YELLOW

.

Prolog

.

"Kamu tadi jalan sama siapa?"

Baru saja Baekhyun menginjakkan kakinya di apartemen, Richard dengan gaya angkuhnya bertanya ketus.

Baekhyun tidak langsung menjawab pertanyaan sang kekasih, membuat Richard bertambah jengkel. Baekhyun benar-benar lelah. Dia butuh sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian tadi cafe tempatnya bekerja ramai dikunjungi pelanggan.

"Jawab Baekhyun!" Desak Richard dongkol ketika melihat lelaki mungilnya itu malah berbaring di sofa sambil memejamkan mata.

"Richard, please. Hari ini aku capek banget, pengen istirahat." Ucap Baekhyun sambil terpejam.

"Jawab doang apa susahnya sih Baek. Aku tanya tadi kamu jalan sama siapa? Cowok yang cekikikan sama kamu tadi siang itu siapa? Kamu selingkuh dari aku hah?"

Baekhyun yang merasa jengah bangkit dari sofa. Matanya tampak memerah, entah karena kantuk atau marah dengan sikap Richard yang selalu seperti ini.

"Kalo aku selingkuh emang kenapa? Kalo aku jalan sama cowok lain kenapa juga? Aku capek kamu tuduh-tuduh terus. Selama ini aku udah sabar hadepin kamu yang terlalu posesif. Kamu emang pacar aku, tapi kamu gak berhak ngatur ini itu dikehidupan aku. Ada batas diantara kita yang harus kamu sadari."

Richard tertawa sinis mendengar ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya. "Batas hm? dengar Baekhyun, selama kamu jadi pacar aku, hidup kamu aku yang ngatur. Setiap orang yang hadir dikehidupan kamu, harus dengan persetujuan aku."

Baekhyun menggelang. "Nggak Richard. Pemikiran kamu salah. Kalo prinsip kamu kaya gitu aku nggak sanggup. Lebih baik kita putus aja."

Mendengar kata putus telinga Richard meradang. Emosinya melonjak. Tangannya terkepal menahan luapan emosi yang mencapai ubun-ubun. Jangan sampai dia menampar Baekhyun -untuk yang kesekian kalinya.

"Sekali lagi bilang putus, aku robek mulut kamu."

"Dasar gila."

Richard melotot, "apa kamu bilang?!"

"Kamu gila! Egois! Posesif! Stres! Gue benci Richard Fucking McCallen! lo sinting! Puas?!" Teriak Baekhyun yang sudah frustasi menghadapi sikap Richard.

Bukan sehari dua hari dia harus bersabar dengan keposesifan seorang Richard McCallen. Dua tahun! Bayangkan sudah sesabar apa Baekhyun selama itu. Jadi, jangan salahkan jika sekarang Baekhyun mulai merasa lelah. Ah tidak, dia memang sudah merasa lelah. Muak!

Kesabaran tidak ada batasnya?

Bullshit!

"Akh!"

Baekhyun tercekat ketika tangan besar Richard mencengkeram lehernya kuat. Demi Tuhan ini sakit sekali. Nafasnya juga mulai berat. Apa Richard akan membunuhnya? Sungguh Baekhyun takut setengah mati.

Richard benar-benar sudah tidak waras!

"Denger sayang.. selamanya kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku. Lo cuma milik gue. Ngerti?"

Baekhyun meraup oksigen dengan rakus ketika Richard melepas cekikannya setelah mengecup bibir tipis Baekhyun. Mata sipit lelaki mungil itu kini berair, menahan tangis juga amarah dan rasa takut yang mulai menyusupi sarafnya.

Jika dia terus bersama Richard, hidupnya tidak akan pernah menghirup kebebasan. Baekhyun hanya akan terus tertekan. Sebelum akhirnya dia pun menjadi gila seperti pria itu.

Kabur.

Kata itulah yang kini memenuhi kepala Baekhyun.
.

.

Bersambung...

Lanjut?

AN : G ada kembara kembar nakal ya wkwkwk