini. Habiskan sarapannya nanti kalian terlambat." Sang ibu menengahi pertengkaran kecil dua kakak-beradik itu. Dengan seruan sang ibu keduanya langsung terdiam dan melanjutkan sarapannya dengan damai.

"Kenapa Noona belum jalan? Biasanya Noona sudah berangkat duluan dengan Mingyu."

"Mingyu pergi keluar kota semalam, pergi ke upacara pemakaman keluarganya."

Jaehyun mengangguk mengerti.

Mingyu itu tetangga mereka, anak sulung dari keluarga Kim, rumahnya tepat berada di depan rumah keluarga Jung. Soojung dan Jaehyun sudah sangat akrab dengan Mingyu, seperti saudara sendiri, karena mereka sudah hidup dilingkungan yang sama sejak dini, bahkan sejak Jaehyun dan Mingyu masih merangkak. Mingyu satu sekolah dengan Soojung, maka dari itu keduanya sering berangkat bersama, biasanya diantar oleh supir dari keluarga Kim. Sementara Jaehyun yang bersekolah ditempat berbeda akan berangkat bersama sang ayah yang kebetulan searah dengan kantor ayahnya. Karena Mingyu hari ini tidak sekolah maka dengan terpaksa Soojung akan ikut bersama ayah dan adiknya.

Selesai sarapan Jaehyun dan Soojung bangkit dari duduknya, berpamitan dengan sang ibu yang juga akan berangkat bekerja. Mereka berpisah didepan gerbang rumah, Jaehyun dan Soojung sudah duduk manis didalam mobil sang ayah, sesekali Soojong memaki Jaehyun yang tidak bisa diam, terkadang bernyanyi saat mendengarkan lagu favorite yang terputar didalam mobil. Sang ayah hanya geleng-geleng kepalanya pelan melihat pertengkaran kecil kedua anaknya itu. Meski terlihat sering bertengkar sebenarnya mereka peduli satu sama lain. Buktinya Jaehyun sempat menanyakan jadwal casting sang kakak, karena Jaehyun tau sang kakak mempunyai mimpi menjadi seorang selebriti.

"Hari ini Noona ada casting?"

"Hm." Jawab Soojung dengan gumaman singkat.

"Kenapa Noona tidak coba saja casting di hari sabtu di perusahaan agensi yang besar itu?"

"Aku tidak ingin jadi idol, aku inginnya jadi aktris."

"Bukankah agensi besar itu juga menaungi para aktor dan aktris?"

"Iya juga, tapi setauku casting di hari sabtu itu khusus untuk para idol, akan ku pertimbangkan nanti."

Mobil mereka berhenti di depan gerbang sekolah Jaehyun. Jaehyun bersiap untuk turun, sebelumnya Ia pamit dengan ayah dan kakaknya.

"Ayah, terima kasih sudah mengantarku. Noona, semangat castingnya. Bye..bye.."

Jaehyun melambaikan tangannya dan berjalan masuk kedalam gedung sekolahnya. Sudah banyak siswa yang mulai berdatangan, beberapa menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Jaehyun dengan kaki jenjangnya terus melangkah menuju loker untuk mengambil beberapa barang yang dibutuhkan. Saat sampai di jajaran loker para murid, Jaehyun tidak langsung menghampiri loker miliknya.

Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekitar, saat merasa situasi sudah aman Ia dengan segera membuka pintu loker seorang siswa lain, dan merogoh sesuatu didalam tas ranselnya. Dengan sangat hati-hati Jaehyun meletakkan sepucuk surat dan sebatang coklat yang diikat dengan pita biru muda. Jaehyun tersenyum puas menampilkan dimple dipipinya yang manis. Menutup loker itu dengan perlahan berharap sang pemilik loker akan menerima pemberiannya.

Tepat setelah Jaehyun menutup loker tersebut, bel sekolah berbunyi, dengan segera Jaehyun pergi menuju kelasnya. Tanpa Jaehyun sadari setelah kepergiannya, seseorang datang menghampiri loker tersebut dan membukanya, meraih sesuatu yang diletakkan Jaehyun tadi.

"Surat ke-sepuluh." Gumamnya pelan.

Sang pemilik loker kemudian menyimpan surat dan coklat tersebut dengan hati-hati, meletakknya agar tidak rusak tertimpa buku-buku dan barangnya yang lain. Setelah selesai mengambil beberapa buku yang dibutuhkan, Ia menutup loker yang bertuliskan 'Johnny Suh' diujung pintu loker tersebut.

.

.

.

Sekarang waktu istirahat sedang berlangsung. Para murid berhamburan memenuhi kantin, sebagian ada yang bermain-main di lapangan sekolah atau di taman sekolah yang hijau dan luas. Tak terkecuali Jaehyun yang sudah duduk menyantap makan siangnya bersama seorang teman, atau lebih tepatnya Sunbae (senior) karena orang yang ada dihadapannya ini satu tingkat diatasnya.

Jaehyun dengan tenang melahap makan siangnya, sampai kedatangan seseorang mengalihkan perhatiannya. Seorang siswa dengan postur tubuh yang tinggi, berambut coklat senada dengan matanya yang sewarna madu. Pandangan Jaehyun tertuju padanya, memperhatikannya dari mulai lelaki tersebut mengambil makan siangnya sampai Ia terduduk di sudut kantin bersama teman-temannya yang lain.

"Berhenti menatapnya seperti itu Jae. Kau terlihat mengerikan."

Suara berat dihadapannya membuyarkan Jaehyun. Ia berkedip dan kini pandanganya bertemu dengan mata rubah yang mengerikan, orang tersebut hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jaehyun.

"Apakah aku terlihat mengerikan Hyung?"

"Hm." Temannya mengangguk meng-iyakan.

"Ck! Hanya kau yang mengatakan jika diriku mengerikan."

"Tentu saja kau mengerikan. Jika aku jadi dia, aku akan berpikiran jika kau seorang penguntit asal kau tau."

"Wonwoo Hyung!" Jaehyun kesal, Ia seketika meletakkan sumpitnya dan menekuk kedua ujung bibirnya kebawah.

"Jangan kekanakan. Cepat habiskan makan siangmu."

"Kau menghilangkan napsu makan ku."

"Terserah kau saja. habiskan atau aku tinggal!"

Jaehyun kembali mengambil sumpit yang Ia geletakkan begitu saja, dan melanjutkan makan siangnya dengan wajah yang ditekuk. Pada jam istirahat Jaehyun biasanya menghabiskan waktu makan siangnya bersama seniornya yang bernama Jeon Wonwoo. Mereka berdua kenal melalui Mingyu. Wonwoo yang dulunya satu sekolah dengan Mingyu sering mampir ke rumah keluarga Kim, yang akhirnya Ia bertemu dengan Jung bersaudara itu, membuat mereka menjadi teman dekat. Wonwoo bahkan mengenal Soojung, kakak perempuan Jaehyun itu pernah mengajak Wonwoo untuk ikut casting bersamanya karena menurut perempuan tersebut wajah Wonwoo sangat cocok untuk menjadi seorang idol, namun Wonwoo tidak mengindahkan perkataan Soojung. Ia punya mimpinya sendiri.

"Hari ini apa yang kau letakkan di loker itu?" Wonwoo bertanya pada Jaehyun tanpa mengalihkan fokusnya dari makan siang nya.

"Seperti biasa."

"Coklat dan surat menggelikanmu lagi?"

Jaehyun mengangguk "Berhenti mengatakan itu menggelikan. Aku rasa isinya cukup manis."

Wonwoo bergidik ngeri membayangkannya. "Jika aku jadi dia, aku akan langsung membuangnya ke tempat sampah."

Jaehyun lagi-lagi merengut dan menatap tidak suka ke arah Wonwoo "Untung saja aku bukan suka pada dirimu Hyung." ucap Jaehyun sarkas.

"Kau yakin dia tau kalau surat menggelikan itu kau yang kirim?"

"Hm." Jaehyun mengangguk "Dan berhenti mengatakkan jika itu menggelikan, kau tidak tau isinya!"

"Aku memang tidak tau, tapi aku membayangkannya." ucap Wonwoo santai. "Kau sudah pernah menerima balasan darinya?"

Untuk kali ini Jaehyun menggeleng dengan lesu atas pertanyaan Wonwoo.

"Lalu sampai kapan kau akan melakukan itu?"

"Sampai dia membalasanya. Atau sampai dia setidaknya merespon untuk membuatku berhenti."

"Itu tidak akan pernah terjadi Jae."

"Kenapa?"

"Hanya firsatku saja. Aku bahkan tidak pernah melihatnya melirik dirimu sekalipun."

Jaehyun semakin menekuk wajahnya dan mengunyah makanannya dengan tidak bersemangat. Ia melirik sekumpulan siswa yang duduk di pojok kantin. Fokusnya tertuju pada satu orang yang sedang asik tertawa bersama teman-temannya. Memang benar kata Wonwoo, tidak pernah sekalipun Jaehyun melihat Dia melihat kearahnya. Jaehyun bahkan selalu menyematkan namanya disetiap ujung surat yang selalu dikirimnya agar orang itu tau bahwa dirinya lah yang mengirimkan surat itu, tetapi Dia tidak pernah sekalipun merespon Jaehyun, bahkan melihatpun tidak.

"Bersikap optimis itu bagus, tapi terkadang kau harus liat situasi juga. Kau sudah berjuang terlalu lama tapi sampai detik ini belum membuahkan hasil. Aku rasa kau harus menghentikan mengirimkan surat-surat konyolmu itu kepadanya." Wonwoo yang melihat ekspresi Jaehyun kini kembali berucap, sejujurnya Ia sedikit prihatin dengan junior nya ini, yang diam-diam menyukai seseorang, tapi tidak pernah terbalas. Padahal secara fisik Jaehyun bisa dikatakan sempurna, banyak diluar sana orang yang ingin dekat dengannya, hanya saja pandangan anak ini selalu lurus tertuju pada satu orang tersebut membuat orang lain yang ingin dekat dengannya jadi tidak terlihat.

Jaehyun menghembuskan napasnya dengan berat "Setidaknya aku tidak mempermalukannya dengan menghampirinya dihadapan banyak orang, menyatakan perasaan dan membujuknya untuk menerima persaanku."

"Jika seperti itu bukan hanya dia yang malu, tapi kau menjatuhkan harga dirimu juga."

"Benar." ucap Jaehyun pelan.

"Sudah jangan murung begitu. Aku ingin ke perpustakaan sebelum bel berbunyi, kau mau ikut?"

Jaehyun mengangguk semangat. Baik Jaehyun atau Wonwoo, keduanya sama-sama menyukai ruangan yang dipenuhi susunan buku tersebut, maka dari itu keduanya sangat cocok. Jaehyun dan Wonwoo bangkit dari duduk mereka dan pergi menuju perpustakaan sesuai rencana. Wonwoo merangkul bahu juniornya dan memberikan semangat kepada yang lebih muda karena wajah murungnya itu belum juga hilang.

"Tersenyumlah sedikit, kau jadi terlihat lebih jelek dari Mingyu jika mukamu ditekuk begitu."

"Wonwoo Hyung! aku bilang ke Mingyu nih yah kalau kau barusan bilang dia jelek."

"Hahahaha bilang saja, aku tidak takut padanya."

"Kau sudah tau jika Mingyu pergi keluar kota?"

"Hmm." Wonwoo mengangguk.

Tanpa mereka sadari setelah kepergian keduanya, orang yang sedaritadi menjadi pusat perhatian Jaehyun kini melirik ke arah mereka. Memperhatikan dua punggung itu saling merangkul pergi meninggalkan kantin. Melihat sekilas senyum berdimple yang manis, dan tanpa sadar mengundangnya untuk ikut tersenyum juga. Namun seketika senyum itu memudar ketika Ia mengingat sesuatu.

"Jika saja perjanjian itu tidak ada." Gumamnya pelan.

.

.

.

Saat bel sekolah berbunyi menandakan jika seluruh kelas sudah berakhir. Para murid berhamburan keluar dari kelas mereka. Sebagian ada yang bergegas menuju ruang club untuk sekedar berkumpul dengan teman club mereka, sebagian ada yang pergi menuju tempat nongkrong para pelajar seperti cafe atau pusat perbelanjaan, biasanya para murid wanita yang melakukan hal ini, dan ada pula yang menuju perpustakaan untuk mengerjakan tugas walau hanya segelintir murid yang melakukan ini.

Jaehyun memasukan buku-bukunya kedalam ransel hitamnya. Setelah mejanya rapi, Ia membaca pesan dari Wonwoo yang mengatakan jika tidak bisa pulang bersama karena Wonwoo ada acara club bersama teman-temannya. Jaehyun memang terkadang pulang bersama Wonwoo mengenakan angkutan umum berhubung arah rumah mereka sama, walau rumah Wonwoo berajarak lebih jauh. Karena Ia tidak memiliki teman untuk pulang, Jaehyun mau tidak mau harus pulang sendiri hari ini.

Ia bangkit dari duduknya dan menyampirkan ransel hitamnya dipundak kanannya. Jaehyun tidak bergabung di club manapun, maka dari itu Ia tidak seperti Wonwoo yang terkadang sibuk dengan kegiatan club nya. Walau Jaehyun mudah bergaul, Ia tetap tidak suka repot-repot bergabung dalam suatu club. Disepanjang koridor sekolah Ia melihat banyak murid yang melakukan kegiatan mereka masing-masing setelah jam sekolah. Matahari yang terik tidak menurunkan semangat para murid yang bergabung di club sepak bola, Jaehyun melihat team sepak bola sekolahnya yang asik berlatih saat melewati lapangan sekolah yang luas. Kaki jenjangnya menuntunnya menuju tempat loker para siswa. Jaehyun biasanya akan meletakkan buku-buku tebal yang berat agar mengurangi beban dipunggungnya.

Jaehyun membuka loker miliknya dan memasukkan beberapa buku kedalamnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat Ia mendengar suara pintu loker lain yang terbuka, loker yang jaraknya tidak jauh dari loker miliknya. Ditempat ini hanya dirinya dan tentu saja orang yang baru saja datang membuka loker tersebut. Jaehyn tau loker milik siapa yang baru saja terbuka. Ia menoleh dan menemukan sosok tinggi dan tampan yang selama ini Ia kagumi secara diam-diam, Oh! mungkin tidak diam-diam, karena Jaehyun selalu menyematkan namanya dengan jelas disetiap surat yang Ia kirimkan, dengan kata lain Jaehyun benar-benar mengakui jika Ia mengagumi orang itu. Seketika Jaehyun merasa gugup, ini pertama kalinya Ia berada sedekat ini dengan orang tersebut, Johnny Suh.

Johnny menoleh kearah Jaehyun, membuat Jaehyun seketika panik karena pandangan mereka bertemu. Jaehyun mengalihkan pandangannya dan menunduk merutuki betapa bodohnya dirinya, karena ketauan menatap kagum orang yang dikaguminya itu. Pipinya memunculkan rona merah, menjalar ke kedua telinganya, menandakan jika Ia benar-benar malu saat ini. Johnny tersenyum dan terkekeh pelan melihat tingkah Jaehyun.

"Jung Jaehyun kan?"

"Oh? ah! iya." Jaehyun menoleh dan memandang Johnny dengan pandangan terkejut. Sedikit salah tingkah karena Johnny baru saja menegurnya.

Jaehyun berharap jika ini bukan mimpi semata. Karena Ia tidak akan pernah mengira bisa berinteraksi dengan Johnny. Selama ini Ia hanya bisa dengan diam-diam mengungkapkan betapa Ia mengaumi sosok tinggi dan tampan dihadapannya ini. Apalagi diberikan senyuman meneduhkan dari Johnny, membuat Jaehyun merasa seperti terbang ke atas awan, dan Jaehyun berani bertaruh jika kedua pipinya saat ini merona merah dibuatnya.

"Kau tidak bergabung dalam club?"

Jaehyun hanya menggeleng pelan, sejujurnya Ia tidak bisa berkata-kata saat ini. Hatinya masih sedikit terkejut dengan moment yang selama ini ditunggunya. Besok Ia akan bercerita tentang semua ini kepada Wonwoo, dan mungkin Mingyu jika anak itu sudah kembali dari luar kota.

"Kalau begitu kau akan langsung pulang?" Tanya Johnny lagi.

Jaehyun kembali mengangguk. Ia menyesali betapa pasif dirinya saat ini, seharusnya Ia dapat setidaknya mengeluarkan suaranya.

"Sendirian?"

"Ah, seharusnya aku pulang bersama Wonwoo sunbae." Kali ini Jaehyun berhasil bersuara, walau dengan volume yang sangat rendah.

"Teman mu yang bermata rubah itu yah?"

Jaehyun mengangguk dan tersenyum. Ia sedikit tertawa pelan saat Johnny mengatakan jika Wonwoo memiliki mata seperti rubah, walau memang seperti itu kenyataannya. "Karena Wonwoo Hyung sedang ada kegiatan di club nya maka hari ini aku harus pulang sendiri." lanjutnya.

"Kalau begitu..." Johnny sedikit ragu dan menggantungkan ucapannya, Ia menatap Jaehyun yang ada dihadapannya, menunggunya untuk melanjutkan kata-katanya "Mau pulang bersama ku?"

Seketika kedua mata Jaehyun melebar, Jaehyun bahkan menahan napasnya dengan seketika. Ajakkan Johnny tadi meninggalkan efek yang luar biasa bagi Jaehyun, seakan keadaan disektiarnya memudar dan waktu berhenti seketika. Jaehyun tidak pernah mengharapkan jika Ia akan menghabiskan waktu bersama Johnny walau hanya sebentar saja, yang Ia harapkan selama ini adalah sebuah respon dari Johnny dari semua surat-surat yang dikirimnya. Sepertinya dewa cinta sedang berpihak kepadanya, membuatnya mendapatkan hal yang lebih dari sekedar balasan surat.

"Jaehyun?"

Suara Johnny yang memanggil namanya membuayarkannya dari segala keterkejutannya. Jaehyun mengerjapkan mata dan kembali menghembuskan napas yang sempat tertahan.

"Ah! Ya?" Ucapnya gugup.

Johnny terkekeh melihat tingkah Jaehyun "Kau mau pulang bersamaku? Aku rasa kita searah, kau biasa naik bus dari halte depan sekolah kan?"

"I-iya."

"Kalau begitu ayo."

Johnny melangkah lebih dulu, meninggalkan Jaehyun yang masih mematung di tempatnya. Ia menoleh kembali kearah Jaehyun saat merasa anak itu tidak mengikutinya.

"Jaehyun?" Panggilnya, membuat Jaehyun kembali tersadar.

Jaehyun dengan ragu melangkah menghampiri Johnny dengan kepala yang sedikit tertunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di pipi nya, walau percuma karena Johnny masih dapat meilihat kedua telinganya yang memerah, dan itu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi Johnny.

.

.

.

Jaehyun dan Johnny menunggu bus yang akan mengantar mereka pulang. Mereka berdiri berdampingan di halte. Jaehyun yang sedikit gugup sesekali menggigit bibirnya, Ia juga terkadang mencuri pandang ke arah Johnny. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Walau diam, Johnny juga terkadang memperhatikan tingkah adik kelasnya yang ada disampingnya ini, sikap gugupnya terkadang terlihat menggemaskan dimatanya. Apalagi jika Jaehyun mengulum bibirnya membuat kedua dimple di pipinya muncul dengan menggemaskan.

Tak lama kemudian bus yang akan mereka tumpangi datang. Keadaan bus yang masih lengang membuat keduanya dapat duduk di kursi bagian belakang. Jaehyun duduk tepat disamping jendela, dengan Johnny yang ada disampingnya. Masih diam tidak ada sedikitpun kata diantara keduanya, membuat keadaan sedikit canggung bagi Jaehyun.

Meskipun begitu keduanya menikmati perjalanan pulang mereka. Jaehyun ingat saat dirinya berada dalam satu bus dengan Johnny, kala itu Ia sama sekali tidak berani menegur sang kakak kelas, bahkan ketika Wonwoo menyarankannya untuk bertegur sapa memperkenalkan diri Jaehyun tidak berani. Sekarang Ia duduk berdampingan dengan Johnny, satu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Jaehyun sebelumnya.

"Sepertinya kita belum berkenalan dengan baik." Akhirnya Johnny membuka suaranya. Membuat Jaehyun menoleh dan menatap tepat di bola mata sewarna madu tersebut. Dari jauh Jaehyun sudah dapat melihat jika Johnny memiliki mata yang berwarna terang, dan sekarang melihatnya dari jarak sedekat ini membuat Jaehyun dapat melihat jika warna mata itu benar-benar senada dengan warna madu.

"Aku tau namamu dari setiap surat yang kau kirim."

Seketika Jaehyun merasa malu dan menundukkan wajahnya. Memang benar Ia menyematkan namanya di setiap surat yang dikirimnya. Sekarang mendengar langsung dari Johnny jika dirinya membaca surat-surat itu membuatnya malu.

"Akan lebih baik jika kita berkenalan secara langsung."

Johnny mengulurkan tangannya mencoba untuk menjabat tangan Jaehyun. Sebuah gesture yang sering dilakukan ketika ingin berkenalan dengan satu sama lain. Tangan seputih kapas milik Jaehyun dengan ragu terulur dan menjabat tangan yang lebih besar darinya itu.

"Johnny Suh. Senang berkenalan dengan mu."

"Jung Jaehyun."

Johnny lagi-lagi menyuguhkan Jaehyun dengan senyum teduhnya. Membuat jantungnya semakin berpacu dengan cepat karena perasaan senang. Jaehyun memang sangatlah mengagumi seniornya ini sejak pertama kali melihatnya, diawal Ia memasuki sekolah menengah atas. Ia bahkan memberanikan diri menunjukkan rasa kagumnya dengan mengirimkan surat-surat yang dianggap Wonwoo menggelikan. Jaehyun tidak pernah mengira jika Ia akan mendapatkan balasan yang seperti ini, bukan sepucuk surat balasan, bukan juga sebuah penolakkan. Johnny dengan senang hati membuka jalan baginya untuk semakin mengenal dan dekat satu sama lain. Jaehyun tidak berharap lebih, dapat berinteraksi dan berada sedekat ini saja Ia sudah merasa senang.

"Mari menjadi teman yang baik."

Jaehyuh tersenyum dengan samar ketika Johnny mengatakannya. Sudah Jaehyun bilang jika Ia tidak mengharapkan lebih. Jaehyun sudah sangat senang setidaknya usahanya selama ini mendapat balasan.

.

.

.


TBC


Test…Test…one..two..three..

Hi! Semuanya. Apa kabar?

Masih ingat dengan akun ini?

Star tau sedikit sekali dari kalian yang masih membuka website ini untuk membaca fanfic. Tapi kali ini Star memilih ffn untuk mempublish work baru. Ini masih awal mula. Masih sebuah pengenalan. Star tau pasti hanya stu atau dua orang yang baca, atau lebih parahnya lagi TIDAK ADA yang baca. Karena sepertinya website ini semakin sulit di akses yah?

Tapi tidak apa. Star tidak mengharapkan review atau like atau follow. Star kembali menulis disini hanya untuk sebuah pelampiasan dimana ada satu ide yang sudah tersimpan cukup lama. Sangat menyenangkan jika ternyata Star dapat respon hahaha

Chapter ini masih awal mula, masih perkenalan, jadi mungkin terasa datar. Star baru menuangkan siapa-siapa aja karakter yang ada di fic ini. Semoga kalian yang membacanya akan suka.

Sekian cuap-cuapnya. Sampai jumpa di next chapter. Bye..bye…

-100BrightStars-