B Always For C
[Sequel B For C]
-Percayalah, Typo merupakan karya terindah-
Happy Reading...
.
.
.
"Mommy dan daddy mau kemana?" Baixian terlihat bingung melihat kedua orang tuanya sibuk berlalu lalang seraya membawa koper berukuran sedang ditangan keduanya.
"Oh, sayang kau sudah pulang?" Luhan masih sibuk membawa barang miliknya. "...Mom dan daddy harus ke Eropa, perusahaan daddy disana mengalami masalah- jadi kami harus menyelesaikannya berdua."
Luhan sudah pensiun menjadi dokter kandungan sejak ia melahirkan Baixian, dan kini beralih membantu suaminya Sehun, untuk mengurus bisnis keluarga mereka. Rumah sakit milik Chanyeol yang diserahkan padanya kini sudah ia serahkan pada temannya, Xiumin.
Xiumin teman Luhan, mereka bertemu ketika sama-sama belajar di China. Dan Xiumin kekasih Jongdae.
Luhan tahu kekasih Xiumin adalah Jongdae, ia sendiri mengatakan pada Xiumin jika rumah sakit Haneul memang milik mendiang suami sahabatnya, Chanyeol. Dan karena Xiumin orang yang baik- jadi ia mempercayakan rumah sakit itu pada Xiumin.
"EROPA?" Baixian melangkah mendekat pada Sehun "Daddy, Baixian ikut ya..." Baixian memohon seraya memasang wajah sayu dihadapan Sehun.
Sehun menggeleng, mencubit pipi anaknya "Kau tidak boleh membolos kuliah, jadi kau tidak bisa ikut dengan kami."
"Tapi..." Baixian ingin kembali merengek, tapi kehadiran lelaki yang berjalan dari arah tangga lantai atas- membuat ia menghentikan rengekannya.
Ia tidak mau lelaki itu melihat rengekan manjanya pada kedua orang tuanya. Lebih tepatnya, Baixian sedang menjaga imagine-nya.
"Ricard, kemarilah!" Sehun melambaikan tangannya pada Ricard yang kemudian berjalan menghampirinya.
Ricard sudah siap dengan pakaian santai-nya, sepertinya pemuda itu akan pergi jalan-jalan keluar malam ini.
Mencari udara segar di kota Seoul, atau berjalan-jalan menghapal jalanan kota Seoul. Ia memang harus menghapal setiap seluk beluk kota Seoul, untuk kepentingannya nanti- sebelum rencana yang sudah ia susun rapi ia lancarkan.
Sebuah rencana kecil untuk membalas dendam pada kakeknya, Park Yoochun.
"Kau mau pergi keluar?" tanya Sehun pada Ricard.
"Iya Appa!" Jawab Ricard.
Agak canggung rasanya ketika, Ricard memanggil Sehun dengan panggilan appa, karena ia belum terbiasa dengan panggilan itu. Tapi ia memang menggap Sehun sama halnya seperti Johnny.
"Bisakah kau menundanya atau mengajak Baixian sekalian? Mulai malam ini Paman titip Baixian padamu, bisakah kau menjaga anak nakal itu?" tanya Sehun yang mendapat delikan tidak terima dari anaknya, Baixian.
"Dad, aku bukan anak kecil. Untuk apa meminta dia menjagaku, aku bisa menjaga diriku sendiri!." Protesnya tidak terima.
"Tapi sifatmu masih seperti anak-anak!" Sehun menyentil dahi Baixian.
"Bagaimana? Appa perlu jawaban ketersedianmu nak!." Sehun menunggu Ricard yang belum menjawab pertanyaan-nya.
"Aku akan menjaganya Appa." Ricard bersedia menuruti perintah Sehun.
Luhan dan Sehun tampak tersenyum senang, sementara Baixian memasang wajah tidak sukanya. Ia sudah besar, untuk apa Ricard menjaganya- lagipula ini bukan pertama kalinya kedua orang tuanya pergi keluar negeri. Walau memang biasanya hanya Sehun saja yang pergi keluar negeri untuk perjalanan bisnis.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benak Baixian, senyum misterius Baixian terlihat. Ia menyeringai senang ketika kemungkinan, ia akan bebas melakukan apapun yang ia inginkan selama kedua orang tuanya berada diluar negeri. Pergi ke club malam, dan pulang malam salah satunya, itu akan menjadi list teratas yang harus dilakukan Baixian- ketika kedua orang tuanya sudah benar-benar pergi keluar negeri.
Baixian benar-benar merasa seperti burung yang akan lepas dari sangkarnya. Terbang bebas kemanapun dia mau.
Baixian merasa merdeka karena, tidak akan mendengar ibunya menelepon dan menyuruhnya untuk segera pulang. Baixian hanya ingin tahu kehidupan club malam, karena selama ini ia memang tidak pernah menginjakan kakinya di club- karena Sehun dan Luhan melarangnya.
"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu." Luhan memeluk dan mencium pipi putrinya kemudian memeluk Ricard.
Sehun melakukan hal yang sama sebelum benar-benar meninggalkan mansion untuk pergi ke lapangan besar dibelakang rumah mereka. Mereka-pun segera terbang menggunakan pesawat pribadi mereka, jadi kapanpun mereka ingin pergi; mau siang atau malam- waktu bukanlah menjadi masalah.
"YES, AKU BEBAS." Baixian bersorak senang dan segera melesat ke kamarnya dilantai atas.
Ricard yang melihat tingkah anak itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia kemudian melirik ponselnya mencoba mengatur GPS diponselnya, dan berniat untuk melanjutkan rencananya menjelajah kota Seoul.
Tapi suara langkah kaki dari lantai atas, menyita atensinya untuk melihat si pelaku suara bising tersebut. Dan kedua iris tajamnya tampak membulat melihat penampilan Baixian yang sudah berganti dari sebelumnya.
"Kau..." Ricard menatapnya meminta jawaban.
"Kenapa denganku?" Baixian meneliti penampilannya.
Baixian rasa, ia tidak terlihat aneh menggunakan rok hitam pendek, kaos crop top sexy yang dibalut jaket kulit berwarna hitam- serta sepasang stileto hitamnya.
"Kau mau pergi ke club?" tebak Ricard, yang yakin jika anak gadis yang belum pernah menginjakan club itu berniat pergi ke club.
Sebelumnya, Sehun pernah berbicara padanya- jika Baixian harus menghindari club. Baixian tidak tahan dengan ahkohol dan juga demi menjaga reputasi Baixian, ia tidak boleh pergi ke club. Karena akan ada banyak gosip jelek tentang Baixian. Sekalipun Baixian sembunyi-sembunyi pergi ke club, tapi media akan dengan mudah mendapatkan beritanya.
"Apa kau berpikir aku akan pergi beribadah ke Gereja menggunakan pakaian ini?" Baixian mencibir "Tentu saja aku mau ke club." Baixian berjalan melewati Ricard yang segera mencekal tangannya.
"Kau pikir bisa pergi ke club? Kau tidak lupa kan kalau ayahmu baru saja menitipkanmu padaku!" Ricard menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Mencoba mengintimidasi Baixian yang ada dihadapannya.
Ricard itu dikenal sebagai lelaki dingin dan tidak perduli terhadap siapapun yang bukan menjadi urusannya- tapi jika ia sudah diberi amanat untuk menjaga sesuatu, maka ia akan menjaga tanggung jawab itu sampai akhir.
"Begini saja," Baixian mencoba bernegoisasi dengan Ricard "Kau hanya jangan melaporkan tindakanku ini pada kedua orang tuaku, dan kau bebas melakukan apapun disini! Adilkan? Ingatlah, aku masih salah satu nyonya dirumah ini."
Ricard bukan seseorang yang mudah diajak bernegoisasi. Maka tindakan yang ia lakukan selanjutnya, tidak lebih ia anggap sebagai tugasnya menjaga Baixian.
"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN?" Baixian memekik tidak terima.
Tubuhnya diangkat layaknya karung beras oleh Ricard. Lelaki itu membawa tubuh Baixian kembali kelantai atas dimana kamarnya berada. Menurunkan Baixian ditempat tidurnya, Ricard bergerak mendekat dan mengungkung tubuh Baixian yang secara spontan beringsut mundur.
Ricard mendekati wajah Baixian sampai kedua hidung mereka bersentuhan. Baixian sampai menutup kedua matanya karena tidak siap dengan apa yang akan ia terima.
Tapi, perkataan Ricard selanjutnya berhasil membuka kedua matanya, dan bertemu pandang dengan kedua iris tajam milik Ricard.
"Sebaiknya kau menurutiku, atau aku akan melamporkanmu pada paman- jika kau hendak pergi ke club." Ujar Ricard dengan kedua tangannya yang masih mengungkung tubuh Baixian.
Setelah melihat Baixian tidak berkutik, ia mundur dan menutup kamar Baixian.
Baixian tampak meraup nafas dengan rakus.
Selama hidupnya, baru kali ini ia begitu dekat dengan seorang lelaki sampai detakan jantungnya terasa tidak normal. Ia memegangi kedua tangannya, wajahnya tampak memerah menahan malu.
Malu akan jarak Ricard yang sebelumnya, wajah Ricard begitu dekat dengannya. Dan diam-diam Baixian cukup terpesona akan ketampanan Ricard yang begitu mempesona- dan mampu menyihir siapapun yang menatapnya.
"Aishhh." Pekik Baixian karena merasa kalah oleh Ricard.
Namun bukan Baixian namanya jika ia menyerah begitu saja.
-o0o-
"Bagaimana keadaan mereka?" Jongdae tengah bertanya pada Xiumin yang baru saja memeriksa keadaan dua orang pasien ny dirumahnya.
"Mereka memang sadar dari koma. Tapi karena mereka koma terlalu lama, sistem saraf tubuh keduanya lumpuh. Mereka lumpuh, tapi bukan lumpuh permanen- mereka masih bisa berjalan seperti dulu jika mereka melakukan terapi." Xiumin melirik sebentar kedalam kamar yang tertutup itu "Sekarang, mereka masih belum bisa bicara."
Jongdae tertunduk dalam. Kenangan masa lalu dan rasa bersalah dihatinya kembali mendera hatinya.
"Jangan menyalahkan dirimu lagi, kau sudah menolong mereka. Setidaknya, mereka masih bisa melihat dunia dan bertemu anak mereka lagi." Xiumin memeluk Jongdae dengan erat, menenangkan kekasih sekaligus calon suaminya itu untuk tenang.
"Tetap saja a-aku terlambat menyelematkan mereka malam itu. jika saja aku lebih cepat, kecelakaan itu tidak akan terjadi dan mereka bisa hidup bahagia bersama anak mereka diluar negeri." Jongdae menitihkan air matanya "Chanyeol dan Baekhyun harusnya hidup bahagia bersama Ricard, membesarkan Ricard dengan penuh kasih sayang dari mereka berdua." Ucapnya disela isakannya.
"Kau bisa memperbaikinya. Buat Chanyeol dan Baekhyun sembuh agar bisa bertemu dengan Ricard."
Kedua orang yang tengah mereka bicarakan sebelumnya, itu memang Chanyeol dan Baekhyun.
19 tahun yang lalu, berterima kasihlah pada Xiumin yang menemukan kedua orang itu dipinggir jurang- ketika ia sedang berlibur dikampung halamannya. Malam itu, iatengah mencari kakeknya yang tidak pulang dari kebun. Saat melewati tebing curam, Xiumin melihat dua tubuh terkapar saling berpelukan.
Xiumin langsung meminta bantuan adiknya untuk membawa kedua tubuh sekarat itu kerumah orang tuanya. Untung saja, Chanyeol dan Baekhyun saat itu masih hidup. Xiumin yang kenal Chanyeol menghubungi Jongdae pagi harinya, dan sejak saat itu Jongdae meminta Xiumin merawat Chanyeol dan Baekhyun secara diam-diam tanpa sepengetahuan publik- termasuk ayah Chanyeol, Park Yoochun.
Sampai akhirnya sekarang, Chanyeol dan Baekhyun terbangun dari komanya selama 19 tahun lamanya. Walau tubuh Chanyeol dan Baekhyun tidak bisa bergerak karena kelumpuhan yang dialami keduanya setelah koma 19 tahun, tapi setidaknya kedua orang yang sangat diharapkan masih hidup itu- kini memang benar-benar masih hidup.
Namun Jongdae tidak ingin terlalu gegabah dengan mengumumkan sekarang, jika mereka berdua selamat dari kecelakaan 19 tahun yang lalu. Chanyeol dan Baekhyun harus memulihkan tubuh mereka terlebih dahulu, serta melakukan terapi agar mereka berdua bisa berjalan seperti dulu.
Karena terlalu lama koma, tubuh keduanya lemas dan juga sebagian saraf tubuh keduanya lumpuh karena terlalu lama tidak bergerak.
"Kau tidak ingin menjelaskan pada mereka, tentang bagaimana keadaan anak mereka?"
Jongdae melihat Xiumin sekali lagi, dan kembali menatap pintu kamar tertutup dimana ada Chanyeol dan Baekhyun didalamnya.
Ricard. Jongdae memang seharusnya memberikan kabar pada Chanyeol dan Baekhyun jika anaknya baik-baik saja, karena ia yakin jika Chanyeol dan Baekhyun menghawatirkan anak mereka. Dan juga, Chanyeol dan Baekhyun pasti tidak sadar jika mereka telah koma selama hampir 19 tahun lamanya.
"Belum saatnya. Aku akan menunggu sampai Chanyeol dan Baekhyun bisa berbicara dulu, baru aku akan menjelaskan semuanya." Jongdae menatap Xiumin "Tolong bantu mereka cepat pulih." Jongdae masih merasa malu untuk bertemu dengan Chanyeol.
Malu akan ketidakbecusan-nya mencegah kecelakaan itu terjadi, malu pada dirinya sendiri karena ia tidak bisa menyadarkan Park Yoochun kala itu. Kenyataannya, Jongdae bukan Tuhan yang bisa mengubah takdir agar kecelakaan malam itu tidak terjadi. Tapi, Jongdae tidak tahu apa yang akan terjadi nanti- jika bertemu dengan Ricard. Ia yakin jika Ricard akan marah padanya, dan menyangka jika ia memihak pada kakeknya, Park Yoochun.
Ia dengar dari Sehun maupun Luhan yang masih suka berkomunikasi dengannya, wajah Ricard layaknya duplikat dari Chanyeol. Seperti halnya Baixian yang memiliki kemiripan 90% dengan wajah Baekhyun. Begitupun dengan Ricard, yang bagaikan pinang dibelah dua dengan Chanyeol.
Namun Jongdae belum pernah bertemu dengan Ricard, sekarang, ia belum tahu kabar terkini dari anak Chanyeol dan Baekhyun tersebut. Terakhir, ia mendengar kabar jika Ricard berada di Paris untuk menyelesaikan study-nya mengejar gelar master.
Dan juga tentang Ricard yang berada di Korea, Jongdae belum tahu kabar itu. Ia belum berniat untuk memberi tahu pada Sehun, Luhan atau bahkan Ricard- tentang Chanyeol dan Baekhyun yang masih hidup.
Ricard harus sabar menunggu sampai Chanyeol dan Baekhyun benar-benar dikatakan Sehat oleh Xiumin. Sampai saatnya itu, Ricard hanya akan tahu dan berpikir jika kedua orang tuanya memang sudah meninggal 19 tahun yang lalu.
Jongdae pikir, ia melakukan ini demi kebaikan Chanyeol dan Baekhyun- tapi tidak bagi Ricard, karena tindakan Jongdae ini akan menimbulkan masalah lain yang kemungkinan terjadi.
Ricard ingin membalas dendam pada kakeknya, Park Yoochun. Menuntut balas kematian kedua orang tuanya, karena Ricard tahunya kedua orang tuanya telah meninggal.
Seperti saat ini, Ricard tengah memantau perusahaan Park Corp dari kejauhan. Menggunakan tablet kecil ditangannya, ia mencoba meretas sistem keamanan Park Corp dibantu temannya.
"Aku sudah mengirimnya gambarnya padamu." ujar temannya disebrang sana.
Ricard kemudian eneliti setiap sudut perusahaan Park Corp melalui tablet ditangannnya, mencari ruang IT perusahaan Park Corp untuk ia masuki secara diam-diam nantinya.
Ya, Ricard ingin menyusup kedalam Park Corp tanpa harus menunjukan dirinya.
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Ricard menyimpan tabletnya dalam jaket, kemudian menutupi helm yang dikenakannya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menjauhi Park Corp. Ia menulusuri setiap jalan kecil yang terletak tidak jauh dari Park Cop, jalan itu akan ia gunakan untuk melancarkan rencananya nanti. Karena Ricard harus menghindari cctv yang ada dijalan raya.
Mencari jalan kecil tanpa adanya cctv, jika ia nanti tertangkap cctv, mungkin itu adalah tugas temannya- untuk merusak cctv yang memperlihatkan wajah Ricard.
Temannya, seorang ahli IT, Jung Jaehyun saat ini tengah menunjukan jalan-jalan tikus pada Ricard- melalui sebuah benda padat kecil yang terpasang di telinga Ricard.
"Ok. Kau sudah hapal jalannya?" tanya Jaehyun.
"Ya. Aku sudah ingat semuanya." Ricard membuka helmnya setelah sampai didepan kediaman keluarga Oh.
"Kalau begitu kabari aku jika kau berniat melancarkan rencanamu itu." setelahnya Jaehyun menutup sambungan itu.
Ricard merasa ada yang salah ketika ia melewati kamar Baixian.
"Apa anak itu tidur?" ia pun membuka kamar Baixian tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Masuk kedalam kamar Baixian dan mencari Baixian yang sayangnya tidak ada didalam kamar.
"Shit." Ricard mengambil kunci mobilnya didalam kamar dan segera berlari menuju garasi rumah keluarg Oh.
"Awas saja kau gadis nakal. Aku akan melaporkanmu pada kedua orang tuamu." Ucap Ricard "Jaehyun, lacak keberadaan Baixian, sepertinya dia berada diclub." Ucap Ricard setelah ia tersambung kembali dengan Jaehyun.
"Sepertinya kau punya anak anjing nakal yang harus kau urus haha." Tawa Jaehyun menggelegar disebrang sana ketika- ia meledek Ricard.
Tentang Baixian, Jaehyun memang sudah tahu perihal gadis itu. Ayolah, Jaehyun seorang peretas- jadi mana mungkin ia tidak tahu tentang siapa itu Baixian.
"Tutup mulutmu dan segera beritahu dimana dia berada." Tak lama Ricard menerima lokasi dimana Baixian berada.
EXOTIC CLUB
"Oh yang benar saja!" Ricard nyaris menabrak mobil-mobil yang berada didepannya ketika mengetahui dimana Baixian sekarang.
Sedikit dia tahu, itu memang club yang biasa didatangi anak muda Korea Selatan- namun club itu jauh dari kata aman. Penjualan wanita, jual beli narkoba, dan belum lagi para preman kelas kakap yang sering nongkrong ditempat itu. Baixian benar-benar bernyali besar datang ke club itu.
Pertanyaannya, siapa yang mengajak Baixian ke sana?.
Sementara Ricard tengah uring-uringan dan kesal akan Baixian. Orang yang dihawatirkan justru terlihat tengah menikmati suasana club, berjoget layaknya gadis singting ditengah lantai dansa- bersama seorang lelaki yang dikenalnya.
Seunghun, juniornya dikampus. Seorang lelaki tampan dan jantan yang menjadi idaman para senior wanita dikampusnya. Wajahnya yang tampan diumurnya yang masih muda membuat noona-noona dikampus ingin berkencan dengannya.
Baixian sebenarnya tidak tertarik pada Seunghun, hanya saja jika ia ingin pergi ke club- mengajak Seunghun lah orang yang tepat.
Tangan Seunghun nyaris meraba lekuk tubuh Baixian jika saja Baixian diam tidak banyak bergerak. Namun Baixian yang tidak mabuk sama sekali, tentu tahu jika adik tingkatnya itu mencoba untuk melakukan hal yang begitu intim dengannya.
Baixian menyudahinya dengan berjalan kembali ke meja tempat ia dan Seunghun sebelumnya duduk. Meminum jus yang sudah dipesannya, ia cukup tahu diri untuk tidak meminum-minuman berahkohol- mengingat ia tidak kuat terhadap ahkohol.
Seunghun bergabung duduk disamping Baixian setelah Baixian duduk disana.
"Tidak mau mencoba ini?" tanya Seunghun seraya memberikan segelas minuman ber-ahkohol padanya.
"Tidak. Aku tidak kuat meminum ahkohol." Tolak Baixian dengan lembut.
Seunghun mengangguk mengerti. Walau ia seorang pemuda club, tapi Seunghun bukan seorang lelaki pemaksa dan jahat pada wanita. Apalagi yang sedang bersamanya sekarang adalah Baixian, seorang anak pengusaha kaya raya yang bahkan kedua orang tuanya pun bergantung pada ayah Baixian.
Baixian dan Seunghun tampak tenang dengan hanya duduk berdua dan mengobrol. Tapi semua berubah saat salah seorang yang Seunghun kenal, seorang lelaki berandalan datang dan mencoba mendekati Baixian- terlebih temannya itu bersama dua orang temannya yang lain yang juga sama brengseknya. Seunghun tampak was-was, ia kemudian mencoba menjauhkan Baixian dari ketiga orang itu- namun karena ketiganya dalam keadaan setengah mabuk; ketiga orang itu nyaris beradu tinju dengan Seunghun.
"Apa yang sedang kau lakukan Seunghun?" Teriak lelaki berandal itu nyalang ke arah Seunghun.
"Jangan menganggunya!" Seunghun menarik Baixian untuk menjauh- tapi salah satu lelaki dari ketiga lelaki sebelumnya menarik pergelangan tangan Baixian.
"Lepaskan!" Baixian mencoba meronta, namun karena terlalu kuat cengkraman dari lelaki itu- justru membuat tangannya memerah dan kesakitan.
Seunghun yang kesal, berjalan kedepan dan meraih kerah baju yang dikenakan orang itu sampai cengkraman pada lengan Baixian terlepas. Seunghun nyaris terlibat baku hantam, sementara itu Baixian diseret paksa oleh lelaki yang sebelumnya menggodanya.
Baixian meronta lagi, tapi justru tindakannya malah mendapat tamparan dipipi sebelah kanannya- sampai Baixian menangis karena kesakitan. Pipinya memerah karena tamparan yang begitu keras ia terima dari lelaki itu, dan saat lelaki itu ingin kembali menampar Baixian- lelaki itu harus menerima sebuah pukulan menyakitkan pada wajahnya.
Ricard memukul lelaki itu membabi buta setelah lelaki itu tumbang kelantai. Orang-orang yang sebelumnya acuh kini tertarik untuk melihat apa yang tengah terjadi, Baixian mencoba menghentikan Ricard yang belum berhenti memukuli lelaki tersebut. Sampai akhirnya isakan Baixian berhasil menyadarkannya.
"Sekali lagi kau menyentuhnya, aku akan memotong jari-jari tanganmu atau bahkan membunuhmu." Ancamnya, setelah itu Ricard menarik Baixian keluar dari club.
Sebelum benar-benar pergi, Seunghun berhasil menyusul Baixian dan Ricard untuk menyerahkan jaket Baixian.
"Jika dia memintamu untuk pergi ke club lagi, jangan pernah menurutinya- atau kau akan berurusan denganku." Ricard mengucapkan itu pada Seunghun dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
Baixian semakin menunduk dalam karena rasa bersalahnya. Ia tidak tahu jika niatnya untuk bersenang-senang sedikit di club, justru harus berakhir dengan hal yang tidak di inginkannya.
Hampir saja ia kehilangan harga dirinya, jika Ricard tidak cepat datang- mungkin sekarang Baixian sudah menjadi korban pemerkosaan; dan masa depannya akan hancur begitu saja.
Ricard tidak berbicara selama perjalanan kembali menuju mansion keluarga Oh. Lebih tepatnya ia tengah menahan kesal karena gadis disampingnya, gadis yang membuat ia harus memukuli orang karena menolongnya. Tanggung jawab yang diberikan Sehun padanya, membuat ia kesal ketika melihat Baixian nyaris mendapat pelecehan di club.
Mereka sampai dimansion Sehun.
Baixian turun setelah Ricard turun dari mobil lebih dulu, langkahnya ia bawa masuk kedalam mengikuti Ricard yang sudah lebih dulu masuk kedalam mansion. Saat sudah didalam mansion, Ricard menatap tajam ke arah Baixian. Kedua iris tajamnya tampak menatap Baixian, menuntut sebuah permintaan maaf atau alasan dibalik kelakukan Baixian yang pergi ke club diam-diam- padahal sebelumnya Ricard sudah melarang Baixian untuk tidak pergi ke club.
"Maaf." Lirih Baixian dengan begitu pelan seraya menunduk dalam.
"Kau tahu, kalau aku tidak datang- mungkin kau sudah diperkosa oleh mereka." ucap Ricard penuh penekanan "Sekarang masuk kedalam kamarmu, jangan lupa bersihkan dirimu sebelum tidur. Jika besok kau berulah lagi, aku benar-benar akan melaporkan kejadian ini pada kedua orang tuamu." Ricard masih menatap Baixian, menunggu gadis itu menuruti ucapannya.
Baixian yang enggan berdebat berjalan ke lantai atas dimana kamarnya berada. Ia telah salah karena tidak menuruti ucapan Ricard dan juga orang tunya.
"Jangan lupa, kerjakan tugas yang aku berikan padamu!" Ricard kembali bersuara ketika Baixian berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Ricard menyusul Baixian ke lantai atas, bukan untuk masuk kedalam kamar Baixian- tentu saja ia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia duduk dipinggiran tempat tidurnya dengan kepalanya- yang tertunduk dalam. Ricard tidak mengerti kenapa ia semarah ini pada Baixian. Melihat gadis itu hendak dilecehkan, ia seperti melihat ibunya sendiri yang hendak di lecehkan- mungkin karena wajah mereka yang begitu mirip sampai Ricard merasa bersalah jika tidak menolong Baixian.
Padahal ia sudah bertekad untuk tidak ikut campur dalam kehidupan gadis itu, tapi semua berbeda ketika Sehun meminta ia menjaga gadis itu. Ricard mengusap wajahnya, mencoba bernafas dengan sewajarnya kala bayangan Baixian yang terlihat ketakutan kembali menyapanya.
Kejadian baru saja, membuat Ricard kembali mengingat kedua orang tuanya. Ia semakin menunduk dalam dengan kedua iris matanya yang memanas, kerinduan akan sosok seorang ibu dan ayah kembali menyeruak dalam hatinya. Ia menegadah menatap langit-langit kamarnya, mencoba untuk tidak menangis kala mengingat kedua orang tuanya. Ia harus tegar seperti biasanya, ia tidak boleh terlihat lemah apalagi didepan orang lain.
Karena jika ia lemah, ia tidak akan bisa membalaskan dendamnya.
'Masa lalu yang mengajarkanku, untuk tidak lemah menghadapi kejamnya dunia ini.' - Ricard.
.
.
.
.
To Be Continued...
