"Kuota Habis" by Meltavi
Boboiboy © Animonsta Studios
Warn : AU, Humor Family, garing, gaje, nggak sesuai EYD, dll.
#BBBdirumahaja
Happy Reading!
.
.
.
INDISIT
Maaf, kuota internet Anda telah habis. Silakan mengisi ulang kembali di–
Taufan berdecak kesal meski pesan dari operator kartu simnya belum tuntas ia baca. Ngapain dibaca sampai selesai? Toh dari kalimat pertamanya saja sudah termasuk poin pentingnya. Kesal, Taufan melempar asal ponselnya ke atas kasur. Ingin melemparnya ke lantai tapi nggak tega, soalnya sayang. Karena ponsel sama dengan pacar keduanya setelah Yaya.
"Ah, kampret. Gabut banget lagi," decak Taufan, membenamkan wajahnya ke bantal berwarna biru favoritnya. Tak sampai dua detik, Taufan kembali menongolkan wajahnya dengan dagu bertumpu pada si benda empuk. Ia mengerlingkan matanya ke atas, mencari-cari ide apa yang harus ia lakukan.
Makan? Tapi sudah tadi. Yang ada nanti dia jadi gembrot, kayak Ice.
Olahraga? Ogah!
Nonton? Nggak ada yang seru.
Bantuin ibu mengurus pekerjaan rumah? Nggak deh. Taufan mager. Lagian udah ada Gempa si anak rajin. Jadi kayaknya nggak perlu relawan lagi.
Atau ke rumah Yaya?
Taufan diam berpikir.
"Yaya ya?" gumamnya, memandang kosong langit-langit kamarnya.
Terakhir kali Taufan main ke rumah Yaya itu minggu lalu. Sebelum corona dengan songongnya menjajah wilayah mereka. Taufan bisa aja sih, ke rumah Yaya sekarang, toh samping-sapingan. Tapi berkat corona juga, semua keluarganya pada ngumpul di rumah. Bahkan ayahnya juga yang setiap harinya sibuk kerja mulu jadi diam di rumah. Kalau Taufan keluar meskipun hanya main di rumah Yaya, ia yakin ibu maupun ayahnya mendadak curcol.
Kayak gini :
"Mau ngapain sih?! Udah tau corona, ngayeng terus." -Ibu.
"Diem dikit di rumah sebentar napa, Fan. Mentang-mentang udah punya cewek, jadi ngapel terus, 'kan. Yeuuuu," -Ayah.
Belum ledekan saudara-saudara laknatnya. Taufan tidak bisa membayangkan se-bullyable apa dirinya jika itu terjadi.
Oke. Taufan harus mencari strategi baru. Ide lain terpikirkan langsung di otak setengah encernya. Fans nomor satu seorang Yaya Yah itu bangkit, melangkah keluar kamarnya untuk turun ke lantai bawah. Ketika tiba di anak tangga paling bawah, matanya menemukan Ayahnya dan Thorn tengah menonton Spongebob–nggak, kalian nggak salah baca. Papamato emang nonton kartun Nickelodon itu kok.
Taufan lalu mengintip ke dapur, mendapati Gempa bersama ibunya sedang membuat biskuit yang tentu resepnya bukan dari Yaya. Itu berarti, saudaranya yang lain ada di kamar. Tau deh ngapain. Mati kali.
Taufan menghampiri Ayahnya yang sangat serius melototin si Spongebob yang sedang galau untuk menjadi normal dibantu oleh Squidward.
"Yah." panggil Taufan, mengambil tempat duduk di samping pria paruh baya itu. Thorn yang duduk di sofa singel pun ikut menoleh, menatap kepo Taufan yang tiba-tiba datang.
"Oi?" balas ayahnya. Kedua matanya tetap tak teralihkan dari layar televisi.
"Kuota aku habis." adu Taufan sedikit merengek, kode agar dibelikan lagi.
Ayahnya menoleh dengan dahi berkerut. "Hah? Kota?"
"Kuota, Yah." Thorn mengoreksi sambil menggelengkan kepalanya.
Taufan mengangguk sambil memelaskan wajahnya, sebagai senjata agar ayahnya luluh.
Ayahnya–Amato, manggut-manggut mendengar koreksi si anak polos nan imut. Ia beralih ke Taufan lagi, dan
sudah menemukan wajah memohon plus puppy eyes-nya. Amato melipat bibirnya ragu, sementara Taufan mulai merengek-rengek.
"Yah? Beli lagi, ya? Plis, aku gabut banget."
"A–"
"Nggak! Kemaren 'kan kamu udah beli yang 10 giga bet. Masih kurang?!" Suara melengking super membahana tiba-tiba saja memotong ucapan si Ayah. Tiga manusia berdarah sama itu menoleh serempak ke arah dapur, menemukan wanita cantik berdiri di sana dengan berkacak pinggang. Ada yang nguping ternyata, gaes.
"Jangan, Yah! Jangan dikasih. Biarin aja," tambah ibunya, sebelum berkutat lagi dengan adonan biskuitnya. Gempa yang juga ada di dapur hanya terkekeh tanpa suara, memilih untuk tidak ikut campur masalah sang kakak kedua.
Taufan makin memanyunkan bibirnya dramatis. "Ibu tega banget siihh. Ibu mau Taufan mati kebosanan gara-gara nggak ada kuota?"
"Lebay." balas ibunya.
"Alay." sahut Ayahnya.
"Ew." Gempa dan Thorn menambahkan.
Taufan mencoba tabah menghadapi keluarganya itu. Ini baru mereka, belum sisa makhluk yang lagi di lantai atas. Bakal semenderita apa dirinya jika saudaranya yang lain ikut mengejeknya?
"Kalian jahat," kata Taufan nelangsa.
"Kamu dedring dulu gih ke yang lain," saran sang ayah sebagai kepala keluarga.
"Thetring Yah, bukan dedring." ralat Thorn, lelah karena Ayahnya lagi-lagi salah menyebutkan. Namanya juga orang tua yang berusaha mengikuti perkembangan zaman, Thorn kudu maklum.
"Iyaa, itu deh pokoknya." kata Amato nggak mau pusing-pusing.
"Nggak mau, Ayah." kata Taufan. Ia menolak usulan Amato untuk minta thetringan ke saudaranya yang lain karena ada alasannya.
"Emang kenapa?"
"Susah. Gak bakal ada yang mau."
Amato mengangkat alis. "Hali?" Taufan menggeleng. Halilintar tentu tidak akan mau memberinya tanpa ada penawaran. Dari zaman baheula pun, Halilintar susah diajak kebaikan kalau sudah menyangkut Taufan. Tau lah ya, nggak usah dijelasin.
Amato berpikir lagi. "Blaze?" Jawaban Taufan gelengan kepala lagi. Blaze, hampir sama kayak Halilintar. Bedanya, Blaze ada alasan yang jelas. Kembar keempat itu juga sepertinya, gamers sejati. Dia tidak akan mau memberi hotspot pada siapapun, karena itu akan berpengaruh buruk pada kelancaran permainannya. Lemot dikit, bakal berantakan semuanya.
"Ice?" Amato terus memberi usulan. Taufan lagi-lagi menggeleng. Ice, ... gimana ya. Mood-nya tuh kadang nggak nentu. Nanti bisa kalem, bisa bete, kayak cewek dah. Sulit dimengerti. Terakhir kali Taufan mengajaknya bicara, Ice seperti cewek yang habis ditinggal suaminya. Galak banget.
"Solar?" Taufan menghela napas. Untuk yang satu itu, sebenarnya bisa. Cuma, Taufan harus ekstra sabar karena Solar tuh bacotnya selangit, bener-bener ngeselin. Belum sifat angkuh serta sombongnya. Yalord, up deh.
Kalau kalian bertanya kenapa Gempa dan Thorn tidak disebutkan, itu karena Gempa cuma ada paket 1 GB selama seminggu. Kenapa begitu? Sosial media Gempa itu hanya WhatsApp. Benar-benar hanya WhatsApp. Tipe manusia yang menggunakan gawai untuk kepentingan, nggak lebih. Jangan tanya apa yang Gempa lakuin kalau gabut. Sudah pasti membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah.
Sedangkan Thorn, dia bukan tipe-tipe pecandu ponsel canggih. Sebelas dua belas kayak Gempa. Thorn lebih memilih ngurusin tanamannya, atau menghabiskan waktu bersama Amato yang memang jarang di rumah.
Memang cobaan banget. Dua malaikat penyelamat Taufan yang seharusnya bisa membantu, malah mempunyai kuota yang terbatas. Taufan hanya mampu tersenyum dalam hati.
"Yaudah, itu berarti pertanda kamu harus berhenti main hape." celetuk ibunya dari dapur.
"Nah." tambah Gempa. Taufan mendelik ke arah mereka.
"Ibu bener tuh." Amato bersuara lagi. "Jeda dulu main game pe-u-be-ge-nya. Lagian, apa serunya sih. Seruan juga nonton sponsbob." Ayahnya, 43 tahun, masih demen kartun anak-anak. Taufan nggak tau harus prihatin atau bangga.
Menyerah, Taufan akhirnya duduk bersandar di sofa bersebelahan dengan Amato. Melihat dirinya seperti itu mengundang kekehan dari mereka semua.
Taufan menghela napas. Meratapi nasibnya di tengah-tengah pandemi ini, sambil mendengarkan tawa meledek dari keluarganya.
Taufan sabar Ya Tuhan.
.
.
.
.
Finizh
a/n :
garing banget astaga :(
maafin ya gaje, aq gabuts sih. bingung mao ngapain hwhw
so, gaes. kalian gimana kalo tiba-tiba kuota habis di tengah pandemi gini? tidur? nonton? atau kayak Taufan yang ngadu tapi berakhir diledekin? wkwk
ditunggu repiwnya!
