Home, where my heart belongs
Dering telepon membangunkan Hiro pagi itu. Dia meraba meja di samping tempat tidur, menggapai ponsel, lalu mengerutkan kening.
Ponselnya mati.
Riing riing riing …
Rupanya telepon rumah.
Ralat, telepon Lucky Cat Cafe.
Hiro mengerang, kembali terlentang di atas kasur yang hangat. Lirikan ke jam dinding kamar memberi tahu sekarang baru pukul 7:15 pagi. Siapa orang iseng yang menelepon kafe yang sudah tutup setahun sepagi ini? Hiro memejamkan mata, berharap bunyinya berhenti.
Nah. Seperti itu. Damai…
Lima menit berlalu, tapi rasa kantuknya belum kembali. Hiro menggerutu, lalu memutuskan untuk duduk. Memasang charger ponsel, membiarkannya mengisi baterai dalam keadaan mati.
Buka jendelanya, Kepala Batu. Pengap sekali. Hah, padahal aku baru mandi, rasanya sudah mau keringatan lagi. Giliranmu, kamar mandi sudah kosong, tuh. Sekalian pungut kaos kakimu yang bau jempol itu! Setidaknya jangan lempar ke bawah tempat tidurku lagi.
Hiro tidak memandang ke bagian kamar yang sudah tidak ditempati lagi. Entah bagaimana dia sempat memasang kain penutup sebelum bergegas pergi tahun lalu, sehingga tempat tidur kosong itu tidak kotor. Tapi lantai dan perabotan kamar tidur itu sudah berdebu, membuatnya bersin ketika bangkit dari tempat tidur.
Ayolah, hidungmu sudah meler, tuh. Waktunya beres-beres.
Hiro menyunggingkan senyum kecil, lalu membuka tirai dan jendela kamar di loteng itu. Sinar matahari pagi menelisik masuk, udara segar mengisi ruangan kecil yang bersekat-dia tidak pernah mencopot sekat itu atau mengubah tata letak ruangan. Langit biru berhias awan putih membentang di atas kota. San Fransokyo yang biasanya sibuk, berisik, dan berawan kini cerah, sepi, dan senyap.
Bukan hanya kota ini, berbagai kota di seluruh dunia juga menghadapi situasi yang sama. Semua karena virus VExD-39, yang mulai mewabah sejak Desember 2039 yang lalu. Tahun baru lewat tanpa peringatan yang berarti. Begitu masuk pertengahan Februari 2040, berbagai kasus meledak di mana-mana, bagai kembang api tahun baru yang terlambat dinyalakan.
Virus tersebut dengan mudah berpindah dari manusia ke manusia lewat sentuhan dan droplet. Inkubasinya cepat, tapi pemulihannya lama. Banyak yang tidak dapat bertahan selama itu. Statistik menunjukkan dari 100 orang yang kena, 35-nya wafat.
Hiro menarik napas panjang dan mengacak rambut. Dia beruntung masih bisa pulang sebelum perbatasan ditutup. Walau pulang adalah sebuah kata yang relatif, karena tidak ada siapa pun yang menunggunya di rumah.
Awalnya dia juga tidak yakin dia bisa menyebut Lucky Cat Cafe ini sebagai rumah. Toh dia sudah meninggalkannya tahun lalu, setelah Tante Cass tiada. Dia tidak bisa-tidak bisa-tetap berada di sini dan teringat pada dua orang terkasihnya tiap kali dia menoleh ke sudut-sudut penuh kenangan di rumah ini. Dia bisa gila. Dia harus pergi, jadi dia pergi. Ke mana saja, mengikuti arah angin. Mencoba menemukan jawaban apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Tim pahlawan super mereka sudah bubar sejak empat tahun lalu, saat teman-temannya lulus kuliah dan punya pekerjaan yang dapat menghasilkan uang (dan membayar pinjaman pendidikan). Honey Lemon bekerja di luar negeri dan menikah tak lama kemudian. Wasabi punya bengkel otomotif sendiri. Gogo Tamago pindah ke New Yoroshima. Fred… yah, Hiro meminjam uang dan bekerja sama dengannya untuk mengembangkan franchise kafe Tante Cass.
Untuk beberapa lama keadaan menjadi stabil, Hiro disibukkan oleh urusan bisnis kafe dan sering pergi ke luar kota. Tante Cass akan menyambutnya dengan hangat setiap kali dia pulang, kamarnya selalu dalam keadaan bersih dan persis seperti saat ditinggalkan. Mereka makan bersama, Tante Cass menggoda Hiro yang mulai menarik lirikan para wanita, Mochi melingkar di pangkuannya saat mereka duduk bersantai di ruang TV, Baymax menemaninya tidur dengan badannya yang empuk di kamar.
Lalu kecelakaan itu terjadi-kenapa harus selalu kecelakaan? Apa hidupnya belum cukup tragis?-dan Hiro melarikan diri.
Mochi diurus Fred, sekalian urusan operasional franchise kafe. Lucky Cat Cafe di rumah Tante Cass ditutup, Baymax dia tinggalkan di dalam koper di ujung kamarnya.
Hiro melirik ke sudut ruangan, lalu mendesah. Beranjak mengambil koper merah besar itu, lalu menyalakan sahabatnya.
Kalau dia masih bisa disebut sahabat… mana ada orang yang meninggalkan sahabatnya begitu saja?
Tapi Baymax kan robot, tentu tidak akan tersinggung kalau ditinggalkan sebentar, bukan?
Tubuh balon Baymax membesar, indikator power-nya berkedip. Di layar tertera kata "Prompt command?".
"Inisiasi program," gumam Hiro lembut.
"Sabtu, 3 Maret 2040 pukul 7:32. Lokasi penanda rumah di Lucky Cat Cafe, San Fransokyo. Program medis dan asisten terpasang aktif. Daya baterai 90%. Selamat pagi, Hiro."
Hiro memeluk sahabatnya, tertawa kecil. "Selamat pagi, Baymax. Aku kangen padamu."
Baymax balas memeluk Hiro. "Catatanku menunjukkan rentang kosong lima belas bulan setelah kamu mengaksesku terakhir kali. Apa kamu ingin scan fisik?"
"Boleh." Hiro mengangguk, tidak melepas Baymax. Dia sudah mengupgrade programnya agar Baymax dapat melakukan scan cepat dan mengakses semua data rekam medisnya dari berbagai fasilitas kesehatan.
"Scan fisik selesai, memproses data," ujar Baymax. "Data baru ditemukan dari tiga klinik psikiatri dan rumah sakit dari lima kota."
"Yeah, yeah, aku memang jalan-jalan, Baymax." Hiro melepas perut Baymax dan membereskan koper sekaligus dock charging Baymax itu.
"Saat ini kamu dalam keadaan fisik optimal. Aku mendeteksi sedikit gejala yang mengindikasikan penurunan kondisi mentalmu. Apa ada kejadian traumatis yang mengganggumu, Hiro?"
Hiro mengedikkan bahu. "Tante Cass wafat tahun lalu, Baymax. Itu sebabnya aku meninggalkan kota ini. Maaf aku pergi tanpa memberitahumu."
Lampu indikator Baymax berkedip. "Aku turut berduka cita, Hiro."
Delapan tahun yang lalu, dia hancur saat kakaknya meninggal. Kini dia sudah 22 tahun. Sudah mengambil liburan panjang untuk berduka. Dia kembali memeluk Baymax dan berterima kasih. Setidaknya dia masih punya Baymax.
Hiro lantas berdiri dan mengambil baju dari kopernya. "Aku mandi dulu, Baymax. Kau boleh mengkompilasi berita untuk AI-mu dan mengejar ketinggalan selama ini."
"Baik, Hiro. Aku akan berada di sini."
"Sebenarnya aku lebih suka kalau kau membantuku beres-beres."
"Menurut catatanku, kamu menilai instalasi program beres-beresku baru 30% dan belum layak digunakan."
Oh, yeah. Hiro lupa. Beres-beres memang bukan prioritas utamanya sejak dulu.
Hiro mendengus, "Oke, terserahlah."
Pagi sampai siang itu diisi dengan sarapan biskuit dan susu coklat bubuk yang sebulan lagi kadaluarsa. Lalu membongkar koper baju Hiro dan membersihkan seluruh rumah, lalu mengetes beberapa perlengkapan kafe seperti microwave, pendingin, mesin pembuat kopi, dan lain-lain.
"Mesin cuci piring sudah macet, ingatkan aku untuk memperbaikinya besok, Baymax," ujar Hiro sambil membongkar freezer yang sudah tidak dingin.
"Oke, Hiro," kata Baymax. "Sebaiknya kamu istirahat makan siang dulu, ini sudah jam 2."
"Huh… aku belum belanja bahan makanan, Baymax. Aku baru sampai di sini semalam."
"Mau kupesankan makanan?" Baymax menampilkan beberapa gambar makanan kesukaan Hiro di layarnya.
"Oh, masih ada toko yang menerima pesan antar?" tanya Hiro sedikit heran. Pasalnya kota mereka terkena lockdown.
"Tentu saja. Harganya mengalami kenaikan 80% dari tahun lalu. Restoran pizza kesukaanmu sedang ada promo hari ini."
Hiro nyengir. "Pesankan dua sekaligus, supaya nanti malam tidak perlu pesan lagi. Pakai rekeningku yang biasa."
"Done. Harap tunggu 40 menit."
Sorenya seluruh badan Hiro terasa pegal, tapi rumah ini sudah bersih dan lebih nyaman untuk dihuni. Hiro bersandar pada Baymax, menonton TV. Mereka nonton film horor kesukaan Hiro dan Tante Cass setelah Hiro memutuskan untuk tidak memantau berita tentang virus.
"Kamu tampak kesepian, Hiro. Mau kupanggilkan Fred?"
Hiro menggeleng dan duduk merapat, bersandar pada dada Baymax. "Nanti saja, Baymax. Aku sudah cukup merepotkannya. Aku belum siap mengambil kembali tanggung jawab bisnisku dengannya. Biarkan aku sendiri malam ini saja. Kamu sudah cukup baik sebagai temanku."
Malam itu Hiro tidur bersandar ke badan Baymax. Posisi familiar yang selalu dapat membuatnya rileks. Mungkin juga memberi kekuatan, karena Hiro kini berani memandang ke seberang kamar, ke tempat tidur kosong itu.
Dulu dia suka meyakinkan dirinya, bahwa Tadashi masih ada di balik selimut itu. Dia hanya tidur serampangan, sehingga ujung kakinya tidak terlihat dari tempat tidur Hiro. Sewaktu-waktu bila Hiro memanggilnya, dia akan bergumam menjawab.
Ada apa, Hiro? Kamu belum tidur?
Hiro akan menyelinap naik ke tempat tidur kecil itu dan mengarang seribu satu alasan agar dia bisa tidur bersama kakaknya. Tadashi cuma akan mendengus dan mengacak rambutnya, lalu memeluknya dari belakang seperti gurita. Hiro akan terlelap sampai pagi.
Dulu, delapan tahun yang lalu, dia akan menangis ketika mengingat kenangan itu. Sekarang hatinya masih lumat, tapi dia tidak menangis dan sudah mampu berbisik pada Baymax.
"Aku kangen kakakku."
Dia sudah mengupgrade program simpatik Baymax. Sahabatnya itu tahu semua yang ingin dia dengar.
"Aku yakin dia juga kangen padamu, Hiro."
Author's Note:
Cerita ini dibuat dalam rangka event menulis grup FFA ID, dengan tema Coffee Shop AU. Isinya mungkin dua sampai empat chapter, dan berfungsi sebagai dasar canon universe-nya. Let me know if you like it. Thank you for reading :)
