"Aku berhasil menangkapnya!" seru Naruto seraya melompat dari batang pohon. Ia menggendong seorang gadis berambut hijau tosca yang tiba-tiba muncul dari pintu portal dimensi di langit. Fenomena langka yang terjadi di desa Konoha sempat membuat semua warga geger. Bahkan Minato sang Hokage Keempat, sudah siaga dan mempersiapkan pasukan tempur untuk mengantisipasi sesuatu yang terjadi jika pintu portal menyerupai lubang hitam itu membahayakan.

"Bagus. Kita harus segera membawanya langsung pada Hokage Keempat," sahut Haruno Sakura yang ditanggapi anggukan dari Uchiha Sasuke. Mereka mendarat di samping Naruto.

"Tapi, tunggu dulu..."

Perkataan Naruto terputus saat memandang wajah gadis yang digendongnya dengan gaya bridal. Seketika semburat merah tipis menghiasi kedua pipinya. Tanpa sadar, dirinya bergumam, "cantik."

Sasuke dan Sakura saling pandang karena merasa Naruto menjadi patung hidup yang terpesona dengan orang asing. Kemudian Sakura meninju bahu Naruto dengan kuat.

"Bukan saatnya mengatakan itu, 'kan?" ucap Sakura melototi Naruto, "kita tidak tahu gadis ini baik atau jahat. Sebaiknya kita membawanya ke rumah sakit dan biar aku yang merawatnya."

"Kau benar, Sakura," sahut Naruto tersenyum kikuk sambil meringis kesakitan pada bahu kirinya yang ditinju Sakura barusan.

"Ayo, kita pergi sekarang!" Sasuke bergegas melangkah duluan dan melompat ke batang pohon.

"Sasuke, tunggu kami!" Suara Naruto dan Sakura membahana ke seluruh hutan itu. Mengagetkan kawanan burung hingga terbang ke langit.

.

.

.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Freezing: Lim Dall-young and Kim Kwang-Hyun

.

.

.

Pairing: Naruto x Cassie

Rating: T

Genre: romance/family/hurt/comfort

Setting: dunia ninja dan dunia Freezing

.

.

.

Quietly

By Hikasya

.

.

.

Chapter 1. Saudara?

.

.

.

Namikaze Minato berdiri bersama Naruto, Sasuke, dan Sakura. Mereka mengelilingi ranjang yang ditempati gadis berambut hijau tosca. Menginterogasi gadis itu guna mencari informasi.

"Kau sadar juga," ujar Minato tersenyum ramah, "kalau aku boleh tahu, siapa namamu?"

"Namaku Cassie Lockhart," sahut Cassie cepat.

"Namamu aneh," sela Naruto yang langsung mendapatkan jitakan keras di kepalanya dari Sakura.

"Jangan menyela pembicaraan, Naruto! Kau tidak sopan!" omel Sakura sambil berkacak pinggang. Wajahnya menyeramkan sekali.

Interogasi terganggu sebentar, lalu Minato melanjutkan pembicaraannya dengan Cassie. Naruto dan dua temannya memilih mendengarkan mereka.

"Asalmu dari mana?" Minato bertanya lagi dengan tampang yang serius.

"Asalku dari..." Perkataan Cassie terputus saat memperhatikan orang-orang itu. Menyadari bahwa dunia yang disinggahinya sekarang, bukanlah dunianya. "Asalku bukan dari sini, tetapi sebuah dunia yang dikuasai makhluk menyerupai robot. Kami menamainya Nova."

"Nova?"

"Ya. Asalnya dari dimensi lain. Lalu aku adalah Pandora yang bersekolah di East Genetic dan bertugas melawan Nova. Aku juga ingat, aku ditangkap Nova dan masuk ke pusaran yang ada di langit."

"Oh. Setelah itu, kau tak sadarkan diri dan baru sadar ketika kami datang menjengukmu, 'kan?"

"Ya."

"Hm, aku mengerti."

Minato mengangguk sambil tersenyum. Penjelasan Cassie sudah cukup baginya. Kemudian Cassie memandang setiap wajah yang hadir di tempat itu. Hatinya bertanya-tanya tentang orang-orang asing yang ada di dunia ini. Tetap waspada terhadap kemungkinan yang terjadi.

"Oh ya, aku belum memperkenalkan diriku. Aku Namikaze Minato, anak dari Hokage Keempat ini," ujar Naruto tiba-tiba karena merasakan Cassie harus mengenal dirinya dan semuanya lebih dekat lagi. Ia menunjuk Minato, "ini ayahku, Namikaze Minato, pemimpin desa ini. Lalu dua orang ini, rekan setimku, Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke."

"Halo, aku Sakura. Salam kenal, ya," tutur Sakura tersenyum seraya membungkukkan badan. Sementara Sasuke tidak memberikan tanggapan apa pun, justru memilih diam sembari mendengarkan.

"Salam kenal juga." Cassie mengangguk, menunjukkan senyum yang manis sehingga menyentuh hati Naruto. Membuat jantung Naruto berdebar, seakan ingin lepas dari tubuhnya. Entahlah, sesuatu yang pernah dirasakannya saat pertama kali berjumpa dengan Sakura.

Usai itu, Minato menyambung interogasi lagi. Cassie menjawabnya dengan jujur. Hingga beberapa saat kemudian, Minato dan Naruto serta Sasuke keluar dari bangsal. Sakura tidak ada bersama mereka karena harus menjaga Cassie.

"Ayah rasa dia anak yang baik dan pemalu seperti almarhuma Hinata," ungkap Minato seraya memegang dagu dengan tangan kanannya, "setelah diperiksa Sakura lebih teliti lagi, ada luka yang didapatkan di perut dan di bahunya. Lalu ada semacam benda seperti kristal terpasang di dadanya. Cassie bilang benda yang ada di dalam tubuhnya itu, bernama Stigmata. Semacam kekuatan yang bisa membuat dia menggunakan senjata untuk melawan Nova."

"Oh, begitu," pungkas Naruto bersedekap dada, "setelah ini, Ayah akan melakukan apa padanya?"

"Ayah pikir dia harus tinggal di rumah kita dan kau harus menjadi pengawalnya."

"Hah? Kenapa harus aku? Suruh Sasuke saja."

"Aku tidak mau," timpal Sasuke memalingkan muka.

"Sasuke!"

Naruto menggeram kesal. Sasuke cuek dan berjalan cepat meninggalkannya serta Minato. Minato tersenyum kikuk sembari memegang bahu Naruto.

"Jangan membantah. Ini perintah Hokage Keempat. Kau harus menuruti perintahku." Minato berbicara tegas.

Naruto berwajah kusut. "Tapi, Ayah..."

"Ibumu pasti senang jika bertemu dengan Cassie. Dia pernah berharap ingin punya anak perempuan. Cassie bisa jadi saudaramu, 'kan?"

"Ayah berniat mengadopsinya?"

"Kalau iya, kenapa? Apa kau keberatan?"

"Tidak keberatan."

"Kalau begitu, turuti kata Ayah. Kau harus jadi pengawalnya selama dia tinggal di sini. Ini adalah misi untukmu, Namikaze Naruto."

Ketika nama lengkap Naruto disebut, itu berarti Minato serius dengan perkataannya. Naruto memahaminya, langsung mengangguk mantap.

"Baiklah." Naruto tersenyum.

"Baguslah." Minato menepuk bahu Naruto berulang kali.

"Lalu kapan Ayah akan membawanya ke rumah?"

"Kalau dia sudah dinyatakan sehat."

"Oh."

"Nanti tolong beritahu ibu tentang Cassie, ya. Ayah tidak akan pulang malam ini karena ada urusan mendadak."

Tiba-tiba, Minato menghilang disertai kepulan asap. Rupanya dirinya yang tadi adalah bunshin. Minato asli sedang bekerja di kantor Hokage, tersenyum karena sudah menyelesaikan tugas interogasi itu. Lalu Naruto yang ditinggalkan, terpaku sesaat.

Cassie tadi akan dijadikan saudaraku? Batin Naruto. Senyuman pun terukir di wajahnya yang berseri-seri seiring langkah terayun cepat menyusuri koridor rumah sakit. Suasana sepi menemani perjalanan Naruto dengan hati yang berbunga-bunga.

.

.

.

"Aku pulang!" seru Naruto ketika masuk ke rumah.

"Selamat datang," balas Namikaze Kushina yang sedang duduk di sebuah kursi kayu di dekat meja, "kau tidak pulang bersama Ayahmu, Naruto?"

"Ayah lembur sampai malam, Bu."

"Ya, sayang sekali padahal Ibu ingin membuat sup spesial malam ini."

Kushina berhenti memotong wortel, dan menampilkan wajah sedih. Sorot netra birunya meredup. Naruto tertegun, ikut berwajah sedih, lalu teringat sesuatu.

"Ibu, Ayah berpesan kalau Ayah akan membawa seorang gadis ke rumah nanti," ungkap Naruto bertampang semringah.

"Apa? Ayahmu selingkuh?" sembur Kushina dengan rambut yang berkibar-kibar seperti bendera. Wajahnya mengerikan bagaikan monster.

"Bu ... bukan begitu."

"Lantas?"

"Ayah membawa saudara angkat untukku. Ibu akan punya anak perempuan."

Naruto menyahut takut-takut. Mendadak Kushina tersenyum sembari memegang dua pipinya yang merona merah.

"Anak perempuan? Di mana dia? Siapa dia? Dari mana kalian mendapatkannya?"

Berbagai pertanyaan dilontarkan Kushina dan Naruto kewalahan menjawabnya.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Fic baru di fandom Xover Naruto dan Freezing lagi. Terima kasih.

Jumat, 14 Februari 2020