Wherever You Are

Disclaimer: Naruto/Boruto belongs to Masashi Kishimoto, Mikio Ikemoto, and Studio Pierrot.

Warning: Family conflict, etc.

Pair: KawaHima & BoruSara, slight SasuHina.


Dua hari kemudian, menjadi hari yang menyedihkan bagi Boruto maupun Himawari. Di Stasiun Kyoto, Himawari dengan tidak rela memandang ibunya yang tengah berdiri di depan pintu masuk stasiun sambal membawa koper di tangan kirinya. Memang, semalam Hinata sudah berpamitan kepada Ibunya, Ibu mertuanya, serta kedua anaknya jika ia akan pergi ke Tokyo untuk mencari pekerjaan.

Di dalam rangkulan Kushina dan juga Hikari, Boruto menatap sendu kepergian ibunya sementara Himawari menangis—seolah tak rela mengikhlaskan sang Ibu pergi.

"Kaa-chan, Kaa-chan kenapa pergi meninggalkan Hima dan Onii-chan? Kaa-chan tidak sayang ya kepada Hima dan Onii-chan?"

Mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir putri kecilnya, Hinata pun berjongkok guna mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan Himawari. Diusapnya lah air mata yang mengalir membasahi pipi berkumis itu.

"Hima, Kaa-chan tidak benci kok sama Hima, justru Kaa-chan sayang banget sama Hima. Karena Kaa-chan sayang Hima, maka Kaa-chan akan pergi ke Tokyo untuk bekerja, supaya Hima dan Onii-chan bisa sekolah," ujar Hinata memberikan pengertian kepada putrinya.

Boruto menatap tajam Ibunya, Hinata hanya tersenyum saat melihat putranya seperti ingin marah padanya. Hal yang wajar, anak yang masih kecil memang sulit untuk berpisah dengan Ibu mereka, namun Hinata tetap bersabar dan memberi pengertian pada kedua anaknya. Dengan lembut dan penuh kasih, diusapkanlah rambut Boruto .

"Boruto, Kaa-chan tidak akan lama kok perginya. Kaa-chan berjanji, Kaa-chan akan kembali kepada kalian berdua jika uang Kaa-chan sudah banyak. Kalian berdua jangan sedih ya," ujar Hinata memberi pengertian pada kedua anak mereka.

Himawari dan Boruto pun tersenyum tipis sambil mengangkat jari kelingking mereka.

"Janji ya, Kaa-chan?" ujar Boruto dan Himawari bersamaan.

Sambil tersenyum dan mengangguk, Hinata pun berkata, "Iya, Kaa-chan berjanji."

Pengumuman… pengumuman

Kereta Shinkansen jurusan Kyoto dan Tokyo akan tiba di tujuan

Mendengar suara pengumuman kereta, membuat Hinata tersentak dari rasa sendu perpisahannya.

"Nah, kereta Kaa-chan sebentar lagi sampai, Kaa-chan pergi dulu ya. Kaa-chan, Mama, tolong jaga Boruto dan Himawari untukku," ujar Hinata sambil berpinta kepada Kushina dan juga Hikari.

Kushina dan Hikari hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Kamu tenang saja, Mama dan Kushina akan menjaga anakmu," ujar Hikari kepada putrinya.

Dengan tersenyum, Hinata pun berjongkok sambil mengecup kedua pipi Boruto dan Himawari sebelum berpisah.

"Kaa-chan pergi dulu ya, jaga diri kalian baik-baik dan turutilah kata Nenek kalian!" seru Hinata sambil berlari dan melambaikan tangan ke arah kedua anaknya.

"Hati-hati, Kaa-chan!"

Himawari dan Boruto pun melambaikan kedua tangan mereka, sambil menatap punggung Hinata yang mulai menjauh dari pandangan.

Dua tahun kemudian…

"Kushina-obaachan, Kaa-chan kapan pulang ke rumah? Kaa-chan lama sekali tidak pulang," tanya Himawari polos hingga membuat Kushina teralihkan atensinya.

"Iya, kita rindu Kaa-chan," timpal Boruto.

Dua tahun telah berlalu, namun Hinata tak kunjung kembali sesuai janjinya. Tidak hanya itu, kehidupan perekonomian keluarga mereka juga tetap tak kunjung membaik—seolah tidak ada tanda-tanda bila Hinata mengirimkan uang untuk mereka. Namun Himawari dan Boruto tak pernah menanyakan hal tersebut, mereka disibukkan dengan kehidupan pendidikan mereka dan tak lupa mereka juga ikut membantu pekerjaan Nenek mereka di pasar.

Namun waktu seolah membuat mereka habis kesabaran, hingga Boruto dan Himawari pun menanyakan hal tersebut kepada Nenek mereka.

"Ibu kalian sedang bekerja di Tokyo, tadi ia mengirimkan Nenek uang di wesel." Dari belakang, Hikari datang dan mewakili Kushina untuk menjawab pertanyaan mereka.

Himawari dan Boruto saling bertatapan satu sama lain, kebingungan terpancar di wajah mereka. Kushina yang melihat hal tersebut pun, berjongkok dan memegang pundak kedua cucunya.

"Nah, kalian dengar 'kan apa kata Hikari-baachan? Kaa-chan kalian sedang bekerja dan selalu mengirimkan uang untuk kalian. Kaa-chan kalian memang sulit untuk kembali karena pekerjaannya, tolong mengertilah. Bukankah Kaa-chan kalian bekerja untuk kalian juga, hm?" ujar Kushina memberikan pengertian.

Mendengar perkataan Neneknya, tak lantas membuat kecurigaan Boruto dan Himawari reda. Mereka tahu, kedua Neneknya berbohong pada mereka. Melihat kedua cucunya yang masih saling curiga, Kushina dan Hikari pun saling bertatapan satu sama lain. Hingga, Kushina kembali mengatakan satu kalimat untuk menghentikan kecurigaan cucunya.

"Sudahlah, lebih baik kalian tidur saja. Bukankah hari sudah semakin malam? Besok kalian sekolah, bukan?"

Menghela napas, Boruto dan Himawari pun kembali ke kamar mereka sesuai apa yang diperintahkan oleh Sang Nenek. Mereka tahu, ada sesuatu yang disembunyikan perihal Ibu mereka.

Keesokan harinya di sebuah pasar, terlihat Boruto dan Himawari tengah membantu pekerjaan Neneknya dengan memasak mie. Memang, itulah rutinitas yang setiap hari Boruto dan Himawari lakukan sepulang sekolah. Kepergian Ibunya untuk bekerja di Tokyo, justru membuat kehidupan perekonomian mereka memburuk, bukannya membaik.

Nenek mereka yang seharusnya tak bekerja pun, terpaksa bekerja demi memenuhi kebutuhan mereka. Hal tersebut juga membuat Boruto dan Himawari harus membantu Nenek mereka. Tidak hanya itu, mereka juga terpaksa berpindah sekolah ke sebuah sekolah yang bertaraf rendah karena ketidak-mampuan membayar uang sekolah. Bukankah dengan Ibu mereka bekerja di kota besar membuat kehidupan mereka lebih baik? Mengapa ini justru sebaliknya? Hal tersebut terus dipertanyakan oleh Boruto maupun Himawari.

"Nii-chan, sebenarnya Kaa-chan mengirimkan kita uang tidak, sih? Kenapa Obaa-chan dan kita sampai harus bekerja kalau memang Kaa-chan mengirimkan uang?" tanya Himawari seolah mengerti dengan permasalahan keluarganya.

Boruto mengangkat bahunya seraya berkata, "Nii-chan juga tidak tahu, Hima."

Boruto dan Himawari kembali melanjutkan aktifitas mereka, tanpa mempedulikan kecurigaan demi kecurigaan yang terngiang di pikiran mereka. Sementara itu, Kushina dan Hikari hanya menatap sendu kedua cucunya yang masih harus bekerja-keras.

Pada malam hari, Boruto dan Himawari hanya menatap piring mereka dengan pandangan kosong. Makan malam keluarga saat itu begitu hening, tidak seperti biasanya yang selalu ramai. Boruto dan Himawari masih tidak nafsu makan, pertanyaan perihal keberadaan Ibu mereka masih saja memenuhi isi kepala mereka.

"Himawari, Boruto," panggil Hikari lembut.

Kedua kakak beradik itu pun menoleh ke arah Neneknya dengan pandangan bertanya.

"Ada apa, Obaa-chan? Apakah Obaa-chan mendapat kabar tentang Ibu?" tanya Himawari penasaran.

Hikari tersenyum dan menjawab, "Iya, sayang… tadi Ibu kalian menelpon kami. Katanya, sebentar lagi ia akan menikah dan akan memperkenalkan suami barunya pada kalian. Sebentar lagi ia akan membawa kalian ke Tokyo, kalian senang?"

Kedua mata Boruto dan Himawari pun berbinar senang usai mendengar perkataan Neneknya. Benarkah Ibunya akan membawa mereka ke Tokyo dan memperkenalkan mereka pada ayah tiri mereka?

"Obaa-chan tidak bohong, kan?" tanya Boruto memastikan.

"Tidak, sayang."

"Horeee…. Hima akan punya Tou-chan baru!" seru Himawari riang.

Berbeda dengan Himawari, Boruto hanya terdiam dengan penuh ketidakpercayaan.

"Kedua Nenek kalian lah yang selama ini membiayai sekolah kalian."

Di sebuah ruangan kantor yang begitu dingin, Boruto dan Himawari membeliakkan kedua bola mata safir mereka usai mendengar apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah berambut nanas tersebut.

"Sensei jangan bercanda, jelas-jelas Kaa-chan kok yang membiayai sekolah kami. Benar tidak, Onii-chan?"

"Benar apa kata Hima, Sensei. Justru Kaa-chan akan membawa kami ke Tokyo dan akan memperkenalkan kami pada Tou-chan baru kami! Obaa-chan yang mengatakannya, Sensei jangan berbohong!" seru Boruto emosi.

Shikamaru hanya tertawa kecil usai mendengar jawaban emosi yang telontar dari mulut Boruto.

"Kalian itu polos ya, mau saja dibohongi Nenek kalian. Sekarang, kalian bisa melihat koran ini," ujar Shikamaru sambal menyodorkan selembar koran kepada mereka.

Boruto dan Himawari saling bertatapan satu sama lain, dan mereka pun menolehkan atensi mereka kepada sebuah koran sesuai apa yang Kepala Sekolah mereka katakan.

Pengusaha kaya raya sekaligus duda terpanas di Jepang, Uchiha Sasuke telah menyelenggarakan pernikahan mereka dengan seorang wanita berusia 33 tahun asal Kyoto bernama Hyuuga Hinata. Pernikahan mereka diadakan di Kota Bali dan berlangsung dengan sangat megah.

Kedua mata Boruto dan Himawari membeliak usai melihat berita yang tertulis di atas koran tersebut. Lebih mengejutkannya lagi, saat melihat potret Ibu mereka yang tengah mengenakan gaun pernikahan mewah sambil mengenggam erat tangan seorang pengusaha kaya raya yang terkenal di Jepang tersebut.

Boruto mengepalkan tangannya erat-erat, sementara Himawari membekap mulutnya dan terisak di dalam pelukan Kakaknya. Boruto menggeleng, berusaha untuk tidak mempercayai apa yang tengah terjadi.

"TIDAK MUNGKIN," teriak Boruto dan ia pun meluapkan emosinya dengan tangisan keras.

Hari itu, mereka menyadari bahwa orang yang mereka kasihi sudah bahagia di lain tempat dan tak pernah lagi kembali.

'Kaa-chan, kenapa kau tega melupakan janjimu dan kami? Kenapa kau tega melakukan ini semua? Tak tahukah bahwa, kita begitu rindu pelukanmu.'

-TBC-