Kamus (unfaedah) Jepang:

Okiroyo = wake up / bangun

Wakatta = i understand / aku mengerti atau bisa kaya 'I get it'

Ohayo = selamat pagi

Ja = lalu or 'then'

Demo = tetapi / but

- CLUELESS –

"Sei-kun! Sei-kun!" Tetsuya mengguncang-guncangkan tubuh laki-laki bersurau merah yang tengah terlelap disampingnya—membuat laki-laki tersebut sedikit menggerung karena istirahatnya merasa terganggu.

"Give me five minutes more, sweety." Gumamnya masih dengan mata yang tertutup sempurna. Merubah posisinya menjadi lebih nyaman dan semakin tenggelam dalam dunia mimpinya. Namun, Tetsuya tetap keukeuh untuk membuat laki-laki bersurau merah tersebut—Akashi Seijuurou—membuka matanya.

"Sei-kun, okiroyo!" Kali ini Tetsuya tidak lagi mengguncang-guncangkan tubuh Akashi, melainkan menarik tangan Akashi yang bertengger manis di pahanya. Ada yang harus disampaikan oleh Tetsuya saat ini dan ini sangat penting, tidak bisa diganggu gugat.

"Hai, hai, wakatta, wakatta." Dengan enggan Akashi menegakkan tubuhnya. Sebenarnya ia masih ingin terus menempel dengan kasurnya, kemudian bermanja-manja dengan selimut tebalnya untuk waktu lebih lama lagi. Tetapi sepertinya istri kesayangannya yang satu ini tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sedangkan Tetsuya tersenyum puas ketika melihat suaminya perlahan membangunkan dirinya. Mata heterokom yang selalu menjadi favorit Tetsuya masih terbuka setengah. Meskipun banyak orang yang mengatakan bahwa Akashi Seijuurou adalah laki-laki menakutkan dengan karisma yang mematikan serta tingkat kedisiplinan akan apapun sangat tinggi, namun perihal bangun pagi atau apapun yang berhubungan dengan Tetsuya adalah kelemahannya. Akashi Seijuurou tidak berdaya jika berhadapan dua hal tersebut.

"Ohayo, my little bunny." Akashi mengecup bibir Tetsuya lembut.

"Hng? Oha…yo?" jawab Tetsuya ragu-ragu. Alis Akashi mengerut. Tumben sekali istrinya menjawab dengan ragu-ragu seperti itu. Well, mungkin hanya perasaannya saja karena dirinya masih dikuasai rasa ngantuk. Sebaiknya ia segera masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia juga akan merasa segar setelah merasakan air dingin di musim panas seperti ini.

Disingkapnya selimut yang menutupi setengah badannya, memakai slop rumah-nya bersiap untuk menuju kamar mandi dengan lunglai dan berat hati. Rasanya baru sebentar ia merasakan nyenyaknya kasur. Tetapi, belum sempat melangkahkan kakinya, Tetsuya lebih dulu menarik tangannya. Membuat Akashi menatap istrinya penuh tanda tanya. Tumben sekali istrinya menahan dirinya seperti ini.

"Sei-kun, mau kemana?"

"Hmm? Tentu saja bersiap-siap untuk mandi, love." Bukannya melepaskan genggaman tangannya, Tetsuya malah terkekeh geli kemudian menunjuk jam digital yang berada di nakas samping tempat tidur ukuran king size mereka.

Akashi memincingkan matanya. Mencoba memfokuskan penglihatannya pada angka yang tertera di jam digital tersebut. Beberapa kali mengedipkan matanya, berusaha agar ia tidak salah melihat angka yang tertera di jam tersebut.

"Dua…lima belas… ah tidak, tidak. Sepertinya aku salah lihat," Kali ini Akashi mengambil benda berbentuk persegi panjang tersebut. Tapi mau dilihat dari sudut mana pun, angka yang tertera di jam digital ini tidak berubah sama sekali, kecuali dua digit dibelakangnya yang semakin naik setiap satu menit. Akashi memanglingkan wajahnya, menatap Tetsuya yang tersenyum lebar kearahnya.

"Hei sweetheart, sepertinya jam digital ini rusak. Aku akan membelikannya nanti setelah pulang kerja."

"Tidak, Sei-kun. Tidak ada yang rusak dari jam tersebut. Sekarang memang masih jam dua pagi."

"Haah?!" Mulut Akashi terbuka lebar. Buru-buru tangannya merampas handphone keluaran terbaru yang baru ia beli beberapa hari yang lalu. Dan benar saja, jam yang tertera di layar handphone-nya dengan yang tertera di jam digital-nya tidak berbeda. Seketika tubuh Akashi menjadi lemas. Ia pikir ini sudah pagi, tapi ternyata ini masih jauh dari kata pagi. Pantas saja ia merasa cepat sekali perpisahan antara dirinya dengan kasur, dan ini pula lah yang menjadi alasan mengapa istrinya ragu-ragu menjawab ucapan selamat pagi darinya.

"Ja... Kenapa kau membangunkanku, sayang? Ini masih jauh dari kata pagi, kau tau?" tanya Akashi sambil kembali mendudukkan dirinya diatas kasur. Tangan kanannya menggenggam jari-jemari Tetsuya. Muncul sedikit rasa kesal dari dirinya karena istrinya mengerjainya, tapi sekesal apapun Akashi pada Tetsuya, ia tidak akan sanggup memarahi Tetsuya-nya yang sangat amat dan selalu menggemaskan. His forever little bunny.

Sedangkan Tetsuya mengangguk mantap. Membenarkan pertanyaan terakhir suaminya. Siapapun juga tau ini masih pagi buta. Tapi ada suatu hal yang harus ia sampaikan detik ini juga. Tidak bisa diganggu gugat atau ditunggu-tunggu lagi. As soon as possible.

"Ada yang ingin aku sampaikan,"

Akashi menghela nafasnya. Mengelus punggung tangan Tetsuya lembut. "Kan bisa disampaikan nanti pagi, ketika 'pagi' yang sebenarnya datang, love." Jawab Akashi sambil menekankan kata 'pagi' pada kalimatnya. Sedangkan Tetsuya menggeleng cepat dan tegas.

"Aku ingin secepatnya dan ini tidak bisa ditahan-tahan lagi, Sei-kun."

"Demo—"

Tetsuya menghempaskan tangan Akashi. Bibirnya maju beberapa senti. Sepertinya Akashi tidak akan mendengarkannya kali ini. Terkadang, Akashi memang lebih memilih kasur ketimbang dirinya. Akashi Seijuurou hanya mencintai kasur dan tidak mencintai Tetsuya. "Baiklah kalo Seijuurou tidak mau mendengarkan. Lain waktu saja." Ucap Tetsuya ketus kemudian merebahkan dirinya dengan posisi memunggungi Akashi. Dan jangan lupakan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian kepala.

Sedangkan Akashi hanya menarik nafas. Ia tau bahwa saat ini tidak ada jalan lain selain menuruti permintaan little bunny-nya. Jika Tetsuya sudah memanggil dirinya dengan 'Seijuurou' berarti itu merupakan peringatan untuk Akashi bahwa Tetsuya dalam keadaan mode ngambek, Tetsuya akan mengabaikan Akashi sampai pada akhirnya Akashi lah yang mengalah. Tentu saja itu bukan suatu hal yang susah untuk Akashi. Kebahagiaan Tetsuya lebih penting diatas apapun, termasuk diatas kebahagiaan dirinya sendiri. Apapun akan ia lakukan selama Tetsuya bahagia dan kebahagiaan itu tentu saja harus dikarenakan oleh Akashi Seijuurou, bukan orang lain.

Dan jika dalam keadaan seperti ini, Akashi akan memeluk tubuh Tetsuya. Kemudian menciumi setiap inchi dari tubuh laki-laki tersebut. Mulai dari kepala, wajah, leher, sampai bahu. "Alright, little bunny. I'm understand now and I'm really sorry. Would you forgive me, my love?"

Hening. Tetsuya masih belum luluh dengan kalimat Akashi dan tentu saja Akashi masih memiliki banyak kartu untuk membuat Tetsuya berhenti mengambek seperti ini.

"Please, love? Forgive me, 'kay? You know that I can't live without you, my forever little bunny. I'll do everything for you, love. So please...?" Akashi menahan senyum kemenangannya ketika Tetsuya membalikkan tubuhnya. Membuat mata mereka saling bertemu satu sama lain.

"Sei-kun benar akan melakukan apapun untukku?" Akashi mengangguk lembut. Kemudian mencium kening Tetsuya.

"Of course, sayang. Your wish is my command, little bunny." Akashi mengecup pangkal hidung Tetsuya. Membuat sang empunya terkekeh kegelian.

"Hentikan, Sei-kun! Kau membuatku geli." Tetsuya mendorong setengah tubuh Akashi yang berada diatasnya lembut. Membuat Akashi sedikit berjarak dengan Tetsuya.

Akashi mencolek pangkal hidung istrinya. "So? Apa yang ingin disampaikan tuan putriku?"

"Jangan memanggilku seperti itu, Sei-kun! Aku masih laki-laki." Tetsuya memukul bahu suaminya pelan. Sedangkan sebisa mungkin Akashi menahan diri untuk tidak menerjang istrinya yang sangat menggemaskan dengan bibir maju beberapa senti serta pipi yang merah merona. Walaupun mereka sudah lebih dari satu tahun menikah, tetap saja Tetsuya akan tersipu malu jika Akashi menggodanya. Ah, melihatnya membuat Akashi semakin jatuh pada pesona istrinya.

"Aku mau vanilla milkshake,"

"Hmm?" Akashi mengangkat satu alisnya. Apa yang barusan istrinya katakan? "Vanilla milkshake?" ulang Akashi memastikan bahwa apa yang ditangkap indra pendengarnya adalah benar. Sedangkan Tetsuya mengangguk mantap. Mata birunya semakin memancarkan binar-binar antusias. Astaga! Apa yang tengah dipikirkan istrinya pagi buta ini? kenapa tiba-tiba ia menginginkan vanilla milkshake di jam-jam seperti ini? Dan perihal penting yang ingin segera disampaikan istrinya bukan dan tidak bukan adalah vanilla milkshake?! Dan perlu diketahui jika Tetsuya menginginkan vanilla milkshake itu berarti adalah vanilla milkshake dari restoran cepat saji Maji burger yang ada di Tokyo, dan saat ini mereka sedang ada di Kyoto. Tetsuya bercanda?!

"Tapi sayang, ini masih jam dua pagi. Tidak kah kita tunda sampai pagi datang? Nanti aku akan meminta Daiki untuk membelikan seluruh vanilla milkshake yang masih tersedia disana untukmu dan membawakannya ke sini, 'kay love?" Tetsuya menggeleng.

"Aku menginginkannya sekarang, Sei-kun, tidak nanti pagi tidak pula besok. Se-ka-rang."

"Tapi, love…"

"Tch! Seijuurou bilang bahwa akan melakukan apapun untukku, ternyata semua hanya palsu."

"Ahh~ wakatta, wakatta." Akashi menarik tangan Tetsuya. Menyetopnya untuk melakukan aksi ngambek seperti yang beberapa menit ia lakukan. Menghembuskan nafasnya kemudian mengeluarkannya perlahan. Keinginan Tetsuya mutlak dan tidak bisa diganggu-gugat atau bahkan di negosiasi. Saat ini Akashi hanya ada punya dua pilihan, now or never.

Tetsuya tersenyum senang. Mengecup bibir suaminya sekilas kemudian menghambur kepelukannya. "Arigato, Sei. I love you to the moon and back!"

Sekali lagi Akashi menghembuskan nafasnya. Merengkuh tubuh mungil Tetsuya. Walaupun malam ini istrinya mudah sekali ngambek dan bertingkah seperti anak kecil, tetapi Akashi bahagia melihat istrinya bahagia. Dan tentu saja cintanya pada Tetsuya tidak berkurang barang sesentipun. "Anything for you, my little bunny. And of course, I love you more than anything in this universe."

- CLUELESS –

-TBC or END? –

EPILOG

Akashi menekan beberapa angka di layar handphone-nya, berusaha menghubungi seseorang yang saat ini dapat dimintai tolong untuk merealisasikan keinginan dari istrinya. Dua kali nada dering berbunyi sebelum terputus karena seseorang mengangkat telpon tersebut.

"Hng?" Suara seseorang dengan nada setengah sadar terdengar dari seberang sana yang Akashi yakini panggilannya menganggu mimpi indah dari sang empunya suara. Well, Akashi tidak peduli. Terlebih tidak ada orang yang bisa mengabaikannya. Apapun itu. Baik perkataannya, perlakuannya, atau bahkan seperti panggilan telpon di jam seperti ini. Karena dirinya adalah absolute dan selalu benar.

"Daiki,"

"Akashi?" hening beberapa saat. Aomine Daiki, laki-laki yang tengah Akashi telpon saat ini membuka matanya perlahan untuk memastikan bahwa telpon yang ia angkat dengan keadaan setengah sadar adalah benar dari Akashi. "Nanda, Akashi? Tidak bisakah kau menelponku nanti pagi? Kau tau ini jam berapa kan?"

"Tentu saja aku tau ini jam berapa, Daiki. Dan ho? Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan? Kau sedang mengatur-ngaturku? Apa kau sedang ingin mempercepat kematianmu, Daiki?"

"Damn it! Baik, baik, aku mengerti. Ja, katakan ada perlu apa kau menelponku at two-fucking-A.M, Seijuurou-sama." Jawab Aomine Daiki dengan sedikit penekanan pada jam dua pagi pada kalimatnya.

"Aku ingin sekarang kau bangun dan bergegas ke Maji burger untuk membeli semua vanilla milkshake yang masih tersedia disana kemudian membawakannya ke Kyoto."

"WHAT THE FUCK, AKASHI?!" Akashi mengernyitkan dahinya, menjauhkan telpon genggamnya dari telinganya.

"Daiki, ku harap kau tidak berniat untuk membuatku tuli di usia muda."

"OF COURSE I AM. 'CAUSE WHAT THE HELL ARE YOU THINKING, AKASHI SEIJUUROU?! INI JAM DUA PAGI DAN KAU INGIN AKU MEMBELI SELURUH VANILLA MILKSHAKE DI MAJI BURGER DAN MEMBAWANYA KE KYOTO MENGGUNAKAN MOBILKU KARENA THE HELL KERETA MENUJU KYOTO SUDAH TIDAK ADA?! KAU PIKIR AKU AKAN MELAKUKANNYA?! HELL NO, AKASHI!"

"Ho? Ku pikir tidak ada yang berani untuk menolak permintaanku. Well, baiklah Daiki. Ku harap, kemarin adalah hari yang menyenangkan untuk kau jalani. Then, see you in hell, Aom—"

"WAIT AKASHI! ALRIGHT, ALRIGHT. I'LL DO IT. I'LL DO IT."

Akashi menyeringai penuh kemenangan. See? Semua orang akan dengan senang hati serta sukarela melakukan apa yang ia perintahkan. Karena sekali lagi, seluruh perkataan dari mulut Akashi Seijuurou adalah absolute dan selalu benar. "Glad to hear that. I'll see you 4 A.M then, Daiki. Hati-hati dalam mengendarai mobilmu."

"FUCK YOU, AKASHI. FUCK YOU."

Piip. Piip.

Sambungan dimatikan secara sepihak. Sedangkan Akashi tersenyum puas. Daiki akan melakukannya dan Tetsuya akan senang ketika mendapati vanilla milkshake favoritnya telah sampai ditangannya. Akashi mencium kening Tetsuya yang kembali terlelap setelah sepertinya terlalu banyak merajuk membuatnya kelelahan.

"Dream of me, love."

- Epilog End –

HUEEE T.T aku ga tau ini fanfict apa coba;( tiba-tiba kepengen bikin drabble Akakuro, tapi kayanya sangat failed;( gomen but hope you like it guys! See ya~~