Disclaimer: Naruto ©Masashi Kishimoto

Sebuah Catatan Usang Menjelang 10 ©D.B. Winn

Rating : T

Genre : Romance; Hurt/Comfort;

Warning : OOC; Jalan cerita gak nyambung; alur kecepetan; typo everywhere; d.l.l

.

.

RnR please?

.

.

Sebuah Catatan Usang Menjelang 10

Perihal sembilan yang menggenap menjadi sepuluh. Sejak angka satu, kau adalah abu-abu yang tidak kunjung menjelma menjadi pasti. Kau adalah tiada yang selalu kucoba peradakan. Kau adalah arogansi yang selalu kuterima dengan maklum. Bahkan pada angka dua dan tiga, tetap kau masih semu yang kupaksa nyata.

Perihal tiga yang menggenap menjadi empat. Kau selalu punya tempat untuk menumpuk banyak imaji. Kau punya banyak ruang untuk singgah menitip cemas. Kau berkeras menjadi celah agar hari-hari mengundang risi. Kau, pada inci per inci bagian di otakku, menetap sebagai kontradiksi hingga mencapai angka lima.

Lima tidak pernah menjanjikan hal-hal baik dan enam semakin membuat gusar rasio berpikir. Kau masih aktif sebagai ironi. Tetap bebal menjadi khayal yang tidak bosan kuaminkan nyata. Kau masih suka menjadi penyemat luka, sementara aku terus kasihan karena harus terbiasa menambal luka.

Bahkan ketika membilang angka tujuh ke delapan, aku masih saja betah menjadikanmu ragu yang selalu kuyakini. Aku berpasrah bahwa entah berkali-kali luka, rasaku akan tetap utuh mengulang suka berkali-kali. Sebab, kau terlanjur menjadi evokasi, menjadi sebab musabab aku mampu merasai hingga mampus.

Lalu, sembilan mengundang gelisah. Aku menjadi ragu mengapa harus menjadikanmu ragu-ragu sampai candu. Aku disesaki tanda tanya perihal mengapa harus bertahan menyimpan duka, perihal keikhlasan mempersembahkan hati untuk orang yang tidak menyediakan obat untuk menyembuhkan. Aku dihujam ambiguitas. Mendadak ada pergolakan batin yang tidak mau sudah. Mempertanyakan apakah sudi melangkah menapak lara atau diam di tempat berdamai dengan diri sendiri.

"Butuh tumpangan?"

Ah, itu dia. Lagi-lagi Sasuke Uchiha datang menawarkan bantuan. Ia tidak pernah bosan mengulang ajakan dan aku masih selalu bodoh menolak dengan dalih tidak suka merepotkan.

Putra bungsu keluarga Uchiha memang kharismatik, tidak diragukan visualnya dan bergelimang hal-hal baik dalam dirinya. Pesona itu juga yang membuat gadis culun sepertiku dikutuk memendam rasa terhadapnya.

"Sedang sibuk?"

Aku menggeleng, "Tidak juga."

Entah apa tujuannya bertanya demikian. Ah, mentalku kacau. Rona di pipiku terlanjur menampakkan diri.

"Bisa kupinjam sebentar?" Tanyanya.

"Heh?"

Tampang idiotku tidak mampu diajak kompromi. Aku terlanjur bodoh karena terlalu lama mencinta diam-diam dan sekarang otakku mendadak hilang di hadapan subjek yang kudamba-damba.

"Ikutlah sebentar denganku. Kali ini jangan menolak. Lekas naik."

Ya Tuhan, makhluk ini berencana membunuhku secara perlahan. Ditawari tumpangan pulang sudah membuat debar kacau-balau di hatiku, lalu dengan tidak berdosanya ia ingin menculikku sementara waktu. Kupu-kupu mendadak menyesaki perutku. Ada mual karena terlalu banyak melahap bahagia.

"B-baik."

Aku mengabulkan perintahnya. Sasuke menyetel ulang motornya. Kendaraan itu melaju sekenanya.

"Boleh kuminta pendapatmu?" Tanyanya kembali membuka percakapan.

Jangan. Kau keliru meminta pendapat pada orang yang terbata-bata aksaranya macam aku.

"T-tentang apa?" Aku balik bertanya. Ada getar dalam intonasiku. Sudah kubilang aku pilihan yang salah untuk diajak berdiskusi.

"Perihal mencintai orang yang salah."

Batinku ingin menjawab spontan. Kau orang yang salah, Sasuke. Aku salah besar karena berani mencintaimu. Aku salah sebab selalu membenarkan kau dalam benakku.

"Umm..." apa yang harus kujawab? Bolehkah kuutarakan isi kepalaku?

"Kenapa kau menganggapnya salah?" Aku justru melempar tanya.

Mengapa aku menganggapmu salah? Tanyaku pada batin sendiri.

"Pertunangan keluarga. Menikahi yang tidak pantas kunikahi. Dipaksa mencintai yang tidak harus kucintai."

Berat. Percakapan di motor ini menyakiti telingaku. Aku dipaksa kewalahan harus menepis angin lewat dan harus menepis segala sakit hati yang ikut mengalun.

"Kenapa kau beranggapan tidak harus mencintainya?"

"Karena dia bukan orangnya." Jawab Sasuke enteng. Bukankah memang perjodohan selalu perihal bukan dia yang semestinya dinikahi? Lantas, mengapa bisa menikahi secara terpaksa tapi tidak mampu mencintai meski terpaksa? Perjodohan sudah tidak adil, jangan membuatnya semakin tidak adil dengan arogan tidak mau mencoba.

"Mengapa kau bisa tahu bukan dia orangnya?"

Sasuke diam. Ada perasaan tidak enak karena gagal memberi petuah padanya. Ada sesal karena pikirku tidak mampu mewujud kata-kata. Pernikahan karena bisnis dan politik ternyata mengincar Sasuke juga. Hatiku ngilu. Ada bulir-bulir air menumpuk di pelupuk mataku. Di antara jutaan orang di dunia, di antara sekian banyak kenalannya, mengapa harus aku yang Sasuke mintai pendapat perihal kisah cintanya? Mengapa harus hatiku yang dikoyak habis menerima hujaman fakta?

"Karena orangnya bukan kamu."

Kalimat terakhir Sasuke sekelebat lewat. Aku terlalu frustasi untuk khidmat menyimak. Hanya karena yang ditangkap indra pendengaranku. Aku lebih baik tetap diam saja. Perutku masih mual. Bukan lagi karena diterbangi kupu-kupu tapi karena ada banyak lalat hinggap sebab mencium bangkai dari hatiku.

"Hinata!" Sasuke menegur.

"E-eh? Ah i-iya… apa tadi?" Aku tersadar dari lamunan dan harus cepat-cepat sadar pula dari liarnya fatamorgana atas Sasuke.

Pada akhirnya, ketika bertemu dengan angka sepuluh. Aku memilih mendengar kata hati, bahwa berhenti mungkin baik. Aku tidak perlu lagi menghitung berapa banyak angka atau menjumlah berapa banyak waktu. Perihal menyudahi menjadi pilihan bijak. Sabar tidak melulu harus menanti apa yang tidak pasti. Kau, biarlah menjadi kenangan sepuluh tahun memendam rasa. Merelakanmu dari ingatan menjadi sabar paling serius untuk kujalani. Kau bukan lagi ragu-ragu dan aku tidak perlu lagi yakin. Usai, aku berhenti menghitung.

.

.

.

FIN

.

.

.

A/N: Terima kasih telah bersedia membaca sebuah fic sederhana yang teramat tidak jelas ini wkwk, Semoga masih bisa dinikmati ya hihiw. Fic ini merupakan sekuel sederhana dari fanfic "Sembilan yang Abu-abu". Saya mohon maaf atas judul yang sangat tidak sesuai, semua typo-typo yang mungkin masih banyak, ketidaksesuaian genre dengan cerita dan banyak lainnya. Kritik dan saran sangat dibutuhkan. Jejak dari kalian sangat membahagiakan. Salam.