-I'm Here, Beside You-
Mencintai? Aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin terus berada di sisinya dan melindunginya dari pria manapun di dunia ini.
Airin adalah orang yang logis. Ia tidak mudah mempercayai sesuatu tanpa didasari alasan yang jelas. Ia tidak percaya dengan pamali atau apapun sejenisnya. Namun, hari ini terasa berbeda untuknya.
Selepas hari pertamanya resmi sebagai perawat, kini ia telah diakui. Hari ini pun terasa lengang dan damai. Stasiun perawat Cardiac Center Tokyo University Hospital tak sepi seperti hari-hari kemarin. Beberapa pasien telah pulang dan yang dirawat masih belum komplain akan kejanggalan kondisi setelah pergantian shift. Airin menghela napas, menatap ponselnya.
Ia membuka galeri, mengusap puluhan foto hingga terhenti pada jepretan satu orang. Ia tersenyum miring.
"Padahal baru saja telepon kau sudah kangen saja," goda Mei yang mencuri pandang pada tingkahnya. Airin menjadi salah tingkah sejenak, tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya. Mei yang melihat kejadian itu terkikik geli.
"Entahlah, Mei. Kurasa ada yang tidak beres dengan hari ini. Rasanya firasatku buruk," ungkap Airin.
Mei mengibaskan tangannya abai. "Ayolah Airin, apa yang salah dengan hari ini? Sepi komplain dan kita bisa bersantai setelah bekerja keras seminggu belakangan. Ini pantas untuk kita," sahut Mei. Namun, itu tak membuat perasaan Airin membaik. Ia memejamkan mata. Mungkin hanya perasaannya saja. Ia menegakkan punggung, menepuk kedua pipinya agar tetap waras.
He's okay, I know ... He will be okay.
Lalu, seorang perawat yang tampaknya dari IGD berlari kepayahan menghampiri stasiun perawat. Spontan semua orang yang berada di sana berdiri. Perawat tersebut mencapai meja stasiun sambil berusaha mengatur napas.
"Siapkan satu kamar untuk pasien VIP," ujarnya. Airin berjalan keluar diikuti Mei.
"Kami akan menyiapkannya. Siapa nama pasiennya?" tanya Airin.
Sang perawat terdiam lama, membuat Airin mengerutkan alis.
"Hatake Kakashi."
Mei melihat ekspresi Airin yang menegang seketika. Bahkan ia sendiri pun tak mempercayainya.
Airin menyentak linen dengan kasar. Ia seperti orang yang tidak bisa berpikir apapun lagi. Beberapa kali lipatan linen-nya salah dan membutuhkan waktu lama baginya untuk menyelesaikan. Mei menyadari gelagat Airin yang benar-benar tak biasa. Ia paham gadis itu tengah dikuasai kecemasan luar biasa. Saking tidak fokusnya, ia terpeleset. Mei buru-buru menghampirinya.
"Airin, kau baik-baik saja? Tenangkan pikiranmu dulu, Airin. Dia pasti baik-baik saja," ujar Mei memberi sugesti.
Airin mengusap wajahnya frustrasi. Memaki-maki.
"Apa lagi yang dia lakukan, huh? Tidak bisakah dia tetap bekerja dengan aman?"
Mei memeluk Airin sambil mengusap punggung gadis itu. Terus membisikkan kalimat sugesti. Ia membantu Airin berdiri dan menuntunnya keluar. Sakura datang dan hendak menggantikan Airin dengan sukarela untuk menyambut pasien. Mei sangat berterima kasih padanya. Yang tersisa tinggal membuat alasan untuk Tsunade sehingga sahabatnya bisa selamat.
"Tenanglah, Airin."
Mei menyuruh Airin untuk tetap tinggal di ruang ganti sementara ia keluar untuk mengurus pasien baru mereka. Airin tak henti-hentinya menggeretakkan gigi kesal sambil mengepalkan tangannya. Seolah ingin menjadikan apapun di sekitarnya menjadi samsak kekesalannya. Namun, kembali hanya berakhir dengan helaan napas. Diikuti suara isakan tertahan.
Ia benci saat seperti ini. Saat seolah seluruh dunianya hancur hanya karena seseorang.
Sepertinya ... perasaan Airin memang telah berbeda. Dan baru kali ini ia menyadarinya.
Mei terkejut melihat Airin keluar dari ruang ganti. Langkah gadis itu tampak tegas. Melihatnya, wanita pertengahan 30 itu langsung menghampirinya.
"Kau kenapa? Kembali saja ke ruang ganti."
"Aku harus menghadapi ini, Mei."
Airin memasuki ruangan Kakashi setelah mengetuk pintu. Sang Dokter, Genma menoleh. Lelaki itu menyeletuk senang. Tak sendirian, ia bersama sang Kepala Ruangan. Tsunade Senju.
"Oh, Perawat Airin. Senang melihatmu. Aku baru saja ingin memanggilmu."
Airin berjalan menghampiri Genma. Mendengarkan semua tentang kondisi pasiennya serta mendiskusikan intervensi yang perlu dilakukan.
"Lukanya memang tidak parah, tapi aku takut cedera keras di kepalanya menyebabkan bocornya pembuluh darah di otak. Aku agak khawatir dengan hasil CT Scan. Ya, kita berdoa saja semoga tidak ada masalah serius. Tetap awasi dia untuk beberapa jam ke depan. Aku akan mengurus perpindahanku sementara ke Pusat Jantung," papar Genma.
Airin mengangguk. "Baik, Dokter."
"Kau baik-baik saja, Airin? Perawat Mei bilang kau tidak enak badan," tanya Tsunade. Airin memasang senyum semampunya.
"Saya baik-baik saja, Perawat Tsunade."
"Glad to hear it."
"Kudengar kemarin kau lulus tes. Sudah resmi jadi perawat, eh?" Kini Genma mulai keluar dari pembicaraan. Tsunade berdehem, memperingatkan dokter yang masih terbilang muda itu. Sadar dengan isyarat yang diberikan, Genma tertawa hambar. Ia pamit untuk mengurus beberapa hal kemudian.
Semua orang telah keluar dari ruangan itu. Dan kini hanya tersisa Kakashi dan Airin. Sang perawat hanya menatap kosong pasien di depannya. Perlahan tapi pasti, ia melangkahkan kakinya mendekat. Tangannya terulur, hendak membelai helaian perak itu. Namun, terhenti di tengah jalan. Ia berjalan keluar.
Kendalikan dirimu, Airin. Pasienmu yang lain sedang menunggu.
Terbangun di rumah sakit sama sekali bukan keberuntungan seorang Kakashi Hatake. Pagi sekali, bahkan matahari belum terbit, ia terbangun karena distraksi berupa hantaman imajiner yang membuat kepalanya berdenyut. Seluruh tubuhnya seolah kaku, sulit digerakkan. Sial, berapa lama ia pingsan?
Hingga fajar menyingsing, Kakashi masih terjaga. Pintu terketuk, berhasil mengalihkan perhatiannya. Posisinya kontan berubah begitu melihat siapa yang masuk dan mimik apa yang diberikan padanya di pagi hari yang cerah ini.
Airin tampak berusaha mengabaikannya. Ia membuka gorden, mengukur suhu dan tekanan darah tanpa mengajaknya berbicara sepatah katapun. Lidah Kakashi sendiri ikut kelu melihat ekspresi murung Airin. Membiarkan gadis itu melakukan apa saja.
Selepas mencatat, Airin mengangkat kepalanya.
"Bagaimana perasaanmu?"
Untuk pertama kali, Kakashi kesulitan menjawabnya.
"Kepalaku sedikit pusing dan aku terbangun pukul 3 pagi."
Airin mengangguk. Tetapi aura kecanggungan masih kental memenuhi ruangan itu.
Kakashi merasakan tangan Airin menyentuh salah satu sisi wajahnya. Perawat muda itu beranjak, menitipkan satu ciuman singkat di bibir lelaki itu. Namun, tak ada rasa. Dingin dan hampa.
"Aku akan mengecekmu lagi nanti. Kalau merasa aneh tekan tombol disampingmu."
"Maaf."
Airin berhenti ketika mencapai ambang pintu. Tanpa menggubris pertanyaan Kakashi, ia meneruskan langkah untuk keluar. Tak lama setelah Airin keluar, Mei masuk.
"Lihat siapa yang membuat perawat juniorku kesal hari ini?" sindirnya. Ia duduk di kursi samping pasien. Bersiap menginterogasi dengan segala pertanyaan yang bercokol di kepalanya sejak dua hari yang lalu, hari di mana Kakashi hatake dikabarkan menabrak pembatas jalan dan sempat mengalami kondisi kritis beberapa jam.
"Ada apa? Matamu langsung minus ketika melihat pembatas jalan?" tanyanya sambil menyilangkan tangan.
"Aku baru saja sadar dan kau langsung menyerangku dengan kalimat sarkas itu," jawab Kakashi.
Mei menghela napas. "Kau itu ... masih muda. Tapi sebuah kesialan kita berada di satu kelas MKU yang sama. Dari dulu kau selalu membuatku iri, Hatake Kakashi."
Kakashi tersenyum simpul. "Menyenangkan bisa bertemu teman sekelas di tempat semacam ini."
"Dan tebak, kau tahu Genma dari Kedokteran A yang selalu satu MKU dengan kita? Yap, sekarang dia adalah dokter yang menanganimu," tambah Mei.
"Wah, senang mendengarnya." Tentunya itu bukan kalimat yang merepresentasikan kegembiraan akan nostalgia masa kuliah. Tidak ketika Kakashi mengatakannya seolah sedang terjebak di antara 2 jurang.
"Jadi ... bagaimana rasanya pembatas jalan itu?"
Kakashi mengerling ke arahnya, menatap malas. "Menurutmu mana yang lebih keras antara kepalaku dengan pembatas jalan itu? Kupikir aku akan mati saat itu." Mei mendengus geli.
Kakashi menghela napas. "Mereka menyerangku."
Pembicaraan teralih ke arah yang lebih berat. Mimik wajah Mei bahkan telah berubah drastis. Kakashi memainkan kedua ibu jarinya sambil menatap lurus.
"Mereka berencana menanam peluru di kepalaku ketika aku menyetir. Aku benci mengakuinya tapi mobil ceroboh itu telah menyelamatkanku dari sesuatu yang lebih besar," ujar Kakashi. Mei memejamkan mata, tangannya memijit pangkal hidung. Pagi-pagi ia telah disuguhi topik berat macam ini meskipun itulah tujuannya menemui sang pewaris. Ia berdiri, menatap kota dari balik jendela.
"Mungkin mereka sedang memburuku. Terima kasih telah mengurus tempat ini untukku."
Mei menggigit bibirnya.
"Ya. Dan kau membuat Pusat Jantung mendapat banyak pertanyaan. Mengapa orang seelit dirimu ditempatkan di Pusat Jantung dengan kasus kecelakaan mobil bukannya serangan jantung? Kau harus mentraktirku minum kapan-kapan," keluh Mei.
Kakashi tersenyum kecil. Merebahkan kepalanya dengan kedua tangan sebagai bantalan. Mei terdiam, menatap kosong ke depan. Berbalik, ia menyandarkan punggungnya pada kaca sambil bersidekap.
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku belum memikirkan apapun."
Mei menghela napas. "Ini bukan kau yang biasanya, Kakashi," jawabnya khawatir. Kemudian, ia melanjutkan, "Kau tidak perlu khawatir soal Airin. Aku akan menjaganya."
Kakashi meringis. "Kalian berdua memang buruk dalam menyimpan rahasia."
Mei terkikik. "Airin tidak bisa menyembunyikan apapun dariku, kau tahu? Tapi aku ingin menanyakan sesuatu. Sebenarnya kau tempatkan di mana gadis itu? Pacarmu, adikmu atau sebatas pelarianmu, huh?"
Kakashi sangat malas untuk membicarakan hal ini. Mei yang melihat respons tidak minat darinya, Mei memicingkan mata. Menatap lelaki itu penuh selidik.
"Kau pernah menidurinya?"
"Yang benar saja! Mana mungkin aku melakukan itu," tampik Kakashi. Mei memundurkan tubuhnya, tapi tatapan matanya masih menyelidik.
"Jika kau tidak menetapkannya sebagai siapa-siapamu, tinggalkan dia. Itu demi keamanannya."
Pintu diketuk dan Mei langsung menyudahi percakapannya. Ia spontan berdiri ketika Genma masuk bersama Airin. Genma menatapnya heran. Namun, memilih mengabaikannya.
"Selamat pagi tuan pasien VVIP. Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Aku cukup sehat untuk lompat dari gedung ini sekarang juga," kelakar Kakashi yang memancing kerlingan malas Airin.
"Bagus sekali," jawab Genma sarkas. "Aku akan meresepkan beberapa obat untuknya, minta tolong untuk menebusnya di depo farmasi dan berikan setiap 8 jam."
Airin mengangguk, kemudian menyusul Genma keluar ruangan.
Shift Airin telah berakhir pada pukul 2 siang. Gadis itu membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang. Mei menawarkan tumpangan tetapi ditolak halus oleh Airin dengan alasan ia perlu bertemu seseorang terlebih dahulu. Mei tidak bertanya lebih jauh lagi dan mengiyakannya.
Airin menunggu di kantin sesuai instruksi Genma. Tak lama pria itu datang dan menyapanya dengan ramah. Mereka bersalaman sebagai bentuk profesionalitas dan duduk berhadapan.
"Jadi sebelumnya maaf karena memintamu bertemu di luar jam kerja, tapi jadwalku cukup padat sehingga aku harus bolak balik dari ICU ke Pusat Jantung," ujar Genma. Ia mengeluarkan sebuah hasil CT Scan dan memberikannya pada Airin.
"Ini CT Scan dari kepala Kakashi. Aku melihat beberapa hal ganjil di sana."
Airin menatap hasil cetakan itu dengan seksama. Genma menyadari perubahan ekspresi Airin yang samar.
"Kau tidak pernah tahu kalau Kakashi salah satu pasien kanker otak yang bertahan?"
Airin mengangkat kepalanya. Menatap Genma kosong. Gadis itu berusaha keras menyembunyikan ekspresinya. Namun, Genma terlalu pandai untuk dibohongi.
Airin berjalan pulang dengan langkah terpatah-patah. Meminta maaf pada setiap orang yang ia tabrak bahunya dan mengabaikan makian. Ia berhenti dan duduk di halte bus. Masih terngiang-ngiang ucapan Genma yang menampakkan fakta bahwa ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hidup Hatake Kakashi.
Ia memang tidak pernah mengenal Kakashi yang dulu. Ia hanya mengenal Kakashi yang sekarang, pangeran manja dari kerajaan antah berantah yang tiba-tiba menjadi alur kehidupannya. Ia mengenalnya sebagai sosok yang selalu melindungi dan menyayanginya setelah memutuskan untuk keluar dari jeratan aturan kolot keluarga untuk terjun ke dunia bisnis. Meninggalkan semuanya kecuali marga yang akan melekat dibelakang namanya sampai mati.
Udara cukup dingin. Airin mengusap tangannya untuk menciptakan panas. Teringatlah ia kala Kakashi datang untuk menjemput. Membawakannya jaket dan berakhir dengan obrola hangat ditemani secangkir coklat panas. Lalu akan terbangun di pagi hari di bawah pelukan sang Hatake yang mendengkur halus. Airin mengusap wajahnya. Tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Semua timpang tindih. Batas antara fakta dan bualan kini setipis selembar kertas.
Kakashi adalah enigma baginya. Ia yakin mengenal laki-laki itu dengan baik tapi nyatanya tidak. Laki-laki itu abstrak. Terlihat simpel tetapi memiliki kesulitan tingkat tinggi dan arti yang mendalam.
Airin menyandarkan kepalanya ke belakang. Terdiam sendiri di halte bus dengan udara dingin yang menusuk tulang. Ia mengeluarkan ponsel dan menatap jam. Pukul sebelas malam. Masihlah merupakan waktu aktivitas bagi warga Tokyo. Terutama bagi mereka yang lelah akan kehidupan dan berlari ke dunia yang penuh euforia. Airin melihat sebuah kedai kecil tak jauh dari tempatnya. Punggungnya menegak dan langkahnya terpacu ke tempat itu.
"Paman, aku minta kacang dan bir," ujarnya.
"Akan segera datang."
Airin duduk di salah satu kursi. Merapatkan keseluruh jari-jarinya sambil menghela napas. Apa lagi yang harus ia lakukan sekarang? Ia tidak siap jika harus bertemu dengan Kakashi dan meminta penjelasan. Airin yakin itu bukanlah solusi yang tepat. Apalagi mengetahui bahwa laki-laki itu baru saja mengalami kecelakaan dan kanker di otaknya menunjukkan tanda-tanda keganasan lagi. Entah apa yang ada dipikiran Kakashi ketika memutuskan menyembunyikan itu darinya.
Pesanan Airin akhirnya datang.
"Udara cukup dingin. Nikmatilah sup ini. Tenang saja, aku traktir," ujar pemilik kedai itu ramah.
Airin tersenyum.
"Terima kasih, Paman."
