BBB HANYA MILIK ANIMONSTA
SEMOGA TERHIBUR
Bagi Fang, lolongan sirine malam itu menyerupai terompet akhir zaman. Lengkingan itu memaksanya untuk bangun, menarik matanya untuk terbuka lebar-lebar dan berhasil membuat jantungnya berlompatan, shock kecil yang menghantamnya menggagalkan Fang untuk mengumpulkan kesadaran sehingga dia tidak dapat menerka apa yang sedang terjadi, pikirannya bahkan gagal memproses memori, sejenak dia tidak dapat mengingat apa-apa, dia terdiam dengan tatapan kosong, dia bahkan tidak ingat dimana dia dan sedang apa dia di ruangan gelap ini.
Tangan Fang kalap meraih-raih benda disekitarnya, tangannya merasakan benda halus dan tipis sedang menyelimuti tubuhnya, dia terbaring menyamping di alas empuk dan hangat, satu persatu ingatan mulai memasuki kesadarannya, shock yang datang berangsur hilang, dan dia ingat sedang berada di kamarnya, tempat dimana beberapa saat lalu dia masih tertidur tenang hingga lengkingan itu datang, dia menyalakan lampu di sisi mejanya. Sontak turun dari ranjang dan mengintip keadaan di luar melewati jendela.
Fang kira dia akan menemukan jejeran mobil-mobil besar seperti truk pemadam kebakaran atau mobil ambulance berlarian di jalan. Namun keadaan di luar terlampau tenang. Tidak ada mobil besar ataupun orang berlarian seraya minta tolong. Di seberang jalan, lampu di rumah tetangga-tetangganya yang padam menyala satu persatu. Ketenangan malam mereka terganggu persis seperti dirinya, salah satu rumah yang diisi oleh pasangan tua bahkan tidak ragu-ragu menyibak gordennya lebar-lebar, membuka jendela dan melongok keluar untuk melihat keadaan yang kosong melompong, si kakek tua memaki ke lolongan sirine yang datangnya entah dari mana.
Pikiran yang pertama kali terbesit di kepalanya ialah menduga sirine ini merupakan peringatan bencana alam. Bencana apa tepatnya? Dia tinggal di kota bukan pesisir pantai yang rawan terkena tsunami, mungkinkan gempa? Bisakah teknologi dapat memprediksi kedatangan gempa? Dia rasa belum bisa. Erupsi gunung merapi? Jika iya, gunung merapi paling dekat dengan kotanya berjarak 6 jam perjalanan, bukan tipe merapi yang jika erupsi akan berdampak hingga ke tempat Fang tinggal, mungkinkah taufan atau badai atau bahkan tornado? atau mungkin ini bukan bencana alam, mungkin sesuatu lain seperti kebakaran besar?
Pintu kamarnya terbuka. Tenggelam dalam daftar praduganya Fang terlonjak sesaat sebelum menoleh dan menemukan kakaknya yang terlihat baru saja terbangun dari tidur menerobos kamarnya tanpa permisi.
"Ada apa ini?" tanyanya menghampiri Fang, matanya terlihat sedikit merah karena dibangunkan paksa seperti Fang, dari ekpresinya Fang dapat melihat wajah kakaknya yang selalu diisi ketenangan luntur sedikit. Sepertinya Kaizo secara tidak sadar segera berlari ke kamar Fang setelah terbangun karena sirine.
Fang menggeleng "Entahlah." balasnya sedikit bergeser untuk membiarkan kakaknya melihat keadaan luar.
"Dari mana sirine ini berasal?" tanya Kaizo lebih kepada diri sendiri, Kaizo mendorong jendela kamar Fang terbuka, bersamaan dengan itu suara peringatan meraung di udara.
PERINGATAN! TETAP BERADA DIRUMAH! PERINGATAN! JANGAN BIARKAN SIAPAPUN MASUK ATAUPUN KELUAR! PERINGATAN! AMANKAN SELURUH JALAN MASUK!
Tangan Kaizo membeku ditengah perjalanan, mereka berpandangan sesaat sebelum Kaizo menutup jendelanya kembali dan menyibak gordennya rapat-rapat. Mereka terdiam sesaat, mendengarkan seluruh peringatan, hingga seluruh kata yang terpecah akibat speaker terolah oleh pendengaran mereka. Saat setiap kata peringatan itu mereka serap, Kaizo memberikan arahan pada Fang untuk turun ke bawah dan mengecek seluruh pintu sekali lagi, bersama mereka turun dan memastikan segala tempat yang dapat dijadikan tempat masuk ataupun keluar telah terkunci rapat. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat menerka apa yang sedang terjadi, tapi baik Kaizo dan Fang tahu betul kalau rumah mereka akan menjadi sasaran pertama penerobosan kalau-kalau sesuatu darurat memang terjadi.
Semua dikarenakan karena dia dan kakaknya melanjutkan usaha kedua kakek neneknya untuk membuka warung yang sekarang telah berkembang menyerupai minimarket milik keluarga. Minimarket mereka terlihat seperti minimarket kebanyakan, pintu kaca dan dinding kaca untuk menampilkan apa yang mereka jual, tentu mereka juga memasang pintu geser besi yang diamankan dengan rantai dan gembok saat mereka tutup, mereka selalu mengunci seluruh penjuru toko saat jam tutup, kamera pemantau juga dipasang untuk memelototi setiap inci toko beserta area parkir, namun pemeriksaan ulang tidak akan merugikan sama sekali bukan?
Hanya mereka berdua yang berada di rumah itu, sejauh yang Fang ingat, orangtuanya tidak pernah ada di kehidupannya, kedua orangtuanya meninggal saat dia berusia dua tahun karena kecelakaan lalu lintas, meninggalkan dia dan kakaknya di bawah asuhan kakek neneknya. Kakeknya sudah menjadi sosok ayah dikehidupan Fang, sayangnya pria tua itu meninggal empat tahun lalu saat Fang masih berusia sepuluh tahun, dua tahun kemudian neneknya menyusul, meninggalkan Fang berada sepenuhnya dibawah asuhan kakaknya.
Fang pergi mengecek bagian belakang toko, seluruh pintu masuk di lantai bawah terkunci rapat, hanya ada dua pintu sebenarnya, pintu belakang tempat distributor mereka mengantarkan barang untuk segera masuk ke gudang penyimpanan mereka, dan satu lagi pintu masuk minimarket. Lantai bawah sepenuhnya digunakan untuk usaha keluarga, rumah mereka sebenarnya dapat dikatakan hanya berada di lantai atas, dimana seluruh ruangan yang umumnya sebuah keluarga miliki berada.
Sirine masih melolong bersahut-sahutan dengan suara peringatan. Hanya karena mendengarnya bulu kudu Fang meremang, alunannya tidak terdengar seperti sirine dari ambulance atau mobil polisi, alunannya dapat dikatakan terdengar ganjil dan mengancam, tidak menyerupai bunyi-bunyi sirine yang Fang pernah dengar sebelumnya. Lolongan sirine kali ini terasa sangat tidak wajar, tidak melengking seperti umumnya namun terdengar seolah menggeram. Bernada rendah nyaris menyerupai tiupan trombone atau geraman hewan. Jika saja umurnya lebih muda lagi, Fang yakin akan menangis dikarenakan sirine ini.
Mereka kembali ke lantai atas setelah memasang pengaman ekstra di pintu masuk. Suara desir mesin mobil bersamaan dengan sirine normal terdengar beberapa saat setelahnya, saat mengecek melalui jendela dapur, Fang melihat deretan mobil khusus melakukan patroli di jalan-jalan, lampu sirine kemerahan berputar-putar diatasnya, terlihat mencolok di gelapnya malam hingga perlahan menghilang di ujung jalan.
Orang-orang keluar dari rumahnya, peringatan yang berkumandang tidak menciutkan nyali mereka untuk menonton jejeran mobil patroli, petugas patroli terpaksa meneriaki mereka melalui toa untuk segera masuk ke dalam rumah, beberapa segera menurut, beberapa masih menonton seolah tidak peduli dengan peringatan.
Fang melesat ke kamarnya untuk mengambil ponsel, dia membuka ponsel genggamnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, tapi berapa terkejutnya dia saat menyadari walaupun sinyalnya penuh, internetnya tidak mau berjalan, tidak ada sosial media yang dapat dia gunakan dan setiap kali Fang membuka browser, layar ponselnya selalu menampilkan hal yang sama.
Laman otomatis akan terbuka menampilkan halaman dengan deretan perintah darurat.
"Abang." panggil Fang segera setelah melihat peringatan di layar ponselnya, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, terlebih lagi laman itu seperti tidak main-main, perintah darurat yang tertera tidak berada dalam skala nasional, namun masuk ke skala darurat internasional, sesuatu sedang terjadi di luar sana, dan tidak hanya di negaranya.
"Abang?" panggil Fang lagi seraya keluar dari kamarnya, dia pergi ke kamar Kaizo dan tidak menemukan kakaknya disana. "Abang?"
"Aku disini." jawab Kaizo dari ruang tamu.
Bahunya yang sempat tegang turun seketika, Fang tidak sadar dia panik, mendengar suara kakaknya sedikit menenangkannya, Fang menghampiri Kaizo, menemukan pria muda itu sedang berdiri di depan layar televisi, Fang berniat memperlihatkan peringatan darurat dari ponselnya namun niatnya pupus saat menyadari bahwa layar televisi mereka juga menampilkan hal yang serupa.
Perintah yang tertulis di layar itu terlihat seperti deretan peraturan terburuk yang pernah diturunkan, terlalu mendadak, terlalu memberatkan beberapa pihak, jika memang pemerintah menginginkan warganya untuk mematuhi peraturan ini tanpa satupun informasi yang menyiarkan keadaan yang terjadi, Fang ragu akan terealisasikan untuk esok hari.
Beberapa dari peraturan itu menuliskan bahwa setiap kegiatan diluar rumah diilegalkan untuk sementara waktu hingga ada pemberitahuan lebih lanjut, hanya perusahaan dan pabrik tertentu yang diizinkan beroperasi, sedangkan perusahaan lain harus berhenti beroperasi sementara, usaha-usaha kecil seperti minirmarketnya juga dilarang beroperasi sementara waktu, seluruh kegiatan sekolah dan perkuliahan di vakumkan, dan seluruh jenis transportasi umum juga dilarang beroperasi hingga pemerintah memberikan permberitahuan lebih lanjut.
Peraturan ini juga berlaku untuk sebagian besar lembaga negara, institusi kesehatan yang diperbolehkan beroperasi terbagi menjadi dua, RS yang diizinkan menerima dan merawat pasien baru lalu RS yang tidak boleh menerima pasien dengan segala keluhan apapun dan diharuskan fokus mengobati pasien yang sedang dirawat. Hanya pranata umum sipil yang akan sepenuhnya aktif bersamaan dengan tentara nasional dan internasional.
"Apa negara kita diserang, apa mungkin ada negara yang mendeklarasikan perang pada negara kita?" tanya Fang.
"Oleh siapa?" tanya Kaizo balik seraya mematikan layar televisi.
Fang angkat bahu "Negara tetangga?"
Kakaknya terdiam, terlihat tenggelam dalam pikirannya "Mungkin saja terjadi jika yang memulai perang adalah negara dari benua Eropa atau Amerika, negara di Asia Tenggara hanya kumpulan negara berkembang, hanya Singapura yang masuk kedalam kategori negara maju, dan kemungkinan mereka untuk memulai perang sangat kecil karena mereka jelas tidak akan menjadi negara yang akan bertahan hingga akhir," ucap Kaizo tenang, dahinya berkerut memikirkan sesuatu "jika mereka bersekutu, hasilnya dapat berbeda"
Ya… memang ada benarnya, negara tetangga tidak akan mau repot-repot untuk memulai perang yang tidak akan menciptakan keuntungan apa-apa, persis seperti negaranya, negara tetangga pasti memilih untuk lebih memfokuskan bagaimana meningkatkan pendapatan negara dan kesejatraan penduduknya. Lagipula perang pada masa ini terdengar seperti tindakan yang hanya dilakukan oleh kaum primitif. Apa yang dapat diperoleh dari perang selain tumpukan tubuh tidak bernyawa dan kesengsaraan?
Fang memikirkan skenario lain yang mungkin saja sedang terjadi, jika bukan peringatan pendeklarasian perang, lalu kiranya apa yang mungkin terjadi? Terorisme? Mungkinkah ada organisasi rahasia yang berkembang diam-diam dan mulai menunjukkan eksistensi mereka? mungkinkah serangan bom nuklir? Bukan… jika iya, peringatan yang sedang melolong ini pasti akan mengarahkan mereka untuk pergi keluar dan mencari tempat berlindung, Fang dapat merasakan tidak ada satupun dari praduganya yang sepertinya mendekati keadaan yang sebenarnya terjadi.
"Tidurlah kembali." ucap Abangnya setelah keheningan ganjil mereka.
Fang melirik jam di ruang tamu menunjukkan pukul dua malam, dia mau saja kembali tidur tapi perasaan kalut yang menyelimutinya membakar habis seluruh rasa kantuknya, dia khawatir sesuatu mungkin terjadi saat dia tidur, bagaimana kalau mereka tiba-tiba diperintah untuk pergi dari rumah, bagaimana jika seseorang tiba-tiba menerobos rumahnya, mencuri semua barang yang mereka punya atau lebih buruk, bagaimana jika seseorang melukai abangnya, lagipula mana mungkin dia bisa tidur dengan suara sirine seperti ini.
"Apapun yang terjadi diluar, sepertinya masih terkendali" lanjut Kaizo seolah tahu apa yang dipikirkan Fang.
Fang mengangguk pelan, dia tahu kakaknya bukan tipe orang yang biasa berbohong untuk menenangkan keadaan, Kaizo selalu percaya bahwa kebohongan tidak akan menimbulkan kebaikan, kakaknya selalu mengatakan apa yang memang dia rasakan, dia yakin itu yang terbaik untuk selalu jujur tentang apapun, walaupun kadang kenyataan yang dia katakan sangat barbar.
"Abang juga akan tidur?" tanya Fang.
Kaizo tidak segera menjawab, tatapannya bergantian pindah antara jam dan televisi "Mungkin iya" jawabnya pelan "Iya, aku juga akan kembali tidur"
Fang menurut, dia kembali ke kamarnya, membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar-lebar untuk berjaga-jaga, dia berniat untuk melanjutkan tidurnya, namun sirine yang menyerupai lolongan hewan itu mencegahnya. Tidak merasakan kantuk sama sekali, lantas Fang mengendap-ngendap turun ke lantai bawah, mengambil dua es krim cup rasa coklat sebagai cemilan teman bermain game, dia menyalakan komputer, membuka game offline dan memainkannya untuk mengalihkan kegelisahan.
Sirine masih melolong bersamaan dengan suara peringatan hingga dua jam lamanya, pukul empat keadaan kembali sunyi senyap, Fang cepat-cepat membuka ponselnya, penuh harap agar internetnya kembali tersambung, namun dia dibiarkan kecewa, Fang belum dapat mengakses internet dan social medianya untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Jenuh dengan game offlinenya, Fang menghempaskan tubuhnya ke ranjang, berguling-guling sejenak untuk mengumpulkan rasa kantuk, terakhir kali Fang melihat jam, benda berbetuk burung hantu yang dipasang di dinding itu menampilkan angka 05.11 A.M di layar digitalnya, sudah lama sekali dia tidur hanya satu jam sebelum matahari terbit, tidak mungkin Fang sanggup bangun pukul tujuh untuk membuka toko, lalu dia ingat kalau esok tokonya tidak perlu buka, Fang tersenyum pelan, keadaan penuh tanda tanya ini ada bagusnya juga, dia dapat tidur hingga siang hari.
Fang tertidur tanpa dia sadari, dia sempat bermimpi di kejar rusa sebelum terbangun dengan keadaan kamar gelap, dia memijit pelipisnya, merutuki mimpi aneh yang mendatanginya. Fang mengecek jam, jam berbentuk burung hantu itu menunjukkan angka 10.48 A.M.
Huh? Aneh… pikirnya
Siang… jelas sudah mendekati tengah hari. Biasanya walaupun gorden jendelanya tertutup rapat, sinar matahari masih dapat menerobos masuk, membuat kamarnya terang oleh cahaya siang. Menyangka keadaan diluar mendung, Fang beralih mengecek ponselnya, kondisi masih seperti tadi malam, tidak ada social media yang dapat diakses dan walaupun sinyal ponselnya penuh, Fang tidak dapat melakukan pengiriman pesan atau panggilan, namun sesuatu menarik seluruh perhatiannya karena satu pesan baru menunjukkan diri di kotak pesannya.
Bukan dari nomor biasa, nama pengirimnya digantikan dengan empat huruf besar.
….
IBDS (International Board for Disaster Management).
For our beloved citizens. Please for our safety, we encourage you to stay at home, please don't leave your house until the next instruction come out. Don't let anyone out, and don't let anyone in. Please be wise and follow all the instruction we gave you, if you ever purposely breaking any of the instruction and something happen to you or your family, then you leave us with only one legal action to handle it. So please follow the instruction. Please be save and prepared for the worst scenario.
Thank you for your attention.
May god have mercy on us.
….
Fang mengerjap beberapa kali untuk memastikan baik mata dan otaknya memang memproses hal yang sama. Bukan pesan yang menjawab pertanyaan, tapi justru menambah pertanyaannya, selain pesan pembuka yang terlihat agak mengancam, jika Fang membacanya ulang, dia dapat merasakan rasa keputusasaan tersirat dalam pesannya.
Fang berusaha menyingkirkan kegelisahannya dengan mencari cari sudut bagus dari keadaan ini, contohnya dia mendapat libur sekolah, tidak perlu membuka toko dan benar-benar dapat menikmati liburan yang tidak terduga di hari rabu, bangun siang adalah hal mewah baginya, jika tokonya buka maka Fang tidak akan bisa bangun lebih dari pukul tujuh, jika dia terlambat bangun sepuluh menit dari jadwal normalnya, dia pasti akan dibangunkan dengan alarm spesial Kaizo, Fang bersumpah, bangun dikarenakan smackdown bukanlah hal yang menyenangkan.
Dia berniat melanjutkan tidurnya kembali sebelum aroma makanan memasuki penciuman Fang, perutnya berkeruyuk ria, kakaknya pasti sedang memasak sesuatu di dapur, apapun yang dia masak berhasil memancing Fang untuk turun dari ranjangnya, kepalanya sedikit pusing karena tidak terbiasa dengan jam tidur kali ini.
Di dapur, Fang hanya menemukan cup mie kosong berdiri di atas meja makan beserta Kaizo yang sedang bersandar menatap jendela yang gordennya tersibak setengah dengan segelas kopi di tangannya, Fang kecewa tidak menemukan masakan apapun, tapi kenapa juga dia mengharapkannya? Dia tahu kakaknya tidak bisa memasak.
Terdorong oleh rasa lapar Fang segera memanaskan air, dia tidak ada mood untuk memasak apapun hari ini, dia hanya ingin segera menghangatkan perutnya dengan makanan berkuah dan pedas, cocok untuk hari mendung seperti ini. Fang membuka rak dapur, memilih mie cup bertuliskan extra spicy, selama Fang memasak air hingga dia mulai menyantap mie cupnya, Kaizo masih menatap jendela sembari menyesap kopinya seolah tidak menyadari kedatangan Fang.
"Mendung sekali hari ini ya." ucap Fang membuka pembicaraan, dia meniup mienya, menyesapnya perlahan, sedikit tersinggung oleh kakaknya yang tidak kunjung sadar dengan kemunculannya.
"Kau sudah lihat keluar?" tanya Kaizo tanpa menatap Fang.
"Velum." jawab Fang dengan mulut penuh mie.
Kaizo beranjak dari tempatnya bersandar, dia menarik kursi di depan Fang, menenggak cairan terakhir yang ada di cangkir itu "Hari ini tidak mendung." ucap Kaizo.
Fang memutar mutar mienya, mengambil suapan besar, matanya beralih ke jendela seraya mengunyah, dari tempatnya berada sekarang Fang tidak dapat melihat keadaan luar sepenuhnya, namun Fang dapat melihat pencahayaan dari luar sangat minim, matanya bahkan dapat menangkap pindar kekuningan lampu jalan, yang seharusnya tidak terjadi di siang hari.
Penasaran, Fang membawa mie cupnya seraya melihat keluar, Fang ingin membuka jendela untuk melihat keadaan lebih jelas namun kakaknya melarang untuk membuka jendela, pemandangan sedikit terbatas namun tidak menghalangi matanya untuk melihat kondisi langit, Fang melirik ke atas, ke arah langit keabu-abuan tanpa awan. Keadaannya terlihat seperti saat matahari terbenam, belum sepenuhnya terbenam, namun cahaya kejinggaan di ufuk telah menghilang, menyisakan langit benar-benar berwana kelabu.
Fang berhenti mengunyah, menelan mienya agar dapat memproses apa yang dia lihat. "Jam berapa ini?" tanya Fang, walau dia tahu belum ada satu jam setelah dia mengecek jam saat berada di kamarnya.
"Hampir setengah dua belas." jawab Kaizo pendek "Kau harus ingat sekarang tengah hari."
"Ya." ucap Fang heran, dia terpaku di depan jendela "Apa sedang terjadi gerhana?" tanya Fang menatap Kaizo.
Kaizo menggeleng, dahinya berkerut bingung berusaha mencerna teka-teki tanpa satupun petunjuk "Tidak ada gerhana, keadaan tidak berubah sejak pagi tadi."
Mie cup yang dipegang Fang diletakkan di konter dapur, rasa laparnya hilang sudah, tikaman rasa takut sekarang mengisi dadanya. Di luar keadaan cukup sepi, terkadang ada satu atau dua kendaraan lewat dan ada beberapa tetangganya saling menghiraukan peringatan, terlihat santai berbincang dengan tetangga lain "Mungkinkah kita harus menanyakan pada…"
"Tetap di dalam rumah, kau membaca perintahnya." jawab Kaizo cepat "Jangan pernah berpikir untuk keluar dari rumah sebelum pemberitahuan lain datang, kau paham itu Fang?"
Fang angkat tangan, dia sudah melakukan kebiasaan itu saat mendengar kakaknya memerintahnya untuk tidak melakukan ini dan itu, tanda bahwa dia paham dan tidak akan membantah perkataan kakaknya "Oke, oke… santai saja." balas Fang walau sebenarnya dia mengatakan itu lebih kepada diri sendiri, sesungguhnya dia cukup tegang, dia perlu santai sejenak.
"Kita tidak perlu keluar sebenarnya, Mungkin kita bisa bicara lewat telepon benang, atau mungkin toa?" lanjut Fang mengeluarkan cara komunikasi paling umum yang biasa dia gunakan di video game saat sambungan listrik atau sinyal tidak tersedia, ada banyak sebenarnya, suar, lalu radio, dan walkie talkie, beserta kumpulan sandi dan kode jarak jauh, bisa senter atau suar, tapi tentu untuk menggunakan kode itu kedua belah pihak yang berkomunikasi harus paham dengan cara kerjanya, mengingat kompleks tempat dia tinggal diisi dengan kumpulan paruh baya maka sepertinya...
Kaizo memberikan Fang tatapan yang mengatakan 'Yang benar saja?'
Fang angkat bahu "Hanya mungkin."
"Tidak semua orang punya toa, kita pun tidak punya, dan telepon benang? Apa kau pernah mencoba telepon benang? Kita butuh setidaknya empat meter untuk mencapai tetangga terdekat, kau kira suaramu masih terdengar dalam jarak itu?" balas Kaizo menghancurkan ide Fang mutlak
"Teriak saja kalau begitu." balas Fang asal.
"Ya itu mungkin saja." ucap Kaizo "Tapi aku ragu mereka punya jawabannya."
Fang manggut-manggut, ya tentu, sang kakak maha benar telah bersabda dan juga, ada benarnya, mereka belum tentu tahu. Dia masih berdiri di sisi jendela, memperhatikan tetangga yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, perhatian Fang segera tearah pada seorang tetangga yang seumuran dengannya, mereka tidak akrab, tapi Fang cukup mengenalnya untuk tahu kalau anak itu biasa melakukan Vlog. Fang melihatnya menaiki sepeda dengan kamera di satu tangannya, pergi entah kemana, baik dia dan orangtuanya seperti tidak memperdulikan arahan yang diturunkan, karena Fang melihat orangtua anak itu sedang bercengkrama dengan tetangga lain.
Fang membuka ponselnya kembali untuk membuka pesan dari IBDS lagi, dia membacanya berkali-kali dan perhatiannya hanya tertuju pada dua kalimat.
'Then you leave us with only one legal action to handle it'
'Prepared for the worst scenario'
Sungguh… dia tidak kuat digantung seperti ini, dia dibuat bertanya tanya tetang tindakan legal macam apa yang mereka akan lakukan? Dan skenario macam apa yang mereka berusaha peringatkan?
"Habiskan mie mu." ucap Kaizo.
Fang melirik sejenak ke mie cup di konter dapur, mie di dalamnya sudah mekar "Tidak selera."
"Kau akan butuh energi."
"Untuk apa?"
"Kau lupa kita punya toko? Kurasa hari ini akan bagus jika kita membersihkan lemari pendingin dan hal lain." ucap Kaizo "Lebih baik menyibukkan diri daripada memusingkan ada apa dengan langit."
Fang tersenyum miring mendengar kakaknya seolah mengomentari kelakuan buang-buang waktunya padahal beberapa menit yang lalu dia melakukan hal serupa.
Fang menyibak gorden jendela, mengambil mie cupnya dan menghabiskannya dalam dua kali suap "Ayo." ucap Fang seraya membuang cup sterofoam.
Jika dipikir ulang, sejak beberapa minggu lalu Fang memang ingin melakukan sesuatu di bawah sana, namun dikarenakan jadwal padat dia belum sempat melakukan apa-apa. Kaizo memberikan Fang pilihan, antara membersihkan lemari pendingin minuman atau mensupply ulang dan memilah produk. Yang tentu sudah jelas dia memilih mensupply ulang produk daripada harus membersihkan lemari pendingin, satu hal yang paling dia benci dari lemari pendingin adalah air buangannya yang selalu bearoma tidak enak, walaupun mereka tidak pernah memasukkan benda lain selain botol-botol minuman, air yang tertampung di tabung buangan selalu menjijikkan.
Fang mulai dengan memilah produk, terutama di bagian susu dan roti yang batas kadaluarsanya sangat singkat, dia akan mengambil produk yang mulai mendekati masa kadaluarsa, tokonya memilih menggunakan startegi penjualan dengan memberikan diskon pada produk yang mendekati masa kadaluarsa, tentu saja dengan pemberitahuan, mereka selalu memajang papan besar di tengah rak diskon untuk memberitahukan produk diskon mereka mendekati masa kadaluarsa. Semakin dekat masa kadaluarsanya maka semakin murah, berlaku untuk semua barang.
Konsumen mereka tidak pernah ada komplain, pelanggan tidak merasa tertipu dan beberapa konsumen yang keadaan ekonominya dibawah rata-rata sangat bersyukur dapat membeli produk tertentu walaupun masa kadaluarsa yang berada di ujung tanduk. Tokonya selalu ramai, produk hampir selalu habis, dan tokonya tidak pernah rugi. Pemasok biasanya akan menawarkan kontrak pengembalian pada barang yang mendekati masa kadaluarsa dan cacat, tapi kakaknya meminta kontrak lain dengan pemberian diskon, sesuatu yang sebelumnya tidak digunakan oleh kakek nenek mereka karena cukup membahayakan bisnis.
Mungkin kakaknya lah yang menyebabkan bisnis toko kakek neneknya meroket, keadaan semakin baik setelah Kaizo mulai turun tangan mengelola toko. Kejelian Kaizo dalam menelaah kondisi pasar dan mengambil peluang patut diacungi jempol. Fang bersyukur kakaknya mengambil peran sebagai penerus bisnis keluarga, yang Fang yakin akan diturunkan kepada anak kakaknya nanti dan bukan dia, karena Fang sama sekali tidak memiliki ketertarikan dalam dunia wirausaha, dia punya keinginan lain yang ingin dia wujudkan.
Bermalas-malasan memang bukan gaya hidupnya, walaupun Fang terkadang merutuki kesibukkannya yang sangat menyita waktu dan tenaga, Fang memilih hidup sibuk daripada seharian merebahkan diri di ranjang. Pikirannya lebih jernih saat tangannya sibuk memilah barang dan menatanya kembali ke rak diskon, dia bahkan tidak sadar berapa lama waktu telah berakhir saat dia menyibukkan diri dengan aktivitas normalnya, Fang nyaris melupakan soal keadaan yang sedang terjadi hingga ketukan di pintu besi muncul.
Lehernya segera menoleh kearah pintu kaca, pintu besi geser berwarna hijau di luarnya menimbulkan bunyi cukup nyaring akibat ketukan di luar, samar-samar Fang mendengar namanya dipanggil. Fang ingin menjawab panggilan itu sebelum dia merasakan tatapan tajam sedang memelototinya, Fang menoleh untuk menemukan Kaizo sedang berjongkok di sisi lemari pendingin dengan sarung tangan karet kuning di kedua tangannya, tatapannya menghakimi.
Panggilan yang menyebut namanya masih berlanjut, Fang mengenalinya "Itu mungkin Nyonya Wulan." ucap Fang pelan "Dia mungkin datang untuk membeli detergen atau susu."
"Tidak." balas Kaizo pelan "Kita tidak tahu sampai kapan keadaan ini akan berlangsung, jika ada tetangga yang melihat kita melayani orang walaupun seharusnya kita tutup, mereka akan berdatangan terus, sekarang lebih baik seperti ini dulu, jangan melayani siapapun, bahkan Nyonya Wulan sekalipun."
Fang hanya mengangguk, sebenarnya dia tidak tega membiarkan wanita itu memanggil-manggilnya, Nyonya Mulan selalu mengingatkan Fang pada mendiang neneknya, terlebih wanita itu adalah janda tua, suaminya meninggal jauh sebelum orangtuanya meninggal, wanita itu memutuskan untuk tidak menikah lagi dan menjalani hidupnya seorang diri tanpa anak. Dia tidak punya banyak sanak saudara dan satu-satunya kerabat yang pernah Fang lihat hanyalah keponakkannya yang datang beberapa bulan sekali untuk melihat keadaan Nyonya Mulan.
Hatinya berat, tapi Fang memilih mengikuti ucapan kakaknya, dia kembali dalam kesibukkannya mencatat produk yang harus diisi ulang, mengacuhkan panggilan wanita itu hingga hilang sendirinya.
Maaf… batin Fang
.
.
.
Sepanjang hari mereka habiskan dengan merapikan toko, Fang yang semenjak beberapa minggu lalu ingin menata ulang rak minuman bubuk akhirnya terwujud, dia tidak puas dengan tatanan sebelumnya yang dia kira tidak pas, akhirnya perasaanya bisa tenang setelah mengosongkan seluruh rak minuman bubuk itu dan menyusunnya ulang.
Sirine kembali meraung malam itu, tepat saat Fang selesai memasak makan malam. Lengkingannya yang tiba-tiba masih mengagetkan namun Fang merasa sedikit santai karena saat sirine itu muncul kakaknya tidak berada jauh darinya.
Kakaknya terlihat tenang, bahkan menghiraukannya, bersikap seolah lengkingan sirine dan peringatan-peringatan itu tidak ada sama sekali. Fang berhasil membawa dirinya untuk menghiraukan sirine itu juga, namun jika dia termenung walaupun hanya beberapa saat, perasaan campur aduknya kembali datang, seperti kekhawatiran, ketakutan, dan kebingungannya menyatu, meracuni kepalanya dengan bayangan yang bukan-bukan.
Mereka menghabiskan hampir sepanjang waktu di meja dapur, membuka pembicaraan-pembicaraan kecil sembari bermain catur atau kartu. Mereka jarang memiliki waktu seperti ini, biasanya saat matahari tenggelam mereka akan mengambil jatah istirahat bergantian sebelum memasuki kesibukan seperti menyortir barang, mendata supply barang yang mereka butuhkan, menghubungi pemasok mereka untuk pemesanan selanjutnya atau mengembalikan barang rusak.
Kesibukkan mereka baru bisa berakhir saat jarum jam menunjukkan angka sepuluh, toko tutup dan saat pembukuan pemasukkan sudah di data mereka baru benar-benar bisa beristirahat untuk kesibukkan esok hari. Rasanya aneh bagi Fang memiliki waktu luang sebanyak ini, jadwalnya selalu padat, detik dia membuka mata maka dia harus mempersiapkan diri dan membuat sarapan seadanya sebelum berangkat sekolah, begitu kembali dia segera membantu Kaizo di toko. Jika hari libur datang, dia akan bekerja di toko dari pukul 9 pagi, yang membedakan hari biasa dan hari libur adalah toko mereka buka dua jam lebih lambat dan tutup dua jam lebih cepat saat hari libur.
Bukan hal jarang bagi Fang harus begadang agar dapat menikmati hobinya bermain game online, sialnya, dengan waktu luang sebanyak ini dia tidak dapat memainkan game onlinenya sama sekali, dan sebagian besar game offlinenya telah dia tamatkan sejak lama.
Jika saja saluran telepon tidak terputus, sejak pagi Kaizo pasti hanya akan berkutik dengan ponselnya untuk menghubungi beberapa pekerja baru dan pemasok tertentu untuk menyusun ulang rencana yang terganggu, kakaknya sedang dalam proses membuka toko makanan hewan dua blok dari sini, dia sudah membeli tanah di area itu, konstruksi bangunan selesai setengah tahun lalu, properti seperti meja kasir dan rak-rak sudah dimasukkan, Kaizo sudah memesan logo untuk toko, kontrak dengan pemasok sudah ditandatangani, pegawai telah diwawancarai dan direkrut untuk bekerja dua bulan lagi, sebuah keajaiban melihat kakaknya tenang-tenang saja dengan keadaan bisnis yang agak terancam.
Sekali-kali ditengah permainan kecil mereka Fang akan turun ke latai bawah untuk mengambil cemilan, membuka toko memang menyibukkan namun sisi baiknya Fang tidak pernah khawatir kehabisan camilan, ingin es krim? Dia hanya perlu turun, ingin soda? Dia hanya perlu turun, ingin keripik kentang, hanya perlu turun.
"Makan terus." komentar Kaizo.
Fang yang baru melumat habis es krim ketiganya hanya memberikan sengir "Aku sedang dalam masa pertumbuhan."
"Kalau begitu minum susu banyak-banyak, bukan es krim." lanjut Kaizo seraya memindahkan bidak catur hitamnya.
"Hmmm…" Fang menelaah posisi bidak caturnya "Es krim mengandung susu." balasnya masih berpikir untuk langkah selanjutnya, sulit berpikir jika suara sirine masih melolong tanpa henti, telinganya mulai berdengung.
Kaizo hanya menggeleng.
Sekali kali mata Fang akan beralih antara bidak catur dan layar ponselnya, berharap-harap koneksi internetnya dapat berjalan agar dia dapat mencari berita terburu. Di karantina tanpa mengetahui alasannya ternyata sangat memberatkan.
Dia berharap sirine itu bukanlah peringatan untuk sesuatu yang berkaitan dengan alam, sejujurnya jika dia harus memilih antara alam yang mengamuk atau perang dunia ketiga, dia memilih perang dunia akan lebih baik ketimbang amukkan alam. Fang positive dia masih dapat mempertahankan dirinya jika dia berhadapan dengan sesama manusia, senjata berisi peluru besi yang digunakan oleh mereka juga dapat membunuhnya cepat tanpa rasa sakit berkepanjangan, dan jika dipikir-pikir bom nuklir akan memusnahkan tubuhnya menjadi abu hanya dalam hitungan sepersekian detik, dan tentu saja tanpa rasa sakit berkepanjangan.
Jika alam yang ternyata dia hadapi, alam dapat berbaik hati pada manusia dan kejam di kemudian hari, pembalasan yang alam berikan manusia menimbulkan kesengsaraan menyakitkan, Fang tidak dapat membayangkan dirinya yang sengsara ketika hanyut dan kehabisan napas saat tsunami menyapu atau keracunan akibat menghirup asap merapi, atau dikubur hidup-hidup saat longsor, dan yang paling buruk, dilontarkan oleh hisapan putting beliung.
Ya… dibanding semua itu, tembakan peluru sepertinya lebih baik.
Malam ini, mobil patroli tidak berkeliaran, Kaizo baru saja mengambil langkah lain dengan bidak caturnya, Fang memelototi papan catur itu, dia mulai mati langkah, matanya lekat tertuju pada bidak catur putihnya, memperhatikan bidak itu terdiam hingga mulai bergetar.
"Apa ini hanya perasaanku atau bidak catur ini bergetar." tanya Fang heran, tangannya reflex menyentuh permukaan meja, getaran lemah terasa. Telinganya hampir tumpul karena sirine memuakkan ini, namun samar-samar Fang mendengar bunyi lain, bunyi yang terdengar semakin mendekat.
Kaizo beranjak dari kursinya, pergi mengecek melalui jendela untuk kesekian kalinya dalam hari ini.
"Helicopter." ucap Kaizo "Terbang rendah."
Fang beranjak, ikut melihat keadaan disisi kakaknya, suara sirine yang memekakan menutup bunyi baling-baling helicopter, Fang dapat melihat jenis helicopter itu bukan jenis yang biasa digunakan oleh peliput berita untuk melakukan pemantauan udara, helicopter ini milik militer, lebih besar dan tidak hanya satu, bahkan dari tempat Fang berada dia menangkap ada empat hingga lima helicopter beroperasi di perimeter kompleks rumahnya.
"Sedang apa mereka?" tanya Fang.
"Entah… mereka terlihat ingin menutupinya tapi hal yang terjadi sepertinya serius karena mereka tidak dapat melakukannya sesuai dengan keinginan mereka." ucap Kaizo seraya menutup gorden, tangannya perlahan menarik Fang menjauh dari jendela "Aku ingin kita tidur di ruangan yang sama malam ini, kau mau tidur di kamarku atau aku di kamarmu?"
Fang hanya menatap kakaknya, tidak menduga pertanyaan itu keluar "Kamarku?"
Kaizo mengangguk "Ada hal yang aku ingin kau lakukan."
"Apa itu?"
"Kau ingat dulu kakek membelikan kita tas camping bukan? kau tahu bukan dimana kakek menyimpannya?"
Fang mengangguk.
"Ambilah, segera susul aku ke lantai bawah." Ucap Kaizo segera berbalik turun ke lantai bawah, meninggalkan Fang yang masih terdiam berusaha mencerna apa yang kakaknya hendak lakukan.
Fang menatapi kepergian Kaizo tanpa berusaha menanyakan apa-apa lagi, Fang melakukan apa yang Kaizo suruh. Masuk ke kamar mendiang kakeknya dan mengambil tas camping mereka. Tas itu berukuran besar, kakek mereka punya hobi menyeret satu keluarga untuk camping saat tahun baru, ada empat tas besar disana, Fang mengambil dua yang berukuran paling besar.
Saat Fang turun, Kaizo sedang berkeliling antara satu rak ke rak lainnya, tatapan Fang segera terarah ke meja kasir yang penuh dengan sekumpulan besar barang-barang.
Mata Fang membesar melihat barang-barang itu "Untuk apa ini?" tanya Fang seraya memberikan tas camping milik Kaizo saat pria muda itu datang dengan beberapa barang lain di kedua tangannya.
"Hanya antisipasi." jawab Kaizo "Kau juga, masukan yang sudah kusiapkan untukmu."
Ini tidak bagus pikir Fang, bukan berarti kakaknya melakukan tindakan konyol atau apa. Hanya sekali lihat Fang sadar barang-barang yang dipilih kakaknya bukan barang asal, Fang bukan tipe orang yang suka bercamping seperti kakeknya dan dia tidak pernah menyentuh kegiatan pramuka seumur hidupnya, dari video gamenya Fang tahu kalau barang-barang ini merupakan tipe barang yang paling dibutuhkan saat bencana sedang terjadi.
Kumpulan makanan kering dan energy bar, dua botol minuman, beberapa alat kebersihan, beserta P3K, semua item ini biasa muncul saat Fang memainkan game survival. Tangannya berkeringat saat memasukkan dua ikat tambang ke dalam ranselnya, kakaknya bahkan menyiapkan pisau lipat serbaguna, senter dan alat jahit.
Selesai dengan perbekalan yang entah untuk apa dan kapan, mereka kembali ke atas, Kaizo mengambil kantong tidur yang Fang tidak pernah lihat sebelumnya, Fang kira Kaizo akan menggunakannya mengingat kakaknya akan tidur di kamarnya namun Kaizo justru memasukkannya ke dalam tas camping mereka, Kaizo juga mencegah Fang untuk berganti dengan piyama dan menyuruhnya untuk mengenakan pakaian hangat beserta jeans, jaket disiapkan beserta sepatu kets tidak jauh dari tempat mereka tidur.
"Abang." panggil Fang saat melihat kakaknya masih sibuk berpindah antara satu ruangan dan ruangan lain, Fang dibuat was-was saat melihat Kaizo mengepak kartu debit dan kreditnya ke dalam tas camping beserta sejumlah uang, dia juga melihat Kaizo merapikan berkas-berkas penting di dalam berangkas sebelum menutupnya kembali.
"Aku tahu, aku tahu, aku tahu," ucap Kaizo "aku tahu apa yang kulakukan mungkin berlebihan, tapi aku hanya ingin… berjaga"
"Abang terlihat seolah siap meninggalkan rumah." balas Fang "Kita tidak akan… bernasib seperti…" perkataan Fang terputus, dia enggan melanjutkan ucapannya "Keadaan akan baik-baik saja bukan?"
Kaizo mengambil selimut dan karpet kecil dari lemari "Aku tidak tahu Fang, firasatku mengatakan tidak." ucap Kaizo seraya menggelar karpet itu di sisi ranjang Fang, dia memilih untuk tidur beralas karpet daripada repot-repot menyeret kasurnya.
Fang terdiam mendengarnya, bukan jawaban yang dia inginkan tapi begitulah keadaannya. Malam ini lebih buruk dari malam sebelumnya, militer turun tangan ke lapangan, sirine belum berhenti melolong, berjam-jam telah berlalu semenjak sirine itu berbunyi, seingat Fang sirine ini mulai berbunyi sekitar pukul enam tiga puluh dan sekarang sudah mecapai pukul sebelas, telinga Fang dibuat mendengung karenanya. Dia naik ke ranjang, menurunkan bantal untuk kakaknya.
"Beristirahatlah." Kaizo menutup pintu kamar, menguncinya sebelum memadamkan lampu.
Dari pencahayaan samar jendela Fang memperhatikan kakaknya bersiap tidur, dua tas camping besar yang bersandar di sisi ranjang seolah menghantui, tanpa Fang sadari dia berdoa agar dia dan kakaknya tidak perlu menyetuh tas itu lagi, apalagi membawanya kemanapun mereka pergi, Fang tidak mau tas itu menjadi jaminan hidupnya, dia tidak ingin meninggalkan rumahnya dan harus mengembara dari kota ke kota lain mencari tempat berlindung dari sesuatu yang membahayakan hidupnya seperti karakter di game. Dia tidak mau melihat kota indahnya berubah menjadi reruntuhan, dia tidak mau melihat tubuh bergelimpangan di pinggir jalan, dan tidak mau jika tangannya harus digunakan untuk mencabut nyawa orang.
"Apa abang sudah tidur?" Fang tidak merasakan kantuk, dengan sirine yang masih meraung-raung akan sulit baginya untuk tidur bahkan jika dia memang mengantuk.
"Belum." balas Kaizo.
Penglihatannya mulai membiasakan diri di kegelapan, matanya menangkap setiap inci wajah kakaknya yang sedang menatapnya.
"Aku takut." bisik Fang tanpa dia sadari. Tapi memang itulah yang memberatkan dirinya, dia memang takut.
"Aku juga begitu." balas Kaizo, ada senyum kecil terlukis di sudut bibirnya seolah malu mengakuinya.
"Abang tidak terlihat takut."
"Aku hanya pandai menyembunyikannya."
Mereka terdiam membiarkan ruangan itu terisi dengan suara sirine, Fang mulai memejamkan matanya, berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya, menit ke menit berlalu tanpa kemajuan, dia hanya dapat memejamkan matanya tanpa benar-benar tertidur.
"Fang." panggil Kaizo pelan.
Fang nyaris tidak mendengarnya dikarenakan tertutup oleh sirine "Ya?"
"Aku tidak bisa menjanjikan apakah keadaan akan kembali seperti semula," ucap Kaizo, ada jeda panjang sebelum dia melanjutkan "tapi aku bisa berjanji jika memang sesuatu akan terjadi, aku akan membawamu ke manapun aku pergi."
Fang tersenyum, ketegangan di bahunya seketika sirna, beban yang membuat dadanya sesak terasa terangkat keluar saat mendengar ucapan kakaknya. Dia mulai bertanya-tanya apa rasa campur aduk yang dia rasakan bukanlah dikarenakan dia cemas dengan keadaan di luar melainkan cemas kehilangan keluarga terakhirnya. Mungkin memang begitu, kecemasannya musnah sekarang, karena dia tahu Kaizo tidak pernah berbohong.
Hal langka bagi Fang untuk melihat sisi lembut Kaizo, sosok itu nyaris tidak pernah muncul karena tertutup sisi dingin dan keras kepala kakaknya, namun Fang tahu sisi lembut itu tidak pernah hilang, hanya tersembunyi.
"Asal jangan bawa aku ke toilet ya." gurau Fang
Hantaman bantal menyapa wajah Fang. Sebelum Fang membalas, serangan lain menyapa wajahnya lebih dulu, perang bantal dimulai, Fang mencoba membalas Kaizo dengan melayangkan hantaman lain yang hanya menghasilkan kegagalan, dia terjerumus dari ranjangnya dan mendarat di karpet.
Seingat Fang, dia masih berusaha melayangkan hantaman ke wajah kakaknya sebelum jatuh tertidur akibat kelelahan, dia gagal melayangkan balasan pada Kaizo, sebagai gantinya dia dihantam berkali-kali, jika saja bantal itu adalah batu bata, Fang pasti sudah game over. Fang cukup terkejut karena ternyata dia mampu tertidur dengan lolongan sirine, dia terbangun akibat suara bising peringatan berkumandang lebih buas.
Fang membuka matanya, sengatan cahaya menusuk, dia perlu mengerjap berkali-kali untuk membiasakan matanya dengan cahaya. Raungan sirine membuatnya muak, dia menarik bantalnya, menenggelamkan kepalanya di bawah bantal untuk mengusir bunyi itu hingga telinganya menangkap suara teriakan. Fang terduduk tegak, dia melirik ke bawah ranjang, tempat Kaizo berada hanya untuk menemukan tempat itu kosong.
"Abang?" panggil Fang heran tidak menemukan kakaknya.
"Aku disini" jawab Kaizo, pria itu ternyata ada dikamarnya, berdiri di sisi jendela.
Fang menyibak selimutnya, menghampiri Kaizo, semakin dia melangkah mendekati jendela, suara teriakan semakin terdengar, walau sirine dan peringatan masih mengisi udara, suara teriakan itu tidak mau kalah. Di luar sana, tetangga-tetangganya berhamburan di jalan. Mereka terlihat histeris, mereka tidak berlarian, hanya terdiam di satu tempat, saling berpelukan, beberapa terduduk atau berlutut seraya menangis, beberapa sedang bersujud seperti meminta pengampunan dosa.
Pandangan Fang terarah pada tetangganya yang biasa membuat vlog, berbeda dari keadaan sekitarnya, anak itu terlihat tenang berdiri di tengah halaman rumah, di tangannya dia memegang kamera yang diarahkan ke langit, mata Fang mengikuti apa yang sedang direkamnya, detik dia memproses apa yang sedang direkam oleh kamera anak itu, Fang dapat merasakan matanya membelalak.
Di langit malam, garis-garis cahaya menjulang dari seluruh penjuru, garis-garis itu melintang dan berbenturan, membentuk sebuah jaring cahaya kemerahan, jaring cahaya itu tinggi melebihi awan, seperti berada di atmosfer tertinggi.
"Apa itu?" bisik Fang tidak percaya, dia menoleh menatap kakaknya, tatapan Kaizo terkunci ke langit.
"Aku tidak tahu, yang kutahu cahaya itu sudah ada sejak aku bangun" balas Kaizo.
"Jam berapa sekarang?" tanya Fang.
"Dua belas"
Huh pikir Fang, dia ingat, pukul sebelas dari baru menyelesaikan kegiatannya, dia masih bergurau dengan kakaknya saat jam dua belas malam, seingatnya dia tidur sekitar pukul satu atau dua pagi. Tatapan Fang tersentak ke arah jam burung hantu digitalnya. Di layar kecil itu terpampang angka.
12.14 P.M
Matanya bergantian melihat kearah langit dan jam digitalnya "Sekarang jam dua belas?" tanya Fang lagi.
"Ya." balas Kaizo.
"Dua belas siang?" ucapnya tidak percaya.
"Ya." jawab Kaizo terlewat tenang.
"Dimana matahari?"
Kaizo mengalihkan tatapannya dari langit, dia menatap Fang lekat "Itulah yang sedang kupikirkan."
Di tengah-tengah lengkingan sirine dan peringatan ini, teriakan orang-orang diluar tiba-tiba menjadi lebih mengerikan, Fang baru menyadari sesuatu, dia menangkap satu kata yang keluar dari mulut mereka selain tangis dan lantunan doa…
Kiamat.
.
.
.
Halo kawan pembaca. Ini fanfic rasa novel sci fi.
Fanfic kali ini akan multiple chapter, dan saya belum menentukan seberapa banyak chapter yang akan ada, saya hanya dapat mengatakan kalau fanfic ini akan panjang.
Semoga terhibur dan semoga kalian tidak jenuh hahaha
