Keesokkan harinya, jae mengantar wonpil kembali ke tempat konsernya.

Bukankah wonpil masih memiliki konser 1 hari lagi. Namun ada yang aneh, tempat konser wonpil, seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada darah ataupun garis polisi. Setidaknya harus ada garis polisi mengingat belakang tempat konsernya telah terjadi pembunuhan.

Tapi ini seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Kamu sudah datang wonpil? Lebih baik bersiap"

Wonpil hanya mengangguk kepada staff yang membantu untuk konsernya.

"Freaky aku latihan dulu. Terima kasih sudsh menemaniku kemarin dan mengantarku"

"Sama-sama wonpil."

Wonpil hanya tersenyum dan masuk ke back stage tempat konsernya.

Tanpa di sadari jae dan wonpil ada seorsng wartawan yang memfoto itu dan mencoba menjatuhkan wonpil.

"ini akan jadi headline yang bagus. Wonpil tidak hanya punya satu sugar daddy tetapi dua"

Well... dia tidak tahu ada bahaya apa yang mengintainya.

Konser pun akhirnya berakhir dengan indahnya. Wonpil tetap berharap kak sungjin atau kak brian hadir namun nihil. Kursi yang di sediakan kosong seperti tidak ada pemiliknya. Tapi dia tidak boleh sedih mengingat ini juga di hadiri penggemarnya, termasuk jae.

Wonpil bergegas masuk ke dalam backstage dan menunggu di ruang makeupnya.

Tidak ada yang aneh memang namun tiba-tiba lampu mati dan wonpil yang punya phobia akan gelap, langsung mendadak jongkok dan tampak sangat ketakutan.

Tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya erat di samping.

"Tenang pil ada aku, tidak akan ada yang berani meyakitimu."

"Freaky, itu kamu bukan? Itu kamu kan... freaky jawab akuu..."

"Aku disini... jangan takut"

Jae berusaha menenangkan wonpil. Tak lama lampu menyala dan itu membuat wonpil agak tenangan.

"wonpil, aku ijin menelpon dowoon sebentar"

"hum, aku tunggu. Jangan lupa kembali freaky"

Jae tersenyum kepada wonpil dan buru-buru meninggalkan wonpil sendiri.

Mengingat dowoon, memberikan peringatan bahwa ada sesuatu yang urgent, yang harus di ketahui jae.

Wonpil yang menunggu jae memainkan hapenya sambil mengupload selca, guna mengucapkan terima kasih kepada para pengemar sudah datang ke konser wonpil.

Sebenernya wonpil mengharapkan ucapan dari kak sungjin dan kak brian namun nihil, mereka bahkan tidak mengucapkan sepatah kata.

'Mungkin kak sungjin dan kak brian sibuk' pikir wonpil yang mencoba berfikir positif namun nihil tetap saja di dalam benaknya dia, masih ada kekecewaan.

Jae yang melihat itu, langsung buru-buru memutuskan pembicaraan dengan dowoon dan menghampiri wonpil.

"Wonpil? Kamu tidak apa-apa? Maaf terlalu lama"

"freaky, kau sudah selesai? Pulang yuk.. aku hanya lelah, iya lelah"

Jae bukan orang yang mudah di bodohi, jae tahu wonpil menyimpan sesuatu. Jae tentu tahu apa yang harus di lakukan.

"Kau ingin pulang ke apartemenku lagi wonpil?"

Wonpil hanya mengangguk mengiyakan tanpa banyak bertanya.

Begitu tiba di apartemen pun, wonpil tak banyak bicara, jae sudah tahu apa penyebabnya, mengingat dowoon sudah memberitahu tentang wartawan itu dan tentang penyebab kekecewaan wonpil.

"Wonpil, sepertinya aku kehabisan bahan makanan, aku boleh pergi dulu?"

Wonpil mengangguk mengiyakan

"Kamu mau nitip apa gitu?"

"Kripik, alkohol, eskrim"

"Noo yaa, gak ada alkohol. Aku gak mau benda itu merusak tubuh kamu yang mungil itu."

Wonpil cemberut mengingat dia ingin melupakan kekecewaan nya dengan alkohol namun ia tidak dapat.

Jae hanya mengelus kepala wonpil dan segera pergi keluar.

Sebelum keluar, dia sempat mengirimkan pesan ke dowoon.

"si bajingan wartawan itu, akan ku habisi sendiri."

Jae membawa mobilnya dengan cepat melaju ke suatu tempat, seperti gudang yang sudah tidak di gunakan.

Jae masuk ke dalam dan melihat dowoon dan bersama dengan seseorang yang tengah di sekap.

"Bang jae, mau di apain ini satu curut"

"Santai woon, aku mau 'main-main' sama dia, soalnya dia sudah berani ganggu kesayanganku"

Wartawan itu tampak takut apa yang akan di hadapi.

"Kau tidak usah takut, kau akan bersenang-senang setelah ini"

"Bang peralatannya udah dowoon cuci"

Jae mengangguk dan menghampiri dowoon dan mengambil pisau yang cukup runcing dan tajam.

Pisau yang tajam itu mulai mengukir indah di tubuh wartawan itu.

Kesakitan tentu, jae memang lebih suka bermain seperti ini dari pada seperti kemarin langsung ke inti, membunuh hatersnya. Jae lebih suka menyiksa daripada langsung ke intinya.

Dowoon hanya menatap jae tanpa mmencoba membantu wartawan ataupun si jae. Dowoon tahu membantu jae menghabisi si wartawan akan membuatnya kesal jadi membiarkan si jae bermain dengan wartawan adalah pilihan yang tepat.

Jae tersenyum saat mengukir indah di tubuh wartawan, darah tentu sudah kemana-mana bukan jae namanya jika iya tidak memperhatikan seperti itu.

"Baiklah akan ku akhiri penderitaanmu, tapi sebelum itu hapus fotoku dengan wonpil."

"Bang fotonya udah dowoon musnahin sebelum abang minta sama dia"

"Bagus dowoon, tumben gercep amat"

"Dowoon kan tahu, bang jae gak suka di foto"

jae tersenyum menakutkan ke dowoon.

"Mari kita habisi penderitaanmu"

Jae menusuk pisaunya tepat ke hulu jantungnya dan sekita wartawan itu meninggal. Lalu jae mulai mencongkel kedua bola matanya dan memotong-memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian. Terakhit dan tidak lupa iya segera membakar gudang tempat ini.

Terlalu beresiko kalau ia membunuh orang di satu tempat yang sama.

"Setelah ini mau kemana dowoon?"

"Pulang bang, kasih makan hosun"

"Hati-hati. Dan oh iya don't tell anyone okay?"

"Iya bang, dowoon tahu sebelum mutusin buat ngikutin abang, dowoon udah tahu resikonya. Dowoon gak kasi tahu siapa-siapa"

"Why? Kenapa kamu mau ngikutin aku?"

"Dowoon suka liat orang kesakitan lagian dowoon gak percaya siapapun kecuali bang jae."

Jae hanya tersenyum penuh arti kepada dowoon dan dowoon segera meninggalkan tempat itu dan jae menatap dowoon penuh arti.

"Let see how long you will stay, dowoon. Apa aku bisa percaya sama kamu kaya kamu percaya sama aku."

Dan jae menatap gudang yang kini tak bersisa apapun.

"Sudah ku bilang, jangan pernah berurusan dengan kesayanganku, inilah akibatnya"

Jae pun pergi dari tempat itu dan kembali ke wonpil namun sebelum itu, dia menyempatkan diri ke pasar swalayan.

Sekembalinya jae ke apartemen, dia melihat wonpil tengah tertidur di sofa saambil memeluk bantal, mungkin wonpil tertidur sambil menunggunya.

Jae mengecup pipi, kening dan bibirnya wonpil

"I will do everything for you. Jangan sedih. Kamu masih punya aku. Apa aku harus menghabisi mereka buat kamu, saayang?"

Jae mengendong wonpil dan membaringkannya dikamar, menyelimutinya agar wonpil merasa nyaman.

Tak lama kemudian, jae keluar dari kamar dan memberitahu dowoon apa yang harus mereka lakukan.

Berdoalah semoga sungjin dan brian baik-baik saja karena jae ingin sekali menghabisi sungjin dan brian yang membuat seorang wonpil kecewa.