Hinata menopang dagu bosan, menatap satu persatu temannya yang asik membicarakan kelebihan pacar masing-masing, menghela napas ia menatap kearah lain. "Bagaimana dengan pacarmu hinata-chan?"sahut Ino, hinata jadi kelabakan sendiri
"E-eum, p-pacarku?"Ino mengangguk, nampaknya teman-temannya menyadari hinata yang sedari tadi hanya diam. "A-ah, dia.. sibuk jadi akhir-akhir ini k-kami jarang bertemu"hinata mengutuk dirinya yang jadi gagap ketika berbohong.
Ino, Shion dan karin hanya mengangguk. Hinata merasa akan mendapat pertanyaan lagi seputar 'pacar-nya' buru-buru bangkit dari bangku. "A-ano, aku ke toilet sebentar!"ujar hinata lalu berlari keluar kelas.
Hinata tak bohong, ia benar-benar ke toilet. Sesampai disana, hinata buru-buru masuk ke bilik paling ujung.
Ia termenung karena berbohong pada teman-teman soal 'pacar-nya'. Hampir 15 menit hinata berada disana, setelah di rasa cukup, ia berniat pergi namun suara dari luar membuatnya urung.
"Ino, apa kau yakin hinata punya pacar? Menurutku dia bohong"sahut seorang gadis yang hinata kenal- suara milik karin.
Hinata sedikit membuka pintu biliknya, terlihat ino dan kawan-kawan yang tengah memperbaiki make-up disana. Ino mendengus. "Tentu saja tidak, gadis kuno seperti itu mana mungkin punya pacar"
Deg.
Lalu terdengar tawa dari ketiga gadis itu, bersamaan dengan kepergian mereka dari sana.
Hinata mengepalkan tangannya, buru-buru ia meraih ponsel dari saku. Menekan nomor 3 yang langsung tersambung pada kontak bernama 'tenten'.
"Tentenn, aku butuh bantuanmu!"
Gadis bercepol dua itu melongo."Jadi kau berbohong pada teman-temanmu soal kau punya pacar?"hinata mengangguk lesu. Tenten menghela napas, "kenapa harus berbohong begitu sih?"tanya-nya heran. Maksudnya mereka kan berteman, lalu apa hubungannya dengan pacar?
"Kau tidak mengerti.. teman-temanku hampir semua punya pacar dan mereka hanya mau berteman dengan yang memiliki hal yang 'sama' seperti mereka."jelas hinata. Mendengar itu, sekarang tenten mengerti alasan hinata berbohong soal 'pacar' pada teman-temannya.
"Lalu sekarang aku harus bagaimana tenten-chan?"tanya hinata frustasi. Ia tak terima di cap gadis kuno oleh teman-temannya, ia harus mencari cara membuktikan kalau ia juga punya 'pacar'.
"Cari teman lain..?"hinata sudah pernah coba, namun sulit berteman dengan mereka yang sudah membangun kubu sendiri-sendiri.
"Cari pacar..?"pada kenyataan itu lebih sulit dibanding mencari teman.
Keduanya diam memikirkan cara, sampai pandangan hinata terarah pada dua orang pemuda tampan yang lewat, sebuah ide muncul di kepalanya.
Buru-buru hinata menarik tangan tenten. "Eh? hinata kenapa?"tanyanya bingung melihat gerak-gerik sahabatnya yang nampak mencurigakan.
"Sst, pelankan suaramu tenten. Aku mau mengambil foto pemuda itu"tenten mengeryit "buat apa?"
"Untuk ku tunjukan pada teman-temanku"tenten terkejut. "Jangan bilang--" hinata mengangguk cepat. Ia segera menarik tangan tenten, mempecepat langkahnnya.
"A-ano!"teriak hinata dengan ponsel yang sudah siap di tangannya. Kedua pemuda itu menoleh.
Cekrek!
Dapat! Namun sialnya, hinata lupa mematikan blitz di ponselnya. Menyadari itu, tenten buru-buru membantu hinata. "Lihat! Disana, Ada ufo!"kedua pemuda itu dengan bodohnya mengikut kearah yang di tunjuk tenten. Mendapat kesempatan untuk kabur, hinata dan tenten langsung berlari pergi.
"Hinata-chan, ini pacarmu?"tanya shion tak percaya. Pagi ini, hinata sengaja memasang foto pemuda kemarin sebagai wallpaper, yang langsung menarik perhatian teman-temannya.
Hinata mengangguk dengan malu-malu. "Tapi kenapa wajahnya tak asing ya..?"ujar ino sambil memperhatikan wajah pemuda yang menjadi wallpaper ponsel hinata, Mendengar itu hinata jadi gugup.
Karin dan shion juga ikutan memperhatikannya. "Uchiha sasuke!"sahut karin tiba-tiba, rasanya jantung hinata akan copot dari tempatnya "hinata-chan kau pacaran dengan uchiha sasuke??"
Mampus.
