Summary: Laiknya kunang-kunang, mereka datang dan terbang terlalu cepat untuk jeda. [No pairings. Elemental siblings feat. Carrot siblings. Angst. #eduficentry #covid19. Kumpulan drabble.]
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta Studios
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari sini.
.
Drabble Collection
"Hiraeth"
.
.
.
ginkgo
Solar membuka jendela kamarnya di Subuh itu, membiarkan udara dingin menyeruak masuk ke seluruh penjuru kamar. Segarnya aroma daun limau yang tumbuh di kebun terbawa angin, membelai rambut Solar dan menerbangkan tirai putih tipis. Ia menghirup nafas dalam-dalam.
Tak sengaja, mata kelabunya melihat di bawah sana—sosok berbaju hijau tengah duduk sendirian di kebun. Solar memicingkan mata dan segera turun ke lantai bawah.
Thorn duduk termenung pada bangku di bawah pohon ceri. Tangannya memelintir sehelai daun kecokelatan, memutarnya pada tangkainya. Asanya terus melambung ke langit hingga seseorang mendudukkan diri di sisinya. Thorn menoleh dan melihat Solar tampak penuh tanya.
"Ada apa?"
Thorn segera tersenyum lebar.
"Tak ada apa-apa."
Solar tak percaya. Ia terus menatap Thorn dengan alis terangkat sebelah. Kakaknya dapat menyaksikan corak cemerlang pada mata jernih Solar, seperti awan kelabu yang terperangkap dalam tabung kaca.
Ia menarik nafas singkat.
"Aku hanya sedih, di antara yang lain hanya aku yang paling tidak berprestasi..."
"Tiap orang ada bakat, Thorn."
"Aku terlalu pelupa untuk mengasah bakat," ucapnya murung.
Solar tak dapat menawarkan kata-kata manis untuk meringankan beban, ia bukan penghibur. Jika seseorang menceritakan masalah padanya, Solar hanya mampu menawarkan solusi tanpa kalimat simpati. Di saat seperti ini, ia ingin sekali sebijak filsuf dan menyenangkan seperti komedian agar mengusir kesedihan saudaranya. Sayangnya ia mampu diam dengan perasaan hampa, menimbang-nimbang ide pada area kelabu otaknya.
Malam itu ketika Thorn hendak tidur, ia mendapati sebuah kado di mejanya. Thorn segera mengoyak bungkusnya dan melihat notes berhias daun ginkgo keemasan. Di halaman pertama nota itu, terpatri sebuah tulisan rapi bersudut tajam—catatan dari Solar.
"Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat."—Imam Syafi'i.
Thorn tak pernah melepaskan jurnal mungil itu dari tangannya dan selalu mencatat apa yang ia rasa penting, termasuk semua nasihat Gempa serta pesan motivasi. Thorn mulai dapat mengingat lebih baik dan ia sangat menjaga jurnal berhias ginkgo itu. Ialah salah satu hadiah paling bermanfaat untuk dirinya, menjadikannya lebih pandai manajemen diri dan pikiran.
Berwindu kemudian, jurnal ini menjadi kenangan bagi Thorn ketika Solar wafat direnggut pneumonia.
.
.
denouement
"Apa yang kau gambar, Fang?"
Fang, 6 tahun, menoleh pada kakaknya, Kaizo, yang baru berusia 14 tahun. Ia berdiri di dekat pintu kamar.
"Teman Pang," jawabnya. Fang kembali fokus menggambar.
Kaizo melangkahkan kaki memasuki kamar lalu menyalakan lampu. Tampak dinding kamar penuh dengan lukisan wajah beragam ekspresi, mungkin ada puluhan buah. Ada yang tertawa, tersenyum, menangis, bersedih, marah dan sebagainya. Hanya wajah saja, tanpa kepala dan badan yang utuh.
Kaizo lalu duduk di sisi adiknya, memerhatikan jemari kecil Fang menggores krayon pada dinding.
"Mengapa kau gambar mereka?"
"Pang mau ketemu. Libur terlalu lama."
"Itu penting, Fang. Kita harus bersabar diam di rumah."
Fang menatap Kaizo dengan bingung.
"Wabah?"
"Hm-hm, kita harus bersih agar tak sakit."
Fang mengamati tangannya yang penuh noda krayon. Walau non-toxic namun tetap terlihat kotor.
"Pang mau cuci tangan."
Kaizo mengusap kepala adiknya.
"Ayo cuci tangan."
Kakaknya lalu mengajari Fang cara membasuh tangan dan buah serta memotong kuku agar tidak ada kotoran yang bersembunyi di sana. Sebagaimana murid yang patuh, Fang meniru Kaizo dengan terurut.
Usai membersihkan diri, mereka duduk berhadapan di meja makan. Akibat meja yang terlalu tinggi untuk tubuh kecilnya, Fang harus duduk di atas tumpukan bantal sofa. Mereka berdoa sebentar dan mulai menyantap makanan yang masih hangat.
"Pang rindu Ayah dan Ibu," ujarnya tiba-tiba. Garpunya ia sorokkan pada sayur di piring seakan merajuk.
Kaizo melirik sejenak pada wajah muram adiknya dan kembali makan.
"Sampai dokter menyatakan kita sehat tak tertular dari orang lain, kita akan bertemu mereka."
Fang menatap kakaknya dengan heran.
"Kita sakit?"
"Kita hanya karantina dua minggu."
Dua hari setelah percakapan mereka, Fang mulai dijangkiti batuk persisten, lemah fisik dan panas tinggi. Ia segera dipisahkan dari Kaizo sesaat setelah nafasnya kian memendek dan romannya memutih. Sang kakak menyaksikan para personel medis berkostum biohazard datang membawa adiknya. Mereka berderap pergi bersama kelip lampu ambulans yang berwarna-warni.
Itu terakhir kalinya Kaizo melihat Fang.
.
.
petrichor
"Maksudnya?"
"Sungguh?"
Halilintar jeda sejenak. Ia menghisap nafas dalam dan menutup matanya. Tangannya menggenggam kuat ponsel yang melekat di telinga. Suara nafas seseorang terdengar halus dari seberang sana.
"Aku terjebak di Perlis. Takkan bisa pulang mungkin untuk beberapa minggu."
Dua adiknya di seberang sambungan tak bersuara untuk beberapa saat. Hanya tanda eksklamasi riuh dalam benak masing-masing. Menyaksikan cerita orang-orang yang terpisah dari keluarga mereka seolah tak nyata dan jauh, hingga tiba-tiba mereka merasai sendiri dan masuk dalam fase pengingkaran.
"Tak apa, sebentar lagi Kak Hali akan pulang!" ujar Taufan si optimis. Halilintar hampir dapat mendengar tawanya yang selalu ia kulum.
"Benar, kita masih dapat berkomunikasi via chat," tutur Gempa, seolah menghibur diri. "Kita selalu sama-sama."
Tanpa sadar, Halilintar tersenyum tipis. Dadanya terasa hangat.
"Kalian benar."
Beberapa waktu selepas percakapan mereka, Halilintar tengah menatap kosong ke plafon rumah sakit seputih lili. Seiring dengan nafasnya yang kian singkat, ia seolah tenggelam perlahan ke dasar laut sementara jauh di atas sana, seseorang memanggil namanya. Buruknya, teriakan itu takkan dapat menembus dinding air yang memeluk Halilintar dengan rapat, menulikan telinga dan mencekik leher. Metafora, ia menyambut tempat tidur berpasir putih di bawah sana, peraduan abadinya hingga dunia berakhir kelak.
Halilintar rindu kedua adiknya. Apa mereka juga akan tenggelam dalam samudera yang sama dan berbantal yang sama pula?
.
.
Fin.
.
Terimakasih sudah membaca!
Guys corona ini serius banget. Mohon jangan anggap sepele. Tetap bisa menyebabkan kematian, berapapun umur kalian.
Tetap waspada, cuci tangan, jaga kebersihan, jangan keluar rumah dan terus beribadah ya! ^-^
Silakan review dan tanggapannya!
