MAAF BARU MUNCUL SETELAH MENGHILANG DALAM WAKTU YANG LAMA GUYS!
Saya kembali dengan cerita mahabobrok extra unfaedah ini ke hadapan anda-anda yang sedang gabut dalam masa karantina. Semoga menghibur!
Hari ini Renjun menjadi pecundang. Ia mengunci kamar dan mengabaikan teriakan mama winwin dan adiknya yang menyuruh ia bangun dan lekas sekolah. Papa Taeil -papah tirinya- bahkan beberapa kali mengancam akan mendobrak pintu kamar Renjun, tapi sang pemilik kamar tetap pada keputusannya.
Renjun tidak mau sekolah karena tugas kimianya belum usai. Belum lagi, hari ini ia ada ulangan harian fisika dan belum belajar sama sekali karena kebablasan tidur sampai pagi. Tadi malam Jaemin ternyata hanya mampu mengerjakan 2/3 tugasnya karena tidak kuat menahan kantuk. Itu yang ia dengar dari Jaemin beberapa menit yang lalu di telepon.
"Renjun! Jika dalam hitungan kelima kau tidak keluar-"
"AKU TIDAK MAU SEKOLAH! MAMA DAN PAPA PERGI SAJA BEKERJA LALU SURUH HAECHAN BERANGKAT! BUKANNYA DIA PUNYA KEKASIH YANG BISA MENGANTAR JEMPUTNYA?! JANGAN GANGGU AKU! AKU SEDANG SAKIT! PERUTKU MULAS, KEPALAKU PUSING, NANTI AKAN KUMAKAN SARAPAN DI MEJA JIKA MULASNYA SUDAH HILANG. MAMA DAN PAPA TAK PERLU KHAWATIR-"
"Ok, Renjun! Jangan sampai kau menambah penyakit dengan teriakanmu itu. Lakukan apapun sesukamu!" Putus mama winwin pada akhirnya. "Awas jika kau berbohong, mama pulangkan kau ke Jepang!"
"Ya sudah, pulangkan saja aku ke rumah papa Yuta!"
Tak ada sahutan. Orang-orang itu sepertinya sudah pergi.
"Syukurlah, hari ini aku bisa tidur lebih lama."
Renjun melenguh ketika merasakan sensasi dingin di pipi kirinya. Manusia kurang ajar mana yang berani menempelkan kaleng minuman di pipi mulusnya?
Sial, ada yang mau mencari ribut denganku rupanya!
"Tak salah aku mencintaimu. Wajahmu masih terlihat cantik meskipun pipimu dipenuhi kerak-kerak menggemaskan-"
"Kerak?" Renjun meraba pipinya dan benar saja, kerak-kerak menggemaskan yang Jaemin katakan memang benar adanya.
"Sayang?"
Panggilan gombal tersebut sukses membuat kelopak matanya terbuka lebar. Ia tahu jelas siapa pemilik suara itu. Siapa lagi jika bukan Na Jaemin?
"Sayang-"
"Katakan itu sekali lagi, kubengkokkan batangmu, bajingan!" Ancam Renjun dengan wajah merah jambu. Ia masih malu karena Jaemin memergokinya berpenampilan kacau.
Jaemin mundur teratur lalu duduk di kursi belajar Renjun dari pada harus mengalami nasib naas. Dua kaleng soda di tangannya ia taruh di meja. "Renjun," panggil Jaemin lembut.
Renjun menguap lebar dan mengucek mata. "Hm?"
"Renjun?"
"Apasih Jaem?"
"Aku mencintaimu," ungkap Jaemin dengan alis naik turun.
Renjun mendengus. "Ini akan menjadi terakhir kalinya aku menyahut." Katanya sambil menguap lebar.
"Renjun?"
"..." Renjun pura-pura tidak mendengar dan segera melepas selimut yang melilit tubuhnya lalu turun dari ranjang. Sejenak meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sebelum berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi.
"Renjun, aku membelikanmu ayam goreng."
"What?"
"Satu ekor penuh lengkap dengan usus, ati dan ampelanya."
"WHAAAT?"
"Tidak usah pura-pura kaget begitu, aku tahu kau senang."
Renjun menggaruk pinggangnya. "Tapi untuk apa? Jangan kira aku akan luluh dan berbalik mencintaimu hanya karena seekor ayam. Salah jika kau berharap begitu, Jaemin."
Jaemin mengusap dada dengan ekspresi terlebay yang pernah ada. "Si cantik ini kenapa hobi sekali menyakiti perasaanku?" Ia bergumam sendiri. "Aku harus segera mencuri ciuman di bibirnya agar lekas sembuh." Katanya sebelum tersenyum mesum.
Renjun yang menyadari sinyal bahaya setelah melihat bibir Jaemin maju beberapa senti pun segera berlari dan mengunci diri di kamar mandi. "Gila!" Teriaknya lantang dengan wajah bersemu. "Harus berapa lama lagi aku menghadapi makhluk aneh itu?"
Renjun kira jika ia sengaja berlama-lama di kamar mandi, maka Jaemin akan pulang karena kesal menunggu. Tapi perkiraannya meleset. Pria itu malah anteng memainkan handphone di ranjang sambil merokok.
"Injuni Sayang? Putra bungsu Ariel Noah dataaaaang~"
Tamu di kamarnya bertambah 1.
Renjun yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi terpaksa menoleh. Ia mendengus ketika mendapati Jeno sedang berdiri sambil memegang sekuntum mawar merah yang sepertinya dipetik langsung dari pohon. Oh, jangan bilang itu dari depan rumah Momo Grandma. Renjun mendadak berdo'a pada tuhan agar menyelamatkan nyawa lelaki itu dari ulekan neneknya.
Jeno mengerutkan kening. "Kenapa kau menatapku seperti itu, sayang? Baru sadar kalau wajahku semakin unreal-"
BUK!
"SIALAN!" Jeno, sang pendatang baru, menggerung kesal pada Jaemin yang telah melempar kepalanya dengan bantal sampai ia terjungkal tidak elit di hadapan sang gebetan.
Jaemin hanya tersenyum remeh, lalu beralih menatap Renjun. "Mawarnya berduri, takutnya itu akan melukai jemari cantikmu. Lebih baik kau makan ayamku karena itu akan menyehatkanmu. Tahu kan berapa kandungan protein-"
"Ayam itu digoreng dengan minyak jelantah, Injun. Jangan mau! Tidak baik untuk kesehatanmu."
Renjun tidak menggubris perkataan kedua pengganggu itu dan langsung menggantung handuknya yang basah. Perkataan Jaemin memang lumayan benar, tapi kalau ia harus memakan seekor ayam sendirian, apakah masih bisa dibilang menyehatkan? Yang ada perut ratanya bisa membuncit.
"Kusimpan mawarnya-"
"Buang!" perintah Renjun tanpa perasaan.
Jeno meremas dadanya, sedikit mendramatisir keadaan. Sementara Jaemin tertawa puas sambil mematikan rokoknya di asbak yang tersedia.
"Menyedihkan!" ejek Jaemin sambil menaruh puntung rokok di asbak.
Jika Jaemin pikir-pikir lagi, Renjun merupakan tipe wanita- maksud jaemin, Renjun merupakan tipe uke yang pengertian. Tahu kalau jaemin hobi merokok, pria cantik itu sekarang bahkan menyediakan asbak lucu berwarna pink di meja nakas. Apa sekarang lelaki cantik itu mulai luluh?
Renjun duduk di kursi belajar, sedangkan Jeno kini beralih ke samping Jaemin, duduk berselonjor di ranjang berseprai moomin.
Kedua setan ini sepertinya tidak tahu fungsi sofa di sudut kamarku.
"Kapan kau mau datang lagi ke galeri ayahku? Dia selalu menanyakanmu, Injun," ujar Jeno, lalu iseng mengintip layar handphone Jaemin.
"Tidak tahu, galeri ayahmu juga sangat jauh dari sini. Aku sedang bokek, mengojeg kan tidak gratis," jawab Renjun sambil menyomot ayam goreng yang Jaemin letakan di meja.
"Aku bisa mengantarmu," kata Jaemin. Wajahnya berseri saat Renjun mengunyah ayamnya sambil tersenyum. Oh, adakah yang lebih manis dari senyum injuninya?
"Dengan sepeda butut itu?" Tanya Jeno tidak percaya dan tertawa terbahak-bahak. Wajah Jaemin menggelap.
"Memang kenapa? Kau meragukan kekuatan sepedaku? Jika memang kau tidak percaya dengan ketahanan sepedaku, setidaknya Renjun akan percaya dengan kekuatan cintaku-"
"Kalian!" Renjun menatap dua orang itu sengit. "Tolong Jangan berisik! Adik bahenolku bisa mengamuk kalau tidur siangnya terganggu!"
"Lagipula adikmu tidak tidur, tadi kulihat dia sedang apel dengan Mark di kamar."
Alis Renjun tiba-tiba berkedut. Wajahnya juga langsung memerah.
Jaemin yang tahu kalau injuninya cemburu hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tidak mau ikut campur dengan segala sesuatu yang berurusan dengan Mark. Melihat lekaki receh itu saja sudah membuat kepalan tangannya mengerat, tidak sabar ingin melayangkan pukulan.
Jeno yang tidak mengerti dengan situasi aneh ini hanya menggaruk kepala belakangnya keheranan. "Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Maafkan aku, Guys. Silakan buat keributan sesuka hati kalian." Renjun menarik nafas dan dalam sedetik, suaranya meninggi. "AKU MEMBEBASKAN KALIAN UNTUK BERSENANG-SENANG DI SINI DAN JANGAN BERHENTI SEBELUM-"
"Injun, jangan bertingkah macam-macam," Jaemin sengaja memotong ucapan Renjun. "Mark bisa mengira kau kerasukan arwah Bung Tomo kalau terus berteriak penuh semangat ala pejuang kemerdekaan. Sengaja membuat keributan hanya akan memperburuk citramu di depan Mark. Kau ini ternyata tipe manusia bolot ketika harus berhadapan dengan cinta."
Jeno melotot dan menepuk dahinya keras-keras. Ucapan Jaemin barusan sepertinya cukup untuk memancing kepalan tangan Renjun terbang melayang melintasi beberapa decimeter ruang tak hampa udara untuk mendarat tepat di hidung mancung Jaemin.
Jeno tertawa garing. "Satu-satunya manusia bolot di ruangan ini hanya Jaemin, sayang. Lupakan perkataannya barusan. Kau-"
"Manusia bolot mana yang mampu mengerjakan 2/3 total tugas Pak Dooyoung dalam semalam?" Sela Jaemin tidak peka.
Jeno menunjuk jidat Jaemin dengan mawarnya. "Jadi kau pejuang Sistem Kebut Semalam, Jaem?"
Jaemin mengedik. "Kau salah menunjuk orang."
Renjun diam-diam setuju. Bagaimanapun juga, perkataan Jaemin tidak salah. Satu-satunya manusia terbolot di ruangan ini hanya dirinya seorang.
Renjun mengucek matanya yang gatal. Telinga lelaki mini itu sudah semerah batu Akik Papa Taeil dan Jeno cukup peka untuk menyadari suasana hati gebetannya saat ini jauh dari kata bagus. Jaemin bodoh! Maki Jeno dalam hati.
"Aku belum sempat berterima kasih padamu, Jaem." Renjun tersenyum simpul kemudian mengacungkan telunjuk lentiknya ketika Jeno hendak protes. "Terima kasih telah membantu orang bolot sepertiku. Terima kasih juga untuk ayamnya. Lain kali jangan menghabiskan uang jajanmu demi menraktirku. Aku tidak enak."
Jeno dan Jaemin saling tatap, kemudian tanpa aba-aba mendekati Si Imut Renjun.
Jeno menatap lelaki cantik itu cemas. "Tidak biasanya kau baik begini, Sayang."
Jaemin mengangguk. "Kau berniat membuatku pingsan? Oh... detak jantungku meningkat. Dilan tidak sanggup-"
Cklek
"Sorry." Mark menyengir di pintu kamar Renjun bersama Haechan di belakangnya. "Aku hanya menyampaikan pesan kalau seseorang mencari kekasihnya yang bernama Na Jaemin di depan."
Jaemin melotot kaget. Haechan menambahkan. "Dia perempuan kelas sebelah. Namanya Hina, kan? Siswi baru pindahan dari Osaka-"
"HOLY MOLYYYYYYYYYYYY!" Jaemin berlari menerobos dua orang itu dan meninggalkan mereka dengan tanda tanya besar di kepala.
Mark tersenyum bingung. "Kukira Jaemin pacarmu, Renjun."
Haechan mengangguk lagi. "Kukira juga begitu. Tapi setelah melihat keakrabannya dengan Hina di sekolah tadi, dugaanku luntur."
"Sepertinya mereka kenal saat Jaemin dipindahkan ke Jepang oleh Om Goongmin," celetuk Jeno. "Telingaku jadi saksi kalau Hina menggembar-gemborkan Jaemin sebagai cinta pertamanya tadi. Kalian percaya, kan, padaku?"
"Dia bilang begitu?" Haechan menyingkirkan Mark dengan mudah dan menarik Jeno mendekat. "Coba ceritakan padaku. Oh, man, aku suka gosip terpanas!"
"Kudengar mereka menjalani hubungan jarak jauh tiga tahun belakangan ini..."
Orang-orang itu terus berbicara, namun Renjun tidak menyimak karena kepalanya pusing mendadak. Bingung harus bereaksi seperti apa. Renjun yakin dia tidak sakit hati. Jaemin hanya sahabatnya sejak kecil dan Renjun seharusnya bahagia mendengar kabar itu. Akhirnya salah satu pengganggu dalam hidupnya gugur di tengah perjalanan. Luluh oleh pesona lawan jenis yang jelas lebih cantik dan lebih normal dari pada Renjun.
"Kubilang juga apa, sayang! Jaemin tidak sesetia itu padamu!" Jeno merangkul gebetannya, menghiraukan Mark dan Haechan yang mendelik jijik di sana. "Banyak yang terjadi selama kau tidak masuk tadi. Mau kuceritakan-"
"Bisakah kalian keluar dari kamarku?" Renjun merebut sekuntum mawar merah milik Jeno dan mendorong pria itu ke pintu kamar. Ia bahkan mengabaikan Mark yang menatapnya khawatir. "Terima kasih atas mawarmu, Jen. Aku mencintaimu. Sana pulang!"
Jeno terpaku. Mark dan Haechan tidak jauh berbeda. Mereka tidak salah dengar? Renjun, pemilik gengsi termahal sekecamatan tiba-tiba menyatakan cinta pada Jeno? Meskipun mereka juga tidak yakin apakah pernyataan itu tulus atau tidak. Tapi Jeno tidak peduli. Yang penting Renjun jadi pacarnya sekarang.
"Hari ini kau resmi jadi pacarku," tegas Renjun. Ia tidak peduli dengan nasihat lawas "don't use someone to forget someone." Yang Renjun butuhkan saat ini hanya ketenangan. Jeno menjadi pilihannya untuk berbagi ketenangan. Dan ia yakin, seiring berjalannya waktu, Jeno pasti bisa membuatnya betah dan secara total menyingkirkan sosok Jaemin yang mendominasi isi kepalanya selama ini.
Jeno tersenyum senang. "Besok kita kencan-"
"Nanti malam." Renjun kembali menyela lalu memberi senyum seadanya. "Aku perlu mengurus bisnis di kamar mandi dan sepertinya kalian takkan sanggup berdiam diri di sini bersama aroma tidak sedap yang sebentar lagi pasti menguar dari arah kloset."
Mark terpingkal-pingkal. "Kau tidak harus sefrontal ini, Renjun!"
"Aku harus-"
"Mark, apa perlu tertawa seheboh itu?" Jeno membantu Mark berdiri setelah tertawa berguling-guling di lantai. Heran, mendengar Renjun berkata sinis saja tawa Mark seheboh ini, apalagi mendengar Lucas -sepupu Renjun melawak? Bisa tertawa sampai asma dia kalau begini caranya.
Haechan memperhatikan kakaknya dalam diam. Meski berlagak tidak peduli, sebenarnya Haechan tahu apa yang Renjun rasakan. Tapi ia tidak enak, segan untuk memberi nasihat karena Renjun tidak suka hidupnya dicampuri banyak orang.
Sejak empat tahun ke belakang, Renjun selalu mengucilkan diri di kamar, entah kenapa. Intensitas pertengkaran Renjun dan Mama Winwin pun meningkat. Haechan khawatir dengan keadaan kakaknya, tapi tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana mau mengajak Renjun mengobrol kalau kakaknya itu selalu menjawab dengan nada ketus dan sinis?
"Kemari, guys. Kakakku perlu buang air besar." Haechan menarik kerah kemeja Jeno dan Mark ke dekat pintu. "Kalau ada apa-apa, panggil aku, Injun."
Renjun tidak menjawab dan segera membanting pintu tepat di depan wajah Haechan. Mark dan Jeno yang menyaksikan itu diam-diam meneguk ludah. Perubahan mood lelaki cantik itu terlalu ekstrim. Apa mereka melakukan kesalahan? Ternyata seorang Renjun lebih kompleks dan rewel dibanding wanita sungguhan.
"Injuuun, menantu om, ya ampun sayang tinggimu sudah melebihi mesin cuci om sekarang," Om Goongmin memekik dari depan gerbang rumahnya saat Renjun sedang menunggu jemputan Jeno.
Renjun berkeringat dingin. Apalagi saat matanya bertatapan dengan Jaemin dan Hina. Renjun yakin ia bisa melihat kilatan amarah di wajah wanita jepang itu.
Om Goongmin sudah berdiri di depan Renjun dengan dua rantang bergambar ayam jago merah di tangannya. "Om mau mengembalikan satu rantang mamamu. Terima kasih opor ayamnya, ya? Rasanya terlalu enak sampai om berencana meminta satu rantang lagi. Mamamu ada di dalam, kan?"
Jaemin mengusap wajahnya kasar. Kenapa duda ganteng itu harus jadi Papanya sih? Bisa-bisanya Papa Goongmin meminta satu rantang opor pada calon mertua. Jaemin kan malu. Di sebelahnya, Hina menghentak-hentakkan kaki. Jaemin langsung menghela nafas lelah. Entah drama apalagi yang mau diperbuat perempuan itu.
"Apa?" Tanyanya ketus.
Hina mencibir. "Selingkuhanmu secara terang-terangan merebut papa mertua di depan mata kepalaku sendiri. Papamu bahkan lebih ramah padanya dibanding padaku. Apa ini sinyal buruk? Papamu tidak setuju kan dengan hubungan kita?"
Tanpa berniat merespon keluhan Hina, Jaemin melirik Renjun yang sedang menelepon seseorang. Tumben sekali Renjun keluar rumah malam-malam tanpa diomeli Mama Winwin. Ada yang aneh. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa Renjun memakai kacamata hitam di malam hari begini?
"JAEMIN! JANGAN MENGABAIKANKU!" Jaemin terkesiap, apalagi saat Renjun juga menengok ke arahnya. Jaemin pandangi Hina sesaat sebelum dia menyambar sepeda bututnya di dekat mobil Papa Goongmin.
"Kuantar kau pulang sekarang. Besok-besok jangan berani mendatangi rumahku, Babe. Tidak baik," cerocos Jaemin sengaja dengan suara keras.
"Kenapa? Aku pacarmu-"
"Shut the hell up!"
Hina si keras kepala tetap bertanya. "Kenapa?"
Aku tidak bisa berselingkuh dengan Renjun jika kau terus berkeliaran di dekatku, sialan! Maki Jaemin dalam hati.
Tepat saat Jaemin bersiap mengayuh sepedanya setelah memastikan Hina duduk di belakang, Jeno datang membawa motor Honda GoldWing yang Jaemin ketahui harganya selangit. Seketika Jaemin iri. Kedengkiannya sudah tidak tertahan lagi setelah melihat Renjun menyambut lelaki yang mengaku sebagai putra bungsu Ariel Noah itu dengan senyum semanis martabak coklat.
"Nice coat, Tuan Putri," puji Jeno dengan senyum bulan sabitnya.
Renjun mendengus sambil menggosok telapak tangan. "Antar aku ke toko buku, setelah itu kita makan di..." Renjun menoleh pada Jaemin dan Hina yang mendadak jadi patung. "Maaf, apa kalian sedang menguping kami secara terang-terangan?"
Jaemin tersenyum palsu. Dalam hati ia kecewa setengah mati. "Lanjutkan saja, kami takkan mengganggu," katanya sebelum mengayuh sepeda menjauhi dua orang itu.
Jeno berbisik. "Mereka sungguhan berpacaran, kan? Sekarang kau percaya padaku?"
Renjun mengangguk. "Aku hanya dijadikan objek...entah objek apa. Semacam pelarian yang bisa seenaknya dia lecehkan. Sialan, harga diriku terinjak habis." Renjun menaiki motor Jeno dan memeluk pinggang lelaki itu seerat yang ia bisa. "Semoga kau tidak sebrengsek Jaemin, Jen."
Jeno berubah serius. Mengintip Renjun dari kaca spionnya. "Apa aku pelarianmu saat ini?"
"Bukan. Aku sudah mencintaimu sejak lama."
"Well, itu sedikit meragukan."
Renjun tertawa, lantas mengecup pipi Jeno malu-malu. "Sudah yakin?"
"Yakin seandainya kau mencium di tempat yang tepat."
Renjun tertawa lepas. Ternyata Jeno tidak seburuk dugaannya. Lelaki itu hanya garing saat mencoba melawak, tapi bisa lucu jika sedang mengobrol ngalor-ngidul begini.
"Tepatnya, sejak kapan kau mencintaiku?"
Motor telah melaju sampai depan komplek saat Renjun menumpukan dagunya di pundak lebar Jeno. "Dulu aku sempat jatuh saat kau melukis di kanvas besar di studio Om Donghae. Tapi humormu yang krik krik membuatku mundur seketika. Lalu kau berubah jadi Jeno si kurang ajar yang hobi meremas pantatku. Sejak saat itu aku berpindah hati pada Mark. Tapi Jaemin datang menggangguku. Karena dua sosok tadi telah hilang dari kehidupanku-"
"Aku bukan pelarian, hanya opsi terakhir. Ya, aku mengerti," sahut Jeno kecewa.
Renjun mendengus lagi. "Terserah. Yang penting sekarang kau kekasihku."
"Cium aku lagi, Jun."
"Dasar mesuuuum! Kucium tengkukmu dengan jurus karateku baru tahu rasa kau!"
"Jatuh dari motor mahalku baru tahu rasa kau!"
Renjun manyun. Merasa kalah oleh Jeno. Kacamata hitamnya Renjun lepas dan lemparkan ke tong sampah depan rumah warga. "Jen..." panggilnya.
Jeno menggumam, "Hm?"
"Jangan dipaksakan jika kau sudah tidak mau melanjutkan hubungan abnormal ini."
PLAK!
Renjun meringis saat Jeno menampar lututnya.
Jeno mendecak. "Jangan pesimis begitu. Aku tidak suka."
"Kau mencintaiku? Sungguhan, kan? Kau memacariku bukan untuk dimanfaatkan-"
"Bicara sekali lagi, kulemparkan kau ke parit depan," ancam Jeno.
"Kau tidak sebaik dugaanku ternyata."
"Kalau aku terlalu baik, kau bisa melunjak."
Renjun merengut dan memeluk lelaki itu lebih erat. Kepalanya bersandar di punggung tegap Jeno. Tanpa sadar Renjun tersenyum-senyum sendiri bak gadis kasmaran. Secepat ini Renjun jatuh cinta atau sejak awal yang Renjun cintai memang Jeno, bukan Jaemin?
Renjun tidak sadar jika motor Jeno baru saja melewati Jaemin dan Hina di persimpangan jalan karena wajahnya menghadap arah berlawanan. Sementara itu, Jaemin hanya bisa menatap mereka dengan hati tersayat.
Injuni tercintanya tersenyum di pelukan sang rival...
Injuni sahabat kecil tercantiknya telah jatuh ke pelukan orang...
Adakah yang lebih buruk dari itu?
"Hina..." panggilnya.
Hina menyahut judes. "Apa?"
"Sebaiknya kita putus."
TBC
Di Chapter selanjutnya asal muasal hubungan Jaemin Hina akan dikupas secara tuntas dan tajam setajam bacotan Mas Dooyoung. Maaf ya Jeno datang-datang udah menang banyak aja hehe
