Disclaimer

NARUTO: Masashi Kishimoto

FAIRY TAIL:

FATE SERIES

THE BIRTH OF HUMAN FACTION (FANFICTION): FI. The World Archana.

Di suatu ruangan yang lokasinya tidak diketahui, tiba-tiba sebuah cahaya sangat menyilaukan muncul dan sesaat kemudian menghilang digantikan dengan dua sosok manusia berbeda jenis kelamin, yang satunya adalah wanita berambut hitam sepunggung serta mengenakan pakaian berwarna merah dan satunya lagi adalah seorang pria berambut merah sedikit panjang. Mereka berdua adalah Tohsaka Rin dan Emiya Shirou, dua master yang berhasil selamat setelah mengikuti perang cawan suci dua tahun yang lalu.

Keduanya saat ini merasa sangat terkejut. Bagaimana tidak? Mereka tadi masih berada di perpustakaan sebelum akhirnya sebuah amplop surat misterius tiba-tiba terjatuh di atas meja mereka yang asalnya entah dari mana sebelum akhirnya keduanya sudah berada di sini.

"A-apa yang terjadi?". Ucap atau tanya Rin entah pada siapa, otaknya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi, matanya menjelajah setiap sudut ruangan untuk mencari tahu di mana mereka berdua berada. Jika diperhatikan, Ruangan ini memiliki desain yang sangat mewah dan futuristik, dimana terdapat sebuah TV plasma yang memiliki ukuran cukup besar serta beberapa sofa yang tertata dengan sangat rapi dan perabotan yang menambah indahnya ruangan.

"Entahlah, tapi kita tidak boleh lengah." Ucap Shirou sambil memproyeksikan dua buah Blade berwarna hitam serta putih dan segera memasang posisi bertarung.

Rin juga melakukan hal yang sama, ia mengeluarkan beberapa permata dan langsung memasang posisi siaga di belakang Shirou, keduanya saling membelakangi untuk menutupi titik buta masing-masing. Namun, tiba-tiba Blade milik Shirou menghilang entah ke mana, padahal tidak mungkin dia menghilangkan senjatanya di kondisi seperti ini, hal serupa juga dialami Rin, permatanya yang menjadi media sihirnya juga menghilang dan tentu saja ini membuat mereka sedikit panik. Membingungkan bukan? jika senjata yang biasanya mereka andalkan dalam pertarungan tiba-tiba saja menghilang entah ke mana, bahkan Shirou sudah beberapa kali menggunakan mantra Trace On untukmemproyeksikan senjatanya tapi tetap tidak bisa.

"Tak perlu khawatir seperti itu, tuan dan nyonya."

Sebuah suara tiba-tiba saja mengagetkan Rin dan Shirou, mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara tersebut dan mendapati seorang pria berambut hitam bermata coklat dan mengenakan setelan jas hitam.

"Siapa kau dan di mana ini, cepat jelaskan!" Ucap Shirou yang masih waspada.

Mendengar perkataan Shirou tadi membuat si pria sedikit tersenyum, ia mengangkat kedua tangannya untuk memberi isyarat kalo dia tak berbahaya dan menyembunyikan apa pun. Setelah memperhatikan cukup lama, akhirnya Rin dan Shirou menurunkan kewaspadaan mereka dan sedikit santai.

" Baiklah, pertama-tama Perkenalkan, namaku Arthur William dan mungkin kalian bingung dan terkejut kenapa tiba-tiba kalian berdua bisa berada di sini."

"Tentu saja, siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba saja kau dipindahkan begitu saja ke tempat lain." Balas Rin dengan sedikit nada kesal, wajar jika dia kesal. Sebenarnya, tadi dia sedang berduaan dengan Shirou di perpustakaan, tapi tiba-tiba saja dia sudah berada di tempat aneh dan tak dikenal ini, padahal akhirnya ia bisa bersama dengan Shirou tanpa harus diganggu oleh Luvia Edelvet.

"Maaf sebelumnya, tapi bisakah kau menjelaskan ini di mana?" Tanya Shirou pada pria berjas hitam yang namanya diketahui sebagai Arthur.

Arthur mengangguk kepada Shirou sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. "sederhananya, kalian telah terpilih untuk menonton kehidupan di dunia lain dan menikmati liburan di sini untuk beberapa waktu ke depan." Ucap Arthur menjelaskan.

Sementara itu, Rin dan Shirou masih belum sepenuhnya mengerti tentang ini, liburan adalah suatu hal yang berbeda. Tapi dunia lain? Apa maksudnya.

"Sekali lagi aku minta maaf, sepertinya kalian tidak diberitahu apa pun sebelumnya dan sepertinya biro perjalanan kami melakukan kesalahan." Ucap Arthur sambil membungkuk pada mereka berdua dan mengangkat kepalanya untuk mulai berkata lagi. " Untuk itu aku akan menjelaskannya secara singkat, seperti yang aku katakan tadi, kalian berada di sini untuk melihat kehidupan kalian dan teman kalian di dimensi pararel serta menikmati liburan di tempat ini untuk beberapa hari. Seharusnya, bagian yang bertugas harus menjelaskan pada yang bersangkutan sebelum melakukan proses transfer, tapi sepertinya mereka melakukan kesalahan dan aku tidak akan memaksa, jika kalian tidak mau maka kami akan mengirim kalian pulang." Ucap Arthur lagi

Rin maupun Shirou cukup heran dan merasa aneh dengan penjelasan Arthur tadi. Serius? Biro perjalanan macam apa yang menyediakan layanan teleportasi bagi pelanggannya . Namun, jika dipikir-pikir lagi tidak ada salahnya untuk menikmati liburan selama beberapa hari, mereka sudah lama tidak menghabiskan waktu berduaan tanpa diganggu oleh siapa pun terutama Luvia Edelvet, pewaris dari keluarga Edelvet yang naksir dengan Shirou. Jadi, mereka memutuskan untuk menerima tawaran Arthur dan berlibur di tempat ini, lagi pula mereka cukup penasaran dengan ucapan Arthur yang mengatakan akan memperlihatkan dimensi pararel. Artinya, dimensi lain benar-benar ada dan keduanya akan melihat kehidupan alternativ mereka. Memikirkannya saja sudah membuat mereka bersemangat.

"Baiklah, kami akan menerima tawaranmu Arthur-san, dan bisakah kita mulai sekarang?". Ucap Rin.

"oh mohon maaf, tapi kita masih harus menunggu satu tamu lagi dan setelah itu baru kita bisa memulainya."

"Siapa yang kau maks-"

"Pintu ke mana saja!"

Alis mata Rin sedikit berkedut, bukan karena perkataannya dipotong. Tidak, ia begitu karena tiba-tiba saja seorang pria yang memiliki iris berwarna biru telah berada di sebelah Arthur dan memakai kostum Doraemon yang hanya memperlihatkan wajahnya saja, juga ada sebuah pintu berwarna merah muda yang begitu mirip dengan yang ada di dalam serial kartun favoritnya waktu kecil.

Candaan macam apa ini, ada orang aneh yang memakai kostum Doraemon lengkap dengan pintu ke mana saja dan tentu saja ia berpikir itu bukan 'Pintu ke mana saja' sungguhan. Namun, Pintu itu tiba-tiba saja terbuka, memperlihatkan seorang yang Rin maupun Shirou kenal betul dengan orang ini karena pernah bertarung bersama dalam perang cawan suci sebagai Master dan Servant. Tapi bagaimana caranya orang yang menggunakan kostum Doraemon itu mendatangkan seorang Servant? Padahal untuk melakukan itu harus diperlukan sebuah katalis sebagai media pemanggilan, tapi orang itu bahkan sama sekali tak melakukan ritual pemanggilan Servant. Tunggu, artinya pintu itu benar-benar pintu ke mana saja yang asli seperti yang ada di serial Doraemon tapi bagaimana caranya sampai bisa memanggil Servant. Sudahlah, daripada sakit kepala memikirkan itu, lebih baik dia mengabaikannya.

Orang yang muncul itu adalah seorang wanita cantik berambut pirang yang disanggul, dan memiliki iris mata berwarna hijau Emerald yang sangat indah, tinggi badanya sekitar 158CM serta memakai gaun yang didominasi warna biru. Ia mulai melangkah maju keluar dari pintu tadi, matanya mulai berkeliling untuk memperhatikan keadaan sekitar. Namun, kedua matanya melebar sempurna saat melihat dua orang yang pernah menjadi masternya dulu, tapi jika diperhatikan sekali lagi mereka berdua terlihat sedikit berbeda sejak dua tahun yang lalu, dimana Rin telah meninggalkan gaya rambut Twin Tail miliknya sehingga terlihat sedikit lebih dewasa, begitu juga dengan Shirou tapi yang beda adalah dia hanya memanjangkan rambutnya sedikit.

"Rin!? Shirou!?" Ucap sang wanita karena kaget saat melihat kedua orang itu.

"Sabre? " Ucap Rin dan Shirou secara bersamaan karena atas kedatangan orang yang mereka sebut Sabre ini.

Sabre sebenarnya bukan nama aslinya, itu adalah sebutan Class Servant miliknya sebagai pengguna pedang, identitas sebenarnya adalah Arthuria Pendragon, sosok sesungguhnya dari King Arthur yang berasal dari legenda Camelot atau Britania raya.

Saat ini benar-benar merasa bingung mengapa ia bisa berada di tempat ini, seingatnya tadi ia masih berada Throne Of Heroes, menunggu untuk dipanggil kembali sebagai Servant dalam perang cawan selanjutnya. Namun, tiba-tiba saja sebuah pintu berwarna merah muda muncul di depannya, karena penasaran ia mendekati pintu itu dan memasukinya hingga akhirnya berada di tempat aneh ini, belum lagi dia juga bertemu dengan dua rekannya saat perang cawan dua tahun yang lalu. Mengapa ini bisa bisa terjadi? Dan bagaimana pintu itu membawanya kemari. Bahkan, ia merasa saat keluar dari pintu tadi tubuhnya bukan lagi roh sebagaimana jika saat dipanggil menggunakan cawan suci. Tidak, ini sangat berbeda, perasaan ini sudah lama tidak ia rasakan, perasaan yang sama saat ia masih hidup dan tidak pernah ia rasakan lagi setelahnya, walaupun dipanggil dalam perang suci. Tunggu, apakah sekarang ia benar-benar menjadi hidup lagi? Tapi bagaimana bisa? Ia sungguh sangat tidak mengerti.

"Salam dan selamat datang di tempat kami, wahai The King Of Knight, penguasa dari tanah Camelot." Ucap Arthur dengan nada sopan yang menyadarkan Arthuria dari lamunannya.

Arthuria mengalihkan pandangannya dan melihat pada Arthur, ia tak merasa orang ini tidak berbahaya jadi ia tak perlu merasa waspada, tapi ada yang ingin dia tanyakan.

"Siapa kau?" Tanya Arthuria.

"Oh maafkan atas ketidaksopananku, namaku adalah Arthur William dan orang yang memakai kostum Doraemon di sebelahku ini adalah Brandt Ristoria, kami adalah petugas yang berjaga saat ini." Ucap Arthur menjelaskan.

"Lalu? Mengapa aku bisa berada di sini?" tanya Arthuria.

Arthur hanya bisa menghela napas dan menatap tajam pada Brandt yang hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya. Serius, mengapa dia harus menjelaskan hal ini secara berulang kali, hal itu tentu saja sangat merepotkan baginya, mungkin sebaiknya dia harus memindahkan Brandt dari bagian Biro perjalanan karena sama sekali tidak cocok sebab selalu lupa menjelaskan kondisinya pada para calon tamu mereka, padahal hal itu sangat penting agar tidak terjadi kepanikan pada tamu. Akhirnya, Arthur harus menjelaskan semuanya lagi dari awal kepada Arthuria, tentu saja itu membuatnya lelah. Karena beberapa kali Arthuria menanyakan pertanyaan yang mesti dijawab baginya.

"Jadi maksudmu adalah, aku di sini untuk melihat kehidupan alternatifku dan orang yang akan berpengaruh besar bagiku di sana?" Ucap Arthuria mengonfirmasi.

"Ya, tepat sekali." Balas Arthur singkat.

Sedikit rasa tertarik muncul dalam diri Arthuria, ia sangat penasaran dengan kehidupan lainnya dan seberapa besar perubahannya. ini benar-benar minatnya.

"Baiklah sekarang karena semuanya sudah lengkap kita bisa memulainya, dan aku akan menjadi pemandu kalian untuk sementara, sebenarnya Brandt yang akan memandu kalian, tapi aku memintanya untuk mengawasi di ruang lain karena kami juga memiliki tamu lain." Ucap Arthur menjelaskan dan hanya dibalas anggukan oleh ketiga orang itu. Sejujurnya mereka juga penasaran siapa tamu itu tapi mengabaikannya karena sudah tidak sabar ingin memulai ini.

"Baiklah semuanya, aku pergi dulu ya, dan Arthur aku percayakan di sini padamu dulu ya." Ucap Brandt sambil pergi menggunakan pintu ke mana saja.

"Baiklah, silahkan kalian duduk di sofa yang telah disediakan. Sebelum memulai, aku akan menjelaskan mekanismenya pada kalian. Pertama, kalian akan membaca secara bergilir. Kedua, kejadian yang ada di dalam buku akan divisualisasikan pada layar di depan kalian sehingga tidak perlu bersusah payah membayangkannya, dan untuk yang membaca akan langsung juga divisualkan dalam pikirannya. Kalian mengerti?" Ucap Arthur menjelaskan lagi. Kemudian, dia memperhatikan mereka bertiga satu persatu dan menghentikan tatapannya pada Shirou. "Shirou-san, kau yang akan membaca pertama." Tambahnya lagi.

"Baiklah." Balas Shirou.

.

Chapter 1: a New life

Uzumaki Naruto telah kehilangan tangan kanannya.

Layar mulai menyala dan memperlihatkan seorang pemuda berambut pirang dan memiliki iris berwarna Sapphire, dan tiga guratan di masing-masing pipinya saat ini sedang terbaring lemah di tanah dengan kondisi yang sangat buruk, walaupun ia masih memiliki kesadaran, dan yang membuat ketiganya ngeri adalah, tangan pemuda itu hilang hingga batas lengan saja, darah juga terus mengalir dari tangan itu.

"Tunggu, apa-apaan ini, mengapa kondisinya bisa separah itu!?" Tanya Rin dengan wajah panik dan ngeri dengan apa yang dilihatnya.

Sedangkan Arthuria hanya memandang sang pemuda Naruto itu dengan tatapan khawatir, ia tak tahu siapa sebenarnya pemuda itu, tapi jika dia adalah orang yang dikatakan oleh Arthur berperan besar dalam hidup alternatif-nya, maka ia harap pemuda itu baik-baik saja, dia tak kenal pemuda itu dan tak tahu mengapa ia bisa khawatir pada orang yang tidak dikenalinya. Namun, ada sesuatu didalam dirinya yang tak rela kalau sampai terjadi hal buruk pada orang itu.

Satu-satunya yang tak bereaksi di antara mereka bertiga adalah Shirou, ia diam karena terus Memandangi luka pemuda itu, ia tahu itu adalah efek dari pertempuran, tapi pertempuran macam apa yang baru saja dilakukan pemuda itu. Sedangkan Arthur hanya menyeringai sambil memandang Arthuria tanpa mereka sadari. 'khe. Menarik, sepertinya takdir telah mulai bertindak.' Batin Arthur. Ia kemudian memandang Shirou dan berkata. "Lanjutkan, akan langsung dijelaskan dalam buku itu." Ucap Arthur pada Shirou.

Dalam pertarungannya melawan sang rival sekaligus sahabatnya. Uchiha Sasuke, untuk menghentikan rencana revolusi yang akan dilakukannya, dengan cara membunuh para Kage yang saat ini masih terjebak dalam Mugen Tsuyukomi. Memang ia berhasil mengehentikan rencana konyol Sasuke dan memutuskan rantai takdir yang menjerat mereka sejak masa para pendahulunya sebagai reinkarnasi Indra dan Ashura yang setiap kali terlahir, mereka akan ditakdirkan untuk menjalani takdir yang sangat tragis, dimana mereka akan dilahirkan sebagai sepasang sahabat atau saudara. Namun, pada akhirnya mereka akan bertarung sampai salah satu atau keduanya mati, lalu setelah itu mereka akan bereinkarnasi pada jiwa dan tubuh yang baru, siklus itu akan terulang terus hingga berakhir pada masa Naruto dan sasuke, tapi itu memiliki bayaran yang sangat mahal, demi itu mereka berdua harus rela kehilangan satu tangan.

Rin, Shirou, bahkan Arthuria langsung mengalami Shok seketika setelah mendengar takdir kejam yang harus dialami oleh Naruto dan sahabatnya yang sudah berawal dari para leluhur mereka itu. Sungguh, mereka sama sekali tidak dapat membayangkan jika mereka semua mengalami takdir seperti itu. Apalagi Rin, membayangkan jika dia dan adiknya, Sakura, harus mengalami hal itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. Walaupun nama keluarga mereka sudah berbeda, tapi tetap saja Sakura merupakan adik kandung dan satu-satunya keluarga yang dia miliki.

"Ini ... Awal yang buruk untuk memulai sebuah buku." Gumam Arthuria

Sebenarnya Arthuria merasa simpati pada Naruto, ia tahu seperti apa rasa sakit yang dimiliki Naruto saat harus berhadapan dan bertarung mati-matian dengan orang yang telah bersama kita sebagai sahabat dan rekan. Ia tahu rasanya karena dulu juga dia pernah harus berhadapan dengan para kesatria meja bundar yang berbalik menentangnya dalam perang saudara, termasuk Sir Lancelot, yang tak hanya harus dihadapinya dalam medan perang, tapi juga dalam perang cawan suci ke-empat sebagai Servant Class Berseker. Bahkan, keturunannya sendiri, Mordred Pendragon, tewas di tangannya sendiri dalam sebuah pertempuran.

Mungkin, dari pada rasa simpati, ini sebenarnya adalah rasa kagum dan hormat, karena Naruto mampu mengubah pertikaian yang telah ditakdirkan padanya dengan tekad. Sedangkan dia, dulu saja waktu perang cawan suci, keinginannya adalah untuk mengulang waktu kembali agar bisa mengubah keputusannya dulu dan menyelamatkan kerajaannya dari kehancuran. Permintaan yang konyol memang, karena itu tidak akan mengubah apa pun dimasa depan, sehingga tak heran jika The King Of Conquer, Iskandar, menertawainya dan mengatakan kalau itu adalah keinginan bodoh yang sangat egois.

Dis terlihat sedang melamun memikirkan sesuatu,

Seketika tubuh Arthuria tersentak saat melihat mata Naruto, ia tahu betul orang seperti apa yang memiliki pandangan seperti itu dan apa telah mereka lalui.

"Tatapan itu... Menyedihkan" Guman Arthuria. Namun, masih sempat didengar oleh kedua temannya.

"Apa maksudmu, Sabre?" Tanya Shirou merasa bingung dengan makna dari ucapan Arthuria.

"Tatapan seperti itu hanya dimiliki oleh mereka yang sudah berulang kali mengalami penderitaan yang amat hebat dan memegang beban besar dipundak mereka, serta rasa kesedihan dan kesepian yang mereka pendam." Bukan Arthuria yang yang menjawab, melainkan Rin yang menjelaskannya pada Shirou.

"Bagaimana kau bisa tahu, Rin?" Tanya Shirou.

"Sudahlah, baca saja buku itu, aku ingin tahu kelanjutannya!" Ucap Rin yang mengabaikan pertanyaan Shirou

"Baiklah, kau ini, tak perlu kesal seperti itu kan" Ucap Shirou sambil menghela nafas karena tingkah sang kekasih, dan kemudian dia mulai membaca lagi.

Jika diperhatikan lebih seksama, Rin terlihat sangat gusar dan melirik sekali ke arah Shirou tanpa disadari oleh sang kekasih. Sejujurnya dia tahu karena tatapan seperti itu pernah dia lihat pada mata Servant Class Archer, Emiya, miliknya dulu dalam mimpi yang menampilkan masa lalu sang Servant. Dapat disimpulkan bahwa masa lalunya banyak berisi penderitaan selama menjalani kehidupan sebagai Servant dan ingin sekali terbebas dari kehidupan macam itu. Sebenarnya, ia juga merasa khawatir, ia tahu bahwa sebenarnya Emiya adalah adalah Emiya Shirou itu sendiri yang menjalani kehidupan seperti itu karena keinginannya yang ingin menjadi seorang pahlawan, dan ia takut jika Shirou tidak membuang impiannya, maka ia akan menjalani kehidupan seperti itu di masa depan nanti.

Dia sedang memikirkan solusi agar bagaimana caranya supaya tak terjadi kembali peperangan di Elemental Nation, ia benci dengan peperangan, perang dunia Shinobi ke-empat saja sudah cukup buruk baginya, ia tak ingin perang lain pecah dan generasi penerus yang akan kena batunya dan juga agar keinginan sang guru, Jiraiya, bisa terlaksana.

"Jadi, di dimensi itu baru saja terjadi perang ya." Ucap Shirou sambil mengelus dagunya, ia bertanya-tanya apakah mereka juga terlibat dalam perang ini karena Arthur mengatakan tentang kehidupan alternativ mereka, jadi asumsinya adalah dunia inilah yang dimaksud.

"Aku dapat mengerti keinginannya itu, Walaupun Naif. Namun, aku setuju dengannya, perang hanya mendatangkan kesengsaraan dan kesedihan baik kalah ataupun menang, anak-anak menjadi yatim, para wanita kehilangan suami dan keluarga mereka, serta para prajurit yang menjadi cacat karena kehilangan anggota tubuh mereka." Ucap Arthuria dengan ekspresi serius. Kemudian. Dia mulai melanjutkan ucapannya lagi "Apalagi sudah terjadi empat kali perang berskala dunia di dimensi itu. Bayangkan, dunia ini saja baru mengalami dua kali perang dunia, dan itu pun efek yang ditimbulkan sangat buruk, maka seberapa buruk yang ada di dunia itu." Tambahnya lagi

"Kau benar, perang cawan pun walau skalanya kecil. Namun, efek yang ditimbulkan itu sangat luas dan memakan banyak korban. Bahkan, ada seorang profesor di asosiasi yang merupakan mantan Master dalam perang cawan ke-empat pernah menceritakan padaku kalau ada seorang master Caster yang menggunakan Servantnya untuk menculik anak-anak dan membunuh mereka serta menyiksa, yang kemudian akan di paku pada sebuah tiang besar." Ucap Rin menjelaskan. "Oh ya, Sabre, Apakah kau tahu siapa identitas Caster dan Masternya pada waktu itu?" Tanya Rin.

Arthuria merasa sedikit kesal, mengapa Rin tiba-tiba harus menanyakan hal itu padanya? Mengingatnya saja dia tak mau. Pertemuannya dengan Caster saja sudah membuatnya memiliki kenangan buruk tentang Servant itu, belum lagi Caster selalu mengira dirinya adalah Jeanne D'arc, dan selalu mengejarnya kemanapun dia pergi, serta selalu memanggil dia dengan sebutan 'pengantinnya'.

"Ehem, Tidak Rin, aku tidak tahu siapa mereka, tapi yang jelas saat itu aku bekerja sama dengan beberapa Servant untuk menghadapi dia yang telah mengaktifkan Noble Pantasm miliknya." Jelas Arthuria dengan sedikit berbohong.

"Sekuat itukah Caster pada masa itu?" Tanya Shirou dengan sedikit rasa takjub.

"Sudahlah, baca saja buku itu, Shirou." Ucap Arthuria. Sejujurnya, dia tak ingin lama-lama membahas tentang Caster lebih jauh lagi. Namun, dia sedikit penasaran dengan profesor yang dikatakan Rin sebagai mantan master perang cawan ke-empat, mungkin setelah ini dia harus menanyakannya pada Rin nanti.

Hagoromo-,

"Siapa itu Hagoromo?" Tanya Rin entah pada siapa.

"Entahlah aku tidak tahu." Jawab Arthuria

Shirou hanya menghela nafas karena ucapannya dipotong oleh mereka berdua. Tentu saja mereka tidak tahu, kan dia baru akan membacakan penjelasannya, tapi ucapannya sudah dipotong.

"Tolong jangan menyela, aku baru mau membaca penjelasannya." Ucap Shirou.

Rin dan Arthuria hanya cengengesan saja karena ditegur oleh Shirou seperti itu.

"Gomen, Shirou-kun." Ucap Rin sambil menggaruk belakang kepalanya dan sedikit malu.

"Betul apa yang dikatakan Shirou, semua akan dijelaskan

dalam buku itu. Kalaupun tidak ada, maka aku yang akan menjelaskannya." Ucap Arthur. Kemudian, dia memberikan Isyarat agar Shirou melanjutkan bacaannya

Sang pencipta sistem dunia Shinobi, pemilik julukan dewa shinobi dan leluhur dari dari klan-klan hebat seperti Senju, Uchiha , dan Uzumaki. Sekaligus, ia juga adalah ayah dari Indra dan Ashura. Namun, dia lebih dikenal sebagai Rikudou Sannin.

"Oh ternyata seperti itu, bisa dikatakan orang ini adalah dewa yang telahyang menjadi titik awal sistem di sana ya, dan juga dia adalah ayah dari dua orang yang ditadirkan bertarung itu." Ucap Rin

"Ya, kau benar; Hagoromo bisa dikatakan juga sebagai seorang dewa karena dia memiliki kekuatan serta stamina yang sangat besar yang dia dapatkan dari dari garis keturunannya dan dari mahluk bernama Juubi yang dia kalah dalam pertarungan satu lawan satu selama berbulan-bulan, belum lagi ibunya adalah seorang dewi Primordial. Jadi tak heran, kalau dia itu disebut dewa" Ucap Arthur seraya menjelaskan panjang lebar pada mereka bertiga dan hanya dibalas dengan angguka.

Tiba-tiba Arthuria mengangkat satu tangannya seperti anak sekolah yang ingin bertanya pada gurunya.

"Ada apa, nona Arthuria?" Tanya Arthur dengan sopan mengingat Arthuria dulu itu seorang raja.

"kalau Hagoromo masih hidup, mengapa dia tidak mencegah pertarungan mereka? Bukankah sebagai seorang yang memiliki kekuatan dewa, itu adalah hal yang mudah?" tanya Arthuria.

"Tidak. Anda salah, Hagoromo di dalam buku ini bukanlah yang asli maupun yang palsu." Ucap Arthur dengan makna yang ambigu

Sedangkan, Arthuria hanya mengangkat alisnya pertanda tak paham dengan perkataan Arthur.

"Apa maksudmu?" Tanya Arthuria yang bingung.

Wajar jika dia merasa bingung, soalnya ucapan Arthur itu terkesan ambigu. Siapa coba? Yang tidak akan bingung jika diberikan penjelasan dengan cara seperti itu.

"Saat kejadian di dalam buku uni terjadi, sebenarnya Hagoromo telah ribuan tahun wafat. Jadi, yang di sini hanyalah perwujudan dari Chakranya. Dan sudah kehilangan banyak karena telah membantu Naruto dan Sasuke dalam perang sebelumnya saat melawan Madara, reinkarnasi Indra sebelum Sasuke. Jadi, mustahil dia mampu menghentikan mereka saat bertarung." Jelas Arthur.

"Ada pertanyaan lain?" tanya Arthur pada mereka. Namun, semua diam, pertanda tak ada yang mau bertanya.. "Kalau begitu, lanjutkan."

Saat ini dia tengah memperhatikan Reinkarnasi dari putranya yang bernama Ashura itu, diikuti oleh para Biju yang telah lepas dari teknik Chibaku Tensei milik Sasuke, serta rekan-rekannya dari tim tujuh terkecuali Sai, yang memandangnya dengan rasa penasaran.

"Lihat, bukanya sembilan hewan raksasa itu terlihat mirip dengan yang ada dalam cerita-cerita Shinto?" Ucap Rin

"Kau benar Rin, tapi jika perhatikan lagi, kebanyakan dari mereka memilik bentuk yang berbeda dari Bijuu yang ada di dunia kita, lihat saja Hachibi, di dunia kita dia adalah ular naga berkepala delapan dan berekor delapan, sedangkan di sana dia berwujud gurita berkepala banteng." Ucap Shirou.

Tiba-tiba Arthuria menyadari suatu hal yang lumayan penting, dia di sini untuk melihat kehidupan alternatifnya. Namun, sedari tadi sejak cerita dimulai, dia dan kedua mantan masternya belum juga muncul. Dimana mereka? Mungkin ia harus menanyakannya pada Arthur.

"Arthur, ada yang ingin kutanyakan." Ucap Arthuria tiba-tiba.

"Apa itu, nona Arthuria?"

"Kau bilang buku ini menunjukkan kehidupan lain kami, tapi dari tadi aku belum melihat diri kami di sana, di mana sebenarnya kami?" Tanya Arthuria

"iya benar, dari tadi pun aku juga penasaran." Sambung Rin

"Maaf sebelumnya, tapi aku tidak bisa memberikan Spoiler. Namun dapat kupastikan tak lama lagi kalian akan muncul." Ucap Arthur.

Arthuria hanya menghela nafas saja karena tak memiliki petunjuk apa pun. Namun, ia masih merasa penasaran dengan sebutan Chibaku tense. Apakah itu sama seperti Noble Pantasm milik Servant? Mungkin dia harus menanyakan hal ini, tapi sepertinya Arthur menyadarinya dari ekspresi Arthuria.

"Chibaku tensei, itu adalah salah satu Jutsu Rank-S yang ada di sana, dan digunakan untuk menyegel sesuatu yang besar ataupun makhluk abadi seperti lawan mereka sebelumnya dan Sasuke juga menggunakannya kepada para Bijju. Namun, tidak sembarang orang bisa melakukan Jutsu ini, salah satunya adalah orang itu harus memiliki Rinnegan, atau mata para dewa." Ucap Arthur seraya menjelaskan kepada mereka. Kemudian, dia mulai melanjutkan ucapannya lagi. " Kalian lihat mata kanannya yang memiliki tampilan aneh seperti riak air dan sembilan tomoe? Itulah Rinnegan, mata yang memberi kekuatan laksana dewa. Namun, yang memiliki mata seperti ini baru diketahui berjumlah empat orang, Sasuke adalah satu-satunya pemilik Rinnegan yang masih hidup." Tambahnya lagi.

Semua terkagum-terkagum dengan penjelasan Arthur, Arthuria tampak berpikir kalau kekuatan semacam itu sudah pantas untuk dibandingkan dengan kekuatan dari Noble Pantasm seorang Servant, sedangkan untuk duo majutsu, mereka juga berpikir kekuatan dari mata itu sangat mengagumkan. Di tempat mereka pun juga ada hal yang sama, yaitu Mistic Eyes. Namun, sepertinya tidak sekuat Rinnegan.

"Sekuat itu?" Tanya salah satu dari mereka.

"ya, bahkan, bulan di dunia Shinobi sebenarnya tercipta dari tehnik Chibaku Tensei yang digunakan untuk menyegel Juubi setelah Hagoromo bertarung dengannya."

Rin tiba-tiba memiliki kilau bintang di matanya, ia tak sabar untuk melihat dirinya di sana. Apakah dia seorang Shinobi? Dia ingin cepat untuk menyaksikannya.

"Apakah kami akan menjadi seorang Shinobi yang keren?" Tanya Rin dengan bersemangat, dari dulu dia sangat suka menyaksikan aksi para ninja dari film ataupun anime, saat diberitahu tentang melihat kehidupan alternatifnya, dia penasaran dengan kehidupan macam apa yang dijalaninya. Namun, saat tahu kalau di dalam buku itu menampilkan dunia Shinobi, dia menjadi sangat bersemangat dan mulai berpikir kalau dia juga akan menjadi seorang Shinobi atau Kunoichi.

Bukannya menjawab, Arthur malah memasang pose berpikir dan tersenyum polos, membuat Rin semakin penasaran karena menunggu jawaban dari Arthur. Kemudian, dia mulai menggerakkan mulutnya. "Itu Rahasia." Ucap Arthur sambil tertawa tanpa dosa.

"Mou, apa-apaan kau itu sih, bikin orang penasaran saja." Ucap Rin dengan Sifat kekanak-kanakannya sambil menunjuk Arthur.

Shirou hanya menghela nafas lagi karena sifat Rin yang kadang tak sopan dan seperti anak-anak, walaupun sudah hampir dewasa. Namun, sifatnya kadang tak mencerminkan usianya, kadang juga dia membuat dirinya repot, apalagi jika sudah bertemu Luvia, maka amarahnya akan mudah terpancing diprovokasi.

"Maafkan atas tingkahnya, Arthur-san." Ucap Shirou sambil sedikit menundukkan badannya untuk meminta maaf.

"Bukan masalah, silakan lanjutkan." Ucap Arthur.

"Uzumaki Naruto..." Panggil Hagoromo.

Naruto langsung merespons panggilan dari Rikudou Sannin dan membalikkan wajah ke arahnya, sehingga keduanya saling berhadapan. Lalu, Hagoromo mulai melanjutkan omongannya. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Hagoromo.

"Hagoromo-jiji, sepertinya aku tidak bisa pulang." Ucap Naruto kepada mereka semua.

Sontak saja ucapan itu membuat senseinya, Kakashi, dan kedua sahabatnya itu memandang dengan tatapan terkejut. Bagaimana tidak? Mereka tahu kalau impian Naruto itu adalah untuk diakui keberadaannya dan menjadi seorang Hokage yang hebat. Sekarang, dia adalah seorang pahlawan dari perang besar dunia Shinobi, orang yang telah berkontribusi besar dalam mengakhiri perang ini, kesempatannya untuk menjadi seorang Hokage telah terbuka sangat lebar. Namun, dia malah membuangnya begitu saja.

Ketiganya terdiam setelah mendengar isi buku itu, karena bingung dengan jalan pikir Naruto, padahal dia sudah berjuang untuk hal itu, tapi langsung saja dia buang. Normalnya, orang tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas yang datang padanya, apalagi jika sudah banyak yang dikorbankan untuk itu.

"Apa maksudnya itu?" Tanya Shirou dengan rasa tak percaya. Di sini, dialah yang paling tidak mengerti dengan pemikiran Naruto.

Awalnya, semua, terkecuali Arthur, masih merasa bingung dengan perkara ini. Namun, sepertinya Rin dan Arthuria mulai paham dengan jalan pikir Naruto, awalnya memang mereka sempat merasa heran. Namun, setelah keduanya mengingat kembali pengalaman mereka, seperti halnya Arthuria yang pernah menjadi seorang raja, dan Rin yang dulu juga pernah melihat kenangan servantnya. Maka, mereka telah mengerti betul alasannya.

"Bacalah, kau akan temukan jawabannya dalam buku itu." Ucap Arthur singkat. Kemudian, pandangannya dialihkan pada layar yang memperlihatkan Naruto, dan mulai berkata lagi. "Dia dikenal dengan julukan, Ninja tak terduga nomor satu dari Konoha, kau tak akan pernah bisa menebak jalan pikirnya." Tambahnya lagi.

"Oi Naruto! Apa maksudmu berbicara seperti itu, Hah?!" Teriak Sasuke pada Naruto. Kemudian, dia mulai melanjutkan ucapannya lagi. " Diperlukan Chakra Indra dan Ashura untuk membebaskan semua rekan kita dari pengaruh Mugen Tsukuyomi, apa kau tahu?" Tambahnya lagi.

"Aku tahu itu, Sasuke. Tapi...," Pandangannya dialihkan kembali kepada Rikudou Sannin, ia menatapnya sambil sedikit menyeringai, dan melanjutkan lagi ucapannya. "... Bukan hanya kita yang bisa melakukannya, kau juga bisa kan, Rikudou-Jiji?"

Hagoromo tampak berpikir untuk sesaat. Kemudian, ia mulai berbicara. "Sepertinya aku masih memiliki Chakra dan Life Force yang cukup untuk melakukannya." Balas Hagoromo. Kemudian, ia melanjutkan kembali perkataannya. "Tapi, ada apa sampai kau tidak ingin kembali, Naruto." Tanyanya.

"Itulah yang ingin kutanyakan dari tadi." Ucap Shirou, sepertinya dia mulai kesal karena belum juga menemukan jawabannya.

Pletak!

Tiba-tiba kepala Shirou dijitak oleh seseorang dengan tenaga yang lumayan kuat sehingga membuat kepalanya lumayan sakit, dan pelaku penjitakan itu tak lain dan tak bukan adalah Rin. Ia mulai kesal dengan sifat sang kekasih yang kadang tak sabaran, sifat inilah juga yang beberapa kali membuat nyawa mereka terancam dalam perang cawan suci.

"Apa-apaan itu Rin?" Ucap Shirou sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.

"Kau itu, selalu tidak sabaran, baca saja lah, nanti juga bakal dijelaskan." Ucap Rin mengomeli Shirou.

"Baik-baik, aku baca lagi." Ucap Shirou sambil cemberut.

"Aku cemas, walaupun walau pun perang telah berakhir, dan aliansi lima desa besar telah terbentuk. Namun, aku tetap khawatir kalau ada orang yang mengincar para Bijuu dan menggunakan kekuatan mereka dan menggunakannya untuk menyulut api perang sekali lagi."

"Jadi itu alasannya?" Tanya Shirou entah pada siapa.

"Ya, dia tidak mementingkan keuntungan pribadi semata, tapi juga nasib dunianya beserta rekannya, bagiku dia adalah Ksatria sejati." Ucap Arthuria dengan nada hormat pada Naruto yang berada di layar televisi itu.

"Ya benar, dia sadar kalau perdamaian itu tak akan terjadi tanpa adanya pengorbanan, dan para rekannya di medan perang telah berkoban nyawa demi kemenangan mereka, sekarang ia merasa sudah gilirannya untuk berkorban demi memastikan kalau usaha mereka tak sia-sia." Ucap Rin menambahkan.

Sekarang Shirou sudah mulai sedikit mengerti, kalau menjadi pahlawan bukan hanya sekedar menyelamatkan nyawa orang lain ataupun sudah berjasa besar. Namun, lebih dari itu, para pahlawan juga siap berkorban apa saja, bahkan sampai nyawa sekalipun demi banyak orang.

Arthuria semakin kagum dengan Naruto, yang dikarenakan sifatnya yang rela berkorban demi tanah airnya, sifat ksatria sejati yang tidak disangka akan dia lihat pada seorang Shinobi, jenis petarung yang tak pernah mempedulikan kehormatan dan sering bertarung menggunakan cara kotor apa pun untuk menang. "Selandainya aku dapat memiliki orang seperti itu." Ucap Arthuria lagi, dia berharap memiliki orang seperti Naruto dalam kelompok ksatria meja bundar miliknya.

Namun, tiba-tiba Rin dan Shirou tersentak kaget sambil melihat kepadanya, mereka terkejut dengan ucapan Arthuria barusan, tak disangka sang raja ksatria akan berbicara tentang 'memiliki seseorang'.

"K-kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Arthuria yang merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka berdua.

Tiba-tiba wajah Rin tersenyum jahil, sepertinya dia telah menemukan bahan candaan yang sangat bagus dan tak bisa dilewatkan begitu saja.

"Wah-wah, apa ini? Apakah raja ksatria kita ini telah berpikir untuk berhenti menjadi raja dan berubah menjadi ratu?" Ucap Rin dengan senyum Jahil yang berubah menjadi semakin lebar. "Sepertinya kau sudah menemukan pria idamanmu." Tambahnya lagi.

"A-apa maks-" perkataannya hanya bisa sampai di tenggorokan saja, pipinya tiba-tiba memerah karena menyadari perkataannya tadi yang membuat orang lain salah paham kalau dia ingin memiliki seorang pria untuk jadi teman hidupnya.

"T-tidak, i-i-i-itu salah pah- Arrggh, sudahlah, baca saja terus buku itu." Ucap Arthuria salah tingkah, wajahnya sekarang lumayan memerah karena dikira naksir sama seseorang, dan juga sedikit gugup. Sedangkan, Rin sudah tertawa lebar karena puas sudah berhasil menjahili seorang 'Raja'.

"Baiklah, aku baca lagi." Ucap Shirou yang juga sedikit tertawa, dan membuat Arthuria tambah malu.

Hagoromo, Sakura, Sasuke, dan Kakashi langsung kaget setelah mendengar rencana itu, Kurama sang partner yang telah bersamanya sejak dia kecil terlihat marah pada Naruto.

"Naruto, kau idiot, apakah kau lupa konsekuensi dari Jinchuuriki yang Bijuu miliknya terlepas ataupun keluar dari tubuhnya adalah kematian? Rikudou Sannin saja mengalami hal itu tak lama setelah mengeluarkan Juubi dari tubuhnya dan membaginya menjadi kami bersembilan, apalagi kau, NARUTO!" ucap Kurama.

Itu benar, Kami tak bisa membiarkan kau melakukan hal ini, Naruto." Ucap Sasuke yang diikuti oleh anggukan oleh Kakashi dan Sakura.

Naruto sedikit menundukan wajahnya dan mulai menggerakkan bibirnya. "Kurama, apa kau ingat janjiku padamu dan para Bijuu yang lain?" Ucap Naruto, kemudian dia mulai mengangkat wajahnya dan melanjutkan ucapannya lagi. "Janjiku adalah, kalau aku akan membuat kalian bebas agar kalian tak diburu lagi seperti dulu! Aku tahu, kalian juga ingin bebas seperti makhluk hidup lain. Lagipula, kalau aku mati, aku akan bisa bertemu orang tuaku, Ero-Sannin, serta Hokage-jiji." Ucap Naruto sambil tersenyum lebar.

"Tapi tidak perlu sampai mengorbankan nyawamu juga. Bagaimanapun, kau adalah teman dan partner bertarungku." Ucap Kurama dengan nada sedih.

Naruto hanya tersenyum sedih mendengar ucapan Kurama. Kemudian, beberapa rantai keluar dari tubuhnya, dan dengan cepat melilit semua Bijuu, itu adalah teknik Chakura Kusari, teknik yang diwariskan secara turun temurun dari klan Uzumaki. " Maaf semua, kau tahu aku itu bagaimana, Kurama... pantang bagiku untuk ingkar janji." Ucap Naruto yang langsung menarik mereka semua.

"Hoy, aku belum selesai denganmu, Naruto, dasar kepar-!" Teriak Kurama tak sempat selesai karena sudah lebih dulu ditarik ke dalam tubuh Naruto.

"Benar-benar sifat Ksatria sejati." Gumam Arthuria pelan, semakin lama, semakin ia mengagumi Naruto, tak hanya sifatnya yang ia sukai, tapi wajahnya juga, lihatlah mata birunya, rambut pirangnya yang tertiup angin, dan senyum hangat yang ia tampilkan, mungkin benar yang dikatakan Rin, sepertinya dia telah menemukan seorang raja untuknya. Tunggu!! Apa yang dia pikirkan ini? Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, agar bisa menghapus pemikirannya tadi.

Namun, ia dapat merasakan pipinya memanas dan jantungnya berdegup kencang. Apa ini? Mungkinkah sedang sakit? Sebaiknya dia meminta obat pada Arthur sekarang, begitulah pikirnya.

"Arthur, wajahku terlalu panas dan jantungku berdetak sangat cepat, bisakah aku minta obat?" Tanya Arturia.

Ketiga orang yang mendengar permintaan Arturia itu langsung menatapnya dengan kaget, dan mereka melihat ternyata kondisinya seperti yang tadi dia katakan. Namun, bukannya panik, mereka malah hanya diam saja karena tahu kalau itu bukan sebuah penyakit.

"Maaf yang mulia, tapi penyakit seperti itu tidak bisa disembuhkan menggunakan obat." Ucap Arthur sambi berpura-pura memasang wajah simpati, tak ia sangka ternyata reaksi Arthuria bisa muncul secepat ini, dan sudah tak sabar untuk sampai di BAB 2 nanti

Mendengar ucapan Arthur tadi membuat Arthuria panik karena tak tahu bagaimana kondisinya saat ini, dia berpikir bahwa ini benar-benar sebuah penyakit. Sementara itu, Rin yang melihat perbuatan Arthur tadi mulai paham sesuatu, dan itu membuatnya sedikit menyeringai karena semangat, ia benar-benar tak menyesal untuk menerima tawaran Arthur tadi.

"Ne Arthur-san, apakah ini seperti yang aku pikirkan?." Tanya Rin dengan senyum misterius, melihat tingkah Arthuria yang satu ini memang cukup langka, karena dia sama sekali belum pernah mengalami yang namanya jatuh cinta dan tak tahu bagaimana rasanya, jadi wajar saja melihat dia panik seperti itu.

"Sepertinya begitu." Balas Arthur.

"Apa maksudmu?" Tanya Arthuria yang semakin takut.

Sementara itu, Shirou yang melihat perbuatan Rin da Arthur itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan tertawa kecil, jujur dia juga menikmati hal ini, tapi setidaknya dia akan mencoba menghibur Sabre sedikit.

" Sudahlah Sabre, kita lanjutkan saja, aku punya firasat kalau solusinya ada dibuku." Ucap Shirou sambil sedikit senyum atau menahan tawanya.

"Baiklah." Ucap Arthuria pasrah.

Melihat Naruto yang telah berhasil menyerap sembilan Bijuu, Hagoromo mulai mendekati Naruto dan berkata. "Apa kau yakin dan mantap dengan keputusanmu ini, Uzumaki Naruto?" Tanya Rikudou Sannin.

"Sangat yakin." Jawab Naruto singkat, lalu pandangannya dialihkan kepada dua sahabatnya dan juga senseinya. "Kumohon minna, jangan pandang aku seperti itu." Ucapnya dengan tatapan sendu.

"Bagaimana aku tak sedih, Naruto!" Ucapnya setengah berteriak, dan kemudian ia mulai melanjutkan omongannya. " Kau adalah sahabat dan rivalku, kau juga sudah menyadarkanku sebelum aku menjadi musuh seluruh dunia. Bagaimana bisa aku merasa tenang saat mendengar kau akan menumbalkan dirimu, Naruto! Pikirkanlah perasaan seluruh perasaan rekan kita dan para warga Konoha."

"Aku juga memikirkan mereka semuanya Sasuke, semuanya, Tsunade-Baachan, Konohamaru, dan teman-teman kita dari Rookie 12." Jawab Naruto. Kemudian, melanjutkan lagi." Tapi, ini sudah menjadi pilihanku, ayah dan ibuku telah berkorban nyawa mereka demi warga Konoha, Ero-Sannin juga telah mengorbankan nyawanya demi menyerang Pain agar dia tidak menyerang Konoha. Sekarang, kini telah tiba giliranku demi melindungi kebaikan dab kedamaian di Elemental Nation, kumohon maafkan aku Sasuke, Sakura-Chan, dan Kakashi Sensei." Ucap Naruto sambil tersenyum kecil, yang mungkin itu adalah senyum terakhir yang akan mereka lihat darinya.

Sasuke yang mendengar ucapan Naruto itu mulai paham dan mengikhlaskan keputusan Naruto. Ia hanya bisa menghela nafas saja. Namun.

Tiba-tiba Naruto teringat suatu hal penting yang tak boleh dilupakan. "Kakashi-sensei, Sakura-Chan!" panggil Naruto pada mantan guru dan rekannya itu, dan dibalas sahutan oleh mereka berdua.

"Ada apa, Naruto?" Tanya Kakashi.

"Aku mohon, katakanlah pada para aliansi Shinobi, terutama warga Konoha, kalau aku tewas saar melawan Kaguya." Ucap Naruto.

'Baiklah, jika itu maumu." Balas Kakashi seraya menunduk, sejujurnya ia sedih harus kehilangan salah satu muridnya. Namun setidaknya ia berharap bisa mengabulkan permohonan terakhir darinya itu.

Hogormo kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke. "Uchiha Sasuke, bukalah sebuah lubang dimensi dengan kekuatan matamu." Ucap Hagoromo

"Hn.."

Sasuke langsung menuruti ucapan Hagoromo, walaupun dengan berat hati, ia langsung membuka sebuah portal dengan menggunakan sisa-sisa kekuatannya, sehingga memunculkan portal berwarna ungu di depannya.

Melihat portal telah terbuka, Naruto mulai melangkahkan kakinya menuju ke sana. Namun, tiba tiba ia berhenti dan membalikkan tubuhnya, ia juga merentangkan tangannya dan ternyata dia sedang menangis karena sedih akan berpisah selamanya, melihat hal itu, Guru serta kedua rekannya langsung berlari ke arahnya, dan memeluk dirinya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan dia, mereka semua menangis sepuasnya, meluapkan segala kesedihan di hati, tentu saja mereka sadar kalau ini mungkin adalah terakhir kali mereka melihat si pirang konyol yang selalu bisa membuat orang-orang tersenyum bahagia itu.

Setelah cukup lama berpelukan dan menangis, akhirnya mereka mulai melepaskan pelukannya, begitu pun Naruto, dia sudah mulai berjalan kembali ke arah portal itu, sebelum masuk ia kembali membalikkan badannya lagi dan tersenyum lebar pada mereka semua. "Selamat tinggal semua, jaga diri kalian. Ucapnya sebelum akhirnya melompat ke dalam portal itu dan menghilang dari Elemental Nation selamanya. Begitulah, sejak hari itu senyum cerah dari Uzumaki Naruto tak pernah terlihat lagi di dunia Shinobi.

Rin, Shirou, bahkan Arthuria langsung menitikkan air mata setelah membaca bagian di atas tadi, mereka tak menyangka kalau alur dari buku ini akan sangat menyedihkan sehingga membuat mereka terbawa suasana.

"I-ini terlalu sedih, aku tak sanggup lagi untuk meneruskan." Ucap Rin sambil mengelap air matanya.

Begitu pula dengan Shirou dia mengerti betul kesedihan saat ditinggal oleh orang terdekat, ia ingatannya kembali mengingat saat kedua orang tuanya mati ketika terjadi kebakaran hebat di Fuyuki yang membuat hanya ia yang selamat, beruntung dia ditemukan oleh Kiritsugu. Demikian juga dengan Arthuria, walaupun tak bertemu Naruto secara langsung dan hanya melalui buku. Namun, anehnya dia merasa sangat sedih dengan nasib yang harus dialami Naruto.

Arthur yang melihat kondisi ini bisa mengerti dengan reaksi mereka. Namun, mereka juga harus menyelesaikan buku ini hingga habis dan tak boleh berhenti di sini.

"Lanjutkan, kita sudah berada di akhir buku, setelah ini hal baik akan terjadi padanya." Ucap Arthur sambil berusaha meyakinkan mereka agar mau melanjutkan kembali buku itu.

Mendengar hal itu, mereka bertiga kembali bersemangat dan ingin melanjutkan buku itu, setidaknya mereka tahu kalau nasib Naruto akan baik setelah ini

"Baik, akan kulanjutkan." Balas Shirou yang kemudian mulai membaca lagi.

Setelah kepergian Naruto, Sasuke dan Hagoromo memulai proses pembebasan dari Mugen Tsukuyomi, satu-persatu para Shinobi yang terperangkap mulai terbebas, begitu pula dengan kelima Kage. Namun, mereka terlihat bingung saat keberadaan orang yang seharusnya menjadi pahlawan perang ini malah tak terlihat, perasaan mereka menjadi tak karuan saat melihat Sasuke hanya bisa menunduk saja.

Setelah itu, Sasuke mulai menceritakan kebohongan yang mengatakan kalau Uzumaki Naruto telah tewas ditangan Kaguya dengan menggunakan teknik All-Killing ash bone, sehingga membuat tubuhnya habis menjadi abu dan tak tersisa lagi, berita itu membuat semua orang terguncang, terutama seluruh rekan seangkatannya dari Rookie 12 yang masih tersisa. Setelah itu, Semua anggota aliansi menuju ke Konoha untuk beristirahat untuk sementara waktu, juga untuk melaksanakan prosesi penghormatan terhadap Naruto untuk terakhir kaliny., karena merasa sedih dan sudah waktunya pensiun, Godaime Hokage , Senju Tsunade, memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan jabatannya pada Hatake Kakashi sebagai Rokudaime Hokage . Untuk Sasuke, seluruh catatan kriminalnya dihapus sebagai tanda jasa dalam perang dunia shinobi ke-empat. Namun, setelah itu dia bersama Sakura yang telah menjadi istrinya, memutuskan untuk meninggalkan Konoha, tapi ia berjanji akan melindungi desa dari balik bayangan, sejujurnya, Kakashi enggan melepaskan kedua muridnya itu, ia sudah kehilangan Naruto, dan tak ingin kehilangan sisanya lagi.

Namun, Sasuke tetap mengotot ingin pergi, sehingga membuat Kakashi mengizinkannya, dan ia juga mengantar kepergian keduanya secara sembunyi-sembunyi dimalam hari. Malam itu, Kakashi merasa sangat sedih sambil menatap punggung kedua muridnya yang semakin menjauh, sebelum akhirnya hilang ditelan oleh kelamnya malam. Sejak saat itu, Kakashi tak pernah berjumpa lagi dengan mereka berdua untuk waktu yang cukup lama. Itulah akhir dari tim tujuh, mereka menderita kesedihan serta kehilangan besar yang amat menyedihkan, sebelum akhirnya terpisah oleh ruang dan waktu.

Another Dimension.

"Jadi, di dimensi ini ceritanya akan dimulai?" Tanya Shirou yang cukup penasaran.

" Benar, dan dia akan memiliki andil besar di sana." Jawab Arthur singkat

Rin langsung tertunduk lesu kecewa karena ia pikir, di dunia lain dirinya akan menjadi seorang ninja, tapi ternyata ceritanya akan mulai di dunia lain. Sungguh, ini sangat mengecewakan baginya, melihat tingkahnya yang satu ini, sontak saja membuat teman-temannya yang lain malah tertawa. Sedangkan Arthuria malah sedikit penasaran dengan kondisi Naruto, ia sedikit cemas kalau terjadi hal buruk padanya, dirinya ingin cepat-cepat menyelesaikan buku itu agar dapat memastikan kalau keadaannya baik-baik saja.

Arthur tiba-tiba teringat suatu hal yang perlu dia sampaikan pada mereka bertiga, kalau nanti akan ada beberapa orang yang akan bergabung bersama mereka.

"Baiklah semua, aku baru dapat kabar kalau nanti akan ada tamu yang bergabung dengan kita setelah ini." Ucap Arthur yang membuat ketiganya penasaran, kira-kira siapa tamu itu. Sekarang, mereka ingin cepat menyelesaikan bukunya agar bisa tahu siapa tamu yang dimaksud.

"Baiklah, tinggal beberapa paragraf, aku akan melanjutkan membacanya saja." Ucap Shirou sebelum mulai membaca.

Naruto terbaring di sebuah tanah lapang yang tidak diketahui lokasinya, ia tak sadarkan diri dan kondisinya penuh dengan luka, dilihat dari dadanya yang naik turun, sepertinya dia masih bernafas, tapi juga sekarat, akan gawat kalau dia tidak segera ditolong, tapi sepertinya di sini sama sekali tidak ada orang yang bisa membantunya, dan ini sangat gawat. Namun, tiba-tiba, seseorang terlihat mendekat ke arahnya, dilihat dari fisiknya, sepertinya orang itu adalah gadis muda berambut pirang, gadis itu bergegas mengecek kondisi Naruto, apakah masih bisa diselamatkan atau tidak, namun sepertinya ia baik-baik saja anggapan si gadis.

Naruto sedikit membuka matanya karena merasakan kehadiran emosi yang mendekat ke arahnya, rupanya dari tadi ia tidak pingsan, tapi terlalu lemah untuk bergerak, saat ia mulai membuka matanya, ia disambut oleh pandangan gadis pirang yang menurutnya sangat cantik, ia belum pernah melihat gadis secantik itu, terutama kedua iris berwarna hijau Emerald itu yang membuatnya seakan berada di padang rumput yang luas.

Si gadis yang melihat Naruto sedikit bergerak mulai sedikit panik, ia Cuma sendiri di sini, dan pengetahuan tentang pertolongan pertamanya sanggat tidak membantu untuk kondisi wanita.

"Kumohon jangan bergerak, kondisimu sangat parah." Ucap gadis itu sedikit panik

"To-tolong a-aku." Ucap Naruto terbata-bata, sebelum akhirnya kesadaran miliknya telah hilang sepenuhnya.

Sang gadis itu merasa panik, dia tak punya pilihan selain membawa pemuda ini ke rumahnya. Akhirnya, gadis itu segera mengangkat tubuh Naruto dan mulai berlalu dari sana, tanpa ia sadari, sepasang mata yang memilik pupil vertikal terlihat sedang mengawasinya dari kejauhan.

"Semoga kau baik-baik saja, Naruto." Ucap sosok pemilik mata itu sebelum menghilang tanpa jejak.

End

Para pembaca itu merasa lega karena telah menyelesaikan buku itu. Terutama Arthuria yang tahu kalau Naruto baik-baik saja, ia tersenyum sambil memegang dadanya yang terasa hangat karena perasaan aneh itu muncul kembali, tapi kali ini dia menikmatinya.

Sementara itu, Rin yang melihat Arthuria senyum sendiri, merasa ingin menggadanya, ia sedikit tersenyum jahil, sepertinya buku ini memang seperti yang ia duga.

"Ada apa Sabre, senang karena dipuji oleh pangeranmu?" Tanya Rin dengan senyum jahil.

"A-apa maksudmu?" Tanya balik Arthuria yang pipinya kini telah memerah.

Rin kini sangat ingin tertawa setelah melihat tingkah temannya yang satu ini, dia masih berusaha menolak kata hatinya sendiri atau belum mengerti perasaannya, padahal sudah jelas kalau wanita misterius yang ditampilkan dalam layar itu adalah dirinya, walau tidak diperlihatkan secara jelas.

"sudahlah Sabre, jelas sekali kalau tadi dia memuji matamu dan mengatakan kau cantik." Ucap Shirou yang juga ikut-ikutan, sejujurnya ia merasa kasihan pada Arthuria yang terus digoda. Namun, momen langka seperti ini tak boleh disia-siakan begitu saja, tiba-tiba bibir Shirou membentuk sebuah seringai, sebuah ide muncul dalam kepalanya. "semoga kau menahan diri sampai dia sehat, Sabre." Ucap Shirou

Arthuria saat ini benar-benar ingin menangis karena terus menerus digoda oleh kedua temannya itu. Bahkan, saat ini wajahnya telah berubah menjadi merah.

"Baiklah semua, jangan menggodanya terus." Ucap Arthur yang berusaha menolong Arthuria, sehingga membuat dia membuatnya menerima pandangan terima kasih. Sejujurnya dia juga menikmati momen ini, tapi dia baru saja dapat kabar dari Brandit kalau para tamunya akan datang sebentar lagi, jadi sebaiknya dia menyambut mereka semua. "Oke semua, mari kita sambut para tamu itu." Tambahnya lagi.

Mereka bertiga hanya mengangguk dengan ucapan Arthur, sejujurnya mereka juga sangat penasaran dengan identitas para tamu yang akan datang, apakah itu seorang yang mereka kenal?

Tiba-tiba terdengar lagu opening Doraemon yang asalnya entah dari mana, bersamaan dengan munculnya Brandit yang masuk lewat pintu, yang anehnya sambil mengenakan kostum Doraemon yang sudah sobek disegala tempat dan muka yang lumayan babak belur. lagian juga mengapa harus ada opening segala, apakah pemilik hotel ini adalah maniak Doraemon?

Mereka semua penasaran dengan keadaan Brandit, mengapa keadaannya bisa separah itu?

"Oi Brandt, apa yang terjadi denganmu, bukannya kau kuminta mengawasi tamu di ruang lain?" Tanya Arthur heran

Sementara itu, Brandt yang ditanyai malah malah memasang wajah kusam dan berucap. "Ini semua karena tuh para bocah, mereka bertengkar lagi dan sampai mengeluarkan kekuatan masing-masing." Ucap Brandit dengan tampang ingin menangis layaknya seorang gadis yang baru saja dinodai.

Arthur hanya menghela nafas saja mendengar kabar itu, padahal dia sudah menyuruh para bocah itu diam, mungkin dia harus menegur mereka lagi setelah ini.

"Maaf menyela, tapi di mana tamu yang tadi dibicarakan?" Tanya Rin penasaran, sejujurnya dia merasa ogah untuk menyaksikan orang aneh berkostum Doraemon yang sedang menangis.

Brandit tiba-tiba tersadar dari acara tangisannya dan segera memasang tampang berwibawa, sehingga membuat yang lain sweadrop, karena sama sekali tidak cocok dengan keadaannya saat ini. " Ehem, maaf nona, mereka akan segera tiba." Ucap Brandit yang kemudian mengeluarkan Banyak partikel cahaya dari kantung ajaib miliknya.

Partikel cahaya itu berkumpul dan memunculkan enam buah pintu berwarna merah muda muncul yang asalnya entah dari mana, semuanya, kecuali Arthur dan Brandit, merasa semakin penasaran.

Kelima pintu itu mulai terbuka dengan sendirinya, memperlihatkan para tamu itu. Namun, apa yang berada di balik pintu itu membuat mereka semua tercengang, pasalnya keenam orang itu pernah berjumpa dengan mereka. Rin dan Shirou hanya mengetahui beberapa, sedangkan Arthuria kenal betul mereka semua, kecuali pria berambut hitam panjang yang serasa tak asing baginya.

Salah satu dari keenam orang itu melangkah maju dengan senyum lebar, orang itu memiliki ciri-ciri badan kekar yang sangat tinggi, pakaiannya adalah baju zirah tempur dan jubah merah bermantel, rambut dan jenggotnya juga berwarna merah. "Yo, raja ksatria, lama tak berjumpa." Ucap orang itu sambil tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih bersih

Arthuria masih tak percaya jika ia akan bertemu dengannya lagi, terutama dalam situasi sekarang, orang ini adalah salah satu dari roh pahlawan yang memiliki gelar raja, dan salah satu dari tiga raja yang terpanggil dalam perang cawan suci keempat, ia terpanggil sebagai Servant Class Rider saat itu, orang ini adalah...

"Raja penakluk, Iskandar?." Ucap Arthuria dengan ekspresi tak percaya yang membuat sang raja penakluk itu tertawa lebar.

End


Author note

Oke, akhirnya selesai juga ane nulis nih fic, dan mohon maaf karena banyak kesalahan dalam penulisan ataupun kesalahan lainnya

Dan terimah kasih banyak teman saya, Fi. The World Archana, yang telah mengizinkan saya untuk membuat versi reading dari salah satu fanfic dia.

Tolong beri saya ulasan yang panjang, jika kalian suka, jangan hanya sekedar "Next Thor", mungkin bagi kalian itu biasa" saja. Namun, bagi kami yang sudah susah" menulis, itu rasanya seperti kalian melemparkan karya kami di wajah kami sendiri.

Oh iya ane mau menawarkan untuk bergabung dengan GC Wa FI indonesia, dimana kalian bisa belajar soal penulisan atau sekedar berinteraksi dengan Author favorit kalian

Jika kalian berpikir ini grup FNI, maka kalian salah.

Oke sekian dan terima kasih

Bye-bye sampai jumpa lagi di fic saya yg selanjutnya.