Taufan, Blaze dan Thorn berjongkok di pinggiran kolam ikan saat matahari telah naik sepenggalah. Mulut penghuni ekosistem abiotik itu termangap-mangap saat ketiga manusia di atas menatapi mereka dengan mata berbinar. Berharap diberi jatah makan tentu saja. Namun, gerombolan Cyprinus carpio itu kabur semuanya saat Thorn mengulurkan tangan hendak menyentuh mereka. Sementara sang pelaku malah tertawa kegirangan.

"Fan, lihat! Ikannya berenang!"

"Ya iyalah, Thorn! Emangnya ikan bisa jalan?"

"Santuy, Fan. Thorn cuma senang karena kelamaan dikurung di kamar."

.

.


Disclaimer :

BoBoiBoy (c) to Monsta

Saia tidak mengambil keuntungan apa pun dari fic ini

Warning! : MedicalAU(maybe), OOC, misstypo's, kegajean di sana-sini

Dan, tidak. Saia tidak mengambil genre humor. Takutnya garing lol. Ditulis akibat mendapat wangsit setelah membaca fic berlatar MedicalAU.

Sebuah fic untuk meramaikan event #eduficentry #covid19

Enjoy~ :D


_.*._

_.*._

_.*._

Nun di lantai atas gedung khusus yang menjadi rumah sementara bagi tiga karakter sebelumnya, seorang perawat dengan APD lengkap dari ujung kepala hingga jari kaki tergopoh-gopoh menghampiri seorang dokter muda jauh di depannya.

"Dokter Kaizo!" Ying memanggil.

Titisan Grim Reaper dengan penampilan serupa menoleh tanpa menjawab. Barangkali masker N95 di mukanya itu membatasi pasokan oksigen yang masuk ke paru-parunya sehingga ia sulit bicara. Barangkali juga ia hanya irit suara. Yang mana pun itu, Ying tak tahu dan tak mau tahu. Sengaknya Dokter Kaizo memang adalah program dasar yang sudah diatur sejak ia masih berupa sesosok zygot. Hal itu sudah dimaklumi oleh seluruh jajaran petugas medis di tempat itu, mulai dari senior hingga juniornya. Tak perlu mengharapkan pelayanan 5S dari yang bersangkutan. Wong, sekedar melirik saja ia pelit.

Ying masih berusaha mengatur nafasnya yang seperti orang bengek. 'Pret! Masker di mukanya ini menghalangi jalur pernafasan saja. Tapi apa boleh buat. Semua alat perlengkapan diri yang melekat di tubuhnya kini adalah program standar. Setidaknya, untuk saat ini.

"TaufanBlazedanThornkaburlagiDok!"

"Siapa mereka?"

Untuk sesaat, Ying ingin mengoreksi kalimatnya, sadar ia berbicara tanpa jeda titik-koma. Namun, niat itu urung. Baru diingatnya salah satu tabiat Dokter Kaizo yang aneh bin ajaib itu.

"Lapor, Dok! Pasien di kamar 103, 121 dan 214 kembali melarikan diri! Ketiganya diidentifikasi positif corona dengan gejala ringan." Ying berkata seperti kadet tentara yang melapor pada perwira. Perbandingan yang jauh sekali memang, tapi seperti itulah analoginya.

Kuping Kaizo berjengit mendengar laporan dari perawat Ying. Diambilnya langkah besar-besar guna mencari Trio yang telah memutus urat kesabarannya beberapa hari belakangan.

Sementara, Ying masih melongo di tempat. Isi kepalanya masih memertanyakan bagaimana Kaizo yang mungkin mengidap waham tertentu itu bisa menjadi dokter ternama.

.

.

.

.

Ice tersedak ampas kopi saat Fang tiba-tiba saja menggebrak meja pantry seenak jidat. Halilintar yang berada tak jauh dari sana pun refleks berjingkat. Ia langsung mencak-mencak perkara kelakuan Fang yang dituduh tak tahu adat.

Halilintar itu cool. Betul apa betul? Tapi selama tiga dekade hidupnya, tak pernah sekalipun ia menonton film horor full movie. Tidak. Halilintar bukan penakut. Mana terima ia dikata pengecut. Ia hanya tak suka terkejut. Sungguh, Halilintar tak menyukai sensasi kaget saat melihat jumpscare yang menjadi service dalam film laknat tersebut. Tak lebih.

Maka saat Fang datang menghempas meja seakan mengajak benda berkaki empat itu baku hantam, Halilintar yang tengah duduk bersilang kaki seraya bertopang pipi di tepi meja segera naik pitam. Mulutnya yang tertutupi masker itu segera mengucap sumpah serapah kepada Fang yang memasang tampang tak bersalah.

"Durian ungu! Landak sialan! Kurang ajar!" Murka Halilintar sembari menarik kerah jas putih Fang. Sementara ia berteriak kesetanan, Fang terpingkal-pingkal.

Ice yang kalem segera menarik Halilintar untuk menduduki kursinya semula. Halilintar meronta-ronta masih ingin meninju dokter berkacamata di depannya. Sesungguhnya, Ice sendiri juga ingin berkoar perihal kelakuan Fang itu. Namun, ia tak ingin berbuat bising di rumah sakit sekalipun mereka tangah berehat di ruang pantry.

Ayolah. Memberikan ketenangan bagi pasien juga merupakan pelayanan yang harus diberikan petugas medis.

"Sudahlah, Dokter Halilintar." Ice memijit-mijit pundak rekan sespesialisnya. "Tenang. Kita tahu durian ungu satu ini memang tak tahu diri. Kalau Anda ingin baku hantam, mari kita selenggarakan di luar kawasan rumah sakit."

"Hei, kau memihak siapa sih, Ice!?"

Ice mengedikkan bahu pura-pura tidak tahu, lalu mengelap noda-noda kafein di atas meja akibat semburan dari mulutnya saat ia terbatuk-batuk karena tersedak.

Halilintar kembali mengambil posisi duduk menopang pipi. Kepalanya terangguk-angguk menahan kantuk. Semalaman ia harus berjaga di ICU guna menggantikan dokter senior meskipun itu di luar bagian tugasnya.

Sang senior mengaku mengalami gejala awal yang mengindikasikan bahwa ia telah terinfeksi. Batuk yang mencekat tenggorokan, sesak nafas tak kunjung hilang dan paru-paru serasa meradang. Segera saja ia mengajukan izin mangkir tugas demi menjalani serangkaian tes PCR dan meminta Halilintar menggantikan jadwal kerjanya menangani pasien yang mengalami komplikasi di ICU.

Usut punya usut, salah satu spesialis paru yang juga bertugas menangani pasien positif corona di rumah sakit itu sebenarnya telah siaga mengambil alih tugas tersebut. Namun, dokter yang terkenal dengan jargonnya 'junior mesti berdikari' itu mengelak. "Biar yang muda mencari pengalaman," katanya. Padahal ia cuma iseng melempar tugas saja.

Halilintar yang selalu menaruh respek terhadap senior-senior di rumah sakit tak sampai hati menolak. Jadilah ia berjibaku dengan pesakitan corona semalam suntuk sembari menyambi kerja shiftnya mengawasi pasien di ranap isolasi.

"Kau kenapa? Kantung matamu tebal sekali macam skripsimu."

"Apa maksudmu!?" Halilintar membalas jengkel. Sedikit tak terima pasal syarat kelulusannya yang disinggung-singgung. Padahal itu sudah cukup lama.

"Aku serius! Riasan di matamu itu sudah kelihatan seperti panda di rumahku, tahu!"

Satu fakta terungkap. Fang memelihara satwa liar ikonik dari China secara ilegal di rumah pribadinya.

"Ice, buatkan aku kopi!" Halilintar berujar masa bodoh. Ice langsung memberikan tatapan horor.

"Dokter, ini cangkir ketiga. Perlu Anda ketahui, kopi itu bukan obat yang bisa diminum tiga kali sehari. Mengonsumsi kafein dalam jangka waktu singkat secara rutin dapat menyebabkan—"

"Tsk, aku tahu!"

Padahal, niat Ice hanya ingin mengoreksi jika rekannya itu keliru. Tapi Halilintar sedang dalam mode PMS, Pria Masa Sensitif. Jadi, dibuatkannya juga secangkir kafein yang diminta. Diseduhnya sisa bubuk kopi terakhir dengan air panas dispenser, lantas disodorkannya kepada Halilintar.

Halilintar tak langsung menyeruput kopi yang diberikan. Matanya sudah setengah terpejam menahan hasrat tidurnya. Baik Ice maupun Fang tak berkomentar apa-apa. Mereka biarkan kepala Halilintar yang pelan-pelan terkulai di atas meja. Biarlah mubazir secangkir kopi yang terabaikan. Toh, kesehatan Halilintar sendiri lebih perlu diperhatikan.

Fang menoel keras kening Halilintar. Melihat tak ada reaksi, spesialis jantung itu bertanya, "Kenapa dia?"

Ada satu fakta yang jarang diketahui oleh setiap petugas medis di rumah sakit tempat mereka bertugas. Yaitu, kenyataan bahwa Halilintar, Ice dan Fang telah berteman sejak orok. Mereka lulus di SD, SMP dan SMA yang sama. Bahkan tahun kelulusannya pun tak berbeda. Hanya Ice dan Halilintar yang terus bersua hingga universitas. Sementara Fang melanjutkan pendidikan Strata 1-nya di tanah yang berlainan.

Namun kini, ketiganya kembali bertemu setelah menyandang gelar spesialisasinya masing-masing. Halilintar dan Ice adalah spesialis pulmonologi. Sedangkan Fang adalah spesialis kardiologi. Jika didramatisir, pertemuan mereka diibaratkan sebagai ikatan benang takdir.

Menggelikan.

Itulah pikir Ice mendengar ocehan Fang saat mereka kembali bertemu di rumah dinas yang sama.

Meski sempat tidak bertemu lama, tapi relasi yang telah terbentuk sejak mereka masih bersosok bocah petakilan itu membuat ketiganya memiliki kecenderungan untuk memahami situasi dan kondisi satu sama lain dengan cepat. Biar tak diungkapkan secara gamblang, Fang tentu saja khawatir dengan sang sahabat yang pernah menjadi komplotan begal penjarah uang jajan adik kelas di masa SMP mereka. Yah, masa muda yang bar-bar memang.

"Kau sendiri? Kardiolog harusnya di gedung utama, kan?"

"Aku menganggur. Belum ada panggilan sejak semalam. Nah, jawab pertanyaanku tadi!"

Ice menggeser cangkir kopi menjauh dari muka Halilintar, lalu berkisah, "Kemarin Dokter Amato ambil cuti untuk tes PCR. Tapi, ada pasiennya yang dijadwalkan cito. Jadi, tugasnya dipindahtangankan ke Halilintar. Halilintar sendiri ada jadwal shift malam mengawasi ruang isolasi lantai tujuh. Dia tambah capek setelah tahu perawat yang bersamanya di ICU takut untuk membantu memasang ETT ke pasien."

"Kau tidak ikut bantu?"

"Sudah. Tapi, kau tahu sendiri dia ini gengsian. Aku cuma bisa bantu menggantikan shiftnya sebentar."

"Terus, bagaimana kondisi pasien?"

"Sudah stabil. Urusan shift malam juga tak ada masalah."

Fang bersin kencang saat hendak menyeruput asupan kafein yang tadinya disuguhkan untuk Halilintar. Ice segera memasang maskernya dan mundur tiga langkah. Matanya yang memicing membuat Fang terpelatuk.

"Hei, aku sudah tes dan hasilnya negatif, ya! Lagipula, aku kan, pakai masker!" Kentara sekali ia tersinggung.

"Antisipasi," jawab Ice dengan watadosnya.

.

.

.

Sejatinya, tempat itu adalah rumah sakit biasa yang selalu diramaikan oleh wara-wiri keluarga pasien serta perawat dan dokter yang sibuk di jam kerja. Namun, setelah pandemi COVID-19 yang semakin merebak, pemerintah daerah menunjuk tempat tersebt sebagai rumah sakit rujukan dan memfasilitasi dengan bangunan khusus guna menangani pasien yang terjangkit virus.

Akan tetapi, bertambahnya berita perkembangan penelitian terhadap coronavirus tidak seiring dengan membeludaknya pasien yang dinyatakan positif terinfeksi. Hal itu disebabkan oleh faktor yang bervariasi. Salah satunya datang dari pesakitan itu sendiri.

Ada saja kelakuan pasien untuk menguji ketahanan mental dokter yang menanganinya. Seperti tiga Homo sapiens yang masih jongkok ganteng di pinggir kolam ikan ini. Sudah dinyatakan positif corona, masih saja berbuat huru-hara.

Ketiganya dinyatakan positif terjangkit dengan gejala yang tergolong ringan. Anjuran dokter adalah terus istirahat dan ikuti prosedur penyembuhan selama masa rawat inap. Namun apalah daya. Seorang di antara mereka yang bermata crimson dicurigai sebagai diktator dari segala kerusuhan yang terjadi beberapa hari belakangan.

Memang kebebalan yang sudah jadi mode defaultnya, belum lagi sifat kekanakan sebagai efek samping masa kecil kurang bahagia. Riwayat pertama sebagai sumber dari segala cobaan bagi para petugas medis di sana adalah ketika Blaze pertama kali berjumpa dengan Taufan dan Thorn saat terpeleset sandal jepit di koridor rumah sakit.

Taufan yang tertawa hina sampai tersedak ludah sendiri membuat Thorn prihatin. Prihatin kepada Blaze tentu saja. Orang jatuh masa' diketawain. Jadi, Thorn mengabaikan Taufan dan mengulurkan tangannya kepada Blaze. Pemuda beriris safir hanya dilempari kacang.

Melihat reaksi Taufan yang tertawa sampai mampus, Blaze memberikan stereotip bahwa Taufan adalah orang yang menyenangkan, yang mana hal itu benar adanya. Di saat bersamaan, Blaze pun menyadari bahwa Taufan sedang dalam masa percobaan kabur dari ruang isolasi.

Keduanya pun bersekongkol untuk menciptakan suka cita di rumah sakit yang bagi mereka mengalami krisis kebahagiaan itu. Sedangkan Thorn yang awalnya tidak tahu-menahu menjadi mau tahu hingga akhirnya ikut terjerumus dalam konspirasi yang amat laknat tersebut.

Ada saja tingkah mereka untuk mengusik pasien yang lain. Entah itu berkumpul untuk bermain tik-tok, membuat kebisingan karena kalah main monopoli, atau hal-hal nirfaedah lainnya. Anehnya, dengan mantra sakti yang entah macam apa, mereka selalu saja berhasil lolos dari pengawasan tim medis.

Sudah barang pasti mereka mendapat peringatan dari perawat-perawat saat terciduk. Adanya instruksi physical distancing harusnya membuat mereka sadar untuk tidak berkumpul dan mengisolasi diri demi mencegah penyebaran virus.

"Jadi, kita cuma melihat ikan saja, nih?" Blaze bertanya setelah menguap lebar. Kelingking kirinya yang dibalut sarung tangan karet cinderamata dari mamihnya hampir saja digunakan untuk mengupil lantaran rasa bosan yang mendera sanubari. Untungnya ia juga mengenakan masker yang membuat niat itu diurungkan sampai ia kembali ke kamar nanti.

"Memangnya kau mau ke mana?" Taufan yang menyahut. Ia bertukar posisi jadi duduk bersila di pinggiran kolam ikan. Berjongkok terlalu lama berimbas pada kakinya yang kini dirasa kebas.

"Yah, ke mana, kek. Lagian, kalau kelamaan di sini bisa-bisa kita terciduk. Aku ogah dikasih pidato lagi sama orang yang itu-itu saja."

"Ikannya lucu~" Thorn menyeletuk tak kenal topik. Blaze semakin ngedumel.

Tiba-tiba suasana senyap. Suatu kebetulan di mana tak ada satu pun perawat atau dokter yang mondar-mandir di sekitar sana. Seekor kodok sempat-sempatnya lewat membuat mata bulat Thorn kembali berkilat girang. Taufan sedikit menekan maskernya saat Blaze terbatuk-batuk. Ikut-ikutan bosan, Ia pun membuka topik obrolan.

"Kenapa ya, mukanya Dokter Kaizo datar amat. Kayak papan talenan." Taufan menopang dagu. Tanpa ia ketahui, pemilik nama itu bersin kencang entah di mana.

Thorn mengubah posisi jongkoknya jadi duduk memeluk lutut. "Namanya juga pewarisan sifat, Fan. Siapa tahu turunan bundanya."

"Tapi, serius, deh. Aku kasihan sama dia. Apa nggak susah dapet jodoh? Tampangnya macam Hitler itu."

"Cis, tak sadar diri kau. Gebetan saja nggak pernah ngenotis dari zaman paleolitik. Padahal kau sendiri lebih sering senyum daripada Dokter Kaizo." Blaze menyemprot seenak dengkul perihal yang membuat Taufan terusik.

"Jangan samakan kami, dong! Yaya itu kasusnya beda."

Taufan, 27 tahun. Seorang pegawai kantoran yang menyambi kerja sebagai penjual nasi goreng di kala malam tiba. Pertama kali didiagnosis terjangkit saat ia memeriksakan diri setelah karantina mandiri selama empat belas hari.

Cita-citanya menjadi orang kaya agar bisa segera melamar sang pujaan hati berhijab merah muda yang tak pernah peka sejak masa SMA. Tapi, apa mau dikata. Kenyataan tidak menghempaskannya ke permukaan bumi, melainkan dengan kejam melemparnya ke dalam ruang isolasi.

"Makanya Fan, WFH, dong. Biar dikira orang rajin sama doi." Thorn memberi saran pendekatan berkedok pencitraan.

"Tapi aku kan, nggak lagi di rumah, gembeeelll."

"Work from Hospital maksudnya." Thorn cengengesan sambil menggaruk tengkuk. Taufan meringis.

"Gusti ..."

"Coba tenang dulu kalian berdua!" Blaze tiba-tiba menengahi pembicaraan.

Semilir angin dingin berlalu membelai tengkuk mereka semena-mena. Kontan suasananya berubah mistis. Ketiga manusia itu hening. Sekedar bersin untuk menghamburkan jutaan virus di hidung pun mereka tak berani. Beberapa sekon melalui ketegangan, Blaze berujar,

"Aku mencium bau-bau deodoran dokter Kaizo."

.

.

.

Sepatu boots Kaizo berdecit sepanjang langkahnya menyusuri koridor ranap isolasi lantai satu. Batinnya tak henti-henti mendongkol bahkan sejak kemarin malam. Ia masih sebal lantaran Dokter Amato—kakak tingkatnya semasa perkuliahan dahulu—menolak uluran tangannya untuk menggantikan jadwal bertugas dengan dalih 'membiarkan yang muda mencari pengalaman.'

Cuih, alibi!

Kaizo sudah paham betul perangai si kakak tingkat yang suka mengobrak-abrik emosinya itu. Sudah hampir kepala empat usianya, tapi masih belum berubah juga. Memangnya sudah setua apa Kaizo hingga sang senior mengacangi niat baiknya.

"HACCHUUU!"

Bersin Kaizo dahsyat melebihi ledakan bom atom di Hiroshima. Ia menahan diri untuk mengusap hidung. Toh, tidak bisa karena ditutupi masker N95.

Layaknya pria muda yang belum bisa move on dari mantan, Kaizo pun bergumam, "Apa sih, kurangnya aku?"

Kaizo merasa rendah karena Amato memilih junior dari juniornya untuk dilempari tanggung jawab. Ia sebal semalam gabut karena tidak ada pekerjaan.

Ketika Ying melapor adanya pasien yang kabur dari ruangan, Kaizo bertambah kesal. Padahal ia sudah bertekad akan pulang ke rumah segera setelah jam dinasnya usai. Sekedar rebahan untuk mengistirahatkan rohani atau mungkin menonton drama India yang bisa membuatnya banjir air mata.

Mood Kaizo mengalami inflasi parah. Garis skemanya terjun bebas menyelami kedalaman Palung Mariana. Diam-diam ia berterimakasih kepada Dewi Fortuna. Kaizo berniat menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan amarah pada oknum yang tak ada sangkut-pautnya. Niatan yang sesat sekali sesungguhnya.

"Nah, itu mereka."

Kaizo bergumam dalam hati. Kepalanya menyembul dari balik tembok jauh dari Trio Troublemaker. Mata elangnya menyipit tajam mengawasi pergerakan pasien bak intelijen negara. Kaizo hendak berjalan mengendap-endap, lalu menyergap perusuh rumah sakit itu dengan gerakan kilat dari arah belakang.

"Aku mencium bau-bau deodoran Dokter Kaizo."

Kaizo kayang di tempat.

Apa-apaan hidung mahasiswa ingusan bernama Blaze itu? Bagaimana mungkin deodoran yang ia gunakan bisa tercium hingga jarak puluhan meter?

Kalau zaman sebelum era corona menyerang, memang deodoran aroma melati yang ia gunakan bisa tercium hingga radius lima meter. Di mana hal tersebut membuat petugas medis yang lain merasa parno saat kedapatan dinas malam bersama titisan Grim Reaper itu.

Tapi, hei, sekarang ia berada di radius puluhan meter dari target, Bro! Mengenakan APD komplit pula. Suatu hal yang tidak mungkin jika Blaze tidak mentransplantasikan indera pembaunya itu dengan hidung beruang.

Layaknya bensin yang disulut bunga api, amarah spesialis pulmonologi pun tak ditahan lagi.

"Hei, kalian bertiga!"

Suara Kaizo membuat Taufan, Blaze dan Thorn refleks memutar leher.

"Mampus kita!"

Seraya melangkah pongah, Kaizo berkhotbah, "Saya yakin seluruh petugas medis di tempat ini telah memberi instruksi agar pasien mengisolasi diri dengan tetap berada di ruangan masing-masing. Jadi, saya kembali memohon kepada anda bertiga agar bisa lebih kooperatif bersama kami!"

Taufan bangkit dari duduknya hendak mengambil langkah seribu, diikuti Thorn yang diseret oleh pemuda beriris safir. Blaze yang tak mau ditinggal sendiri pun cepat-cepat mengambil posisi berdiri.

"Tungguin, woy!"

Teman-teman yang beriman, tahukah kalian? Ketika saraf secara tidak sengaja mendapat tekanan sehingga aliran darah tidak lancar dapat menimbulkan sensasi geli dibarengi perasaan seperti tertusuk jarum. Hal ini biasanya bersifat sementara. Bisa disebabkan karena bagian tubuh yang ditekan terlalu lama membuat aliran darah terhambat.

Barangkali Blaze tak menyadari bahwa kedua tungkainya sudah mati rasa sebagai efek samping akibat berjongkok duapuluh menit di pinggir kolam. Sensasi parestesia merayap sepanjang kaki membuatnya kehilangan koordinasi untuk berdiri. Lututnya tertekuk, tubuhnya oleng ke sebelah kiri. Ikan koi berbagai warna di bawah sana tertawa durjana.

BYUUURRRR!

"BLAAAZZEEE!"

Thorn jejeritan histeris, sementara Taufan meringis.

.

.

.

Seorang berkacata hitam memasuki ruang kerjanya sambil tersenyum sekilas dan mendapati Halilintar baru saja terjaga dari tidur.

"Bagaimana istirahat Anda, Dokter Halilintar?"

Sejatinya, staff pantry berbadan mini itu hanya berniat basa-basi. Ia tidak menyadari kalau pertanyaan sederhananya itu bisa menusuk nurani. Halilintar merutuki ketidakprofesionalannya lantaran tertidur selama 30 menit di rumah dinas. Di ruang kerja staff lain pula.

Mengelak mejawab, Halilintar berujar, "Maaf, Pak Ciciko. Kami menggunakan peralatan di sini saat Anda tidak ada.

"Tak apa, tak apa. Saya tadi dimintai tolong oleh staff lain untuk mengecek sediaan bahan dapur."

Halilintar sendiri sebenarnya tidak merasa bersalah karena menggunakan cangkir dan sendok tanpa izin dari penguasa tempat. Tapi, rasa tidak enak hati karena menggasak sisa bubuk kopi di rak pantry sampai habis itu tidak mengada-ada.

Ciciko berjalan ke arah rak penyimpanan perkakas makan. "Dok, saya sarankan Anda pulang saja dulu untuk istirahat. Kesehatan petugas medis sendiri juga penting. Toh, sebenarnya jadwal oncall Anda malam."

Sesungguhnya Halilintar ingin segera merealisasikan saran dari Ciciko seandainya saja ponsel di saku jasnya tidak berdering.

Halilintar menggeram jengkel, lalu mengangkat telepon tanpa repot-repot menengok nama pemanggilnya.

"Siapa?" Halilintar menjawab dongkol.

"Err, selamat pagi, Dokter Halilintar. Atau siang, ya?" Terdengar suara wanita di seberang sana.

"Yah, selamat pagi atau siang. Dan ini siapa?"

"Oh, maaf. Saya Ying. Anda dari mana saja, Dok? Katanya, Dokter Amato berusaha menelepon Anda sejak duapuluh menit lalu."

Halilintar mendengus sinis. Tidak mau mengaku bahwa ia sempat terkapar di ruang pantry. "Apalagi maunya si uban itu?"

"Err, Dokter Amato bilang hasil tesnya sudah keluar dan beliau positif terinfeksi. Jadi, dia minta supaya tugasnya di sini digantikan oleh Anda dan Dokter Ice."

Kening Halilintar berkerut. "Kenapa tidak dia hibahkan saja ke Dokter Kaizo? Aku tahu si muka datar itu nyinyir semalam gabut karena merasa dikacangi kakak tingkatnya itu."

"Wah, Dok, mohon kerjasamanya. Dokter Kaizo baru saja berkoordinasi dengan perawat lain untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap narapidana rumah sakit. Tadi mereka berbuat huru-hara lagi. Yang satunya bahkan sampai tercebur ke kolam ikan."

"Huh? Memangnya kita ada merawat bekas napi?"

"Bukaaann. Maksudnya, trio perusuh yang belakangan sering buat onar."

Dibalas begitu, terang saja Halilintar tahu siapa yang dimaksud. Ia menggumamkan 'oh' ringan, lalu membiarkan sambungan telepon tetap berjalan selama beberapa hitungan.

"Err, pokoknya tolong ya, Dok." Ying akhirnya memutuskan telepon secara sepihak. Halilintar bahkan belum menyetujui serah-terima tugas itu.

Si spesialis paru menghela nafas. Terpaksa nanti ia hubungi Ice untuk rencana pembagian jadwal kerja. Halilintar berjalan menuju pintu, hendak melaksanakan saran dari Ciciko sebelumnya.

Tangannya yang dibalut sarung tangan steril hampir menyentuh gagang pintu ketika Ciciko bertanya,

"Dok, stok kopi saya letakkan di mana, ya? Kok, tidak ada?"

Halilintar tersentak. Ia melirik sedikit, lalu menjawab, "Mungkin di rak paling atas, Pak."

Staff pantry itu mengangguk, lalu mengambil kursi. Sementara Halilintar segera keluar ruangan dengan tampang hina.

"Tapi bo'ong."

Ciciko tidak tahu saja bahwa bungkus stok kafein yang terakhir sudah ngetem di tempat sampah

_.***._

_.***._

_.***._

End.


*Uhuk

Halo, Nyankuro di sini '-')/ *krik

Oe menulis cerita ini untuk menggambarkan bagaimana petugas medis menghadapi para pasien corona di garda terdepan sana. Ya, oe tahu ini polemik yang serius. Tapi, oe hanya ingin menyampaikan lika-liku mereka dengan gaya bahasa dan cerita yang lebih ringan.

*uhuk* Kepada Dee Carmine dan temannya (saia tidak tau namanya :v) yang telah membantu memerbaiki kekhilafan dalam penulisan fanfic ini, saia mengucapkan terimakasih.

Kalau ada yang tidak senang dengan fanfic ini, silakan berterus terang :) dan ya, ada sedikit catatan lagi jika ada yang kurang jelas :

APD : Alat Pelindung Diri. Dalam cerita ini yang digunakan Kaizo dan Ying terdiri dari masker N95 atau ekuivalen, gaun khusus, sepatu bot, pelindung mata atau face shield, sarung tangan bedah karet steril dan sekali pakai, penutup kepala, dan apron.

Endotracheal Tube (ETT) : sejenis alat yang digunakan di dunia medis untuk menjamin saluran napas tetap bebas, rupanya seperti selang yang dihubungkan ke saluran pernafasan.

Nah, sekian dari oe. Stay safe dan tetap #dirumahaja yes ;)

From Wkwk Land,

Bubye~