Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: standard applied
by. Nona Chimi
Siang itu, suasana di kelas 1A nampak begitu sunyi. Semua murid nampak serius dengan pelajaran yang tengah berlangsung. Kertas putih, pensil, penghapus dan alat warna tergeletak di atas meja mereka. Oh, rupanya hari ini pelajaran menggambar yang dibimbing oleh Kurenai sensei.
Para murid mulai menggerakan pensil mereka, ketika Sang guru telah menentukan tema yang akan mereka gambar. Kebetulan tema hari ini tidak terlalu susah, yaitu menggambar sesuatu yang terlintas saat ingat seseorang. Mudah kan?
Di sana, di meja ke empat barisan dekat jendela duduklah siswi cantik yang tengah termangu menatap luar jendela. Seperti siswi bernama Ino Yamanaka tengah mencari inspirasi untuk gambarannya. Rambut pirang panjangnya yang di ikat satu dengan tali rambut kuning itu sedikit bergoyang tertiup hembusan angin dari celah fentilasi.
Ia menghela nafas. Sebenarnya bukan hal sulit, tapi ia sedikit malu.
Sesuatu saat mengingat seseorang?
Tentu saja ia sudah memiliki sketsa di otaknya. Hanya saja ia masih menimang 'apakah layak dituangkan atau tidak?'. Ia bersumpah ketika seseorang melihat gambarannya, pasti mereka bisa menebak siapa yang ia pikirkan.
'Ugh' Ino benar-benar bingung. Ia tidak mau semuanya tahu. Ia menggigit pensil kuningnya dengan frustasi.
"Ayo, setengah jam lagi, semua harap dikumpulkan!!" ucap Kurenai hingga mampu membuat Ino tersentak kaget. Ish, gawat!! GAWAT!!' batin Ino frustasi.
Dengan hati yang dikuatkan, akhirnya gadis pecinta bunga itu mulai menggerakan tangannya.
Membubuhkan goresan-goresan di kertas putih dengan nekatnya. Menggambar apa yang ada dalam otaknya. Ia menggambar dengan sangat serius hingga tidak menyadari Naruto yang duduk di sebelahnya tengah memperhatikannya sembari menopang dagu.
"Hei, Ino, pinjam penghapusnya dong!" pinta Naruto.
Ino langsung mengambilkan penghapus berbentuk jeruk di kotak pensil kuningnya. Tanpa menoleh, ia mengacungkan penghapus itu ke sumber suara. Ah, rupanya ia belum sadar siapa yang tengah meminjam.
Naruto geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkah lucu Ino yang tengah serius itu. Dengan jahil, ia berkata "oh iya, sekalian penggarisnya dong!" dan reaksinya pun sama. Ino akan mengambilkan penggaris dan menyerahkannya tanpa menoleh.
Naruto mesam-mesem tak jelas sambil memperhatikan dua benda yang ia pinjam. Alisnya mengerut melihat kedua benda tersebut, buru-buru ia menoleh ke pemiliknya. Kenapa semuanya kuning? batinnya, saat ia menyadari semua yang di pakai Ino warnanya kuning. Dari ikat rambut, kotak pensil, penghapus, semua warna kuning.
Apa Ino sebegitu sukanya dengan warna kuning? hingga dia mengoleksi barang-barang berwarna cerah tersebut. Kuning kan warna kesukaan Naruto.
"Hei, Ino! Kau suka padaku, yah?"
Ino melotot syok mendengar pertanyaan retoris tersebut. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya mulai memanas. Semoga tidak ada yang mendengar ucapan Naruto. Dengan gerakan patah-patah, ia menoleh ke arah sumber, ke arah Naruto yang tengah memandangnya intens.
"Ke-kenapa kau berkata seperti itu?" ya ampun, Ino. Ucapanmu terlihat payah dan gagap. Tenang, Naruto itu bodoh, mungkin dia hanya iseng menjahilimu. Dia kan memang seperti itu. Batin Ino mulai meringis sedih.
"Semua milikmu warna kuning loh... Kuning kan warna kesukaanku!"
Glek. Ino menelan ludah paksa. Mati kau, Ino!!
"Masa sih, ku kira kau suka warna jingga," elak Ino was-was.
"Bukan!! aku suka kuning!" sanggah Naruto cepat. Shapphirenya menyipit tajam.
Glek. Ino semakin terancam. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Aquamarine'nya bergerak liar menyapu seluruh ruangan agar tidak bertemu pandang dengan manik Naruto. Mungkin ia bisa sedikit lega, karena semua teman sekelasnya sepertinya tidak mendengar perdebatannya dengan Naruto.
"Aku curiga," kembali ia memusatkan netranya ke arah pemuda pirang itu. Dilihatnya Naruto tengah memasang wajah sok misterius ala detektif abal-abal.
Ino kembali merasakan atmosfir tidak enak yang mulai menguar dari tubuh Naruto.
"Jangan-jangan..." ucap Naruto terhenti, Ino semakin waspada. Ia mulai mencengkram gambarnya dan mendekapnya erat.
"Coba lihat karyamu!!" pinta Naruto memaksa, membuat Ino menjauhkan jangkauannya, ia sedikit mundur.
"Hei!! biarkan aku melihatnya!!" seru Naruto, menyodongkan badannya dan meraih tangan Ino untuk melonggarkan dekapannya.
"Jangan!! Ini belum selesai!" teriak Ino, semakin merapatkan dekapannya. Wajahnya sudah merah padam sempurna. Ia bahkan tidak menyadari teriakannya membuat teman sekelasnya menoleh ke arahnya.
Dan terjadilah paksa-memaksa yang sangat heboh antara Ino dan Naruto.
Set
Kemenangan berpihak pada Naruto. Ia berhasil merebut gambar milik Ino. Sementara itu wajah Ino mulai pucat pasi. Oh tidak!!
"Tuh kan!!!" seru Naruto dengan suara to'anya. "Dugaanku benar!! kau pasti menggambar semangkuk ramen!!" lanjut Naruto dengan senyum lima jarinya sembari mengibas-ibaskan kertas milik Ino yang bergambar semangkuk ramen yang masih mengepul.
"Tebakanku benar, kan! kau memang suka padaku!" tuding Naruto semakin memojokan.
"Ciyeee... Ino suka Naruto,"
BLUSH
BLUSH
BLUSH
Rasanya Ino ingin meledak sekarang juga. Atau mengubur dirinya dalam-dalam. Ia benar-benar kehilangan muka, ia ingin berlari pergi dari kejadian memalukan ini.
Sungguh tak pernah terpikir dalam benak Ino bahwa perasaannya diketahui orang dengan cara seperti ini. Padahal selama ini ia sudah menyimpan rapat-rapat perasaanya. Dasar bodoh, harusnya tadi ia melukis sesuatu tentang ayahnya, kenapa ia baru terpikir sekarang? Dasar payah. Kalau sudah begini kan rasanya kepengin nangis.
"Tenang saja! aku juga menggambar tentangmu kok, lihat!!" pamer Naruto mempelihatkan kertasnya yang bergambar sebuah boneka barbie tengah memegang sebuket clover. Ino mengintip ragu-ragu dari balik poninya.
"Karena aku juga menyukaimu,"
Eh?
Ino mendongak sempurna dan memandang Naruto yang tersenyum tulus kepadanya. Ino tak sanggup menahan rasa bahagianya. Jantungnya berdentum begitu cepat. Sesak namun menyenangkan. Hingga ia tidak bisa menahan lagi untuk tersenyum.
"Ciyeee... Jadian"
Wajah mereka berdua merona malu. Naruto mulai salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa kikuk. Sedangkan Ino menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangannya.
Tidak disangka dari tema melukis hingga lukisannya mampu mengantarkan Ino pada cintanya yang selama ini ia pendam. Pada sahabatnya yang bodoh dan tidak peka seperti Naruto.
Cinta itu unik
Cara menyatukannya pun unik
Seperti Ino dan Naruto, dipersatukan dengan cara yang unik yaitu lewat lukisan.
Kurenai sensei menggeleng-gelengkan kepalanya di depan kelas menyaksikan tingkah muridnya. 'Dasar anak muda' batinnya.
.
.
.
owari
.
.
.
Akhirnya selesai juga. Ah, aku ga percaya bakal nekat publish fic ini. Secara gitu loh, ini fic abal banget. Feelnya ga ngena, kurang menarik tata bahasanya dan err keanehan lainnya.
Tapi yah, namanya juga belajar. Harus pelan-pelan, ga bisa langsung bagus.
Nah, makasih yah, ya udah mau nyempetin waktunya buat mampir dan baca fic ini. Jaa ne, salam damai dari Chimi.
