Disclaimer: Naruto belong to Masashi Kishimoto.
A/N: nama tempat yang ada sebagian hanya fiktif dan refrensi diambil dari gugel.
--
Naruto menghela napas. Koper yang disere kini seperti ratusan kali lebih berat dari yang seharusnya.
Niatnya hanya kabur dari rumah dan tanpa pikir panjang menyusul sang kakak angkat menuju California. Berbekal uang saku tabungan yang ala kadar dan visa serta passport, pemuda yang baru saja beberapa hari lalu berumur tujuh belas tahun itu memutuskan untuk mandiri.
Nekat pergi sendiri tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Rencana awal adalah memberitahu kedua orang tua tercinta jika dia seorang gay -- bukan bi apalagi straight.
Namun, reaksi kedua orang tuanya justru di luar dugaan.
Ibunya terkejut dan bertanya banyak hal. Menyangkal jika Naruto adalah gay. sang ibu tak berkata kasar. Tetapi, dia justru membuat banyak trik untuk membawa kembali putranya pada jalan kebenaran. (Atau itu yang dia pikirkan).
Keduanya sangat sayang, sehingga mereka mencoba cara halus untuk merubah pemikiran anaknya dengan menggunakan blind date.
Setelah tiga puluh kali melakukan dalam jangka waktu dua bulan, semua itu membuat Naruto muak.
Naruto tahu jika ibunya hanya khawatir padanya, tapi ia sudah dewasa. Tahu mana yang ia pilih dan mana yang tidak, memang mengakui dirinya sebagai gay adalah hal yang sulit.
Tindakan blind date itu sudah menyelewengi haknya untuk memilih.
Ayahnya sudah menyerah dan membiarkan saja, namun ibunya masih gencar berharap suatu hari menimang cucu.
Naruto tahu keluarganya itu unik, namun ia butuh jarak untuk membenahi pikiran. Karena itu dia nekat kabur ke Cali menyusul kakaknya tanpa meninggalkan secarik kertas pun.
Memang kenapa jika Naruto gay?
Naruto pun pernah berpacaran dengan beberapa gadis cantik.
Ia tidak buta, ia tahu gadis cantik ketika melihatnya. Menjadi gay bukan berarti ia tidak mengapresiasi kehadiran wanita dalam hidupnya.
Naruto pun pernah berpacaran dengan beberapa lelaki.
Naruto lebih nyaman ketika ia menjalin hubungan dengan pacar laki-lakinya ketimbang pacar wanita.
"Naruto!"
Seruan familier itu membuat Naruto mendongak. Wajah tampan itu langsung menggurat senyum indah menatap sang kakak angkat-- Sakura, datang ke arahnya.
Kakaknya itu terlihat makin mempesona setelah dua tahun Naruto tidak melihatnya secara langsung. Tubuh tinggi semampai, wajah tirus dengan bentuk oval yang tajam, bibir merah muda, style rambut pun membuat Namikaze Sakura terlihat seperti model kelas atas.
Naruto baru akan menghampiri kakak tercinta ketika wanita berumur dua puluh enam itu justru berjalan cepat dan langsung mengunci leher Naruto dengan lengannya.
Sakura melakukan deathlock terhadap adiknya. Kepalan tangan pun mendarat di kepala pirang.
"Saat ibu berkata dengan menangis jika anak laki-lakinya kabur, aku pikir itu hanya candaan kalian. Adik bodoh! Apa yang kau lakukan di sini?"
Naruto mencoba lepas dari deathlock kakaknya, namun Sakura makin mengencangkan tangan. Tak peduli jika orang-orang memperhatikan mereka.
"Aku hanya bosan. Ibu terus mencoba menjodohkanku setelah tahu aku gay," Naruto menjawab di sela usahanya melepaskan diri.
Sakura mengendurkan cekalan. Kedua tangan wanita cantik itu menangkup pipi bergaris sang adik. Mata emerald si kakak memicing tajam. "Kau seorang gay?"
Naruto mengerang lelah. "Kenapa? Apa kau akan menasehatiku lagi?"
Sakura justru tertawa lepas. Wanita cantik itu menarik perhatian orang-orang.
Sakura menepuk-nepuk pundak Naruto kemudian dengan sigap menarik koper besar adiknya.
Naruto yang terhenyak karena tak mengerti kenapa kakaknya tertawa seperti tadi. Ia pun langsung menyambar koper miliknya dari tangan sang kakak.
"Kenapa kau tertawa seperti itu?" sungut Naruto.
Sakura merangkul adiknya dan mulai menggiring langkah mereka menuju parkiran.
"Aku pernah bertaruh pada ayah; jika nanti Naruto sudah remaja, kau akan mengakui dirimu sebagai gay. Ayah bilang tidak mungkin putranya mengakui menjadi gay dan kau akan terus bingung mengenai orientasi seksualmu sendiri," jawab Sakura secara gamblang dan tenang.
Gurat main-main nampak di wajah cantik wanita berambut merah muda itu.
Naruto hanya mengatupkan bibir rapat; marah dan bingung.
Ia mengerti sekarang kenapa ayahnya tidak terlihat terkejut dan diam saja, berbeda dengan sang ibu yang menggebu ingin Naruto memikirkan ulang apa yang dikatakannya.
"Bagaimana kalian bisa tahu?" Naruto bertanya sembari memicingkan mata tajam. Kopernya ditarik lebih keras sebagai pelampiasan emosi.
Sakura tidak menjawab ketika ia mematikan alarm mobilnya.
Wajah Naruto langsung sumringah melihat Camaro berwarna hitam mengkilap terparkir indah di depannya.
"Aku sudah lama ingin menaiki mobilmu," ucap Naruto antusias. Berjalan setengah berlari menuju mobil indah itu.
"Ini hanya mobil lama Naruto," dengus Sakura.
Naruto tak mengindahkan kakaknya. Ia segera membuka passenger seat di belakang dan menaruh kopernya.
Dengan cepat pula pemuda blonde itu membuka pintu front seat sebelah kiri.
Sakura menyeringai kecil ketika adiknya salah mengambil tempat duduk. "Minggir itu kursiku," ejek Sakura.
Naruto memicingkan mata kemudian dengan langkah panjang memutar menuju front seat bagian kanan. Ia lupa jika di sini kemudi mobil berada pada bagian kiri, berbeda dari yang ada di Konoha.
"Aku akan membawamu ke rumahku, tapi aku tidak bisa lama menemanimu. Bosku bisa menegur nanti," Sakura berucap ketika ia mulai menyalakan mesin mobil.
Naruto bergerak tak sabar ingin segera melaju di dalam mobil sport ini.
"Aku bisa menghibur diriku sendiri, tenang saja," jawab Naruto.
Sakura mengangguk kecil dan mulai fokus mengemudi. Mereka segera keluar parkiran bandara.
Seperti yang Naruto duga, menaiki mobil keren ini berbeda dengan menaiki mobil minivan atau sedan. Mesin dan perjalan mereka terasa lebih halus.
Naruto menginginkan mobil seperti ini sejak dulu. Wajah sang blonde tergurat ekspresi terliur.
Orang tua mereka bukan orang miskin, hanya saja ibunya tak senang jika Naruto membawa mobil sport di jalanan Konoha yang rawan.
Karena itu, begitu Sakura mengabari Naruto jika dia telah membeli sebuah Camaro, si blonde muda pun langsung ingin menyusul kakaknya ke Cali.
Sayangnya, Namikaze Kushina melaranganya dan menyita semua tabungan Naruto. Setelah dua tahun menunggu akhirnya ia bisa menaiki mobil keren ini.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kalian bisa tahu aku akan menjadi gay?" tanya Naruto setelah ia ingat jika pembicaraan mereka tertunda.
Sakura tersenyum lebar, "Saat aku baru dibawa ke rumah. Ibu sangat senang mendadanimu sebagai anak perempuan. Ayah bilang jika ibu memang menginginkan seorang anak perempuan, karena ayah tidak ingin ibu melampiaskan keinginannya padamu karena itu ayah mengangkatku."
Naruto langsung terdiam begitu nada suara kakaknya menjadi lebih dalam.
Naruto menyayangi Sakura, ia paham betul jika kakaknya memiliki masalah dengan self-worth akan posisinya di rumah mereka.
Menjadi anak angkat dengan semua kebutuhan terpenuhi terkadang membuatmu justru merasa seperti beban.
"Kau tahu ibu menyayangimu bukan? Kau tetap kakakku, ibu juga menganggapmu sebagai anaknya."
Sakura menilik adiknya sekilas. Wanita cantik itu tersenyum lebar. "Dasar bodoh, tentu saja aku tahu. Kalian adalah keluargaku yang berharga."
Naruto tahu meski Sakura mengatakan itu, namun kakaknya masih saja tidak percaya pada posisinya di kediaman Namikaze.
Naruto tidak tahu apa yang terjadi pada Sakura sebelum ayahnya membawa sang kakak ke rumah mereka.
"Kalau begitu kenapa kau kabur ke Cali? Pulanglah, ibu pasti senang melihatmu," bujuk Naruto.
Sakura kembali tersenyum. Ia menyetir mobil dengan santai. Padatnya jalanan tidak terasa karena akhirnya Naruto bisa bertemu kakaknya.
"Karena aku sibuk. Aku juga sering melakukan skype dengan ibu. Aku masih mengabari ibu jika aku baik-baik saja di sini. Aku akan pulang nanti setelah mendapat cuti liburan yang dijanjikan bosku."
Naruto memicingkan mata kembali, tapi ia menyerah. Mungkin benar kakaknya pindah ke California bukan untuk menghindari mereka, tapi ingin membuktikan dirinya. Jika Namikaze Sakura dapat berjaya dan mengharumkan nama Namikaze seperti layaknya anak kandung.
Tiba-tiba Naruto tersenyum lebar.
"Kau tahu jika kau ragu akan posisimu di rumah, bagaimana jika kau menerima tawaranku? Menikahlah denganku."
Sakura memukul kepala sang adik dengan keras menggunakan tangan kanan. "Kau sudah melamarku sejak sepuluh tahun lalu. Apa kau tidak bosan, dasar."
Naruto ikut tertawa. Ia memang sering membujuk Sakura yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu untuk menikah.
Bahkan saat itu Naruto masih SD dan Sakura masih bersekolah di sekolah menengah atas. Tapi, tentu selalu ditolak oleh kakak cantiknya.
"Lagipula, meski ibu sering mendandaniku sebagai anak perempuan dulu, bukan berarti aku akan menjadi gay nanti," sungut Naruto mengembalikan pembicaraan mereka.
Sakura kembali tertawa dengan suara renyahnya. "Aku bercanda. Taruhan itu sebenarnya adalah berapa lama kau akan mengakui dirimu gay. Ayah bertaruh kau akan mengakuinya saat umurmu enam belas. Ayah pernah memergokimu sedang berkencan dengan seorang pemuda. Aku tidak akan lupa ekspresi terkejut ayah ketika meng-skype sembari berkata panik dan syok."
"Dan kau ikut bertaruh?" Naruto mengangkat alis. Ia telah menerima jika sang ayahlah yang lebih dulu mengetahui dirinya memiliki benih gay.
"Aku bertaruh kau akan mengakui ketika umurmu dua puluh saat dirimu sudah cukup berani. Sepertinya kami salah," Sakura menjawab santai. Pandangan matanya masih terfokus ke jalanan.
Naruto terdiam sesaat.
"Kakak tidak masalah jika aku seorang gay?" tanya Naruto hati-hati. Tangannya langsung mencengkram seatbelt yang ada di dada.
"Meskipun kau gay, straight, atau bi, kau tetap adikku. Itu hanya masalah kecil. Aku punya teman di sini yang juga seorang gay. Jangan khawatir."
Naruto mulai melepaskan pegangan pada seatbelt. Merasa sedikit tenang setelah mendengar persetujuan sang kakak.
"Kau tahu, aku menyayangimu kak."
"Aku tahu," jawab Sakura dengan senyum lebar. Tangan kanannya kembali mengacak surai emas Naruto.
.
.
Naruto berguling-guling di sofa empuk sang kakak karena bosan.
Sudah seminggu pemuda itu tinggal di apartemen Sakura. Ia ingin bekerja, namun karena kebodohannya ia lupa membawa ijasah dan dokumen lain yang diperlukan untuk melamar kerja di sini.
Ia tidak ingin bekerja sambilan sebagai tukang cuci di restauran cepat saji.
Sakura benar-benar sibuk. Berangkat pagi dan kembali hampir sepertiga malam.
Ia sudah meminta kakaknya untuk mencarikan pekerjaan. Semoga ia segera mendapatkannya.
Suara pintu terbuka, membuat si blonde tergirang. Naruto langsung bergegas menuju ke depan.
"Aku sudah menyiapkan makanan," ucap Naruto ketika melihat kakaknya melepaskan high heels.
Sakura memberi adiknya senyum puas dan senang.
"Ternyata kau masih suka memasak, Naruto. Kau akan jadi ibu rumah tangga yang baik," sahut Sakura sembari melepaskan blazer merahnya. Ada nada gemas dan menggoda.
"Hey!" sahut Naruto refleks.
Sakura tertawa gemas.
Namikaze cantik itu segera mengalungkan lengan kirinya ke leher Naruto.
Keduanya tahu jika Naruto pandai memasak karena Kushina senang membawa putranya ke dapur. Sementara Minato senang mengajari Sakura mengenai pekerjaan di kantor.
Keduanya seperti tertukar. Tapi, bukan berarti Naruto terlihat feminim atau banci, justru Namikaze muda itu banyak memikat wanita dengan skill memasaknya.
Meskipun begitu, Naruto senang berolahraga. Otot tubuhnya sudah terbentuk memikat.
Selain wajah tampan, tubuh semi-atletis, pintar, Naruto pun jago memasak. Tipe lelaki ideal yang akan banyak digandrungi wanita.
"Aku akan mandi dulu." Sakura melenggang pergi ke kamarnya.
Naruto pun menggedikkan bahu. Pemuda pirang itu segera menyiapkan peralatan makan.
.
.
Setelah Sakura makan malam, kedua saudara itu segera duduk di ruang tengah untuk menonton netflix.
Sakura akan meracuni Naruto dengan tv series kesukaannya selama ini.
Hari belum terlalu larut. Sakura mendapatkan kesempatan untuk pulang lebih awal. Di pertengahan maraton season satu Supernatural, Sakura tiba-tiba angkat bicara.
"Kau serius ingin bekerja, Naruto?"
Pemuda blonde itu memakan Cheetos sembari menjawab kakaknya, "Apa kau punya pekerjaan untukku?"
Sakura ber-hm pelan. Kakak cantik itu menyenderkan kepalanya di pundak Naruto. Rasa kantuk dan lelah mulai muncul. "Bosku sedang membutuhkan seseorang untuk menjaga anak-anaknya. Jika kau menerima pekerjaan ini, kau akan tinggal di rumahnya nanti. Sebentar lagi dia akan ada urusan di luar negeri dan aku harus mengikutinya. Aku tidak ingin kau sendirian di sini, lagipula kau senang anak-anak bukan?"
Naruto mengunyah Cheetos dengan kentara. Suara yang biasa membuat Sakura kesal, namun karena lelah sang kakak hanya menatap tak suka.
Si blonde justru masih menatap layar tv layar datar di depan mereka, tak peduli dengan tatapan sang kakak.
Ia pun memikirkan tawaran ini baik-baik selama beberapa menit.
"Tapi, jika kau tidak mau pun tak apa-apa. Aku tidak ingin kau menerima pekerjaan ini karena diriku dan bekerja dengan serampangan. Bosku ini berperan penting dalam karierku selama ini, aku tidak ingin mengecewakannya."
Naruto melirik kakaknya.
Manik emerald Sakura pun melirik Naruto. "Dia sangat selektif dalam memilih siapa yang diizinkan berada di sekitar anak-anaknya, tidak mudah bisa bekerja dengannya. Namun, dia selalu menghargai pegawainya yang penuh dedikasi dan jujur. Gaji yang ditawarkan pun sangat tinggi untuk mengasuh anak-anak itu, kau bisa membeli Camaro seperti milikku hanya dengan setengah tahun bekerja untuknya."
Naruto memicingkan mata penuh curiga. Ada yang aneh dengan pekerjaan ini. "Kenapa kakak tidak mengambil pekerjaan ini?"
Sakura menyamankan posisi kepalanya sebelum menjawab, "Karena aku tidak bisa memasak apalagi mengurus anak-anak."
Naruto ber-hm setuju. Benar, Sakura memang terampil dan cekatan, tapi kakaknya itu sangat buruk dalam urusan rumah tangga.
"Jika kau setuju, besok aku akan mengantarmu menemui bosku dan anak-anaknya."
"Berapa umur anaknya?" tanya Naruto was-was. Dia tidak akan mau mengurus bayi yang baru lahir atau balita.
"Sepuluh atau sebelas tahun," jawab Sakura pelan. Wanita cantik itu mulai mengantuk.
"Aku akan melihat kondisi dulu."
Sakura ber-hm lelah. Sang kakak menutup mata.
Naruto menaruh Cheetos-nya untuk menarik selimut di kaki agar menutupi tubuh kakaknya.
Sakura benar. Ia tidak boleh main-main mengenai pekerjaan ini. Anak yang baru keluar sekolah bisa mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi, itu sangat jarang.
Kakaknya pasti mempertaruhkan dirinya sendiri demi bisa membuat Naruto bekerja. Meski pekerjaannya itu terlihat sepele dan tidak mengenakan.
Naruto tidak akan mengecewakan Sakura. Ia berjanji itu.
.
.
Naruto tidak tahu apa yang harus diantisipasi ketika akan datang menemui calon bosnya. Ia sudah mengenakan pakaian formal, itu pun dengan bantuan Sakura.
Camaro hitam Sakura berhenti di depan pagar tinggi. Tak berapa lama, pagar itu terbuka sendiri secara otomatis. Mobil sport hitam mereka memasuki halaman yang luas.
Naruto memandang kediaman besar tersebut dengan terkagum. Halaman rumahnya saja sebesar ini.
Sakura berhenti di depan anak tangga kecil menuju pintu depan. Wanita cantik itu keluar dari mobilnya, begitupun Naruto.
Tak berapa lama seseorang berpakaian hitam datang dan mengambil kunci mobil Sakura.
Sakura terlihat begitu familier dengan rumah besar itu.
Naruto hanya bisa diam menatap kagum serta bingung.
Sakura memasuki rumah megah itu seolah berada di rumahnya sendiri.
Dengan langkah terburu Naruto mencoba menyamai langkah kakaknya.
"Auntie!" teriakan nyaring mengagetkan Naruto. Pemuda yang sejak tadi berjalan di belakang Sakura itu kini berhenti melangkah untuk melihat seorang anak laki-laki berambut cokelat berantakan tengah memeluk Sakura.
"Hey, Konohamaru," sapa Sakura. Tangan kakaknya itu mengacak rambut jabrik anak laki-laki itu.
"Siapa dia?"
Naruto mengangkat alis matanya mendengar bahasa Jepang yang fasih diucapkan bocah sepuluh tahun itu. Tapi, seharusnya ia tidak heran, karena nama Konohamaru pun sudah sangat Jepang sekali.
Naruto melambaikan tangannya dan tersenyum seramah mungkin. Ingin membuat kesan pertama yang baik.
Anak laki-laki itu menatap Naruto waspada.
"Dia adik auntie. Di mana ayahmu? Auntie ingin bicara."
Bocah laki-laki itu menarik lengan Sakura dan memaksanya berjongkok. Setelah itu mereka saling berbisik.
Sakura mengangguk kecil dan segera bangkit. Bibirnya menyungging senyum.
"Ayo Naruto," ajak kakaknya.
Ketiganya mulai melangkah lebih masuk ke dalam rumah yang bagai istana.
Suara bising mulai terdengar. Jantung Naruto pun berdetak kencang. Mengantisipasi apa yang akan ditemukannya di sana.
Sakura melenggang mendekati seseorang yang duduk dengan punggung menghadap mereka. Anak-anak berlarian dan tertawa nyaring.
Naruto diam terpaku. Matanya langsung autofokus pada seseorang yang tengah duduk di sofa dengan dua bocah kecil saling menyender di tubuh gagahnya. Rambut hitam yang tersisir rapi ke belakang.
Pria itu tersenyum ke arah anak perempuan berambut merah yang bergelayut di lehernya.
'Fuck,' batin Naruto tiba-tiba tak nyaman.
"Naruto, perkenalkan ini adalah tuan Sasuke. Tuan Sasuke ini adalah adik yang kuceritakan."
Tiba-tiba pria itu menengok. Mata hitam itu meneliti Naruto saksama.
Naruto merasa pipinya mulai panas. Fuck. Jika bosnya setampan ini bagaimana Naruto akan fokus bekerja?
Ngomong-ngomong di mana istri tuan Sasuke?
Pria tampan itu bangkit, melepaskan kedua anak yang ada di sampingnya. Wajah sang tuan tampak begitu serius. Otot tubuhnya berkontraksi ketika tangan kekar itu bergerak. Kemeja hitam berlengan panjang malah semakin memperjelas lekuk tubuh pria itu. Vest suit berwarna lavender ikut menyempurnakan gayanya.
Langkahnya pelan. Suara pantofel hitam terasa lebih keras dari yang seharusnya.
Naruto memundurkan diri tanpa sadar. Jantung sang blonde berdegup-degup. Ia hanya seorang remaja berumur tujuh belas tahun. Hormonnya masih belum terkontrol dan melihat seorang setampan itu bisa membuat Naruto birahi. Fuck.
Tuan Sasuke ini merupakan Tipe idaman Naruto. Shit. Fuck.
"Apa kau siap menjaga anak-anakku?" suara Sasuke pun terdengar sexy. Fuck.
Berapa umur sebenarnya bapak ini?
Apa semuda itu sudah memiliki anak?
Naruto merasa iri pada istri beruntung yang mendapatkan pria tampan ini.
Naruto hanya mampu mengangguk kecil, tak memercayai suaranya sendiri. Ia takut mempermalukan diri dan Sakura.
Tanpa Naruto sadari Sakura tak ada di ruangan itu.
"Aku akan memberikan jadwal dari pengasuh sebelumnya. Aku ingin kau mematuhi semua yang kutentukan. Jika kau kesulitan tentang sesuatu kau bisa tanyakan pada tuan Browns, dia adalah kepala pelayan di sini."
Seorang pria berpakaian French-Butler sudah ada di samping tuan Sasuke. Pria itu terlihat paruh baya, rambut hitam dengan beberapa uban tersisir rapi ke belakang. Tangannya berbalut sarung tangan putih.
Naruto mulai menaikan alis mata tanpa sadar.
Apa Sasuke ini penggila dunia kerajaan? Dari halaman yang luas, bentuk bangunan rumah, hingga pelayan pun mengenakan pakaian butler yang biasa digunakan dalam penjelasan abad pertengahan.
"Aku mengerti," akhirnya Naruto menjawab setelah hormon nafsunya mulai berkurang karena melihat butler itu.
Sasuke mengangguk. Pria yang terlihat seperti baru memasuki umur tiga puluhan itu membungkukkan diri untuk mengangkat tubuh seorang anak berambut merah yang tidak pernah Naruto lihat sebelumnya.
"Tuan Sasuke aku sudah membawa mereka," suara kakaknya membuat Naruto memutar tubuh.
Sang blonde berdiri mematung melihat empat anak mengikuti kakaknya. Anak-anak yang terlihat seperti berumur sepuluh tahun.
Tuan Browns datang mendekati Sasuke sembari memegang jas berwarna grey-metalic dengan kerah hitam.
Keempat anak itu segera berlari mendekati Sasuke.
Naruto mengedipkan mata melihat anak-anak berbeda wajah dan warna rambut itu menjejerkan diri mereka di samping pria tuan tampan.
"Kenalkan diri kalian, anak-anak," suara Sasuke penuh perintah, namun ia mengucapkannya dengan suara pelan. Seperti seorang raja yang memerintah pada para ksatria.
Sakura berdiri di samping Naruto. Memberi dukungan moril. Tanpa sadar adik blonde itu menggeser diri lebih dekat dengan sang kakak.
"Namaku Yahiko," seorang anak berdiri di samping ujung kiri Sasuke menjawab. Rambut pirang jabrik, wajah dengan senyum sumringah yang membuat Naruto curiga jika anak itu merencanakan sesuatu. Evil. Sangat Evil.
"Namaku Nagato," lanjut anak di samping Yahiko. Suara anak itu begitu pelan. Ia bersender lebih dekat ke arah Yahiko. Sebelah wajahnya tertutup oleh rambut merah. Sesaat Naruto merasa melihat kakaknya saat pertama datang di kediaman Namikaze. Tanpa sadar ia tersenyum lembut, membuat bocah lelaki itu makin bersembunyi.
Naruto tersenyum kecil ke arah Nagato, tangannya terangkat untuk melambai. "Hei, Nagato," ia menyapa dengan suara ramah.
Ia menyukai anak-anak, ia pun belajar sedikit tentang psikologi dari teman ayahnya dulu. Naruto mulai melakukan sedikit psiko-analisis pada anak-anak itu. Membiarkan Nagato nyaman dan bersembunyi untuk sementara ini.
"Namaku Konan. Jika kau berani menganggu Yahiko atau Nagato aku akan memastikan kau tidak akan betah di sini," anak perempuan dengan rambut kebiruan yang diikat cepol tinggi berkata dengan berani. Wajahnya sangat serius.
Naruto melirik tuan Sasuke, melihat jika si tampan itu tidak menegur anaknya atas sikap tidak sopan tadi. Justru ada gurat senyum di wajah tampan sang businessman itu. Seolah dia bangga akan nada protektif anak-anaknya.
Naruto mulai menandai hal tersebut dalam pikirannya.
"Namaku Konohamaru. Seperti yang Konan katakan, jika kau macam-macam dengan kami. Kami akan membalasnya," anak berambut jabrik dari yang pertama Naruto lihat itu memicingkan mata.
Naruto justru tersenyum lebar.
Sakura di sampingnya langsung mencubit pantat gembil Naruto yang berbalut celana hitam.
Si blonde meringis kecil sebelum kembali memasang wajah serius. Ia lupa diri, ia terlalu tertarik dengan keluarga ini hingga melupakan jika ia sedang melakukan interview saat ini.
Sasuke menatap Naruto penuh kalkulasi. Tangannya masih menggendong gadis berambut merah. Sudut bibir pria dewasa itu menggurat senyum menawan.
Fuck.
Naruto benar-benar terjebak, kenapa pria itu bisa begitu menggoda?
"Namaku Karin dan berhentilah menatap ayahku!" gadis kecil di pelukan Sasuke itu berkata sengit, tangan kecilnya menggelayut posesif pada sang ayah.
Wajah Naruto memerah mendengar jika anak itu pun mengetahui ketertarikannya pada Sasuke.
Naruto tertawa kecil, ia tidak boleh mengecewakan Sakura. "Maaf," ucap si blonde.
Gadis kecil itu memicing tajam kemudian mengalihkan wajah untuk memeluk ayahnya.
"Namaku Suigetsu dan dia itu Juugo. Juugo jarang berbicara, jadi jangan mengganggunya. Hanya ayah dan kami yang bisa berbicara padanya. Kau mengerti?" anak di samping kanan Sasuke itu berucap mengatur. Rambut peraknya sangat berantakan.
Naruto melirik Juugo.
Rasa khawatir tiba-tiba mendekati Naruto.
Pengetahuannya akan mental disorder hanya beberapa, tapi ia yakin pasti ada apa-apa dengan anak ini. Ia harus sedikit melakukan research dan menelpon beberapa kenalan ayahnya.
Ia sudah berjanji pada Sakura akan merawat anak Sasuke, ia akan melakukannya dengan benar dan sepenuhnya, bukan setengah hati.
Naruto mengangguk ketika ia sadar jika Suigetsu dan anak lainnya menunggu jawabannya.
"Namaku adalah Namikaze Naruto. Umurku tujuh belas tahun, lulusan terbaik di sekolah menengah atas Konoha. Makanan kesukaanku ramen. Wanita yang kucintai adalah ibu dan kakak Sakura-ku yang cantik ini," Naruto bergantian mengenalkan diri. Ada senyum carefree di wajahnya. Tangan pun menarik lengan Sakura ketika ia menyebut nama kakaknya.
Sakura mendengkus.
Sasuke terlihat terkesan untuk sesaat. Ujung bibir tampak berkedut tadi.
Anak-anak di sekitar pria tampan itu menatap Naruto seolah dia adalah alien yang baru mendarat di planet mereka.
"Aku sudah terlambat untuk pergi. Namikaze Naruto selamat datang di kediaman kami. Kau diterima bekerja di sini. Jaga ketujuh anakku dengan baik," Sasuke akhirnya angkat bicara. Pria tampan itu menurunkan Karin.
Ketujuh anak-anaknya langsung mengerubuti ayah mereka. Meminta sang ayah jangan pergi karena ini adalah hari jumat, awal dari weekend yang seharusnya dihabiskan untuk keluarga.
Naruto tiba-tiba merasa simpati. Anak-anak ini masih menginginkan kasih sayang. Lagipula satu ayah dengan tujuh anak akan sulit membagi kasih sayang bukan?
Ia mulai bisa menarik kesimpulan. Sasuke tidak memiliki pasangan atau pasangannya ada di luar negeri dan sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mengurus ketujuh anak itu. Tapi, jika dilihat sepertinya Sasuke tidak memiliki pasangan.
Tak ada poto wanita yang dipajang berdampingan dengan pria tampan itu.
Sepanjang koridor dan dinding hanya dihiasi oleh poto ketujuh anak tadi dengan Sasuke.
Dan, itu membuat Naruto tergoda pada bapak beranak tujuh itu. Fuck. AHEM FOKUS.
Kedua, ketujuh anak itu tidak ada hubungan darah dengan Sasuke. Fisik mereka tidak ada yang mirip dengan pria kaya itu. Kemungkinan terbesar mereka adalah anak angkat.
Naruto harus mencari tahu kenapa Sasuke mau mengangkat tujuh orang anak ini. Umur ketujuhnya juga terlihat tidak terpaut jauh.
Ketiga, anak-anak ini memiliki latar belakang yang berbeda dan Sasuke sepertinya kesulitan menyeimbangkan kehidupan pribadinya dengan bisnis.
Beberapa dari anak-anak itu terlihat mengkhawatirkan untuk Naruto.
Naruto akan berusaha merubahnya. Ia akan bisa membanggakan Sakura dengan membantu anak-anak ini.
Lagipula ilmu yang didapat dari kedua orang tuanya sudah seharusnya ia terapkan.
Anak-anak itu mulai terlihat sedih melihat Sasuke memakai jas abu-abu, bersiap pergi. Kakaknya Sakura pun terlihat sigap di sampingnya.
Mereka mulai berpindah tempat hingga ke pintu depan. Mobil Camaro hitam kakaknya sudah terparkir di belakang sebuah mobil keluaran terbaru dari Chevrolet dengan warna Hitam mengkilap.
Sasuke melambaikan tangan pelan sebelum menjalankan mobilnya.
Ketika kedua mobil itu pergi, suasana berganti tegang.
Naruto memutar tubuh melihat ketujuh anak yang kini berbaris membuat barikade untuk menghalangi langkah Naruto.
Ketujuhnya menatap si blonde dengan tajam. Sedangkan babysitter dadakan itu hanya tersenyum lebar, tertarik.
Ia tahu ini adalah pertarungan mendapatkan kepercayaan dari ketujuh anak ini.
Jika ia ingin bekerja lama di sini dan tidak diseret pulang ke Konoha maka ia tak boleh gagal.
Tuan Browns datang menengahi. Meminta anak-anak itu untuk masuk ke dalam.
Ketujuhnya menurut dan segera berlari berpencar.
Tuan Browns sendiri menggunakan bahasa Jepang kepada anak-anak itu. Sepertinya Naruto tidak akan kesulitan berkomunikasi dengan mereka.
Pria paruh baya itu mendekati Naruto dan memberi secarik kertas. Di dalamnya adalah jadwal dan penjelasan apa saja yang harus dihindari.
Tanpa Naruto sadari tuan Browns telah menghilang saat dirinya fokus membaca daftar yang diberikan kepadanya.
Pemuda blonde itu mengerjapkan mata bingung. Itu artinya Naruto sendirian. Mungkin ini adalah sebuah tes dari tuan Sasuke.
Naruto memotret jadwal itu dengan handphone-nya dan melipat kertas itu rapi lalu menyimpannya di saku celana.
Ia mulai berhum pelan. Tangan langsung melipat lengan kemeja putih yang dikenakan.
Ini adalah pertarungannya.
Ia harus menyiapkan diri. Termasuk mengumpulkan data dari rumah ini dan data ketujuh anak itu.
Senyum Naruto menguar indah. Sejak kecil ia sudah menyukai tantangan.
Ia mewarisi sikap sosialita ayahnya dan sikap pantang menyerah sang ibu.
Pekerjaan pertamanya setelah lulus sekolah akan berhasil. Ia yakin itu.
Menjadi babysitter? Tidak masalah. Ia akan menunjukan bahwa dia bukan anak manja yang selalu mengeluh.
.
tbc ...
