"Dah rapi aja lu Nar, pagi-pagi. Mau ke mana?"
"Katarak mata lu? Dah siang nih coy!"
Gaara yang masih dengan berhias muka bantalnya, saat ia sedang menguap, ia melihat kepada arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Alah! Masih juga setengah sebelas, dipagiin sesekali gak papa juga kali. Lagian musim gugur gini dingin, cocok buat nyantai."
Gaara dengan santai menyandarkan punggungnya ke senderan sofa apartement-nya sambil menguap sekali lagi.
Naruto yang sedang mengenakan jaket parka hitam untuk membaluti kaos hitamnya itu, berwajah sewot ketika mendengar jawaban Gaara.
"Heran gue! Jarang banget lurusnya idup elu."
Ketika herdikan Naruto itu masuk seperti menusuk gendang telinganya, Gaara melotot ke arah temannya itu.
"Ni juga lagi hari sabtu juragan! Males gue bangun pagi-pagi."
"Serah lu dah."
Naruto dengan santai berlalu di depan Gaara untuk menuju lemari kecil di sebelah televisi. Setelah sampai di depan lemari itu, ia mengambil tas rucksack hitamnya yang terletak di atas lemari itu.
"Gak heran gue lu telat terus kalo kuliah. Gak kawatir lu sama IP semester lu nanti?!"
Naruto menyandingkan tas rucksack itu ke bahu kanannya, kemudian lanjut berjalan ke rak sepatu di belakang pintu apartement.
"Gue tadi nanya lu duluan woii! Mau ke mana lu? Malah nyeramahin gue."
"Mau ngopi ganteng dulu gue. Gabut ngeliatin muka ileran lu."
Setelah mengambil sepatu high converse 70s di rak sepatu, Naruto duduk di kursi kecil sebelah rak sepatu itu untuk memasang sepatunya.
"Dih, gaya-gayaan banget lu dah. Tungguin lah, mau ikutan gue."
Ketika high converse 70s itu telah terpasang rapi di kedua kakinya, Naruto berdiri seraya memandang bosan kea rah Gaara.
"Ahh, males nungguin lu, belum mandi, belum dandan. Lu kek tante-tante mo arisan."
Gaara yang dikatakan seperti itu oleh Naruto, memasang ekspresi masam pada wajahnya. Sebelah alisnya berkedut-kedut.
"Awas lu numpang tempat gue lagi nyeett!"
Naruto berpura-pura tak mendengar dengan ancaman Gaara itu. Ia kemudian membuka pintu apartement dan dengan santai nyelonong keluar sebelum menutup kembali pintu apartement itu.
Sedangkan Gaara berwajah makin masam ketika ditinggal begitu saja oleh Naruto.
.
Naruto berjalan meninggalkan gedung apartement-apartement tempat Gaara tinggal selama di Tokyo. Ia sebenarnya juga menyewa apartement di kota Tokyo ini yang berjarak cukup jauh dari apartement Gaara, hanya saja karena semalam ia cukup malas untuk langsung pulang ke apartement-nya sehabis melakukan riset untuk tugas kuliahnya, ia memilih menginap saja di tempat Gaara yang cukup dekat dari tempat ia melakukan riset.
Saat ini Naruto sedang berjalan di pinggir lalu lintas yang saat ini cukup sepi untuk ukuran kota Tokyo menuju halte bus yang berada di persimpangan yang tidak terlalu jauh dari gedung apartement Gaara.
Naruto tidak pernah lepas dari jaket parka hitam dan tas rucksacknya hadiah dari dirinya sendiri 2 tahun lalu. Suatu malam saat dirinya sedang berulang tahun di tengah laut tanpa sinyal, hasil perbincangan dengan dirinya sendiri di atas dek kapal pelni yang membawanya pulang dari pulau tetangga.
Hasil perbincangan itu berisi tentang sebuah persembahan yang layak untuk dirinya sendiri. Hingga kini, Naruto selalu mempersembahkan sesuatu untuk dirinya sendiri, entah itu sebuah perjalanan atau barang yang diinginkannya. Naruto bukan tipe orang yang senang berbelanja. Terlihat dari pakaiannya yang terlihat itu-itu saja.
Dan lagi, Naruto selalu membawa buku untuk dibaca ke manapun ia pergi. Hal-hal yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan teman dekatnya sendiri, seperti Gaara. Bahkan dalam perjalanan singkatnya yang hanya ingin pergi ke kedai kopi ini, atau perjalanan-perjalanan yang sering Naruto lakukan dalam impulsivitasnya yang pernah membuat geram teman mesranya dulu, Sakura.
Sebuah alasan yang tak akan mampu dipahami orang lain karena ada suatu kebutuhan khusus bagi Naruto, terhadap semua hal itu. Sesuatu, yang mungkin tak akan pernah terlontar dari bibirnya meski dalam keadaan genting sekalipun. Sesuatu yang berhubungan dengan madiang Ayahnya.
Setelah menunggu di halte cukup lama, gerimis mulai turun. Kemudian bus datang menepi di halte tempat Naruto menunggu, tak menunggu lama Naruto masuk ke dalam bus dan langsung menyamankan dirinya duduk di salah satu kursi bus. Ketika bus mulai berjalan, ia hanya memandang keluar jendela sambil menopang dagunya dengan tangan kanan, memperhatikan rintik-rintik gerimis yang memberikan kasih sayang kepada bumi.
Ia sedang menuju ke salah satu coffee shop yang ada di Tokyo, hasil pencariannya di internet mengenai beberapa coffee shop yang menarik di Tokyo. Naruto selalu mencari kedai kopi yang tidak terlalu ramai demi kenyamanan dirinya sendiri, meski cukup sulit untuk mencari coffee shop yang tidak begitu ramai di Tokyo.
Kemudian, syarat lain dari Naruto untuk memilih kedai kopi adalah, interior yang menarik serta memiliki tempat duduk di depan bar. Karena bagi Naruto sendiri, kursi di depan bar mempunyai aura magis tersendiri untuk membuatnya berekreasi. Ketika duduk di sana, Naruto seperti dirasupi banyak energi baik untuk membantunya bernapas. Itulah salah satu alasan Naruto menyukai duduk di kursi depan bar.
Naruto juga senang berbincang-bincang dengan barista. Topik yang dibicarakan setiap barista di kedai kopi yang ia datangi selalu bermacam-macam. Meski dirinya dikenal cukup pendiam bagi beberapa temannya, tapi dalam hal adalah sebuah pengecualian. Bagi Naruto, perbincangan personal dua orang asing seringkali mempunyai kedalaman yang disembunyikan. Selain itu, Naruto juga punya ingatan yang menarik tentang bagaimana dirinya pertama kali bertemu dengan Sakura.
Bicara soal Sakura, sejak pertemuannya dengan Sakura di taman kota waktu itu, ia sudah tidak lagi bertemu dengannya ataupun menjalin komunikasi apapun.
"Hahhh."
Naruto mendesahkan napas letih ke jendela bus di depannya, membuat jendela itu berembun karenanya.
"Aku rindu padanya."
.
Sesampainya Naruto di coffee shop tujuan, ia langsung duduk di kursi depan bar. Ada 5 kursi di depannya, 1 kursi di tengah sedang diisi seseorang perempuan. Naruto memilih duduk di sebelah gadis yang sedang sibuk dengan buku di hadapannya itu.
"Mas, cappucchino panas satu ya."
Setelah memesan, Naruto mengusap-usap tangannya yang kedinginan karena cuaca yang dingin. Ia memasang tudung jaketnya di kepala karena AC di coffee shop cukup membuatnya kedinginan.
Sambil menunggu pesanan, Naruto sedikit melirik ke arah gadis di sebelah. Matanya sedikit mengintip dari ujung tudungnya, dan mendapati gadis itu seperti sedang sibuk menggambar sesuatu di bukunya. Ada keinginan yang menggelitik dalam dirinya untuk sedikit mencampuri urusan gadis itu.
"Cappuchino-nya silakan mas."
Naruto sedikit tersentak ketika suara barista di depannya itu memasuki pendengarannya, iapun menoleh ke arah barista itu.
"Ahh, ya. Terimakasih."
Setelah barista itu meletakkan pesanannya itu di meja bar depan Naruto, barista pun berlalu dari hadapannya. Naruto kembali melirik ke gadis itu, memperhatikannya untuk beberapa saat, kemudian menghedikkan bahunya merasa lebih baik tidak mengganggu gadis itu.
Naruto melepaskan tas punggungnya kemudian menaruhnya di atas meja. Tas itu ia buka kemudian merongohkan tangannya ke dalam untuk mengambil sebuah buku. Setelah ia mengambil buku dari dalam tasnya, iapun mulai membukanya kemudian mulai menyelami matanya ke dalam diksi-diksi yang membius.
Sakura memarkirkan mobilnya di salah satu coffee shop di pinggir jalanan kota Tokyo. Kedai kopi kecil yang terlihat tidak terlalu ramai pengunjung. Sakura memang tidak begitu menyukai keramaian, oleh karena itu ia lebih senang jika mengunjungi kedai kopi yang seperti ini.
Setelah turun dari mobil, ia langsung memasang tudung jaket hoodie krimnya ke kepala untuk menghalau gerimis yang jatuh kepadanya. Kemudian ia buru-buru membawa langkahnya masuk ke dalam kedai kopi.
Semula Sakura ingin mengajak Ino untuk bersamanya. Karena, ia sedang butuh teman berbincang dengan topik yang tak tentu arah. Sebenarnya Sakura bisa saja mengajak temannya yang lain, namun untuk saat ini ia hanya ingin menghabiskan waktu beberapa saat dengan orang yang begitu ia kenal.
Sesampainya Sakura di dalam kedai kopi, ia langsung saja tanpa piker panjang duduk di kursi depan bar. Ia suka duduk di kursi bagian sini, karena memiliki arti-arti yang begitu khusus dalam ingatannya.
Setelah duduk, ia melepas tas punggung kecilnya untuk mengambil buku gambar. Dan meletakkan keduanya di meja depannya. Tepat setelah itu seorang barista datang menghampirinya sembari menyodorkan buku nota kecil beserta pena di kedua tangannya.
"Silakan mbak, mau pesan apa? Hari ini kita punya beans baru dateng, kalau suka single origin, kintamani coffee."
Sakura tidak begitu mengenal apa-apa yang tadi disebutkan oleh barista, seperti jenis-jenis beans ataupun single origin. Semua terdengar seperti judul buku bagi dirinya.
"Cappunchino panas aja mas, minta yang strong ya."
Barista di depan Sakura melempar senyum kepadanya tanda akan segara menyiapkan pesanannya. Ketika barista itu telah berlalu dari hadapannya, Sakura kemudian mengambil earphone dari dalam tasnya dan ia gunakan untuk mendengarkan musik melalui smartphone-nya.
Sesudah menyetel musik di smartphone yang sudah ia hubungkan dengan earphone, ia kemudian menyumpelkan kedua earphone itu ke telinganya. Dan, kemudian kedua tangannya ia sibukkan menggambar sesuatu di bukunya.
Sebenarnya Sakura tidak terlalu begitu senang menggambar, ia lebih menyukai membaca buku. Namun, karena kebetulan tidak membawa buku bacaan dan hanya membawa buku tulis biasa, jadinya ia memilih menggambar saja di bukunya itu.
"Silakan mbak, cappuchino-nya."
Sakura sedikit mendengar suara barista itu, dibantu dengan barista itu yang menyodorkan cappuchino ke meja di depan Sakura. Iapun melepas sebelah earphone-nya kemudian memandang kea rah barista itu.
"Mas, boleh minta gula merah gak?"
"Yah, kebetulan lagi habis mbak, mungkin ntar sorean baru dateng lagi."
Sakura tersenyum mengiyakan. Entah sejak kapan ia menjadi butuh gula merah di setiap cappucino-nya, seperti sesuatu yang ada di dalam tubuhnya kekurangan asupan yang manis.
"Mas, boleh minta gula merah gak?"
"Yah, kebetulan lagi habis mbak, mungkin ntar sorean baru dateng lagi."
Naruto yang sedang terhanyut dalam cerita yang ia baca, ditarik ke permukaan oleh suara itu. Suara yang lebih mendominasi isi kepalanya. Suara yang amat ia kenali. Sontak ia menoleh ke sebelahnya, dan melihat Sakura yang wajahnya dapat dilihat karena tudungnya sedikit tersingkap.
Meski tanpa menoleh pun, ia akan mampu untuk segera mengenali pemilik suara itu. Suara yang pernah begitu ia nikmati ketika menyapa pendengarannya. Saat ketika berceloteh dan sedang cerewet menasehati beberapa pola hidupnya yang tidak sehat. Kedua mata biru Naruto mengharu melihatnya, senyum yang lepas mempoles di bibirnya.
Awalnya Naruto berpikir ingin segera menyapanya namun ia urungkan, karena tiba-tiba otaknya mendapat sebuah ide yang mendukungnya untuk menjahili gadis itu. Iapun segera memeriksa tasnya untuk mencari pena dan buku tulis.
Setelah mendapat apa yang ia cari, ia segara menuliskan sesuatu dalam kertas. Selesai menulis, Naruto langsung menyobek kertas itu dan melipatnya. Kemudian kertas itu ia seret di atas meja menuju sakura.
Sakura yang saat sedang ingin mengambil cup cappuccino-nya, seketika melihat ada sebuah tangan yang menyeret kertas ke sebelah cup-nya. Matanya pun mengikuti gerakan tangan itu yang menarik kembali ke sisi pemiliknya setelah meninggalkan kertas itu di sebelah cup-nya.
Ketika mata Sakura melihat seorang pria yang duduk di sebelahnya itu, yang wajahnya tidak ia ketahui karena tertutup tudung jaketnya. Seketika matanya menangkap tas rucksack yang ada di meja sebelah pria itu, sebuah ingatan tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya, iapun beralih melihat ke bawah dan melihat sepatu orang itu yang semakin menguatkan gagasannya.
Sakura kemudian tersenyum ketika memastikan dengan benar-benar siapa yang ada di sebelahnya itu, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada kertas yang ada di meja depannya itu dan ia ambil serta ia buka lipatannya.
Mbak, yang merah itu bukan gula,
Tapi pipi aku, ketika ngeliat kamu lagi manis-manisnya di sebelahku
Terus, mata kamu yang lucu itu,
Yang diam-diam pengen ditatap lama-lama.
Yang merah itu pipi aku,
Pas ngeliat senyum kamu tadi,
Beruntung sekali mas barista itu.
Sekarang, yang merah itu wajah kamu,
Yang lagi baca tulisan ini, sambil senyum-senyum sendiri,
Di sini, suara di dada aku lagi balapan sama detak jam di tangan kamu,
Degup yang menang, adalah yang paling merdu.
Benar saja, senyum Sakura mulai merekah tak tenang ketika membaca tulisan yang di lipatan kertas itu. Degup jatungnya mencoba untuk menyaingi degupan dada Naruto. Iapun segera mengambil pena dari dalam tasnya, kemudian menulis balasan untuk Naruto menggunakan kertas itu.
Naruto pun mengakat sedikit tudungnya, dan melihat Sakura yang sedang menulis di kertas yang ia sodorkan tadi sambil tersenyum. Melihat itu, senyuman Naruto pun merekah. Ketika ia lihat Sakura tampak telah selesai menulis, ia kembali menunduk pura-pura bodoh.
Sakura menoleh ke arah Naruto yang seolah tak berdosa pura-pura tidak tahu. Iapun menyeret kertas itu tanpa melipatnya ke sisi Naruto.
Naruto ketika melihat kertas di sisi tangannya itu, langsung ia ambil dan ia baca.
Kamu tahu yang merdu itu apa?
Degup jantung kita
Enggak ada apa-apanya
Sama merdunya doa yang diam-diam kita panjatkan
Waktu kita sama-sama rindu
Setelah membaca itu, senyum Naruto makin merekah tak tahu malu. Ia tanpa menunggu lama, langsung menuliskan balasan dan setelah selesai langsung menyodorkannya ke Sakura lagi.
Sakura yang melihat Naruto kembali menyodorkan balasan untuknya, langsung ia baca tanpa berlama-lama.
Eeehh ada yang sedang rindu aku ya?
Dan juga dia ngelaim-ngelaim aku rindu padanya juga
Ahh, masa sih gitu
Sakura gemas bukan main setelah membaca itu, iapun menoleh yang ketika ia lihat masih pura-pura tidak tahu itu.
"Narutoo!"
Naruto tersentak, kemudian menoleh ke Sakura seraya membuka tudungnya. Dan iapun tersenyum melihat ekspresi wajah Sakura yang tampak gemas melihatnya.
"Hai manis, baru ketemu udah bilang rindu-rindu aja."
Sakura menggembungkan pipinya ketika Naruto berbicara seperti itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tiba-tiba langsung menerjang memeluk Naruto.
"Bodo ah, emang masalah?!"
Naruto tertawa renyah dalam dekapan Sakura. Oh, ia merasa begitu sempurna hari ini. Dan tiba-tiba merasa ingin berterimakasih kepada Gaara karena menumpangi dirinya semalam, serta bersyukur tidak ia ajak temannya itu ke sini tadi. Mungkin nanti akan Naruto belikan dia segalas cappuccino saja.
Saat ini, Naruto hanya ingin menikmati dulu momen yang begitu ia nanti-nantikan ini. Ia membalas dekapan Sakura.
" Menurutku masalah, rindunya gak bisa dikompromi dari kemarin-kemarin apa?"
