Ja'far Fa'jar

Disclaimer: Shinobu Ohtaka.

Warning: OOC, typo, alur kecepetan, gaje (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta untuk event FFA.


Special work for Ai and August 19. I hope you like it!


Ruang kerja yang mewah itu jarang-jarang hanya dihuni dua makhluk adam di mana Masrur–salah seorang pengawal raja Sindria–tengah menjalankan urusan lain di luar kerajaan, meninggalkan Sinbad dan Ja'far berdua saja dalam sunyi yang kikuk.

Raja-nya tengah mengecek tumpukan dokumen yang menggunung pada meja kerja, sedangkan di samping kiri Ja'far mengawasi dengan wajah kusut masai, tanpa sukacita yang menyegarkan ekspresi. Ja'far tahu mengapa helaan napasnya lebih berat, dan yang ia benci adalah memahamimya pun tak membuat Ja'far berdaya. Mungkin Sinbad terlalu santai. Ataukah Ja'far tidak mengerti apa itu menanti sehingga was-was bertubi-tubi?

"Ada apa, Ja'far? Dari pagi wajahmu kecut banget." Sejak awal Sinbad sadar, juga mengutuk tumpukan dokumen yang sedikit menundanya untuk menggoda Ja'far. Pengguna wadah Bararaq Sei itu menghela napas (lagi). Separuh paras Sinbad yang menjadi hitam ternyata memang tidak bisa tidak dipikirkan.

"Tentang kutukanmu, Sin. Meskipun kau melakukannya demi memotivasi Alibaba, tetap saja menurutku tindakanmu sinting."

"Kesintingan adalah bagian dari diriku. Jangan mengatakannya seolah-olah kau tidak tahu." Nada mengejek yang kentara dengan gestur memajukan bibir dari Sinbad membuat mata Ja'far memicing, namun tak mengikis kekhawatiran yang hadir. Tatapan tajam rasa sendu itu janggal, akan tetapi di lain sisi semakin Sinbad memandanginya, tahu-tahu ia sangat candu.

"Terkadang aku bertanya-tanya, apakah kau tidak bisa membuatku tak khawatir sebentar saja?"

"Alibaba dan yang lain pasti bisa menyelesaikan dungeon Zagan, kemudian menyembuhkan kutukan dari anak buah Al-Sarmen. Aku juga tahu kau percaya pada mereka. Hanya saja naluri keibuanmu benar-benar menggemaskan, ya, hahaha ..."

Potongan kecil tentang Ja'far itu tidak bosan-bosannya mengundang Sinbad agar tertawa, dan sayup-sayup Ja'far pun menyukai suara Sinbad yang tak terdengar mengejek–cenderung ringan, renyah, sekaligus bersenang-senang menciptakan harmoni. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Baru saja Ja'far hendak mengambil makan siang, sekalian mengganti perban yang berisi sihir penangkal milik Yamuraiha, rajanya justru menahan disusul menggeleng pelan.

"Makan telat bukanlah hal yang baik. Lagi pula perbanmu harus rutin diganti. Jangan sampai telat walau semenit."

"Tenang, Ja'far, tenang. Sebentar saja. Aku tidak akan mati semudah itu." Kursi yang lain Sinbad geser mendekati meja kerjanya. Melalui isyarat sederhana Sinbad mempersilakan Ja'far duduk. Namun, tampaknya usaha Sinbad akan sia-sia melihat gestur Ja'far masih keras kepala.

"Jangan lama-lama. Katakan dengan ringkas."

"Kalau kau tidak duduk makin molor, lho. Santai saja, Ja'far. Aku tahu kau mengkhawatirkanku, Alibaba, dan teman-temannya. Setidaknya biarkan aku melakukan sesuatu sebagai sahabatmu, oke?"

Ja'far selalu tahu apa yang dilakukannya, dan ia berhenti keras kepala, karena mendengar kata itu keluar dari Sinbad menjadikannya berarti besar–sahabat–yang sejenak berhenti memisahkan mereka dengan membedakan–bukan lagi jendra atau raja Sindria, melainkan Ja'far hanyalah Ja'far begitu pun sebaliknya–menjelma kesederhanaan, meninggalkan benang-benang rumit yang selama ini menyusun keduanya untuk berdiri di masa sekarang.

"Barusan aku terpikirkan sesuatu yang menarik." Senyuman Sinbad lebar, mengingatkan Ja'far akan kawah meteor pada berita di koran tiga hari lalu. Sejenak mungkin Ja'far terpesona, ketika ia berpikir ingin melihat garis lengkung tersebut hingga mati, karena pernah hidup bersama Sinbad.

"Apa itu?"

"Setelah kupikir-pikir namamu bisa dibalik menjadi fajar, lho. Itu fakta yang menarik, bukan?"

"Obrolan ini ... bukannya kurang penting?" Ekspresi Ja'far yang ogah-ogahan dibalas oleh Sinbad dengan menepuk-nepuk bahunya. Penakluk tujuh dungeon itu menggeleng-geleng. Jemariny bergerak ke kiri serta kanan dalam irama yang konstan.

"Sahabat tidak seharusnya membicarakan hal yang penting-penting saja. Tapi Ja'far, menurutku ini penting, kok. Sangat malah."

"Mengganti perbanmu, dan makan siang jelas lebih penting. Kita bisa membicarakannya setelah selesai. Kenapa harus sekarang, deh?" Predikat tolol memang pantas disandang Sinbad yang jelas sekali ingin bermain-main, padahal situasinya sendiri tengah di ujung tanduk. Ja'far mendadak sakit kepala. Berharap Masrur segera balik meskipun mustahil mengubah suasana.

"Takutnya lupa. Nanti Ja'far makin kesal lagi, jika tiba-tiba aku memanggilmu cuma lupa mau bicara apa."

"Ja'far memang bisa dibalik menjadi fajar. Namun, Sin, kurasa kurang cocok menyebutku sebagai matahari." Karena Ja'far tahu itu adalah Sinbad, sedangkan dirinya merupakan bayangan semenjak ia mengikuti sang raja. Dengan begini mereka selesai. Ja'far berniat beranjak berdiri, andaikata Sinbad tidak lagi-lagi menggenggam pergelangan tangannya.

"Jadi Ja'far mengumpamakan dirimu sendiri sebagai apa? Ratu Sindria?"

"Jangan melantur, Sin! Jika harus menjawab, bayangan adalah hal yang cocok untukku."

"Bayangan itu membosankan. Sebagai raja dan sahabatmu, aku tahu kau lebih hebat lagi." Sebenarnya pula poin apa yang ingin Sinbad ambil dari percakapan mendadak ini? Rasa penasaran milik Sinbad betul-betul gagal dipahaminya–terlalu murni, seperti bocah dengan mata berbinar-binar mendengarkan dongeng pertamanya.

"Bagiku kau adalah mataharinya, Sin. Karena dirimu bersinar juga aku ada, dan menjadi bayanganmu yang selalu mengikutimu ke mana pun. Itu sudah cukup, bukan?"

"Untukku meski kau berkata seperti itu, Ja'far tetaplah fajarnya, kok." Kini giliran Ja'far yang menaikkan sebelah alis. Baik mata, tatapan, turun ke bibir yang bisu, maupun kontur wajahnya menunjukkan keseriusan tidak terkira–Ja'far sempat berpikir ia akan jatuh ke dalam Sinbad yang betul-betul ... ajaib.

"Boleh aku tahu alasannya?"

Gurat serius pada wajah Sinbad perlahan-lahan melunak, digantikan senyuman hangat yang menceritakan rasa tak terkatakan. Tahu-tahu tangan Sinbad melepas keffiyeh hijau yang biasa Ja'far pakai. Mengelus lembut rambut planita sang jendral–seorang pemuda yang dulunya anak-anak berusia sepuluh tahun, tetapi kini dia adalah Ja'far yang dewasa yang berbagi batas serta realitas dengan berdiri di samping Sinbad–bersama-sama menuju kata esok.

"Kau adalah jafarnya, karena kau sudah tumbuh dengan baik." Membulat. Mata sehitam jelaga Ja'far melebar, memercikkan rasa tak berbatas yang juga sulit ia terjemahkan. Hati Ja'far menguning–hangat oleh nostalgia di mana Sinbad pernah mengelus rambutnya, saat ia masih bocah sepuluh tahun berdarah dingin.

"Tetapi matahari tidak tumbuh, Sin."

"Saat penciptaan dunia, fajar dulunya hanya mengenali kegelapan, barulah ia menjadi fajar yang pertama-tama sekadar mengetahui sekaligus menyinari mereka yang baik, tetapi lama-kelamaan orang jahat pun bermunculan."

"Fajar pun tumbuh, Ja'far. Ia belajar untuk tidak memancarkan kehangatannya demi orang-orang baik saja, melainkan pula demi mereka yang jahat. Fajar pun mengenali apa itu ketulusan, dan menjadi fajar yang baik hati," sambung Sinbad menaruh seluruh perasaannya, pada seulas tepukan yang ia beri kepada pundak Ja'far. Pipinya jadi bersemu merah. Tiba-tiba diperlakukan begini usai puluhan tahun berlalu. Bagaimana Ja'far tak canggung?

"Sama seperti kau. Awal-awal hanya kebengisan, kebencian, dan kejahatan yang Ja'far kenali, membuat hatimu dipenuhi kegelapan. Namun, Ja'far pun mempelajari cinta, kebaikan, serta kasih sayang yang membuatmu tumbuh menjadi Ja'far yang sekarang."

"Langit bangga karena memiliki fajar. Aku bangga telah mempunyai Ja'far. Makanya itu kau bukan bayangan."

"Kemampuan berdongengmu membaik, ya? Jika usiaku masih sepuluh tahun, mendengarmu berkata seperti tadi pasti membuatku terkagum-kagum." Dulu Sinbad pernah berdongeng soal Snow White yang lama-kelamaan, ceritanya justru menyasar ke Cinderella. Ia ditertawai habis-habisan. Ja'far bahagia untuk pertama kalinya, karena ia

"Sekarang juga kagum, 'kan? Pasti Ja'far kaget aku mendadak bijak, hahaha ..." Melihatnya begitu senang Sinbad justru tampak kekanak-kanakan. Mereka sudah selesai, bukan? Melewati setengah jam dengan membiarkan Sinbad menunda makan siangnya, tentu Ja'far harus bergegas.

"Syukurlah kau lebih rileks. Lain kali kita harus lebih banyak mengobrol seperti tadi, Ja'far."

"Setelah Alibaba dan yang lain menyelesaikan dungeon, akan kupertimbangkan jika kau menyelesaikan pekerjaanmu lebih cepat."

Kejujuran dan pujian seperti itu memang mustahil mengurangi sifat workaholic Ja'far, ya? Tetapi neraka bersama Ja'far tidaklah buruk, sih, asalkan mereka bersama saja.


Tamat.


A/N: Hai3 ini fic pertama aku di fandom magi, dan semoga kalian suka terutama ai. buat ai juga aku minta maaf, karena fic ini jadi pendek banget dan mungkin alurnya kecepetan. aku ga bisa nulis yang lebih panjang entah kenapa. semoga fluff nya dapet ya ini berdua wkwkw. SinJa juga salah satu pair kesukaanku selain AliMor. awalnya mau bikin SinJa versi school!AU tapi kagak jadi entah karena apa (?). karena aku dapet ide buat canon, yaudah aku bikin aja versi canon.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. aku menghargai apapun yang kalian berikan padaku~