"Kakak!" panggil Hanabi sambil melambaikan selembar kertas dan berlari menuju tempat Hinata berpijak.
Hinata berbalik saat mendengar seruan dengan suara yang sangat familiar di telinganya. Ia menghentikan aktivitas berkebun sejenak. "Hanabi, ada apa?"
Hanabi menyodorkan kertas yang sedari tadi ia bawa. "Nilaiku meningkat! Akhirnya aku bisa mengalahkan Konohamaru!"
Hinata membaca kertas yang diterima. Hanabi memperoleh ranking 1 seangkatan, Hinata menatap Hanabi tidak percaya. "Hanabi? Bagaimana bisa?"
Hanabi membusungkan dada sambil berkacak pinggang. "Tentu saja bisa!" Hanabi menepuk dadanya penuh kebanggan. "Hanabi Hyuuga tak akan terkalahkan!"
Hinata tersenyum melihat adiknya yang begitu bahagia dan penuh percaya diri. Hinata mengusap surai kecoklata itu. "Meski begitu, kau tetap jangan meremehkan Konohamaru ya."
Hanabi menyilangkan kedua tangan di depan dada. Maksud hati ingin mendapat pujian, alih-alih ia malah mendapat wejangan. "Oh ayolah Kak. Aku sudah berusaha sekeras ini, setidaknya pujilah aku."
Hinata tertawa kecil. "Baiklah, kalau begitu bagaimana jika Kakak akan membuatkanmu caramel pudding?"
Hanabi menerjang Hinata. "Kakak memang yang terbaik!" Sudah menjadi rahasia umum di keluarga Hyuuga tentang keahlian Hinata dalam memasak, terutama dessert. Wanita itu bahkan mampu membuat Hiashi tersenyum lebar hanya dengan sesendok apple pie yang ia buat.
Pintu digeser, menampakkan sosok pria dengan yukata coklat. "Permisi Nona Hinata, maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa, Ko." Hinata melepaskan rangkulan pada Hanabi. "Ada apa?"
Ko membungkuk sebelum menatap Hinata. "Tuan Hiashi memanggil Nona Hinata untuk segera menghadap."
Hanabi mengerutkan dahi. "Kakak? Bukankah Ayah seharusnya menemuiku untuk melihat pencapaian yang kudapatkan?"
Ko menggeleng. "Tuan Hiashi ingin bertemu dengan Nona Hinata. Sudah waktunya, Nona."
Hinata terkesiap lalu menarik napas dalam untuk menenangkan hatinya. Tentu saja ia mengetahui maksud dari Ko. Jika Ko sudah berkata demikian, maka topik yang akan dibicarakan pasti berkaitan dengan umur dan masa depannya kelak.
Hinata menatap Hanabi. "Kakak akan segera kembali. Kau istirahat ya."
Meski Hanabi tidak rela kakaknya langsung pergi dan menepati janji terlebih dulu, mau tidak mau ia harus menurut. Walau bagaimanapun dilihat dari betapa seriusnya ekspresi Ko, permasalahan yang akan dibicarakan pasti tidak kalah serius.
Hanabi mengangguk lemah. "Baik, Kak."
Hinata tersenyum kemudian berjalan mengikuti Ko setelah melepaskan peralatan berkebunnya. Mereka menyusuri koridor, melewati ruangan-ruangan dengan shoji tertutup. Entah mengapa perjalanan menuju ruangan Hiashi terasa begitu menyesakkan dan memberatkan. Membayangkan bagaimana tekanan yang akan diberikan oleh sang Ayah hanya dengan tatapan, ekspresi, dan sepenggal kata sudah membuat Hinata merasakan gejolak tak mengenakkan di perutnya.
Mau bagaimanapun hubungan dan kedekatan mereka sebagai keluarga, tak mampu membuat Hinata melonggarkan kewaspadaannya. Dididik keras sejak kecil membuat perasaan ketakutan itu tumbuh. Walau semua orang mengetahui jika baik Hiashi maupun Hinata berusaha memperbaiki, namun tensi itu masih ada. Jarak itu masih tercipta.
Hinata menarik napas dalam-dalam, menormalkan detak jantungnya yang menggila. Kedua tangan saling menggenggam satu sama lain, saling memberikan kekuatan. Kini mereka telah sampai di depan ruangan Hiashi. Ko berhenti sejenak kemudian menilik Hinata. Sesuai dugaannya, Hinata masih berjuang melawan ketakutan dan kegusaran ketika menghadapi ayahnya.
Ko menepuk pundak Hinata, menyentak meditasi singkat wanita itu. "Tenanglah, Nona. Tuan Hiashi hanya akan berbincang ringan dengan Anda. Bukankah perbincangan ini telah lama dibahas?"
Hinata tersenyum, menyadari pelayannya berusaha menenangkan. "Kau benar, Ko." Hinata menguatkan hati, bukan saatnya ia bertingkah ketakutan seperti ini. cepat atau lambat, ia harus menghadapi permasalahan yang selama ini disinggung dimanapun dan kapan pun ia berpijak. "Terima kasih, Ko."
Ko mengangguk lalu mengetuk shoji, "Tuan Hiashi, Nona Hinata sudah datang."
"Masuk," perintah Hiashi dengan nada berat yang kembali memberikan kegugupan pada Hinata. Nada Hiashi seolah menunjukkan betapa krusial topik yang akan mereka bicarakan.
Ko membuka shoji dan mempersilakan Hinata masuk. Hinata menarik napas sebelum akhirnya memasuki ruangan. Udara luar yang mendinginkan tubuhnya menghilang setibanya ia memasuki ruangan. Ruangan kerja Hiashi memang luas namun terasa menyesakkan ketika hanya terissi Hinata dan Hiashi.
"Duduklah, Nak." Perintah Hiashi tanpa menatap Hinata. Pria itu meletakkan bingkisan surat di hadapan Hinata saat wanita itu telah mendudukkan diri di hadapan Hiashi.
Tanpa bertanya, Hinata meraih dan membuka surat itu. Membaca dan memaknai secara utuh isi surat itu. "Ini–"
Hiashi menuang teh di kedua gelas. "Surat lamaran untukmu." Hiashi menyodorkan gelas ke arah Hinata, lalu menatap kedua iris anak sulungnya yang kebingungan. "Dari Keluarga Sabaku Desa Suna."
Hinata menunduk. Ia tidak menyangka bahwa lamaran akan datang secepat ini, ia pikir mereka akan membahas klan pilihan Hiashi seperti tempo lalu, bukan lamaran yang diajukan kepadanya. Hinata kembali menatap Hiashi dengan kegusaran yang tidak disembunyikan.
"Apa Ayah akan menerimanya?"
Hiashi hanya menatap Hinata kemudian meneguk tehnya. Jeda waktu membuat Hinata semakin gelisah. Apakah ia akan dijodohkan secepat ini? Masih banyak hal yang ingin Hinata raih dan menikah di usianya yang baru saja menginjak 20 tidak berada dalam daftar.
"Menurutmu?" Hiashi meletakkan gelas, menatap lurus dan penuh keseriusan. "Ia seusiamu, masih muda dan mapan. Dan cukup tampan."
Bukan itu yang dimaksud Hinata. Pembicaraan mengenai lamaran begitu cepat baginya. Ia bahkan tidak menjalani masa pengenalan atau Hiashi mengajaknya untuk mengenal calon-calon lain yang sesuai dengan preference Hiashi. Bukan berarti Hinata suka menemui calon calon asing yang bahkan tidak ia kenali, namun setidaknya pertemuan itu memberikannya sedikit waktu lebih lama.
Meski gugup, Hinata berusaha mengutarakan pikirannya. "Ayah, tidakkah kau pikir ini terlalu mendadak?" Melihat Hiashi yang hanya terdiam, memberikan Hinata sedikit semangat untuk menjelaskan. "Aku baru saja berusia 20 tahun, banyak hal yang masih ingin aku capai, dan bukankah pernikahan itu terlalu cepat? Apa Ayah tidak keberatan?"
Hiashi yang tetap dalam diam seolah mendorong Hinata untuk melanjutkan. "Kita bahkan tidak tahu orang ini dan desanya seperti apa, jadi bukankah lebih baik–"
Hiashi mengangguk. "Jika yang kau khawatirkan hanya hal itu, itu bukanlah masalah besar."
Kedua iris Hinata membelalak. Bukan masalah besar? Ia masih terlampau muda, perceraian akibat menikah dalam usia muda sangat tinggi, diikuti dengan kekerasan dalam rumah tangga, dan asal usul suaminya yang tidak jelas, bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Ia tidak tahu apakah pria itu bekerja atau tidak, ia tidak ingin munafik, namun dalam pernikahan, uang juga berputar di dalamnya. Apalagi tingkat perceraian akibat ekonomi pun tak kalah tingginya. Masalah ekonomi pun dapat menjalar pada masalah kekerasan dalam rumah tangga. Dan ayahnya mengatakan itu bukan masalah besar?
"Aku menikahi Ibumu saat usianya 19 tahun, kau hanya setahun lebih lama dibanding saat ia menikah dulu." Hiashi menatap Hinata lurus-lurus. "Sabaku bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah penguasa Desa Suna."
"Desa Suna memiliki komoditas yang berharga, menjalin kerja sama antar kedua desa adalah hal yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Aku harap kau mengerti Hinata."
Baik, masalah ekonomi mungkin bisa teratasi. Tapi meminta Hinata untuk mengerti? Ayah terlalu berharap banyak darinya. Bagaimana bisa ia mengerti ketika seteguk kebebasan yang hendak ia cicipi di usia matang terhalang dan terikat oleh pernikahan?! Hinata tidak bisa mengerti ini. Butuh waktu lama untuk memroses segala informasi yang mengalir deras ke dalam otaknya.
Hiashi tahu bahwa Hinata kebingungan dan memiliki amarah yang terpendam. Ia tahu dan ia paham perasaan wanita itu ketika masa depannya sudah digariskan begitu mendadak. Meski ia tahu dan paham, mengikuti kemauan anak sulung di luar kemampuannya. Bagaimanapun nyawa 200.000 orang berada di kedua pundaknya, ia tidak bisa gegabah meski itu berarti menjodohkan anaknya dengan desa lain.
Hinata menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Menahan diri untuk tidak meluapkan emosi kepada ayahanda. "Ayah, bisakah Ayah memberikanku waktu untuk memahami semuanya?"
Hiashi mengangguk. "Ini pasti sangat mengejutkanmu. Ayah hanya akan memberikanmu waktu satu minggu untuk memberikan jawaban kepada keluarga Sabaku."
Hinata mengangguk. Ia membungkuk hendak pergi. "Kalau begitu, aku permisi–"
"Hinata." Panggil Hiashi, menghentikan langkah Hinata yang telah sampai di shoji. "Pikirkan baik-baik, Nak. Ini untuk klan kita."
Hinata hanya mengangguk sebelum menghilang dari pandangan Hiashi.
XXX
"Tuan Neji, Nona Hinata tidak ingin keluar dari kamarnya."
Seorang pria berwajah aristokrat dengan penampilan bak bangsawan menatap pelayan yang kini tidak berani menatap tatapan tajam yang dilayangkan. "Apa yang kau katakan?"
Pelayan itu semakin takut setelah mendengar suara sedingin es yang dikeluarkan Tuan bernama Neji Hyuuga itu. Sekujur tubuhnya gemetaran tak mampu membalas tatapan tajam Neji. "Nona Hinata tidak ingin mengikuti kelas Tuan Neji."
Suara gesekan kursi terdengar, diiringi oleh langkah kaki yang mendekat. Pelayan itu tahu, melaporkan kondisi Hinata adalah hal yang salah. "Ma-maafkan saya, Tuan."
Langkah kaki itu berhenti. Pelayan itu bisa melihat sepatu pantofel yang digunakan Neji. Seluruh tubuhnya kaku, ia tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya mendingin seolah ia berada di penjara es dan tak bisa mendengar apa pun kecuali embusan napasnya yang bertalu-talu.
"Dimana Hinata sekarang?"
Pelayan itu menelan ludah, berusaha menjawab walau lidahnya kelu. "D-d-di k-k-kamarnya, T-tuan."
Neji tahu bahwa pelayan itu sangat ketakutan, namun ia tidak bisa mencegah amarah ketika mendengar Hinata melewatkan kelas yang berarti melewatkan waktu untuk bersama dengannya. "Pergi."
Setelah pelayan itu terbirit-birit menghilang dari pandangan, Neji segera meraih jas dan ponselnya. Dengan langkah lebar ia menuruni tangga. Perpustakaan berada di lantai dua bangunan yang terpisah dengan kediaman utama. Berbeda dengan bangunan kediaman inti yang tradisional, perpustakaan dibangun dengan desain modern. Antara perpustakaan dan kediaman utama terdapat taman sayap utara yang berisi berbagai bunga yang disukai keluarga inti Hyuuga. Memang keberadaan taman menambah keindahan dan kemegahan keluarga Hyuuga, namun dalam situasi dimana ia sangat ingin bertemu dengan Hinata, ia merasa keberadaan taman adalah hal menyebalkan yang ingin ia hancurkan.
Setibanya di kediaman inti Hyuuga, Neji segera melangkahkan kaki menuju sayap barat. Dibanding bangunan di sekitarnya, kediaman inti Hyuuga hanya memiliki satu lantai dan tidak memiliki tingkat sama sekali. Meski begitu, luas yang dimiliki bangunan tersebut cukup membuat tamu merasa kewalahan hanya untuk berkeliling.
Sesampainya di depan shoji, Neji menarik napas dalam-dalam. Bukan karena ia terengah-engah, namun untuk menjaga agar emosinya tidak tumpah saat menghadapi Hinata. Saat merasa dirinya sudah terkendali, ia mengetuk pintu.
"Nona Hinata?"
Tidak ada jawaban.
Aneh. Ini pertama kalinya Hinata tidak merespon panggilannya. "Hinata? Apa kau ada di dalam?"
Sunyi
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Seolah tidak ada orang yang berada di ruangan. Neji menempelkan telinga di shoji, berharap mendengar sepercik suara yang ditimbulkan dari aktivitas sulung Hyuuga.
Hening
Seolah tidak ada apa pun di dalam kamar itu. Tanpa sadar detak jantung Neji meningkat, kekhawatirannya bertambah seiring dengan spekulasi yang muncul di pikirannya. Dengan tergesa, Neji mengetuk pintu Hinata. "Hinata? Apa kau ada di dalam?!"
Tak mendengar apa pun, membuat kepanikan Neji kian bertambah. "Aku akan buka pintunya!"
Saat Neji hendak menggeser shoji, tidak terjadi perubahan. Itu berarti Hinata mengunci dirinya dari dalam. Neji yang kian frustrasi mengetuk berkali-kali shoji sambil berusaha membukanya. "Hinata! Jawab aku!"
"Hina–"
"Kak Neji." Suara selembut sutera membekukan Neji, menghentikan pria itu dalam upaya mendobrak dan menghancurkan shoji.
"H-Hinata? Kau ada di dalam?!"
Saat itu Neji mendengar suara gesekan kain. Ia membayangkan jika wanita itu membuat dirinya seperti kepompong. "Hinata? Bisa kau buka pintu ini?"
"Kak Neji." Panggil Hinata sekali lagi, mengalihkan kembali atensi pria itu untuk menghilangkan batas di antara keduanya.
Neji memaksa untuk membuka pintu. Ia sangat ingin bertemu Hinata, menatap kedua mata bulan teduh itu. "Hinata, biarkan aku menemuimu!" dengan segala kekuatan yang ia miliki, Neji berusaha menggeser shoji. Shoji yang terbuat dari kayu jati itu bergeming terhadap kekuatannya. Hal itu semakin membuat Neji frustrasi.
"Hinata, tolong buka pintunya!" gedoran demi gedoran kian menghantam shoji. Emosinya semakin memuncak. Ia hanya ingin melihat Hinata, merengkuh dan mendekapnya, membawa wanita itu ke dalam ketenangan. Perasaan tidak bisa menemui Hinata hanya karena dibatasi oleh pintu kayu membuat darahnya kian mendidih.
"Kak Neji!" seru Hinata. Ia tidak bisa lagi mendengar suara gedoran yang diciptakan Neji berulang-ulang. Ia hanya ingin sendiri dan sesusah itukah Hyuuga mengabulkannya?
Neji terbelalak. Tak pernah ia mendengar Hinata berseru kepadanya. Jangankan berseru, melihat Hinata marah saja ia tidak pernah. "H-Hinata? Ada apa?"
Tidak ada balasan dari Hinata membuat Neji menjadi khawatir. "Ada apa Hinata? Kau ada masalah? Bisakah kau membuka pintu ini?"
Lagi-lagi Hinata tidak merespon ucapan Neji. Neji menghela napas, ia kembali mengatur emosinya yang kian tidak stabil jika itu menyangkut tentang Hinata. "Hinata, aku ingin menemuimu. Aku ingin mendekapmu, bisakah?"
"Kak Neji," panggil Hinata lagi. Memotong racauan-racauan yang mungkin akan dilontarkan neji jika ia tak segera bersuara.
Neji merasa sedikit lega ketika Hinata kembali berbicara, "Ya? Apa yang kau butuhkan?"
"Bisakah kau pergi?"
Neji mematung dan membatu. Apa ia tidak salah dengar? Apakah barusan Hinata memintanya untuk pergi? Apakah Hinata benar-benar berbicara seperti itu? "Hinata, apa yang–"
"Aku tidak ingin menemui dan diganggu oleh siapa pun saat ini."
Bersamaan dengan kalimat itu, terdengar suara gesekan kain yang bergerak menjauh. Neji yakin juga itu kalimat final yang diucapkan Hinata. Dan ia paham jikalau ia kembali menggedor pintu, membuat Hinata membencinya. Namun ia tidak memahami mengapa Hinata bahkan tidak ingin menemuinya.
Walaupun ia tahu Hinata saat ini tidak ingin diganggu, namun amarah untuk tidak bisa menemui Hinata kembali memuncak. Betapa ia sangat ingin bertemu Hinata, mendekap, mencium, melumat, mencumbu, mengikat wanita itu untuk selalu berada di sisinya. Untuk selalu berada bersamanya. Dan betapa ia ingin mengurung wanita itu untuk menjadi miliknya seorang tanpa dilihat oleh orang lain. Hanya miliknya. Betapa obsesi kian membakar jiwanya. Larut dalam lautan amarah.
Saat itulah Neji menemukan benang merah dari sikap Hinata yang menjauhinya. Dan Neji tahu kemana ia akan mendapatkan jawaban atas keanehan yang terjadi pada Hinata. Pada Hinatanya. Ya, Hinatanya. Karena sampai kapan pun Hinata adalah miliknya.
Ia harus menemui Hiashi Hyuuga.
XXX
Hinata menghela napas. Bukan maksudnya mengusir sepupu yang sudah ia anggap kakak kandung, namun saat ini menyendiri adalah obat dari segala kekalutan dalam dirinya. Hinata membuka shoji yang mengarah menuju halaman. Hinata memutuskan duduk sambil menikmati embusan angin yang mendinginkan kepala yang hendak meledak jika dibiarkan.
Hinata memiliki sifat yang sangat berbeda dengan Hanabi. Hanabi adalah pemberani untuk mengungkapkan pemikirannya secara terbuka, gadis itu akan mendebat siapa pun jika seseorang tidak setuju dengan keinginannya, termasuk Hiashi sekalipun. Itulah yang membuat Hanabi disegani. Dengan otak yang cerdas dan kemampuan berdiplomatis yang meyakinkan, membuat Hanabi disegani oleh keluarga Hyuuga bahkan tetua sekalipun.
Meski lahir dari rahim yang sama, Hinata yang lahir lebih dulu tidak memiliki sifat seperti Hanabi. Bahkan sangat bertolak belakang. Hinata mewarisi hampir seluruh sifat ibunya, hanya sifat keras kepala yang ia dapat dari Hiashi. Sifatnya itulah yang membuat ia direndahkan oleh para tetua. Membuat pergerakannya dibatasi dan diatur sedemikian rupa untuk menjadi pendamping yang sempurna untuk siapapun calon suaminya nanti.
Jika Hanabi disiapkan untuk menjadi pewaris Hyuuga, Hinata disiapkan untuk menjadi istri yang baik. Bukan berarti keduanya adalah hal yang buruk atau hal yang baik. Namun bagi Hinata, ia masih memiliki mimpi, ia menghormati peran menjadi istri, namun ia masih ingin merasakan kebebasan dan mengejar mimpinya sebelum terikat kepada seorang pria.
Ingin rasanya Hinata mennggagalkan rencana itu dengan berkata ada sosok yang ia cintai, atau setidaknya ada pria yang sedang melamarnya. Setidaknya itu bisa membuat Hiashi berpikir ulang. Ia yakin walau Hiashi sangat kaku dan kolot, setidaknya ada kemungkinan Hiashi untuk mempertimbangkan perjodohan dengan klan lain.
Sayangnya itu hanya bisa menjadi impian belaka. Hidup selama 20 tahun di desa yang terisolir dan mansion yang dijaga ketat membuat pergerakannya terbatas. Ia bahkan sekolah private oleh kakak sepupunya, tidak ada harapan untuk menemui pria lain.
Ponselnya bergetar, Hinata hendak mengabaikan jika ia tidak membaca sosok yang menghubunginya. "Kak Matsuri!"
Hinata begitu senang saat Matsuri menghubunginya. Matsuri baru saja menikah dengan pria asal Konoha yang notabene ibukota Negara Api. Hinata senang saat mendengar cerita-cerita tentang Konoha yang tidak ada di Kumo. Selain itu, Matsuri kerap membawakannya oleh-oleh yang enak.
"Aku baru saja pulang, aku membawa cukup banyak oleh-oleh. Bagaimana jika kita bertemu?"
Raut wajah Hinata berseri, sudah lama tidak bertemu Matsuri. Setidaknya bertemu wanita itu lebih baik daripada terus berada di kediaman Hyuuga. Hinata segera bangkit, memasuki kamar, melepas selimut yang sedari tadi membungkusnya. Hinata membuka lemari, mengambil blus putih dan overall jumpsuit berwarna ungu, lalu mengambil handuk dan bergegas mandi.
Setelah mandi dan menggunakan body lotion dan mengaplikasikan make up tipis, Hinata mengenakan pakaian. Hinata memutuskan untuk mengikat surainya. Hinata mengambil totebag yang telah ia isi dengan dompet dan ponsel. Perlahan ia keluar dari kamar, memastikan Neji tidak berada di sekitar kamarnya lagi. Hinata keluar mengendap-endap hingga ia tiba di genkan, ia mengenakan sepatu kets berwarna putih kemudian beranjak keluar rumah.
XXX
Matsuri mengajak Hinata di kedai kopi satu-satunya yang berada di daerah Kumo. Kumo memang merupakan salah satu kota terluas di Negara Api, namun memiliki sedikit penduduk. Kumo yang terletak di utara dan dikelilingi pegunungan membuat Kumo tampak begitu sepi jika dibandingkan dengan kota lain seperti Konoha, Ame, atau Oto. Tiga kota besar tersebut sangat dipadati oleh penduduk, terutama Konoha yang notabene ibukota negara. Terlalu banyak kota di Negara Api dan Hinata yang masih belum menghafalkan geografi Negara Api, sedikit kebingungan. Setidaknya ia mengetahui Kumo dan tiga kota terbesar Negara Api.
Kedai kopi yang dikunjungi Hinata adalah kedai kopi sederhana. Dihiasi ornamen-ornamen kayu khas Kumo, memberi kesan tradisional. Selain itu kopi yang disajikan dibuat secara alami dengan alat sederhana sehingga aroma dan rasa yang dijual begitu tajam dan menggoda. Menggoda siapa pun berhenti sejenak hanya untuk menikmati secangkir kopi.
Hinata hanya memesan latte dengan kue kering sembari menunggu Matsuri. Saat hidangannya datang, terdengar suara lonceng berdenting dari pintu masuk. Hinata mendongak dan mendapati Matsuri yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Kak Matsuri!" Hinata beranjak, menyambut Matsuri dengan pelukan.
Matsuri membalas pelukan Hinata. "Astaga Hinata, sudah lama aku tidak bertemu denganmu." Matsuri melepas pelukan mereka lalu duduk di hadapan Hinata. "Ah, aku membawakanmu oleh-oleh dari Konoha."
Hinata ikut duduk, kedua irisnya berpendar penasaran, "Apa Kak?"
Matsuri memberikan sebuah kotak yang dibungkus cantik dengan pita berwarna pink lembut. "Lilin aromaterapi, cocok untuk meredakan penat."
Hinata takjub, baru pertama kali ia melihat lilin bisa dibentuk seindah itu. "Astaga, terima kasih Kak. Maaf aku jarang menghubungi Kakak."
Matsuri menggeleng maklum. "Tidak masalah, lagipula kau sedang mempersiapkan dirimu untuk menemui calon-calonmu bukan?"
Ah, sepertinya Matsuri mengambil arah topik pembicaraan yang salah. Wajah Hinata yang semula berseri kini murung bahkan tidak disembunyikan dari Matsuri. Matsuri mendadak merasa bersalah, apakah ia mengambil topik yang terlalu sensitif?
Matsuri bertanya dengan hati-hati, "Hinata, ada apa?"
Hinata menarik napas dalam, menampakkan senyum yang dipaksakan. "Bagaimana jika Kakak pesan makanan dulu?"
Matsuri tahu jika Hinata mencoba mengulur topik pembicaraan mereka, untuk itu ia mencoba mengikuti alur yang diarahkan Hinata. Ia pun tahu bukan maksud Hinata tidak ingin bercerita, namun Hinata perlu waktu untuk mempersiapkan diri.
"Baiklah, aku suka sekali moka dan keik di sini, tiramisu sepertinya enak." Matsuri mengangkat tangan kemudian memesan. Setelah Matsuri memesan, keheningan tercipta di antara keduanya. Matsuri pun tidak tahu topik apa yang harus ia bawa untuk mencairkan suasana, di sisi lain suasana hati Hinata pun sudah memburuk.
"Kak…" panggil Hinata.
Matsuri tersenyum, "Ya?"
Hinata menatap Matsuri ragu, "A-aku…"
Menyadari kegugupan dan keraguan Hinata, Matsuri menggenggam kedua tangan Hinata, "Ceritakan saja Hinata, aku ada di sini. Aku akan membantumu."
Ya, sepertinya Hinata tidak perlu takut karena Matsuri yang merupakan teman sekaligus kakak wanitanya selama ini senantiasa medengar dan memberi solusi atas segala permasalahannya. "Aku sudah dijodohkan."
Hinata bisa melihat keterkejutan di dalam wajah tenang Matsuri, namun ia paham jika Matsuri ingin mendengar Hinata melanjutkan ceritanya. "Aku tidak dipertemukan dengan calon-calon yang lain, aku akan ditunangkan minggu depan."
Hinata mulai terbawa suasana, kalut mulai melanda. Jika mengingat dan terbayang hanya dalam satu minggu ia akan kehilangan segalanya dan hanya akan terkurung di tempat lain dengan suami yang bahkan tidak ia ketahui sifat dan tindakannya. Pandangannya memburam kala spekulasi negatif mulai berputar di kepalanya.
"A-aku tidak tahu siapa dia, b-bahkan aku b-belum pernah melihat wajahnya. A-aku ugh–" Hinata tercekat, seolah ada gumpalan batu yang menyumpal tenggorokan, membuatnya tidak bisa berkata.
Hinata terus menunduk, menyembunyikan wajahnya yang menyedihkan. Air mata perlahan mengalir di kedua pipi. Hinata mendengar suara gesekan kursi dan mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Detik selanjutnya ia jatuh ke dalam pelukan hangat Matsuri.
Matsuri memeluk Hinata erat, menenangkan jiwa kalut Hinata, setidaknya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk meredam emosi Hinata. "Hinata, tenanglah, aku ada di sini." Perlahan ia mengusap punggung Hinata, "Tenanglah."
Hinata telah menjadi yatim sejak usianya 5 tahun, ia sudah tidak pernah merasakan kehangatan seorang ibu. Didikan ayah yang keras membuat Hinata tidak bisa merasakan ketenangan dan kedamaian yang bisa ia dapatkan dari rengkuhan seorang ibu. Dan kehangatan, ketenangan, dan rasa aman yang ia rasakan saat ini dapat terobati dengan keberadaan Matsuri.
Matsuri dulu adalah anak pelayan yang melayani ibunya dulu. Matsuri yang 5 tahun lebih tua dari Hinata selalu menemani Hinata di saat tersulit bahkan ketika ibunya sakit-sakitan hingga sekarat, Matsuri lah yang menenangkan serta menguatkan atau bahkan menangis bersamanya.
Merasakan dekapan Matsuri yang menenangkan membuat Hinata merasa sedikit beruntung memiliki sosok yang menguatkan di saat kritisnya. Hinata melepas rangkulan saat merasa membaik. "Terima kasih, Kak. Aku menjadi sedikit lebih lega sekarang."
Hinata menghapus jejak-jejak air mata, lalu tersenyum. "Mungkin saja ini terakhir kalinya kita bertemu sebelum aku ke Suna." Hinata menghindari tatapan Matsuri, ia tahu jika ia menatap Matsuri, ia akan kembali menangis.
"Hinata. Dengarkan aku."
Hinata merapikan barangnya, "Jika kau berkata, kau menemukan solusi, itu tidak ada Kak." Hinata mengeluarkan beberapa lembar uang. "Aku tidak memiliki pacar mau kenalan pria, aku tidak bisa menghindari itu."
"Kau bisa, Hinata!" Matsuri ikut beranjak saat Hinata beranjak dan hendak pergi.
"Aku tidak bisa, aku tidak punya siapa pun dan apa pun." Hinata menatap frustrasi Matsuri. "Aku tidak bisa kabur!" kejadian ini sering kali terjadi, saat Matsuri menawarkan solusi yang di luar kendalinya. "Bagaimana cara aku kabur jika aku tidak memiliki alibi?!"
Matsuri memegang kedua pundak Hinata. "Kau bisa dan kau ada! Jadi tenangkan dirimu."
Hinata menatap kedua iris Matsuri, mencari kebohongan di dalamnya. "Apa? Bagaimana bisa aku kabur dari perjodohan itu?"
Matsuri menatap Hinata penuh keseriusan. "Aku punya satu solusi. Dan mungkin ini satu-satunya solusi yang bisa kamu lakukan untuk kabur."
XXX
"Bisakah aku mengambil 100.000 ryo*?"
Petugas bank menatap Hinata malas, "Apa kau bilang?"
Hinata tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Pasalnya ini pertama kali ia ke bank untuk menarik uang karena biasanya ia akan mendapatkan uang dari Neji secara langsung untuk mengontrol tindakan konsumtif yang mungkin terjadi.
"Pertama, ambil uang secukupnya dari tabunganmu. Karena kau pasti tidak ingin menarik perhatian jika mengambil semua uang di tabunganmu, bukan?"
Hinata pun tidak akan mengambil uang jika itu bukan karena ucapan Matsuri. "Aku ingin mengambil 100.000 ryo."
Petugas itu menatap Hinata tidak yakin. "Kau punya buku tabungan?"
"Ah, sebentar." Hinata membuka totebag, mencari buku tabungan yang kerap ia bawa bersama dengan dompet. Aneh memang, tapi itu semua disiapkan Neji sewaktu-waktu Hinata dalam kondisi terdesak. "Ini."
Petugas malas itu hanya mengangguk, dalam sekejap 100.000 ryo disodorkan bersamaan dengan buku tabungan. "Silakan."
Wow. Hinata tidak menyangka ternyata semudah ini mengambil uang, tak mengherankan jika Neji kerap memberikan uang secara terkontrol untuk mencegah perilaku konsumtif. Hinata memasukkan uang tersebut ke dalam tas dan berjalan meninggalkan bank. Sesaat dia keluar dari bank, mobil sudah menunggu. Kali ini yang menjemputnya adalah Ko bukan Kak Neji. Tidak mengherankan mengingat Hinata menjauhkan Neji dari dirinya.
"Nona sudah selesai?"
Hinata mengangguk seraya memasuki mobil. "Sudah, baru saja jalan bersama Kak Matsuri." Hinata berharap Ko dapat memakan kebohongannya, beruntung letak kedai dan bank cukup dekat sehingga ia tidak dicurigai keluar dari bank.
Hinata menatap keluar jendela, kedua tangannya menggenggam erat tasnya. Ia benar-benar berharap rencananya berhasil. Setidaknya ia berharap tindakannya saat ini dapat menunda apa pun yang direncakan ayah perihal perjodohannya.
Setibanya di rumah, Hinata segera bergegas menuju kamar kemudian mengunci pintu. Hinata mengeluarkan backpack dan beberapa setel pakaian.
"Ambil pakaianmu seperlunya saja, kau bisa membeli pakaianmu setibanya di Konoha agar tidak banyak orang yang curiga dan memudahkanmu untuk kabur."
Hinata mengisi backpack dengan beberapa seterl pakaian dan pakaian dalam, ia segera ke kamar mandi, mengambil sabun, pasta gigi, sikat gigi yang masih baru. Mengambil beberapa lotion dan makeup. Setelah memasukkan barang kebutuhannya, Hinata menyiapkan ponselnya untuk terisi penuh. Ya, esok ia harus kabur dari mansion megah Hyuuga.
"Tidak ada cara lain. Kau harus melakukan sekarang atau tidak sama sekali."
Hinata menatap ragu Matsuri, "T-tidak bisa Kak. Aku belum pernah kabur sama sekali."
Matsuri menatap Hinata penuh keyakinan. "Kau pasti bisa. Bukankah dulu kita pernah kabur bersama? Dan bukankah kau tahu jalannya?"
Hinata menatap shoji yang menghubungkan dengan teras. Ya itu satu-satunya jalan kabur. Keluar dari teras terdapat halaman yang menyambung pada hutan sepanjang 500 meter hingga mencapai jalan beraspal. Dari sanalah ia akan memesan bus untuk ke Konoha. Terdengar cukup mudah, namun masalahnya adalah taman sayap barat dijaga ketat oleh para bunke Hyuuga. Itulah hal tersulitnya. Dan Hinata hanya memiliki satu kesempatan yaitu saat pergantian shift penjagaan. Hanya itulah satu-satunya kesempatan untuk kabur.
"Kakak ayo makan!" ketuk Hanabi dengan semangat.
Meski ketakutan karena pertama kalinya ia akan kabur dalam waktu lama, Hinata harus berusaha untuk mengontrol diri. Setidaknya agar Hanabi tidak curiga. Meski begitu Hinata merasa sedih saat memikirkan akan berpisah dengan keluarganya untuk sementara.
"Ya, Kakak akan ke sana."
Dan mungkin ini akan menjadi makan malam terakhir dengan keluarganya saat ia masih menjadi seorang Hyuuga.
XXX
Hinata mengintip cemas ke halaman. Pergantian shift dimulai pukul 04.30 dan saat ini waktu menunjukkan 04.20. Sialnya ia baru saja bangun dan segera berganti pakaian dan mengenakan parka dan sweatpants. Ia hanya sempat sikat gigi sebelum akhirnya mengintip ke halaman. Ia bahkan tak sempat mandi.
Jantung Hinata berdegup kencang. Tak pernah ia merasakan kegugupan dan kepanikan sehebat ini. ia bahkan bisa mendengar jantungnya yang berdentum. Tubuhnya berkeringat dan kedua tangan dan kakinya mulai mendingin, perutnya mulai melilit tak karuan. Jika ia gagal ini semua akan berakhir. Hanya akan ada dua kemungkinan. Ia akan dikurung di mansion Hyuuga dan pertunangan akan dimajukan atau dihukup oleh tetua.
Melihat penjaga yang masih lalu Lalang membuat Hinata semakin cemas. Tangannya mulai bergetar. Ia melirik jam tangan. Tinggal satu menit sebelum waktu menunjukkan jam 04.30. Hinata menatap jarum jam yang bergerak perlahan.
10
9
8
Hinata menatap halaman kembali. Tampak beberapa penjaga yang mulai menguap dan berbincang kepada temannya. Hinata kembali menatap jam tangan.
3
2
1
Hinata menatap halaman yang mulai lenggang oleh penjaga. Lampu mulai dipadamkan. Hinata membuka shoji perlahan. Melangkah ke luar dan berlari secepat kilat. Jantungnya berdentum, adrenalin terpacu, tak pernah ia merasakan perasaan seperti di kejar setan. Ia yang buruk dalam bidang olahraga tak menyangka mampu berlari cukup cepat dari teras menuju hutan yang berjarak 100 meter. Hinata melirik jam tangan yang sudah menunjukkan waktu 04.33, sisa dua menit sebelum pukul 04.35.
Hinata mulai tersenyum. Ia berhasil. Hutan sudah di depan mata dan dua langkah lagi sebelum akhirnya ia sampai di hutan. Saat itu Hinata tidak menyadari terdapat akar pohon besar yang membuatnya tersandung. Hinata terjatuh keras bersamaan dengan itu lampu mulai menyala. Hinata yang panik segera berdiri dan menguatkan dirinya untuk terus berlari. Sesaat ia sampai di hutan, ia mendengar penjaga kembali berjaga.
Hinata menghela napas. Kepalanya terasa begitu pening dan jantungnya terasa begitu meledak. Nyaris saja ia tertangkap saat lampu mulai menyala. Hinata tak bisa membayangkan jika saat itu dia tak segera bangkit apa yang akan terjadi padanya. Kedua kaki Hinata terasa begitu lemas. Adrenalin yang sedari tadi terpacu memakan terlalu banyak energinya.
Hinata merosot jatuh di tumpukan daun basah. Hinata lupa jika ia masih berada dalam jangkauan penjaga. Sesaat Hinata terjatuh dan menimbulkan bunyi, Hinata baru menyadarinya. Ia segera beringsut dan bersembunyi di balik pohon.
"Hei, kau dengar itu? Sepertinya ada suara."
Penjaga lain mendengus. "Dasar penakut. Kau baru pertama kali jaga pagi ya? Abaikan saja suara-suara itu."
"Aku benar-benar mendengar suaranya."
"Daripada kau memusingkan itu, lebih baik bantu aku berpatroli. Cepat sini!"
Hinata menahan napasnya. Takut jika kedua penjaga itu mendengar suara napasnya yang terengah-engah. Setelah mendengar langkah kaki kedua penjaga itu menjauh, Hinata segera bangkit dari tempatnya. Ia harus segera pergi dari sini atau penjaga itu akan menyadari jejak kaki yang mungkin ia tinggalkan dan menemukannya.
Setelah berjalan sejauh 500 meter sekitar 10 menit, Hinata tiba di jalan beraspal. Angin sejuk fajar membelai wajahnya yang penuh keringat dan tanah. Hinata mampu menghirup udara lega walau sejenak. Ia merasakan dirinya tak pernah sehebat ini. Walau perjalanannya masih jauh, setidaknya ia mampu keluar dari Hyuuga.
Hanya menunggu 5 menit dan bus yang akan membawanya ke Konoha telah tiba. Hinata segera menaiki bus tersebut dan meneguk air mineral yang ia bawa. Setelah menenangkan jantungnya. Hinata kembali bisa bernapas lega. Ia masih tidak menyangka ia mampu kabur dari mansion Hyuuga walau sempat terjadi kendala dan luka di beberapa bagian tubuhnya. Namun Hinata pantas berbahagia dengan pencapaiannya. Hinata berharap Hyuuga tidak segera mencarinya. Setidaknya keabsenan Hinata dapat diketahui saat sore hari jika berdasarkan perhitungannya.
Setelah tenang, Hinata mengeluarkan selebaran yang diberikan Matsuri. Selebaran itu adalah satu-satunya kunci untuk menggagalkan pertunangannya.
Agen Perjodohan Mei Terumi
Telah berdiri selama 10 tahun
Menangani teman kontrak, pacar kontrak, dan nikah kontrak
Hub. 772-524-367
Hinata menarik napas dalam-dalam. Ya, ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi dan Matsuri telah memastikan jika agen itu bukan agen kaleng-kaleng yang hanya meraup uang dengan penipuan. Asuransi, jaminan, layanan 24 jam, serta legalitas resmi dari pemerintah membuat Hinata yakin. Jika ini satu-satunya jalan. Hinata mulai mengetik beberapa angka yang tertera di sana.
"Halo? Apakah ini agen perjodohan Mei Terumi?"
XXX
TBC
*Kurs uang : 100.000 ryo = IDR 100.000.000
Rata-rata kehidupan di Konoha 80.000 ryo/bulan.
