Candy Izumi Kaori

Haikyuu!! Furudate Haruichi

Warning : Ranjau Typos, ooc, gaje banget


Hope u enjoy this.

Happy reading ...

.


.

Dengan menggunakan baju 'aneh' dengan sablonnan tulisan hiragana campur kanji di bagian depan, Kageyama dengan kepercayaan diri penuh walau terpaksa. Karena tentu saja dirinya gugup masuk ke kawasan sekolah orang lain, apalagi ini adalah sekolah tempatnya mantan seniornya yang menyebalkan.

Tatapan-tatapan aneh tak sedikit dilayangkan kepada dirinya yang terlihat canggung saat berjalan melewati gerbang sekolah. Tetapi bodo amat, pikirnya. Tujuannya adalah melihat permainan voli sekolah ini, demi dirinya, demi timnya.

Perjalanan lancar tanpa hambatan, dan kini Kageyama sudah sampai di sisi bangunan gymnasium yang ia tebak sedang digunakan oleh klub voli. Mencari celah untuk mengintip, dan menemukan kaca geser lalu membukanya pelan-pelan. Lalu dirinya terperangah. Sip, dia mendapatkan informasi yang berguna untuk timnya.


Sudah lebih dari 2 jam, Kageyama memperhatikan permainan mereka. Merelakan dirinya yang libur latihan klub, hanya untuk ini. Tetapi tak apa, dia sudah meminta izin pada Daichi, ini juga demi kepentingan tim.

Setelah mendapatkan kesimpulan, tanpa bantuan catatan atau rekaman, karena Kageyama mahir dalam urusan seperti ini, voli itu sangat mudah dimengerti oleh otaknya. Kageyama segera meninggalkan tempat persembunyiannya, setelah mendengar pintu gym yang terbuka, sepertinya waktunya bubar.

.

Dengan sedikit berlari, Kageyama akhirnya sampai di halte bus. Hari mulai gelap, dan kenapa bus terasa lama sekali datang, itu yang dirasakan Kageyama. Sebenarnya apabila dia terciduk oleh mantan seniornya disini tak akan menimbulkan masalah besar. Mungkin dia akan mendapatkan cibiran atau sindiran pedas dari mantan senpai-nya itu.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya bus pun datang. Kageyama segera naik. Melihat ke sekeliling, tak terlihat tempat duduk yang kosong. Sedikit menghela nafas kasar, yang membuat wanita disebelahnya kaget.

Bus yang ditumpangi Kageyama sepertinya mulai melaju, sebelum di rem lagi. Satu penumpang masuk. Kageyama memperhatikan sekilas. Hanya seorang siswa, seumurannya, Aoba Johsai. Tunggu, Aoba johsai?

Kageyama menunduk dengan hati komat-kamit, supaya tidak ternotice. Sebenarnya tak apa-apa. Toh orang itu adalah mantan rekan seklub nya dulu. Hanya saja, mereka tidak dekat.

Selama Kageyama menunduk, sepasang sepatu olahraga terlihat mendekat kearahnya. Ia tahu siapa pemiliknya. Namun tak ada suara. Hanya suara deru bus yang terdengar nyaring.


Perjalanan terasa sangat panjang. Dan orang ini kenapa tidak duduk saja, padahal kursi sudah ada yang kosong. Kageyama tidak mengambil tempat duduk itu, merasa sangsi. Walaupun mereka tidak terlalu dekat, namun dirinya masih tahu tatakrama, walaupun sedikit. Mungkin sama hal nya dengan orang di sampingnya.

Kageyama berpikir tanpa menelisik orangnya. Kunimi, biasanya selalu bersama dengan manusia dengan kepala lobak (kata Hinata), tapi sekarang hanya sendirian. Ingin ditanyakan sebagai basa-basi, diurungkan, alasannya mereka tak dekat.

Dan beginilah. Hening, mereka berdua kenal, pernah setim malah, tapi tak dekat. Mungkin tak ingin dekat, Kageyama tersenyum pahit.

Suara plastik, seperti bungkus permen terdengar sangat dekat. Kageyama sungkan untuk sekedar menoleh. Tapi tak disangka-sangka, sebungkus permen dengan kemasan berwarna coklat yang sering terlihat terpajang di konbini ada di hadapannya, tepat di depan wajahnya. Kageyama meraihnya, lantas menoleh kepada orang yang memberikannya. Tanpa kata. Kunimi cuek, seperti dirinya tidak melakukan hal yang mengejutkan saja.

"Ini... Untukku?" Ucap Kageyama pelan namun terdengar jelas oleh telinga tajam Kunimi. Yang ditanyai menolehkan wajah kearah lain. Tak bersuara. Lalu Kageyama mengepalkan tangan bersamaan dengan permen yang Kunimi berikan, cukup sakit rasanya di kacangin.

"Sama-sama." Kageyama membelalakan mata, suara yang pelan seperti sindiran, tapi terdengar seperti angin sejuk bagi Kageyama. Kunimi berbicara padanya. Kageyama tersenyum simpul lalu mengatakan 'terimakasih' walau dengan sangat pelan.


Di halte berikutnya, Kageyama harus turun. Berjalan sebentar dan dirinya akan sampai di sekolahnya. Kembali ke gym, yang dipastikan rekan-rekannya masih berlatih disana. Kageyama kan datang dengan membawa informasi penting, ya tentu saja harus ditunggu.

Dan pada akhirnya, dirinya bahkan Kunimi pun tak berkenan untuk duduk di kursi kosong. Hanya dengan berpegangan pada besi di atas kepalanya. Tapi tak apa-apa. Mood Kageyama mendadak jadi terasa sangat baik, entah kenapa.

Kageyama turun, tanpa kata, tanpa pamit pada mantan rekannya yang masih terdiam ditempatnya. Setelah menapak kembali keatas trotoar, dirinya tidak lantas pergi begitu saja. Ada perasaan menggelitik, setidaknya melihatnya saja membuat hatinya tenang, atau mungkin Kageyama tidak ingin meninggalkan kesan buruk untuk Kunimi?

Samar, namun terlihat jelas bagi Kageyama. Di dalam sana, di dalam bus, lewat kaca, telihat sebuah tangan yang terangkat kearahnya. Melambai pelan, jika Kageyama tidak salah lihat. Dan balasannya hanya dirinya yang melongo, tak sempat memberi respon apapun.

Melihat respon Kageyama yang sangat priceless, Kunimi hanya memasang senyuman meledek.

"Dasar, ou-sama."


—FIN—