Naruto mengetuk sebuah pintu, dia saat ini berada di sebuah rumah. Pemuda itu sedikit mengagumi rumah yang terlihat sederhana itu. "Kakak Naruto?" Kedua mata birunya menatap sosok anak kecil berusia sekitar delapan tahun. Anak itu membuka lintu rumah tersebut. "Mencari Kaasan?"
Naruto mengangguk kecil.
"Kaachan! Dicari oleh Kak Naruto!"
Pemuda itu tertawa kikuk melihat bocah itu yang memanggil ibunya. "A-akeno, jangan berteriak."
"Ara, Naruto-kun?"
Naruto terdiam, dia melihat sosok wanita dengan rambut raven panjang, pakaiannya begitu seksi membuat dia tak bisa berkata apapun. Shuri Himejima saat ini tengah memakai kaos putih longgar yang menampilkan bahu kanannya, serta hanya memakai celana dalam saja.
"Silahkan masuk, Akeno apa kau tak mau tidur siang? Sepertinya kau sudah mengantuk."
Akeno yang merasakannya pun menganggukkan kepalanya, lalu pergi ke lantai dua rumah itu, meninggalkan Shuri yang menyambut Naruto.
Shuri tersenyum menggoda, dia mempersilahkan Naruto untuk masuk. "Jadi kau kesini bukan hanya untuk belajar kan?" Wanita seksi itu menyiapkan teh untuk mereka berdua, sementara itu, Naruto duduk di sebuah sofa panjang. "Sensei tahu maksudmu datang kemari." Shuri pun meletakkan nampan di atas meja, dia lalu menarik kaosnya ke atas.
"Sensei..."
Shuri tersenyum, dia lalu duduk di atas paha Naruto, kedua tangannya bergelayut manja di leher pemuda itu. "Setelah beberapa minggu melakukannya, aku malah ketagihan melakukannya denganmu."
Mereka berdua lalu mendekatkan bibir masing-masing, Naruto mengecap betapa lembutnya bibir Shuri, dia menghisap bibir bawah wanita itu, lalu memasukkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu.
Kedua tangan Naruto meremas buah dada Shuri, dia merasakan jikalau puting susu wanita itu mulai mengeras. Pemuda itu mencubitnya pelan, dia merasakan desahan tertahan saat Naruto mencubitnya. Tubuh seksi Shuri sedikit menegang saat dirinya mulai di rangsan Naruto.
Ciuman pemuda itu lalu beralih ke leher jenjang wanita itu, Naruto menjilati leher Shuri, serta menciumnya. Ia memberikan beberapa di sekitar sana, menandakan kalau Shuri adalah miliknya seorang.
"Ahhh..." Shuri mendesah saat dia terus dirangsang oleh Naruto, wanita itu meremas kepala pirang pemuda itu, dia menahan libidonya yang terus naik saat dirangsang Naruto. "Naruto..."
Ciuman Naruto terus turun kebawah, hingga sampai pada dua buah benda yang kelihatan lezat baginya. Naruto meremas buah dada Shuri, lalu menghisapnya dengan kuat.
"Enggh! Naru!"
Tubuh Shuri menegang sesaat, dia seolah tersengat oleh sesuatu saat Naruto menghisap puting susunya.
"Sebagai gurumu, sensei sangat menyukai bagaimana ahhhnn...murid nakal."
Naruto menggigit kecil puting susu Shuri, dia pun melepas gigitannya itu, dan menggesekkan wajahnya ke belahan dada besar milik Shuri. Ibu satu anak itu memeluk kepala Naruto, menenggelamkannya ke dalam belahan dada.
"Cukup ahhh... Naru, cukup... Ahhnn..." Shuri mendesah saat buah dadanya terus di remas oleh Naruto. Wanita itu menarik diri dari Naruto, dia melepas pelukannya terhadap kepala pirang itu. "Kau memang murid nakal."
Shuri pun berjongkok tepat di depan Naruto, dia membuka resleting celana yang dikenakan pemuda itu, dan mengeluarkan sebuah benda yang selama ini ia idamkan. Dia mulai menggenggam benda yang sudah ereksi itu, dengan lembut Shuri menaik turunkan tangannya.
Shuri tersenyum melihat Naruto yang tengah menikmati bagaimana cara dia mengocok penis pemuda itu. Mulut Shuri terbuka, dan melahap penis besar Naruto, kepalanya bergerak naik turun.
Naruto sendiri merasakan kehangatan saat penisnya berada di dalam mulut Shuri, dia juga merasakan jikalau spermanya akan keluar sebentar lagi.
Shuri terus menggerakkan kepalanya naik turun, kali ini dia menambah kecepatannya. Tubuh Naruto menegang saat kepala Shuri terus bergerak, kedua tangan pemuda itu meremas kepala raven Shuri.
"Sensei!"
Naruto mendorong kepala Shuri, dia pun mengeluarkan spermanya dan memenuhi mulut wanita itu, Shuri membulatkan kedua matanya saat merasakan ada cairan yang memenuhi mulutnya.
Dia langsung menarik kepalanya, serta menelan semua sperma yang ada di mulutnya. "Naruto nakal ih."
"Ma-maafkan aku," balas Naruto.
Shuri mengusap bibir seksinya itu, lalu menyeringai kecil.
...
..
...
Saat ini keduanya telanjang bulat, mereka berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. "Sensei berkeringat, jadi badan sensei sedikit lengket."
"Ma-mandi bersama?"
"Yup, betul. Kita mandi bersama, lagipula kita terlanjur telanjang." Wanita itu mendekati Naruto, jemari lentiknya mulai menyentuh penis ereksi milik Naruto. Shuri kembali menggenggam benda besar itu, lalu mulai menggerakkan tangannya. Shuri mencium bibir Naruto sekilas. "Bisa kita mulai?"
"Akan aku mulai, sensei."
Naruto mendorong tubuh Shuri hingga punggung wanita itu menabrak tembok kamar mandi, dia mengangkat kaki jenjang wanita itu, lalu mengarahkan penisnya untuk masuk ke dalam tubuh Shuri. Dia meletakkan kaki Shuri di atas bahunya, lalu mendorong pinggulnya.
Penis Naruto mulai masuk ke dalam liang senggama Shuri, dia tak lupa untuk memegang tubuh seksi itu, dan menjaga keseimbangan mereka. Naruto menggerakkan pinggulnya maju-mundur, penisnya keluar masuk di dalam tubuh Shuri.
Pemuda itu merasakan rahim Shuri berdenyut menggesek penisnya. Tangan Shuri mengalung di leher Naruto, dia menggerakkan kakinya hingga di tangkap oleh tangan Naruto. Keduanya terus menggerakkan tubuh mereka, menikmati setiap desakan penis Naruto di dalam tubuh Shuri.
Shuri mendesah saat penis Naruto terus mengobrak-abrik vaginanya. Dia sangat menikmati bagaimana batang kesenangan Naruto keluar masuk di dalam tubuhnya.
"Naru!"
"Aku juga akan keluar!"
Tubuh keduanya menegang, mereka berdua mengeluarkan cairan masing-masing, dan memenuhi rahim Shuri. Naruto terlihat terengah-engah saat dia selesia mengeluarkan semua klimaksnya, begitu juga dengan Shuri. Naruto menggendong tubuh mungil Shuri, dan masuk ke dalam bak mandi.
Pemuda itu memangku Shuri tepat di atas kedua pahanya.
"Air hangatnya sangat nyaman."
"Kau benar," balas Shuri. Dia memainkan air di bak mandi tersebut. Punggung mungilnya bersandar di dada Naruto. "Nee, sensei mau minta sesuatu."
"Apa itu?"
"Menikahlah setelah lulus."
...
..
...
Omake!
"Naruto-sensei!" Pria pirang itu menoleh, dia melihat beberapa muridnya berdiri di depannya. "Kami ingin bertanya beberapa hal..."
Naruto pun menanggapi beberapa pertanyaan dari muridnya itu dengan beberapa candaan. Para muridnya terlihat senang saat Naruto menjelaskan beberapa hal.
"Eh, Shuri-sensei?"
"Sensei penasaran dengan kerumunan ini, jadi sensei ingin tahu apa yang terjadi? Eh, ternyata Naruto-sensei sedang ditanyai oleh muridnya." Shuri terlihat keluar dari belakang punggung lebar Naruto.
"Kami tak akan merehut Naruto-sensei kok." Para murid tertawa kecil melihat tingkah manja Shuri pada Naruto. "Shuri-sensei terlihat sangat serasi dengan Naruto-sensei."
"Eh? Sensei jadi malu." Shuri bergelayut manja di lengan Naruto, membuat pria itu menggaruk tengkuknya. "Baiklah, sekarang kalian boleh kembali. Sensei ada sedikit urusan dengan si pirang ini." Wanita itu membawa pergi si lelaki pirang itu.
"Itu hanya alibi karena kau tak mau membiarkanku untuk didekati para gadis 'kan?"
"Istrimu ini sedikit cemburu loh." Shuri tertawa, dia memeluk erat lengan Naruto.
...
..
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Highschool DxD by Ichiei Ishibumi
