disclaimer © Animonsta Studios
warning AU, AR, OOC, Twins!DaunCahaya, PWP (plot? what plot?), typo(s), kebutaan EBI.
Hari ke-711, Daun masih menghitung jumlah bintang yang melayang di angkasa.
"Daun," panggil Cahaya. Telapak tangan yang dibungkus kain dingin menepuk bahu Daun, saudara kembarnya. Mereka berdua tidak tahu siapa kakak dan siapa adik di antara mereka, sehingga memanggil nama tanpa sapaan kakak atau adik pun menjadi determinasi akhir. "Belum tidur?"
"Daun sedang menunggu bintang jatuh."
Cahaya duduk di sebelah Daun yang nyaris tak berkedip, kemudian sama-sama memandang dirgantara yang ditinta arang. "Tidak ada yang namanya bintang jatuh. Yang selama ini dikatakan sebagai bintang jatuh itu meteor."
"Maksudnya?"
Belum lima menit, Cahaya kembali berdiri. Kedua tangannya membuka jendela lebar-lebar, memberikan akses masuk kepada sang bayu yang sempat melakukan demonstrasi di luar jendela.
"Ah Cahaya, dingin," keluh Daun yang langsung meraih selimut bermotif bunga tulip, buru-buru membungkus tubuh mungilnya. "Kenapa Cahaya malah membuka jendelanya?"
"Supaya Daun mau tidur," jawab Cahaya tanpa ekspresi. "Sudah nyaris dua tahun dan Daun selalu tidur lewat dari jam dua belas malam. Mana mungkin aku bisa tenang."
Sungguh, Cahaya tidak berdusta. Eksistensi lengkungan hitam pada kantung mata Daun pun mengatakan hal yang sama.
"Daun ingin ... bintang jatuh mengabulkan permohonan Daun."
Mulut Cahaya membuka, ingin mengulang penjelasannya beberapa saat lalu, namun Cahaya mengurungkan niatnya dengan menyatukan kembali kedua bibirnya. Bukan salah Daun yang masih belum memahami ketiadaan bintang jatuh, tetapi Cahaya terlalu mengetahui banyak hal di usia mereka yang masih sepuluh tahun.
"Apakah harus menunggu bintang jatuh untuk mengabulkan permintaanmu, Daun?" tanya Cahaya.
"Kata buku cerita yang Daun baca, bintang jatuh bisa mengabulkan semua permintaan," jawab Daun dengan wajah naif.
Maka dari itu, Cahaya memutuskan untuk mengikuti permainan Daun.
"Aku juga bisa mengabulkan semua permintaan khusus dari Daun, saudara kembarku." Cahaya mengusap kepala Daun, sedikit membuat rambut Daun berantakan, tetapi Daun tidak mempermasalahkannya. "Apa pun itu."
"Benarkah?"
"Tentu saja." Cahaya mengangguk. "Jadi, apa keinginanmu?"
Bersamaan dengan pertanyaan Cahaya, setitik cahaya meluncur bebas di sepanjang langit.
"Daun ingin Cahaya pulang."
Lalu Cahaya menghilang, menyertai sang bintang jatuh yang tak lagi terlihat.
"Selamat tinggal."
tamat
~himmedelweiss 06/03/2020
