Kimetsu no Yaiba (c) Koyoharu Gotoge.

i. 嵐storm.

.


嵐 | life is quick and you are slow

Zenitsu tidak suka saat ia baik-baik saja. Suasana hati baik membuat indera pendengarannya dapat menangkap suara-suara tak perlu, tanpa terhalang degupan jantung yang biasanya menderu-deru. Merasa nyaman adalah mimpi buruk.

Di tengah malam begini, Inosuke dengan goblok menantang Tanjirou gelut; membuat mereka berdua berlompatan ribut dari satu ranjang ke ranjang lain. Zenitsu duduk bersila, memandang mereka mengitari ruangan. Awalnya, mereka berdua duduk sama sepertinya, melingkar di tengah kamar, mengobrol. Semua berubah ketika Inosuke menguap, dan Tanjirou menawarkan untuk menyudahi apabila Inosuke sudah lelah. Si babi sialan itu malah tidak terima, lalu menantangnya. Alhasil mereka justru kejar-kejaran seperti sekarang.

Riuh. Kelewat riuh bahkan. Benar-benar tidak normal. Teriakan Inosuke dan Tanjirou menghentak-hentak di telinga, dan sebagai seseorang dengan kemampuan mendengar yang tajam, Zenitsu khawatir ia tuli besok pagi. Hanya tinggal tunggu waktu sampai Aoi datang menggebrak pintu, meneriaki mereka untuk segera tidur. Ia bisa menebak demikian karena suara langkah kaki gadis itu menggema di sepanjang koridor, bedebum-bedebum bagai gajah. Rupanya, di tengah reriungan mereka, indera pendengarnya masih bisa diandalkan untuk mendengar suara langkah kaki. Itu karena ia sedang baik-baik saja.

"Seseorang datang!" Zenitsu berdiri. Ia tahu kalau pemilik langkah kaki itu Aoi. Ia hanya tidak bilang, takutnya ia salah. Interupsinya membuat duo kebanyakan stamina itu otomatis berhenti, lebih ke refleks daripada menyimak kata-kata Zenitsu tadi.

"Gawat!" Tanjirou panik. "Ke tempat tidur masing-masing! Inosuke! Zenitsu!"

"Zenitsu, kamu bisa mendengar suara langkah kaki di tengah keributanku dan Tanjirou? Bisa-bisanya! Tak termaafkan! Aku menantangmu!"

"Haaah?"

"Inosuke, fokus ke duduk perkara, duduk perkara! Untuk sekarang, kita harus—"

Pintu terbuka. Ketiganya menoleh. Tanjirou sudah di ranjangnya sendiri, tetapi posisi duduk, napas, dan rambut yang berantakan membuatnya seperti habis merawak rambang; Inosuke sedang berdiri di atas ranjang Zenitsu dengan gaya serampangan; dan ia, Zenitsu, berdiri di tengah-tengah ruangan, menatap ke arah yang sama seperti dua sahabatnya, dan pikirnya, ah, rupanya benar Aoi.

Pikiran selanjutnya, Aoi manis juga dalam baju tidur itu.

Aoi yang berdiri di depan pintu adalah kekuatan misterius yang mampu meredam keributan mereka. Gadis itu diam, menatap satu per satu biang keladi dengan pandangan menghakimi makhluk malang tanpa masa depan (mengingatkan Zenitsu pada Tanjirou di pertemuan pertama mereka), lalu menutup pintu. Tidak mengatakan apa-apa. Padahal Zenitsu sudah siap siaga mendengar teriakan yang akan membuat gendang telinganya keblinger. Langkah kaki Aoi terdengar, menjauhi kamar mereka, lebih tenang dari yang tadi.

"Oi, Zenitsu, dia masih di depan pintu?"

Zenitsu tidak lekas menjawab. Ditunggunya sampai yang terdengar hanyalah angin malam, yang selintas pintas sesuka mereka di antara awan-awan, yang mengetuk-ngetuk di jendela, yang membuat ranting bergemerisik dengan dahan. Angin malam yang mengikis batang pohon, yang menguatkan kepakan sayap burung-burung, yang menyelinap di lubang pada batu dan membuat suara seperti orang bersiul. Angin malam yang ... ah, bukan. Ini suara napasnya. Yang baik-baik saja, celakanya. Zenitsu tersadar dari lamunan. Pertanyaan Inosuke terulang di kepala. "Nggak," jawabnya, "dia sudah pergi."

Ia menjawab buru-buru, tapi tentu saja jeda yang diambil sudah terlalu lama. Ia mengangkat kepala, menatap Tanjirou dan Inosuke. Mereka berdua sedang menatapnya. Sepertinya sudah sejak tadi. Lalu, bersamaan, keduanya meledak dalam derai tawa.

"Heee?!" Itu membuatnya panik. "Kenapa?"

"Nggak, nggak." Tanjirou menjawab susah payah, sementara Inosuke masih tertawa, bahkan hingga gelimpangan di ranjangnya. (Hei, itu ranjangnya! Dan sekarang bantal selimut jadi jatuh ke lantai, babi ini minta disembelih rupanya!) "Zenitsu, melihatmu begitu tenang menyimak bunyi-bunyian ternyata menyenangkan."

Mendengar suaramu juga menyenangkan. Kedua telinga Zenitsu memerah. "Apa iya?"

Tanjirou membentangkan selimut hingga menutup kaki. "Iya, aku baru sadar perbedaan itu selama kita latihan. Indera penciumanku menangkap aroma-aroma yang datang masuk. Bau-baulah yang datang padaku. Sementara kamu, indera pendengaranmu justru menyebar. Kamu menangkapi suara-suara yang merambat di kejauhan."

Rona merah merambat hingga kedua pipi, tersebar ke seluruh wajah. Zenitsu buyar, celentang di lantai. "Aduuuh, hentikan itu Tanjirou! Jangan memujiku lebih dari ini, lungsuran pujiannya membuatku sesak napas!"

Suara datar Inosuke menginterupsi, "Dia nggak memujimu, goblok."

Gelimang bunga-bunga imajiner di dalam ruangan gugur seketika. Zenitsu bangkit dan dengan secepat cahaya sudah ada di depan Inosuke. Kedua matanya berkilat-kilat, terjurus. "Diam, hei kamu yang lebih goblok. Sebaiknya kamu menyingkir, turun, dan kembali ke ranjangmu."

"Ha, aku menantangmu duel! Pemenangnya boleh tidur di ranjang ini!"

"Itu memang ranjang Zenitsu, Inosuke ..."

"Oh, kalian berkomplot! Baiklah, aku nggak takut kalau harus dua lawan satu!"

Sinting betul. Zenitsu sampai kehilangan kata-kata. Cara Inosuke berpikir benar-benar perlu dipertanyakan. Sulit dipercaya bahwa manusia ini merasa ngantuk beberapa menit yang lalu. Sepertinya dia menambah pasokan energi dengan lari-lari mengitari ruangan (serius?) dan berteriak hingga menyiksa pita suaranya sendiri (masa sih?). Inosuke sudah berdiri di atas kasur, memasang kuda-kuda, tapi tahu-tahu ambruk.

Dengkurannya menggema.

Zenitsu hampir-hampir meledak. "Oi, jangan ambruk di sini!"

Terdengar Tanjirou menghela napas dan Zenitsu tertegun. Ia menoleh. Pemuda itu duduk dengan kaki terjulur, sedang memandangi Inosuke yang benar-benar tidak tertolong lagi, dan mengangkat bahu. "Apa boleh buat. Kita berdua tahu dia susah dibangunkan kalau sudah begitu. Kamu bisa di tempat tidurnya untuk malam ini, Zenitsu," ujarnya.

Untuk sesaat belum ada suara. Helaan napas Tanjirou tadi memantul-mantul dalam ruang kosong di kepala Zenitsu, membentur dinding, membentur lantai, terus-menerus, berulang-ulang. Tanjirou sudah kembali berbaring, menatap langit-langit, kemudian menatapnya yang masih berdiri di samping tempat tidur, tidak bergerak. "Zenitsu?"

"Tanjirou."

"Ya?"

"Kamu ..." Kamu capek, ya. Zenitsu hanya melanjutkannya dalam hati, membuat kata-kata itu jadi tak tersampaikan. "Nggak apa-apa. Selamat tidur."

Tanjirou seperti ingin mengatakan sesuatu. Zenitsu tahu. Ia tahu saat seseorang hendak bicara, tapi kemudian menahannya, lalu mengganti dengan sesuatu yang lain. "Ya, selamat tidur juga, Zenitsu." Tepat seperti itu.

Langkah kakinya di lantai kayu bergema. Ia berhenti di samping tempat tidur Inosuke. Mendengar suara-suara yang tak ia minta. Desir angin mengetuk jendela. Dengkuran Inosuke. Napas naik-turun Tanjirou. Lalu, helaan napas pemuda itu terdengar lagi, gemanya belum benar-benar habis di dalam kepala. Helaan napas yang membuat Zenitsu tadi tertegun. Ia menatap Tanjirou. Pemuda itu belum benar-benar tidur, hanya sedang berusaha tidur. Napas orang tidur itu dapat dibedakan. Kalau ia memanggilnya, Tanjirou pasti bangun. Tapi mana mungkin ia memanggilnya.

Zenitsu mengulang peristiwa tadi. Mereka mengobrol. Ia menanggapi seadanya. Kadang-kadang fokus tersita karena memikirkan Nezuko. Tapi yang jelas, Inosuke bicara terus. Tanjirou menimpali sesekali. Setiap kali Tanjirou bicara panjang, biasanya berpokok pada usaha menenangkan babi yang berapi-api itu. Latihan melelahkan sepanjang siang membuatnya tidak sanggup berputar dalam percakapan lama-lama.

Tapi, memangnya Tanjirou sanggup ya? Sejak tadi, pemuda itu selalu mengurusi apa pun. Meladeni tantangan Inosuke. Menyuruh mereka bergegas tidur. Saat Inosuke menantangnya berduel memperebutkan kasur, ia bisa saja berlagak tidur dan tak perlu buang tenaga untuk ikut campur, tapi tetap diurusi juga. Zenitsu menarik napas dan mengembuskannya. Suara napasnya bergema di telinga. Padahal jadi orang baik juga ada batasnya, Tanjirou. Harusnya, sih.

Zenitsu naik ke atas kasur. Berbaring. Berusaha tidur.

Ia tidak suka saat ia baik-baik saja. Degup jantung yang lebih tenang membuat indera pendengarnya dapat menangkap suara-suara tak perlu, beda jauh saat kepanikan menguasai dan satu-satunya yang bikin bising adalah deru napas sendiri. Oh, ayolah. Tidurlah, tidur sekarang. Buat malam berlalu secepat kedipan mata, membuatnya tahu-tahu sudah melompat menuju esok hari. Dan saat pagi tiba, ia akan menghampiri Nezuko dalam kotak, berceloteh tentang sang kakak yang begitu baik hati.***