BREATH
Disclaimer : Kimetsu no Yaiba milik Gotouge Koyoharu
Gerne : Horor
Dibuat untuk memeriahkan event bulanan Fanfiction Addict dengan tema horor #MonthlyFFA #HauntedMarch
Hari ini adalah hati ke tujuh setelah badai salju datang dan memporak porandakan hutan serta pemukiman warga di kaku gunung. Meski terbilang cukup besar, untung saja tidak menimbulkan kerusakan yang cukup fatal hingga menelan korban jiwa. Warga desa tidak memerlukan waktu yang lama untuk menata dan memperbaiki rumah mereka.
Begitu juga yang terjadi dengan rumahku.
Rumahku terletak 200 meter dari kaki gunung dan 150 meter dari pemukiman warga. Tidak ada orang lain yang tinggal di atas gunung, kecuali pria tua yang tinggal di gubuk kecil 50 meter diatas pemukiman warga. Cukup jauh memang.
Kami memilih untuk tinggal di atas gunung karena dekat dengan sumber penghasilan keluarga kami. Tiap harinya kami berbagi tugas untuk mengumpulkan dan memotong kayu hingga menjualnya ke desa dalam bentuk kayu bakar. Aku sebagai anak tertua mendapatkan tugas untuk menjual kayu bakar ke desa di kaki gunung.
Setiap hari aku berjalan menuruni gunung berangkat di pagi hari dan akan kembali sebelum hari mulai petang. Dalam perjalanan menuju desa, aku akan melewati gubuk kecil milik pria tua yang selalu terlihat sibuk dengan berbagai macam hal yang dia kerjakan, mulai dari memotong kayu hingga menguliti binatang hasil buruannya. Pria tua itu selalu menyapaku dengan melambaikan tangan dan tersenyum tipis, senyum yang terkadang membuatku merasa tidak nyaman dan tidak jarang membuat bulu kudukku seketika berdiri. Namun bagaimanapun juga aku harus menghormati dan membalas sapaannya.
Tidak seperti hari biasanya, sudah hampir 7 jam aku menjajakan kayu bakarku tapi aku tidak berhasil menjual lebih dari setengah keranjang. Aku bisa saja menunggu dan berharap pada peruntunganku, tapi melihat keadaan langit yang semakin gelap memaksaku untuk segera pulang ke rumah. Aku tidak ingin pulang saat hujan salju tengah turun.
Setelah lima belas menit kemudian aku sudah sampai ke jalan setapak yang menghubungkan antara kaki gunung hingga ke puncak dimana ada kuil kecil yang sudah jarang dikunjungi orang-orang. Jalan itu juga yang aku pakai untuk pulang ke rumah dengan rute yang harus melewati gubuk kecil milik pria tua sebatang kara itu. Dengan bawaan yang masih terasa berat, kakiku melangkah satu demi satu menaiki jalan setapak yang lumayan licin.
Suasana siang hari itu terasa sangat berbeda dari biasanya, tidak ada kicauan burung ataupun suara serangga yang biasa memenuhi gendang telinga. Bahkan anginpun bagai enggan untuk sekedar menyapa dedaunan yang biasa terbang bersamanya.
Sunyi
Semakin aku berjalan semakin terasa aneh saat aku semakin dekat dengan gubuk kecil milik pria tua yang sampai sekarang aku tidak tahu siapa namanya. Ada sesuatu yang menggangguku ketika aku memperhatikan gubuk itu. Biasanya selalu ada suara berisik seperti suara pukulan pada benda keras, maupun suara gesekan besi dengan batu, dan juga akan ada cahaya temaram dari likin yang lalu terlihat dari balik jendela gubuk itu.
Namun hari ini semua hal itu hilang bagaikan lenyap tidak tersisa. Aku juga tidak melihat pria itu di depan rumah, bahkan tidak ada tanda-tanda dia sedang ada di dalam rumah.
Ah, masa bodoh. Aku harus segera pulang sebelum salju mulai turun.
Sudah agak jauh aku meninggalkan gubuk itu, namun perasaan tidak nyaman ini belum saja hilang. Entah apakah ada yang salah dengan pendengaranku atau memang hutan ini sangat sunyi. Kesunyian yang semakin lama semakin mencekam bahkan aku merasa tekanan oksigen yang perlahan semakin menipis.
Nafasku tercekat.
Aku harus segera sampai ke rumah, namun seperti ada yang menggelayut di pundak, rasanya sangat berat membuatku semakin sulit untuk melangkah. Aku pikir aku harus mengurangi beban dari dalam keranjangku. Setelah menemukan pohon besar dengan bentuk yang aneh, aku mulai mengeluarkan beberapa balok kayu dari dalam keranjang dengan harapan besok aku tidak kesulitan menemukan pohon ini dan mengambil kembali kayu yang aku tinggalkan. Sekiranya sudah berkurang banyak, aku kembali ke jalan setapak dan bergegas menuju rumah.
Tak berselang lama, aku mendengar hembusan nafas yang cukup keras dari arah belakang. Sontak aku membalikan badan dan memeriksa apakah ada binatang buas yang sedang mengincarku. Tapi setelah aku amati, tidak ada tanda-tanda binatang buas di belakangku. Tak pakai pikir panjang aku melanjutkan kembali perjalanan.
Baru saja beberapa langkah, langit terlihat semakin gelap dan hutan kembali sunyi, sangat sunyi. Namun kali ini ada suara hembusan nafas yang berasal dari sebelah kananku. Saat aku perhatikan, di dalam hutan yang gelap aku melihat siluet seseorang sedang berdiri di dekat pohon, menatapku tanpa henti.
Aku pikir itu hanyalah khayalanku saja, tapi setelah beberapa kali aku mengusap mata, bayangan itu tidak hilang dan kini semakin terlihat jelas.
Dia mulai tersenyum, sangat lebar hingga menampakkan beberapa deret giginya, serta ada kilauan dari benda yang dia bawa.
Aku terperangah, bagai terpatri begitu saja saat aku melihat ekspresi orang itu. Bulu kudukku berdiri, dan aku tidak bisa mengalihkan pasandanganku dari matanya yang terbuka sangat lebar. Satu detik kemudian dia mulai mengangkat benda yang dia bawa.
Makhluk haus darah itu ingin membunuhku dengan kapak yang dia bawa.
Aku berlari.
Berlari dan melemparkan keranjang yang aku bawa kearahnya. Tidak peduli seberapa cepat aku berlari tetap tidak mengurangi jarakku dengan orang itu. Rumput liar yang berpagar-pagar aku terobos hingga darah segar mengalir dari tangan dan kaki ku yang robek akibat duri-duri tajam.
Aku mencoba menoleh ke belakang dan akhirnya aku melihat dengan jelas siapa orang yang sedang mengejarku.
Dia adalah pria tua yang setiap hari menyapaku dengan ramah. Tapi kini dia terlihat sangat menyeramkan dengan rambut panjangnya yang tidak beraturan, baju compang camping penuh darah, dan bisa ku lihat ada luka menganga di separuh wajahnya.
Entah apa yang baru saja terjadi kepadanya?
Entah apa yang akan dia lakukan kepadaku?
Aku tidak tahan melihat daging wajahnya yang terkelupas masih menggantung di dagunya.
Pria tua itu terus saja mengayunkan kapak ke arahku. Semakin cepat aku memacu langkah kakiku untuk bisa lolos darinya, hingga akhirnya aku merangkak masuk ke dalam hutan dengan pohon-pohon besar dan ranting dengan duri tajam yang saling melilit hingga membentuk pagar duri yang lumayan tebal. Ku lihat sekelilingku banyak pohon besar dan tinggi, saat ku dongakkan wajahku ke atas aku tidak dapat melihat cahaya matahari, seakan-akan dedaunan yang kebat diatas sana membentuk atap bak terpal yang tidak ingin ditembus oleh cahaya bahkan hanya sedikit salju yang bisa menembus daun-daun di atas, seperti sedang di tempat yang berbeda. Aku mulai melangkahkan kakiku mencari jalan keluar, namun tanah yang lembab dan becek membuatku sedikit terpeleset dan kadang langkahku menjadi terasa lebih berat.
Kabut yang tebal membuat suasanya dalam hutan ini semakin mencekam. Aku sudah tidak tahan berada di sini. Nafasku tercekat sekali lagi, seperti kabut ini menggantikan posisi oksigen di tengah hutan yang rimbun. Aku berjalan tidak tahu arah, hanya berpikir mencari jalan keluar dan terus mencari cahaya sebagai patokan ujung dari hutan aneh ini.
Beberapa menit aku berjalan menyusuri hutan gelap ini, aku sedikit lega karena tidak mendengar hembusan nafas berat di belakangku yang artinya pria tua itu sudah tidak mengejarku. Ingin rasanya aku tetap ada di dalam hutan ini, tapi tidak bisa, aku harus pulang dan memastikan pria tua itu tidak melukai Nezuko dan yang lainnya.
Aku sangat lelah, aku juga mulai mencium aroma besi, darah, yang sangat menyengat yang berasal dari luka dintangan dan kaki ku. Namun perjuanganku tidak sia-sia. Aku melihat ada cahaya di depanku, dengan sisa tenaga ku aku mulai berlari, akhirnya aku bisa keluar dari hutan ini
Aku berlari, tidak peduli dengan rasa ngilu dari memera di kakiku, yang aku pikirkan hanya kembali ke rumah dan bertemu dengan keluargaku.
Akhirnya aku berhasil keluar dari hutan itu,
Akhirnya aku bisa melihat cahaya matahari lagi,
Hingga saat aku tersadar semua yang ada di depanku menjadi merah, tubuhku terasa sangat jauh kini basah dengan darah dari leherku.
Kulihat pria tua itu tersenyum sangat mengerikan dengan kapak yang sudah berlumuran darah, pemandangan terakhir sebelum akhirnya semua menjadi gelap.
-fin-
