Handcream

Pairing : Ignis x Eira

Note : Eira is the OC from "Reminisce" fiction by FluoxetineHcl and this fic is taken from Reminisce's universe. (kayaknya lol)

"Lady Eira, sudikah kau menginfokan brand hand cream yang kau pakai?"

Merupakan satu kalimat yang diterbangkan dalam sebuah ruang serba putih. Satu runtut kata yang tak diantisipasi yang meluncur bebas, menggelitik telinga seorang gadis manis bersurai hitam yang perhatiannya tak lagi terpusatkan ke tumpukan buku-buku di hadapannya.

Hitam permata yang tadi terjatuh ke lembar demi lembar hitam di atas putih menaik, menatap seorang pemuda tampan bersurai pirang kusam. Sosok itu tak menatap sang gadis, melainkan menumbukkan perhatian kepada ponsel pintar yang berada dalam genggaman. Beberapa detik gadis bernama Eira itu menatapi sosok di hadapannya, mengikuti pergerakan tangan sosok itu yang menyesap cairan pekat berbau menggoda.

"Kenapa mendadak?" Tanya perempuan itu setelah meletakkan pena. Disandarkan tubuh ramping itu ke kursi hitam yang menopang raga sembari menggestur merenggangkan otot-otot yang kaku.

Ini adalah hari Sabtu di akhir pekan yang cerah. Hari yang seharusnya merupakan hari untuk beristirahat atau sekedar bercengkrama dengan para orang-orang terkasih. Akan tetapi, tak ada istirahat bagi seorang Eira Heallint yang hidupnya penuh dedikasi dengan pekerjaannya.

Ya. Diusianya yang belia, dengan berbekal otak cerdas, ia memutuskan untuk menghabiskan Sabtu di sebuah ruangan kerjanya di dalam rumah sakit yang terletak di jantung kota Insomnia. Gadis itu memang terkenal workaholic yang memang terlalu serius dengan seluruh tanggung jawabnya.

Seperti saat ini. Alih-alih pergi berkencan dengan sang tunangan, ia malah tenggelam ke dalam tumpukan laporan penting yang harus dipersiapkannya hari Senin nanti.

"Karena ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa tanganku ini kasar."

Eira menaikkan sebelah alisnya, menatap tak percaya calon suaminya yang tiba-tiba saja menyuarakan kegelisahan sepelenya.

"Aku tak tahu bahwa kau akan memikirkan hal itu, Iggy."

Hitam tak berdasar milik gadis itu menari simpul saat mendapati sang pemuda meletakkan kaleng kopi dan ponselnya. Hijau dan hitam miliknya saling beradu, bertatap selama sepersekian detik sebelum kemudian Ignis menghela napas panjang.

Alih-alih menjawab, penasihat pangeran tersebut bangkit dari duduknya, mendekati tunangannya yang masih mengerutkan dahi tanda tak paham. Ia yang tak sedang mengenakan busana formalnya—kali ini hanya memakai kaus hitam lengan panjang dengan kardigan berwarna senada—menghapus jarak di antara mereka. Surai pirang keruhnya yang tak tertata rapi ke belakang—membuat wajah tampannya semakin menggoda—menari simpul ketika pemiliknya menunduk, menatap lekat gadis yang dicintainya.

Eira yang tadi menaikkan alis mulai mengerutkan dahi. Hijau yang disayanginya menatapnya lekat-lekat seperti memancarkan pendar keraguan dan hal tersebut semakin membuatnya bertanya-tanya. Sebab, percakapan yang dimulai oleh sang Scientia tadi seperti tak memiliki kolerasi jelas dengan sorot itu.

"Kau tak keberatan tanganku seperti ini?"

Ignis dengan takut-takut membuka katup bibirnya, menghembuskan sesuatu yang mengusik dirinya selama dua hari silam. Dalam pergerakan ragu, iapun mengangkat tangan, mengarahkan jemari kokoh nan panjangnya ke pipi gadis bersurai panjang di hadapannya.

Ada nanap yang diperlihatkan kedua bola kaca sewarna langit malam di sana saat ia melakukan itu dan ia tahu bahwa perlakuan dan gelisahnya ini sangat tidak beralasan.

Namun, melainkan mendapatkan senyuman, gadis itu malah menderaikan tawa, menggelitik hati serta telinganya. Gelak itu mengalun merdu, memberi sesuatu tentram di hatinya yang diliputi keraguan.

"Kau benar-benar menanyakan itu padaku?"

Eira, sang gadis delapan belas tahun tak mampu menahan rasa geli yang memenuhi rongga dadanya. Karenanya, Heallint itu tertawa, melepaskan jenaka yang tiba-tiba saja menyeruak masuk tanpa permisi. Hitamnya berkilau penuh jenaka, menatapi hijau itu dengan tatapan 'oh Astral' dan 'kau bercanda?'

Ia tahu pemuda itu memang acap kali memikirkan sesuatu yang kecil dan terkadang tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Akan tetapi, ia tidak pernah menyangka bahwa kali ini pemikiran sepele itu karena ketakutan sang pemuda ke dirinya.

Bukankah seharusnya ia tahu bahwa bagaimanapun, ia akan mencintai pemuda itu tanpa terkecuali?

"Mereka mengatakan wanita sensitif dengan sentuhan kasar."

"Kau tak pernah menyentuhku dengan kasar."

"Tapi tanganku kasar."

Eira sekali lagi tergelak. Benar-benar tak percaya bahwa pemuda di hadapannya tengah memerlihatkan sisi manis yang sama sekali tak ia sangka-sangka.

Gadis itu mengulum senyum, menyentuh lembut jemari demi jemari milik sang Scientia yang masihlah menyapu kulit pipinya. Ia genggam tangan itu sebelum ia tautkan dengan jemari rampingnya.

"Aku menyukai semua yang ada dalam dirimu."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, ia mengangkat tangan itu kembali untuk menyentuh pipinya. Diberikan senyuman secerah yang ia mampu untuk mengatakan tanpa lafal bahwa ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

Ignis yang diberikan senyuman seperti itu tak menjawab apapun. Ia hanya mampu membalasnya dengan senyuman tipis dan ia belai kedua pipi yang menjadi candu baginya.

Pemuda itu mendekat, menghapus jarak antara wajahnya dan wajah sang gadis dengan perlahan. Ia bawa bibirnya menyapu bibir ranum sosok terpentingnya dengan begitu lembut, teramat lembut seolah-olah gadis itu adalah sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya.

"Tapi aku tetap ingin tahu krim tanganmu."

Begitulah kalimat yang dilafalkan Ignis setelah ia menyudahi kecupannya. Pemuda itu tersenyum saat melihat Eira tertawa di atas kalimatnya.

Hangat sang gadis sedikit memudar karena sosok itu bangkit dari duduknya, melangkah ke tas jinjing yang berada di atas kabinet pendek yang tak jauh dari tempat mereka berpijak tadi. Gadis itu merogoh selama sepersekian detik dan kemudian berbalik sembari menyodorkan sebuah benda kecil berwarna perak kepadanya.

"Silahkan." Ucap medis itu.

Ignis mengangguk, mengambil krim itu dan mulai memutar tutupnya. Harum lembut mengudara menggelitik indera penciumannya dan ia dengan segera menekan benda itu untuk mengeluarkan isinya—

"O-oh."

"Kau terlalu banyak mengeluarkannya!"

Protes yang dilantangkan sang tunangan mengejutkan Scientia itu dan secara refleks ia meletakkan benda itu di atas meja. Raut bersalah hadir menghiasi wajah tampannya dan ia secara tak sadarkan diri telah memerlihatkan tatapan memelas kepada kekasihnya.

"Ma-maaf aku tak tahu dia akan semudah itu keluar."

"Kalau begitu kemarikan sedikit biar aku pakai juga."

Sang gadis bersurai sepunggung itu mendekat, meraih tangan Ignis sebelum ia ambil krim putih itu ke telapak tangannya. Ia mulai menggosok-gosokkan telapak, melumuri tiap jemarinya dengan krim harum itu.

Ignis yang tak pernah memakai benda itu sebelumnya memerhatikan lekat pergerakan kekasihnya. Ia mulai mengikuti apa yang Eira lakukan. Tapi...entah mengapa ada sesuatu yang terbesit dalam benaknya.

"Be-begini?" Tanyanya. Entah mengapa suaranya terdengar serak.

"Sampai ke ujung jari juga." Gadis itu menjawab. "Kemarikan tanganmu biar aku bantu."

Ada yang berbeda dari dirinya saat lembap tangan sang gadis bergerak menyusuri tiap-tiap jemarinya. Eira menggerakkan tangan, melumuri tiap inci tangannya dan hal itu entah mengapa membuatnya meneguk ludah.

"E-Eira..."

"Hm?"

Sedangkan sang gadis sama sekali tidak merasakan adanya aura yang berbeda dari pemuda itu sampai ia memekik kecil saat sang pemuda merendah, menghembuskan napas berat ke telinganya.

"Kau sengaja?"

Gadis itu segera saja merasakan wajahnya memanas saat mengetahui maksud kekasihnya. Ia melepaskan tangan secara refleks, mencoba menetralkan degup jantungnya karena godaan yang diberi pemuda itu.

"Ti-tidak."

Tetapi suara seraknya menghianatinya. Sungguh, suaranya terdengar seperti seorang pencuri yang tertangkap basah karena aksinya dan ia sedikit menahan napas saat menyadari Ignis merapatkan tubuh kepadanya.

"Tak ada orang selain dirimu yang datang ke sini, kan?"

"I-Ignis..."

"Aku ingin memastikan bahwa tanganku sudah cukup lembut untukmu, Eira."

Dan Eira harus rela membiarkan pemuda itu membuatnya mabuk di dalam ruang terkunci itu.

Fin