PROLOG

Angin musim semi bergerak lembut kearahnya, membelai wajah berkulit pucat yang sedang menatap pemandangan di bawahnya. Surai nya bergerak lembut di terpa angin yang tak kalah lembut dan ringan. Memandang hamparan perkebunan teh dan sayur yang mendiami tanah dibawah sana. Manik coklat terangnya terlihat berbinar-binar dan penuh dengan ketenangan.

Seolah tak ingin kalah juga memberi ketenangan pada si manik coklat, mentari bersinar terang dan hangat di atas sana di tambah dengan beberapa burung berkicau merdu membuat dirinya bersenandung kecil menikmati kicauan burung-burung tersebut. Ditambah dengan bukit-bukit di sekitarnya yang di tumbuhi pepohonan dan rerumputan yang lembab. Terutama yang ia duduki mungkin roknya sudah terlanjur basah dan sedikit kotor.

Daun-daun yang tumbuh pada pepohonan di belakangnya bergerak lembut di terpa angin musim semi. Harum tanah basah, bunga-bunga kecil yang bermekaran di sekitarnya, dan rerumputan lembab menjadi bau yang satu padu tercium oleh hidung kecilnya. Dedaunan kering yang lepas dari rantingnya jatuh di atas Surai coklat tersebut. Sama sekali tak terusik, ia tak ingin mengalihkan pandangannya dari sana padahal begitu banyak hal-hal kecil yang cukup untuk menarik perhatiannya. Tapi dia tetap tidak terusik dengan sekitarnya.

Dipangkunya sebuah buku bersampul coklat tua yang sedikit usang dimakan oleh waktu. Dan menggenggam sebuah pena tangan kanannya. Entah apa yang sedang dipikirkan si manik coklat terang tersebut. Sepertinya dia begitu mendalami dan terhanyut dengan apa yang ia lihat. Cukup lama dia terduduk di sana, jam kecil yang melingkar di tangan kirinya bersuara dengan kecil tapi tenang. Lalu, tangannya mulai bergerak menuliskan sesuatu di buku usang itu, entah apa yang sedang ditulisnya hingga ia tersenyum kecil. Ia masih begitu sibuk dengan tulisannya. Dan para petani di bawah sana pun masih begitu sibuk dengan pekerjaannya.

Tanpa terasa angin musim semi yang berhembus pelan tadinya berubah sedikit kencang. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi sedikit gelap dan berawa. Burung-burung yang berterbangan pun tau sebentar lagi akan hujan. Banyak dedaunan kering yang jatuh dari batangnya serta para petani juga sepertinya tau hari akan hujan dan bergegas pulang.

Tapi, seolah tidak perduli si manik coklat terang masih saja sibuk dengan tulisannya masih sibuk tersenyum-senyum kecil di sela-sela dia menulis. Hingga pada akhirnya setetes air dari atas sana mengenai kulit tangannya yang pucat barulah ia tersadar sebentar lagi akan hujan. Si manik coklat terang terburu-buru membereskan barang-barangnya dan pergi dari atas bukit yang berwarna hijau maya-maya tersebut. Berlari turun kebawah dengan hati-hati takut tergelincir. Si manik coklat terang menengadah dan mulai lah turun hujan dengan teratur. Dia semakin cepat berlari kebawah menghindari hujan. Hingga sampailah ia di bawah sana.

Ada jalan bebatuan yang di sebelah kanan menuju ke arah sebuah desa yang ia tinggali dan di sebelah kiri merupakan jalan menuju hutan yang ada di sekitar bukit tersebut. Ia berjalan ke arah kanan menuju desa yang ia tinggali. Berlari secepat mungkin melewati pepohonan yang rimbun di sekitar jalanan hingga dia terjatuh dengan sendirinya disekitar perbatasan desanya. Ia tersandung oleh batu ketika ia berlari. Semuanya berserakan, bukunya, kertas-kertas yg ada di dalam buku tersebut dan penanya terkena oleh lumpur. Hujan semakin deras hingga membuatnya benar-benar basah kuyup.

Bajunya kotor oleh lumpur serta lututnya sedikit luka. Ia berjalan tertatih mengumpulkan kertas-kertas berharganya, bukunya serta pena tersebut. Lalu dia berteduh di sebuah gubuk tak terpakai. Terduduk di atas kursi yang ada di sana dan mulai mengobati luka dilututnya. Ia mengambil air hujan yang turun di atap gubuk tersebut dengan menampungya dengan tangan dan membasuh kan ke lukanya.

"Aw, sakit," ucap si manik coklat terang.

Lalu dia merobek roknya yang sudah terkena lumpur dan membersihkan dengan air yg ia tampung kemudian mengikat kain tersebut ke lututnya.

"Ah sial, bajuku benar-benar kotor," ucapnya, "ugh, kertas-kertasku juga kotor."

"Kok sial gini sih," kata si manik coklat sambil menggerutu tidak jelas. Dan mulai terdiam setelahnya. Si rambut coklat ini mulai melamun diiringi suara rintikan hujan di sekitarnya. Bunyi beberapa petir mengiringi lamunannya juga. Entah apa yang ia lamunkan. Nafasnya keluar dengan teratur dari hidung kecilnya. Kaki pendeknya yang ia gerak-gerakkan layaknya ayunan bergerak lambat mengikuti ketukan jarinya.

Hujan tak kunjung reda juga. Di dalam pikirannya begitu random tak karuan. Lalu dia menundukkan kepalanya sehingga surai coklatnya hampir menutupi sebagian mukanya. Memandang kaki beralas sepatu tua dan memandang bukunya lagi. Ia mengusap pelan sampul buku itu, lalu membukanya kembali setelah cukup kering. Di halaman pertamanya sedikit kotor akibat lumpur tadi.

"Hah, jadi kotor. Bagaimana cara membersihkannya ini," ucapanya lirih tersemat kekhawatiran di dalamnya. Tak kunjung bersih juga pada akhirnya dia mulai menuliskan sesuatu lagi. Sesekali dia mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan sekitar. Masih sibuk menuliskan sesuatu di bukunya.

"Sial, Kenapa tinta penanya musti habis!" Katanya. Dia manik coklat pun menghela nafas lelahnya. Lalu dia tutup buku tersebut dan memandang ke depan kembali. Keadaan benar-benar sepi, meskipun dia sudha ada di sekitar desanya. Tapi jalanan begitu sepi dan hanya ada beberapa rumah dan gubuk di sekitarnya. Tapi tetap saja sepi tak ada yang keluar, semua orang mengurung diri di dalam rumah masing-masing. Beruntung dia menemukan gubuk ini.

Srekk...

Srekk...

"Apa itu?" Ucapnya. Di seberang sana dia melihat grasak-grusuk dari balik semak-semak tersebut. Tiba-tiba keluarlah seekor anak anjing yang mungil dari sana. Dia sepertinya begitu kedinginan dan sudah basah kuyup. Dengan tergesa-gesah si manik coklat tersebut berlari kesebrang sana dia tidak peduli basah kuyup lagi. Dia begitu kasihan kepada anak anjing tersebut. Lalu dia mendekat ke arah anak anjing tersebut dan merentangkan tangannya.

"Hei kenapa dirimu ada di sini?" ucapanya. "Lihatlah dirimu basah dan kedinginan aku kan membawamu jangan takut," ucapnya lagi. Tapi, terlihat jelas di anak anjing masih takut. Dengan kesabaran si manik coklat menunggu hingga anak anjing itu mau mendekat kepadanya. Sepertinya anak anjing ini terluka.

"Tak apa, aku tak akan menyakiti mu," kata si manik coklat. Lalu berangsur sedikit demi sedikit si anak anjing berjalan ke arah rentangan tangan si manik coklat. "Anak pintar," ucapnya.

Lalu setelahnya, si manik coklat pergi berlari lagi ke gubuk tersebut untuk mengobati dan mengeringkan tubuh anjing tersebut. Di duduk di kursi yg ada di sana dan mulai mengeringkan badan anak anjing tersebut menggunakan roknya. Badan anak anjing tersebut sedikit menggigil.

"Aku penasaran kenapa kau ada di sana? Kemana orang tua mu? Apakah kau sendiri? Hei, jangan takut aku tak akan menyakiti mu oke. Aku hanya ingin membantu mu," ucapanya perlahan sambil mengeringkan badan si anak anjing tersebut. Lalu dia mengambil air hujan dan mengusapkannya ke luka yg ada di kaki anak anjing tersebut. Ia membersihkan kotoran-kotoran yg menempel di sekitar luka tersebut. Anak anjing itu terlihat meringis kesakitan.

"Apakah sakit? maafkan aku kalau gitu,"

Seolah mengerti dengan apa yg di bilangnya. Anak anjing itu mencoba mendekat dan menempelkan badannya di tubuh basah si manik coklat. Si manik coklat tersenyum senang dan mengusap pelan kepala si anak anjing tersebut. Dia senang si anak anjing tak takut kepadanya lagi. Tapi disisi lain dia begitu penasaran kenapa di tengah-tengah hujan deras ini tiba-tiba ada seekor anak anjing. Padahal ia cukup lama ada disitu.

"Entahlah aku bingung," katanya sambil menguap kecil dan masih mengelus kepala anak anjing tersebut dan ternyata anak anjing tersebut telah tidur di pangkuannya dengan nyaman. Hingga tak berapa lama kemudian ia pun ikut jatuh tertidur di atas kursi tersebut dengan tangan yg memangku buku dan menggenggam penanya. Kepalanya tersandar pada dinding kayu gubuk tersebut. Hujan masih terus berlanjut dan disela-sela itu terdapat gelegar petir yang mengiringi tidur si manik coklat. Dan tanpa sadar ia memeluk si anak anjing dengan erat dan hangat.

Dan seketika anak anjing itu hilang dari pelukan si manik coklat. Dan hanya tinggal sendiri ia di sana. Dia tidak sadar anak anjing tadi adalah seekor serigala besar yang hanya sedang mencari seseorang yang memang sedang ia incar. Betapa bodohnya ia tak menyadari kekuatan magis itu. Serigala tadi pergi kedalam hutan dan menghilangkan bagaikan debu. Dengan keadaan yang masih hujan dan diiringi oleh petir.

e)(o

Siang menjelang sore, riak air sungai yang terdengar lambat dan rumput yang bergoyang dengan pelan. Sepasang sepatu berpijak di atasnya. Berjalan-jalan menyusuri sungai tersebut. Dan menikmati kesunyian di antara berisiknya dunia ini. Dunia tidak akan pernah sunyi karena dunia memang begitu berisik. Tidak ada yg namanya kesenyapan. Sekalipun sunyi pasti tetap ada terdengar suara, cobalah kalian berada pada suatu ruangan yang kosong dan tutuplah mata kalian dan rasakan apakah ada suara, tentu saja ada. Suara detak jantung mu.

Begitulah lah yang dia rasakan oleh anak laki-laki yang sedang terduduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke arah sungai yang terlihat jingga sebab pantulan sinar di ufuk barat sana. Menikmati sunyi nya suasana sekitar. Matanya tertutup dengan suara berisik bumi ini sebagai sebuah irama yang selalu setiap saat dia dengar. Sekalipun ia tertidur ia masih mendengarnya. Kelopak mata tersebut terbuka. Manik birunya yang pucat seolah kosong. Menatap hampa ke arah depan.

Seorang bodyguard nya tegak agak lebih jauh di belakangnya. Mengamati sang tuannya dalam diam. Rumput yang bergoyang pelan di terpa angin sore. Bunga-bunga yang tumbuh di musim semi, kupu-kupu yang berterbangan pelan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Rambut hitam legam yang tertiup pelan. Ia memegang tongkatnya di sebelah kanannya. Menggenggam erat, masih menatap kosong di depan sana. Menggoyangkan kaki kecilnya perlahan. Bersenandung kecil.

"Hmm..." gumamnya

Begitu banyak orang berlalu lalang di depannya. Dengan segala macam suara yang begitu memekakkan telinga. Ya, ia benar-benar peka akan suara dan terkadang ia kesakitan hanya karena suara-suara itu. Ia masih merenung di tempatnya. Hingga sebuah serangga hinggap di tangannya. Awalnya ia tak menyadarinya tapi lama-lama serangga itu merayap pelan di tangannya. Dia hanya diam saja, ia tak tau serangga macam apa yg hingga di tangannya. Cukup lama menunggu, hingga akhirnya serangga itu pergi sendiri.

"Ahh, dia pergi," ucapnya lirih.

Hari semakin menjelang malam dan sepertinya ia tau akan sangat tidak baik anak kecil berkeliaran ketika hampir gelap. Ia pun tegak dan menyusuri jalan di samping kursi tersebut, diirirngin dengan bodyguard nya. Lalu masuk ke dalam mobil dan kembali kerumahnya.

Jingga di balik-balik beton-beton tinggi itu merayap perlahan dan perlahan warnanya mulai pekat menjadi biru gelap. Pepohonan di di sepanjang jalanan seolah kabur dan menjadi satu baur dengan keadaan sekitar. Hingga pada akhirnya si manik biru tersebut tertidur di kursinya. Setelah cukup lama termenung dengan menatap kosong pemandangan di depan dan memegang tongkatnya dengan erat.

Lampu-lampu rumah dan taman yang hidup di sekitar daerah itu. Membuat malam itu tidak terlalu menakutkan dan gelap. Suara deru mesin yang berhenti di depan pagar putih yang menjulang tinggi. Dengan satu dua pepohonan yang mengisi taman tersebut.

"Tolong bukakan pagar ini!"

Gesekan antara besi saling beradu membuat si manik biru tersebut terbangun dan langsung menegakkan tubuhnya. Menatap sekelilingnya dan ternyata ia masih di dalam mobil. Ia keluar dari mobil dan mulai berjalan pelan dengan tongkatnya yang ia pegang untuk meraba sekitarnya. Sampai di depan pintu, langsung sang _bodyguard_nya membukakan dan berpesan.

"Hati-hati tuan muda,"

"Ya, terimakasih," ucap sia manik biru tersebut kepada sang pengawalnya dan tersenyum kecil. Lalu ia masuk dan berjalan pelan menaiki tangga dengan perlahan dan sampailah dia di dalam kamarnya. kamar itu terlalu jauh dari tangga, agar ia lebih mudah mencapai tangga dan turun dengan selamat. Derit suara pintu terbuka, ia masuk ke dalam dan membuka gorden jendelanya. Sinar sang rembulan yang baru saja naik menerpa mukanya. Ia bisa merasakannya begitu terang.

"Apakah hari ini bulan purnama?"

Ia duduk di dekat jendela tersebut membuka sedikit jendela agar udara masuk ke dalam. Ia terdiam dan meletakkan tongkatnya di sebelahnya. Kepalanya dengan lembut menyandar ke bingkai jendela. Matanya yang tampak kosong bergulir kesana kemari. Ia nampak khawatir dengan alis yang mengerut di dahinya. Lalu ia bangkit dan meraba-raba dinding dan mulai menghidupkan penerang ruangan. Ia berjalan pelan kearah mejanya dan mengambil sebuah buku. Mengusap perlahan dan meresapi sentuhannya. Ia tau ini hanyalah buku kosong. Entah kenapa ia ingin menyimpan buku kosong tersebut. Ia tau karena ia pernah melihatnya sebelumnya tepatnya dalam mimpinya dan ia bertanya kepada sang pengawalnya dan ternyata hal yang ada dalam mimpinya memang benar.

Mengambil setumpuk sticky note di laci mejanya dan mulai menuliskan beberapa kata di atasnya dan menempelkan dalam buku tersebut. Entahlah, ia tidak tau kenapa dia menggunakan sticky note di banding menuliskan langsung. Ia tegak dari duduknya dan mulai naik ke tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya menarik selimut dan mulai memejamkan matanya. Ia tertidur.

Di depan pintu itu, berdiri ibunya mengamati sang anak yang terlelap dalam tidurnya. Raut wajahnya yang kian hari bertambah pucat dan menua. Ia tau anaknya begitu despresi dan merasa lelah, tekan batin yang anaknya rasakan pun dapat ia rasakan juga rasa empati dan simpati bercampur dalam hatinya. Ia merasa kasian dengan anaknya, tapi disisi lain ia merasa kagum karena anaknya begitu tabah nan sabar menghadapi masalah. Selalu optimis dan percaya yang mungkin aja impossible.

Sang ibu berjalan pelan ke dalam kamar. Duduk di pinggiran kasur, mengusap pelan rambut kelam sang anak.

Di lain tempat, si manik biru terduduk di sebuah taman yang begitu indah di tepi danau yang begitu besar. Di atasnya di tumbuhi beberapa bunga Lotus. Berwarna putih. Si manik biru tersebut membuka matanya dan ia bisa melihat sekitarnya, begitu indah. Dan begitu menenangkan. Ia meraba sekitar, ia masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Ini sulit dipercaya," ucapnya setengah berteriak.

Dia bangkit dari duduk nya dan berjalan mengitari kolam hingga dia ada di sebrang titik awal ia terduduk. Ia lagi-lagi terkagum-kagum dengan sekitarnya. Tiba-Tiba datang seorang wanita dari arah belakangnya dan menepuk bahunya pelan. Si manik biru langsung saja menoleh ke belakangnya. Ia melihat seorang wanita dewasa yang begitu cantik. Ia dibuat terkagum-kagum melihatnya. Si wanita hanya tersenyum lembut dan mengusak pelan kepalanya.

"Hai, tampan," ucap sang wanita. "Ingin berjalan-jalan? Kau pasti penasaran," ucapnya lagi.

"Ya, aku dibuat terkagum-kagum. Tempat apa ini?" Kata sang manik biru sambil berjalan beriringan dengan sang wanita. Si manik biru berucap dengan lirih, "Dan siapa kau?"

"Suatu tempat yang mungkin kau bisa anggap Neverland? Aku hanya seseorang yang tinggal di sini" ucap sang wanita terkikik kecil.

"Tempat macam apa itu? Seperti cerita Peter Pan. Sungguh ini Neverland?" Ucapnya sambil menggaruk kepalanya bingung. Sang wanita begitu gemas melihat tingkah laku si manik biru tersebut. Dan mengusak kepala si manik biru dengan gemas.

Si wanita tersebut berkata, "tidak, aku hanya bercanda. Itu sebuah rahasia tidak boleh di beritahu. Anggap saja ini seperti Neverland."

"Owh oke, Lalu kita akan kemana?"

Si wanita hanya diam saja hingga akhirnya ia membawa si manik biru itu di sebuah hutan yang rimbun mereka berjalan-jalan di sana tapi tidak ada yang membuka suara. Seolah tau untuk menghilangkan kecanggungan tersebut. Sang wanita mengambilkan satu buah apek yang bisa ia gapai dan memberikannya ke si manik biru. Si manik biru tersenyum senang sekaligus manis.

"Terimakasih," ucapnya tulus.

"Hei, lihat kesini. Ada sekarang anak tidur di sebuah gubuk di senang hutan ini," ucap sang wanita.

"Owh benarkah? Memang kenapa?" Ucap sang manik biru.

"Coba lihat, bukan kah itu buku yang sama dengan yang kau punya?"

"Bagaimana kau bisa tau?"

"Karena, sesuatu? Seiring dengan waktu kau akan tahu," ucap sang wanita memagang tangan si manik biru pelan.

"Benarkah itu memang sama?" kata si manik biru sambil melihat kesebrang sana dengan penasaran. Meremat bajunya pelan dan memajukan bibirnya sedikit. Sedangkan si wanita tersenyum hangat sekaligus gemas melihat si manik biru.

"Mau di buktikan? Baiklah, tapi kau harus menjadi seekor serigala dulu, namun dalam ukuran lebih kecil," ucap sang wanita dengan terkikik kecil.

"Tidak masalah"

Ia benar-benar penasaran, dan tidak mudah percaya begitu saja. Tak lama setelahnya ia pun berubah menjadi seekor serigala kecil. Mungkin lebih tepatnya seekor anak serigala. Ia pun keluar dari semak-semak hutan tersebut dan mendapatkan luka di kakinya.

"Srhhh..." Ia meringis kecil karena lukanya.

Lalu ia melihat sang anak di bawah gubuk itu melihat ke arahnya. Lalu sang anak tersebut berlari kearahnya. Seketika si serigala tersebut terbuai oleh paras cantiknya.

"Benar-benar cantik," ucapnya salam hati.

Kemudian si anak tersebut membawanya kesebrang sana lebih tepatnya ke gubuk tersebut dan mengeringkan badannya serta mengobati kakinya. Ia benar-benar terpesona dan merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tak tahu apa yg ia rasakan sekarang tapi hal tersebut cukup menyenangkan.

Sedangkan di sebrang sana tepatnya di dalam hutan tersebut sang wanita tersenyum dan menghilang bagaikan debu. Keadaan disana hujan cukup deras dan si anak tersebut hanya sendirian di temani seekor serigala yang kedinginan. Si manik biru makin terkagum-kagum ketika manik mereka berdua bertemu manik sang anak tersebut begitu cantik coklat terang dan indah menurutnya

"Tuhan, begitu indah mata itu," ucapnya si manik hitam dalam hatinya. Lalu ia melihat kearah bawahnya dan menemukan buku yang sama dengan miliknya. Dia dibuat terkagum-kagum lagi. Benar ucapan sang wanita tersebut. Hingga akhirnya ia melihat sang manik coklat anak tersebut mulai meredup dan tertutup sempurna. Ia pun menutup matanya mencoba menikmati pelukan tersebut. Merasakan sensasi hangat dan dingin menjalar bersamaan di tubuhnya, menikmati gelegar petir yang menyambar-nyambar.

Ia kemudian tersadar. "Aku tak boleh lama-lam aku harus menemui sang wanita tersebut," ucap si manik biru dalam hatinya untuk kesekian kalinya. Ia mendengking pelan dan berlari dari pelukan sang anak tersebut lalu bejalan ke hutan dan berubah menjadi dirinya sebagi manusia. Tapi ia tak menemukan sang wanita itu di mana pun.

Sungguh aneh, tak lama kemudian dia terbangun dari tidurnya dalam keadaan keringat bercucuran di pelipisnya. Ia mengambil segelas air yang terletak di atas meja tersebut dan meminumnya pelan lalu tidur kembali dengan perasaan senang dan bahagia. Senyum tulus terukir di bibirnya.