WARNING: explicit PWP, very very kinky, weird description.

Sasuke: 35 tahun | Sarada: 11 tahun |


Jemari kecil Sarada perlahan-lahan terangkat dan meremas lembut lengan sebesar pahanya itu.

Kulitnya kasar. Bulu-bulu halusnya menggeliti telapak tangan. Daging-dagingnya keras di genggaman. Dan kehangatan dalam tubuhnya terasa memanggang tangannya lembut.

Jiwa daranya mendorongnya untuk mengeksplorasi tubuh pria matang itu lebih jauh.

Jari-jari kakinya menjijit, kepalanya mendongak, bibirnya sedikit terbuka memandangi dagu yang kokoh di atas kepalanya. Bibirnya terasa kering dan ia merasa amat kehausan melihat pemandangan bibir basah itu dari bawah sini. Kedua tangan perkasa itu menggenggam kedua pipinya, memenjarakan kepalanya di antara kedua telapak tangannya yang besar. Membawa dagunya ke atas, sejajar dengan bibir itu sampai akhirnya ia akan dihampiri oleh lipatan basah itu dan ia tersedot di dalam isapan mulut yang menuntut kuasa.

Bibir pejantan itu mendobrak bibirnya, memaksa lenguhan serta deru napas masuk ke dalam mulut kecilnya, dan membuat anak itu merasakan lidah yang menggeliat marah di atas lidahnya.

Anak gadis itu memejamkan mata, merasakan tiap sentuhan dominan dan gejolak sensual yang menghangatkan kulit-kulitnya. Membayangkan sosok Sasuke yang begitu gagah itu mengamuk menginginkan tubuhnya.

Lenguhan napas itu seperti uap yang menyapu pipinya.

Dadanya mengejang dan memuncak ke atas, ketika dirasakannya tangan-tangan kekar itu dalam genggamannya. Yang didominasi kini membuka kedua bibirnya, merasakan lidah yang menggeliat seperti tubuh ular besar itu di dalam rongga mulutnya.

Dengusan napas mereka berat memburu. Antara kesulitan bernapas atau terlalu bernapsu.

Sarada mundur perlahan mendekati tempat tidurnya.

Tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Sasuke, ia mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Menyelonjorkan kakinya dan berbaring di atas bantal.

Sasuke menghampirinya.

Jantung Sarada berdegup keras saat Sasuke mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur dan memandangi wajahnya sekilas.

Kedua tangan Sasuke mendarat di kedua paha Sarada, masing-masing dengan tangan mencengkram paha yang tak lebih lebar dari telapak tangannya itu.

Jari-jarinya memijat, kemudian mencengkram perlahan-lahan naik ke pinggulnya. Hujaman jari-jemari Sasuke yang besar memberikan sengatan di saraf-saraf yang dilaluinya terutama saat sudah tiba di bagian perutnya yang mengempis saat anak itu membusurkan tubuhnya kencang, dengan menyisakan tulang iga yang menjolak dari dalam. Napasnya tertahan di pusar dadanya yang membusung. Jari demi jari mengebur lereng dua bukit buah dadanya. Jari itu terus mendorong hingga ke ketiak sampai kain sutera itu terdedah ke lehernya.

Anak itu memejamkan mata dan merasakan perut dan buah dadanya yang sehari-harinya terbungkus kain fabrik itu kini diraba udara malam yang menari-nari di atas pusar dan kedua puncak putingnya dengan leluasa.

Jari-jari Sarada meremas seprei di atas kepala, menahan gejolak untuk tidak melenguh.

Kedua telapak tangan Sasuke mengoyak-oyak dua bukit milik anak empat belas tahun di dadanya seperti membuat adonan. Jempol dan jari-jemarinya bersinergi untuk membuat daging kenyal kedua payudara yang masih belia itu teraduk-aduk hebat. Memijat-mijatnya seperti ingin memerah saripati dan menyemburkan likuid lewat kedua putingnya yang kini mengeras layaknya cokelat padat. Meremasnya keras. Dada Sarada semakin membumbung tinggi, tubuhnya tergugah, lehernya mendongak.

Kedua tangan Sarada terbentang di atas kepala dengan jalinan jari yang saling bertautan erat. Ketiaknya disapu udara.

Kedua telapak tangan Sasuke terus memborbardir dan memijat ganas kedua gundukan daging lunak itu, memberi stimulasi demi stimulasi, hingga aliran darah di seluruh tubuh anak itu memusat pada satu titik di puncak putingnya dan membuat kedua payudaranya menegang dan mengeras sempurna, dan pada satu titik punggungnya melentur ke belakang hingga ia tak merasakan apa-apalagi selain gejolak libido di sekujur permukaan tubuhnya dan perasaan mendesir di lipatan selangkangannya.

"Angh–"

Hawa dingin menjalar dari buah dada ke selakangannya.

Sementara tangan kanan Sasuke masih melumat payudara kanan yang menegang itu dengan rangsangan dan remasan yang lebih kencang, telapak tangan kiri Sasuke menjulur menuju bagian Selatan tubuhnya, mengarungi payudara kiri, menyeberangi perutnya yang mengempis, menelusuri tulang pinggulnya, hingga menjolok ke area renggang di antara kedua pahanya yang melebar.

Tubuh Sarada yang masih menegang dan mengeras, tak memperhatikan apa yang sedang diperhatikan Sasuke di bawah sana.

Ketika dua jari seperti sosis itu membentur-bentur dinding celana dalamnya, voltase listrik kecil menyengat sekujur tubuhnya.

"Hhah–"

Kedua pahanya dirapatkan kembali dan tangan Sasuke menarik celana dalamnya melintasi pahanya, hingga terlucuti dari kakinya.

Sarada membuka kedua pahanya lebar-lebar, membaringkan keduanya dalam-dalam hingga terbuka sempurna. Udara dingin menyapu cairan kental yang menggenangi labia vaginanya.

Tubuh Sasuke merosot hingga bibirnya sejajar dengan puncak payudara kiri padat yang hanya terbungkus udara. Mulutnya terbuka dengan lidah yang amat basah dan melahap gumpalan daging kecokelatan itu dengan kenyotan bertenaga. Menghisap dengan seluruh energinya seperti ingin menelan puting yang mengeras itu.

"Hhhh–"

Tubuh Sarada memanas hebat.

Kedua payudaranya mendapat stimulus yang masing-masing menghisap dan mengenyot kuat.

"Nghh-"

Cairan di bawah tubuhnya yang terpajang leluasa itu terasa semakin bertambah banyak seiring dengan dua jari besar yang menyapu-nyapu daging basah di dalam sana.

Terlalu nikmat.

Sarada ingin yang lebih dari ini.

Tanpa menghentikan stimulus yang bergelora di puncak dadanya, kedua jari itu menjeblos masuk dan menerobos tirai-tirai daging yang bersimbah cairan pelumas kewanitaan, membasahi dirinya sendiri dengan cara menggosok-gosokan seluruh jarinya dalam balutan daging berair kental itu dengan lumatan pelan.

Jari itu masuk lebih dalam.

Ujung-ujungnya yang tumpul menjulur lebih dalam hingga membentur dinding ternikmatnya di dalam sana dan menggeliat berani.

Tubuh anak empat belas tahun itu tersentak gila.

"Angh–"

Jari-jari tumpul menggedor-gedor dinding kemaluannya seiring dengan tarikan napasnya yang semakin berat. Dadanya memuncak ketika ketukannya tak lagi selaras, melainkan memompa dua kali dalam sekali tarikan napas. Dinding-dindingnya menjepit, pintu pahanya semakin membuka lebar.

Kini tangan itu menyodok-nyodok lipatan daging itu berkali-kali, menjotos kuat-kuat hingga daging-daging basah itu bergeletar dan tersengat terus-menerus. Seperti mesin pengebor jalanan, bunyi kecipak-kecipak yang cepat membawa cairan pelumas dalam tubuhnya bergegas memburu keluar.

"Aaanghh-angh-"

Tubuh anak itu tak dapat berkutik. Ia hanya mempu mengencangkan otot-otot dada dan perutnya, memaksa kakinya tetap terbuka dan mengejar orgasme.

Tangan Sasuke yang bermanuver cepat mengebor tubuhnya, seketika dibanjiri oleh cairan kewanitaan hingga manuvernya semakin licin dan lincah. Beberapa percik air mani mulai menyiprati seprei di bawah pantatnya.

"Hhanghaanghahanghangh-"

Sarada merasa ingin segera buang air kecil.

Dengan skala yang amat besar.

Kepalanya mendogak memburu oksigen. Kedua tangannya masing-masing memegangi tangan dan kepala Sasuke yang masih menstimulasi buah dadanya. Pinggulnya ikut berayun, menenggelamkan genitalnya lebih dalam. Berayun makin keras. Dan semakin keras. Semakin cepat. Sangat cepat.

"Haannghh–"

Pinggulnya terus bergerak cepat. "Hngh-hngh-hngg-"

Tubuhnya teraduk-aduk makin keras.

Pelumas kewanitaannya terciprat-ciprat membanjiri pergelangan tangannya dan Sasuke sama sekali tidak menurunkan tempo stimulan seksualnya.

Sarada ingin buang air kecil sekarang.

Percikan-percikan cairan bening menciprat-ciprat pergelangan tangan Sasuke.

Pria itu menarik jarinya keluar dari lahapan bibir bawah yang bergetar.

Pantatnya tersentak ke udara. Tubuh kecil itu mendorong kuat seluruh cairan yang mulanya tersumbat jari Sasuke, merasakannya kini menyembur deras seperti selang air.

"Angh!"

Anak itu mengejang dan mengetatkan dinding vaginanya, menghempaskan cairan orgasme dengan seluruh tenaganya dan menyemprotnya dengan seluruh sisa tenaganya, menyembur kencang dalam jumlah volume cairan amat banyak, terhambur begitu saja.

"Ah-angh-aaangh–"

Cipratan ejakulasinya yang pertama. Dorongan itu terus menyemprot dan menerobos dinding-dinding vaginanya dengan amat cepat, seperti seprotan selang air yang amat deras, menyembur di hadapan Sasuke.

Ia mengejangkan seluruh otot dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan orgasme terakhirnya dengan sisa-sisa tenaganya.

"Ngg-aaaghh-"

Cairan terakhir menyembur lemah.

Dadanya terpompa naik turun. Ia merasakan jari-jemari Sasuke masih meremasi buah dadanya dengan erat. Membawa tubuhnya terayun-ayun setelah masa orgasme. Dan ia merasakan tubuhnya amat basah sekarang. Sementara genangan ejakulasinya masih penuh di bawah sana.

Kadar oksigen yang terserap habis di otaknya membuat kesadarannya tercabut perlahan-lahan. Pompa jantung yang menggebuk-gebuk keras dadanya. Keringat hangat yang merambati tubuhnya. Napas yang menyesak dan memberat.

Sementara Sarada perlahan-lahan mulai kehilangan kesadaran, tubuh Sasuke masih melumat habis suguhan payudara berkeringat yang mengeras di hadapannya.