Halilintar sudah berjanji akan memberikan kado apa saja yang Taufan mau pada hari ulang tahunnya. Masalahnya dengan Taufan, tidak ada seorang pun yang bisa menebak isi pikiran si Happy Virus ini. Berharaplah Halilintar akan baik-baik saja.

Author note:

-Fanfic ini mengandung YAOI, Lemon

-Tidak suka Shounen-Ai/Yaoi? Silahkan skip fanfic yang ini. Masih ada karya lain saya yang non yaoi.

-Seluruh karakter yang terkandung di dalamnya adalah milik pemegang hak cipta, saya hanya pinjam karakter-karakternya. Tidak ada keuntungan materi yang saya dapatkan dari fanfic ini.

-Dalam fanfic ini umur karakter utama adalah sebagai berikut dari yang tertua:

Boboiboy Halilintar: 17 tahun.

Boboiboy Taufan: 17 tahun.

Boboiboy Gempa: 17 tahun.

Boboiboy Blaze: 16 tahun.

Boboiboy Thorn: 16 tahun.

Boboiboy Ice: 15 tahun.

Boboiboy Solar: 15 tahun.

Chapter 1. Janji Halilintar.

"Kita masih disini, angin bawaku pergi..." Gumaman lembut Halilintar mengalun diantara kedua bibirnya yang membuka tutup. Sebuah lagu dilantunkannya untuk menemani dirinya yang sedang sendirian di kamarnya.

Selembar kain lap dan botol semprotan air tergantung dari saku celana pendeknya. Ia menyemprotkan sedikit air dari botol itu ke atas meja belajarnya. Karena air yang berada di dalam botol itu sudah dicampur dengan sedikit sabun cuci piring, permukaan meja belajar itu langsung terlihat dipenuhi buih-buih gelembung berukuran kecil.

Dengan menggunakan kain lap yang dibawanya, Halilintar menggosok permukaan meja belajar miliknya. Bekas coretan-coretan tinta pulpen dan noda-noda yang ada di atas meja belajar itu perlahan memudar, terangkat oleh air bercampur sabun cuci piring dan gosokan penuh tenaga Halilintar.

Dengan kain lap yang sudah berlumuran air sabun itu, Halilintar lanjut membersihkan pinggiran ranjangnya yang terletak persis di samping meja belajarnya. Sebetulnya rangka pinggiran ranjangmya itu masih relatih bersih hanya saja banyak noda berwarna putih yang sudah berkerak dan terlihat mengganggu, oleh karena itulah Halilintar membersihkan rangka pinggiran ranjangnya sekalian.

Setelah ranjang dan meja belajarnya bersih, Halilintar meraih sebatang sapu yang tersandar pada tembok kamarnya. Dengan menggunakan sapu itu Halilintar membersihkan lantai di bawah ranjangnya.

"Uhuk!" Debu yang beterbangan akibat serokan sapu di tangan Halilintar membuatnya terbatuk-batuk. Memang bagian kolong ranjang itu jarang sekali dibersihkan. Demikian banyak debunya sampai beterbangan ke tubuh Halilintar yang siang itu tengah bertelanjang dada.

Bintik-bintik keringat di tubuh Halilintar membuat debu dari kolong ranjangnya itu melekat di badannya yang tidak tertutup baju. Karena itulah Halilintar memilih tidak memakai baju ketika ia membersihkan bagian kamarnya yang meliputi ranjang dan meja belajarnya. Dengan bertelanjang dada, ia bisa mengirit pemakaian baju bersih. Sebagai bonus tambahan, tubuhnya terasa lebih sejuk diterpa hembusan angin dari AC kamarnya dan juga tubuhnya lebih leluasa bergerak tanpa dihalangi oleh baju.

Karena sudah kepalang tanggung kotor, Halilintar memutuskan untuk sekalian membersihkan bagian bawah ranjangnya. Mudah bagi Halilintar untuk menyelinap ke bawah ranjangnya berkat ukuran tubuhnya yang kecil namun padat berotot.

Sesekali terdengar suara batuk-batuk atau bersin-bersin dari bawah ranjang dimana Halilintar berada. Karena terbatasnya ruang gerak, tidak mungkin ia menutupi hidungnya yang tergelitik debu dari kolong ranjangnya.

Begitulah kesibukan Halilintat hari itu. Sudah lama ia berniat membersihkan ranjangnya namun baru hari itu niatannya bisa terwujud. Sengaja Halilintar memilih hari dimana ia libur dan tidak mendapatkan giliran untuk jaga kedai dengan harapan bisa bekerja dengan tenang.

Namun...

"Haliiii!"

-Dugg!-

"Adaw!" teriak Halilintar sesaat setelah terdengar bunyi benturan. Si empunya suara langsung mendorong tubuhnya keluar dari bawah ranjang. Halilintar merengut kesal sembari memegangi dahinya yang sedikit memar. "Ya Taufan?" tanya Halilintar dengan nada super ketus sambil menatap adiknya yang berdiri di dekat ranjangnya.

Taufan yang tadi memanggil Halilintar terlihat berdiri dengan bersandar pada meja belajar milik Halilintar. Dari kaus tanktop putih dan celana hitam yang ia kenakan, Taufan nampak santai pada siang hari itu. Sama seperti Halilintar, Taufan sedang tidak mendapatkan jatah untuk jaga kedai.

"Ya Taufan doang?" Gantian Taufan yang merengut sebal. Manik netra biru safirnya balas menatap Halilintar tanpa berkedip. "Kamu lupa hari ini hari apa?"

"Hari Sabtu, tanggal empat belas Maret." jawab Halilintar tanpa basa basi. "Lain kali lihat ponselmu, ada kalendernya kan."

"Jadi kamu benar-benar lupa..." Wajah Taufan mendadak murung.

"Apa lagi, Taufan?" keluh Halilintar sembari menghela napas panjang. "Ulang tahun? Kan sudah kemarin? Aku, kamu, Gempa. Ulang tahun kita sama."

"Aku menagih janjimu dari tahun lalu." ketus Taufan sembari bertolak pinggang.

Halilintar menghela napas panjang. "Janji apa Fan?"

"Kamu janji akan memberi apa yang aku minta di ultah tahun ini..."

Halilintar mengerenyitkan dahinya. "Iyakah aku pernah janji begitu?"

Bibir Taufan langsung berkedut-kedut dan melengkung ke bawah. Kedua bola matanya kontan berkaca-kaca. "Hiks... Hali jahat..." lirih Taufan sembari membuang muka.

Suara Taufan yang lirih itu bagaikan sembilu yang menyayat-nyayat hati Halilintar. Walaupun Halilintar dikenal sebagai pribadi yang dingin dan sadis, ia paling tidak tahan melihat orang yang ia cintai bersusah hati. "Maaf Taufan." ucap Halilintar yang buru-buru berdiri. Ia langsung menarik Taufan ke dalam pelukannya. "Maaf aku lupa." ucap Halilintar dengan berat hati.

"Hali jahat... Janji ke aku bisa sampai lupa..." keluh Taufan yang kini berada di dalam pelukan Halilintar.

Semakin salah tingkahlah Halilintar karena Taufan tak kunjung terhibur. "I-iya, Taufan. Aku pernah janji padamu dulu." Gumam Halilintar yang sebetulnya benar-benar lupa akan janjinya. "Ba-bagaimana kalau sekarang?" tawar Halilintar yang sangat tidak ingin melihat kekasihnya berduka.

"Benarkah?" tanya Taufan sembari menatap netra merah rubi Halilintar.

Halilintar meneguk ludahnya ketika netra biru safir Taufan menatap dirinya tanpa berkedip. "I-iya, Fan. Sekarang pun kamu boleh minta apa yang kamu mau dariku." ucap Halilintar sembari melonggarkan pelukannya pada Taufan. "Tapi aku mandi dulu ya? Aku habis bersih-bersih kamar."

Berangsur-angsur bibir Taufan yang melengkung ke bawah pun mulai tertarik sampai melengkung ke atas. Kedua netra biru safirnya yang tadi berkaca-kaca kini terlihat ceria dan berbinar-binar. "Kalau begitu biar aku mandi berdua denganmu... Habis itu..." Senyuman Taufan terlihat semakin lebar. "Ada yang ingin kucoba denganmu."

Halilintar menghela napas panjang namun ia tetap tersenyum untuk orang yang ia sayangi. "Begitu ya?" tanya Halilintar sembari menarik-narik pinggiran kaus tanktop putih yang dikenakan Taufan. "Kalau begitu, aku milikmu Taufan..." ucap Halilintar lagi seraya menyibakkan baju kaus tanktop yang melekat pada tubuh Taufan.

Taufan membiarkan Halilintar menyibak baju kaus tanktop yang melekat di tubuhnya. "Terima kasih, Hali." ucap Taufan yang kini bertelanjang dada sembari terkekeh. "Ayo kita mandi." Taufan langsung menarik-narik Halilintar menuju kamar mandi.

"Astaga, sabarlah sedikit." ujar Halilintar ketika ia ditarik masuk ke dalam kamar mandi oleh kekasihnya itu. Walau begitu, Halilintar membiarkan Taufan menarik dirinya masuk ke kamar mandi. Tidak ada perlawanan dari Halilintar, toh ia memang bertujuan untuk mandi setelah selesai membersihkan kamar.

Sesampainya di dalam kamar mandi, Halilintar dan Taufan langsung melepaskan pakaian yang tersisa melekat pada tubuh mereka. Celana pendek yang melekat di tubuh mereka masing-masing dengan cepat didorong lepas.

Memang Taufan sudah sering melihat batang kejantanan Halilintar, namun tetap saja pemandangan harta berharga Halilintar itu membuat degup jantung Taufan menguat. Tak henti-hentinya Taufan melirik pada batang kejantanan Halilintar yang masih terkulai lemas ketika ia mulai membuka keran air pancuran di kamar mandinya.

"Hmmmh..." desah Halilintar lembut dengan netra merah safirnya yang terpejam. Air hangat yang tercurah dari pancuran kamar mandinya terasa nyaman di tubuhnya. Bukan itu saja yang membuat Halilintar merasa nyaman, ia juga merasakan dada Taufan kini menempel pada punggungnya.

Secara refleks Halilintar mengangkat kedua tangannya dan meletakannya di belakang kepala sebagai undangan bagi Taufan untuk menjelajahi tubuhnya. "Taufan..." desah Halilintar lembut sembari membusungkan dadanya yang cukup membidang dan berotot.

Senyuman Taufan mengembang. Ia melingkarkan kedua tangannya di dada dan perut Halilintar. Ditariknya Halilintar ke dalam pelukannya yang erat sementara tangannya meraba dada Halilintar yang terasa padat dan kenyal. "Halintarku..." gumam Taufan ketika kepalanya mendarat lembut di pundak Halilintar.

Taufan mematikan keran air pancuran ketika ia merasa tubuhnya dan tubuh Halilintar sudah cukup basah. Sebotol kecil sabun mandi cair pun dituangkan oleh Taufan pada tubuh Halilintar dan tubuhnya sendiri. Sebentar saja sabun cair yang diusapkan Taufan pada tubuh Halilintar bertukar menjadi gelembung busa yang licin.

Dengan lembut Taufan mengusap dada Halilintar yang dirasanya licin setelah penuh dengan busa sabun.

"Taufaan..." Desahan Halilintar terdengar menguar dari tenggorokannya seiring dengan kedua kakinya yang mulai gemetaran. Mati-matian Halilintar menahan diri untuk tetap meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan tidak menyentuh batang kejantanannya yang mulai mengacung.

Taufan hanya diam saja. Ia membiarkan tangannya yang berbicara menggoda Halilintar. Ujung jari kedua telunjuk Taufan yang licin oleh busa sabun bergerak memutari kedua puting dada Halilintar yang membulat. Dengan penuh kelembutan Taufan memilin-milin gumpalan daging yang bulat dan berangsur mengeras di dada kekasihnya.

Sayangnya Taufan tidak melihat wajah Halilintar. Netra merah safir Halilintar bertukar sayu sementara mulutnya membuka lemas seakan tanpa kendali. Desahan dan lenguhan tertahan mengalun lembut dari tenggorokan Halilintar.

Sengaja sekali Taufan tidak menyentuh batang kejantanan Halilintar yang mengacung. Ia tidak mau Halilintar mencapai puncaknya dan mendapat kepuasan dengan begitu mudahnya. "Jangan turunkan tanganmu, Hali... Atau kuhukum kamu." bisik Taufan sembari menyeringai.

"Hngggh..." lenguh Halilintar sembari mengangukkan kepalanya. Ia membiarkan dirinya dipeluk semakin erat oleh Taufan. Berkali-kali Halilintar meneguk ludah ketika puting dadanya dielus lembut oleh Taufan.

Tidak hanya puting dada. Kini telapak tangan Taufan mulai merambati pinggang Halilintar. Taufan benar-benar menjelajahi setiap lekuk tubuh Halilintar yang terpapar dengan begitu bebasnya. Mulai dari pinggang Halilintar yang ramping, rusuknya yang berotot, sampai pada kedua ketiak Halilintar yang masih saja polos walaupun di usia tujuh belas tahun.

"Ja-jangan ketek aku Taufan." pinta Halilintar dengan bibir yang berkedut-kedut menahan geli. Semakin kuat Halilintar mengatupkan kedua tangannya untuk mencegah kedua tangannya itu turun dari atas kepalanya.

"Ternyata kamu sama dengan Blaze ya? Gelian di ketek..." Taufan terkekeh ringan sembari terus saja mengelus kedua ketiak Halilintar dengan ujung jarinya.

"Su-sudah! Jangan Fan. Aku ngga tahan geli!" Bahkan Halilintar mulai memutar-mutarkan tubuhnya dan mencegah Taufan meraba kedua ketiaknya yang terpampang bebas.

Beruntung bagi Halilintar karena Taufan menyudahi siksaan lembutnya. Halilintar menghela napas lega dan menurunkan kedua tangannya dari atas kepalanya. Tanpa perlu diberi tahu, Halilintar menuangkan sabun cair ke telapak tangannya sebelum ia membalikkan badannya.

Tidak ada keraguan sedikit pun ketika Halilintar menarik Taufan ke dalam pelukannya. Tangannya yang sudah penuh dengan sabun mandi langsung bergerak mengusap dada Taufan yang sedikit terbusung. Segera saja bagian depan tubuh Taufan penuh dengan busa sabun yang lembut dan nyaman.

Taufan membiarkan tangan Halilintar yang terasa kasar dan berotot itu menggerayangi tubuhnya. Tidak hanya membiarkan, bahkan Taufan mengundang Halilintar untuk menjelajahi tubuhnya yang sedikit dilengkungkan ke belakang.

Dari dada, kini tangan Halilintar merambati punggung Taufan. Pada saat itu pulalah Halilintar menarik Taufan ke dalam dekapannya. Tanpa peringatan, Halilintar menempelkan bibirnya pada bibir Taufan.

"Mmhh." lenguh Taufan yang tidak siap menerima cumbuan Halilintar. Ia hanya bisa memejamkankan kedua kelopak matanya. Taufan membiarkan lidah Halilintar menembus kedua bibirnya yang membuka dan menjelajahi rongga mulutnya.

Lidah keduanya saling bertemu dan bertautan. Cumbuan Halilintar dan Taufan pun semakin dalam. Sekuat tenaganya Taufan berusaha menahan napas. Tidak ingin rasanya ia mengakhiri cumbuan yang membuatnya semakin bernapsu.

Erangan dan lenguhan Taufan semakin jelas terdengar ketika ia merasakan batang kejantanannya bersentuhan dengan batang kejantanan Halilintar.

Taufan mendorong-dorong pinggulnya, semakin lekat ia menempelkan batang kejantanannya pada batang kejantanan Halilintar bahkan ketika cumbuan mereka sudah terputus.

"Kamu mau keluar, Fan?" tanya Halilintar dengan berbisik lembut di daun telinga Taufan.

Taufan menggelengkan kepalanya. Gelengan kepala yang merupakan jawaban Taufan membuat Halilintar heran karena biasanya Taufan akan mendesak supaya isi kejantanannya dikeluarkan. "Aku masih mau menikmatimu, Hali..." ucap Taufan seraya memutar keran air hangat pancuran kamar mandinya.

Guyuran air dari pancuran yang berada di atas kepala Halilintar dan Taufan dengan cepat membilas tubuh mereka yang penuh sabun. Dalam hitungan menit saja tubuh mereka sudah bersih dari busa sabun dan menguarkan aroma mint khas sabun mandi milik Taufan.

Masih telanjang bulat, Halilintar dan Taufan melangkah keluar dari kamar mandi. Dari sebuah rak kecil yang berada di dekat pintu kamar mandi, Halilintar mengambil dua buah handuk. Sebuah handuk dioperkan kepada Taufan dan yang satunya lagi dipakainya sendiri.

"Nah, apa lagi, Fan? Kamu bilang tadi mau menikmati aku?" Sebuah senyuman tipis namun tulus mengulas di wajah Halilintar.

"Yap." jawab Taufan sembari mengeringkan tubuhnya dengan handuk. "Kamu ngga keberatan 'kan, Hali?" Dengan penuh isyarat, Taufan mengedikkan kedua alis matanya.

"Ngga kok." jawab Halilintar. Ia hendak membuka lemari pakaiannya ketika Taufan menghentikan tangannya.

"Kamu ngga usah pakai baju, Hali." ucap Taufan. Ia sendiri mulai mengenakkan celana pendek hitam yang tadi ditanggalkan sebelum mandi.

"Eh? Lalu kamu sendiri?" Halilintar mengerenyitkan dahi ketika melihat adiknya itu sudah bercelana pendek sementara dirinya masih telanjang bulat.

"Tunggu sebentar." Senyuman lebar Taufan mengembang. "Ada sesuatu yang mau kuambil dulu." ucap Taufan sambil melangkah keluar dari kamarnya.

Halilintar tidak sempat berkata apa-apa ketika Taufan pergi meninggalkan kamar. "Apa lagi yang ada di otaknya kali ini...?" keluh Halilintar sembari duduk di atas ranjang miliknya. Bisa saja ia berpakaian atau minimal mengenakan celana, namun Halilintar juga tidak mau membuat Taufan kecewa. Oleh karena itu ia memilih untuk tidak berpakaian dan menunggu Taufan kembali.

Tidak berapa lama berselang sebelum Taufan kembali ke kamar. Dalam genggaman tangannya terdapat empat buah gulungan plastik cling wrap dan lima gulung lakban berwarna perak. "Sudah lama aku mau coba ini padamu, Hali."

"Hah?" Halilintar tercengang ketika ia melihat barang-barang yang dibawa oleh Taufan. "Buat apa semua itu? Plastik cling wrap? Lakban?" tanya Halilintar.

"Berdiri saja, Hali... Nanti kamu akan tahu." Taufan tersenyum lebar selagi ia mengupas sebuah gulungan plasrik cling wrap. "Kamu 'kan sudah janji mau memberikan apa saja yang aku mau."

Halilintar menghela napas panjang dan menuruti kemauan Taufan. "Ya sudahlah, memang aku sudah janji..." ucap Halilintar seraya berdiri dari ranjangnya. "Nah, memang kamu mau buat apaan sih?"

"Nanti kamu bakal tahu sendiri kok." Jawab Taufan dengan menyungging senyum.

Sayangnya Halilintar tidak melihat senyuman Taufan bertukar menjadi seringaian jahil.

.

.

.

Bersambung.

Terima kasih kepada para pembaca yang sudah bersedia singgah. Bila berkenan bolehlah saya meminta saran, kritik atau tanggapan pembaca pada bagian review untuk peningkatan kualitas fanfic atau chapter yang akan datang. Sebisa mungkin akan saya jawab satu-persatu secara pribadi.

Sampai jumpa lagi pada kesempatan berikutnya.

"Unleash your imagination"

Salam hangat, LightDP.