Kim Doyoung (NCT)

Jeong Jaehyun (NCT)

And Other NCT's members

Disclaimer : They belong to themselves.

Warn!!! It's Genderswitch (gs) or genderbender, Don't read it if you don't like gs!!!!!

Typo(s) everywhere

Let me say thank you for reading my story.

Ini adalah kesekian kalinya Doyoung mengehela nafas berat, lalu menggerutu merutuki sang kekasih.

Rencana kencan yang sudah Doyoung atur sedemikian rupa hancur begitu saja hanya karna pekerjaan bodoh dadakan kekasihnya sementara Doyoung? Ia bahkan meminta jatah libur khusus untuk hari ini.

Sesekali ia juga ingin menjadi prioritas kekasihnya.

Bukan pertama kalinya bagi Doyoung merasa kecewa dengan tingkah menyebalkan kekasihnya itu, tapi mau di kata apalagi Doyoung terlalu cinta dengannya, ia hanya bisa pasrah ketika Jaehyun, kekasihnya, membatalkan janji mereka seperti biasanya.

Doyoung tersenyum miris, menatap pantulan wajahnya melalui telfon pintar miliknya, tadinya ia ingin memperlihatkan rambut barunya pada Jaehyun, menceritakan temannya yang baru saja berhenti karna akan melahirkan dan teman lainnya yang akan menikah.

Berbicara tentang menikah, Doyoung selalu bertanya-tanya, apakah mungkin ia dan Jaehyun akan menikah juga ? Sementara Jaehyun saja tampak tidak serius dan terpaksa menjalin hubungan dengannya.

Toh wajar saja Jaehyun merasa seperti itu, Doyoung sadar bahwa dirinya lah yang mengejar-ngejar Jaehyun, ia sendirilah yang melempar dirinya sendiri kedalam pelukan pria itu.

Apa aku menyerah saja? Pikir Doyoung.

Ia menunduk, mengusap air matanya yang entah sejak kapan tumpah ruah sembari menggeleng pelan, tidak! Ia tidak bisa menyerah begitu saja setelah apa saja yang ia lakukan untuk mendapatkan Jaehyun.

Doyoung lalu berdiri hendak pergi dari cafe milik temannya yang kini tengah sibuk meladeni pembeli lainnya.

"Ten! Aku pulang, sampai jumpa," teriak Doyoung sembari melambai pada sahabatnya Ten.

"Eh? Tapi kau bilang kau sedang sedih, apa kau sudah lebih baik?"

"Tentu saja, terima kasih untuk cokelat panasnya," puji Doyoung lalu melambai pada Ten yang tersenyum pasrah.

Ten sangat tahu bahwa Doyoung berbohong, melihat bahu ringkih sahabatnya menghilang di balik pintu kaca, tapi ia bisa apa? Doyoung itu bebal dan bodoh! Ya sahabatnya itu bodoh karena cinta.

...

Cuaca di malam hari benar-benar mengejek Doyoung, rintikan hujan seolah-olah menyaingi mata Doyoung yang kini sembab karna menangis.

Sedangkan sejuknya udara yang menusuk layaknya tusukan duri pada relung hati Doyoung saat ini.

Bahkan sampai saat ini Jaehyun tidak kunjung mengabarinya, ataupun setidkanya meminta maaf untuk menghargai dirinya.

Dan sekarang, bunyi bel yang terus-menerus berteriak dari pintu depan apartemennya benar-benar menambah rasa kesal Doyoung.

Ia malas untuk beranjak dari kasurnya, seluruh tenaganya habis ia gunakan untuk menangis.

Tapi Doyoung tidak bisa mengabaikan bunyi bel yang kini berbunyi makin liar, Doyoung yakin jika ia tidak kunjung bergerak untuk membuka pintu, esok hari tetangganya akan protes pada dirinya.

Doyoung membuka pintunya dengan malas sebelum bentakan seseorang menyadarkannya.

"Apa kau tidak bisa lebih cepat membuka pintunya?" Bentak sesosok pria dengan wajah kesalnya.

Ah~ yang di tangisi sudah datang rupanya, cibir Doyoung pada dirinya sendiri.

"Maaf," cicit Doyoung, ia yakin bahwa pekerjaan kekasihnya itu tidak berjalan dengan baik, karenanya pria itu datang dengan wajah kesal dan mood jelek miliknya.

Tapi yang di ajak bicara justru dengan acuhnya berlalu meninggalkan Doyoung masuk ke kamarnya.

Doyoung menutup pintu lalu membuntuti.

"Apa kau lapar Jae? Atau kau ingin mandi? Biar ku siapkan sesuatu untukmu," tawar Doyoung pada Jaehyun yang kini berjalan membelakanginya.

Pria itu tengah melepas dasi sialan yang rasanya seperti mencekik lehernya sendiri.

"Tidak perlu,"ketus Jaehyun, pria itu kini duduk di atas ranjang milik Doyoung dengan wajah kesalnya yang membuat Doyoung bergidik ngeri.

Hening,

Doyoung lalu berinisiatif untuk pergi mengambilkan Jaehyun air agar pria itu merasah lebih baik, "biar aku ambilkan air dulu," ucap Doyoung.

Baru selangkah kakinya melangkah, Jaehyun sudah terlebih dahulu menarik Doyoung kedalam pelukan lalu menciumnya penuh paksa.

Doyoung tidak menolak tapi tidak juga membalas. Ia hanya diam membiarkan Jaehyun menjamah bibir dan tubuhnya.

Karna tak kunjung mendapatkan respon dari sang lawan, Jaehyun melepas ciumannya lalu melirik ke arah Doyoung.

Wanita itu hanya berdiri diam menatap Jaehyun kosong.

"Apa kau patung?" Tanya Jaehyun mengejek, Doyoung menggeleng pelan.

"Lalu kenapa kau diam saja?" Tanyanya lagi sembari meraba pinggang ramping Doyoung.

"Aku sedang tidak ingin jae," cicit Doyoung takut, Jaehyun dengan mood yang buruk adalah kombinasi yang paling Doyoung benci.

"Lalu? Bukankah kau kekasihku? Kau tidak ingin menghiburku memangnya?"

Doyoung kembali diam tidak menanggapi tapi cukup untuk menambah tingkat kekesalan Jaehyun.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi," ucap Jaehyun sembari beranjak dari tempatnya.

Rasanya Doyoung ingin membiarkan pria itu pergi, tapi ia tahu bahwa hal itu akan berakhir buruk bagi dirinya karena dari itu Doyoung menahan tangan Jaehyun yang hendak pergi.

"Maafkan aku Jae," bujuk Doyoung lalu memeluknya.

"Untuk apa? Bukankah kau tidak senang aku di sini?" Tanyanya ketus.

Doyoung menggelengkan kepalanya, menarik wajah Jaehyun menghadap kearahnya. Lalu membalik tubuh sang kekasih sembari meletakkan satu tangan Jaehyun di pinggangnya sementara tangan yang lainnya ia letakkan di atas dada gempal miliknya.

"Aku minta maaf ya Jae," bujuk Doyoung

"Kau tidak perlu repot-repot meminta maaf pada orang yang hanya mengganggumu" Skeptis Jaehyun pada sang kekasih.

"Tidak jae aku salah, hari mu sedang buruk kan? Pekerjaan kantormu pasti tidak berjalan dengan baik, apa kau ingin bercinta?" Tawar Doyoung.

Ia menertawai dirinya sendiri yang bertingkah murahan pada Jaehyun tapi ia juga tidak bisa membiarkan prianya pergi begitu saja.

"Maafkan aku karna menolakmu tadi," cicit Doyoung sebelum mencium Jaehyun.

Sementara Jaehyun hanya menyeringai penuh kemenangan di balik ciumannya, kekasihnya ini terlalu mudah untuk di manipulasi olehnya.

Tanpa membuang waktu Jaehyun mendorong tubuh Doyoung ke atas kasur, menindih tubuh mungil namun berisi milik sang kekasih.

Doyoung tampak pasrah di bawahnya dengan penampilan yang berantakan namun sangat cantik untuk di pandang.

Nafasnya terengah-engah berkat ciuman panasnya dengan Jaehyun. Kini bibir tebal Jaehyun bergerak menjamah leher hingga pertengahan dada Doyoung.

Sementara jari-jari lentik Doyoung bergerak nakal melepas satu persatu tautan kancing kemeja Jaehyun.

Doyoung tahu jika sudah begini maka Jaehyun tidak akan berhenti sekalipun Doyoung menangis ataupun memohon toh dirinya sendiri yang menawarkan ajakan bercinta pada Jaehyun.

Pada akhirnya Doyoung selalu kalah oleh rasa cintanya pada Jaehyun.

...

Jaehyun terbangun dari tidurnya ketika tidak mendapati Doyoung di sisinya.

Kepalanya pusing begitu ia memaksakan untuk duduk, Jaehyun masih sangat mengantuk tapi ia tidak ingin tidur sendirian apalagi jam di dinding menunjukkan bahwa saat ini pukul 4 pagi,tapi Doyoung sudah menghilang.

Kemana wanita bodoh itu menghilang rutuk Jaehyun. Ia berjalan dengan sedikit terhuyung menuju dapur apartemen milik Doyoung.

"Jae hati-hati kau bisa menabrak meja," cegah Doyoung pada Jaehyun yang hampir menabrak counter dapurnya.

"Kau sedang apa?" Tanya Jaehyun.

"Aku haus Jae, apa kau haus? ingin minum?" Tawar Doyoung sambil menyodorkan secangkir air dingin yang hanya terisi setengah, Doyoung sudah meminum setengahnya.

Jaehyun menepis tangan Doyoung, ia justru menarik wanita itu kedalam pelukkannya.

"Aku tidak haus, aku ingin tidur," ucap Jaehyun.

"Lalu kenapa kau bangun?" Tanya Doyoung sembari membalas pelukan Jaehyun, beruntung gelas yang ia pegang tidak jatuh kelantai, jika tidak Doyoung harus bekerja untuk membersihkan pecahan kaca di subuh hari seperti ini.

"Karna aku tidak ingin tidur sendirian bodoh," ketus Jaehyun, ia mungkin kasar tapi Doyoung yakin Jaehyun juga menyayanginya walaupun ia juga ragu terhadapnya.

"Lagipula orang bodoh seperti apa yang minum air dingin saat subuh di cuaca dingin seperti ini,"

Doyoung hanya menunjukkan cengiran kaku miliknya. Ia meletakkan gelasnya kembali di atas counter meja dapurnya lalu melepas pelukan Jaehyun.

"Yasudah, ayo kembali tidur," ajak Doyoung, dan Jaehyun menurutinya sembari berjalan memeluk Doyoung dari belakang.

Ketika sampai di dalam kamar Doyoung, Jaehyun langsung melempar tubuhnya kembali di atas ranjang berukuran queen size itu.

Tidak sebesar ranjang miliknya tapi terasa sangat nyaman apalagi jika Doyoung ada di sampingnya.

Jaehyun menatap Doyoung yang tengah mengecek ponsel genggamnya, sesekali ia tertawa sambil memainkan ponselnya.

Jaehyun kagum dengan usaha Doyoung, wanita itu menyerahkan segalanya hanya untuk mendapatkan dirinya walaupun sejujurnya Jaehyun tidak yakin apakah ia benar-benar menyukai Doyoung atau hanya menganggap wanita ini sebagai pelariannya saja dari sang mantan kekasih.

Jika di ingat-ingat Doyoung mengejarnya dari saat dia masih bersama si sialan yang meninggalkannya untuk pria lain, bahkan ketika Jaehyun terpuruk sekalipun ia tetap bertahan di sampingnya walaupun Jaehyun berkali-kali mematahkan hatinya.

Tangan Jaehyun bergerak menyentuh pipi Doyoung lalu mengusap mata bengkak milik sang kekasih, ia rasa tidak ada salahnya untuk mulai membuka hati pada Doyoung toh kekasihnya ini sudah memberikan apa saja yang Jaehyun mau.

Sedangkan Doyoung yang terkejut karna tingkah Jaehyun yang tiba-tiba kepadanya hingga ia menghentikan aktifitasnya bermain ponsel, bertanya gagu pada Jaehyun yang menatap intens padanya, "ada apa jae?"

"Matamu bengkak? Apa kau menangis?" Tanya Jaehyun lembut, selama berpacaran mungkin ini adalah pertama kalinya Jaehyun menanyakan keadaan Doyoung ataupun perhatian padanya.

Doyoung tertegun diam, apa ia tidak salah dengar?

"Apa karena kencan tadi?" Jaehyun bertanya lagi.

Doyoung masih diam tidak menjawab, tapi ia mengigit bibirnya menahan tangis.

Bingo! Tebakan Jaehyun benar, Doyoung selalu menggigit bibirnya ketika ia tidak bisa menjawab suatu pertanyaan.

Jaehyun menarik Doyoung untuk berbaring di sampingnya, ia memeluk pinggang Jaehyun.

Mata tajamnya menelusuri wajah mungil nan cantik milik Doyoung, belum lagi tanda kemerahan yang tersebar luas di leher dan dadanya.

Jaehyun menatap takjub pada hasil karyanya.

"Aku minta maaf," ucap Jaehyun pelan memecah keheningan.

Doyoung menggeleng kecil, "tidak apa jae, aku tahu pekerjaanmu lebih penting, aku saja yang terlalu kekanak-kanakan dan menangis seperti remaja labil,"

Doyoung khawatir, apa Jaehyun akan memutuskannya? Kenapa ia tiba-tiba meminta maaf seperti ini.

"Sungguh Jaehyun aku tidak apa-apa, jika kau ingin marah katakan saja," panik Doyoung, ia lebih suka Jaehyun memarahinya ketimbang bersikap baik, karena aneh rasanya jika Jaehyun bersikap baik seperti ini.

Jaehyun menatap Doyoung bingung, ia lalu mengelus pipi Doyoung perlahan "tidak doy, aku salah maka dari itu bagaimana jika kencannya ku ganti dengan mengundangmu ke rumahku ketika orang tua ku datang nanti-"

"Sekalian memperkenalkanmu bagaimana?"

Doyoung membelakkan matanya kaget, "kau serius?" tanya Doyoung meyakinkan.

"Apa aku tampak bercanda di matamu?" Balas Jaehyun malas.

"Tentu saja aku mau Jaehyun," Doyoung menjawab penuh antusias lalu memeluk Jaehyun.

Apakah ini berarti bahwa Jaehyun ingin mengajaknya serius? Doyoung tidak bisa berhenti tersenyum, sungguh jika ini mimpi Doyoung tidak ingin bangun darinya.

...

Semenjak malam itu Jaehyun berubah 180 derajat, ia mulai bersikap baik pada Doyoung, tidak ada lagi Jaehyun yang acuh ataupun yang dingin padanya walaupun tidak sepenuhnya berubah tapi setidaknya Jaehyun mulai menerima Doyoung.

Mereka mulai menjalin hubungan layaknya pasangan kekasih pada umumnya, membeli barang couple, memiliki foto berdua, menginap di rumah satu sama lain walaupun Jaehyun lebih sering menginap di apartemen Doyoung, lagipula hubungan mereka di mulai dari hal ini.

Jika Doyoung hing, ia menghabiskan 4 tahun waktu bersama Jaehyun, 2 tahun menjadi teman pria itu, 1 tahun Doyoung mengejarnya dan sebentar lagi mereka akan merayakan hari jadi pertama mereka.

Doyoung tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Jaehyun akan berjalan lancar seperti ini, mengingat Doyoung menawarkan dirinya cuma-cuma pada Jaehyun ketika pria itu di tinggal sang pujaan hati.

Tapi sekarang! Lihatlah, pria itu tidak lagi memandangnya sebagai pelarian saja.

Doyoung rasa usahanya benar-benar terbalas belum lagi kabar bahagia yang tengah ia dengar saat ini.

"Kau tahu kau harus menjaga kandunganmu, ia baru berusia 3 minggu," Doyoung mengangguk antusias mendengar kabar bahagia yang di sampaikan dokter muda di depannya ini.

"Kau harus ekstra hati-hati di usianya yang masih baru ini, rentan untuk terjadinya keguguran tapi dari yang kulihat kandunganmu sehat jadi kemungkinanya terjadi sangat kecil tapi bukan berati tidak akan terjadi, dan dimana suamimu, kau bukan pasien di bawah umur yang hamil di luar pernikahan bukan?" Tambahnya lagi, pria dengan name tag Moon Taeil itu terus-menerus menceramahi Doyoung mengenai kehamilannya.

Doyoung sendiri tidak menyangkan bahwa akhirnya ia akan memiliki seorang keluarga yang sedarah dengannya setelah kematian ibunya.

Apalagi nanti Jaehyun akan mengajaknya bertemu orang tuanya meskipun ia tidak tahu kapan tapi setidaknya Jaehyun sudah berjanji dan pria itu bukanlah Jaehyun yang pengingkar seperti dulu lagi.

Doyoung hanya berharap mereka akan menyukai dirinya dan Jaehyun akan senang dengan kabar gembira miliknya.

"Terima kasih dokter moon, aku mengerti, suamiku sedang bekerja dan aku ingin memberikannya kejutan dengan kabar kehamilan ini," bohong Doyoung yang tidak seratus persen berbohong karena Jaehyun memang sedang bekerja di kantornya, hanya saja ia dan Jaehyun belum menikah.

"Baiklah kalau begitu, tapi akan lebih baiknya jika suamimu mengetahuinya lebih awal, menghindari sesuatu yamg buruk itu lebih baik bukan daripada mengobatinya?"

"Iya, sekali lagi terima kasih dokter Moon," ucap Doyoung penuh bahagia.

Ia lalu menunduk sembari mengundurkan diri dari ruangan dokter kandungan tersebut.

Walaupun pria tapi dokter itu cerewet seperti ibunya.

Doyoung menatap buku kecil di tangannya. Buku ini adalah buku catatan kehamilannya, ia tidak sabar untuk mengisinya di setiap bulan yang akan datang.

Wanita itu terlalu sibuk dengan dunianya yang penuh bunga, mengabaikan sesosok pria jangkung dengan rambut cokelat keemasannya, bibir seksi dan hidung mancungnya menambah poin yang menandakan betapa tampannya pria itu.

"Hei kelinci," sapanya ramah, Doyoung yang tergelak kaget ingin memukul orang yang sudah dengan tidak sopannya memanggilnya kelinci.

Hanya satu orang yang Doyoung izinkan untuk memanggilnya seperti itu, tapi orang itu tengah pergi berlibur ke chicago dan Doyoung tidak tahu kapan ia akan kembali.

"Yak! Dasar tidak so-,"

"Johnny?" Kaget Doyoung, ia langsung memeluk pria itu, tapi bagaimana mungkin? Bukankah Johnny sedang di luar negeri lalu apa yang ia lakukan di rumah sakit ?

"Kau sedang apa? Apa kau sakit? Pulang dari berlibur kau hanya membawa penyakit kesini, begitu?" Judes Doyoung.

"Eits, aku asal kau tahu aku ini ingin menemuin teman baikku yang ruangannya baru saja kau masuki tadi," cetus Johnny

"Ohhhh, eh? Apa? Dokter Moon temanmu?" Tanya Doyoung panik.

"Tentu saja," bangga Johnny, ia lalu kembali menanyai Doyoung dengan sedikit menggantungkan perkataannya, "Apa yang kau lakukan dari ruangannya? Jangan bilang kau-,"

"Kau kenal darimana?" Doyoung memotong ucapan Johnny, berniat mengalihkan pembicaraan pria jangkung satu ini.

"Ceritanya panjang dan kau tidak perlu tahu, sekarang beri tahu aku apa yang kau lakukan dari ruangannya atau aku akan bertanya langsung pada Taeil hyung,"

"Yyak Johnny suh! Kau tidak perlu tahu dasar menyebalkan," kesal Doyoung, Johnny memang baik tapi pria itu suka melewati batasnya.

"Ada apa ini? Kenapa kau bertengkar di sini Nyonya Kim dan Kau-,"

"Johnny? Jadi kau suaminya nyonya Kim?" Tanya Taeil kaget, Johnny yang di tanya sama kagetnya tapi ia tidak juga menyangkal toh Johnny memang menyukai Doyoung.

"Tidak dokter Moon, pria bodoh ini adalah temanku dan sayangnya kau juga berteman dengannya," rutuk Doyoung.

"Lalu apa salahnya jika aku berteman dengan Taeil hyung," tanya Johnny tidak suka.

"Sudah-sudah, ini rumah sakit kalian tidak boleh membuat keributan disini," tegur Taeil.

"Bagaimana jika kita berbicara di dalam ruanganku saja?" dokter muda itu menawarkan.

"Tidak aku ingin pulang saja," tolak Doyoung.

"Baiklah kalau begitu berhati-hatilah nyonya Kim, datang lagi bulan depan untuk mengecek kandunganmu," Taeil mengingatkan Doyoung yang beranjak dari tempatnya meninggalakan Johnny yang tercengang sembari mengumpati dokter Moon yang tidak bisa di ajak bekerja sama itu.

"Kandungan? Siapa yang hamil hyung? Doyoung hamil?"tanya Johnny syok.

"Ya, memangnya kena-,"

"Kalau begitu nanti saja kita bicara lagi hyung, aku pergi," pamit Johnny berlari di lorong rumah sakit mengejar Doyoung.

Taeil yang kesal di tinggal pun meneriaki Johnny, ", hei Johnny shit! Jangan berlari di lorong rumah sakit!!"

"Dokter Moon ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu? Apa sesuatu terjadi?" Tanya sesosok wanita dengan balutan seragam perawatnya.

"Ya, aku baru saja melihat orang bodoh dengan tubuh jolornya berlalri di lorong rumah sakit," rutuk Taeil

"Dan kau tahu kan dokter Moon jika berteriak di rumah sakit itu juga di larang?" Kata Jungwoo mengingatkan

"Eoh? Kau benar, ngomong-ngomong kau mau kemana?" Tanya Taeil kepo.

"Aku akan beristirahat, bagaimana jika makan siang bersamaku?" Tawar Jungwoo dan Taeil mengiyakan dengan penuh semangat, daripada ia lelah memikirkan apa hubungan Johnny dan pasiennya tadi lebih baik ia mengisi perutnya dulu pikir Taeil.

Sementara Johnny berlarian mengejar Doyoung sembari meneriaki nama wanita itu tanpa mendengarkan teguran para perawat yang mengingatkannya.

"Doyoung, Hey Kim Doyoung! Tunggu aku," panggil Johnny sembari menarik tangan Doyoung yang hendak keluar dari rumah sakit.

"Apa lagi John, aku lelah, ingin pulang dan beristirahat," Ketus Doyoung, Mood penuh kebahagiaannya hancur karna ulah menyebalkan Johnny.

Pulang dari negara asing Johnny tampak semakin tidak sopan.

"Biar kuantar, kau harus ceritakan semuanya padaku," Ultimatum Johnny yang tak bisa Doyoung interupsi, beberapa bulan menghilang sepertinya ia ketinggalan banyak berita.

.

Doyoung duduk dengan tenang di dalam mobil Johnny, walaupun bersikap menyebalkan Johnny selalu bisa membuat Doyoung untuk tidak marah dengannya, apalagi dengan sogokan makanan kesukaannya.

"Jadi? Apakah itu bayinya Jaehyun?" Tanya Johnny membuka pembicaraan tanpa basa basi sedikitpun, terkadang Doyoung tidak habis pikir bagaimana pria-pria di sekelilingnya itu memiliki mulut yang sama pedasnya seperti wanita.

"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang tidur denganku selain Jaehyun, bodoh sekali pertanyaanmu?"

"Aku tahu itu hanya saja-" Johnny diam menggantungkan perkataannya membuat Doyoung penasaran dibuatnya.

"Apa John? Cepat katakan," titah Doyoung sembari menatap Johnny kesal.

"Kau yakin ia akan bertanggung jawab?" Tanya Johnny penuh keraguan.

"Yyak! Seo Youngho, berhenti menjelekkan kekasihku,"

"Asal kau tahu Jaehyun itu sudah berubah, ia tidak seperti dulu lagi, sekarang Jaehyun sudah membalas perasaanku, bahkan ia akan mengajakku menemui orang tuanya,"

Bela Doyoung, dari dulu Johnny sangat tidak suka dengan Jaehyun, sifatnya yang angkuh dan egois, belum lagi pria itu sangat sering menyakiti Doyoung.

Johnny menghentikan mobilnya di bahu jalan, menatap Doyoung serius

"Kau tahu, aku hanya tidak ingin kau menangis lagi karena pria bodoh itu, masih banyak pria lain yang lebih menghargaimu dan mencintaimu,"

'salah satunya aku' batin Johnny

Doyoung terharu mendengar penuturan Johnny, ia melempar senyum manisnya pada Johnny, "Terima kasih Johnny, aku tahu kau khawatir tapi percayalah Jaehyun sudah berubah," ucap Doyoung sembari mengenggam tangan Johnny meyakinkan.

Johnny menghela nafas pasrah, Doyoung adalah orang dengan sifat yang lebih keras daripada batu, sekeras metal mungkin?

"Baiklah-baiklah, jika ia menyakitimu katakan padaku, kau tahukan di mana kau harud mengadu, mengerti?" Perintah Johnny dan Doyoung tertawa gemas.

"Siap bos, kau memang sahabat terbaikku," puji Doyoung.

Johnny tersenyum kecut, sahabat yah? Johnny sudah bosan dengan zona pertemanan ini tapi ia juga tidak ingin Doyoung menjauh jika ia tahu tentang perasaannya.

"Jadi? Apa kau ingin makan dulu atau langsung pulang," tawar Johnny, Doyoung diam berpikir sebelum menjawab, "Pulang saja John, aku lelah,"

"Baiklah, tujuan selanjutnya, Apartemen Putri Doyoung". Ucap Johnny merayu dan Doyoung hanya memukul bahu Johnny pelan.

Sepanjang perjalan Johnny menceritakan aktifitasnya selama liburan sembari sesekali melontarkan candaan-candaan tidak jelasnya sementara Doyoung dengan senang hati mendengarkan celotehan yang lucu tapi tidak berbobot milik Johnny.

"Jja! masuklah," ucap Johnny memerintah.

"Kau tidak ingin mampir dulu?" Tawar Doyoung, biasanya Johnny akan singgah di apartemennya terlebih dahulu entah itu sekedar minum atau makan sekalipun.

"Tidak, aku masih ada janji dengan Taeil hyung," jelas Johnny.

"Ah baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan," ucap Doyoung dengan senyum manisnya, tangannya melambai ke arah mobil Johnny sebelum ia berteriak," dan titipkan salamku pada Dokter Moon katakan sampai jumpa bulan depan," teriak Doyoung dan Johnny hanya terkekeh mendengarnya.

Doyoung menatap mobil Johnny yang mulai menjauh dari jangkauan matanya. Wanita cantik itu berjalan masuk kedalam gedung apartemennya, menyapa sang petugas keamanan bermarga Yoon yang sedang mendapatkan jatah jaga malam.

Ia lalu membawa masuk tubuhnya yang tampak lebih berisi kedalam lift, memencet tombol angka 7 dimana apartemennya berada.

Jam di tangannya menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 5 sore, Doyoung menerka-nerka apakah Jaehyun akan mampir hari ini atau tidak.

Ah ngomong-ngomong tentang Jaehyun, Doyoung tidak sabar bertemu dengannya, ia tidak sabar untuk memberi tahukan kabar gembira ini.

...

Hari ini Doyoung berencana untuk main ke kantor Jaehyun sekaligus memberi kejutan tentang kehamilannya, hampir satu minggu Jaehyun tidak menemuinya, terakhir mereka bertemu ketika Jaehyun menginap di tempatnya setelah mereka pergi kencan untuk menonton dan sesudahnya mereka hanya bercinta hingga Doyoung sendiri lupa untuk memberi tahu Jaehyun bahwa ia tengah hamil muda.

Dan akhir-akhir ini Jaehyun terlihat sangat-sangat sibuk dari biasanya, pria itu bahkan hanya membalas pesannya dalam hitungan jari saja dan menelfonnya jika ingat, belum lagi Jaehyun semakin jarang mengunjunginya, Doyoung tahu, perusahaan milik ayahnya sedang berkembang sementara Jaehyun akan mengambil alih perusahaan itu, jadi Doyoung memakluminya.

Sesekali Doyoung mengelus perut ratanya, sembari melontarkan sepatah - dua kata betapa ia merindukan ayah dari si jabang bayi yang kini usianya memasuki bulan kedua.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, tidak menyangka bahwa tubuhnya kini membawa nyawa lain di dalamnya.

"Ayo eomma, kau sudah sangat cantik, mari kita pergi menemui appa," ucap Doyoung sambil terkekeh dengan menirukan suara anak-anak.

Wanita cantik itu pergi dengan membawa bekal makan siang yang sudah ia siapkan khusus untuk sang kekasih.

Doyoung duduk manis di dalam bus, bibir tipisnya tidak berhenti mengulas senyuman indah, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jaehyun.

.

Sementara itu Jaehyun tengah berkutat dengan tumpukkan kertas miliknya, kepalanya berdenyut nyeri ia kurang tidur selama 2 hari di tambah ia tidak makan dengan teratur.

Rasanya ia ingin mati saja, belum lagi ia sedikit merindukan Doyoung, setidaknya semenjak bersama Doyoung, Jaehyun hidup teratur dengan dengan berbagai macam celoteh berisik sang kekasih walaupun Jaehyun masih ragu tentang perasaannya pada Doyoung.

Lamunan Jaehyun buyar ketika telfon kantornya berbunyi, Jaehyun memencet tombolnya malas.

"Hyung, ada seorang wanita cantik ingin menemuimu se–,"

"Hey lucas, kau tahu aku sedang sibuk, jika itu bukan Doyoung maka tolak saja katakan aku sedang ada rapat penting jadi–,"

Jaehyun yang tengah merutuki asistennya Lucas melalui telfon itu terpotong ketika sesosok wanita dengan tubuh mungilnya berdiri di dalam ruangan Jaehyun setelah membuka pintunya secara paksa, Jaehyun yang tadinya ingin memarahi orang tidak sopan itu berhenti ketika ia mendapati siapa pelakunya.

"Jadi kau tidak ingin bertemu denganku lagi?" Tanya wanita itu sedih.

Nafas Jaehyun tercekat, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pesona wanita itu sama seperti Jaehyun bersamanya dulu.

Dan tanpa aba-aba Jaehyun berjalan dengan sedikit berlari sebelum membawa wanita itu kedalam pelukkannya.

Jaehyun tidak bisa bohong, ia sangat merindukan wanita ini, "Taeyong nuna kau kembali," cecar Jaehyun pada wanita yang di panggilnya Taeyong itu.

Jaehyun lalu menatap wajah Taeyong yang tampak kurus dan lusuh itu, Jaehyun yakin pasti sesuatu telah terjadi pada mantan wanitanya ini.

"Ada apa denganmu? Kau terlihat sangat jelek," ejek Jaehyun.

"Yyak! Kau jahat," marah Taeyong, wanita bertubuh mungil itu memukul bahu tegap milik Jaehyun yang tidak memberikan efek sakit sedikitpun.

"Haha, aku bercanda, katakan padaku apa yang terjadi kau tampak sedih, apa si brengsek itu melukaimu?" Jaehyun bertanya pada Taeyong dengan penuh perhatian.

"Aku baik, Jaehyun," ucap Taeyong berusaha tegar sementara Jaehyun, pria itu tahu selalu tahu kapan Taeyong sedang menyembunyikan sesuatu.

"Jujurlah padaku, aku tahu kau sedang berbohong," Jaehyun menarik Taeyong untuk menatapnya.

Tangis Taeyong pecah ketika ia mulai mengucapkan nama pria lain yang Jaehyun sangat tidak suka, "Yuta hiks~ aku dan Yuta bertengkar,lalu ia pergi dan membawa bayiku," adu Taeyong yang membuat Jaehyun terpaku ketika mendengar kata bayi yang di ucapkan oleh Taeyong barusan.

Wah Jaehyun merasa takjub seketika, Taeyong bahkan sudah memiliki bayi dengan pria lain tapi ia masih bisa menerima wanita itu kedalam pelukan hangatnya.

"Lalu ?" Tanya Jaehyun sembari meredam amarahnya, selama ia memacari Taeyong, tidak pernah sekalipun Jaehyun membuatnya menangis tapi si brengsek Yuta dengan mudahnya membuat Taeyong menangis seperti ini.

"Aku–," perkataan Taeyong terpotong ketika pintu ruangan Jaehyun sekali lagi terbuka hanya saja kali ini diiringi dengan bunyi benda yang jatuh.

Doyoung menjatuhkan bekal makan siang yang sudah ia siapkan untuk Jaehyun, begitu ia melihat Jaehyun tengah memeluk Taeyong "Jaehyunn, aku membawakan makan siang untuk–," perkataan Doyoung terhenti, ia menggigit bibirnya sekencang mungkin menahan tangis sebelum melanjutkan perkataannya, "–mu, maaf sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat," kikuk Doyoung.

Wanita bersurai gelap itu berjalan mundur dengan menundukkan wajahnya, menahan agar dirinya tidak menangis di depan Jaehyun.

Sementara Jaehyun hanya diam saja seakan tidak ada niat untuk melepas pelukkannya pada Taeyong jika wanita itu tidak menjauhkan dirinya dari Jaehyun.

"Kalau begitu aku pulang dulu," ucap Doyoung dengan nada suaranya yang bergetar.

"Tidak Doyoung, kau salah paham," Taeyong hendak menarik tangan Doyoung sebelum wanita itu menarik tubuhnya menjauh dari Jaehyun dan Taeyong.

"Tidak, tidak, aku tahu kalian pasti ingin membicarakan sesuatu, aku saja yang mengganggu".

"Maaf sudah membuat kekacauan di kantormu, biar ku panggilkan Lucas untuk membersihkan ini," ucap Doyoung sebelum berpamitan pada Jaehyun, "Aku pulang Jae".

Doyoung berlalu sementara Lucas sudah berdiri di belakangnya dengan wajahnya yang pucat pasi, Lucas bisa melihat Doyoung menangis ketika berbalik badan dan sekarang di depannya, Jaehyun menatap Lucas dengan wajah seramnya.

"Jaehyun, sebaiknya kau pergi menyusul Doyoung, aku bisa menemuimu di lain waktu, terima kasih karna kau masih mau menemuiku," ucap Taeyong lirih, ia mengecup pipi Jaehyun sekilas, sekarang Taeyong merasa sangat bersalah dan tidak enak hati pada Jaehyun, terutama pada Doyoung.

Jaehyun menahan Taeyong sebelum kembali memeluknya lagi, seakan-akan Jaehyun tidak rela untuk melepas wanita itu dari pelukkannya.

"Berhati-hatilah, apa perlu kuantar?" Tawar Jaehyun, Taeyong menggeleng pelan.

"Tidak perlu, setelah ini aku akan pergi ketempat temanku, sebaiknya kau segera temui Doyoung dan meminta maaf padanya," ucap Taeyong sembari pergi dengan canggung.

Begitu Taeyong pergi Jaehyun langsung menatap Lucas dingin hingga pria berdarah cina itu bergidik ngeri.

'Tamatlah riwayatmu Lucas' tangisnya dalam hati.

"Sebaiknya kau segera membersihkan kekacauan ini dan urus semua pekerjaanku jika kau masih ingin bekerja disini," ketus Jaehyun, sementara Lucas hanya mengangguk ketakutan, lidahnya kaku untuk menjawab perintah Jaehyun.

Jaehyun menarik jasnya lalu pergi meninggalkan Lucas, sekarang ia harus pergi ketempat Doyoung bagaimanapun juga.

...

Doyoung menarik kakinya yang terasa lembek seperti Jelly, ia berjalan malas menuju pintu apartemennya yang kini berbunyi dengan tidak sabaran.

Ia tahu itu pasti Jaehyun, Doyoung tidak ingin melihat wajah pria itu tapi ia juga merindukannya.

Doyoung takut ia akan menangis kembali jika bertemu Jaehyun tapi Doyoung juga menginginkan Jaehyun disisinya.

Dan pada akhirnya Doyoung lagi-lagi kalah oleh perasaannya pada Jaehyun, ia membuka pintu apartemennya sembari memaksakan diri untuk tersenyum.

"Jaehyun kau datang, ayo masuk," ajak Doyoung pada Jaehyun dengan wajah yag di paksa untuk ceria.

Pria itu mengikuti Doyoung masuk kedalam apartemennya,

"Apa urusanmu dengan TAEYONG sudah selesai," tanya Doyoung dengan penuh penekanan pada nama Taeyong.

Jaehyun tidak suka mendengarnya ketika Doyoung menyebut nama Taeyong seolah-olah kekasihnya itu tengah mengejek wanita itu.

"Jangan menyebut namanya seperti itu," tegur Jaehyun, Doyoung tertawa kecil mendengar teguran sang kekasih.

"Baiklah, aku minta maaf," ucap Doyoung, ia lalu melanjutkan ucapannya, "Jika kau masih ada urusan dengan Taeyong tidak apa-apa selesaikan saja dulu, kau bisa menemuiku setelahnya seperti biasa," menyindir.

"Hentikan omonganmu, kau tahu bukan, jika kau yang salah di sini," ketus Jaehyun, Pria itu bahkan meremat pinggul Doyoung yang kini berada dalam pelukannya hingga wanita itu merintih kesakitan.

"Jaehyun hentikan,kau menyakitiku hiks," Doyoung berusaha melepas pegangan Jaehyun dari tubuhnya, bahkan tangisan yang dari tadi ia tahan pecah begitu saja.

"Tidak! Sekarang jawab aku, apa kau tahu apa salahmu?" Tanya Jaehyun, bahkan pria itu tidak lagi meremat pinggang Doyoung, tangannya melingkar di pinggang Doyoung, merangkap Doyoung di dalam pelukannya.

"Katakan apa salahku Jaehyun? Aku hanya pergi menemui kekasihku apakah itu salah hiks," Doyoung membentak Jaehyun, meronta begitu di rasa pelukan Jaehyun menyakiti bagian perutnya, ia khawatir akan keadaan bayi di dalam perutnya.

"Tidak bukan itu masalahnya bodoh, setidaknya bisakah kau mengabariku terlebih dulu?" Balas Jaehyun membentak. Pria itu mendorong Doyoung hingga terjatuh di atas sofa.

Beruntung sofa itu empuk Doyoung tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia jatuh di lantai ataupun menabrak meja.

"Tapi kenapa? Apa agar kau bisa dengan leluasa bertemu mantan kekasih MURAHANmu itu tanpa ketahuan bukan?" Doyoung berteriak emosi dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia berdiri hendak pergi menjauh dari Jaehyun tapi pria itu lagi-lagi memeluknya dengan memaksa dan membentak Doyoung untuk menutup mulutnya.

Tapi bukan itu masalahnya, Jaehyun dengan entengnya menampar Doyoung, hingga bibir wanita itu sobek dan mengelurakan darah segar di ujungnya.

Doyoung terdiam kaku, tangisannya semakin deras, tapi ia tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun, ia menatap Jaehyun penuh ketakutan.

Tidak ada hujan ataupun petir, suasana di siang itu benar-benar cerah, tapi Jaehyun terhentak ketika merasakan perih di tangannya.

"Ma-maafkan aku Doie, aku tidak bermaksud menamparmu," Jaehyun langsung mengusap bibir Doyoung yang berdarah.

Wanita bersurai gelap itu menggelengkan kepalanya menghindari sentuhan Jaehyun, takut.

Jaehyun menangkup kedua pipi Doyoung, ia lalu mencium Doyoung perlahan.

Bibir tebal Jaehyun menghisap bibir bawah Doyoung lembut, ia merindukan kekasihnya ini, ia lelah dan Doyoung hanya marah-marah karena salah paham, Jaehyun tidak bermaksud untuk menampar Doyoung hanya saja tangannya refleks begitu ia mendengar Doyoung menyebut Taeyong sebagai wanita murahan.

Sedangkan Doyoung hanya diam, ada rasa asin akibat air matanya dan bau amis dari darah di bibirnya dalam ciumannya, Doyoung pasrah dengan sikap Jaehyun, ia terlalu takut jika pria itu menamparnya lagi seperti tadi.

Jaehyun terhanyut dalam ciumannya yang terasa asin dan anyir, ia menarik Doyoung kedalam kamar milik wanita itu, menidurkan Doyoung di atas kasurnya.

Pria itu menatap Doyoung yang masih menangis dengan rasa penuh bersalah, Jaehyun kembali mencium bibir Doyoung tapi kali ini ciumannya penuh akan sarat dan nafsu.

Sedangkan Doyoung mencoba mendorong Jaehyun ketika tangan pria itu menjalar masuk kedalam bajunya dan meraba bongkahan payudara Doyoung.

Tapi Jaehyun mengabaikannya, hingga ponselnya yang berbunyi menyadarkan Jaehyun dari perbuatannya.

Jaehyun menatap ponselnya yang menampilkan nama Taeyong, ia menatap Doyoung sejenak hendak menjawab panggilan tersebut sebelum Doyoung membuka suara yang benar-benar memancing amarahnya.

"Angkat saja Jaehyun, bukankah itu dari wanitamu," sindir Doyoung, yang di sindir hanya diam tidak menjawab, meninggalkan keheningan diantara dirinya dan Jaehyun.

Hingga ponsel Jaehyun berdering kembali, "ada apa kenapa kau tidak men–,"

Brakk!

Ucapan Doyoung terputus ketika Jaehyun melempar ponsel mahal miliknya sekuat tenaga hingga membentur dinding dan hancur mengenaskan.

"Apa kau puas sekarang?" Tanya Jaehyun.

"Tentu saja," Jawab Doyoung menantang.

"Kalau begitu kau sebaiknya tidak menangis dan menyesali perbuatanmu setelah ini," ucap Jaehyun dingin lalu merobek baju yang Doyoung kenakan.

Pria itu mencium Doyoung penuh paksa, ia juga melucuti celana pendek beserta dalaman yang Doyoung pakai menyisakan bra yang kini tidak lagi berada di tempat yang seharusnya akibat Jaehyun meremas payudaranya hingga Doyoung meringis kesakitan.

Doyoung memukul bahu Jaehyun, ia juga menjambak rambut pria itu agar berhenti, usaha Doyoung tidak sia-sia pria itu berhenti menciuminya, tapi bukan karena Jaehyun merasa kasihan atau ingin mengehntikan aktifitasnya, karena nyatanya Jaehyun kini mengikat kedua tangan Doyoung ke atas kepala menggunakan dasi yang entah kapan di lepas oleh Jaehyun.

"Jae–Jae kumohon maafkan aku, aku tidak seharusnya cemburu seperti tadi," mohon Doyoung pada Jaehyun yang kini menanggali kemeja dan mulai melepas gesper ikat pinggangnya.

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menyesali perbuatanmu," jawab Jaehyun datar, tangannya bergerak memainkan kejantanannya yang kini berdiri tegang, ia lalu mulai menggesekkan kejantanan miliknya pada kewanitaan Doyoung.

"Jae kumohonmmpph," Jaehyun membekap mulut Doyoung, ia sedikit meludahi miliknya agar mempermudah dirinya memasuki kewanitaan Doyoung.

Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya saat batang kemaluan milik pria itu perlahan memasukinya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.

Jaehyun menggeram ketika miliknya masuk seutuhnya kedalam Doyoung, pria itu menyeringai puas.

Sementara Doyoung, tangannya diikat dan mulutnya di bungkam oleh tangan Jaehyun tapi ia tidak berhenti menangis, Doyoung tidak menginginkan ini, bukankah ini sama saja dengan Jaehyun memperkosanya.

Pinggul Jaehyun bergerak dengan liarnya, dengan miliknya yang terus-menerus menghentak kedalam rahim Doyoung.

Tidak ada suara desahan hanya decitan ranjang dan kecapan antar kelamin yang terdengar di dalam ruangan itu, di selingi dengan Jaehyun yang sesekali menggeram nikmat.

Sedangkan Doyoung, wanita itu merasa pusing, sensasi perih dan nikmat bercampur hingga Doyoung tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasa.

Jaehyun tampak tidak memperdulikan Doyoung, pria itu sibuk mencari kenikmatannya sendiri membiarkan Doyoung yang kini merasa tubuhnya melemas karena lelah setelah melakukan perlawanan yang sia-sia.

Doyoung sudah tidak sanggup lagi untuk mempertahankan kesadarannya, Doyoung hanya berharap bahwa bayinya akan baik-baik saja setelah ini. Iya ia harap.

...

Wanita berambut hitam kelam itu terbangun ketika hawa dingin yang sangat menusuk menerpa tubuh telanjangnya.

Selimut yang ia gunakan tidak memiliki keampuhan untuk melindunginya dari udara sejuk itu.

Ia mengerjapkan matanya, mengumpulkan kembali kesadarannya.

Seluruh tubuhnya terasa remuk, dan jangan tanyakan betapa perihnya area kewanitaannya.

Tapi semua itu tidak ada bandingannya dengan sakitnya ketika ia sadar bahwa kekasihnya, Jaehyun sudah tidak ada di sampingnya.

Doyoung tertawa miris, Jaehyun pergi setelah menidurinya, persis seperti pertama kali Doyoung memberikan segalanya pada Jaehyun ketika pria itu baru saja di tinggal oleh Taeyong.

"Hiks... Hikss," Doyoung menangis, tangan ringkihnya berusaha meraih ponselnya yang berada di dalam laci meja yang terletak di sebelah ranjangnya.

Perutnya sakit, Doyoung khawatir jika sesuatu terjadi pada bayinya.

Ia menelfon satu-satunya orang yang bisa Doyoung harapkan saat ini walaupun Doyoung yakin setelah ini pria itu mungkin akan memarahinya habis-habisan.

Ketika nada sambung berganti menjadi jawaban 'halo' dari lawan bicara Doyoung di seberang sana, Doyoung menarik nafasnya dalam-dalam sebelum berbicara.

"Ha-halo Johnny," jawab Doyoung tergagap sesekali wanita itu sesegukan. Johnny menautkan alisnya bingung, Doyoung menelfonya pukul 9 malam, dengan suara bergetar dan sesegukan, Johnny yakin sesuatu telah terjadi pada Doyoung.

"Kau tidak perlu mengatakan ada apa, diam dan tunggulah, aku akan menemuimu sekarang juga, bye!" ucap Johnny memerintah dalam satu tarikan nafas.

Dan sambungan telfon tersebut terputus begitu saja, Doyoung hanya membekap mulutnya, ia tidak bisa menghentikan tangisnya, perutnya terasa sangat sakit dan ngilu.

Doyoung benar-benar takut jika hal buruk terjadi pada bayinya. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk berdiri dan setidaknya ia harus mandi karena bau sprema benar-benar menguar dari tubuhnya, mengabaikan sekujur tubuhnya yang sakit, ia yakin Johnny akan tiba dengan cepat karena pria itu selalu bisa Doyoung andalkan.

.

Dan benar saja hanya butuh 20 menit bagi Johnny untuk tiba di apartemen Doyoung, pria itu membunyikan bel secara membabi buta, dan ketika Doyoung membuka pintu ia mendapati Johnny dengan wajah yang panik setengah mati, Doyoung tersenyum melihatnya.

"Katakan padaku apa yang terjadi padamu sekarang juga," Johnny memerintah Doyoung untuk bercerita.

Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya, ia mendorong Johnny lalu mengunci pintu apartemennya.

"Aku akan cerita padamu tapi nanti, karena sekarang aku benar-benar butuh untuk menemui dokter Moon sekarang juga," jelas Doyoung, Johnny hanya diam hingga akhirnya menuruti permintaan Doyoung.

"Tapi berjanjilah kau akan menceritakan segalanya padaku," ucapnya yang tiba-ttiba berhenti di depan Doyoung membuat wanita cantik itu menabrak tubuh jolor miliknya.

"Iya john aku janji". Ujar Doyoung memutus pembicaraan karena saat ini yang terpenting baginya adalah menemui dokter Moon.

.

"Kau baik Nyonya Kim, hanya rahimmu saja yang syok karena seks kasar dan tanpa penetrasi yang kau lakukan, kau-," perkataan Taeil di potong oleh Johnny dengan suara beratnya yang terdengar memekikkan telinga, "Kau apa?".

"Oh astaga Johnny sialan, diamlah," bentak Taeil, ia sungguh kehilangan wibawanya ketika Johnny berada di sekitarnya.

"Kau beruntung memiliki tubuh sehat hingga rahimmu kuat, kau tahu bukan di tri semester awal kehamilan itu rentan untukmu mengalami keguguran, kau boleh saja berhubungan badan tapi tolong kondisikan janinmu, kau mungkin saja mengalami keguguran?" Tegur Taeil mengingatkan, Doyoung hanya mengangguk lemah setelah memposisikan dirinya dari berbaring di atas ranjang di ruangan praktek dokter Moon.

"Dan kau Johnny brengsek, tahan hormonmu, apa kau tidak kasihan dengan kekasihmu, usia kandungannya baru meranjak dua bulan dan kau main tanpa menahan nafsu," judes Taeil pada Johnny yang terbengong di buatnya.

"Ta-tapi aku tidak-," pembelaan Johnny di hentikan oleh Taeil yang sudah duluan memukul perutnya dengan keras, "berhentilah beralasan, aku tahu kau baru punya pacar tapi tidak begini cara mainnya bodoh," marah Taeil yang kini hendak memukul Johnny lagi tapi Doyoung menahannya.

"Dokter Moon, Johnny bukan kekasihku, ia hanya datang dan membantuku karena ia satu-satunya orang dekatku yang kenal denganmu," ucap Doyoung membela Johnny.

"Eoh lalu di-," dan lagi Johnny memotong pembicaraan Taeil begitu saja.

"Di mana si brengsek Jaehyun itu?" Tanya Johnny penuh amarah setelah menginterupsi perkataan Taeil, sementara Taeil berdiri di belakangnya berapi-api, tanganya terngkat menjambak rambut Johnny lalu menarik mundur pria jolor tidak tahu diri satu ini.

"Sebaiknya kau diam dan tutup mulutmu John, dia ini pasienku dan biar aku saja yang menanyainya," perkataan Taeil cukup untuk membuat Johnny duduk manis dan diam di samping Doyoung, wanita cantik itu tertawa geli, ia tidak pernah melihat Johnny bertingkah seperti ini.

"Baiklah Nona Kim, aku memanggilmu Nona kadena kupikir itu lebih pantas untukmu mengingat kau berbohong mengenai statusmu," Doyoung meringis tidak enak pada Taeil.

"Ceritakan apa yang terjadi padamu, aku tidak tahu apakah kau merasa keberatan atau tidak untuk membaginya denganku, tapi aku yakin si bodoh ini sangat ingin mendengarkannya," ucap Taeil sembari menunjuk ke arah Johnnh yang cengo.

Doyoung menarik nafas perlahan-lahan, ia lalu mulai menceritakan segalanya di mulai dari hubungannya dengan Jaehyun karena dokter Moon mungkin tidak akan mengerti jika Doyoung tidak menjelaskannya, lalu tentang Jaehyun yang sibuk dan rencana surprise Doyoung yang hancur ketika ia mendapati Jaehyun memeluk mantan kekasihnya, mereka bertengkar dan Jaehyun memaksanya untuk bercinta hingga ia tidak sadarkan diri atau lebih tepatnya memperkosa menurut Johnny.

Selama bercetita Doyoung masih sempat-sempatnya menyalahkan dirinya karena memancing amarah Jaehyun hingga pria itu berbuat kasar padanya, yang langsung di celetuki oleh Johnny, "jika dia memang mencintaimu, dia tidak akan marah hanya karena kau cemburu, itu hakmu, dia kekasihmu," Taeil mengangguk mengiyakan, sementara Doyoung hanya menunduk sedih, ia kembali menangis jika mengingat Jaehyun.

Johnny yang ikut merasa sedih menarik wajah Doyoung untuk menghadapnya sebelum ia menyadari bahwa bibir Doyoung memiliki luka sobek kecil di ujung bibirnya, "Apa ia menamparmu?" Tanya Johnny sembari mengepalkan tangannya menahan emosi.

Doyoung diam tidak berani menjawab, wanita itu hendak memalingkan mukanya namun di tahan oleh Johnny yang sudah tersulut amarah.

"Katakan padaku Kim Doyoung, apakah Jaehyun menamparmu?" Kali ini pertanyaan Johnnh penuh dengan nada mengintimidasi, Taeil bahkan bergidik ngeri ketika Johnny memanggil Doyoung dengan nama lengkapnya.

Doyoung mengangguk pasrah, ia yakin setelah ini Johnny akan ribut dan memaksanya untuk memutuskan Jaehyun.

"Ayo temui dia dan berpisahlah darinya," ucap Johnny seperti yang Doyoung kira, pria itu menarik Doyoung untuk membawanya menemui Jaehyun, tapi Doyoung menolak. Beruntung Taeil membantu Doyoung menahan Johnny yang sudah terbakar amarah.

"A-aku tidak bisa John," cicit Doyoung.

"Kenapa?" Johnny tahu jawabannya hanya saja ia ingin memastikan apakah Doyoung masih akan bersikap keras kepala atau tidak.

"Kau tentu tahu jawabannya Johnny,"

"Setelah semua yang ia lakukan?" Tanya Johnny meyakinkan.

Dan Doyoung mengangguk lemah sementara Johnny menertawainya.

"Baiklah kalau begitu, ayo pulang, bukankah kau perlu istirahat yang banyak, benar kan hyung?" Taeil mengangguk, tapi Doyoung masih diam di tempatnya, Johnny adalah orang yang paling jarang marah, tapi sekalinya marah Doyoung tahu pria itu akan mendiamkannya.

"Kau sudah tahukan dimana Taeil hyung tinggal? Kurasa kau sudah tidak membutuhkanku lagi, kau hanya membutuhkan cintamu bukan ?" Ejek Johnny dan saat itu juga Taeil mengerti keadaanya, Johnny menyukai Doyoung, Taeil sadar itu tapi tidak dengan Doyoung, wanita itu buta akan cintanya pada sang kekasih hingga tidak menyadari Johnny yang tulus mencintainya.

"Johnny, jangan seperti ini, kau sahabatku aku membutuhkanmu tapi aku juga sangat mencintai Jaehyun, a-aku tidak tahu harus bagaiman jika tidak ada Jaehyun," tutur Doyoung diiringi tangisan layakannya anak kecil.

"Kau tahu ada banyak pria yang bisa menghargaimu dan mencintaimu lebih dari Jaehyun, apa kau tidak lelah seperti ini terus-terusan?"

"Aku-,"

"Tentukanlah jika kau masih ingin aku menemanimu maka putuskanlah si brengsek Jaehyun itu tapi jika kau lebih memilihnya, maka sebaiknya kita tidak usah berteman lagi, toh aku membuang-buang waktu untuk menghibur rasa sedihmu tapi kau batu ketika kuingatkan," ucapan Johnny membuat Doyoung dan Taeil tertegun.

Doyoung tidak menyangka Johnny akan memusuhinya hanya karena hal ini, sedangkan Taeil tidak menyangka bisa menonton drama secara langsung di depan matanya, menurutnya Johnny memang benar tapi pria itu terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya sementara Doyoung, wanita itu terlalu egois, jika ia jadi Doyoung ia pasti akan memilih Johnny ketimbang pria brengsek kekasihnya itu.

Hingga akhirnya Taeil sadar bahwa sekarang sudah sangat larut dan Doyoung beserta janinnya butuh istirahat.

"Woah-woah, aku yakin aku sudah terseret terlalu jauh di sini, sebaiknya kau pulang Doyoung-ssi, kau dan terutama janinmu membutuhkan istirahat," ucapnya mengingatkan sembari mengusap kepala Doyoung.

"Dan kau Johnny, tenangkan pikiran dan hatimu jangan sampai kau menyesal setelahnya," ceramah Taeil yang hanya di juluri fuck dari Johnny.

Doyoung berpamitan pada Taeil, tak lupa mengucapkan terima kasih, sedangkan Johnny sudah terlebih dahulu pergi menuju mobilnya.

"Sampai jumpa dan hati-hati di jalan, hubungi aku jika sesuatu terjadi," ucap Taeil sembari melambai pada Doyoung dan Johnny.

.

Sepanjang perjalanan Johnny hanya diam saja, begitu juga dengan Doyoung, atmosfer menjadi lebih canggung, biasanya Doyounglah yang marah ataupun merajuk tapi sekarang Johnny yang melakukannya dan Doyoung tidak tahu harus apa.

Mereka terhanyut dalam keheningan selama perjalana pulang sampai mereka tiba di apartemen Doyoung, Johnny membukakan kunci pintu mobilnya tapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Terima kasih John," ucap Doyoung dan tidak ada jawaban dari Johnny.

"Aku akan memikirkan perkataanmu, kau benar aku mungkin sudah terlalu di butakan oleh cintaku pada Jaehyun," Doyoung berkata dengan suara bergetarnya antara yakin dan tidak dengan perkataannya sendiri tapi Johnny masih saja mendiamkannya.

Doyoung menyerah, ia tersenyum getir, tangannya bergerak hendak membuka pintu mobil sebelum Johnny kembali menguncinya dan langsung memeluk Doyoung begitu saja.

"Aku tidak marah Doyoung-ah, aku hanya ingin kau sadar," ucap Johnny sambil mengelus kepala Doyoung sayang sementara wanita itu kini menangis di dalam pelukan Johnny.

"Aku hanya tidak ingin melihatmu terus-terusan terluka seperti ini, kau layak untuk bahagia dan di cintai, kau tahu itu," tangisan Doyoung semakin kencang, sesekali ia terbatuk karenanya.

Hati Doyoung pilu karena sakit yang di buat oleh Jaehyun sedangkan Johnny pilu karena wanita yang di cintainya menangis penuh penderitaan karena pria lain.

Selama beberapa menit Doyoung menangis dalam pelukan Johnny, setelah sekian lama, setelah kematian ibunya Doyoung bisa menangis dengan lega, mengeluarkan segala kesedihannya.

"Sudah menangisnya? Masuklah kau harus istirahat, kasihan dia kau ajak menangis bersama, atau perlu kuantar?" Johnny bertanya pada Doyoung dengan sangat lembut, Doyoung tahu Johnny menyebalkan tapi Doyoung tidak bisa mengelak bagaimana baiknya Johnny.

"Eumm tidak usah," Doyoung menggeleng, ia yakin Johnny juga lelah dan Doyoung tidak ingin merepotinya lebih banyak lagi.

"Terima kasih banyak john, aku menyangimu," Ucap Doyoung, lalu mengecup pipi Johnny.

"Masuklah, aku akan pulang setelah kau masuk ke gedung apartemenmu," perintah Johnny, dan Doyoung hanya mengiyakan saja, ia mengawasi Doyoung yang melangkah masuk ke dalam gedung apartemennya sebelum menghilang di balik pintu kaca berwarna hitam itu, Doyoung sempat keluar lagi hanya untuk melambai pada Johnny.

Malam itu Johnny merasa sangat bahagia, setidaknya Doyoung mulai mendengarkan saran darinya, bahkan ia mendapatkan bonus kecupan dari Doyoung, ahh~ Johnny yakin ia akan tidur nyenyak dan mimpi indah malam ini.

...

Ini adalah hari ketiga setelah ia dan Jaehyun bertengkar hebat, tapi pria itu sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan meminta maaf pada Doyoung, paling tidak menemuinya saja sudah cukup bagi Doyoung.

Pesan yang Doyoung kirim tidak di baca apalagi di balas, telfonnya pun tidak aktif Doyoung tidak tahu apakah Jaehyun masih belum membeli ponsel baru atau pria itu memang tidak ingin Doyoung ganggu.

Ia mencari tahu melalui Lucas tapi pria cina itu selalu saja ngeles ketika di tanya, Doyoung sudah lelah, ia butuh penjelasan dari Jaehyun, sedikitnya Doyoung ingin memberi tahu bahwa dirinya tengah hamil anak pria itu, jika Jaehyun memang mencintainya Doyoung sangat berharap Jaehyun akan menerimanya, jika tidak maka tidak ada alasan bagi Doyoung untuk bertahan bersama Jaehyun, ia tidak menyerah hanya saja Doyoung tidak sanggup jika bayinya ini di tolak Jaehyun karena pria itu tidak menginginkannya.

Dan disinilah Doyoung sekarang, berdiri tepat di depan gedung kantor Jaehyun, wanita itu menarik nafas panjang-panjang, menyiapkan dirinya untuk skenario terburuk yang mungkin saja terjadi.

Ia yakin wajahnya pasti terlihat sangat jelek bagaimana para pegawai perusahaan Jaehyun menatapnya dari atas hingga bawah, seolah-olah tengah menilai Doyoung, tapi masa bodohlah, Doyoung datang sudah membuang seluruh harga dirinya pada Jaehyun jadi kenapa ia harus merasa malu lagipula Doyoung masih berstatus kekasih Jaehyun.

Doyoung lalu berdiri di depan meja Lucas, menyapa pria tampan tapi menyebalkan itu, "Lucass, apakah Jaehyun ada di dalam?".

"Ye? Eoh Doyoung Nuna, Ja-Jaehyun hyung a-ada di dalam tapi kini ia sedang ti-tidak ingin di ganggu," gagap Lucas yang seketika panik, Doyoung menaikkan satu alisnya curiga.

Aneh, setaunya Lucas bocah normal yang tidak memiliki kelainan apapun, apalagi gagap seperti ini. Tingkah Lucas justru semakin membuat Doyoung cemas, apakah kecurigaannya selama beberapa hari ini benar? Pikir Doyoung.

"Benarkah? Aku rasa ia tidak akan marah jika kekasihnya yang datang menemuinya bukan," ucap Doyoung memancing dan seketika wajah Lucas berubah menjadi pucat pasi, gotcha! Doyoung semakin yakin untuk menemui Jaehyun sekarang juga, apapun yang akan ia temui di dalam nanti, Doyoung sudah memepersiapkan segalanya.

Wanita itu berjalan dengan penuh percaya diri menuju ruangan Jaehyun, sementara Lucas masih berusaha menahan wanita itu sembari membuntutinya dan memohon,"Ba-bagaimana ji-jika kau tunggu di cafetaria saja? Aku akan beri tahu Jaehyun hyung".

Doyoung menepis tangan Lucas, ia masih berjalan dan menolak permohonan Lucas sebelum berhenti di belokan lorong menuju ruangan Jaehyun karena mendengar suara Taeyong "Tidak! Aku ingin menemuinya sekarang ju-,"

"Jaehyun jangan seperti ini,bagaimana jika Doyoung kesini lagi dan ia menjadi semakin salah paham kepadaku," ucap Taeyong yang mencoba melepas pelukan Jaehyun.

"Lalu kenapa? Kau harus tahu bahwa sampai kapanpun satu-satunya orang yang aku cintai adalah kau-," ucap Jaehyun menggantung sembari menatap Taeyong dengan mata senduhnya.

Sedangkan Doyoung hanya menutup mulutnya sendiri dengan air mata yang kini membasahi wajahnya, ia kemudian menatap Lucas, mendekatkan dirinya pada pria yang kini menatap nanar pada Doyoung, ia juga syok dengan apa yang baru saja dirinya dengar.

"Tolong jangan katakan pada Jaehyun bahwa aku ke sini," bisik Doyoung lalu berlari begitu saja meninggalkan Lucas yang hanya diam mematung, ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya menjadi seorang Doyoung.

Lucas kembali tersadar dari ke terdiamannya ketika Jaehyun kembali melanjutkan perkataannya, "tapi itu dulu, sekarang aku sadar bahwa kebahagiaanmu dan cintamu bukanlah diriku dan aku,"

"aku sadar bahwa Doyoung adalah segalanya untukku, aku baru menyadarinya setelah kau datang dan yah ternyata perasaanku padamu hanya obsesi semata," ucap Jaehyun dengan penuh percaya diri sementara Taeyong hanya terkekeh mendengarnya.

"Ngomong-ngomong selamat yah atas rencana pernikahanmu dan Yuta, siapa sangka pria itu akan melakukan hal berlebihan seperti itu dan tunggu saja aku juga akan menyusul kalian," ucap Jaehyun tak mau kalah, dan Taeyong hanya tertawa geli di buatnya, siapa sangka Jaehyun yang pemalu, yang dari dulu hanya mengejar-ngejarnya akan jatuh cinta seperti ini.

"Yayaya berdoalah Doyoung masih mau menerimamu," ejek Taeyong dan Jaehyun hanya merengut kesal.

"Haha aku bercanda, Kalau begitu ayo berpelukan sebagai teman lama," tawar Taeyong dan Jaehyun menurutinya, ia memeluk Taeyong erat sembari berterima kasih untuk semua kenangan mereka dulu dan karenanya Jaehyun mendapatkan Doyoung tanpa tahu bahwa ia akan kehilangan wanita itu setelahnya.

Sementara Lucas yang mendengar semuanya buru-buru kembali kemeja kerjanya, ia harus menelfon Doyoung sekarang juga dan memberitahukan bahwa apa yang ia dengar tadi hanyalah kesalah pahaman semata.

.

Kini Doyoung tengah duduk dan menangis di dalam kafe milik Ten, di temani pria tampan yang Ten tidak tahu siapa itu tapi sepertinya pria itu teman Doyoung juga, yakin Ten.

"Ten, Johnny terima kasih, a-aku sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak di sini hiks hiks," ucap Doyoung sesegukan, sementara Ten hanya memeluk Doyoung sayang sembari mengelus rambut hitam milik wanita itu.

"Hah, aku benar-benar ingin memukul Jaehyun brengsek itu sekarang juga," marah Johnny dan Ten mengangguk menyetujui.

Kali ini ia sudan tidak tahan lagi, bagaimana bisa Jaehyun masih mencintai mantan kekasihnya setelah semua yang Doyoung lakukan untuknya. Johnny dan Ten tidak habis pikir di buatnya.

"Jangan John, ia tidak tahu bahwa aku mendengar pembicaraan mereka," ucap Doyoung, ia tidak ingin Johnny ataupun Jaehyun terluka hanya karena perasaan bodohnya.

"Lagipula, aku ingin mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik,"

"Kau serius!" Kompak Johnny dan Ten, mereka tidak menyangka bahwa Doyoung akan mengeluarkan kata-kata putus dari mulutnya.

"Tapi bagaimana dengan bayimu?" Tanya Johnny membuat Ten membelakkan matanya kaget.

"Kau hamil?" Ten bertanya dengan tidak percaya, bagaimana mungkin Doyoung tidak menceritakan hal sepenting itu padanya.

"Kenapa kau tidak cerita padaku," sedih Ten, ia merasa seperti teman yang tidak berguna.

"Ceritanya panjang Ten, tapi percayalah setelah semua ini selesai, ketika bayiku lahir nanti kau akan menjadi bibi favorit dari bayiku," rayu Doyoung dengan suara seraknya.

"Hey Doyoung jawab aku, Bagaimana dengan kau dan bayimu?," tanya Johnny penuh tuntutan.

"Aku akan berusah sekeras mungkin untuk bisa membesarkannya sendiri John," ucap Doyoung berusaha tegar, dan Johnny langsung menggenggam tangan Doyoung dan berlutut di hadapan wanita itu.

"Kau tidak sendiri, ada aku yang akan selalu menemanimu, kau bisa mngeandalkanku," Yakin Johnny pada Doyoung dan Ten tersipu malu sekaligus patah hati secara bersamaan mendapati bahwa ternyata Johnny juga menyukai Doyoung, pupus sudah rencana Ten untuk menggaet teman Doyoung ini.

"Ya Doyoung dia benar, kau masih memiliki kami di sisimu," timpal Ten merangkul pundak Doyoung.

Doyoung menatap kedua temannya tidak percaya, ia lalu memeluk kedua temannya dan mengucapkan terima kasih. Ia sangat bersyukur karena memiliki Johnny dan Ten di sisinya.

...

Jaehyun berdiri di depan pintu apartemen Doyoung dengan wajah cemasnya, hampir satu jam ia menunggu di sini dan tidak ada tanda dari Doyoung untuk muncul. Nomornya tidak aktif dan ia juga tidak berada di apartemennya, Jaehyun khawatir tentu saja,sudah tiga hari ia tidak bertemu dengan Doyoung, ia tidak ingin sesuatu terjadi pada kekasihnya itu.

Ia ingin meminta maaf pada Doyoung atas perlakuannya kemarin, dirinya sudah sangat kelewatan ketika ia menampar Doyoung kemarin, lalu memaksa untuk menidurinya dan pergi begitu saja, ia tidak ingin menjadi kekasih brengsek.

Dia juga ingin mengajak Doyoung bertemu dengan orang tuanya yang baru saja tiba kemarin, Jaehyun tidak sabar untuk melihat wajah menggemaskan milik Doyoung ketika tahu bahwa dirinya akan bertemu dengan keluarga Jaehyun.

Khayalan Jaehyun pecah begitu ia mendengar suara Doyoung yang terkekeh di ujung jalan, dengan sesosok pria tinggi di sebelahnya, dan Jaehyun tahu siapa itu, oh ayolah Jaehyun dan Doyoung memang sudah berteman dari awal jadi ia kenal siapa pria yang baru saja mengusak rambut Doyoung dan di tanggapi dengan rajukan manja wanita itu, dan Jaehyun tidak menyukainya tentu saja.

Ia lalu berjalan menuju arah Doyoung dari arah berlawanan, senyumnya hilang di gantikan oleh wajah datar miliknya, Jaehyun lalu berdehem membuat Doyoung dan Johnny berhenti tepat di depannya sebelum Doyoung menabrak tubuh tegap kekasihnya.

"Wah, kupikir sesuatu yang buruk terjadi denganmu, tapi tampaknya kau habis bersenang-senang?" Sindir Jaehyun, Johnny yang mendengarnya hanya mendengus kesal.

"Apa maksudmu Jaehyun," tanya Doyoung bingung, ia baru saja tiba di apartemennya dan Jaehyun sudah menyindirnya seperti ini.

"Apa kau terlalu bodoh untuk mencerna perkagaanku?" Ejek Jaehyun.

"Kau tidak perlu mengatainya bodoh bukan," ucap Johnny tidak senang dengan tangannya yang menarik kerah kemeja Jaehyun.

"Santai hyung, kenapa kau marah? dia kekasihku," cibir Jaehyun sambil mendorong Johnny lalu menarik Doyoung ke sisinya hingga wanita itu meringis kesakitan karena cengkraman Jaehyun pada tangannya.

"Bisakah kau tidak bersikap kasar dengannya? ia kesakitan," Johnny berusaha melepas pegangan tangan Jaehyun dari Doyoung, tapi pria itu justru menarik kerah kaus Johnny yang di balas pula oleh Johnny.

Jaehyun tersenyum mengejek pada Johnny yang menampilkan wajah marahnya, tangan mereka yang bertautan satu sama lain. Jaehyun lalu mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Johnny habis kesabaran, "Dia kekasihku, apa yang kulakukan bukan urusanmu hyung, sadarlah kau itu hanya TEMAN-nya," cibir Jaehyun mengejek.

Johnny hendak melayangkan sebuah pukulan pada Jaehyun tapi genggaman tangannya berhenti ketika Doyoung meneriakinya, "Johnny hentikan!", pria itu terkejut jika Doyoung akan menghentikannya, ia menatap Doyoung tidak percaya sementara wanita itu hanya menggeleng lemah seakan mengerti dengan maksud tatapan Johnny tadi.

"Pulanglah John, aku tidak apa," ucap Doyoung berusaha meyakinkan sahabatnya itu, dan Johnny hanya menghela nafas kasar, ia mengelus rambut Doyoung yang langsung di tepis oleh Jaehyun, lalu berpamitan pada wanita itu, "telfon aku jika terjadi sesuatu," Johnny seolah mengingatkan dan Doyoung mengangguk mengiyakan.

Sebelum pergi Johnny, ia sempat menatap Jaehyun dengan tatapan tidak sukanya, ia benar-benar ingin memukulnya tapi Johnny masih menghargai Doyoung.

Setelan kepergian Johnny, Doyoung dan Jaehyun langsung masuk kedalam apartemen milik wanita itu. Tidak ada yang membuka suara, entah itu Doyoung ataupun Jaehyun, bahkan Doyoung berjalan mendahului Jaehyun seakan-akan tidak menganggap pria itu ada.

Tapi bukan Jaehyun namanya jika ia membiarkan Doyoung mengabaikannya begitu saja, pria itu memeluk Doyoung yang membelakanginya, mengecup leher putih Doyoung yang terekspose karena ia menguncir cepol rambutnya.

"Kau dari mana? Apa yang kau lakukan Johnny hyung?" Tanya Jaehyun cemburu.

"Ia hanya menemaniku pergi ketempat Ten," jawab Doyoung malas.

"Kenapa harus bersama dengan Johnny?" Lagi Jaehyun bertanya dengan tidak sukanya.

"Memangnya kenapa? Ia temanku apa salahnya jika ia menemaniku," ucap Doyoung yang mulai kesal, Jaehyun yang mendengar Doyoung meninggikan suaranya memutar tubuh wanita itu agar menghadap kearahnya.

"Tentu saja, kau kekasihku bagaimana bisa kau berjalan denga pria lain," jawab Jaehyun tak kalah lantang sembari menatap tajam kearah Doyoung, memarahi wanita itu.

"Kau cemburu hanya karena aku pergi dengan temanku, tapi kau? Aku melihatmu berpelukan dengan mantan kekasihmu tapi aku tidak cemburu ? Justru kau yang memarahiku,memukulku dan bahkan memperkosaku," teriak Doyoung pada Jaehyun di iringi tangisannya, ia sudah tidak bisa menahan amarah dan sedihnya lagi.

"Kau bahkan pergi begitu saja lalu menghilang selama tiga hari tanpa meminta maaf ataupun memberi kabar padaku sedikitpun," ucap Doyoung lagi.

"Aku yakin selama tiga hari kau mungkin menemui Taeyong sepuasmu dan menghabiskan waktu dengannya, tapi kau kembali lagi karena dia mungkin menolakmu seperti biasanya ? Atau kau sudah tidur dengannya tapi sayang karena kau tidak puas kau mendatangiku lagi bukan?" Tuduh Doyoung yang membuat Jaehyun terdiam, tidak menyangka bahwa Doyoung akan menuduhnya seperti itu.

Doyoung bisa melihat Jaehyun mengangkat tangannya hendak menampar Doyoung lagi, dan wanita itu hanya pasrah memejamkan matanya. Tapi nihil Doyoung tidak merasakan perih di pipinya justru belaian halus yang ia rasakan.

Ia membuka matanya perlahan, dan melihat Jaehyun yang mengusap pipinya sayang, Doyoung mendecih kesal, "kenapa kau tidak jadi menamparku lagi seperti kemarin?" Tantangnya.

Jaehyun hanya tersenyum dan menggeleng pelan, ia lalu mendekatkan wajahnya pada Doyoung dan mencium bibir Doyoung lembut, wanita itu hampir terlena oleh hisapan lembut yang Jaehyun berikan tapi ia tersadar kembali ketika nyeri di bibirnya terasa kembali dan langsung mendorong Jaehyun hingga ciumannya terlepas.

"Aku minta maaf oke, aku tahu aku salah dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama,jadi maafkan aku," bujuk Jaehyun tulus, mencoba meraih bibir Doyoung lagi tapi wanita itu mengelak dan memalingkan wajahnya.

"Percayalah, aku bukannya menghilang ataupun bersama Taeyong, aku hanya meyakinkan diriku Doie, semua tuduhanmu itu salah," Jaehyun kembali meyakinkan Doyoung.

Tapi wanita itu justru mendorong Jaehyun menjauh, ia menatap Jaehyun dengan mata sembabya dan senyuman di bibirnya dalam hati ia meruuki Jaehyun dan ke pandaiannya dalam berbohong, ia jelas-jelas mendengar bahwa Jaehyun masih msncintai Taeyong.

Doyoung berbicara dengan suaranya yang bergetar, "Tidak Jaehyun, Kau tidak salah, dari awal akulah yang salah karena terus mengejar dan memaksamu, tapi sekarang aku sadar, kau tidak akan berubah, kau pasti masih sangat mencintai Taeyong bukan?"

"Karena dari itu aku menyerah, aku rasa semua ini sia-sia, pengorbananku, perasaanku dan hubungan ini sia-sia Jaehyun, aku lelah mengejarmu," ungkap Doyoung, ia tidak tahu berapa banyak air mata yang sudah ia habiskan untuk Jaehyun tapi kali ini, Doyoung sudsh berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah terakhir kali dirinya menangisi pria itu.

"Apa maksudmu," tanya Jaehyun bingung, menatap mata Doyoung dengan seksama, mencari kebohongan melalui tatapan wanita itu tapi nihil, hanya keputus asaan yang Jaehyun dapatkan.

"Ayo putus Jaehyun," ajak Doyoung tanpa ragu memperjelas maksud ucapannya tadi.

"Kau bercanda bukan?" Tanya Jaehyun mengulang, apa ia tidak salah dengar?.

"Eumm, aku tidak bercanda Jaehyun, aku sangat bersungguh-sungguh," ucap Doyoung, tangannya mengelus wajah tampan Jaehyun lalu mencium bibir Jaehyun, tidak ada lumatan ataupun hisapan, Doyoung hanya menempelkan bibirnya di bibir Jaehyun secara singkat.

Jaehyun yang tadinya diam kini hanya tertawa miris, ia memeluk Doyoung secara paksa, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Doyoung yang sekarang menjadi bau kesukaannya.

Dan Doyoung tidak lagi menangis atau lebih tepatnya memaksa dirinya sendiri untuk tidak menangis, ia hanya mengelus punggung Jaehyun.

"Kalau begitu baiklah, tapi aku tidak ingin kita berpisah"

"Aku hanya akan menganggap bahwa kita hanya sedang break saja untuk sementara waktu, aku yakin kau butuh waktu untuk berpikir,"

"kau tahu kan semua ini hanyalah salah paham," Jaehyun kembali meyakinkan Doyoung, tapi wanita itu hanya menggeleng lemah.

"Tidak Jaehyun, aku benar-benar ingin putus," Doyoung bersikeu-keuh dengan keinginannya.

Pria itu menjauh dari Doyoung dan menatap wajah wanitanya dengan seksama, "baiklah jika kau bersikeras maka aku tidak bisa memaksa, Jangan menyesal dengan permintaanmu ini," ucap Jaehyun angkuh, ia yakin Doyoung akan memohon kembali padanya, Jaehyun percaya itu, ia sedih tapi Jaehyun bertahan pada harga dirinya.

"Aku pulang, sampai jumpa," pamit Jaehyun lalu mengecup kening Doyoung singkat, meninggalkan Doyoung yang kembali menangis, tanpa tahu bahwa ia akan sangat menyesali pilihannya ini nanti.

Sedangkan Doyoung hanya menatap punggung Jaehyun yang menjauh darinya, pria itu bahkan tidak berusaha lebih keras untuk mempertahankan hubungan mereka. Tapi Doyoung tahu inilah keinginannya, ia hanya berharap Jaehyun untuk berbahagia walaupun Doyoumg tidak ada di dalamnya.

TBC

Hai semuaa, kangen aku gak nih? Ehehe kayanya engga sih.

Maaf banget udah ngilang lama dan sekalinya balik bukannya ngelanjutin yang sebelah malah ngepost cerita baru.

Maaf yah kalo ceritanya kecepetan sama memaksakan untuk sedih, akutuh ga biasa bikin cerita sedih plus ceritanya pasaran ataupun kaya ftv karena inspirasinya emang dapet pas lagi nntn ftv huhuhu ;_;

Terima kasih banyak-banyak buat yang udah nyempatin baca sampe bawah sini heu heu T.T I love you guys, makasih yah udah baca cerita aku dan tetep support diriku yang gaje ini, aku berusaha sebisa mungkin untuk update di kala sibuk ini/curhat/.

Once again Thank You and I love you and pleaseee!! Stay health guys, i wish the best for you

See u next time yaaa~