Kerja kelompok terdiri dari dua kata yaitu kerja dan kelompok. Artinya ada beberapa yang kerja dengan sebagian lain berkelompok. Seharusnya bukan begitu definisi kerja kelompok, namun seperti itu realitanya. Dan Inosuke termasuk golongan kelompok untuk kasus sekarang. Karena jika Hashibira Inosuke ikut golongan kerja dapat dipastikan sesuatu yang besar akan terjadi.

Kurang lebih empat jam berada di kantin kampus menunggu golongan kerja selesai mengerjakan laporan praktikum, Inosuke dan kawan-kawan yang duduk melingkar membentuk arisan dadakan asik mengobrol bermacam-macam topik. Awalnya, karena banyak anak perempuan disini dimulai dengan topik 'Percintaan' membuat pria bermarga Hashibira itu menggaruk kepala yang tak gatal tanda tak mengerti. Kemudian setelah bosan dilanjut dengan curahan hati seorang mahasiswa seperti "Gak suka gue sama si asdos Giyuu. Kolot parah ya. Masa udah pulang praktikum sore, laporan dikumpul besok?!" dan diteruskan dengan beberapa sumpah serapah seperti "Barangsiapa menyusahkan orang, kelak nanti hidupnya akan disusahkan." Kemudian ditutup dengan topik terakhir mengenai makhluk yang tak bisa kau lihat. Apalagi saat jam sudah menujukkan angka 22.00 membicarakan makhluk dunia lain memicu adrenalin bukan?

"Trus, trus sekarang ada yang liatin kita gak Tanjirou?"

Lelaki dengan anting hanafuda yang kata anak-anak memiliki kepekaan lebih, ditanyai oleh beberapa mahasiswa laki-laki membuat mahasiswa perempuan meringis dan menutup kuping sambil berkata "Udah ih! Jangan bahas." Reaksi Tanjirou hanya senyum tak menjawab. Tapi sikap misterius Tanjirou justru membuat para wanita semakin meneguk ludah.

"Kalian tahu gak, kalau tiap manusia punya kembaran tapi makhluk dunia lain." Suara Murata mengalihkan topik.

Tanjirou—golongan kerja—menghentikan aktivitas menulisnya sejenak. "Maksudnya?"

"Jadi gue pernah baca, katanya tiap manusia lahir tuh punya kembaran makhluk gaib gitu." Murata menjelaskan.

"Oh, kalau budaya barat bilangnya doppelganger ya?" Zenitsu yang sedari tadi tak ingin mendengar dan bersembunyi dibalik Tanjirou akhirnya angkat bicara.

Zenitsu pernah tak sengaja menonton penjelasan doppelganger di acara tv. Yang Zenitsu ingat, doppelganger itu suatu peristiwa dimana kita bertemu dengan seseorang yang persis dengan kita, bisa dibilang kembaran. Info dari acara tv tersebut, jika tak sengaja bertemu hal tersebut adalah suatu pertanda buruk.

"Kalau kita mau bertemu kembaran kita caranya dengan bangun jam 3 pagi. Kemudian didepan cermin menyisir secara cepat." Murata mempraktekan kemudian menjeda disaat semua atensi teralih padanya. "Terus, berhenti secara tiba-tiba."

"Kenapa?"

"Karena…."


Kamu Berani Coba?

Kimetsu no Yaiba © Gotouge Koyoharu

Fanfiksi ini dibuat untuk meramaikan event bulanan FFA dengan tema horror.

Saya tidak mengambil keuntungan dalam pembuatan fanfiksi ini.

Warn : AU! OOC, typos, gagal horror, bahasa gak baku dan kekurangan lainnya. So, don't like don't read.


"Inosuke." Zenitsu, teman satu kontrakan, satu kamar dan juga satu ranj—enggak deh, mereka kan sudah pisah ranjang untuk menghindari hal yang tidak-tidak—mengguncangkan tangan pria cantik yang masih menutup matanya, berada dialam mimpi. "Temenin gue kencing napa." Sekarang mengerti kan, arti hal yang tidak-tidak.

Setelah pulang dari kerja kelompok yang baru beres jam setengah sebelas, Zenitsu yang memang dari awal seorang penakut menjadi tambah lebih takut setelah diceritakan beberapa hal mistis dalam kerja kelompok.

"Ngantuk gue."

"Temenin atau gue ngompol disini." Ancaman Zenitsu terbukti ampuh, sehingga pria cantik itu membuka matanya dan berjalan melangkah ke pintu kamar. Percaya gak percaya, walau sudah bangkotan ancaman soal 'ngompol' bukan hal main-main, dan Inosuke percaya itu. Jadi untuk keselamatan dan kenyamanan kamar bersama dengan mata kemerahan dan cairan yang menempel dibibir, Inosuke membuka pintu kamar. "Gue liatin dari sini. Cepetan kencingnya!"

Setelah Zenitsu ngacir ke kamar mandi yang tepat berada disebelah kamar mereka, Inosuke ngedumel "Udah tau penakut. Segala ikutan cerita horror lagi."

Berbeda dengan Zenitsu yang memiliki ketakutan melebihi batas normal, Inosuke kebalikannya. Bahkan setelah mendengar cerita soal doppel—apalah itu yang katanya makhluk gaib kembaran manusia, dengan lantang Inosuke bilang "Aelah. Halu itu mah! Jam 3 pagi dan lu baru bangun, yang lu liat tuh halusinasi." memecah imajinasi doppelganger dari tiap mahasiswa yang mendengar.

"Kamu berani coba?"

Inosuke yang sedari tadi menunggu Zenitsu didepan pintu dengan mata yang tertutup—tanda masih ingin berada di alam mimpi—secara cepat membuka matanya. Netra biru yang terlalu berat untuk dinampakkan melihat teman sekamarnya dengan santai masuk ke dalam kamar.

Cepat amat kencingnya. Tapi Inosuke gak mau ambil pusing soal kecepatan kencing Zenitsu. Lagipula bukannya bagus ya kalau kencingnya cepat, Inosuke jadi bisa kembali pada ranjang tercinta dengan lebih cepat.

Pria yang beberapa menit lalu ketakutan minta ditemani kencing, sekarang dengan santai mengobrak-abrik tumpukan baju dalam lemari. "Berani coba ketemu sama kembaran kamu?" ujar Zenitsu seraya memberi cermin dan sisir yang telah ditemukannya, membuat Inosuke yang masih mengumpulkan nyawa mengerutkan alis. Gimana gak bingung, balik dari kamar mandi malah kasih tantangan.

"Sisir secara cepat, lalu berhenti tiba-tiba." Setelah menyerahkan cermin dan sisir ke tangan Inosuke sekarang Zenitsu duduk manis di ranjangnya memperhatikan. Inosuke masih berdiam dan mengamati cermin serta sisir ditangannya, setelah nyawanya terkumpul penuh ia berniat untuk meletakkan kedua benda tersebut kembali ketempatnya, tapi tak jadi karena Zenitsu mengompori.

"Katanya cuma halusinasi. Kalau gitu coba buktiin."

Tumben Monitsu banyak bacod.

"Nih gue buktiin. Emang gue penakut kayak lu." Inosuke memang sumbu pendek dan cepat tersulut, oleh karena itu tanpa berpikir panjang pria tersebut menyisir surai hitam gradasi biru dengan sisir hitam pemberian Zenitsu, tak lupa ia lakukan dengan cepat sambil menatap cermin didepannya. Seingatnya begitu tata cara yang diajarkan oleh Murata.

Sejauh ini, tak ada hal aneh-aneh didepan cerminnya, membuat dirinya melengkungkan senyum kalau apa yang ia bilang soal halusinasi adalah benar. "Berhenti tiba-tiba." Zenitsu memberi instruksi dan Inosuke mengikuti. Tepat setelah kecepatan dalam menyisirnya sudah mencapai batas maksimum, Inosuke menghentikan kegiatan menyisir secara tiba-tiba dan menatap cermin. "Gak ada yang a—"

Aneh.

Inosuke yakin sekarang dirinya sedang halusinasi, apalagi saat melihat jam menunjukkan angka tiga. Dugaan sementara, dirinya sedang halusinasi karena baru bangun tidur di dini hari. Tapi saat netra birunya ia kedipkan beberapa kali sambil menampar pipinya mebcoba membangun kesadaran, hal yang ia lihat tetaplah sama. Di cermin terpantul dirinya yang masih menyisir dengan cepat. Dirinya, persis.

"Mo-monitsu, coba liat deh." Dan Inosuke sadar, ada yang tak beres.

"Mo-monitsu." Ia coba kembali memanggil orang yang bertanggung jawab atas ini semua. Namun nihil, karena teman sekamarnya tak ada ditempat ia berada. Padahal Inosuke yakin, beberapa saat lalu Monitsu sedang duduk manis di ranjangnya, menyuruhnya melakukan ini-itu.

Cermin ia buang ke sembarang arah saat tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Ia sangat sadar, tapi ia meyakinkan diri bahwa ia sedang berhalusinasi.

Siapa yang ia lihat di cermin?

"Babi! Lu bilang nungguin gue dari pin—" Zenitsu berniat menyumpah serapahi Inosuke saat kembali dari kamar mandi, tapi melihat teman sekamarnya bengong dan gemetar membuat dirinya mengedutkan alis. "Lu napa sih? Kayak abis liat setan."

"Lu sih, pake nyuruh gue nyisir cepet sambil liat cermin—"

"Napa jadi lu yang marah? Gue kan baru balik dari kamar mandi, babi!" Inosuke yang tadinya memegang kerah baju Zenitsu menyiapkan sumpah serapah soal kejadian yang menimpanya mengurungkan niat. Otaknya dipaksa berpikir. Kalau Zenitsu baru balik kamar mandi, lalu tadi yang menantang dan memberinya instruksi untuk bertemu kembaran siapa?

Setelahnya keluh kesah Zenitsu soal "Lu ninggalin gue! Katanya mau nunggu di pintu!" hanya masuk telinga kanan dan keluar teliga kiri Inosuke. Karena wajahnya kian pucat, keringat dingin mulai membasahi kaos birunya dan gemetar yang semakin menjadi-jadi. Untuk pertama kalinya, Inosuke butuh Zenitsu untuk menenangkannya.


A/N:

Yaampun. Baru pertama kali coba buat tulisan genre horror. Upload cerita baru sambil ngasih tau kalau aku ganti pen name dari Mikazuki Ryuuko jadi Furaa.

Furaa yang agak-agak sableng gimana gitu nyoba genre yang buat orang merinding?! Gak tau sih ya terasa apa enggak. Dan aku juga mau kasih tau, fanfiksi ini dibuat tanpa maksud menyinggung suatu kepercayaan ya…

Akhir kata, bersedia untuk memberi kritik dan saran?

Tambahan : Fanfiksi Anak-Anak Tomioka-Kocho akan dilanjut kok. Maaf ya, malah up fanfiksi baru :D


"Karena saat kita berhenti secara tiba-tiba, si kembaran kita gak bisa memprediksikan gerakan tersebut." Murata menjeda, semua yang mendengar meneguk ludah. "Karena tak bisa memprediksikan gerakan tersebut, saat kita berhenti tiba-tiba dia akan tetap menyisir."

"Jadi, kamu berani coba?"