"Untuk semua barista dan koki di Karasuno Coffee Lab, terimakasih sudah terus berkontribusi, tanpa kalian Karasuno Coffee Lab bukanlah apa-apa! Semua hasil yang kita rasakan ini adalah hasil dari keringat dan perjuangan kalian dalam berkontribusi di dunia perkopian baik di Prefektur Miyagi sendiri, nasional, dan Internasional. Arigatou gozaimasu!"

Semua bertepuk tangan karena kata sambutan pimpinan mereka sekaligus q-grader* di Karasuno Coffee Lab; Daichi Sawamura yang tersenyum dengan bangga sembari melihat ke arah mata sang kekasih; Sugawara Koshi, kemudian Daichi turun dan menghampiri Sugawara.

((Q Grader adalah pencicip kopi profesional yang diakreditasi oleh CQI atau Coffee Quality Insititute yang berada di Caifornia))

"Tanpa dukungan kamu, aku dan anak-anak tidak bisa sampai sesukses ini, Sugawara."

Sugawara pun tersenyum, dan kemudian menyentil gemas hidung milik Daichi, "Kalau begitu, douitashimashite, Mura-kun."

"Oi, oi! Kalian mending pergi terus booking kamar, dimana kek gitu. Anjir." Tanaka sang koki merasa kesal. Dan keduanya tertawa.

"Maaf, Tanaka-kun ahahahaha—" ucap Sugawara.

Anak buah Daichi sudah menganggap Daichi Dan Sugawara sebagai keluarga mereka sendiri. Karena Daichi ingin mereka merasa nyaman bekerja di Karasuno Coffee Lab. Meski begitu, anak buahnya pun tetap tidak lupa bahwa Daichi dan Sugawara adalah pimpinan sekaligus termasuk orang penting di skena perkopian Jepang sehingga mereka tetap sopan.

Karasuno Coffee Lab; sebuah kedai kopi biasa dan bukan hanya tempat untuk membeli secangkir kopi. Tapi tempat dimana laboratorium khusus penelitian kopi berdiri disini. Tempat para calon pro barista untuk mengambil sertifikasi mereka.

Bahkan Karasuno Coffee Lab sudah mempunyai kelas kopi mereka sendiri dan Karasuno dapat memberikan sertifikat kepada para pro barista yang berhasil mengikuti kelas mereka.

Karasuno juga sudah terdaftar CGI bahwa mereka mempunyai wewenang mengangkat para calon profesional barista di Jepang.

Ada tiga tahap coffee shop yang ada di dunia.

Pertama; Coffee Brewery artinya kedai kopi yang ditingkatan ini hanya menyeduh kopi, mereka tidak membakar kopi dan membeli kebutuhan biji kopi mereka kepada supplier coffee roaster.

Kedua; Coffee Roastery artinya kedai kopi ditingkatan ini sudah mengerti cara membakar kopi sendiri, mereka tidak beli kopi dari supplier karena mereka dapat melakukan roasting kopi mereka sendiri.

Terakhir yang ketiga; Coffee Lab. Karasuno Coffee Lab sudah berada ditingkatan paling tinggi bahkan mereka sudah terdaftar CGI.

"Oh iya, Tanaka. Dimana, Kageyama? Aku mau ngomong."

"Oh, dia ada di ruang coffee roaster*."

((coffee roaster = pembakaran biji kopi))

Daichi menghela nafas, "Hahh, astaga anak itu isi otaknya hanya kopi, padahal udah dibilang kalo hari ini waktunya kita bersantai dan bersenang-senang tapi dia masih aja mengulik biji kopi, pantas saja dia tidak punya kekasih." celotehnya.

"Suga, aku mau ke ruang coffee roaster. Kageyama ada disana, aku mau bicarain hal yang kita diskusikan kemarin."

"Oh, okay! Apa kamu yakin dia mau, Mura-kun?"

"Harus mau, kalau dia enggak mau aku bakar semua penelitian biji kopinya dan rencana pergi ke petani kopi di Afrika untuk penelitiannya aku batalkan."

Daichi pun menghampiri Kageyama diruang coffee roaster, dari bilik jendela terlihat bahwa Kageyama sedari tadi mengawasi pembakaran biji kopinya sambil menulis catatan di notes kecil.

KRIEET—

"Heh, Kageyama." panggil Daichi.

"Ada apa, Daichi-senpai? Apa kau tidak liat aku sedang apa?" ucap Kageyama tanpa menoleh Daichi.

BUK—

"ADUH! ASTAGA SENPAI! KENAPA UBUN-UBUNKU DITABOK SIH! PAS DI PITAK PULA ELAH, KESEL!" Kageyama kesal sehingga suaranya mulai sedikit meninggi.

"Kamu dari tadi gak dengerin aku ngomong! Ban—"

"Oh, gomenasai senpai."

Daichi menghela nafas, "Astaga udah berapa kali hari ini aku menghela nafas gara-gara kau, Kageyama Tobio bangsat."

Kageyama tetap mengacuhkan Daichi dan kembali melanjutkan aktifitasnya.

"Kageyama, aku mau kau mencari seseorang. Untuk dilatih rutin mengikuti Japan Brewers Cup tahun depan."

Kageyama masih mengacuhkan Daichi, kali ini lebih tepatnya Kageyama pura-pura bego, dan jadi tuna rungu mendadak.

"Kageyama, aku tau kau pura-pura budek! Matikan alat roasting nya!"

"Hah? Daichi-senpai apa kau gila? Ini sudah setengah jalan proses pembakaran dan aku tidak akan mematikannya! Astaga, biji kopi yang aku roasting ini kubeli dari petani kopi Brazil secara langsung!"

"Kageyama Tobio, aku akan membatalkan penelitian kopi mu bersama para petani Afrika kalau kau tidak mau mematikan alatnya. Matikan. Sekarang." intonasi berbicara Daichi mulai rendah, itu bukan pertanda baik. Daichi berarti sedang di fase kesal bahkan sangat kesal.

Tanpa banyak bicara dan menyahut seperti tadi, Kageyama langsung mematikan alat roasting nya. Persetan dengan biji kopi yang ia beli dari petani Brazil secara langsung. Penelitian biji kopinya bersama para petani Afrika lebih penting untuknya sekarang.

"Kau memang ahli dalam mengancam senpai, astaga."

"Lalu, senpai mau sang juara dengan kriteria seperti apa? Lagipula masih ada Tsukishima, Noya dan Shimizu jika mau dimajukan untuk mengikuti Japan Brewers Cup tahun ini." lanjut Kageyama.

Tentu saja, Kageyama tidak menyebutkan dirinya. Dia lebih senang meneliti biji kopi lalu melakukan roasting kopinya. Meskipun dalam hal menyeduh kopi Kageyama tak kalah hebat dengan teman-teman baristanya.

Menurut Kageyama, kunci teman-temannya juara bukan hanya metode dan ketepatan waktu saat mereka menyeduh. Roasting kopi yang tepat menjadi kunci yang dapat menghasilkan sebuah rasa kopi yang balance.

Acidity. Sweetness. Bitter.

Mereka semua harus seimbang. Dan jika itu berhasil berarti itu juga karena berkat metode roasting kopi Kageyama yang tepat dan akurat!

Itulah mengapa Kageyama disebut "Raja Sukses Para Gagak Jepang" di skena perkopian Jepang.

"Aku mau membawa mereka untuk mengikuti lomba diluar Jepang. Mereka harus lebih mengikuti lomba diluar sana. Aku mau menempatkan Tsukishima untuk ikut Sydney Latte Art. Kemudian Nishinoya di Dutch Brewers Championship dan Shimizu di kejuaraan khusus wanita penyeduh Internasional."

"Dan aku butuh kriteria yang rasa keingintahuannya terhadap kopi sangat besar, pantang menyerah serta dapat kerja dibawah tekanan!"

"Oh tentu saja dengan kesehatan yang stabil, kalau tidak lambung nya bisa meledak. Dan bukan seorang perokok."

Tentu saja Daichi tidak ingin anak yang akan dia majukan di lomba seorang perokok, karena rokok dapat menganggu indra perasa. Di dalam dunia perkopian, indera perasa adalah aset para barista.

Setelah Daichi berbicara banyak, Kageyama pun membuka suara "Okay, itu mudah! Ada lagi?"

Daichi tersenyum entah senyumnya tidak bisa di deskripsikan. Senyum tulus? Bukan. Senyum licik? Juga bukan. Tapi yang pasti, Daichi tahu apa yang dipikiran Kageyama sehingga bisa asal menerima semua kriteria yang Daichi sebutkan tadi.

"Yang terakhir, calon anak buahmu tersebut harus bukan seorang barista yang bersertifikat. Aku mau seseorang yang tidak berpengalaman soal menyeduh kopi."

Kageyama tertegun dan bola matanya membulat "Wow, okay ini sulit."

Daichi tertawa, "Aku sudah bisa menebak bahwa kau mau menarik berberapa orang yang daftar mengambil sertifikasi pro-barista disini atau bahkan di coffee lab lain."

"Daichi-senpai, waktuku bukan hanya untuk mengajarkan mereka menyeduh kau tahu sendiri list penelitian ku untuk mengulik kopi sangat banyak."

Daichi menggelengkan kepalanya, "Kalau kau begini terus, gimana bisa punya pac—?"

"Kopi itu prioritasku, senpai." potong Kageyama.

Daichi tak mau kalah, "Bukannya mengulik kopi bersama orang yang kau sayangi akan terasa lebih menyenangkan, Kageyama?"

"Aku sudah melihatmu dan Sugawara-san kerjaan kalian hanya bucin meski kalian berdua adalah seorang q grader."

"Jangan salah, kau tahu? Saat kita sedang berdua, selalu saja ada argumen tentang dominan flavor dari secangkir kopi yang kami minum. Dan itu melelahkan, Kageyama! Padahal aku inginnya peluk-pelukan bahkan berbuat sesuatu yang lebih daripada sekedar berbicara tentang kopi! Yah... meskipun Sugawara tak kalah hebat dalam hal penelitian kopi seperti kau, tapi dia juga hebat di kasur lho hehehe" jelas Daichi dengan waja tanpa dosa.

Mata Kageyama terbelalak dan pipi nya langsung merah padam.

"DAICHI-SENPAI GAK USAH DI JELASIN ASTAGA TELINGAKU! Kalian mesum, bangsat."

"HAHAHA GOMENASAI KAGEYAMA! GOMENASAAAI HAHAHAHA!"

Daichi tertawa puas sampai mengeluarkan titik air mata. Ya karena saking puasnya membuat Kageyama malu sendiri.

"Kalian yang melakukan tapi aku yang malu, sialan..."

Daichi pun tersenyum, "Coba pegang omonganku, Kageyama. Tapi aku yakin, jika kau dapat menemukan seseorang yang seperti itu, hidupmu akan terasa lebih menyenangkan. Nah, mulai hari ini kau coba cari seseorang tersebut."

Daichi pun mulai kembali menatap Kageyama dengan serius, "Kageyama, kau tahu kenapa aku tidak mau ambil seseorang yang sudah punya sertifikasi pro barista? Karena mereka orang-orang yang sombong, kau tahu sendiri maksudku seperti apa. Istilahnya kebanyakan dari mereka menjadi seseorang yang congkak dengan ilmu yang baru seberapa. Dan tantangan yang aku berikan padamu hanya seperti mengulas batu berlian yang benar-benar masih tak berbentuk, sulit memang tapi ketika kau berhasil membentuknya menjadi suatu berlian yang indah dan bernilai kau akan merasa puas dengan hasilnya. Bahkan kau akan memiliki perasaan tidak rela jika berlian yang kau bentuk itu dijual atau dimiliki oleh orang lain selain kau sendiri."

Kageyama pun terdiam, omongan Daichi tidak ada salahnya memang.

Entah kenapa tiba-tiba jiwa dan hati Kageyama membara dan tergerak, tak lama kemudian Kageyama tersenyum tipis.

"Baiklah senpai, aku akan cari batu berlian yang kau maksud tersebut."

"Aku percaya padamu. Kageyama Tobio."

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

geisha / kagehina

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

Waktu menunjukan pukul 8 pagi. Itu berarti waktu yang tepat untuk pengangguran tidak tetap seperti Hinata Shoyo melakukan aktifitas seperti membuat sarapan untuk ibu dan adiknya; Hinata Natsu, merawat tamaman, mengajak anjing peliharaannya jalan pagi sekaligus jogging.

Hinata tidak melanjutkan kuliah karena tidak punya biaya. Ayah Hinata sudah lama meninggal.

Ayahnya meninggalkan mereka ketika usia Hinata menginjak 16 tahun. Dan setelah berberapa bulan mendiang ayahnya pergi, ibunya pun jatuh sakit.

Sekarang, ia harus menjadi tulang punggung keluarga. Hinata bekerja sebagai pengantar pizza di siang hari dan menjadi tukang cuci piring di restoran bintang lima pada malam hari.

Setelah Hinata selesai melakukan semua aktifitas atau kebiasaanya di pagi hari, dia pun menuju ke kamar mandi.

Ya, tentu saja untuk mandi.

Setelah selesai mandi, ia kemudian bersiap-siap untuk pergi berangkat bekerja sebagai pengantar pizza.

Ketika Hinata ingin bersiap, mata terang hazelnut miliknya terpaku dengan foto ayahnya dan sertifikat-sertifikat milik ayahnya saat masih muda.

Hinata Shouhei

#1 Japan Brewers Cup 2003

Hinata pun tersenyum melihat semua pencapaian ayahnya untuk menjadi penyeduh terbaik se-Jepang bahkan kemampuan ayahnya dalam dunia skena kopi diakui oleh Internasional juga.

Namun ketika ayahnya meninggal semua berlalu begitu saja, bahkan nama ayahnya pun sudah dilupakan dengan cepat di skena perkopian Jepang.

"Tousan, maaf aku tidak bisa meneruskan perjuanganmu di dunia kopi ini."

"Aku memang tidak berguna."

Hinata tersenyum miris, pelupuk matanya sudah mulai penuh karena air mata yang siap jatuh. Buru-buru Hinata mengusap air matanya dan kemudian berangkat dengan sepedanya menempuh perjalanan tiga kilometer untuk ke tempatnya bekerja.

Di dalam lubuk hati Hinata, ia ingin menjadi seorang barista hebat seperti ayahnya lebih tepatnya ingin meneruskan perjuangannya. Hinata sangat tertarik dengan kopi bahkan dia tidak bisa hidup tanpa kopi. Setiap hari dia harus minum minimal dua cangkir V60*

(("V60 ini termasuk dalam kategori pour over, yaitu penyeduhan dengan mengalirkan air panas pada bubuk kopi yang sudah di grind di atas filter. Biasanya taste dari V60 lebih ringan, smooth dan balance namun tergantung juga dari setiap masing-masing barista dalam menyeduh. V60 diciptakannya sebagai alat seduh atau biasa disebut dripper pada tahun 2004 silam. Penciptanya adalah perusahaan asal Tokyo, Jepang bernama Hario."))

Namun, untuk mengikuti kursus kelas barista biayanya sangat tidak murah

Namun, untuk mengikuti kursus kelas barista biayanya sangat tidak murah. Hinata tidak mampu untuk membayarnya. Harga kelas barista sama saja seperti gaji Hinata selama tiga bulan untuk mengikut kelas satu kali, jika tidak berhasil memenuhi syarat dan ketentuan untuk menjadi barista professional sertifikat pun tidak akan turun dan uangnya tidak bisa dikembalikan.

Lalu, setelah sampai Hinata pun langsung mendapat order untuk mengantarkan pizza di berberapa tempat. Setelah melakukan tugasnya dengan baik, ia makan onigiri yang ia bawa dan buat sendiri saat membuat sarapan untuk Natsu dan ibunya.

Tiba-tiba, rekan kerja Hinata memanggil, "Hey, Hinata! bisa kau antarkan ini ke Karasuno Coffee Lab?"

Mata Hinata membulat dan berbinar, pipi pun meranum merah. Dia akan mengantarkan pizza ke sebuah kedai kopi! Bahkan, apa? Coffee Lab! Astaga! Hinata tidak bisa menahan senyumnya. Kesempatan ini tidak boleh Hinata sia-siakan.

"Ah? Serius?! Sugeeee, tentu saja aku mau!"

"Yokatta~ arigato nee, Hinata-san!"

Hinata langsung bersiap gegas membawa 5 kotak pizza yang akan ia bawa ke Karasuno Coffee Lab. Tapi dia terheran, ada apa ditempat itu sehingga dia harus membawa 5 kotak pizza kesana? Mungkin ada acara. Tapi, Hinata tidak peduli dengan itu. Dengan tubuh kecilnya ia mengantarkan pizza tersebut menggunakan sepeda. Karena jaraknya hanya 1 kilometer dari tempatnya bekerja.

Setelah memakan waktu kurang lebih 6 menit, Hinata langsung terpana dengan megahnya Karasuno Coffee Lab

Setelah memakan waktu kurang lebih 6 menit, Hinata langsung terpana dengan megahnya Karasuno Coffee Lab. Dia tahu dimana Karasuno Coffee Lab berada, tapi dia tidak pernah ketempat ini karena waktunya habis untuk bekerja. Hinata tidak pernah membeli kopi di kedai kopi. Dia menyeduh kopinya sendiri dengan alat-alat kopi milik mendiang ayahnya.

"Karasuno Coffee Lab megah sekali, sudah tidak bisa disebut sebuah kedai kopi lagi bahkan."

Hinata kemudian masuk di Karasuno Coffee Lab, tapi hanya ada berberapa disana. Memang sepertinya mereka sedang mengadakan sebuah acara.

"Konbanwa, pesanan pizza datang!"

Namun tidak ada satupun yang meladeni Hinata, kemudian Hinata menegur seorang pemuda yang bersurai panjang, "Permisi, apa benar Karasuno Coffee Lab memesan 5 kotak pizza?"

Pria itu menatapnya dengan tatapan kosong namun tak lama kemudian dia sadar, "Astaga! Iya, ini pesanan Daichi-senpai, sebentar ya! Aku ambilkan uangnya, mereka ada di lantai atas," saat pria gondrong tersebut ingin beranjak, Hinata menahannya.

"Hey—apakah Karasuno Coffee Lab hari ini sedang tidak buka?"

Pria itu menyahut, "Ah—iya hari ini adalah hari Karasuno dibentuk dan dibangun, jadi kami mengadakan acara syukuran, maka dari itu kami libur dan menghentikan jam operasional hanya untuk hari ini saja sih."

"Kalau begitu, apa aku boleh lihat-lihat disekitar sini?"

"Tentu saja boleh!" pria tersebut tersenyum.

"Arigatougozaimasu!" pria itu beranjak dan Hinata mulai berjalan mengeksplor setiap sisi di Karasuno Coffee Lab, tak lama kemudian matanya terwujud di bagian alat-alat untuk seduh kopi. Di mata Hinata, alat-alat itu terlihat bersinar dan indah.

Cantik.

Alat-alat ini benar-benar memanjakan Hinata, membuat tangan Hinata gatal, jiwa ingin menyeduh kopi miliknya membara.

"Astaga, dripper* yang mereka jual benar-benar lengkap, ada frenchpress, flatbottom, kalita wave, syphon Dan masih banyak lagi, sugeeee!"

((*Dripper merupakan alat yang digunakan untuk menghasilkan kopi nikmat dengan teknik Pour Over. Coffee dripper adalah unsur terpenting dalam kegiatan menyeduh kopi, dimana alat ini berfungsi sebagai penyaring saat kopi ditampung sebelum diseduh air panas.))

"Hey, siapa kau?" tiba-tiba ada suara dengan baritone rendah yang mengejutkan Hinata.

Bukan si pria gondrong tadi, tapi ini pemuda tinggi tampan, warna rambut gelap dan mata dengan warna biru gelap yang dapat menindas siapa saja yang menatapnya.

"G-gomenasai! Aku cuma pengantar pizza disini, aku lagi lihat-lihat di sekitar sini sambil menunggu pembayaran pizza nya."

Mereka berdua pun terdiam, Hinata menunduk merutuki dirinya sendiri. Dia hanyalah seorang pengantar pizza, apa dia punya hak untuk melihat alat-alat kopi ini?

Untuk apa melihat-lihat tapi dia sendiri tidak mampu untuk membelinya, jangankan membeli. Menyentuh nya saja terasa berat.

"S-sejak kapan kau melihatku...?" tanya Hinata.

"Sejak kau bergumam sendiri, melihat-lihat dripper itu dan menyebutkan namanya satu persatu seperti anak balita yang baru belajar baca."

Hinata geram dengan orang ini, kenapa dia menyebalkan sekali sih? Padahal Hinata hanya ingin melihat-lihat, lagipula memangnya dia siapa? Tapi Hinata hanya diam dan mencoba untuk tidak tersulut emosi.

"Siapa namamu?" tanya pria tersebut.

"Hinata, Hinata Shoyo."

Ekpresi pria tersebut menjadi sedikit terkejut saat Hinata menyebutkan namanya.

"Namaku Kageyama Tobio, dan salam kenal cebol."

Hinata sudah tidak bisa menahan emosinya, "Jangan panggil aku cebol! Sialan!"

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

geisha / kagehina

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

"Jangan panggil aku cebol, sialan!"

Mata Kageyama memicing saat melempar tatapan terhadap pria kecil di depannya.

"Meski aku cebol, akan kubuktikan bahwa suatu saat nanti aku menjadi seorang penyeduh hebat!"

"Hinata bodoh, apa yang kau bicarakan?!" Hinata merutuki dirinya sendiri.

"Penyeduh Hebat?" pikir Kageyama

"Orang ini aneh, tapi menarik" batinnya lagi.

"Memangnya kau suka kopi?" tanya Kageyama—lalu tak sengaja ia menatap mata milik pria yang baru ia kenal ini. Matanya berbinar tulus ketika Kageyama bertanya.

"Ya! Aku sangat suka kopi! Aku punya berberapa alat kopi dirumah milik mendiang ayahku!"

"Mendiang ayah?" batin Kageyama untuk kesekian kalinya.

"Bahkan aku ingin menjadi seorang pro barista. Tapi—ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan, kenapa aku tidak bisa mewujudkan mimpiku, hehehe" Kageyama tahu ada sesuatu dibalik pernyataan Hinata.

"Pro barista? Kau pikir mudah jadi seorang barista? Tidak semudah yang kau pikir, Hinata-san."

"Ah—gak usah pake imbuhan -san, terasa aneh bagiku, Panggil saja aku Hinata. Aku akan memanggilmu Kageyama, dan aku pun tahu menjadi seorang pro barista bukanlah hal yang mudah," ujar Hinata sambil tersenyum lebar.

"Menggemaskan," batin Kageyama tanpa sadar.

"Hah? Kageyama sejak kapan kau memuji orang lain, bahkan orang yang baru kau kenal!" Kageyama memarahi dirinya sendiri dan menampar kedua pipinya.

PLAKK—

"Astaga, Kageyama! Apa yang kau lakukan dengan pipimu? Kau terlihat bodoh tau, hahaha"

"Jangan ketawa, Hinata sialan!" maki Kageyama.

"Eh? Sejak kapan seorang Kageyama dapat berbicara dengan orang yang baru dikenal?"

"Asahi-senpai!"ketus Kageyama.

"Ah—gondrong-san!"panggil Hinata.

Azumane langsung lemas ketika Hinata memanggilnya gondrong-san

"Jangan panggil aku seperti itu..."

Kageyama membela, "Lagipula tidak salah juga kalau dia memanggilmu gondrong, kan rambutmu memang panjang."

"Ah terserah, ohiya namamu siapa? Aku Asahi Azumane, yoroshiku."

"Hinata Shoyo, tapi panggil saja Hinata, yoroshiku!" Hinata menunduk.

"Hinata, boss kami sedang pergi keluar untuk membeli bir bersama pacarnya, apa kau tidak apa-apa menunggu sebentar?" tanya Asahi.

"Tidak masalah Asahi-san. Aku malah merasa senang disini berlama-lama, lagipula memang ini pesanan pizza terakhir yang aku kirim, jadi tidak masalah,"ujar Hinata.

"Ah baiklah Hinata, aku tinggal kalian berdua disini ya!" lalu Asahi pun beranjak meninggalkan mereka berdua.

Hanya berdua. Lagi.

Mereka termenung sebentar kemudia entah kenapa tiba-tiba ide di kepala Kageyama tersirat begitu saja, "Hinata, bagaimana kalau sekarang kau mau coba menyeduh?"

Hinata terkejut dan langsung loncat mendekat ke wajah Kageyama, "Hah—apa kau serius Kageyama? Tentu saja aku mau, aku tidak akan menolak kesempatan ini!"

Dan Kageyama mendorong tubuh kecil Hinata dengan pelan, "Astaga, iya aku tahu tapi wajahmu terlalu dekat Hinata," Kageyama memalingkan wajah nya yang memerah dan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

Hinata langsung menjauhkan wajahnya, "Maaf, Kageyama! Aku terlalu senang, hehehe" ia baru menyadari perbuatannya tersebut pun menunduk malu. Wajahnya memunculkan semburat merah muda yang tipis dipipi tembam miliknya.

Tanpa Kageyama sadari, bibir tipisnya tersenyum.

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

geisha / kagehina

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

Kageyama dan Hinata sudah berada di dalam bar milik Karasuno Coffee Lab.

"Aku lihat kau tadi dapat menyebutkan satu persatu alat dripper coffee di tempat display jualan, berarti kau bukan orang yang newbie untuk menyeduh kopi-kopi ini?"

"Tentu saja tidak, dong! Aku sudah belajar menyeduh selama 3 tahun belakangan ini!" ucap Hinata dengan bangga.

Tapi, tidak untuk Kageyama dia penasaran seberapa jauh Hinata mengerti soal kopi bahkan mengoperasikan alat-alat seduh kopi ini.

"Nah, biasanya kau menggunakan perbandingan berapa untuk menyeduh kopi? Lalu suhu air nya berapa?"

"Aku menggunakan perbandingan 1:15 dengan biji kopi 12 gram yang di grinder medium to fine (lebih ke halus) dengan suhu air 87°"

((Jadi para pembaca, perbandingan air untuk membuat sebuah kopi itu tergantung seorang barista, contohnya seperti Hinata menggunakan perbandingan air 1:15, berarti 1 gram kopi nya menggunakan 15 gram air sehingga menghasilkan gram air yang tepat untuk membuat sebuah kopi yang enak))

Kageyama tertawa kecil, "Hey, kau pake suhu air segitu mau main aman kah?"

"Aku diajari ayahku seperti itu."

"Ayahnya? Aku masih penasaran siapa ayah nya? Dia cukup hebat mengajarkan Hinata sebagai penyeduh kopi pemula," batin Kageyama.

Baiklah, semua alat-alat sudah siap dan biji kopi nya sudah digiling/grinder,

"Aku akan memulainya."

Tiba-tiba atmosfir di bar menjadi berbeda saat Hinata menyeduh, dan mata Kageyama tak bisa lepas dari Hinata yang sedang menyeduh.

Cara nya menyeduh seperti orang-orang yang sudah dilatih lama, dan saat Hinata melakukan pouring, tangannya benar-benar stabil dan konsisten membentuk sebuah pusaran.

Kageyama terpukau. Kageyama benar-benar terpukau dengan orang asing yang baru dikenalnya ini. Entah, hatinya terasa sangat hangat saat melihat Hinata menyeduh. Aura yang Hinata keluarkan sangat berbeda dari saat mereka bertemu.

Hinata benar-benar seperti manusia yang mempunyai dua kepribadian.

"Batu berlian."

"Hah? Kau bicara apa Kageyama? Aku sedang menyeduh jangan ganggu dulu," sahut Hinata tanpa melihat ke wajah Kageyama. Hinata tak bisa melepas pandangannya dari kopi yang sedang ia seduh.

"Ah—bukan apa-apa."

"Astaga, alat-alat baru dan mahal rasanya memang beda, ditangan, aku bahkan gugup memegangnya, hihihi" gumam Hinata.

Kurang lebih tiga menit timing yang Hinata gunakan untuk menyeduh segelas kopi.

"Nee, Kageyama! Aku sudah selesai ~!"

Kageyama kembali tersadar ketika Hinata meletakkan kettle ke meja lalu ia segera mengambil dua sloki untuk dirinya dan Hinata.

Hinata menuangkan kopi buatannya kedalam dua sloki tersebut.

Mereka berdua meraih sloki tersebut, mencium aromanya lalu menyeruputnya.

"Woah," gumam Kageyama.

"Hinata aku tidak bohong, kopi buatanmu enak. Sungguh. Apa yang kau rasakan?"

"Pahit seperti biasa!"

"Haah?"

"Iya pahit! Pahitnya enak! Aku sukaaa~!" Hinata girang sendiri dengan wajah polos dan terus meminum kopi buatannya sendiri seperti orang yang sedang kehausan.

Kalau kata-kata bisa ditarik seperti rambut, Kageyama pasti akan menarik kata-katanya tersebut tentu saja seperti sedang menjambak sekuat tenaga kalau bisa sampai rambutnya botak.

Perumpamaannya kira-kira seperti itu.

"HINATA BOGEEEE!!"

Kageyama benar-benar ngamuk.

"E-eeh! Kenapa Kageyama, apa aku salah?" tanya Hinata masih dengan ekspresi polos nan suci.

"Kebodohanmu yang salah! Astaga, aku kira kau benar-benar mengerti soal kopi sampai flavornya, ternyata indera perasamu belum bisa."

"Sayang sekali, padahal kopi buatanmu ini enak namun balik lagi bahwa indera perasamu masih belum bisa merasakan flavournya, karena kita menggunakan beans Kintamani dan prosesnya fullwash rasanya seperti kulit limun yang asam, tapi kau juga dapat merasakan manis dan pahit juga. Semuanya rasa menjadi satu dan balance."

"Aku tidak tahu bahwa kopi serumit itu, Kageyama. Tapi itu bukan masalah untukku! Aku ingin belajar soal kopi lebih banyak lagi agar aku dapat menjadi seorang pro barista suatu saat nanti!" Hinata menatap langit dari jendela-jendela yang menjulang tinggi di Karasuno Coffee Lab.

Hinata benar-benar mengatakan semuanya dengan tulus, dan apa yang Hinata katakan sangat sungguh-sungguh. Tidak ada intonasi omong kosong disana. Hinata benar-benar ingin menjadi seorang pro barista.

"Hey, Hinata."

"Hn, kenapa Kageyama?"tanya Hinata.

Kageyama menghirup nafasnya lalu membuangnya dengan pelan, kemudian tangannya meraih kedua pipi Hinata dan menatap matanya tepat di depan wajahnya "Ini mungkin terdengar aneh untukmu, kita memang baru bertemu sekali namun aku percaya semuanya bukan hanya kebetulan tapi ini semua memang takdir."

Hinata memiringkan wajahnya bingung sambil menatap Kageyama, "Kau bicara apa, Kageyama? Aku nggak ngerti."

"Aku akan mewujudkan cita-citamu untuk menjadi seorang pro barista, seorang juara."

"Hah? Kau berbicara hal yang tidak-tidak ya, bercandamu tidak lucu Kageyama, untuk menghargai candaanmu akan ku hargai dengan tawa ini; hahahahaha!"

"Hinata, tatap aku."

Mata cokelat hazel miliknya kini benar-benar bertemu di titik pupil mereka masing-masing. Kageyama masih belum melepas pipi Hinata dari tangannya.

Hinata menelusuri matanya, tidak ada kebohongan disana. Kageyama bersungguh-sungguh.

"Apa ada kebohongan dimataku?"

Hinata hanya menggeleng, dan tanpa Hinata sadari dia terbius oleh pupil milik Kageyama.

"Jadi, besok kau keluar dari pekerjaanmu. Aku akan melatih kau menjadi professional barista, dan kau akan mengikuti lomba di 6 bulan yang akan datang, kau akan menjadi seorang juara seperti yang kau impikan, aku akan menjadi mentormu,

Hinata...

...izinkan aku untuk mewujudkan mimpimu itu!" teriak Kageyama.

Waktu terasa terhenti sesaat bagi Hinata dan tanpa ia sadari air mata mengalir di pipinya.

Apakah semesta sedang berpihak padanya? Menurut Hinata, semesta itu maha bercanda sehingga ia masih belum terlalu yakin dengan apa yang ia dengar.

"Hinata! Jangan menangis, astaga!" buru-buru Kageyama mengambil sekotak tissue di meja bar dan langsung memberikan nya kepada Hinata.

"Hwaaaa—! arigatou, Kageyama. Arigatou—hiks."

Sementara itu disisi lain lantai atas Karasuno Coffee Lab.

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

geisha / kagehina

‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗‗

"Sugawara, apa kau dengar apa yang Kageyama katakan?" tanya Daichi.

Sugawara mengangguk, "Uhn!"

"Itu terdengar seperti lamaran!" lanjut Daichi

"Dan mereka kenapa bisa dekat seperti itu?" tanya gadis megane bersurai hitam panjang, Shimizu.

Kemudian disebelahnya seorang laki-laki berambut blonde terlihat sedang membenarkan posisi kacamatanya, "Aku tidak tahu Daichi-senpai, tapi ini terlihat aneh... mereka berinteraksi seperti mereka sudah pernah bertemu sebelumnya."

"Kalian tahu sendiri, Kageyama bukan orang yang mudah bergaul dengan orang baru. Saat pertama kali aku bertemu dengan Kageyama aku butuh waktu dua bulan untuk bisa ngobrol intense dengan si raja sukses para gagak Jepang," sahut Tanaka.

"Nama nya Hinata dia pengantar pizza yang kau pesan Daichi-san, lalu dia tadi izin sama aku kalau ingin melihat-lihat Karasuno Coffee Lab, yah mumpung lagi gak ada customer, aku perbolehkan saja," Asahi menjelaskan.

"Asahiii-saaan! Aku ingin permen karetmu!"

"Oh okay! Aku cari kebelakang kau mau ikut, Noya-san?"

"Tentu sajaaa!" heboh pria yang bernama Noya. Kemudian mereka berdua pun meninggalkan teman-temannya.

Sedari tadi rekan-rekan barista dan chef serta sang boss menguping terus saat setelah Hinata selesai menyeduh dari lantai dua.

"Ohh iya! Sampai aku datang tadi mereka pun tidak sadar, padahal aku dan Sugawara lewat pintu depan dan melihat mereka."

Daichi dan Sugawara saling melempar senyum hanya mereka berdua yang mengerti arti dari senyum mereka satu sama lain.

"Daichi, sepertinya semua akan dimulai." ucap Sugawara lalu menoleh ke langit biru lewat jendela.

Dan Daichi mengangguk.

"Yup! Aku tidak sabar"