MY SECRET MARRIAGE
Summary : Sepuluh tahun telah berlalu dan Sakura baru kembali setelah menyelesaikan studinya di London. Sekembalinya ia ke Kota Ame, ibu mertua dan suaminya sudah menunggunya. Tunggu, suami? Ya suami Sakura yang selama ini tidak pernah Sakura temui secara langsung.
Disclaimer : Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto, cerita my secret marriage adalah murni ide gila author. Dilarang keras plagiat seluruh atau sebagian isi cerita.
Warning : AU, OOC, NaruSaku, Marriage Life, School Life.
oOo
Langit beranjak terang, Sakura menggeliat sebelum kedua matanya terbuka sempurna. Ia melirik jam dinding. Pukul tujuh pagi. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Naruto tidak kembali sejak kepergiannya semalam. Sakura merasa hatiya mencelos begitu saja.
Selesai menata diri Sakura turun menuju dapur. Shizune dan dua pelayan dapur sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Hmm, baunya sangat enak."
Sakura menghampiri dapur dan mengamati bagaimana cekatannya para pekerja dapur rumah Uzumaki menyiapkan makanan. Pagi ini mereka sepertinya menyediakan makanan yang cukup banyak dan mewah. Sakura sampai bergeleng, sungguh sarapan yang besar.
"Hari ini sangat spesial kata Kushina-sama aku harus menyediakan makanan yang banyak dan bagus."
"Kau juga tahu makanan kesukaanku?" Sakura menunjuk sandwich isi keju dan selada yang sudah ditata di atas piring.
"Tentu saja Sakura-sama, Anda tuan rumah di sini. Kami diwajibkan mengetahui semua tentang Anda."
"Bagaimana dengan minuman kesukaanku?"
"Susu lowfat."
"Olahraga?"
"Tennis."
"Film?"
"Tidak ada."
"Wah." Sakura bertepuk tangan takjub pada kemampuan pelayannya. "Kau hebat Shizune-san."
Shizune hanya tersenyum tipis, dalam hatinya merasa bangga. Sambil terus menata masakannya di atas piring. Hari sudah semakin terang. Sakura melihat bayangan ibunya melenggang menuju ruang makan. Sebelum ibu sampai di dapur Sakura meminta sesuatu pada Shizune.
"Oh ya Shizune-san, bisakah kau siapkan salad dengan sedikit mayonaise untukku?"
Shizune menaikkan alisnya, menurut daftar yang diterimanya salad bukan termasuk makanan kesukaan Sakura, bukan Tuannya Uzumaki Naruto, bukan pula Kushina-sama. Meskipun begitu Shizune tetap mengangguk patuh.
"Baiklah."
Suasana di meja makan sangat tenang. Sakura melirik Kushina yang sedang sibuk dengan piringnya sendiri sementara Sakura hanya mengaduk-aduk salad tak berselera. Aneh sekali, pagi ini ia tidak nafsu makan. Bahkan hanya sesuap sayuran berserat yang seharusnya tidak membutuhkan banyak tenaga untuk menghabiskannya saja ia tidak bisa.
"Apa benar pihak kampus sudah menghubungi?" tanya ibu setelah seluruh makanan tandas di piringnya. Sakura menggeser piring salad yang tidak ia habiskan.
"Ia Bu. Sejak saya di London rektor sudah memastikan apakah saya akan menerima tawaran mereka untuk mengajar setelah kepulangan saya ke sini." Sakura meraih gelas minuman.
"Lalu?"
"Saya akan ambil Bu. Lagipula saya belum memiliki pekerjaan yang tetap di sini."
"Saku-chan, kau bisa bekerja di perusahaan Uzu jika mau? Atau tidak perlu bekerja sama sekali. Kau ini menantu keluarga Uzumaki. Jika nanti kau melahirkan keturunan Uzumaki aku lebih setuju kau tinggal di rumah dan mengurus anak-anak."
Wajah Sakura seketika memerah padam. Ibu bisa melihat Sakura yang malu-malu saat menyinggung soal keturunan. Wanita setengah baya itu mengeluarkan sebuah kotak dan menyodorkannya pada Sakura.
"Pakailah ini."
Sakura meraih kotak tersebut lalu membukanya. Isinya adalah setumpuk kartu nama dengan namanya serta sebuah pin berwarna biru langit yang terbuat dari batu mulia. Indah sekali.
"Ini adalah pin anggota keluarga kita. Gunakan ini di mana pun dirimu berada."
Sakura mengangguk paham. Kushina memberinya pin dan kartu nama itu agar bisa digunakannya, secara tidak langsung, nama Uzumaki akan memudahkan Sakura melakukan apa pun di luar sana.
"Terima kasih."
oOo
Sakura berjalan di lorong kampus. Setelah menyelesaikan beberapa administrasi dengan pihak kampus Sakura langsung mendapatkan jadwal mengajar pagi ini. Ia menarik napas pelan di depan pintu kelas sebelum memutar kenop pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Seketika suasana ruangan kelas yang awalnya ramai berubah hening saat Sakura masuk. Beberapa mahasiswi berbisik-bisik dengan temannya saat melihat dosen yang baru mereka lihat di kampus ini.
"Selamat pagi," sapa Sakura.
Semua orang menjawab serentak. Sakura tersenyum sebelum memperkenalkan diri sebagai pengajar baru mereka sebab dosen sebelumnya harus cuti karena sakit dan harus dirawat.
"Saya Sakura, mulai hari ini saya yang mengajar mata kuliah ini." Sakura menaruh tas jinjing yang ia bawa di atas meja dosen. Suasana kelas masih sama heningnya, sejujurnya Sakura canggung berada di situasi seperti ini.
"Bolehkah saya bertanya soal usia Sensei atau di mana Sensei sekolah sebelumnya?" seorang siswi mengangkat tangan karena terlalu penasaran melihat paras Sakura yang cantik dan tampak masih sangat muda, berbeda dengan dosen mereka yang sebagian besar sudah separuh baya. "Oh ya, nama saya Yugao, Sensei."
Sakura duduk di kursi dosen. Menyamankan dirinya. "Saya 25 tahun, dan lulusan London University."
Seluruh siswa di dalam kelas terdengar berdecak kagum dengan kalimat Sakura. Beberapa mahasiswa pun bersorak senang mendengar betapa Sakura masih cukup muda sebagai dosen di universitas yang lumayan bergengsi ini. Sepertinya dosen baru mereka ini memang gadis jenius, dan satu lagi, cantik serta berkharisma. Dosen limited edition.
"Baiklah kita akan memulai pelajaran̶" kalimat Sakura terhenti saat kedua matanya betemu tatap dengan seorang mahasiwa yang duduk di pojokan kelas. Matanya tidak salah melihat kan? Tidak mungkin Sakura berhalusinasi dalam keadaan sadar seperti ini.
Naruto?
Bagaimana mungkin suaminya ada di kelas tempatnya mengajar? Sakura mulai merasa kepalanya pening dan berdenyut. Ia punya firasat buruk tentang ini.
Hari beranjak sore. Sakura mendapat pesan dari ibu agar bergegas pulang karena ada hal penting yang harus ia lakukan. Namun langkahnya berhenti saat melihat sosok Naruto berdiri bersandar pada mobilnya. Bukankah tadi ia meminta Iruka-san menjemput? Kenapa Naruto?
"Iruka-jisan sudah aku suruh pulang. Naiklah kita pulang bersama."
Mau tak mau Sakura harus menuruti perkataan suaminya. Ya suaminya. Dan ia sedang tidak ingin bertemu suaminya saat ini setelah apa yang terjadi semalam dan yang terjadi beberapa saat lalu di kelasnya. Naruto terus mempermainkannya dan mengocok perut Sakura sampai melilit rasanya.
Perjalanan berlangsung canggung. Sakura lebih senang memandangi langit yang lumayan cerah hari ini. Mobil-mobil tumpah ruah di jalanan. Tak ada niatan keduanya untuk memulai percakapan.
"Ibu bilang akan ada pesta penyambutan malam ini."
"Aku tidak tahu kau akan ada di kelasku." Seingat Sakura usia Naruto justru lebih tua darinya. Hanya itu. Selebihnya tentang Naruto ia tidak begitu banyak tahu. Sakura hanya diberi-tahu tentang tempramennya yang kurang baik dan kenyataan bahwa mereka adalah suami istri sah. Status yang terus mengikat Sakura sampai membuatnya tak bisa bergerak bebas seperti kebanyakan gadis seumuran Sakura.
"Aku juga tidak tahu tentang hal itu." Naruto masih fokus menyetir. "Aku merasa tidak perlu tahu." Naruto meminggirkan mobil ke tepi jalan lalu mematikan mesin. Mereka berada di jalan yang cukup sepi dengan sedikit rumah. Naruto menoleh pada istrinya.
"Dengar, Sakura-chan. Aku tidak akan mengusik apa pun tentangmu. Sebagai gantinya, jangan pernah usik hidupku. Perlukah kita membuat kesepakatan tentang ini?"
Sakura tidak percaya kalimat seperti itu akan keluar dari mulut Naruto. Secara tidak langsung Naruto meminta agar Sakura tidak perlu menganggap status mereka sebagai suami istri dan meminta mereka hidup masing-masing sebagaimana orang asing.
"A-apa maksudnya?"
"Kita menikah bukan atas keinginan kita. Kau tidak perlu terbebani dengan status ini." Kalimat Naruto singkat namun menohok hati Sakura.
Sakura ingat bertahun-tahun ia berlatih pendidikan istri oleh pelayan Uzumaki. Setiap malam Sakura menangis tidak terima dengan kenyataan pahit akan statusnya sebagai seorang istri di usia muda saat di mana teman-temannya senang bermain-main dengan laki-laki. Seiring waktu berjalan, Sakura mulai menunjukkan penerimaan terhadap semuanya. Ia sudah tidak pernah menangis lagi. Ia pun sudah merasa nyaman dengan rutinitas hariannya. Sakura mulai menikmati hidupnya sebagai istri seorang Uzumaki meskipun selama itu ia tidak pernah dipertemukan dengan suaminya. Setidaknya ia tahu bahwa ia memiliki seorang suami. Laki-laki yang akan mendampingi sisa hidupnya.
Namun apa yang ia dengar hari ini sangat memukul kesadaran Sakura. Apakah perjuangannya bertahan selama ini adalah sia-sia? Tidak. Tidak bisa begini. Sakura tidak akan menyerah semudah ini.
"Maaf tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku adalah istri sahmu secara hukum. Aku tidak mungkin menampik kenyataan sejelas itu."
Naruto terdiam mendengar jawaban Sakura yang di luar dugaan. "Kau tidak sedang mengincar harta keluargaku kan?" tanya Naruto spontan.
Sakura seketika menoleh kaget. Ia menggeleng. "Aku tidak serendah itu." Sakura memang disekolahkan oleh keluarga Uzumaki. Sakura juga memang memiliki hutang budi pada ibu Naruto. Tapi mengatainya pengincar harta terdengar sangat hina dan Sakura sangat tersinggung. Mata Sakura memerah menahan desakan air mata.
"Lantas, apa maumu sebenarnya?"
"Menurutmu apa keinginanku? Apa selama ini aku diberikan wewenang untuk menginginkan sesuatu? Bukankah semua hakku sudah kalian rampas dan sekarang dengan mudahnya kau berkata agar aku tidak menganggap hubungan ini? Lucu sekali kau Tuan Uzumaki."
Naruto terdiam membatu. Kehilangan kata-kata untuk membalas kalimat Sakura. Ia memutuskan melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
oOo
Sakura menata diri di depan cermin. Memang cantik gaun pilihan ibunya. Di luar rumah, kolega perusahaan milik keluarga Uzumaki sudah berkumpul mengahadiri pesta kebun yang diadakan untuk menyambut kedatangan Sakura. Hanya beberapa kolega penting saja yang diundang mengingat ibu ingin acara ini dilakukan tertutup dari media mana pun.
Tok tok tok
"Masuk." Sakura tahu jika yang mengetuk pintu adalah suaminya. Pintu terbuka, Naruto masuk dengan menggunakan stelan suite berwarna biru dengan dasi kupu-kupu dan rambut yang disisir rapi ke belakang.
"Kau sudah siap?" tanyanya.
Sakura berdiri lalu bangkit. Naruto sempat tertegun sejenak terpana oleh penampilan Sakura. Cantik. Sangat cantik.
"Sudah selesai."
Naruto sedikit tersentak oleh suara Sakura. Tapi ia masih bisa mengendalikan ekspresi wajahnya agar terlihat tidak terkejut. Ia meraih lengan Sakura lalu mereka berjalan bergandengan menuju ke luar. Mereka turun melalui tangga utama rumah lalu membuka pintu besar rumah keluarga Uzumaki. Terpampanglah para tamu undangan di luar yang langsung bertepuk tangan ketika melihat Naruto dan Sakura keluar. Beberapa terdengar berbisik karena keserasian pasangan tersebut, Naruto yang tergolong tampan, dan Sakura yang sangat cantik. Semua orang terpana karena keduanya. Ibu tersenyum senang.
Pesta dilangsungkan selama semalaman penuh. Meskipun tidak terlalu nyaman dengan keramaian Sakura tetap mematuhi keinginan ibu mertuanya untuk tetap berada di sisi Naruto selama pesta. Kakinya sudah kebas tapi Sakura tetap memaksakan diri berdiri. Di penghujung acara Kushina meminta pelayan memutarkan musik dansa agar semua tamu bisa berdansa di lantai yang sudah disediakan.
Naruto mengulurkan tangannya pada Sakura, Sakura menyambutnya sedikit sungkan. Ia lalu ditarik ke tengah lantai dansa. Naruto meraih pinggang Sakura, sementara Sakura menaruh kedua tangannya di bahu Naruto. Wajahnya terus menunduk ke bawah entah karena malu atau apa. Musik mengalun lambat senada dengan gerak kaki semua yang berdansa. Sakura merasa geli ketika Naruto menaruh wajahnya di pundak Sakura. Secara otomatis wajah Sakura bersembunyi di dada Naruto.
"Sepertinya kau tidak nyaman dengan kakimu." Naruto berbisik di telinga Sakura.
Sepertinya Naruto terus memperhatikan Sakura yang terlihat kesakitan karena kakinya. Ia bukannya tidak sadar tentang hal itu, hanya saja merasa tidak penting mengurusnya. Akan tetapi kasihan juga jika melihatnya terus-menerus seperti ini.
"Bukan masalah serius," jawab Sakura ketus.
Tak berselang beberapa lama sampai tubuh Sakura perlahan jatuh lalu ambruk di pelukan Naruto, dan semua orang heboh termasuk Ibu dan para pelayan.
"Cepat panggil dokter dan bawa Sakura ke kamarnya?!" perintah Kushina cemas.
oOo
To be continued
Note : Terima kasih untuk masih tetap membaca. Berhubung saya sedang gabut karena program work from home dari kantor salama seminggu full rencana saya ingin selesaikan semuanya sekaligus jika tidak ada kendala. Doakan saja. Dan jangan lupa komentar, entah saya agak terobsesi dengan review hahaha.
Oh ya buat reader semua, pesan dariku tetap jaga kesehatan, jangan lupa cuci tangan sesering mungkin sebelum makan dan melakukan aktifitas, jangan menyentuh bagian T wajah dan #DiRumahAja buat kalian yang memang tidak ada keperluan penting dan mendesak. Sambil mengisi waktu sambil berkarya dan baca fanfiction hehe. Keep fight Minna-san.
