KUROO TETSUROUTSUKISHIMA KEI
(Jangan lupa like dan coment)
Malam ini ada yang terasa aneh dan entah mengapa hatinya terasa resah gelisah, tak nyaman sama sekali. Sudah berapa kali dirinya merubah posisi mencari posisi nyaman untuk mengurangi kegelisahannya namun rasa itu tak kunjung menghilang bahkan rasa kantuk yang seharusnya menderanya tak kunjung datang. Sedangkan jam dinding menunjukan pukul 02.20 AM, kedua mata miliknya masih senantiasa terbuka lebar.
Begadang bukanlah suatu hal yang biasa dilakukan, tapi entah mengapa malam ini dirinya susah sekali tidur.
Lelah menanti rasa kantuk yang sendari tadi ia harapkan, Kei akhirnya memilih bangkit dari rabahannya. Pikirnya mungkin sedikit berjalan-jalan akan mendatangkan rasa itu dan suasana diluar sana tak buruk, Kei menatap jalanan di depan rumahnya melalui jendela yang ia sibak sedikit tirainya.
Andaikata seseorang melihat dirinya, mungkin mereka kira Kei merupakan seorang pencuri. Tak ada salahnya dari pemikiran itu sebab tak ada orang yang rela keluar rumah dini hari seperti ini kecuali para pencuri tapi peduli apa toh nyatanya ia juga orang yang baik-baik, bukan pencuri ataupun orang aneh lainnya hanya dia tidak bisa tidur dan ia merasa bosan.
Di suasana seperti ini bayangan masa lalu dengan jalangnya melintas, samar-samar ingatan tentang seorang pria menjadi tajam dan kalimat "Jika saja..." memenuhi pemikirannya.
Mungkin kalau kalimat "Jika saja" dikembangkan lebih dalam, hatinya akan terluka dan tidak ada hal yang paling bodoh selain mengandaikan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Untuk melambungkan diri dalam khayalan, itu hanya menguras emosi. Tidak berguna sama sekali bukan?
Jalan setampak yang menghantarkannya ke arah taman, masih senatiasa Kei telusuri. Sekelilingnya benar-benar sunyi, suara serangga pun enggan berbunyi hanya ada samar-samar suara gesekan dari daun yang tertiup angin.
Mendongakan wajah, menatap jelaga kelam diatasnya. Disana bulan masih terlihat indah begitupun dengan bintangnya. Malam ini terlihat begitu terang.
"Bulan melihat bulan, tsuki dengan tsuki" seru Kei menyunggingkan senyuman. Itu kalimat yang pernah diucapkan seseorang tatkala ia melihat bulan dan orang itu juga akan berkata bahwa dirinya lah yang lebih indah dari satelit kepunyaan bumi itu.
Ahh~
Gombalan receh yang dirindukan.
Harusnya tak perlu jadi sensitif begini! Bukannya ia keluar untuk mencari rasa kantuk? mengapa kegalauan yang ia dapatkan.
"Oh.. Kami-sama, mengapa Kau begitu kejam pada ku" gumannya sembari menendang kerikil di dekat kakinya.
"Tidak pantas menyalahkan Kami-sama."
Ketika mendengar seseorang berkata, tubuh Kei terpaku. Di depannya sosok yang tak mungkin ada tengah berdiri dibawah sinar lampu jalan. Tubuhnya yang menjulang tinggi ia senderkan di tiang lampu.
Apabila orang lain yang melihat fenomena ini, mungkin mereka terkaget bahkan bisa saja mereka berteriak dengan keras dan berakhir kabur atau tak sadarkan diri. Namun, yang mengalamai kejadian seperti ini merupakan Tsukishima Kei, orang yang dikenal terlalu rasional dan kaku plus minim ekspresi.
Selain halusinasi, apa lagi yang dapat dijelaskan? Kei mengerti semua yang dia lihat cuma hayalan begitulah saat akal rasionalnya mengambil alih.
"Kau tak pernah berubah, yah Kei. Padahal kita sudah lama tidak berjumpa harusnya kau berikan eskpresi yang lebih berwarna seperti terkejut misalnya."
Kei memilih mengiadakan makhluk di depannya. Dengan memasukan tangan di saku bajunya, Kei melangkah tanpa ragu melewati sosok itu.
Dan yang dilewati begitu saja tak tinggal diam, dia mulai bergerak mengikuti Kei di samping kanannya. Berusaha berjalan dengan menyamai langkah Kei yang masih membisu seribu bahasa.
"Mau ku temani jalan-jalan?" tawar sosok itu seraya tersenyum manis.
Sedangkan untuk Kei sendiri, dia hanya melirik sosok itu dari sudut ekor matanya. Ingin berusaha tidak peduli namun sosok itu terlalu berarti untuk diacuhkan.
Kei merasa ini serba salah. Dilain sisi sosoknya yang dia rindukan ingin ia dekap dengan erat, akan tetapi otaknya selalu menyebutkan bahwa orang itu cuma ilusi bahkan Kei yakin ini bagian dari mimpi.
Lantas apa salahnya jika menikmati mimpi? Barangkali memang mimpi, bukannya dia pantut bersyukur? Dengan begini, dengan melihat sosoknya yang jelas di mata harusnya dapat mengurangi rasa rindunya.
Hah~
Menghela nafas gusar, Kei menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang masuk taman umum yang terjapat di kompleks perumahannya.
Kei membalikan tubuhnya menghadap sosok itu. Memandanginya penuh dengan keputusasaan.
Kemungkinan yang Kei inginkan hanya keaslian, tidak dengan ilusi atau buah dari mimpi.
"Ada apa Kei? Mengapa kau menatapku begitu? Apa kau mau pelukan hangat dari ku?"
Sosok itu merentangkan kedua tangannya, berharap Kei akan menghambur dalam pelukannya.
"Dulu kau sangat suka pulakan ku. Kau bahkan berkata merasa damai setiap kali aku memeluk mu." ucapnya lagi seraya tersenyuman konyol.
Kei kembali melangkah memasuki taman disertai senyum miring yang terpatri di wajahnya. Tujuannya hanya satu, berjalan ke bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berada. Kei ingin duduk sejenak disana.
Sambil melangkah pikirannya kembali mengulas tentang kenangan masa lalu. Ucapan sosok itu telah mempengaruhinya, dan untuk sekali lagi Kei ingin mengenang.
Tentang dulu...
Sosok itu mengatakan pelukan darinya membuat Kei merasa damai, lalu apa benar begitu?
Entahlah kalau soal mengenang, Kei hanya mengingat pemberontakan yang selalu saja ia lakukan kala sosok itu memeluknya. Kei tidak pernah menyukai ketika seseorang memeluknya. Walaupun demikian, ia tidak akan membatah jika sosok itu berkata bahwa pelukannya terasa nyaman.
Yah, Kei ingat itu.
Dulu dirinya akan terlelap dalam pelukan sosok itu. Akan selalu terlelap menikmati belaian dan pelukan hangat yang menenangkan.
Kei duduk di kursi taman itu sedangkan sosok yang mengikuti berdiri di depannya.
Keheningan menyelimuti keduanya dan berlangsung lama.
Kei yang memilih menunduk, sosok itu yang menatap dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Menyerah akan keheningan, sosok itu melangkah lebih dekat, bahkan dia berjongkok di depan Kei.
"Kau boleh saja menganggap ku ilusi atau apapun tapi Kei, tidak kah kau mau menikmati kehadiran ku?" Sosok itu mengambil kedua tangan Kei kemudian membelainya selembut mungkin.
"Kei, kita saling merindukan. Aku mohon di waktu yang tipis ini, luapkan semua rasa yang membebani mu!"
Kecupan singat, ia berikan pada tangan Kei. Menciumnya penuh rasa hormat.
Kei tidak tahu harus berbuat apa. Ini tidak masuk akal, sama sekali tak masuk akal jika dikatakan bahwa ini nyata. Kei hanya mampu menatap sosok yang bertekuk lutut di depannya dengan pancaran haru sirat kerinduan.
"Untuk sekali lagi aku ingin menghabiskan waktu bersama mu Kei."
Sosok itu mendongak, menatap ke dalam manim amber kepunyaan Kei.
"Aku datang untuk menghibur mu, aku tidak menginginkan akhir yang sia-sia."
Melihat wajahnya, matanya dan sosoknya serta suara rendahnya, pelesetan dengan pemikiran rasional. Pria itu datang untuknya, Kami-sama memberikan obat penyembuh rindu yang membuatnya resah hingga menyebabkan ia harus bergadang.
"Aku merindukan mu," seru Kei menghambur dalam pelukan sosok itu.
Secangkir coklat panas mengepul, memberikan rasa hangat di kedua telapak tangan Kei. Kini keduanya tengah berada di dapur tempat kediaman Kei yang telah di tepati selama 10 tahun lamanya bersama sosok yang tengah duduk di depannya dengan secangkir coklat panas persis seperti miliknya.
"Kau seharusnya ridak begadang, Kei! Itu tidak baik untuk kesehatan mu."
Sudah hampir sejam keduanya menghabiskan waktu bersama di dapur. Coklat panas di gelas masing-masing pun tersisa beberapa tegukan lagi.
Tidak banyak hal yang mereka lakukan. Hanya berbagi obrolan dimana sosok itu kebanyakan mengomel mengomentari betapa buruknya kebiasaan Kei yang menurutnya tak baik bagi kesehatan dan kediaman Kei yang menikmati omelan serta ceramah yang terlontar dari mulut sosok itu. Semua darinya, gerak tubuhnya, semua tak luput dari pengelihatan Kei, dan itu akan menjadi sesuatu yang berharga.
Tanpa sadar pun rasa kantuk mulai meyerang Kei. Disaat seperti ini mengapa kantuk itu datang? Sungguh Kei ingin mengumpat. Kei tidak ingin tidur, tidak ingin memejam kan mata tapi rasa itu semakin menguat dan Kei pun kalah atas rasa kantuk yang menyerangnya, ia akhirnya jatuh terlelap dengan wajah yang ia sederkan di atas tangan yang dia lipat diatas meja.
Melihat Keinya tertidur, sosok itu mendekat menghampiri Kei lalu membawanya ala seorang putri, nembawanya menuju kamar dimana ia dapat membaringkan Kei diatas ranjang empuk kepunyaan mereka.
Setelah berhasil memindahkan Kei ke tempat tidur, sosok itu ikut menaiki ranjang, berbaring di sebelah Kei. Sosok itu memandangi Kei yang tengah terlelap, tak lupa pula belaian lembut ia berikan ke kepala Kei.
Sosok itu memeluk Kei dengan erat, membawanya dalam pelukan nyaman yang selalu Kei sukai.
"Aku selalu mencintai mu, selalu."
Sosok itu tanpa di duga mulai mengalirkan air mata, ia menangis tatkala mengetahui tubuhnya yang kian menjadi pudar, bias dan tembus pandang.
"Selalu mencintai mu~" serunya mendekatkan wajahnya ke wajah Kei.
Dalam waktu yang singkat itu, sosok yang mulai pudar berhasil mengambil ciuman di bibir Kei yang masih tertidur.
"Berbahagialah dan maafkan aku yang meninggalkan mu." Sosok itu berbicara dalam ciuman sepihak yang dilakukan tanpa izin.
Dan ketika tautan bibir itu terlepas, sosoknya pun mulai menhilang. Terpecah menjadi cahaya kecil kemudian lenyap entah kemana.
Dret...
Drettt...
Drreeeettt...
Bunyi alarm dari ponsel yang tergeletak di atas meja membuat tidur seseorang terganggu. Mau tak mau Kei membuka kelopak matanya dan lekas mematikan alarm.
Padahal semalam ia tidak bisa tidur dan baru tidur saat jam menunjukan pukul 03.59 AM. Kei hanya tidur tiga jam saja. Sial benar alarm yang membuatnya bangun.
Mengingat apa yang terjadi semalam, Kei terbelalak, dengan langkah terburu Kei turun dari ranjang tak peduli walau dirinya baru bangun tidur sekali pun.
"Kuroo-san.. Kuroo-san"
Diselimuti panik, Kei memangil nama seseorang sembari mencari sosok yang ia cari. Namun tepat saat melewati sebuah ruangan, langkah kaki Kei terhenti.
"Ahh~ Benar-benar bodoh. Tentu saja Kuroo-san sudah meninggal."
Ruangan itu, saat Kei menangkap sebuah figura yang menyimpan secarik foto seorang pria tampan, ketika itu pula Kei tersadar bahwa kejadian semalam hanya mimpi.
Bodohnya~
Kei berhenti mencari, kini ia berjalan menuju dapur hendak mengambil segelas air karena sungguh meneriaki nama seseorang setelah bangun tidur membuat tenggorokannya terasa kering.
Memasuki dapur, kedua mata Kei tak sengaja mendapati dua cangkir diatas meja. Dengan ragu Kei mendekatinya dan mengambil salah satu cangkir itu.
"Coklat.." gumannya saat melihat isi dari gelas itu.
Semalam Kei ingat bahwa dirinya menghabiskan waktu bersama Kuroo di temani secangkir coklat. Saling duduk berhadapan dan mengombrol tentang banyak hal lebih tepatnya Kuroo yang mengomelinya.
Jadi semua kejadian itu nyata? Kuroo yang dia lihat, pelukan hangat yang dia dapat, omelan memuakan yang terima dan bisikan cinta yang samar ia dengar...
Semua nyata? Kuroo kembali walau hanya sesat? Tanpa bisa di cegah, bulir bening menelusuri pipi Kei.
"Kuroo-san mengapa tidak tinggal sedikit lebih lama lagi?" serunya di sela isak tangis sambil memeluk cangkir yang ia yakini bekas dari Kuroo semalam.
Buket bunga mawar, Kei taruh diatas gundukan tanah di depan sebuah batu nisan yang terukir nama Kuroo Tetsuro.
Setelah kejadian itu, Kei memutuskan untuk mengunjungi makam suaminya yang telah meninggal empat tahun lamanya.
Dan disini lah Kei berada, berdiri di hadapan makan suami sereya berdoa.
"Terima kasih kau yang telah menyempatkan diri untuk mengunjungi ku dan Kuroo-san, aku selalu mencintai mu" ucap Kei tersenyum dalam damai.
...END...
