Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, and Viz Media. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.

.

Tortoiseshell

.

.


Warna senja tertelan oleh kumpulan awan hitam yang sewaktu-waktu melemparkan gejala alam berbahaya. Untuk kesekian kali, petir berusaha menyambar puncak tertinggi di lautan hijau. Hewan-hewan kecil dan besar bergegas mencari tempat bersembunyi dari cuaca buruk yang sebentar lagi menghampiri. Benar saja, secara tiba-tiba, hujan turun dengan derasnya. Pada tengah hari nan cerah pun pancaran langit siang dengan mudah terhalang oleh dedaunan rindang di belantara. Terlebih lagi sore itu, kala hujan badai melanda, suasana lantas kelam layaknya malam.

Di tengah kondisi rimba seperti itu, ada satu siluet manusia berbalut zirah yang membawa bungkusan kain bergerak seorang diri. Di antara akar-akar gendut yang menyembul, langkahnya mantap. Kian lama, medan yang ia lalui kian berat. Tanah basah yang menjadi pijakan semakin melunak dan menguras daya. Sosok tegap itu menghentikan langkah serta mengatur napasnya yang tersengal. Sebagai sandaran ia menyentuh batang pohon yang saking besarnya, manusia dewasa pun tidak dapat memeluknya dengan kedua tangan.

Sesaat pengelana itu mendongak, memandang deretan pohon yang bergeming. Udara bertekanan tinggi melesat cepat, mengempas tanpa jeda. Tangis langit mengguyur tiada henti, membasahi segala yang ada di permukaan bumi tanpa terkecuali. Pepohonan yang rata-rata usianya telah mencapai ratusan tahun itu tetap tegak berdiri. Kelebatan kilat menerangi jalan, rupa lelah kesatria bernama Sesshoumaru jelas terpampang.

Sepersekian detik kemudian suara petir yang menggelegar terdengar amat dekat. Tipis, namun sang samurai dapat merasakan bumi sedikit bergetar di bawah kakinya. Pangkal alis yang menaungi sepasang permata tajam itu bertemu di tengah, ia menarik napas panjang. Pria itu berhenti melaju, bukan karena takut, tapi ia berpikir sejenak, mempertimbangkan situasi. Saat itu, samar-samar ia melihat kerlip cahaya kecil di kejauhan. Tujuan baru telah ditemukan, keputusan telah ditetapkan. Ia lalu mempercepat langkah meski melewati jalan mendaki.

Sumber penerangan yang lelaki itu lihat berasal dari jalan setapak yang tersorot oleh sisa-sisa sinar matahari yang kian tenggelam di sudut horizon. Kian dekat ia dengan jalan kecil yang ia temukan, semakin ia menyadari keberadaan sebuah kastil terbengkalai yang tak jauh darinya. Pria itu menyusuri dinding kayu yang menjadi pagar sampai tiba di depan gerbang utama.

Sesshoumaru memindai sekitar; Halaman luas itu ditumbuhi dengan berbagai macam tanaman liar dan semak belukar yang tingginya mencapai satu meter. Kastil reyot yang keseluruhan arsitekturnya terbuat dari kayu dan dahulu bercat merah itu terdiri dari beberapa bangunan, namun, hanya yang paling dekat dengan pintu masuklah yang masih berdiri meski terlihat rapuh dan kapan saja bisa rubuh.

Setelah yakin akan keadaan, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar di beranda bangunan utama. Punggungnya bersandar pada bilik kayu, akan tetapi, wakizashi—pedang tradisional Jepang dengan panjang mata bilah antara antara 12 hingga 24 inci—beserta katana-nya masih tersanggah di pinggang.

Sambil menghadap ke arah pintu gerbang, prajurit itu duduk tatehiza (kaki kiri seperti bersila tapi telapak kaki kanan menyentuh lantai dengan lutut terangkat) dengan begitu, ia dapat dengan cepat bereaksi bila sewaktu-waktu ada bahaya yang menghampiri.

Laki-laki itu mencopot helm dan topengnya. Surai hitam pekat panjang yang tadinya tergelung di tengkuk sekarang ia ikat tinggi-tinggi, poni basah sebatas alis berjatuhan di dahi. Pria itu mengelap roman dinginnya dengan punggung tangan berlapis pelindung (tekko).

Putra sulung Inu no Taisho itu tengah terseret arus pemikiran. Meski ia memandang lurus ke depan, pikirannya jauh tertinggal ke belakang, ke problema yang telah dilalui. Beberapa jam lalu, ia dan beberapa anak buahnya pergi ke satu desa untuk mengumpulkan pajak. Jumlah yang ditetapkan sudah ia kantongi tetapi, belum tuntas ia menyelesaikan tugas, hal yang tak terduga terjadi.

Kaum yang selama ini dianggap tidak ada apa-apanya itu diam-diam membentuk persekutuan dengan tetangga desa dan melawan balik. Di tengah perjalanan pulang, pengikut-pengikutnya yang terperosok ke dalam jebakan harus menghadapi penyerbuan. Yang berlaku selanjutnya mudah ditebak, pertempuran yang jauh dari kata imbang. Walau cedera dan kehilangan seluruh anak buah, ia berhasil membasmi usaha pemberontakan golongan lemah tersebut dengan menyarangkan pedang tepat di dada pemimpin mereka.

Rentetan kesialan terjadi pada Sesshoumaru berjam-jam kemudian. Di tengah perjalanan pulang, kudanya yang terkena imbas pertikaian tak lagi sanggup menyeret kaki-kaki pincangnya. Tanpa ragu ia mencabut katana dari sarung lalu dengan sekali tebas ia membebaskan kuda kesayangannya itu dari kesengsaraan. Celakanya lagi, tepat di saat itu, bawaan berharganya yang ia gantung dekat pelana jatuh berguling-guling di antara pepohonan dengan jalur curam. Oleh karena itulah, ia keluar dari jalur setapak dan masuk lebih jauh ke perut hutan.

Tak lama berselang, hujan petir menggelegar, menumbangkan sebuah pohon raksasa yang menyebabkan sebagian tanah longsor dan menimbun bangkai kuda serta perbekalan. Dan, di sinilah ia sekarang; sendirian, pakaian yang ia sandang basah hingga lapis paling dasar, kedinginan, tanpa tunggangan maupun makanan. Hanya sebuah pembuktian yang ada dalam genggaman, seperangkat zirah kebesaran yang ia kenakan, dan prinsip-prinsip sebagai seorang samurai (bushido) yang menjadi kehormatan. Yang terakhir itulah yang paling pokok bagi Sesshoumaru.

Kehilangan beberapa bawahan yang selama ini diperintahnya sedikit banyak membuat Sesshoumaru merasa terganggu. Tetapi, lagi-lagi, tak ada waktu baginya untuk berduka. Prajurit itu memejamkan mata, merenungi langkah yang harus ia tempuh, laporan yang akan ia berikan, dan bagaimana tindakan pencegahan yang seharusnya diambil agar kejadian serupa tidak terulang.

Sebagai manusia biasa, rasa penat akibat pikiran dan tenaga yang terkuras tak mampu lagi terabaikan. Bagai disenandungkan oleh butiran hujan yang menyerbu rimba, Sesshoumaru pun terlelap di dalam duduknya.

Setelah beberapa waktu lamanya, suara lembut bernada putus asa membuat pria itu kembali terjaga, "Tolong! Siapa saja, tolong aku!"

Samurai itu lantas membuka mata, di waktu yang sama, dari balik selimut hujan yang masih turun dengan derasnya, seorang gadis berlari melewati pintu gerbang. Rambut hitam panjang yang tergerai menempel di sisi wajah feminin itu. Tubuh sang perempuan hanya terlapisi oleh selembar kain putih yang panjangnya mencapai betis (kosode). Dari ujung rambut hingga ujung kaki sosok itu basah kuyup. Pakaian tipis yang dikenakan melekat erat di tubuhnya, seluruh lekuk kirana yang ada terpajan. Sama sekali tidak ada ruang untuk imajinasi tercipta. Kendati demikian, laki-laki itu sungguh meragukan bahwa khayalannya dapat menandingi keelokan yang secara langsung ia saksikan.

Gadis itu berhenti di tangga, ia duduk bersimpuh, dadanya naik-turun, ia terengah-engah tepat di hadapan sang prajurit. Sesshoumaru setengah bangkit dari duduknya, kini lutut kirinya sudah bertumpu di lantai. Pada akhirnya, perempuan itu mengangkat kepala. Untuk kali pertama, jendela jiwa mereka beradu tatap. Untuk sesaat, sang samurai terpana pada safir biru kelabu nan unik yang tengah memandangnya tiada berantara. Benak Sesshoumaru meyakini bahwa, yang ada di depannya adalah sosok tercantik yang pernah ia temui di sepanjang hidup.

Gadis itu membuka mulut, "Oh, Kamii-sama ... " kedua tangan memeluk lengan demi menutupi diri, lalu ia mengambil jeda untuk mengatur napas.

Sang samurai meneliti ekspresi si gadis, garis wajah lembut itu terlihat pucat dan keletihan. Sesshoumaru menunggu apa yang hendak diucapkan orang itu berikutnya. Instingnya meneriakkan bahaya. Bagaimanapun juga, prajurit itu merasa ada yang aneh, situasinya saat ini terbilang sangat tidak biasa dan teramat mencurigakan. Desa terdekat bermil-mil jauhnya. Seorang perempuan rupawan di tengah hutan, sendirian, dan hampir telanjang!? Sudah pasti gadis itu harus diwaspadai, ya 'kan?

Bukan permintaan tolong lagi yang terucap seperti yang Sesshoumaru terka, sebanding dengan kehadirannya yang penuh misteri, sosok jelita itu malah berkata dengan nada terganggu sekaligus penasaran, "Sebenarnya, apa yang kau lakukan di sini, sih?"

Belum sempat pria itu bereaksi, kelebatan kilat menyambar ke arah mereka. Kurang dari sedetik kemudian gemuruh petir nan dahsyat seakan meledak persis di antara keduanya dan menghancurkan satu sisi pagar kayu di teras kastil. Gadis itu terpental beberapa meter ke tanah sedangkan Sesshoumaru terempas beberapa kaki ke dalam bangunan.

Dikarenakan efek cahaya terlampau benderang barusan, pandangan Sesshoumaru gelap meski ia sudah membuka mata di detik berikutnya. Dan bunyi keras yang belum lama ia dengar, membuat telinganya berdenging hebat. Tiada mengindahkan kealpaan dua indranya, samurai itu lantas berdiri di atas kedua kaki. Ia memejamkan mata erat sebelum membukanya lalu memaksa diri untuk melihat sekitar.

Lantai kayu berderak di bawah kaki Sesshoumaru ketika ia maju secara perlahan. Di bawah sinar tipis senja yang sekarat, di balik tirai hujan, ia hanya menatap semak-semak kosong. Gadis itu tidak ada di halaman kastil. Refleks, tangan kiri Sesshoumaru menggenggam sarung katana dengan ibu jari di tsuba (batas pegangan dan bilah pedang). Berjaga-jaga agar siap mendorong senjatanya keluar sewaktu-waktu diperlukan.

Tahu-tahu, kedua tangan putih dengan jari-jemari ramping merayap di bahu lalu ke dada Sesshoumaru. Tidak panik, pria itu membalik badan, dan mundur beberapa langkah ke belakang hingga tangan itu terlepas dari dirinya.

"Oh, Samurai-sama, mengapa kau menjauh?" rengek gadis itu yang masih menunduk. Dengan lemah lembut ia meminta, "Kumohon, aku butuh pertolonganmu. Aku sangat ketakutan. Hidupku dalam bahaya tapi aku berhasil kabur dan sekarang ... " suaranya melantun merdu kala berkata, "sekarang aku kedinginan. Bersediakah kau memeluk dan memberiku kehangatan?"

Kaum Adam mana jua mutlak takluk pada permintaan semacam itu dari lawan jenis berparas manis yang membutuhkan bantuan. Tapi tidak dengan samurai yang satu itu. Batinnya meneriakkan bahaya, ia meningkatkan kewaspadaan. Mata Sesshoumaru memicing, kedua netra hazel-nya malah mengikuti arah gerakan orang itu bagai binatang buas mengamati mangsa.

Kaki kanan gadis itu maju, disusul yang kiri. Sesshoumaru mundur selangkah, ia menyidik dengan saksama perubahan besar ketika pada akhirnya gadis itu menunjukkan muka. Entah hanya halusinasi atau apa, namun sekilas, di mata sang samurai, wajah gadis itu berubah total; mata bulat menjadi bentuk almon, hidung itu menjadi tajam, bibir itu menjadi lebih tipis dibanding pertama dilihatnya. Sedetik kemudian, paras itu kembali seperti semula.

"Kau menghindariku?" komentar si perempuan tidak percaya, kekecewaan jelas terdengar. Sudut kanan bibirnya terangkat sebentar, gadis itu menghela napas, dan memejamkan mata. Ketika kembali membuka kelopak, intonasinya berubah tegas, "Kau tahu, tidak ada yang pernah menolakku sebelumnya, tidak manusia, tidak pula siluman." tidak ada lagi kelembutan dan feminitas pada kalimat yang diucapkan.

'Siluman?' gema batin sang samurai.

Gadis misterius itu mendengus dengan cara yang tidak anggun seraya mengangkat kepala untuk menatap laki-laki di hadapan. "kau, membuatku, marah," tiap kata dilafalkan dengan perlahan, berjeda, dan hanya sebatas bisikan.

Menyadari perubahan yang teramat kentara, kesatria itu mencabut pedang dari sarung dan mengacungkannya ke depan. Garis wajah itu masih milik gadis yang sama tetapi, entah bagaimana air mukanya terlihat berbeda. Dan yang paling mencurigakan adalah mata perempuan itu: Iris biru kelabu yang ia tatap mendadak beralih menjadi berma, terang, dan mengancam.

Gadis itu tertawa melengking, sejurus kemudian ia berteriak, "Kau boleh menolak kecantikanku tapi kau tidak memiliki pilihan selain mati ditanganku!" Sekejap mata, ia menghilang.

Serupa elang, Sesshoumaru menatap nyalang tiap sudut yang terbentang. Nalurinya memerintah untuk melihat ke atas, kala pria itu menengadah, ia terlambat, sepasang kaki tanpa alas sudah di depan mata. Gadis itu menendang dan dengan menggunakan tubuh prajurit itu ia bertolak, berputar di udara, dan mendarat sempurna di atas tanah.

Sesshoumaru yang terdorong dua meter ke belakang bergegas bangkit. Bagian yang tidak tertutup zirah di lengan haori putihnya kini bernoda lumpur, dadanya terasa sesak namun ekspresinya masih saja datar. Sesungguhnya, sebelum menerima tendangan, ia berhasil sedikit mundur, oleh karena itulah, hanya dadanya yang terkena serangan dan bukan tengkoraknya.

Pria itu mengatur pernapasan selagi sel-sel kelabunya menelaah situasi, gerakan lawannya cepat, itu harus diakui, tapi hanya itu yang menjadi kelebihan. Tendangan barusan tidak terlalu kuat untuk membuatnya bergelung kesakitan apalagi melumpuhkan. Sesshoumaru mengembuskan karbon dioksida, kesimpulan telah didapat: jika ia terus berhasil mengimbangi kecepatan gadis itu maka ia akan menemukan celah untuk mengalahkannya dengan satu langkah.

Hujan kian deras, lagi-lagi lawannya menghilang dari pandang. Genggaman sang samurai pada pedang kian kuat. Kali ini ia akan lebih berhati-hati, ia pantang membiarkan musuh menyentuhnya untuk kedua kali. Lagi-lagi, Sesshoumaru sedikit terkejut manakala gadis itu semerta sudah di hadapan, merampas wakizashi miliknya yang bertengger di pinggang, dan dalam sepersekian detik berikutnya, bilah mematikan itu sudah terulur hendak menikam arteri karotisnya. Pada detik terakhir senjata tajam itu hendak mengoyak lehernya, kaki kanan pria itu mundur selangkah dan ia memiringkan tubuh. Bukan perkara mudah menghindari gerakan secepat kilat tapi Sesshoumaru berhasil. Pun, di saat yang sama ia mengayunkan pedang demi menebas gadis yang persis berada di depannya.

Dengan kelicikan yang setara dengan dirinya, sang lawan malah dengan sengaja menjatuhkan diri ke bumi dan mengincar titik lain. Gadis yang kini berbaring miring itu dengan tangkas mencoba menendang kaki kanan Sesshoumaru agar lelaki itu kehilangan keseimbangan dan kembali mencium hamparan rumput. Tapi sang samurai sudah mengantisipasi, dengan mudah ia melompat. Ketika kakinya kembali menjejak, tangannya sudah terangkat ke atas, pedangnya berubah arah menjadi vertikal dengan ujung bilah yang siap memacak ubun-ubun si penyerang. Akan tetapi, ujung katana berharga Sesshoumaru hanya menghunjam tanah. Gadis itu berguling ke belakang dan dalam satu kerjap mata gadis itu sudah berdiri empat hasta darinya.

Sesshoumaru kembali memasang kuda-kuda, bersiap akan serangan lain yang akan datang. Kala itu ada yang aneh, postur tubuh lawannya tak lagi tegap, wakizashi miliknya yang dirampas terjatuh begitu saja. Kedua tangan si perempuan berada di kepala, raut wajah dan gestur tubuhnya seperti tengah menahan sakit padahal ia belum menyarangkan satu pun serangan balik.

Sambil tertunduk, gadis itu menebar ancaman, "Aku akan membunuhmu!" Kedua tangannya membelit lehernya sendiri, kuku-kuku itu menancap di kulit terluar tapi tidak sampai mengeluarkan darah. "AKU AKAN MENGULITIMU HIDUP-HIDUP! AKU AKAN MEROBEK-ROBEK TUBUHMU DENGAN TANGAN KOSONG! AKU AKAN MEMBUATMU MENYESAL TERLAHIR DI DUNIA! AKU AKAN MENIKMATI SETIAP DETIK MENYIKSAMU, JALANG!" teriaknya dengan suara ganda.

Kedua pangkal alis Sesshoumaru bertautan, ia tak lagi dapat menyembunyikan keheranan yang ia rasakan. 'Jalang? Siapakah yang dimaksud?' Perempuan itu seakan memaki orang lain. Selain gadis itu sendiri, hanya ia seorang satu-satunya manusia yang ada di sana. Seketika, berbagai kisah mitologi yang pernah ia dengar di masa lampau tentang hutan yang dihuni oleh makhluk mistis seperti; Tengu, Gashadokuro, Tsurara Onna, dan Yurei berebut tempat di otak si kesatria.

Mungkinkah semua yang diceritakan itu nyata dan gadis itu adalah satu di antara mereka?

Dilihat sepintas pun alangkah banyaknya keganjilan pada gadis itu sejak kali pertama mereka bertatap muka. Tak disangkal, setelah sambaran petir tadi, perubahannya teramat drastis dan abnormal. Roman—khususnya penglihatan, kecepatan, serta suara perempuan itu jadi mengerikan dan tidak insani.

Fakta-fakta lain yang terhampar membuat praduga pria itu kian condong ke satu arah. Sebuah cerita horor lain yang pernah mencapai telinganya menggiring Sesshoumaru pada satu prasangka. Dengan ketenangan yang tak terbantahkan, lelaki itu menuntut penjelasan dengan suara baritone-nya, "Onna, kau itu sebenarnya apa?"

Tak hirau atas pertanyaan yang dilayangkan, perempuan itu melingkarkan kedua tangan di perutnya sambil mengerang kesakitan. Saat sosok itu mengangkat wajah dan menatap sang samurai, tidak hanya irisnya saja yang merah tapi seluruh selaput putihnya juga berubah sewarna darah. "Cukup sudah bermain-mainnya," ucap gadis itu dengan napas terengah-engah. "Kalian berdua akan mati di tanganku!" ocehan itu disambung oleh tawa jahat serupa monster.

'Kalian berdua?' Dua kata itu resmi membulatkan keyakinan Sesshoumaru atas asumsi yang ia miliki: gadis itu tengah dirasuki.

Perempuan aneh itu hendak berjalan tapi tubuhnya terlalu berat untuk digerakkan. Oleh karena itulah, ia berjongkok dengan satu tangan diletakkan di permukaan bumi. Dari tangan itu muncul percikan yang kemudian menjelma menjadi sinar kuning dan biru yang merambat cepat di atas tanah menuju si prajurit.

Samurai yang sering kali maju di garis terdepan peperangan itu menghindar di saat kritis, cahaya itu melewatinya sebelum menghantam sebuah pohon rindang. Pria itu membelalakkan mata, pohon itu bagai tersambar petir, hangus secara instan. Situasi menjadi krusial, sekarang ia tidak boleh melakukan satu kesalahan. Meski keadaan terasa lebih berbahaya, sebenarnya, Sesshoumaru pun paham bahwa musuhnya dalam keadaan lemah. Gadis itu seakan tidak dapat bergerak dan itu adalah kesempatannya untuk balik melawan. Kali ini, ia yakin tidak akan gagal.

Sesshoumaru berlari, sambaran demi sambaran yang sama mengarah padanya. Dengan lihai, samurai itu terus melompat ke tempat yang aman hingga pada akhirnya ia berhasil mendekati musuh. Saat ia mengangkat pedang, di waktu yang sama gadis itu mengangkat kedua lengan dengan telapak tangan mengarah ke depan. Bola kekuatan yang lebih dahsyat terlempar ke arahnya. Otomatis, Sesshoumaru berusaha mengelak dari malapetaka yang menerjang kencang.

Sialnya, tidak seperti yang sebelumnya, kini kekuatan tak masuk akal itu hanya melewati benda lain sebelum berbalik arah dan kembali mengincar dirinya. Ia sudah berlari zig-zag di antara pepohonan tetap saja sinar pencabut nyawa itu tak terkecoh dan terus membidiknya.

Sesshoumaru menoleh sebentar ke arah gadis itu sebelum kembali fokus pada apa yang ada di depannya, sambil terus bergerak lincah di bawah guyuran hujan dan landasan berkerikil, kepalanya memikirkan segala hal sekaligus. Mendadak ide gila guna mengakhiri pertarungan konyol itu tercetus di benak. Tiba-tiba Sesshoumaru berputar dan berlari mendekati sang oponen.

Benar, ia berencana untuk menabrakkan bola cahaya itu kepada pemiliknya. Jika berhasil, musuhnya akan binasa. Akan tetapi, jika ia tidak berhasil menyingkir di waktu yang presisi dan lawannya menghadiahkan serangan baru yang lebih besar. Maka, tamatlah hikayatnya.

Ketika jarak mereka tinggal dua meter dan hanya dua langkah lagi mereka bertumbukan, seketika gadis itu mengangkat wajah dan berkata, "Masuklah ke kastil agar kau selamat!" pintanya dengan suara halus yang sarat akan ketulusan.

Mereka saling memandang dalam waktu singkat, saat itu Sesshomaru menyadari bahwa manik sosok misterius itu sudah berubah kembali menjadi warna biru kelabu seperti pertama dilihatnya.

Sang samurai mengumpat dalam hati sambil merubah arah. Ia telah melupakan satu hal fatal. Jika tebakannya benar dan tubuh gadis itu dikuasai oleh siluman, sudah pasti rintangannya berlipat ganda.

Bagaimanapun juga, mustahil Sesshoumaru melupakan satu aspek di dalam tujuh yang tidak akan ia pinggirkan. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi berperang, para kesatria seperti dirinya dituntut untuk memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang dan kepedulian yang tidak hanya ditujukan pada atasan serta pimpinan, tapi juga pada kemanusiaan. Sikap ini harus tetap ditunjukan baik pada siang hari yang terang benderang, maupun di kegelapan malam. Kemurahan hati juga ditunjukkan dalam hal memaafkan. Ia tidak akan membunuh orang yang tidak bersenjata, itu adalah prinsip samurai.

Tak ingin ditipu, sambil berlari ke samping, laki-laki itu menuntut penjelasan, "Apa maksudmu?"

"Kumohon! Percayalah padaku," seperti menahan sesuatu dengan segala daya upaya, perempuan aneh itu menutup penglihatan dengan rapat hingga kerut-kerut terbentuk di ekor mata. Tangan gemetarnya terangkat perlahan, dengan jari telunjuk ia menunjuk bangunan utama, "Bergegaslah! Aku sudah tidak ... " kalimatnya tak terselesaikan, gadis itu meringkuk menahan derita.

Serangan serupa kilat mematikan terus memburu Sesshoumaru tanpa ampun dan ia tidak mempunyai kemewahan berjuluk waktu untuk berpikir masak-masak. Seharusnya ia mempertanyakan pada diri sendiri, mungkinkah saran itu adalah jebakan? Sebab, percaya pada orang yang terus menerus menyerang dengan kekuatan magis adalah hal yang paling tidak logis. Tetapi, itulah yang samurai itu lakukan dalam detik-detik terbatas yang ia miliki.

Dipandu oleh nurani, raga pria itu seringan bulu kala melompati tiga anak tangga sekaligus dan langsung masuk ke dalam bangunan yang dimaksud. Seraya terus bergerak, ekor matanya melihat cahaya yang mengikuti. Sinar itu segera lenyap tanpa jejak ketika melewati ambang pintu. Hal lain yang tidak mudah untuk ia percayai kala itu.

'Apa yang sebenarnya terjadi?'

Lisan perempuan itu benar adanya. Kali ini tidak diragukan lagi jika dugaannya tepat: raga gadis itu tengah dikendalikan sesuatu. Selain itu, apakah bangunan itu semacam tempat suci? Sesshoumaru menyisir ruangan, tidak ada patung maupun altar tempat sesembahan. Lebih dari yang terlihat, tempat itu berhasil menghalau kekuatan yang membuatnya kewalahan.

Lelaki itu kembali memusatkan pikiran pada hal pokok: Mungkinkah pertarungan itu selesai sampai di sini? Tidak, ia tidak mungkin hanya berdiam diri di dalam sana dan menyaksikan figur itu membungkuk kesakitan di bawah serbuan hujan.

Lalu, apa yang harus ia lakukan? Laksana menghitung satu ditambah satu bagi Sesshoumaru untuk memutuskan opsi apa yang 'kan diambilnya kemudian. Fakta tentang bangunan reyot itu membuahkan satu pemikiran. Energi apapun yang ada di sana pasti juga sanggup menghalau siluman yang menguasai si perempuan.

Demi mewujudkan gagasan, pria gagah itu lekas keluar dari sana. Sesshoumaru memungut senjatanya yang sempat direnggut lawan lalu menyematkan benda itu kembali ke sarungnya. Tanpa suara ia mendekati sosok itu. Dengan satu tangan ia mencengkeram pergelangan tangan kanan gadis itu, lalu memuntirnya ke arah punggung. Sedangkan tangan kiri menyelinap ke lengan kiri musuhnya, melintas ke punggung serta mencengkeram pergelangan tangan kanan orang itu. Dengan demikian, ia sudah mengunci pergerakan sang oponen.

Tangan kanan Sesshoumaru mengalungi leher gadis itu untuk menempelkan bagian tajam wakizashi ke lehernya. Kepala perempuan itu menoleh ke arahnya, permata bulat nan hablur menatap dari balik kelopak sayu. Pemilik paras menawan itu tidak secuil pun memberikan perlawanan, ia malah memerintah dengan suara parau, "Bawa aku masuk, cepatlah!"

Baru saja si gadis menyelesaikan kalimat, ia segera tak sadarkan diri. Pada momen selanjutnya, Sesshoumaru merasakan aura intimidasi mulai timbul dari tubuh mungil itu. Lengan yang dikunci mulai memberontak, tenaganya menguat. Lekas-lekas samurai itu mempercepat langkah. Ketika geraman buas terdengar, ia segera melompat ke dalam bangunan dan melemparkan perempuan itu ke pusat ruangan.

Apa yang selanjutnya Sesshoumaru saksikan sungguh sukar dipercaya: Tubuh gadis itu bergelung, mulutnya terbuka lebar, jeritan umpatan yang hendak terlontar segera tertelan oleh erangan penuh nestapa. Pada momen berikutnya, ada aura hijau yang menguar dari sekujur tubuh si perempuan. Jauh di luar nalar, kumpulan energi serupa asap itu membumbung di udara sebelum membentuk suatu wujud kasatmata yang kian solid sebelum melesat cepat, hendak melarikan diri menuju hutan.

Dengan sigap Sesshoumaru mencabut pedang dan memakuk. Entitas berwarna biru kehijauan yang memiliki tubuh serupa ular namun mempunyai sirip di samping kepalanya itu terbelah menjadi dua bagian lalu jatuh. Makhluk yang ternyata siluman sidat itu menggeliat, kilat listrik kekuningan menjalar di tubuh panjangnya sebelum ia berubah menjadi debu tipis, tertiup angin, dan menguap tanpa sisa.

Maujud asli siluman yang merasuki gadis itu telah mati di tangan sang samurai, laki-laki itu menoleh untuk melihat figur yang masih bergelung dengan kepala berbantalkan lengan di atas lantai. Kedua tangan Sesshoumaru masih menggengam katana yang teracung ke depan. Kakinya maju pelan, penuh kewaspadaan, ia mendekati si perempuan.

"Wanita!" panggil pria ningrat itu dengan suaranya yang dalam. Karena yang dipanggil tidak juga memberikan reaksi, lelaki itu berkata lagi, "Angkat wajahmu!"

Masih tidak ada respons. Tanpa pikir panjang Sesshoumaru mengangkat pedang dan mengayunkannya.

.

.

.

~To Be Continued~


Sedikit penjelasan dari berbagai sumber:

- Chonmage memang potongan rambut samurai (bagian ubun-ubun dicukur hingga botak dan sisanya diikat di atas kepala). Tapi tatanan itu dimulai sejak periode Edo (1600-1800an). Again, karena fic ini bersetting periode Kamakura (1185-1333), jadi (dengan sangat lega hati) rambut Sesshoumaru masih panjang seperti di animanga X'D hanya beda warna aja.