early in the morning i left the house.
bored of strolling round the streets, i came to the shore,
to the foot of a great mountain. to whom could i tell my thoughts,
if not to the waves driven by the winds to faraway lands?
(translated from "sahyshlar" by trakai-born poet moisej pilecki)
Kawasan Siak, Kasultanan Johor
Awal abad 18
Napasnya terengah-engah. Ia tidak pernah berlari sejauh ini, apalagi dengan jantung yang berpacu, kepanikan dan kecemasan menjadi satu. Tetapi ia tidak berhenti. Johor justru mempercepat larinya, sekalipun sudah tersengal-sengal, merasa bisa jatuh kapan saja. Sebentar lagi ia akan mencapai pantai, menemui objek aneh yang dilaporkan oleh para nelayan kepadanya saat mereka menepi tadi pagi. Objek dengan rupa seperti manusia, bisa bergerak dan bisa berbicara, tetapi terasa sangat asing dan ganjil—dengan kemampuan komunikasi dan kepintaran yang jauh di atas rata-rata, karakter yang seolah-olah bisa memahami luar dalam mengenai komunitas mereka.
"Kesan yang kami terima pokoknya persis kesan kami saat pertama kali kamu muncul," ucap salah satu dari mereka—dan kalimat itu seperti memvalidasi Johor untuk menarik kesimpuan dengan segera, lekas memacu langkah ke pantai. Tak salah lagi. Ia memang tidak banyak bertemu dengan jenis macam dirinya selain kerajaan dan kasultanan yang bersinggungan dengan wilayahnya, tetapi hal itu bahkan sudah lebih dari cukup untuk merasa yakin bahwa objek yang dimaksud pastilah jenis yang sama.
Alas kakinya menapak pasir pantai, angin laut pagi hari menerpa wajahnya, dan Johor takperlu menyapu pandang ke penjuru pesisir untuk mencari objek yang dilaporkan padanya. Langsung ketemu. Johor memandang. Bocah itu seperti masih berusia belasan tahun, sedang jongkok, jemarinya menggambar entah apa di kejauhan, sama sekali tidak menyadari keberadaan Johor yang makin lama makin dekat. Atau, entahlah, bisa jadi bocah itu menyadarinya, hanya saja enggan mengangkat kepala untuk mengesahkan keberadaan.
Johor menyapa. "Hei."
"Hai!" Bocah itu menengadah, dan tersenyum lebar. Ia lanjut menggambar lagi—yang dengan mudah disadari Johor sebagai gambar kapal—dan memutuskan untuk tetap menyambung interaksi meskipun tidak saling memandang. "Siapa kamu?"
"Aku adalah personifikasi dari Kasultanan Johor."
Goresan tangan di pasir terhenti, hal yang telah Johor prediksi. Bocah itu terpaku hingga tidak bergerak beberapa saat, yang dimanfaatkan Johor untuk segera duduk bersila di depan bocah itu. Cukup lama jeda yang diambil hingga ia mampu bernapas lagi, dan memantulkan tatapan Johor dengan lebih lamban, waspada, dan berbeda. Johor mengangguk, meskipun tidak tahu tepatnya apa yang dipikirkan si bocah. "Aku sama sepertimu."
Kata sama yang diucapkan Johor seperti punya makna yang melampaui persoalan eksistensi mereka sebagai personifikasi suatu wilayah. Dalam artian, mereka sungguhan mirip; Johor seperti bisa melihat sosoknya saat muda dalam diri bocah yang berjongkok di hadapannya itu. Sama-sama berkulit sawo matang, kedua pipi tirus, rambut yang terlihat licin meskipun sebetulnya hanya melepek saja; basah kuyup, bau amis laut.
Bocah itu mulai mengubah posisi duduknya menjadi bersila juga. "Sungguh?" tanyanya, terdengar ragu. "Dari mana kamu dapat namamu?"
"Nggak dari mana-mana," jawab Johor sekenanya. "Kamu hanya tahu saja. Seperti kenapa kamu langsung menggambar kapal di atas pasir. Kamu mendapati dirimu tahu-tahu suka. Dengan kapal. Dengan laut. Dengan cuaca yang panas. Kamu tentu sudah punya nama di dalam dirimu."
Air muka ragu-ragu belum hilang dari tampangnya. "Ya."
Itu adalah menit-menit yang akan Johor sesali kemudian, bahwa ia tidak seharusnya mengejar lebih jauh. Rasa penasaran akan membawanya pada sebuah jawaban, pada hal-hal yang tidak tepat apabila disadari sekarang, hanya saja ketidaktahuan adalah lubang yang semenarik itu untuk membuat siapa pun mencari tambalannya, semata-mata karena tidak tahan. "Siapa namamu?"
"Siak."
Beban yang berat seperti tiba-tiba terangkat, membuat Johor nyaris limbung seketika.
"Sepertinya satu itulah yang kuyakini. Lebih yakin dibandingkan kesukaanku tiba-tiba terhadap laut dan kapal," lanjut bocah itu—Siak, namanya, ia menunduk menatap gambar kapal yang setengah jadi, "aku yakin bahwa namaku Siak. Adakah wilayah itu, di sini?"
"Ah, ada." Johor menjawab susah payah. "Di sini, tepatnya. Wilayah Siak. Dulu sekali, sebelum Malaka jatuh di tangan Belanda, Siak merupakan bagian dari daerah Malaka."
"Heee, begitu ya!" Siak berbinar-binar kedua matanya, wajahnya yang beberapa saat lalu masih dirudung keraguan kini telah sepenuhnya sirna, berganti menjadi semangat yang berapi-api, dan berkobar. Sementara pikiran Johor ke mana-mana, bocah itu berdiri untuk memandang laut, seoah-olah menganggap bahwa laut yang tak bertepi itu menjadi bagian darinya juga. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu tanyanya, "Terus sekarang, setelah tidak dipegang Malaka, dia tidak tunduk pada peraturan tertentu?"
"Siak merupakan salah satu dari kawasan Kasultanan Johor."
Ada aura yang berubah tiba-tiba di pesisir laut itu. Semangat Siak seperti tiba-tiba membatu. Ia menoleh ke arah Johor dengan terkejut, bercampur bingung, bercampur was-was mengenai sesuatu yang tidak mampu ia bayangkan. Johor mendongak menatapnya, kemudian ia ikut berdiri. Pemuda itu menghela napas. "Iya, benar. Kamu bagian dari kasultananku."
"Tapi, aku sekarang hidup—?" Pertanyaan Siak menggantung, ia seolah tidak berani menyelesaikannya, meskipun akhirnya pertanyaan itu terajukan juga. "Maksudku, sekarang kawasan itu punya personifikasi wilayahnya. Dan itu adalah aku ...?"
"Tepat sekali. Entahlah." Johor memandang Siak, bocah yang baru dikenalnya itu, ia menatap dalam-dalam kepadanya dan mendadak terserang rasa simpati yang tidak perlu, karena hal itu membuatnya menjadi menyembunyikan sesuatu dan mengatur informasi yang keluar dengan hati-hati. "Mungkin suatu saat nanti, kamu akan berdiri sendiri."
Siak tertawa, dan Johor merasa perih, di benaknya terbayang perang yang terbentang antara orang-orang kasultanannya dengan para penduduk di kawasan Siak yang barangkali memutuskan untuk membelot di masa depan nanti, sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui sekarang. Dan seharusnya ia bisa memberi tahu Siak, atau, entahlah. Bocah ini periang sekali, betapa naifnya, betapa menyebalkannya. "Ya! Kamu akan percaya padaku, 'kan?"
Johor terpaksa tersenyum. Ia mengusap kepala lawan bicaranya itu. "Kalau sekarang, kamu masih bau kencur, hei bocah kemarin sore. Aku akan menunggu sampai kamu tumbuh besar."
"Kita punya banyak waktu pergi melaut untuk mengisi hari-hari itu!"
Di benak Johor, tersusun strategi untuk mulai menyingkirkan orang-orang Siak yang masih menjadi bagian dari kasultanannya. Ia berjalan duluan menjauhi garis pantai, membiarkan Siak mengekornya, sembari berkata, "Tepat sekali, kita punya banyak waktu melakukan banyak hal."
Tawa Siak dan langkah ringannya pagi itu masih membayangi Johor sampai bertahun-tahun kemudian, termasuk di hari kemenangannya dari pemberontakan orang-orang Siak yang hendak merebut tahta.[]
.
catatan penulis: hai! sudah lama nggak bikin sesuatu dengan impulsif dan sangat cepat, haha. singkat cerita, saya sangat kangen dengan kasultanan siak sri inderapura, salah satu topik sejarah kerajaan-kerajaan di indonesia yang saya suka. seting cerita ini adalah saat siak masih merupakan kawasan dari kasultanan johor. ini kira-kira dua dasawarsa sebelum siak memutuskan untuk mendirikan kasultanan sendiri, dan akhirnya berhasil menjadi kerajaan berbasis laut yang kuat dan diperhitungkan pada masanya. terima kasih telah membaca!
