BAB SATU


Hening. Kosong.

Entah bagaimana, aku jatuh dari langit.

Kemudian dunia menjadi gelap.

Dan sekarang aku di sini.

Jatuh adalah cara terbaik untuk menggambarkan sensasi yang melandaku.

Aku mulai menyelam lebih dalam sampai aku tersesat dalam gelap untuk selamanya. Ini dari mimpi burukku. Jatuh ke dalam jurang yang gelap. Jatuh ke dalam mimpi. Apakah aku akan jatuh selamanya? Atau apakah aku akan menabrak sesuatu? Ini bukan limbo, benar?

Kehangatan hidup tiba-tiba berenang di atas keberadaanku.

Melalui kabut udara tipis, aku bisa melihat samar-samar bayangan seseorang berdiri di depan yang tampaknya seperti lorong.

Perlahan tapi pasti yang aku sebut 'mimpi' memperjelas pemandangan di sekeliling posisiku berada. Semuanya sejelas di dunia nyata. Bahkan aku mulai meragukan apakah ini mimpi lagi atau bukan. Tapi sosok di depan sana masih tetap sama, berupa bayangan hitam besar yang menyerupai laki-laki.

Tak lama kemudian, semuanya kembali gelap seperti semula dan aku hanya melihat kekosongan hampa yang menelanku.

Aku terkesiap saat merasakan sesuatu yang lembut—hampir transparan—menyentuh kulit lenganku yang telanjang.

Perlahan tapi pasti, aku merasakan jari-jari bertekstur kulit halus yang akrab dengan cepat saling mengunci dengan tanganku yang berbaring di sampingku, mencengkeram dengan kuat.

Tanganku yang hangat sangat kontras dengan tangannya yang sedingin es. Ibu jarinya membelai punggung tanganku sendiri.

Untuk beberapa alasan gelombang panik menetap di dadaku dan tenggorokanku menegang, memohon untuk mengatakan 'tidak', 'berhenti', atau apa saja agar terbebas dari mimpi yang terasa mencekik ini.

Kemudian, sesuatu yang tidak kuharapkan terjadi.

Itumulai berbicara. Tapi yang keluar hanyalah gumaman samar yang tidak bisa kutangkap saking cepatnya itu berbicara.

Jantungku serasa berhenti berdetak saat aku mendengar tawa gila yang terputus-putus seakan suara itu berasal dari radio lama yang rusak.

Suara tawa maniaknya yang melengking memenuhi dinding ruangan, air mata mengalir di pipimu.

"Aku—"

"Jangan tinggal—"

"—Cintaimu ... "

"Kau tidak akan—"

"—memahami perasaanku—"

"AKU MENCINTAIMU!"

"AKU TIDAK AKAN MENINGGALKANMU!"

"PENGKHIANAT!"

"JALANG SIALAN!"

Seluruh tubuhku gemetaran saat kata-kata itu bergema di dalam tengkorakku. Masing-masing masuk sebagai bisikan serak terputus-putus, sebelum pelan-pelan menjadi teriakan marah. Suara kasar yang terdistorsi membuatku tidak bisa menebak siapa itu.

Tapi setidaknya dugaanku sebelumnya benar. Yang pasti itu laki-laki.

Tangan yang mencengkeramku sudah hilang—membuatku lega setengah mati, tapi sensasi dari perkataannya yang tidak bisa kupahami aku abaikan untuk sementara waktu.

Yang kuinginkan hanyalah bangun.

Aku tidak mau berada di sini. Ada tidaknya sesuatu tadi. Lagipula itu bukan pertanda baik.

"Aku akan selalu ada. Mengawasimu."

Akhirnya, seperti yang sudah diantisipasi, udara di sekitarku mulai menipis. Sesuatu mendorong keningku dengan pelan dan rasanya dingin.

Tiba-tiba semuanya cerah. Terlalu terang sampai aku merasa mual.

Tubuhku terengah-engah sebagai reaksi langsung. Mataku akhirnya terlepas dari plester ketidaksadaran dan melihat langit-langit yang buram dan berwarna pucat.

Aku bergegas duduk dan menyibak poni yang dipenuhi keringat dingin dengan gugup. Kemudian melihat jam yang menunjukkan pukul dua pagi lewat.

Tidak biasanya aku bangun di jam seperti ini.

Aku menggelengkan kepala, tidak bisa ingat mimpi yang baru saja kualami. Tapi, sekali lagi, itu hanya mimpi.

Ya. Hanya mimpi.

Aku mengerang. Menjatuhkan kepalaku, hendak tertangkap bantal, tapi hanya bertemu kasur yang empuk. Terkejut, aku bangun kembali dengan bingung dan melihat sekeliling. Baru menyadari bahwa bantalku entah bagaimana terlempar atau hilang.

Aku berbalik hingga setengah bagian tubuhku menopang di tempat tidur, menjulurkan kepala untuk melihat benda persegi panjang itu ada di kolong ranjang—yang mana sangat aneh mengingat itu ditemukan di tengah-tengah tempat tidur.

Sekarang, ini membuatku sedikit cemas.

Aku bergegas menjauh dan berjongkok di sisi ranjang, mengambil bantal secepat mungkin, seolah-olah akan ada sesuatu yang menyeramkan yang akan menangkap tanganku dari sana.


Kota lain.

Sekolah lain.

Rumah lain.

Dia tidak sungguh-sungguh meminta ini, tapi di sinilah dia berada.

Krystal melakukan pembongkaran barang-barang setelah kepindahannya.

Sehari sebelumnya dia tidak memiliki waktu karena mengurusi surat pindahan sekolahnya, dan juga dia terlalu lelah untuk melakukan semuanya sendiri. Hanya kamar tidurnya di lantai atas yang sudah dia selesaikan.

Sambil mendorong kardus-kardus menggunakan kakinya, Krystal menatap ke sekeliling ruang tamu besar yang masih relatif kosong dan debu menyebar dimana-mana. Rumah ini sangat besar, begitu besar untuk hanya menampung satu orang.

Dia tidak habis pikir untuk apa ibu dan ayahnya membelikannya mansion setua ini beserta furniture-nya sementara mereka berada di luar negeri—melakukan pekerjaan omong kosong, yang entah kapan akan pulang.

4 bulan yang lalu mereka merencanakan pindah dari kampus serta tempat tinggalnya ke Shibuya akan membuat Krystal tenang setelah kabar mengenai pembullyan di sekolahnya menyebabkan seseorang bunuh diri—walaupun Krystal sudah bersikeras bahwa dia tidak ada hubungannya sama sekali.

Dan semester akan dimulai besok.

Terkadang orang tuanya terlalu protektif, tapi masih mengutamakan pekerjaan.

Tapi lihat sekarang, mereka bahkan meninggalkan aku sendiri.

Sebagai anak tunggal dari orang tua kaya, dia nyaris diberikan apa pun yang dia mau, tapi sayangnya yang diinginkannya hanya kehadiran kedua orang tuanya yang sering sekali meninggalkannya sendirian di rumah sejak masih muda. Karena itu kepribadian Krystal agak buruk, meskipun teman-temannya lebih parah darinya.

Kendati dia tidak merasa terbiasa dengan kesepian sama sekali. Gadis itu mulai berpikir bahwa mereka tidak akan pernah kembali. Seorang pelayan yang sudah bekerja di rumah lama sedang cuti dikarenakan memiliki urusan keluarganya sendiri.

Krystal mengembuskan napas pelan melalui bibirnya. Paman Nina yang malang mengalami gagal jantung dan harus dirawat di rumah sakit dan entah kapan wanita pembantu itu akan merencanakan kemari.

Setidaknya dengan Nina di sisinya, Krystal tidak terlalu merasa menyedihkan.

Setelah menyelesaikan beres-beres dalam waktu yang cukup lama hingga gelap di luar. Menempatkan jam dinding menggunakan tangga kayu, gadis itu menutup tirai jendela ruang tamu dan pergi menuju kamar untuk mandi cepat.

Tidak lama kemudian dia siap dengan piyama dan melihat lemari es untuk melihat apa yang bisa dia makan.

"Sial! Aku lupa membeli bahan makanan," gerutunya di antara gigi yang terkatup rapat. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya.

Bagaimana pun, dia hanya memiliki dua butir telur, susu yang isinya setengah, mayo, kotak sereal, beberapa jenis buah-buahan dan keju sederhana. Bahkan tidak ada nasi. Namun berkat budaya Inggris yang berasal dari darah ibunya, dia tidak selalu bergantung makan nasi seperti kebanyakan orang jepang.

Krystal mengambil bahan makanan seadanya untuk membuat salad buah dan segelas susu hangat.

Begitu selesai menyiapkan makanannya, dia pergi ke ruang keluarga yang berada di seberang lorong kamar tamu.

Membuka pintu menggunakan bahunya—karena kedua tangannya penuh—perempuan berambut blond tersebut menyalakan televisi untuk menemani makan malamnya yang tenang.

Atau setidaknya itulah yang ia pikirkan, saat perasaan gelisah yang nonfamiliar tiba-tiba menyerbu perutnya. Ia berpikir akan lebih baik jika mengabaikan dan hanya fokus pada kegiatannya.

Itu hanya firasat bodoh yang tidak berarti apa-apa.

Selain itu dia sudah memeriksa setiap ruangan untuk orang yang tidak terduga ada di rumah. Demikian juga, semua tirai sudah tertutup rapat, sehingga tidak ada yang bisa mengintip ke dalam dan menontonnya.

Sekarang, duduk di sofa, dia meletakkan piring kecil di atas meja dengan remote control di tangannya. Ia mulai mencari saluran dan berhenti di sebuah pertunjukan komedi—yang entah kenapa terasa tidak cocok dengan suasana suram rumah ini.

Saat makanannya sudah habis, Krystal mematikan televisi dan mengambil peralatan makan. Tidak butuh lama baginya untuk membersihkan dan meletakannya di rak piring. Dia mencuci tangan di wastafel saat tiba-tiba dia merasakan sesuatu berjalan melewatinya.

Seketika, dia melompat berbalik hanya untuk menemukan tidak ada apa-apa di sana. Dia mengedipkan matanya dan menggelengkan kepala.

Menganggap itu hanya imajinasi karena kelelahan. Dia menyebutnya sehari mengingat jam sudah menunjukkan pukul sebelas tepat.

Setelah memastikan menyiapkan semua yang dia butuhkan untuk sekolah, Krystal berbaring di tempat tidur barunya yang nyaman, menarik selimut hingga menutupi ujung dagunya.

Tapi dia tidak bisa berhenti merasakan udara menjadi dingin, nyaris membeku seperti di musim salju. Berpikir hanya AC, dia dengan cepat mematikan elektronik tersebut. Dan memaksakan dirinya untuk tidur, dan akhirnya berhasil setelah beberapa kali berganti posisi.

Tidak menyadari kehadiran bermata gelap menatapnya dari sudut ruangan. Senyum geli bermain di bibirnya.


"Krystal, sayang, apa semua baik di sana? Dan bagaimana dengan rumah baru yang kami beli untukmu?"

Tidak. Aku tidak baik-baik saja—pikirnya getir. Akan lebih baik jika aku hanya tinggal di rumah lama atau hotel daripada rumah bobrok dan kotor ini.

"Aku baik-baik saja. Rumah ini perlu perbaikan serius di sini, selain atap yang kokoh, banyak debu dimana-mana dan barang-barangnya sangat tua. Terima kasih pada kalian, aku mendapatkan tempat tinggal yang tidak jauh lebih buruk dari gubuk di antah berantah," jawabnya di antara gigi terkatup rapat.

"Maaf sayang, kami hanya ingin yang terbaik untukmu. Kau tahu, universitasmu yang lama memiliki reputasi buruk dengan kabar bahwa murid-murid di sana tidak baik sampai ada yang bunuh diri. Aku hanya tidak ingin hal itu mempengaruhi nilai dan keselamatanmu."

Bukan main.

Krystal mengusap kepalanya gusar. Hanya karena rumor yang tidak jelas itu baru-baru ini, dia harus pindah sekolah dan yang paling dramatis adalah pindah ke rumah yang sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun ini?

"Aku tahu. Hanya saja ... bukankah ini sedikit berlebihan? Kenapa kalian harus memindahkanku ke rumah ini, di kota lain? Kenapa tidak di hotel saja sekalian atau membeli rumah baru di kota lama? Memangnya kenapa dengan rumah kita?"

Perempuan remaja itu menutup pintu kabinet setelah mengambil botol selai, mengolesi margarine dan selai kacang di atas roti yang baru selesai ia panggang, berhati-hati agar tidak membuat lengannya terbakar dengan menempatkan dua roti di atas papan kayu.

Terdengar suara helaan napas dari seberang telepon. "Ayahmu dan aku sepakat bahwa kau perlu belajar mandiri. Oh, dan rumah kita sedang direnovasi, jadi untuk sementara kau akan tinggal di situ. Hanya sementara, baik?"

Alis Krystal menyatu saat mendengar itu. Sejak lulus sekolah menengah dia sudah mendambakan hidup sendiri, di apartemen—terlepas darimana penghasilan yang ia dapatkan—hanya untuk terbebas dari perilaku protektif orang tuanya.

Dia meletakkan pisau dengan kasar—nyaris membantingnya ke atas meja dapur. "Lalu kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang renovasi? Apa aku tidak berhak tahu? Apa aku terlalu muda untuk mengurus semuanya sendiri?"

Hening sejenak.

Sampai terdengar suara berat familiar dari kejauhan.

"Ini masalah kecil. Jangan kekanak-kanakkan! Yang terpenting sekarang adalah kau menikmati waktumu tinggal di sana, dan saat kami menyelesaikan pekerjaan, rumah selesai direnovasi, kau akan pindah sekolah lagi di Osaka. Ayahmu sudah memanggilku untuk meeting. Berperilaku baiklah di sana. Sampai jumpa, sayang. I love you."

Krystal mendengus sebagai respon. "Terserah."

Sambil menghela napas panjang, Krystal memandang datar roti dan susu yang telah dia siapkan ke atas meja makan. Selera makannya hilang seketika.

Hidupku penuh drama. Bagus sekali. Bagus.

Krystal berbalik untuk mengambil kunci rumah dan tas sekolahnya dari kamar. Saat gadis berumur dua puluh tahun itu berjalan cepat ke atas, tatapan dengki mengganggu wajahnya yang cantik, dia tiba-tiba merasakan kakinya membeku di belokan tangga. Menyebabkan ekspresi penggerutunya lenyap.

Jeritan pecah dari bibirnya saat Krystal bergegas untuk mendapatkan keseimbangan dengan cara mencengkeram tiang tangga. Dia membeku selama beberapa saat, menenangkan detak jantungnya yang berdentum, sebelum menatap tajam pada anak tangga yang tidak bersalah.

Tangga sialan—batinnya murka. Darahnya mendidih oleh amarah sekaligus kegelisahan oleh insiden nyaris mati sebelumnya. Menaiki tangga dengan sikap masam.

Orang tua bodoh.

Rumah bodoh.

Satu-satunya hal yang membuatnya jengkel adalah cara ibu dan ayahnya bertindak. Dia menemukan kebencian yang tumbuh terhadap sikap gila mereka dan cara mereka memutuskan untuk memindahkan kehidupannya dari Osaka, kalau perlu rumah lama ibunya di Inggris, yang sangat dia cintai.

Krystal membuka pintu kayu putih, mengambil barang-barang dan kembali ke bawah lalu memakai sepatu dan berjalan menuju halte bus.

Dia lebih suka menikmati pemandangan sambil mengamati pertokoan di jalan-jalan Shibuya, selain untuk menghafal setiap jalan yang dilaluinya agar tidak salah arah juga.

Yang membuatnya kesal karena ayahnya menolak membelikannya mobil sendiri meskipun dia tahu cara mengemudi.

Perguruan tinggi tempatnya kuliah berada tepat di tepi kota, jadi itu sekitar 30 menit perjalanan dari rumah.

Udara segar yang keras menggigit kulitnya yang terpapar saat dia menyeberang jalan, tangannya tenggelam dalam saku jaket denimnya.

Melihat ke atas, Krystal mengeluarkan desahan lega saat melihat halte bus. Tiga perempuan menunggu di sana, berdiri saling berdekatan, berdiskusi tentang sesuatu. Mereka semua adalah gadis di bawah usianya yang mengenakan seragam sekolah menengah.

Salah satunya memiliki rambut cokelat pendek di atas bahu dan tampak baik-baik saja, kecuali dengan lingkaran hitam di bawah matanya meski raut wajahnya menunjukkan semangat yang aneh.

Krystal mengabaikan sekitarnya, berdiri di dekat tiang ramping besi yang tertanam di samping kursi.

Suara kelompok yang berinteraksi seolah-olah mereka adalah teman dekat.

Biasanya Krystal akan mengabaikan obrolan menjengkelkan yang dipenuhi omong kosong, tapi hari ini gadis yang sempat sekilas ia perhatikan tampak lebih ceria ketika mengarahkan pembicaraan ke sesuatu. Telinganya yang tajam meninggi.

"Aku sudah bekerja di sana selama beberapa bulan setelah kasus di gedung sekolah lama."

"Apa? Kenapa? Bagaimana kau bisa bekerja dengan Shibuya-san, Mai?"

Yang dipanggil Mai terkekeh pelan. "Karena aku membutuhkan uang, tentu saja. Lagipula dengan begini aku bisa melihat hantu-hantu yang mengganggu rumah di kasus kami sebelumnya."

Aktivitas paranormal?—Krystal merenung. Dulu dia suka menonton berbagai macam film bergenre horor dan penelitian. Bahkan dia mengambil pelajaran bagian parapsikologi.

"Tidak adil!"

"Bohong!"

"Aku mau bekerja dengannya juga."

"Bagaimana kalau kita melamar jadi pemburu hantu?"

"EH~"

Salah satu dari mereka berteriak dan merengek seperti bayi, menyebabkan kerutan di kening Krystal. Mata hijau turquoise-nya melirik sinis. Dia sangat benci orang yang berisik dan anak kecil.

Orang bodoh macam apa yang mengikuti orang yang mereka sukai sampai seperti ini? Bahkan memaksakan diri bekerja pada sesuatu yang belum tentu dipahami benar.

Tiba-tiba suara keras kendaraan mendekat memecahkan perempuan setengah Inggris tersebut dari pikirannya, menyentak kepalanya ke atas untuk melihat bus berhenti dan perlahan terbuka.

Dengan cepat, Krystal berjalan menaiki anak tangga yang curam, memfokuskan kakinya mencapai tempat duduknya yang terpencil, jauh di belakang.

Krystal menarik napas melalui lubang hidungnya sebelum memainkan kuku-kukunya yang habis dicat warna hijau dan kuning pastel. Dia punya kebiasaan mengganti cat kuku dengan warna-warna berbeda.

Walau begitu, jalan pikirannya menetap di suatu tempat bernama Shibuya dan paranormal.

"Apa kau tahu perumahan di tengah hutan yang lama ditinggalkan?"

"Ah, maksudmu rumah besar yang tak jauh dari sini, kan?"

"Ya, ya, katanya rumah itu sudah dijual dan dimiliki mahasiswi seusia anakku."

Bahunya tegang saat mendengar gosip ibu-ibu yang duduk tepat di samping kanan kursinya. Dia melirik mereka melalui ekor matanya dengan ekspresi datar.

Gubuk tua di antah berantah? Apa aku yang mereka maksud?

"Eh? Benarkah? Bukannya itu justru berbahaya? Apa dia tinggal sendiri di sana?"

Wanita berambut pirang bersenandung dalam berpikir. "Sayangnya, ya. Ibunya, yang membeli rumah padahal sudah diberi tahu tentang rumor mengerikan tentang sejarah pemilik lama, tapi katanya dia tetap membelinya untuk putrinya. Selain itu praktis harganya murah dan rumahnya cukup besar, siapa pun pasti ingin membeli rumah itu. Jika saja tidak ada peristiwa yang terjadi pada setiap perempuan muda yang menempati rumah, aku akan membelinya sejak lama dan tinggal di sana bersama anakku."

"Itu rumah idaman, meski harus mengeluarkan biaya lagi untuk perbaikan. Teman putraku, yang pernah tidak sengaja memasuki daerah rumah itu mengatakan kalau dia melihat bayangan sosok laki-laki jangkung dari atas jendela. Mungkinkah itu tuan tanahnya?"

"Mengerikan. Aku yakin bukan hanya dia yang tinggal di sana. Mungkin bahkan wanita malang itu juga menjadi arwah gentayangan."

Apa sih yang mereka bicarakan? Apa maksud mereka dengan rumor dan apa hubungannya dengan perempuan malang? Apabila ibunya mendengar berita tak mengenakkan ini, kenapa beliau tidak memberitahunya? Dan siapa itu wanita yang mereka bicarakan?

Ah, Krystal mendengus. Dia lupa ibunya skeptis pada rumor tak berdasar, terutama saat itu dihubungkan dengan hantu. Beruntungnya, Krystal tidak dilarang belajar parapsikologi, dengan satu syarat, kelak dia akan menjadi pewaris perusahaan.


Hari sekolah berlalu seperti kabur. Saat ini Krystal sedang berada di supermarket, perlu membeli beberapa bahan makanan dan kebersihan. Serta untuk menghafal kota.

Baik. Daftar belanjaannya cukup panjang, terutama karena dia baru pindah sehingga banyak yang harus dia beli. Karena terbiasa tidak makan nasi, dia perlu membeli lebih banyak isian sandwich dan pasta.

Ada spageti, sosis, gula, teh, kopi, bacon, susu, keju, saus pasta, daging, buah-buahan dan sayuran.

Oh, dan tidak lupa wine.

Sudah cukup lama dia tidak minum anggur. Apalagi orang tuanya tidak pernah berhenti untuk mengingatkannya untuk jangan pernah minum alkohol, kendati perempuan itu sudah sah minum di Inggris. Tentunya selama ini dia sembunyi-sembunyi dari mereka.

Tidak seperti orang lain, Krystal selalu minum sendiri, yang paling disukainya adalah wine dan bir.

Terlebih di sini, Jepang, mengharuskan masyarakat minum minimal 20 tahun.

Krystal mendorong troli belanjaan ke rak paling kanan, dimana dia mengambil kotak pad, tisu baru, sabun cuci dan sabun mandi.

Dia memanjangkan lehernya untuk mencari tempat bahan sarapan berada. Lalu mengambil dua kardus sereal dan roti tawar.

Itu adalah daftar terakhir.

Akhirnya dia di depan kasir. Beruntung, toko itu tidak terlalu ramai sehingga dia bisa langsung membayar.

Pintu kayu reyot didorong terbuka, melemparkan semburan angin musim gugur saat Krystal masuk, dengan cepat menutup, sekali lagi dia berada dalam kenyamanan hangat rumahnya. Dengan cepat melepas jaketnya, dia menggantungnya di gantungan, menendang sepatunya ke sembarang tempat dan mengenakan sandal rumah.

Tanpa membuang waktu perempuan yang lelah itu berlari ke dapur sambil membawa kantung belanjaan yang berat dan dengan kikuk menaruh barang-barang di tempat yang seharusnya.

Begitu selesai, dia menuangkan air minum dari botol lemari es dan beranjak ke kamarnya.

Gadis blond tersebut meletakkan barang-barangnya sebelum berbaring di sofa dekat jendela. Dia merasa lelah setelah perjalanan pulang dari kampus dengan bus yang diteruskan berbelanja ke toko kelontong.

Dia merogoh tasnya dan berusaha mengambil earphone. Ia berniat mendengarkan lagu dan memejamkan mata.

Dengan menggunakan earphone miliknya, Krystal memutar volume musiknya keras-keras. Sembari menikmati dentuman musik kesukaannya dan rapper favoritnya, saat tiba-tiba lagu berhenti dan menyala sendiri.

Krystal yang terganggu melirik baterai ponselnya yang masih penuh dengan bingung. Kemudian musik menyala lagi dan beberapa detik mati. Itu terus mengulangi sampai tanpa sengaja lagunya beralih ke lagu instrumental piano yang belum pernah ia dengar.

Itu semakin menakutkan saat dia menangkap suara statis aneh dan walau enggan dia mendengarkannya dengan seksama. Suaranya seperti erangan seorang pria.

Bahunya menegang. Sedetik kemudian dia segera melempar ponsel dan earphone-nya ke atas meja kopi, lalu beranjak dari tempatnya.

"Sialan! Apa aku tidak bisa bersantai di rumah sendiri," gerutunya gusar sambil mengusap rambutnya.

Walau sedikit enggan, dia terlalu lelah untuk berurusan dengan keanehan di rumah ini. Jadi Krystal mengambil pakaiannya dari laci meja rias dan langsung ganti ke piyama.

Beberapa jam setelah dia mengawasi gadis itu tertidur, Rey tidak bisa berhenti menyeringai. Dia dekat. Sangat dekat. Dia hampir bisa mendekatinya dan membungkuk di depan wajahnya agar bisa memaksakan bibirnya pada bibirnya.

Sudah sangat lama sejak dia bisa melakukan salah satu dari hal-hal itu, dan sekarang kesempatan untuk melakukannya menjadi semakin mungkin.

Dia bertanya-tanya apakah bibirnya selembut yang terlihat, dia penasaran apakah itu memiliki rasa tertentu. Bahkan kulitnya tampak lembut saat disentuh. Dan bagaimana pendapatnya tentang suara itu?

Alangkah indahnya menghetahui.


Suara burung pagi menyambut, Krystal bergerak dari perut ke punggungnya di tengah kebisingan. Dia mengedipkan mata turquoisenya dan melihat jam weker di atas one night stand. Arloji itu dibaca jam sembilan pagi, jadi dia pikir pantas untuk bangun setelah begadang menyelesaikan pekerjaan rumah yang ditugaskan Mr. Franklin—seorang dosen dari Amerika yang bekerja di kampusnya.

"Hari minggu yang indah," gumamnya seraya meregangkan tangan dan kakinya yang kaku.

Untungnya tidak ada suara menjengkelkan yang membangunkannya. Jika ada di malam hari, perempuan itu tidak mendengarnya.

Mendorong beberapa helai rambut pirang dengan ombre turquoise keluar dari wajahnya, dengan malas dia berganti pakaian casual.

Dengan kaos putih dan celana pendek hitam, dia keluar dari kamar dan berjalan ke kamar mandi memulai rutinitasnya.

Setelah sarapan sereal, dengan perutnya yang penuh gadis blond itu mengambil vacuum cleaner dari ruang penyimpanan. Dengan demikian, dia menuju cellar.

Sambil berdiri di atas kursi, dia meletakkan pembersih dan lap di lantai. Dia menyingkirkan barang-barang dari setiap sekat rak kaca. Begitu selesai, dia mulai membersihkan area tersebut.

Kaki saling bertumpu dan dagu bersandar di telapak tangannya, sambil duduk di atas lemari penuh peralatan, seringai menyebar di bibirnya saat dia memperhatikan Krystal membersihkan.

Gadis kecil itu terlihat santai. Masuk akal karena dia belum melakukan apa-apa lagi hari ini. Selain itu, jelas-jelas dia mendorong kegelisahan yang diberikan oleh kehadirannya. Yang agak membuatnya frustasi.

Dia curiga bahwa kemampuannya untuk melakukannya, akan segera berubah. Dia tidak bisa mengabaikan kerentanan yang dia berikan padanya selamanya. Terutama saat intensitasnya meningkat.

Turun dari sofa, gadis blond memeriksa setiap sudut. Dia belum selesai menjelajahi rumah ini, terlebih rumah yang memiliki tiga lantai—dengan basement yang berfungsi sebagai binatu, gudang penyimpanan dan kamar kosong.

Menghela napas panjang, dia berjalan ke rak logam lainnya yang berisi kardus. Kotak-kotak berdebu berdiri di permukaannya. Ibunya berkata bahwa itu pemilik rumah sebelumnya dan tidak ada yang mau mengambil itu kembali.

Akan merepotkan jika merusak barang orang lain. Tapi, dikatakan bahwa itu semua memang tidak pernah tersentuh selama puluhan tahun.

Tapi apakah ada alasan untuk itu?

Apa tidak boleh ada yang menyentuh mereka?

Maka, bisakah dia memilikinya?

Perempuan itu masih sibuk dengan pemikirannya sendiri saat dia melihat kertas yang mencuat di bawah salah satu kardus.

Tangannya menggenggam tepi gambar, dan dia mendekatkannya ke matanya. Melihat dengan seksama dua orang dalam foto tersebut. Dengan cara mereka duduk, wanita muda berambut cokelat mengenakan gaun merah maroon duduk di kursi dengan pria dalam pakaian berwarna serupa, berdiri dengan tangan di pundaknya, dia merasa seolah-olah mereka bisa langsung keluar dari sebuah novel.

Mereka terlihat sempurna bersama. Hampir tidak nyata. Jika bukan karena senyum miring yang terkesan dipaksakan yang dimiliki perempuan itu dia akan berpikir mereka pasangan yang bahagia.

Tidak hanya penampilannya yang memukau dan terkesan polos, tapi juga dia melihat sedikit kemiripan dasar wajahnya dengan dirinya sendiri, yang entah kenapa membuat bulu halusnya berdiri.

Siapa orang di foto ini? Apa mereka tuan tanah yang sebenarnya?

Dia mengerutkan kening pada pemikiran itu. Tentu saja dia bisa salah dalam menganggap perempuan muda itu sebagai 'gadis malang' dan pria di belakangnya adalah sosok nyata tuan tanah yang sebelumnya pernah dibicarakan oleh ibu-ibu di bus tempo hari.

Tapi kenapa foto seperti ini ditaruh sembarangan begini? Kalau dipikir-pikir, pemilik rumah sepertinya tidak memiliki saudara atau kerabat yang akan mengurus rumah setelah dia meninggal. Bahkan tempat ini memiliki bangunan yang sangat buruk dan tua.

Lantainya terbuat dari kayu yang akan mengeluarkan derit menjengkelkan tiap kali berjalan di atasnya. Beberapa tembok tampak usang dan cat yang mengelupas, tapi Krystal terlalu malas untuk melakukan perubahan. Bahkan yang terburuk dari ruangan di sini adalah gudang penyimpanan bawah tanah.

Terlepas dari kekacauan berbagai perabotan, daerah gelap diterangi oleh cahaya kusam dari bola lampu kecil di atas langit-langit berdebu. Yang membuatnya cemas perkataan ibu-ibu penggosip tentang arwah laki-laki jangkung yang berada di rumah ini.

Meski itu belum sepenuhnya benar.

Tanpa sadar sesuatu berdiri di dekatnya dan memerika foto usang yang digenggamnya dengan ekspresi sukar diartikan.


Cahaya yang hampir tandus membanjiri ruangan yang diisi berbagai macam tanaman yang tidak terawat dan banyak dedaunan berguguran di lantai kayu. Itu bersinar melalui jendela dan atap kaca solarium karena tidak memiliki tirai. Segala sesuatu di ruangan itu tampak normal, kecuali seorang gadis yang terbaring tak sadarkan diri.

Rey sedang menunggu kekasih barunya bangun. Dia sudah mencoba memindahkannya menggunakan kekuatannya dan nyatanya itu berhasil pada gadis manusia. Sesuatu tentangnya menarik, terutama karena sebelumnya taktik tersebut tidak berlaku pada seseorang.

Mungkin jika Krystal memiliki kemampuan ESP, dia bisa melihat sosoknya yang sebenarnya dan mengobrol tentang hal pribadi masing-masing. Itu semenyenangkan kedengarannya.

Bosan, dia berjongkok di samping kepala perempuan itu. Rey meniup helai rambut poni yang berantakan di wajahnya, gerakan seperti itu menyebabkannya duduk lebih dekat dan mengulurkan jari-jari ke arahnya.

Sayangnya. Laki-laki itu tidak bisa merasakan apa pun. Bahkan dengan sinar bulan di atasnya. Bibirnya berubah menjadi cemberut saat dia ikut berbaring dan memeluknya erat seperti anak kecil yang takut ditinggalkan ibunya.

Bagi Rey, posisi ini paling menyenangkan. Kekasihnya mungkin akan menyadari bagaimana dia memeluknya. Dia bertanya-tanya apakah pipinya akan terasa memanas dan apakah rasa malu akan terlihat di mata turquoisenya yang cantik.

Dia dengan rakus mencoba menghirup aroma khasnya yang berbau bunga lembut di musim semi. Sangat kontras dengan bau tanaman mati di sekitarnya. Tangan kanannya meluncur turun ke bawah dagunya dengan mantap, saat dia menelusuri sisi kanan garis rahang dan lehernya.

Memiringkan wajahnya hingga menghadap ke arahnya, Rey mencondongkan kepalanya. Membawa pipinya lebih dekat ke bibirnya, dia bernapas ringan di atas kulit putihnya dan menyaksikan dengan senang saat Krystal tidak menghindar.

Dia tidak punya tempat untuk pergi, selain karena perempuan itu sedang tertidur. "Jangan khawatir. Aku akan segera menemukan tubuh untuk dimiliki," bisiknya sambil membasahi pipinya.

Terus terang, dia senang bahwa Krystal tidak terlihat seperti gadis di masa lalu. Jika begitu, Rey mungkin sudah membunuhnya. Kemudian lagi, sulit baginya untuk melihatnya. Ada banyak hal lain yang bisa dia lakukan dengan perempuan yang sedang tidur dalam dekapannya.

Tetap saja, dia tidak ingin terburu-buru. Melakukan hal itu akan membuat beberapa tindakannya segera membuat kekasih barunya lari dari rumah. Dan laki-laki itu ingin membuatnya berada di sini sepanjang waktu.

Memindai sosok tidurnya, Rey menenggelamkan wajahnya ke lehernya yang lembut dan menggenggam tubuhnya protektif. Tidak buru-buru adalah tugas yang sulit. Jika dia tidak bisa menahan diri, dia akan menahannya di rumah dan takkan pernah membiarkannya pergi.

Sekarang dini hari dan akan mendekati fajar. Waktu berjalan lambat tapi tidak seburuk sebelumnya. Untuk saat ini, dia hanya akan membuat kehadirannya diketahui. Jadi Rey berdiri di sebelahnya dan mengamati.

Matanya berkedip terbuka sebelum menutup lagi. Jumlah kegelapan tidak terasa asing karena dia suka mematikan lampu sebelum tidur. Tapi ketika Krystal bangun, punggungnya sakit.

Mata yang masih tertutup kelopak mata itu bergerak gelisah, keningnya mengernyit dalam ketika merasakan sensasi dingin yang sangat keras. Sejak kapan kasurnya berubah?

Dia meringkuk dalam posisi yang canggung, dan baru setelah dia tersentak hingga langsung duduk dia menyadari sebabnya.

Krystal berada di solarium yang jarang dia kunjungi, yang mengherankan. Mengingat dia tidak pernah mengalami sleep walking sebelumnya.

Terserang panik, menyebabkan gadis itu duduk dengan penuh dan melemparkan kakinya ke samping. Belum lagi rasa dingin luar biasa di pipi kanannya menyebabkan dia menyentuh area tersebut dengan bingung. Itu tidak menyenangkan.

Seluruh permukaan tubuhnya terasa lengket. Dadanya naik turun mengikuti pernapasannya yang tidak normal. Dia terbangun dengan perasaan seperti dirinya telah mengikuti lomba marathon.

Entah sejak kapan, dia tidur di lantai kayu yang dingin, sehingga pantas tulang belakangnya terasa kaku. Kendati seluruh ruangan di rumah selalu dingin, terutama di basement dan dia tidak melihat ada pemanas ruangan.

Dia mengembuskan napas pelan setelah keadaannya menjadi lebih baik.

Matanya yang menatap kelopak bunga mawar merah darah yang sudah layu kini bergulir pada pemandangan di sekitarnya. Cahaya bulan dari kaca di atas langit-langit menyinari seluruh ruangan. Beruntungnya hari ini dia hanya punya kelas sore sehingga Krystal tidak perlu takut jika terlambat ke kampus.

Tapi kemudian dia menyadari bahwa samar-samar dia mencium bau asap. Dia segera keluar ruangan walau sedikit terhuyung oleh jumlah rasa sakit serta ruangan yang gelap tanpa menoleh ke belakang dan mengikuti arah aroma karena takut ada kebakaran.

Bau itu kemudian hilang bersamaan dengan dia berbalik dan berdiri di depan ruang tv, dengan ragu-ragu Krystal masuk ke dalam dan melakukan pemeriksaan pada setiap benda yang terhubung listrik.

Ketika perempuan itu mengintip ke bawah rak tv yang dipenuhi kabel, Rey memasuki ruangan. Dari sana, dia hanya memperhatikannya berjalan di sekitar area, saat dia memeriksa setiap sudut dan celah. Itu hal yang menarik untuk ditonton, terutama raut wajah panik yang dimiliki kekasihnya.

Sebelum dia berjalan menuju kamarnya, dia terhenti di jalurnya. Telinganya menegang dan berdiri, segera mempertajam indera pendengarannya. Perempuan itu merasa telah mendengar sesuatu yang aneh.

Spontan perempuan itu mengintip dari bahunya, dan melirik ke daerah yang baru saja dia datangi.

Tidak ada yang berubah.

Meski tidak yakin, perlahan dia memutar tubuhnya 360 derajat untuk mendapat sudut yang lebih baik.

Kerutan muncul di dahinya saat tidak melihat penemuan. Namun setelah dirinya berpikir keras, sambil mengendikkan bahunya acuh, dia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidur.

Saat dia bangun nanti, dia akan bersiap-siap ke sekolah.

Tapi untuk saat ini pikirannya fokus untuk naik ke tempat tidur.

Bahkan tidak masuk ke bawah selimut, dia jatuh ke tempat tidur, meringkuk dengan wajah terbukur di bantal dan tidur kembali.


Beberapa hari berlalu setelah kejadian malam itu, tidak ada yang terjadi. Tidak dengan elektronik yang menyala atau mati sendiri, tidak dengan sleep walking, tidak ada panggilan dari orang tuanya atau suara-suara aneh.

Begitu selesai makan siang, Krystal menuju kamar mandi untuk mengambil keranjang pakaian. Hanya ada dua hal yang tetap pada tempatnya. Hawa dingin yang terkadang menyelimutinya dari suatu arah dan kecemasan akan kehadiran lain di dalam rumah.

Dalam perjalanan keluar dari kamar mandi, gadis blond berjalan melewati cellar yang pintunya berada di bawah tangga. Sesampainya di laundry, dia mulai memilah pakaian dan memasukannya ke dalam mesin.

Krystal membawa keluar keranjang pakaian dari binatu. Dia merasakan menggigil naik ke tulang belakangnya seakan sedang diawasi.

Sambil mengabaikan itu, ekor matanya menangkap pintu ruang bawah tanah yang mencurigakan—ditutupi kayu yang asal-asalan dipaku dan ada tulisan berwarna hitam 'terlarang' yang sudah nyaris hilang dan tertutup debu.

Tapi bukan cuma itu yang membuatnya cemas, melainkan bau busuk menyengat yang datang tidak diketahui darimana tepatnya. Dia tidak berani mendekati kamar kosong, namun tidak seperti dia punya pilihan untuk berada di basement.

Krystal bergegas menaiki tangga menuju kamarnya dan mengerjakan pekerjaan sekolah.

Malam tiba, terlalu cepat baginya.

Duduk di bangku study room, matanya menatap lekat esainya. Dari dulu dia membenci pekerjaan rumah. Terlebih lagi, kini jawaban yang susah payah ia dapatkan justru tidak masuk akal.

Perempuan blond menggaruk kepalanya frustasi. "Sial! Kenapa aku harus belajar pelajaran bodoh seperti ini?" gerutunya.

Matanya yang terfokus pada buku pindah ke arah pintu ruang belajar yang sengaja ia buka. Ia yakin jika ada seseorang di sana dan memperhatikannya. Terlepas dari kebenciannya terhadap rumah ini dia tidak bisa menahan perasaan takut yang melanda dirinya akhir-akhir ini.

Perasaan itu bahkan lebih kuat dari kemarin, dan gadis berambut blond bisa merasakan rambut di tengkuknya berdiri. Merinding merayap di lengannya, dia menggosoknya dengan tidak nyaman dan upaya menenangkan diri.

Bagaimana jika aku menjadi sasaran oleh sesuatu yang tidak normal?

Dia menggelengkan kepalanya linglung. "Aku tidak bisa konsentrasi jika terus begini."

Berusaha menyingkirkan pikiran negatif, ia tak memedulikannya dan kembali berkutat dengan tugasnya.

Di saat pertanyaan terakhir ini Krystal sudah di ambang batas kesabarannya, membuatnya menoleh untuk melihat ke belakang. Dan yang gadis itu dapatkan hanya lorong rumahnya yang kosong, tak ada siapa pun seperti dugaannya.

Sambil berdecak keras, dia menutup buku pelajaran dalam sekali hentakan dan berdiri dari kursinya.

Matanya menyipit memperhatikan lorong panjang beberapa meter di depannya. Yang menjadi sumber penerangan koridor rumah hanyalah lampu yang berdiri di dekat tangga dan study room. Membuat ruangan lain terlihat lebih gelap. Sehingga bagian tengah hallway tidak bisa dijangkau oleh penglihatannya.

Ia mengambil langkah keluar dari study room menuju perasaan keberadaan sesuatu yang mengganggu.

Gadis itu sendirian, tapi dia tidak. Ini bukan pembunuh atau pencuri belaka.

Krystal merasakannya begitu ia berjalan menyusuri lorong. Papan lantai berderit dan mengerang di bawah langkah ringannya.

Ada sesuatu yang sangat berbeda terjadi. Ditampilkan oleh dengungan listrik di udara, ketakutan aneh yang membanjiri tubuhnya dalam gelombang, dan perasaan diawasi yang menggelisahkan. Tidak ada orang di sini secara fisik, tapi dia berpikir apakah mereka bisa melihat setiap gerakannya.

Setelah tidak melihat tanda-tanda kehadiran, dia memutuskan untuk mengabaikan semuanya. Lagi.

Menarik selimut menutupi tubuhnya, mata turquoisenya mengamati seluruh keadaan kamar. Lampu telah da matikan, menyisakan cahaya redup dari lampu peri yang menemani. Dia menaruh tangan kanannya di atas dahinya dengan lelah. Membuat sebagian besar pandangannya terhalang, hanya sedikit wilayah yang bisa dia lihat.

Sesuatu tampak menggantung di atas saat matanya mulai kabur dan memberat oleh rasa kantuk. Tapi yang mampu ia lihat dari celah kecil tangannya hanya bagian bawah dari sesuatu itu. Meskipun dia sangat mengantuk, tapi Krystal masih bisa memastikan dengan jelas jika yang mengambang di atasnya adalah sepasang kaki.

Kaki itu terlihat pucat dan seukuran dewasa dengan kain celana bahan yang menutupinya. Tidak mungkin itu perempuan, melihat itu lebih besar dan panjang.

Bola-bola turquoisenya menatap kaki yang sepertinya hanya bagian dari lutut ke bawah dengan tegang. Terutama saat sepasang kaki itu mulai berayun pelan secara bergantian di atas sana.

Gelombang kantuk lenyap seketika, dan kegelapan malam itu diisi oleh jeritan histeris Krystal yang memecah keheningan.