Hanya karena garis takdir.

Manusia terlahir, bertumbuh, lalu kembali kepada si pencipta hidup.

Haruno Sakura merenung sesaat memandang foto mendiang suaminya, ia tersenyum samar, juga menyentuh benda itu sebelum kembali meletakkannya di etalase kaca.

Ini menyakitkan.

Hampir satu tahun lalu mereka berdua masih bisa saling berpelukan, kemudian kecelakaan di sabtu malam itu merenggut. Sakura tidak berdaya, berkali-kali merasa telah terpukul sesuatu hingga tubuhnya nyeri. Akan tetapi, semuanya menjadi lain ketika Sakura mendapati dirinya mulai berpaling.

Sungguh, ia adalah wanita dewasa yang bisa berpikir lebih rasional.

Ada banyak sekali cinta, Sakura bisa dengan leluasa menentukan. "Aku yakin perasaanku tetap sama, tetap dan hanya untuk suamiku."

Laki-laki itu.

Sakura selalu was-was setiap kali harus bertemu pandang. Ini bukan sekedar drama dua remaja yang saling jatuh cinta lalu menjalin hubungan, tidak sesingkat itu.

Di sini, Sakura wanita dewasa yang hampir kepala tiga dengan satu anak bayi berusia delapan bulan. Sedangkan laki-laki itu masih belasan tahun, masih anak sekolah. Tapi ketegangan antara keduanya tidak dapat dibendung. Laki-laki itu merupakan teman sekolah adik perempuannya, sering ke rumah dan tidak jarang seharian penuh berada di sana. Sakura merasa lain semenjak laki-laki itu berani mendekatinya diam-diam, mengirim pesan penuh perhatian, bahkan berani menyatakan perasaan. Itu semua buruk. Sakura berpikir jika dirinya dengan si laki-laki memiliki dinding pembatas yang kokoh, mulai dari jarak usia mereka hingga tuntutan pada laki-laki itu sendiri yang belum sepenuhnya dewasa.

"Sakura-nee?!"

"Ssstt." Bayi yang sejak tadi tidur sekaligus menyusu padanya sedikit terusik. Sakura menghela napas memandang Tayuya sembari menepuk bokong anak perempuannya pelan hingga dia kembali memejamkan mata. Sarada demam sejak semalam, rewel dan terus minta digendong sampai tangan kiri Sakura kebas. "Ada apa?"

"Nanti saja deh, tunggu sampai Sarada tenang."

"Memangnya ada apa sih?"

"Itu," Tayuya menggaruk ujung kepalanya yang tidak gatal. "Ibu ngirain Sakura-nee sudah selesai nidurin Sarada, makanya dia nyuruh aku ke sini manggil Sakura-nee buat ngebantuin dia motong bawang bombai."

Ada pesanan dua ratus kotak nasi, Sakura dan Ibunya menjalankan bisnis katering ini semenjak enam bulan terakhir. "Sebentar, sepuluh menit lagi Neechan ke dapur."

Sepeninggal suaminya, Sakura mencari cara untuk tetap bertahan hidup dan tidak bergantung pada orangtuanya yang bahkan masih memiliki tanggungan untuk membiayai sekolah Tayuya. Hanya perlu hidup bahagia dan berkecukupan, apalagi yang ia inginkan setelah itu? Melihat putrinya Sarada bertumbuh meski pun tanpa figur seorang Ayah. Tanpa figur laki-laki baik seperti mendiang suaminya, Utakata.

Sakura akhirnya bisa bernapas lega seusai meletakkan tubuh mungil Sarada ke dalam boks bayi, mengelus puncak kepalanya sebentar kemudian beranjak dari sana. Sebelum itu, Sakura juga membawa serta gelas kosong bekas air minumnya. Ia menuruni tangga, melangkah melewati ruang tengah dengan santai. Tetapi, Sakura tidak bisa berpura-pura tidak melihat laki-laki itu yang tengah bersama Tayuya dan tiga temannya. Matanya tajam, dalam, juga sanggup membuat Sakura salang tingkah. Beruntung tingkahnya tidak disadari yang lain, Sakura hanya tersenyum tipis menyahuti sapaan ceria Kiba dan Hinata, tanpa berniat berlama-lama memandang laki-laki itu.

Seperti paradigma menyakitkan.

"Eh, Uchiha. Gantian sini, mana joystick nya?"

Sakura tidak terlalu mendengarkan ucapan anak-anak remaja itu, memilih berlalu untuk menenangkan diri. Karena sepertinya dia telah terbawa oleh delusi memuakkan.


To be continue...