"My Chef Husband"
A story by Fureene Anderson
.
Boboiboy is own of Monsta Studios
.
Warning: Marriage Life! Au Chef! Kaizo x Career woman!Yaya/ OOC, maybe/ Typo and little sweetness.
.
.
Happy reading
.
Punya suami seperti Kaizo adalah sebuah keberuntungan. Begitu kata orang-orang, terutama perempuan yang menggemari pria itu, meski yang mereka ketahui hanya pribadi Kaizo yang galak, tegas, ganteng dan jago masak.
'Di depan tv sangar, siapa tahu sama istrinya, hati chef Kaizo jadi Hello Kitty'
Yaya Yah pernah membaca salah satu komentar seperti itu di unggahan foto Kaizo bersama dua chef yang lain. Bukan Cuma modal tampang, suaminya memang benar-benar lulusan terbaik Culinary Art Le Cordon Bleu. Sudah pasti masakannya bukan lagi sekadar tempe goreng atau ikan asin dengan sambel terasi. Hidangan dari hasil tangan Kaizo adalah seni. Bahkan kata Kaizo memasak air juga pakai seni. Meski yang dimaksud Kaizo pancinya yang harus berkualitas tinggi supaya kuman-kuman di air cepat mati.
"Kenapa kamu mau nikah sama aku? Aku kan nggak bisa masak?"
"Nggak bakal ada yang kunikahin kalau aku cari istri cuma buat masak. Kamu kan tau level masakanku sampai mana. Sampai ke ujung dunia pun, kamu nggak bakal bisa nemu perempuan yang bisa ngalahin citarasa buatanku."
Kaizo dengan segala keangkuhannya. Dan Yaya heran mengapa ia benar-benar bisa berakhir menjadi istri dari pria itu. Apalagi setelah menikah dengannya, bukan sekali dua kali Yaya mendapat pesan kebencian dari penggemar Kaizo. Bahkan meski tak ingin meladeni, kalimat-kalimat jahat itu sering terlihat setiap kali ia membuka akun instagram milik Kaizo.
"Chef kan ganteng, jago masak, punya banyak restoran, kalau pergi pakai supir, bersih-bersih punya pembantu, kalau punya anak pasti pakai babysitter. Terus istri chef ngapain?"
Sayangnya, Kaizo tipikal manusia cuek. Jangankan untuk membalas komentar-komentar netizen yang kurang kerjaan, Kaizo justru memperkejakan seorang administrator untuk mengurus media sosialnya. Bukan. Meski memang kemungkinan bakal banyak warganet yang akan sakit hati jika Kaizo membalas komentar mereka, namun alasan sebenarnya bukan itu.
"Aku nggak bisa bikin caption, apalagi pakai emoticon."
Saat itu Yaya menepuk keningnya keras-keras. Yaya pikir Kaizo terlalu sibuk sampai tidak sempat membuka media sosial pribadinya. Tapi ya sudahlah. Bagus juga jika suaminya itu memang tidak terlalu bermain media sosial. Bisa-bisa netizen berjempol jahat itu akan didatanginya satu per satu untuk dimaki-maki masakan mereka.
.
.
.
Tahu dipotong dadu, Yaya menjerang air kemudian lanjut dengan mengiris-iris daun bawang. Selama menikah, Kaizo sama sekali tidak mempercayakan Yaya untuk masak di dapur mereka. Meski Kaizo suka dengan nasi goreng buatannya, namun jika sudah berada di rumah, Kaizo sama sekali tidak mengizinkan Yaya masak di dapur kecuali membuat kopi atau teh.
Jika ketahuan, Kaizo sudah pasti akan menceramahinya habis-habisan dan mereka akan berakhir ke dalam pertengkaran suami istri ala-ala drama korea.
Yaya melirik ponsel yang baru menunjukkan waktu pukul 6 pagi.
Hari ini suaminya libur setelah dinas keluar negeri dan baru pulang jam 3 pagi tadi. Karena jetlag, bisa dipastikan pria itu akan bangun lebih siang dan Yaya sama sekali tak ingin membuang kesempatan. Mumpung saat ini kantornya sedang menerapkan sistem work from home, Yaya juga ingin sesekali membuatkan sarapan untuk suaminya yang koki itu.
Yaya sengaja menginap di rumah ibunya untuk belajar beberapa menu masakan selama Kaizo di luar negeri. Dan ia berharap bisa menyelesaikan dan membereskan bekas-bekasnya tepat waktu.
Kompor menyala, Yaya menghirup bumbu-bumbu yang telah direbus dengan gaya chef-chef masak di televisi. Tahu segera dimasukkan ke dalam panci.
"Kamu ngapain?"
Ponsel Yaya nyaris jatuh. Kaizo yang memakai kimono tidur berdiri di ambang pintu dapur, menatapnya datar dengan tangan terlipat. Yaya menghela napas untuk menetralkan jantungnya yang sempat melompat karena kehadiran suaminya.
"Kamu udah bangun?" Yaya mengaduk sup di panci, mencicipnya sejenak. Berpura-pura untuk tetap tenang adalah trik yang paling pas untuk membuat dirinya dan Kaizo tidak berakhir dalam keributan. "Aku lagi bikin sup tahu buat kita sarapan. Karena kamu masih capek, jadi hari ini biar aku aja yang masakin buat kamu."
"Kamu lupa atau sengaja lupa sama perjanjian kita?" Tanya Kaizo seraya menaikkan alisnya.
Yaya menahan diri untuk tidak memutar mata terang-terangan. "Kamu nggak dengar aku bilang apa? Kamu itu lagi capek, Kaizo. Butuh istirahat. Kemarin waktu dinas pasti kamu masak terus. Jadi apa salahnya sih kalau sesekali aku masak buat kita? Toh, masakan aku juga nggak buruk-buruk banget, kan?"
Yaya bisa mendengar suara langkah kaki Kaizo mendekat. Ia berusaha tidak menggerutu dalam hati. Sebentar lagi Kaizo pasti akan memperlakukannya seperti kontestan acara memasak di televisi.
Berdiri di samping sang istri, mata Kaizo menyipit mengawasi potongan-potongan tahu yang berputar dalam genangan air di panci.
"Potongan tahu kamu terlalu besar buat ukuran sup."
Tuh kan. Yaya bilang juga apa?
Kaizo merebut sendok dari Yaya dan mencecap kuah sup dengan ujung lidahnya.
"Seasoning kamu kurang. Ini terlalu asin, kamu harus tambahin gula sedikit biar rasanya lebih pas. Dan kamu mau bikin sup tahu atau bakso? Tekstur kuahnya keenceran."
Rusak. Mood Yaya untuk menyajikan makanan enak pada Kaizo rusak sudah. Wanita itu berdecak kesal. Tak lupa menekuk wajahnya dan akhirnya memilih beranjak untuk duduk di mini bar mereka.
"Ya. Bagus. Duduk aja di sana selagi kamu perhatiin aku masak."
Kaizo mulai mengambil, menabur gula lalu mengaduk sup tahu.
"Mending aku baca berita daripada perhatiin kamu," sahut Yaya masam.
Pada akhirnya dapur diambil alih oleh yang lebih berkuasa. Dan memang selalu begini jadinya. Setiap kali Kaizo mengetahui dirinya memasak, maka Kaizo akan mengambil alih. Dan Yaya hanya dibiarkan duduk seraya memperhatikan bagaimana suaminya itu mengolah masakan.
Oh tapi apa salahnya sih jika memberi Yaya kesempatan sekali saja? Toh makan masakan buatannya tidak akan langsung mati, kan?
"Ini, ayo kita makan."
Mangkuk saji berisi sup diletakkan di hadapannya. Terlihat menggiurkan. Tentu saja. Siapa yang meragukan masakan seorang chef bintang lima? Hanya saja Yaya masih ingin memperjuangkan harga dirinya. Setelah apa yang dilakukan Kaizo padanya, Kaizo pikir Yaya akan semudah itu dibujuk?
"Kamu makan aja sendiri, aku masih mau baca berita," Yaya menggulir ponsel, tak berminat untuk melirik masakan Kaizo walau sebenarnya aroma sup tahu itu begitu menggoda.
Terdengar hela napas, Kaizo bangkit untuk mengambil peralatan makan mereka, menata nasi secantik mungkin sebelum menghidangkannya kepada sang istri.
"Suaminya baru pulang, masa udah kena ambek," komentar Kaizo seraya menyuap sup.
"Kamunya yang cari gara-gara," tukas Yaya. "Aku cuma pengen menjalankan kewajibanku sebagai istri kamu sekali aja, tapi malah ..."
"Aku kan udah bilang kewajiban kamu bukan masak," sahut Kaizo tanpa emosi. Ia masih menyuap makanan ke mulutnya sendiri meski tatapanya tidak lepas dari Yaya. "Kalau kamu harus masa, buat apa aku bertahun-tahun ambil Culinary Art sampai dapat gelar lulusan terbaik?"
Yaya menghela napas, meletakkan ponsel untuk membalas pandangan suami. "Tapi ... aku juga pengen sesekali bikinin kamu masakan, aku-"
"Aku suka nasi goreng buatan kamu, nggak cukup?"
Berdecak. "Just let me finish my dialogue, please."
Sendok berhenti di udara, Kaizo mengangguk. "Sure, finish then."
"Sesekali aku pengen masak buat kamu," lanjut Yaya. "Walau kamu bisa masak, tapi aku juga mau mengasah kemampuan aku buat gantiin kamu suatu saat nanti. Kan nggak mungkin kamu bakal sehat terus, kan? Makannya aku-"
"Kamu doain aku sakit?"
Mata karamel Yaya langsung mendelik.
"Oke. Lanjut."
"Bukannya doain. Tapi suatu hari pasti stamina kamu habis dan sakit. Kamu nggak mungkin masak waktu badan kamu nggak sehat. Kalau kamu sampai maksain masak, yang ada kamu bakal menebar virus di makanan-makanan yang kita makan," terang Yaya. "Dan lagi ... kalau anak kita lahir, aku mau anak kita bisa banggain masakan aku seperti kebanyakan anak-anak. 'Ayo ke rumah,bunda aku masak banyak' atau 'aku kangen deh sama masakan bunda'. Kan nggak lucu kalau masakan Papa-nya yang justru dibanggain, yang ada malah anak kita bakal dapat pertanyaan, 'kok bunda kamu nggak pernah masak sih? Nggak bisa ya? Aku kan juga mau jadi bunda hebat buat anak kita, Kaizo."
Kaizo menghentikan suapannya dan tidak langsung menjawab. Dipandanginya Yaya yang berwajah lesu seakan apa yang diucapkan istrinya memanglah sebuah pengakuan dari hati terdalam.
"Kamu nggak perlu jago masak buat jadi bunda hebat untuk anak-anak kita," kata Kaizo lembut. "Dengan ketegasan kamu, sense of parenting, wawasan kamu yang luas, kasih sayang, cinta, dan kesabaran, kamu bisa jadi orang tua yang hebat tanpa embel-embel jago masak, bersih-bersih atau pekerjaan rumah tangga yang lain. Aku juga nikahin kamu bukan karena itu. Aku nikahin sama karena aku jatuh cinta sama kepribadian dan wawasan kamu yang luas."
"Iya, aku ngerti. Tapi aku juga pengen bisa, terutama dalam pekerjaan yang memang dilakukan sama ibu rumah tangga. Kalau masak dan nyiapin sarapan aja aku nggak bisa, artinya aku belum becus jadi istri dan ibu yang baik."
Tangan Yaya yang berada di atas meja digenggam. "Aku udah bilang kamu jangan terlalu banyak main sosmed, akhinya kamu kemakan sama stigma-stigma di sana deh."
"Nggak ada yang salah sama stigma itu. Justru aku ngomong kayak gini karena aku realistis," bantah Yaya seraya menatap mata Kaizo lurus. "Barangkali laki-laki pengertian kayak kamu cuma ada tiga banding sepuluh. Dan ya, aku termasuk dari sedikit perempuan beruntung karena punya kamu. Tapi belum tentu anak kita bakal mengalami nasib yang sama kayak aku. Makannya, aku mau bentuk anak kita jadi anak yang mandiri tanpa bergantung sama orang lain nanti. Aku mau mereka bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri."
Kaizo mengangguk. Entah karena setuju atau memang tak ingin memperdebat Yaya, karena laki-laki itu sudah tahu berdebat dengan istrinya pasti tak akan ada habisnya.
"Ya. Aku setuju soal membentuk kemandirian anak. Tapi masak nggak harus belajar dari kamu, kan? Mereka bisa belajar sama aku."
Lagi-lagi mata Yaya melotot.
"Oke. Kalau kamu masih keras kepala, gimana kalau kita ubah perjanjian?" tawar Kaizo.
"Ya maksud aku juga gitu."
Kaizo terkekeh pelan. "Jangan terlalu berharap dulu, Sayang. Aku nggak akan nurutin ekspektasi kamu dengan tetap biarin kamu pakai dapur di rumah kita."
"So?" Yaya mengernyit.
"Kalau kamu emang mau ngasah kemampuan kamu masak, kamu harus tunggu aku libur supaya kita bisa masak bareng."
"Hah? Tapi kan-"
"Kamu butuh pengawas." Kaizo menandas. "Aku nggak mau kamu ikutin acara masak-masak di Youtube. Kamu udah punya suami cook specialist, jadi nggak usah kamu belajar dari yang amatiran."
Mulai deh.
"Tapi kamu sibuk. Mana sempat ngajarin aku masak?" Yaya memutar matanya kembali.
"Menurut kamu, sarapan kita siapa yang buat kalau kamu masuk kantor?"
Yaya kehilangan kata-katanya. Namun ia tak bisa protes karena kenyataanya memang benar seperti itu.
"Iya, iya. Kamu yang buat," Yaya memutar matanya. "Terus, kamu bisa ngajarin aku masak kapan?"
"Gimana kalau setiap sabtu?"
"Kamu nggak ke restoran? Bukannya Sabtu justru ramai?"
"Kalau minggu?"
"Kamu nggak capek? Kamu udah setiap hari masak di restoran, masa iya minggu harus ngajarin aku lagi?" Yaya mengibaskan tangannya ke udara. "Jangan deh, kamu istirahat aja kalau minggu."
"Aku nggak pernah capek buat urusan masak. Apalagi kalau ngajarin kamu."
Yaya tak bisa menahan senyumnya. "Cih, gombal."
Kaizo balas tersenyum. "So how, My queen?"
Yaya melarikan matanya ke samping, bepura-pura berpikir. "Ok." Mengangguk. "Let's start practice on Sunday."
"Did we make a deal?"
Yaya tertawa saat jari kelingking Kaizo terulur padanya. Ia balas mengaitkan kelingkingnya dan tersenyum. "I think so. Thanks."
"Itu doang?" Kaizo menaikkan alisnya.
"Terus apa?"
Kaizo menunjuk bibirnya sendiri, dan Yaya hanya menggeleng seraya tersenyum geli.
"Nanti," Yaya menyendok sup. "Kita punya sarapan yang harus dihabisin."
Kaizo menghela napas kecewa. "Ok. You 're the queen."
Yaya mendengkus, menahan tawa dan mereka akhirnya tenggelam dalam suasana sarapan hangat namun tenang.
Memiliki suami seperti Kaizo memang sebuah keberuntungan untuk Yaya. Meski terlihat jahat dan kejam, atau mungkin menyebalkan. Namun sikap dewasa Kaizo dalam mengatasi wataknya yang keras kepala adalah saalah satu alasan mengapa ia bisa benar-benar jatuh ke dalam pelukan pria itu. Mereka sering bertukar pendapat, namun Kaizo tak pernah sekalipun mengaibaikan pendapatnya.
Kaizo benar-benar memperlakukannya seperti seorang ratu.
Dan tentu saja ada hal lain yang membuat Yaya tak bisa melepaskan Kaizo.
Yaya tidak akan munafik, namun dirinya memang sudah terlanjur jatuh cinta dengan masakan bintang lima buatan Kaizo.
.
.
.
FINISH
.
.
A/N : Nggak nyangka bisa jadi sampai 2k. Seharusnya ini drabble, tapi malah jadi fic. Pengen dipotong tapi sayang! Asdfghjl! Why selancar ini nulis couple ber-pride tinggi seperti mereka?
BTW Kaizo adalah Chef Juna kalau di RL. Aku selalu kebayang itu sih, eheee~
Maaf endingnya tidak jelas ya, Kakak Soulmateku sayang. Semoga suka.
Dan aku ucapin makasih banyak buat yang baca dan review ff ini.
Sekian.
Salam,
Fureene.
