Tumbuh bersama dalam satu atap menjadi peluang besar bagi bocah laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan perasaan saling memiliki. Chanyeol dan Baekhyun tumbuh bersama menjalani masa kanak-kanak dari berbagai mainan sampai perdebatan kecil yang kadang tak terhindarkan. Sampai remaja hingga keduanya duduk disekolah tingkat tinggi perasaan itu tumbuh semakin besar namun tanpa mereka sadari. Hal-hal kecil akan mereka lakukan bersama-sama, mulai dari bermain, menonton kartun, makan, belajar, berenang atau sekedar saling bergurau.

Meski terdengar indah namun ada jarak bak jurang yang curam diantara mereka. Status tepatnya. Si laki-laki tinggi adalah Tuan Muda dan si gadis mungil adalah putri pelayan. Keduanya tidak mempermasalahkan itu. untuk apa repot repot memperdebatkan status jika selalu terdengar gelak tawa diantara mereka. Namun orang-orang yang menganggap dirinya lebih tua dan paling benar itu jelas perbedaan yang mencolok. Seperti jarak antara bumi dan langit. ko

Nyonya Park misalnya, ia akan memberi ceramah panjang pada Bibi Yun jika membiarkan putrinya bermain dengan Chanyeol. Pun sama Nyonya Park Akan menegaskan berkali-kali pada putra satu-satunya untuk tidak terlalu dekat dengan Baekhyun. itu akan membawa pengaruh buruk, pemalas dan suka bermain. Chanyeol hanya harus sekolah, les piano, belajar dan belajar. Namun pada dasarnya Chanyeol adalah tuan muda yang keras kepala ia akan mengancam semua pelayan yang mencoba melarangnya. Tuan Park dan Nyonya Park adalah pebisnis hebat yang menaungi GK Grup yang sebagian besar waktunya dihabiskan di luar negeri, itu menjadikan Chanyeol lebih mudah memonopoli orang kepercayaan Tuan Park untuk mematuhi perintahnya. Seperti,

"Paman Wang, berapa kali harus ku katakan, Baekhyun harus ikut sarapan denganku!"

atau

"Paman Wang! panggil Baekhyun cepat. aku ingin bermain game dengannya."

lalu

"Paman Wang!!! aku tidak bisa mengerjakan PR ku, cepat panggil Baekhyun!"

dan

"Jika Paman Wang tidak membiarkan Baekhyun ikut bersama dengan mobil ini. aku tidak akan berangkat sekolah. Akan ku bilang pada Ayah jika Paman Wang telah mengambil anggur kesayangannya di gudang bawah. Meski itu tidak, Bukankah Ayah akan lebih percaya pada putranya?"

Dan lagi

"Panggil Baekhyun segara!!! 10 detik atau aku katakan pada Ayah untuk memotong bonus tahunanmu karena membiarkan aku terlambat sekolah." Chanyeol dengan malas mengigit roti lapis isi kejunya sambil berjalan menuju mobil Ferrari merah yang terparkir di depan villa mewahnya. ia bahkan tak perduli dengan barang apa yang harus di sekolah. Tak lama berselang langkah kaki setengah berlari menyusulnya. Baekhyun dengan roti yang ia gigit masih dimulutnya, membawa tas ransel Chanyeol pada tangan kanannya sedang tangan kirinya ada jas almamater dengan sebotol air mineral. ia dengan mudah masuk mobil dari bantuan Paman Wang yang membukakan pintu. Belum selesai Baekhyun memasang sabuk pengamannya, pedal gas sudah di injak kencang, hingga tubuh kecilnya sedikit terpental. Si mungil hanya memutar bola matanya jengah, memaklumi lelaki tinggi yang fokus mengemudi itu memang bertindak sesuka hatinya.

Baekhyun segera menghabiskan rotinya, membuka segel botol air dan segera meneguk beberapa dan pria disebelahnya baru bersuara.

"Air!"

"Huh?"

"Beri aku minum!!" terdengar nada suaranya yang tidak sabaran.

"Tapi-"

"Aku haus!!

itu jelas bekas mulut Baekhyun.

"ini!"

dan Chanyeol tanpa minat untuk mengambil botol air itu. Dengan helaan nafas lalu jari runcing itu mengatur botolnya pada bibir pria sebelahnya dengan hati-hati agar tidak tumpah atau tidak kemarahannya akan semakin menjadi.

Setelah tenggorokannya lembab, sudut bibirnya tertarik memperlihatkan lengkungan manis dalam pipinya. Namun detik berikutnya mimpi kacau tadi malam terlintas karena menyecap sisa saliva pada ujung botol tadi. Mimpi itu benar-benar mengacaukan perasaannya untuk pertama kalinya. Akibatnya kemudi mobil semakin kencang. dan teriakan kecil dari gadis disebelahnya ditambah cubitan pada lengannya ia rasakan.

"Ada apa denganmu?"

"Chanyeol kurangi kecepatan nya!"

"Chanyeol!!!

Namun itu tak digubris.

Baekhyun mengatur nafasnya dan memilih memejamkan matanya. apa yang salah dengannya. Kemarin keduanya masih mengerjakan PR bersama dan itu baik-baik saja . Dasar Idiot!! umpatnya dalam hati.

Setelah injakan rem yang cukup keras, Baekhyun segera membuka pintu mobil dan turun. Tak lupa ia melemparkan botol airnya pada tubuh si besar. "Apa kau mengambil makanan yang salah pagi ini?" katanya dengan bantingan pintu yang keras. Dan Chanyeol hanya melihat punggung sempit itu yang berjalan menjauh. Rambut hitamnya yang diikat ekor kuda bergerak mengikuti langkahnya dan memperlihatkan leher jenjangnya justru membuat kemarahan Chanyeol semakin tak terkendali.

Ya ada apa dengan dirinya? Chanyeol juga tidak mengerti. Dia bermain bersama dengan Baekhyun dari kecil, tapi baru-baru ini dia merasakan perasaan yang aneh.

Tepatnya sejak Minggu lalu. Baekhyun mengikuti lomba renang pada hari itu. meski dia tidak mendapat tempat pertama, tapi tubuhnya menarik perhatian laki-laki di sekolahnya. dan itu tidak sedikit. Tubuhnya tidak tinggi bahkan dadanya tidak besar mungkin itu hanya sekitar pada cup 34B. Tapi itu pada porsi yang pas pada tubuh kurusnya. Kulitnya putih semakin terlihat bersinar oleh air kolam yang membasahinya. Lalu baju renang itu. Sungguh sial itu benar-benar menempel pada tubuhnya. Dan itu membuat Chanyeol untuk pertama kalinya berpikiran tidak jernih pada sosok mungil itu. dan mengutuk dirinya sendiri karena dengan tidak bermoralnya dia mendapati celananya yang basah di pagi hari.

"Baekhyun!"

Dikejarnya Si mungil yang sudah sampai di kelas.

"Ikut Aku!"

"Hei!" tangannya sudah ditarik lebih dulu dan berhenti pada ujung koridor yang sepi.

"Maaf ok!" Chanyeol memilih membungkuk mensejajarkan wajahnya.

Karena jarak itu terlalu dekat dan tiba-tiba, hingga sangat jelas kedua mata bulat dan hidung tegak itu, Baekhyun memalingkan muka. lalu semburat merah muda terlihat di pipi putihnya dan Baekhyun mundur dua langkah untuk menetralkan detak jantungnya.

"Baek, Maaf!" itu maaf keduanya-- untuk mimpinya.

"En." disertai anggukan kecil, Baru Baekhyun berani menatap sosok yang memiliki wajah begitu adil.

"Bisakah aku minta kuncir rambutmu?"

"Huh?"

Tanpa persetujuannya Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun dan melepas ikat rambut itu dengan hati-hati, lantas samar-samar ia bisa mencium wangi susu lembut dari gadis ini. Pikiran Chanyeol kembali berkabut.

"Lain kali kau dilarang mengikat rambutmu atau aku benar-benar akan memotongnya!" lalu dia meninggalkan Baekhyun tanpa lupa membuang ikat rambut itu di tempat sampah.

Sedang Baekhyun merapikan rambutnya dengan decakan kesal dari bibirnya, ia menggerutu. 'Sejak kemarin ia bertingkah sangat aneh. tiba tiba baik tiba tiba marah, tiba tiba mendekat, tiba tiba menjauh, apa dia tidak berpikir jika cepat lambat tindakannya bisa membuatnya punya penyakit jantung.'

Lantas dia hanya menuruti permintaan Chanyeol yang aneh itu tanpa niat mencari tau apa alasan dibaliknya. Chanyeol telah melakukan banyak hal untuknya. Mulai dari mengajari pelajaran yang harus mengandalkan kemampuan berhitung. Memecah kepiting dan mengupas kulit udang dan menempatkan dagingnya pada mangkuk nasinya. Memberikan pelajaran piano. Mengajari nya rasa percaya diri. Hingga tidak ada yang memandang rendah dirinya sebagai yatim piatu karena Chanyeol yang selalu berdiri disampingnya. Baekhyun hanya sosok tidak berarti yang dulunya tinggal di panti asuhan yang kebetulan di asuh oleh Bibi Yun. Tanpa belas kasih keluarga Chanyeol, dia mungkin tidak akan pernah merasakan pendidikan di sekolah elit itu. atau lebih buruknya dia akan tinggal dijalanan.

...

Baekhyun bukanlah si bodoh yang tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Usia hampir menginjak angka 18 dan sebentar lagi ia akan memasuki jenjang universitas. Tentu ia paham kenapa jantungnya mudah sekali untuk berdetak kencang saat Chanyeol berjalan mendekat kearahnya. Ya karena dia mulai menyukainya. Tapi dia tahu diri, Baekhyun tidak boleh mengembangkan perasaan ini, mengingat mereka hanya teman sedari kecil, lalu perbedaan status mereka menjadi batasan jelas untuknya. Lantas fokus belajar untuk ujian masuk universitasnya menjadi alasan Baekhyun untuk menghindari Chanyeol saat ini. Dan Keberadaan Nyonya Park dirumah saat ini, sangat menguntungkan baginya, Chanyeol tak bisa memanggilnya sesuka hatinya.

Di tengah belajarnya, pintu kamarnya yang terletak di bangunan kecil terpisah dari villa utama terketuk dari luar. Mungkin itu Bibi Yun yang dia panggil sebagai ibu.

Dibukanya pintu itu dan ternyata dugaannya salah.

"Bibi Park."

"Apakah Bibi Bisa bicara denganmu sebentar?"

"En." lalu Baekhyun merapikan sprei dan segera yang lebih tua duduk. Ada perasaan gugup saat Baekhyun menatap wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu.

Nyonya Park mengambil tangan kecil Baekhyun dan menggenggamnya dalam pangkuannya. Nyonya Park memang tidak menyukai Chanyeol terlalu dekat dengannya bukan berarti dia membenci Baekhyun.

"Kau sekarang tumbuh menjadi gadis cantik." di usapnya kepalanya, dan rambutnya yang terurai diselipkan di belakang telinga.

"Chanyeol sekarang mudah sekali marah hanya karena aku tidak mengizinkan dia bermain denganmu. dan kamu gadis yang patuh. Baekhyun apakah kamu menyukai Chanyeol?"

itu pertanyaan mengejutkan dan kedua wanita itu saling menatap dalam waktu cukup lama. Nyonya Park adalah orang yang jeli sangat mudah menebak apa yang terjadi dengan anaknya.

"Tenanglah, Bibi tidak akan marah. itu wajar tapi bisakah kau berjanji satu hal padaku?"

"Huh?" Baekhyun semakin gugup tangannya semakin berkeringat dibawah telapak hangat Nyonya Park.

"Chanyeol adalah satu-satunya putra yang aku miliki. Sebentar lagi dia akan menanggung begitu banyak beban menggantikan ayahnya. Kau tahu, Pamanmu Park akhir-akhir dalam kondisi kurang sehat, tekanan darahnya tinggi sedangkan beban kerja tidak pernah sedikitpun berkurang. GK Grup sebentar lagi akan menjadi tanggung jawab Chanyeol. Dan bukankah kamu punya impian untuk menjadi Desainer?

"En."

"Bagus, sekarang kamu hanya fokus belajar dan pilihlah universitas yang bagus tapi tidak disini."

Baekhyun tahu dari awal kemana arah pembicaraan ini dan Sudah semestinya dia bisa menyanggupinya. Ditatapnya Bibi Park tanpa ragu. Lalu pembicaraan itu masih berlanjut sampai Nyonya Park mengusap bahunya lembut dan meninggalkan kamarnya.

Baekhyun tidak lagi menaruh minat pada buku bukunya yang masih berserakan di atas meja. Dia memilih berbaring, merenungi semuanya sampai kenangan-kenangan manis yang dilaluinya bersama Chanyeol terputar seperti film. Lalu tanpa terasa matanya begitu berkabut dan isakan kecilnya menjadi pengantar tidurnya.

...

Chanyeol tidak terlalu peduli dengan ujian universitas yang akan dia hadapi. Dia terlahir dengan IQ tinggi, Selama ini dia bisa mengikuti akselerasi untuk sekolahnya tapi dia menolak. Dia hanya ingin bersama-sama melaluinya dengan Baekhyun. Dia hanya cukup membaca buku sekilas dan otaknya dengan cepat menyimpannya.

Chanyeol tidak mempunyai impian yang jelas. Yang dia tahu dia terlahir dari keluarga kaya konglomerat, dan dia dipastikan menjadi pewaris bisnis keluarganya. Dia hanya cukup membaca buku-buku yang berkaitan dengan bisnis, Tapi ada satu hal yang tidak ada orang tau, bahwa ketertarikan Chanyeol sebenarnya pada dunia medis. Terkadang sebagian besar waktunya di sekolah ia akan habiskan di perpustakaan untuk membaca buku-buku itu.

Akhir-akhir ini Ibunya yang memegang kendali harinya. Nyonya Park meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemput Chanyeol di sekolah. Lalu ia akan di bawa ke kantor utama GK Grup untuk belajar. Dia belum bertemu Baekhyun sama sekali. Di Sekolah gadis mungil itu tidak bisa ditemui. Chanyeol merasa ini aneh, dia bisa menebak dengan mudah bahwa ini pasti berkaitan dengan ibunya.

Hari itu dia sengaja tidak mengikuti kelas. Dia meminta alasan sakit dan pergi ke ruang kesehatan. Dia bisa menebak dengan benar pada jam pertama kelas Baekhyun akan pergi ke kamar mandi setelah menghabiskan segelas susu di pagi hari.

Baekhyun hampir berteriak kala seorang pria tinggi masuk, Namun urung melihat sorot mata tajam yang tak asing lagi baginya, mata itu bak lubang hitam yang mampu menyedot seluruh jiwa Baekhyun hingga ia tersadar, tubuhnya sudah terjepit dengan dinding.

"Chan-"

'Sssstttt!' yang lebih tinggi melarangnya berbicara. Lantas keduanya tenggelam dalam atensi masing-masing.

"Kenapa kau menghindariku?"

"Tida--hmmpp"

Bibir tipis itu akhirnya direnggut. Mata sipit itu terbelalak. Saat kesadarannya pulih ia mendorong dada keras itu berkali2 namun sia-sia. Bibirnya jelas sedang dianiaya, pikirannya menjadi kacau, Siapa orang di depannya ini?

Setelah bibir tipisnya menjadi bengkak, itu baru dilepaskan. Ada rasa puas bagi Chanyeol, sudah lama dia ingin mengecap rasa manis dari bibir Cherry itu dan rasanya melebihi dari apa yang dia bayangkan. Sangat manis.

Dan dia dengan berani ingin merasakannya lagi. Namun urung kala tamparan keras mendarat di pipinya.

"Sejak kapan kau menjadi tak tahu malu?"

Baekhyun menjaga matanya agar tak berkedip atau air matanya akan lolos begitu saja. "Apa kau pikir aku akan menyukainya sepeti wanita-wanita yang selalu menempel padamu?"

"Kau tahu! ciumanmu sangat buruk dan membuatku mual." ujarnya seraya menggosok bibirnya dengan punggung tangannya agar terlihat jelas. Lantas ia segera berlari meninggalkan sosok tinggi yang masih linglung oleh kata-katanya.

...

Sejak hari itu keduanya seperti orang asing. Ketika mereka berpapasan di sekolah tak ada satu pun yang saling menyapa, melirik bahkan melihat. Di rumah Baekhyun lebih memilih menghabiskan waktu di kamar sempitnya. Terkadang dia hanya melamun dengan meraba-raba bibir tipisnya. Sedang Chanyeol jarang terlihat, dia akan pulang larut malam dan pagi hari dia sudah pergi dengan Paman Wang.

Ujian masuk universitas benar-benar menguras tenaganya, dan itu efektif untuk mengalihkan pikiran Baekhyun tentang Chanyeol, Dia akan pulang sangat larut setelah mengikuti les malam di sekolah, dan akan tertidur cepat di kasur sempitnya. Sampai waktu berjalan dalam sekejap semua Baekhyun lalui tanpa hambatan. Dia mengambil nafas lega, usahanya tak sia-sia. Lalu dia menyadari satu hal, Tak ada lagi Chanyeol di sisinya untuk berbagi rasa kepuasannya. Dia juga sudah lama tak melihatnya hanya sesekali mendengar dari ibunya jika Chanyeol tengah mempersiapkan studinya di luar negeri.

Malam itu semua temannya mengadakan pesta perpisahan dengan menyewa sebuah kafe yang tak jauh dari sekolah mereka. 'Apa Chanyeol akan datang?' lontaran pertanyaan dihatinya berulang kali. Baekhyun menghela nafas panjang. 'Kenapa aku harus mengharapkannya? Aku sudah membuatnya membenciku.' Dia berniat untuk tidak datang tapi mengingat wajah menyebalkan Kyung-soo yang akan marah jika tidak ikut, terpaksa membuat Baekhyun memilih acak bajunya dan bersiap untuk datang saja. Dia tanpa sengaja memilih sweater longgar putih dengan celana jeans dan mengikat rambutnya menjadi ekor kuda, itu sedikit memperlihatkan tulang selangkanya yang indah. Dan wajah mungilnya terlihat sangat manis.

Baekhyun tiba sedikit terlambat, kafe sudah penuh semua larut dalam canda tawa. Dia segera menemukan Kyungsoo dan menghampirinya.

"Kenapa lama sekali? Lihat aku bahkan sudah menghabiskan dua botol Soju!" Kyungsoo sudah terlihat sangat mabuk, tapi ia masih memiliki setengah kesadarannya, dia berdiri dan memeluk Baekhyun "Park Chanyeol selalu melihat pintu. Aku yakin dia menantimu."

Baekhyun memutar mata dan benar saja sepasang mata bulat sedalam samudra mengawasinya. Dia membawa Kyungsoo duduk, mencoba tidak memperdulikan nya. Baekhyun mencoba berbicara dengan Kyungsoo namun gadis cerewet itu sudah bernyanyi tak jelas. Entah kenapa dibelakang punggungnya menjadi semakin dingin, di liriknya Chanyeol dan nyatanya mata bulat itu masih menatapnya, kenapa? sudah jelas disampingnya banyak wanita yang mencoba menggodanya. Baekhyun menjadi salah tingkah, ia meneguk segelas jus untuk meredakan kegugupannya. Tanpa dia sadari seringai kecil dari sosok yang terus mengawasinya semakin melebar.

Lantas Baekhyun menyadari ada yang salah dalam tubuhnya. Itu panas dan sangat tidak nyaman. Ada apa ini? Baekhyun mengambil langkah kecil ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sudah berulang-kali sampai sebagian sweater di bagian dadanya ikut basah, panas di tubuhnya belum juga hilang. Dia menjadi takut. Lebih baik dia harus cepat pulang. Tepat ketika dia membuka Pintu ada Chanyeol yang menghalangi jalannya.

Dia tidak bisa menunggu lebih lama dan Chanyeol juga enggan membuka jalan.

"Chanyeol, Tolong bawa aku pulang ke rumah!" Akhirnya dia menyerah.

"Kenapa?"

Suaranya berat itu sangat lirih tapi begitu menyenangkan di telinga Baekhyun.

"Aku ...Aku merasa sangat lelah..tolong bawa aku pulang." pintanya lemah. Tepat setelah dia bicara seluruh tubuhnya diangkat. Inginnya dia berteriak tapi rasanya justru aneh, Baekhyun merasa ketidaknyamanan dalam tubuhnya sedikit berkurang, Dan itu membuatnya semakin meringkuk ke dada Chanyeol.

"Chan kemana ini?"

"Chanyeol..."

Jelas itu bukan jalan keluar. Tapi menapaki tangga dan masuk dalam ruangan. Kamar?

"Chanyeol, jangan .." Tubuhnya terlempar ke tempat tidur. otaknya yang lambat mulai mencerna dan Baekhyun berusaha bangun namun naas tubuhnya lemas tak mempunyai tenaga untuk bergerak banyak.

"Chanyeol... Aku mohon jangan seperti ini."

Lelaki tinggi itu seolah tuli, Ia menyalakan semua saklar, hingga ruangan itu terang benderang. Hanya ada ranjang besar dan tembok yang dilapisi kaca cermin yang mengelilinginya.

"Baekhyun, kau bilang aku tak tahu malu bukan?" Chanyeol mengambil tubuh Baekhyun dan menempatkan di pangkuannya. "Kau lihat!" Kedua sisi pipinya ditekan tangan besar itu dan dihadapkan untuk melihat cermin. "Sebentar lagi kau akan tahu betapa tak tahu malunya aku."

Dan selanjutnya adalah tindakan tak senonoh antara dirinya dan Chanyeol. Itu seperti Baekhyun menonton video adegan dewasa tapi pemerannya adalah dirinya sendiri. Tangisan, erangan, semua melebur menjadi satu. Sangat memalukan. Permohonanannya hanya sia-sia sampai dia tidak sadarkan diri, Saat itulah tubuhnya dibaringkan pelan, Lalu sepasang lengan memeluknya erat.

'Maaf Maaf Maaf' tiga kata sama terulang, namun hanya Chanyeol sendiri yang mendengarnya. Ironis, Itulah cara paling primitif untuk mengikat Baekhyun menjadi miliknya.

Apa kau mengira dari awal Chanyeol pria yang baik?

Tidak. Chanyeol bukan orang yang baik. tapi dia juga bukan orang jahat. Dia hanya terbiasa sejak dini. Apa yang dia inginkan harus dia miliki, entah apapun itu caranya.

Namun siapa yang bisa menduga, jika rencananya tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Saat dia kira akan terbangun dengan Baekhyun dalam pelukannya, sayangnya itu nihil. Hanya menyisakan dirinya sendiri dalam ruangan bercermin itu. Bahkan ia sudah memakai bajunya. Tidak ada jejak Baekhyun sama sekali.

Di ruangan itu.

Di Villanya.

Di rumah Kyungsoo.

Di rumah Bibi Yun.

Semua tempat penginapan

Lima hari Chanyeol menjelajahi semua tempat tanpa tertidur. Dengan berbagai cara namun hasilnya sia-sia. Lalu dia merasa sangat konyol dan Chanyeol tertawa seperti orang gila.

Baekhyun

Baekhyun

Baekhyun

'Aku terlalu meremehkan gadis polos sepertimu. Kita lihat Sampai kapan kau bisa bersembunyi dariku.'

'Tujuh tahun. Aku akan memberimu waktu tujuh tahun untuk kebebasanmu.'

Chanyeol mematikan komputernya dan Proyektor yang menampilkan nama-nama penumpang pesawat selama lima hari terakhir padam seketika. Lantas dia merebahkan tubuh panjangnya di ranjang yang terasa dingin , barulah ia bisa tertidur.

.

Tujuh tahun kemudian..

Beijing China.

Di dalam kamar bernuansa kekanakan itu ada ibu dan anak yang tidur begitu lelap. Yang lebih kecil meringkuk kedalam pelukan ibunya mencoba mencari kehangatan. Meski cahaya matahari mulai mengintip dari celah gorden, namun yang lebih besar enggan untuk membuka matanya. Sampai tepukan pelan dipundaknya membangunkannya. Baekhyun bangun dengan sangat pelan-pelan agar tidak mengganggu si kecil. Dia menatap penuh sayang putranya, dan bergegas keluar kamar.

"Bukankah Pak Han sudah memberitahumu untuk melatih Xiao Tang tidur sendiri."

"Bu, aku sedang mencoba berdiskusi dengan Tang Tang."

"Tang Tang anak yang pintar Baek. Itu hanya kamu yang terlalu menempel padanya!" ada teriakan lain dari kamar seberang.

"Luhan pelankan suaramu."

Prang!!! terdengar pecahan dari dalam kamar. Lalu semua bergegas masuk kamar.

Ada bocah yang berjongkok gemetar ketakutan di lantai.

"Jam tujuh. Jam Tujuh. Sarapan. Susu. Ibu, Gelas pecah. Ibu, Jam Tujuh."

Baekhyun langsung mendekap putranya dan mengusap lembut punggungnya. "Sayang, tenang. Ibu disini. Ibu disini. percayalah tidak apa-apa."

Sementara Luhan dan ibunya membersihkan pecahan gelas, Baekhyun menenangkan putranya. "Bisakah Tang Tang ceritakan pada Ibu."

"Aku melihat ibu keluar. Aku melihat jam dan itu tujuh belas menit dua puluh satu detik berlalu dari waktunya makan. Aku terlambat. Aku tidak makan. Ibu kecewa."

Ketiga wanita itu saling memandang, ada perasaan haru, senang, sedih yang berkecamuk. Mereka memeluk Xiao Tang dengan erat.

"Tang Tang, lihat Mom."

Sepasang manik bulat itu berkedip beberapa kali dan dengan serius melihat Luhan. "Mom, Ibumu, dan nenek, semua belum makan. Kami juga baru bangun tidur. Jangan takut sayang. Kamu bisa sarapan jam berapapun setelah kamu bangun. Ibumu akan selalu menunggumu untuk makan. Tapi sebelumnya kamu harus cuci muka dan menggosok gigi!"

"Baik. Aku akan menggosok gigiku dulu."

Lalu Bocah itu dengan serius masuk kamar mandi membasuh wajahnya dan menyikat giginya sampai bersih.

Dia kembali lagi ke kamar dan melihat bingung pada ketiga wanita yang saling berpelukan. Lantas dengan polosnya dia merentangkan tangan kecilnya ingin memeluk semuanya dalam satu cakupan.

Sungguh bocah itu adalah malaikat kecil yang membawa kebahagian dalam rumah besar itu.

...

TBC

...

Tang Tang disini hanya nama Chinanya loh ya. Disini dia memiliki mata yang bulat dan lesung pipi yang Persis kayak bapaknya. Eh.. haha ..

Review kalian akan sangat membantu kelanjutan cerita ini... Sampai jumpa di chapter selanjutnya.. Terima kasih.

Ran Ran