Chapter 1
.
Disclaimer
Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.
Semua kejadian disini tidak mengikut dengan apapun yang berdasar dunia nyata. Doctor AU disini murni imajinasi penulis.
Warning
Khusus 21 Anak dibawah umur yang tidak nyaman dengan adegan disini, dianjurkan untuk tidak membacanya.
Last
Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.
Selamat membaca.
.
.
.
"Kim Jongin"
Ketika nama itu disebut, seorang pria dengan jaket flanel merah lantas berdiri tegap berjalan menuju ruangan berpintu putih diseberang.
"Halo dokter," Sapanya ramah sambil membungkukkan badan.
"Halo, silahkan duduk" Balas seorang yang sedari tadi duduk tenang di kursinya.
"Silahkan berbaring dahulu." Perintah 'seorang dokter' itu.
Dan kemudian pria bermarga Kim menuruti dan membaringkan tubuhnya di ranjang kecil disebelah kanan.
Dokter berambut hitam legam itu bangkit dari kursinya, mengambil stetoskop lalu mengarahkannya pada bawah perut Kim Jongin.
"Aahhh..." Jongin mendesah. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, tangannya meremas kain yang menyelimuti tempat tidur tersebut.
Dokter tersebut kemudian menaruh kembali stetoskopnya lalu disimpannya di saku jas.
Sedang Jongin mendesah hebat dan lihat, celana jeans hitam ketatnya sudah menggembung.
Tepat ditengah selangkangannya.
"Sepertinya kau butuh 'servis'." Ucap sang Dokter dengan tenang kemudian berbalik menuju mejanya.
Menulis beberapa hal dalam buku catatan dengan teliti. Wajahnya cukup dingin dan tenang, juga isi kepalanya yang sangat acak.
"Bruder," Panggilnya pada sosok perawat pria di tembok sebelah.
Tak lama Bruder itu menjawab dan datang keruangan Sang Dokter.
"Buka bajumu, berikan servis terbaik padanya hari ini,"
Pria yang di panggil Bruder itu tidak memberi respon apapun dan menuruti perintah Sang Dokter.
"Dengan sensual didepanku." Sambungnya.
Bruder tersebut mengangguk pasrah. Tidak menunjukan penolakan, tidak juga menerima.
Bruder bermata hazel itu lantas membuka kancing bajunya satu persatu. Menggigit bibir pink-nya dan sesekali mendesah kecil.
Ia melempar bajunya asal. Kemudian menurunkan resleting celananya dan menjatuhkan tubuhnya kelantai yang dingin.
Kini tubuhnya tidak terbungkus sehelai kain pun.
Bagaimana dengan pakaian dalam?
Peraturan pertama saat kau bekerja adalah, Sang Dokter benci pakaian dalam.
Baginya, pembungkus itu hanya sebagai penghalang tiap-tiap vagina dan penis yang haus kehangatan.
Bruder itu kemudian memainkan penisnya, mengocoknya dengan gerakan sensual dan desahan nikmat memenuhi ruangan.
Pasien tersebut masih terbaring lemah dengan selangkangan yang sudah menggembung.
Bruder kemudian merangkak lalu menggoyangkan pinggulnya sehingga penisnya yang menggantung ikut bergoyang.
Bokong putihnya ia gesek pada tiang infus yang dingin. Lubang anusnya memerah dan basah alami.
Pipinya merona, sedang mulut tak henti-hentinya mendesah.
"Cukup."
Bruder itu berhenti.
"Lakukan sekarang, kau yang memegang kendali." Perintah Dokter.
Bruder itu merangkak naik dan mendaratkan lubangnya pada wajah sang Pasien.
Dengan cepat, pasien tersebut memasukkan seluruh penis sang Bruder kemulutnya. Dan menenggelamkan jari tengahnya ke lubang sempit dan ketat didepannya.
"A-aah...aahhhh...ssss" Bruder itu mendesah nikmat. Kepalanya pusing namun tubuhnya mengatakan sebaliknya.
Ia sangat menikmati tiap detik sensual yang pasien beri padanya.
Kemudian Bruder itu menuju selangkangan yang sudah menggembung dan masih terbungkus rapi dengan jeans hitam.
Ia membuka resleting kain itu dengan perlahan dan menurunkannya hingga selutut.
Lubangnya sudah basah tak karuan, penisnya yang mungil mendadak membengkak. Yang ia butuhkan hanya sentakan keras dari 'sosis panjang' disana.
Saat menurunkan celana dalam pasien itu, penis yang panjang dan menengang timbul dengan tingginya.
Bukan tatapan kagum, melainkan mata sendu yang siap menerima tiap hentakan yang akan menyentuh dinding dalamnya.
Ia mengarahkan penis itu dengan perlahan, memasukkannya sendiri pada lubangnya.
Belum setengah, tetapi ia menghentikan aktifitasnya.
"Eunghhh...bantu aku memasukkannya..hhh" Pintanya dengan suara yang tak jelas nadanya.
Pasien bernama Jongin itu melesakkan penisnya dengan cepat. Masuk. Dan cairan kemerahan mengalir disana.
Itu pasti milik si Bruder.
Jongin mendesah hebat, dan mengeluarkan sperma kedalam sana dengan banyaknya.
Tubuh Sang Bruder bak terbelah dua. Penis bengkak ini hanya menyemprotkan cairan namun lihat, lubangnya bahkan berdarah.
"Ahhhh... kau ketat dan hangat." Pujinya. Bruder itu tersenyum dan mengangkat bokongnya dari sana.
"Terima kasih, silahkan pergi." Ucap Sang Dokter mengkomandoi Bruder itu yang kemudian membungkuk lalu menghilang dari ruangan.
Dengan keadaan telanjang.
"Sudah tahu kenapa anda begini?" Tanya Dokter.
Kim Jongin mengangguk kemudian tersenyum kecil.
"Sobat kecil ini ternyata tidak suka lubang vagina." Jawabnya yakin.
Dokter tersebut mengangguk.
"Pastikan kau meminum obatnya nanti. Aku memberikan resep terbaik padamu."
"Terima kasih," Balas Kim Jongin lalu menjabat tangan Sang Dokter.
Dokter itu menarik tangan Jongin, dan membisik ketelinganya.
"Awas saja kau memikirkan Bruder-ku tadi."
Kemudian ia kembali tersenyum dan memberi secarik kertas berisi resep obat untuknya.
"Kalau begitu saya pamit. Terima kasih, Dokter." Ia membungkuk dan berbalik meninggalkan ruangan.
Dokter itu melihat kebawah, stelan putih yang berserakan didepannya, serta tiang infus yang mengikilat akibat cairan tadi, nyatanya mengganggu fikirannya.
"Sial, melihatnya berjalan saja aku bisa gila."
to be continued...
.
.
.
Bacots : heyyo wassap. Kangen. Bye.
TATTOED HEART
