Terkadang, aku ingin bertahan menjadi rahasia.

Daripada terungkap tapi tidak dipedulikan.

Namun, kita tak pernah benar-benar tidak peduli.

Sampai itu terjadi pada kita.

Sampai kita menjadi rahasia itu sendiri.

Hingga, kau terjadi padaku

Terjadi dalam diriku.

Terjadi dalam hidupku.

Lalu menjadi rahasia yang malu terungkap.


Larilah, kembali ke sini. Tempatmu pulang bukankah aku? Kau mungkin sudah salah memilih rumah. Yang nyatanya, hanya sebuah singgah. Berdamailah dengan hati, berdamai dengan diri. Jadilah pulangmu kali ini sebaik-baiknya penghantar nyaman. Aku akan menerima dengan hangat. Baik banyak marah, pun sedih. Begitu pula kerendahan hati untuk memaafkan.

Aku akan menyampaikan padamu tentang Sang pemberi kesempatan, Dia begitu romantis dengan segala kejutannya. Aku jamin kau akan tersipu malu melihat bagaimana cara-Nya mengabulkan doa. Biarkan dirimu untuk lebih menerima semua kejadian, sekaligus kesalahan yang kau perbuat. Namun, tak kau sadari.

Aku akan membantu. Menjadi kawan sejati dalam perjalanan penebusanmu. Akan kucurahkan semua cinta dan karsa yang ada padaku untuk menjadi kekuatanmu. Karena kau adalah langitku. Bumi tak akan mampu memupuk niat tanpa langit, bukan?


Disclaimer : Not own anything

Note : Pernah di-publish sebelumnya di akun saya yang lain. Kembali mem-publish-nya di sini, agar tetap terpahat, berharap menjelma menjadi suatu kebutuhan bagi pembacanya.


Banyak datang tak mengenal tinggal, tapi lupa bagaimana memahami secara mental. Banyak naluri yang berbuat egois, tanpa sadar membuat dirinya menjadi antagonis. Berdamai dengan diri, berdamai dengan hati. Terimalah semua kejadian, pun kesalahan. Tidak ada yang lebih salah diantara nurani-nurani. Saling ego tentang menjadi yang paling terluka. Jadilah pulang yang sekarang, bukan hanya sekedar singgah. Tapi, rumah untuk sembuhnya semua dendam. Dimulailah dari memaafkan.

Naruto sangat memahami. Semua akan dimulai kembali, ketika saling memaafkan. Cukup besar tuk mengampuni, tuk kembali mengasihi, tanpa memperhitungkan masa yang lalu. Saling memahami isi diri masing-masing. Akan pilihan orang lain, yang memilih pergi untuk rasa yang lebih patut dibersamai.

Meski berat untuk dipikul keikhlasan, beribu-ribu kali ego memaki-maki bodoh, meski semua ini membuatnya lelah. Ia pun sudah berusaha keras mengakhiri, menyudahi, tapi hati yang dibungkus cinta memang sulit dinasehati. Sekeras apapun naluri mendidik, nurani dan kekeras kepalaannya menolak untuk pergi.

"Pada bait ke sekian, diksi-diksi yang berbaris. Kehilangan arah setelah koma yang berkepanjangan. Mereka baru menyadari bahwa dirinya hanyalah potongan tanya utusan penyebar Agung. Yang saling mencari penjelasan, saling mengartikan makna sendiri. Kemudian tetap menjadi tanya, tetap mencari, dan menemukan."

Langkah kaki kini merasa sepi. Dulu, meski sering tidak beriring, hanya terkadang ditemukan sepijak. Sakura belum pernah merasa ditinggalkan, belum pernah merasa kesakitan. Dia tahu, semua terjadi karena pilihannya sendiri, karena nalurinya yang berkhianat kepada nurani. Sekarang, ia merasa tidak yakin. Dari dan kepada yang pernah ia percaya. Karena pada sebelum-sebelumnya, Naruto selalu membuatnya merasa yakin.

"Jika ditemukan tempat yang paling bersahaja, untuk menaruh rindu-rindu yang manja, karena rahasia-rahasia yang sulit dieja. Jaga itu raga! Kehadirannya ditunggu banyak malaikat dan seisi jiwa, yang bernapaskan doa-doa paling mendunia."

Setahun sebelum ini, Naruto tidak seperti dulu yang melulu menebar senyum selalu dalam kerumunan, karena yang selalu terjadi bertolak-belakang untuk dikiaskan. Masih dapatkah senyum di kesendirian? Yang benar-benar tumbuh melalui nurani. Mampukah untuk tetap mencintai dalam ketertinggalan? Dari sesal-sesal yang dipaksa pergi.

Ketika pelupuk pipinya basah demi seulas senyum seseorang yang begitu ia kasihi, entah itu bentuk keputusasaan atau kerendahan hati. Hal yang seharusnya dipahami, semestinya mereka saling memahami hati setiapnya. Sebab dibenamkam ego, nurani tak mampu angkat bicara.

"Kita pernah menjadi narasi, yang berharap tidak pernah usai, namun berhenti pada satu titik, setelah kata sudah. Kita pernah menjadi diksi-diksi tertulis, yang menyusun serangkai arti, namun tersandung nada-nada lirih, yang menyenandungkan perih."

Naruto akhirnya kembali dapat merasakan. Dari persimpangan jalan, melihat Sakura duduk di bangku taman, sedang bertemankan kesayuan. Naruto tidak bisa untuk memilih, antara terbuai atau terlena? Pilihan-pilihan yang berkaitan dengannya tidak pernah benar-benar berlawanan.

Kunang-kunang tidak ada yang bergerak menghampiri Sakura, mereka takut akan ketidakmampuan sebagai penumpas kesayuannya. Burung Hantu enggan untuk bernyanyi, merasa sunyi lebih sanggup daripada niat-niatnya. Mereka-mereka pasti berpikir, makhluk seperti mereka, tidak mungkin untuk dipantaskan, menjadi pelipur dari yang lebih baik diciptakan. Meski berasal dari sebaik-baiknya Pencipta yang sama.

"Sakura?"

Sakura tersentak. Suara ini, adalah doa-doanya yang paling harap, yang meski telah lama, nada-nadanya masih begitu membekas di palung sukma terdalam. Namun, juga tidak untuk ia duga-duga. "Naruto?" mata Sakura tampak berkaca-kaca, berjuta-juta haru tenggelam dalam linangnya, bak ombak yang pecah dari bagian paling laut matanya.

Naruto merasakan dekapan yang kuat akan perih pada tubuhnya. Tangis redam Sakura yang terdengar, terasa sangat sakit ketika menyuntik gendang telinganya. Naruto memberi penuh pundaknya untuk kesedihan Sakura yang tumpah. Nuraninya meminta kepada dua tangan untuk mendekap tubuh sedang lemah itu, yang dengan sepenuh hati dikabulkan kedua tangannya.

Pada suatu pertemuan, kita selalu menemukan.

Penjelasan,

Dari semua tunggu yang rela kita nantikan tanpa lelah.

Pada suatu kehilangan, kita sadar.

Bahwa penjelasan baru saja tiba,

Sedang di awal, hanyalah pertanyaan yang menjelma jawaban.

Akhirnya, kita tidak lebih dari potongan rindu,

Sisa-sisa tanya yang tak sempat bertemu kepastian.

Keburu habis digerus tanya demi tanya,

Dari satu kepergian menuju kepergian yang lain.

Hidup tak pernah rumit,

Yang rumit hanyalah rasa syukur.

Karena kita selalu mempertanyakannya.

Cinta akan selalu menemukan, terkadang dari hal-hal yang pernah menjadi bagian paling dekat. Melalui kehadiran-kehadiran yang tak pernah pergi. Dari pergi-pergi yang tak lupa kembali. Dari kembali-kembali yang tak pernah salah memilih. Dari pilihan-pilihan yang tetap dipertahankan. Dari kebetulan-kebetulan yang mengejutkan. Dan keteguhan-keteguhan hati yang tak mampu dipatahkan


Epilogue

Siapa yang bisa memastikan bahwa setiap hal yang kita temui adalah untuk kepentingan kita sepenuhnya?

Pesan demi pesan adalah sebuah pengantar kekacauan. Mengarahkan kita pada banyak pertanyaan.

Sedang, mencari jawabannya sama sekali tidak pernah ada dalam rencana hidup.

Karena,

Tuhan Maha Bergurau dengan segala jawabannya.

Karena,

Tugas kita adalah mencari asal muasal pertanyaannya,

Bagaimana kita tidak kacau.

"Aku bingung, siapa yang menciptakan ini?" Sakura membawa tangan kanannya kepada dada kiri Naruto.

Naruto tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan Sakura. "Sakura, Tuhan dengan segala rahasianya, tugas kita hanya mengimaninya saja."

"Kamu gak penasaran?"

"Rasa penasaranku lunas, dibayar tunai oleh arti yang bisa kita dapat dari semua ini. Sudah waktunya pulang."

"Terus, kita harus pulang ke mana?"

"Kita hanya menolak tahu karena gak ingin pulang."