L'AMORE (CHANBAEK)
BOYSLOVE/YAOI
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Summary :
Baekhyun tak terima jika kekasihnya harus menikah dengan orang lain, sementara Chanyeol berniat melindungi pernikahan adiknya dari segala macam gangguan termasuk dengan adanya kehadiran seorang lelaki mungil.
~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~
.
.
BB922020
L'AMORE : Chapter 2
"Ada lagi yang harus kutandatangani?"
Suara berat itu terdengar begitu cocok dengan postur tubuh tinggi nan atletis di balik jas hitam seorang pria berwajah tampan. Rahangnya yang tajam, alis hitam tebal, serta bibir penuh, dan dahi indahnya menjadi bukti nyata kebesaran Tuhan yang mampu menciptakan sosok sempurna tanpa cacat sepertinya.
Pria itu menorehkan tanda tangan di berkas terakhir sebelum melirik sekretarisnya.
"Hmm.. Tidak ada, Sajangnim."
Pria itu mengangguk singkat mendengar jawaban tersebut kemudian beralih menuangkan botol wine ke dalam gelas kosong yang sedari tadi ada di pinggir meja menemaninya.
"Meeting dengan pimpinan cabang di Jepang akan di mulai dua jam lagi." Ujar sang sekretaris mengingatkan seraya dengan sigap mengambil alih tumpukan berkas yang sudah selesai ditandatangani.
Park Chanyeol bangkit dari duduk dan berjalan menuju sudut ruangan kerjanya sambil menyesap wine di tangan dan berhenti ketika tepat berada di depan sebuah meja kecil di samping rak buku tempatnya menaruh vinyl player hitam.
"Omong-omong bagaimana acara kemarin?" Tanya sang sekretaris bernama lengkap Kim Jongin yang juga merupakan teman baik Chanyeol sejak duduk di bangku SMA.
Chanyeol menggeleng sambil memilih piringan hitam. "Kacau. Kekasihnya datang."
Setelahnya terdengar suara merdu penyanyi The Beatles memenuhi seisi ruangan kerja Chanyeol sementara sang pemilik ruangan menyandarkan tubuhnya pada rak buku.
"Sudah kuduga. Adikmu itu terlalu berani merebut Sehun dari kekasihnya. Aku kasihan dengan lelaki itu."
Ucapan Jongin membuat pria berumur 32 tahun itu menghela napasnya.
"Anak itu terlalu mencintai Sehun. Aku bisa apa? Aku hanya bisa memastikan keinginan anak itu terkabul." Balas Chanyeol seraya menggoyangkan gelas wine di tangannya dengan tatapan kosong.
"Kau terlalu memanjakannya, Park." Cibir Jongin. "Lalu bagaimana denganmu sendiri?"
"Apa?"
"Kau tidak ingin mencari cintamu? Tidak ingin menikah? Kau tidak malu dilangkahi oleh adikmu?"
Chanyeol hanya balas menatap sekretarisnya dengan datar tanpa menaruh minat pada pembahasan mereka. "Terima kasih sudah mengingatkanku." Sahutnya.
Jongin mengangkat bahu. "Aku hanya takut kau berniat melajang selamanya. Kau akan menyusahkanku jika begitu."
"Selera, Jongin. Seleraku terlalu tinggi."
Jongin tentu saja mengingat jelas tentang daftar kesempurnaan yang harus dimiliki oleh pasangan Chanyeol.
Karena selain sosok yang pemilih, Chanyeol merupakan seorang CEO ternama paling disegani yang namanya selalu terpampang hampir di setiap perusahaan di segala bidang yang ada di Asia dan Eropa. Kekayaan yang tak bisa diukur dengan pikiran dan kemewahan gaya hidup sudah menjadi bagian dari dirinya. Chanyeol tentu tak ingin memiliki pasangan yang tidak jelas asal-usulnya atau tidak cocok dengan gayanya.
Chanyeol bukan sekadar pria kaya biasa.
"Kau bahkan tidak pernah berkencan lebih dari satu bulan." Jongin menarik sudut atas bibirnya mengejek Chanyeol.
"Simpulkan itu sebagai ketidakcocokan seleraku."
"Atau kau memang tidak tahu apa itu cinta sesungguhnya."
Ucapan Jongin tak bisa dibantah. Selera hanya alasan bagi Chanyeol untuk mengindari topik bahwa ia bahkan tak pernah tertarik untuk memiliki suatu hubungan yang melibatkan perasaan emosional.
Memiliki segalanya di umur yang sangat matang dan menjadi pujaan para wanita seharusnya cukup untuk membuat Chanyeol melabuhkan hatinya pada seseorang. Namun sayang, cinta tak lebih penting dari pekerjaannya. Chanyeol lebih senang menghirup aroma uang dibandingkan wangi tubuh kekasihnya. Jika harus menikah, ia mungkin akan menikahi semua kekayaannya.
"Kau mau kupecat?"
"Ups."
Jongin langsung menunjukan deretan giginya dengn jenaka sebelum merubah sikapnya 180 derajat saat membungkuk hormat pada Chanyeol.
"Apa kau tidak punya kerjaan lain?"
"Ya?"
"Maksudku.. kenapa kau berlama-lama di ruanganku, Kim? Kau makan gaji buta?"
"Tentu saja tidak mungkin, Sajangnim. Pekerjaan saya sangat banyak hingga saya ingin sekali membuangnya ke tempat sampah." Sahut Jongin asal. "Kalau begitu saya kembali bekerja dahulu, Sajangnim. Permisi."
Chanyeol langsung melotot tajam pada pria seumurannya yang segera mengambil langkah seribu tersebut dan berakhir mendengus diselingi rotasi pada bola matanya.
Raut wajah itu perlahan-lahan memudar digantikan wajah penuh keseriusan dengan pikiran yang melayang-layang. Chanyeol menyesap kembali winenya dengan tatapan kosong.
"Bagaimana bisa kau pergi begitu saja kemarin?" Tanya Kyungsoo dengan sedikit nada kecewa. Lelaki bermata bulat itu merengut seraya mengaduk iced coffeenya dengan sedotan. "Seharusnya kau mengajakku juga ke sana. Aku akan menghabisi Luhan atau siapapun itu namanya."
Baekhyun terlihat duduk manis di hadapan Kyungsoo sembari menyeruput kopinya dengan kemeja linen cokelat muda yang tampak begitu cocok bersanding dengan kulit putihnya.
Kedua lelaki seumuran itu duduk di salah satu meja di cafe elite tempat biasa mereka bertemu.
"Aku akan lebih senang mendengarmu mengajakku menghancurkan upacaranya. Mungkin kita bisa meledakan bom saat mereka berdua sedang berciuman." Lanjut Kyungsoo menggebu-gebu.
Baekhyun hanya dapat tertawa pelan menanggapi semua kata-kata Kyungsoo sembari menaruh cangkir lattenya tanpa suara.
Apa yang terjadi kemarin tercatat akan selalu menjadi memori yang tak terlupakan sepanjang hidup Baekhyun. Hari terburuk dalam sejarah hidupnya.
Rasa sakit yang Baekhyun terima dari kejadian tersebut bukan main-main. Ia kehilangan dirinya begitu banyak dan layaknya serpihan pecahan kaca, beberapa hal tentu tak akan pernah bisa dikembalikan seperti semula.
"Tapi ia berhasil menyadarkanku akan beberapa hal."
Kyungsoo memiringkan kepala menunggu ucapan Baekhyun selanjutnya.
"Pertama, aku tahu ternyata Sehun bukan jodohku." Kekeh Baekhyun sambil mengangkat jari telunjuknya.
"Kedua, ternyata.. cinta tak selalu hadir pada setiap orang. Hanya orang-orang beruntung yang dapat merasakannya."
Kyungsoo terdiam memperhatikan dengan teliti raut wajah Baekhyun dari mata bulatnya.
Mungkin Byun Baekhyun adalah orang yang pantas mendapat gelar aktor nasional terbaik dibandingkan dirinya. Karena bagaimana bisa Baekhyun bersikap seperti tidak ada yang terjadi seolah dirinya sungguh baik-baik saja sementara raut lesu dan bengkak sehabis menangis semalaman terlihat jelas di wajahnya?
"Jadi kau termasuk yang mana?" Tanya Kyungsoo memecah keheningan sesaat di antara keduanya.
"Tidak beruntung."
Kyungsoo lantas mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Omong kosong. Cinta adalah tentang kasih sayang dan aku menyayangimu. Apa aku perlu membawa pasukan fansmu untuk membuatmu merasakan kehadiran cinta?"
Kyungsoo rasa Baekhyun baru saja melupakan jutaan penggemar di luar sana yang sangat menyayanginya dan rela memborong buku-bukunya untuk mendukungnya atau saat kotak surat sosial medianya dipenuhi kalimat penyemangat.
Tawa pelan Baekhyun atas ucapan Kyungsoo yang ketus kini diganti dengan senyuman simpul. Lelaki itu mengangguk-angguk kecil. "Kau benar. Aku melupakan hal itu."
Kyungsoo menghela napasnya dan menatap iba. "Aku yakin kau akan segera menemukan pengganti Sehun, Baek. Masih banyak lelaki yang lebih baik darinya di luar sana."
Baekhyun menundukan kepala mendengar ucapan itu. Ia menatap kosong pada cangkir kopinya beberapa detik, kemudian menggeleng pelan.
"Aku.. mungkin tak akan jatuh cinta lagi." Lirihnya.
Terdengar bodoh memang. Akan tetapi Baekhyun sungguh kehilangan separuh jiwanya ketika Sehun memutuskan untuk mengkhianati cintanya.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Kau tidak mungkin melajang selamanya dan hanya berkarir, kan? Umurmu sudah 27 sekarang. Sudah saatnya bagimu memikirkan tentang kehidupan berkeluarga."
"Aku tidak mengatakan tidak akan menikah." Sanggah Baekhyun.
"Lalu apa maksudmu?"
Baekhyun mengetukan jari telunjuknya di bibir cangkir. "Menikah tanpa cinta bukan hal yang sulit, kan?"
Rahang Kyungsoo hampir terjatuh. Ia hampir saja dibuat menggebrak meja setelah mendengar penuturan dari sahabatnya. "Kau serius mengatakannya padaku? Kenapa kau menjadi seperti ini, Baek? Kemana perginya Baekhyunku yang ceria?"
Baekhyun menghela napasnya dengan berat sebelum menyeruput kopinya. Sorot matanya menunjukan ada suatu hal yang begitu mengganggunya.
"Orangtuaku akan menjodohkanku." Ucap Baekhyun pada akhirnya. "Pertemuannya sudah ditetapkan minggu depan."
"A-Apa?"
"Pagi ini orangtuaku membahasnya. Mereka berpikir itu cara terbaik bagiku untuk melupakan Sehun. Aku tak sampai hati untuk menolak."
"Baek.."
"Entahlah.. Akupun tidak tahu akan berakhir bagaimana, Soo."
Kyungsoo meremas tangannya sendiri. Hal yang paling Kyungsoo benci adalah ketika ia tak dapat berbuat apapun untuk menenangkan Baekhyun di saat ia tahu temannya itu tengah bersedih.
Kyungsoo mengalihkan pandangannya dan bergumam pelan. "Bagaimana bisa kau bahagia jika menikah dengan orang yang tidak kau cintai?"
Baekhyun tentu mendengarnya, namun ia memilih untuk tersenyum simpul dan berpura-pura hal itu tidak meresahkannya.
"Kau tahu, kau tidak cocok bersedih seperti ini."
"Kau benar. Akupun merasa begitu."
"Kau menjebakku."
Sehun memandang Luhan dengan tatapan menuduh, sementara lelaki yang menjadi sasaran kemarahan Sehun terlihat tak acuh dan hanya menyibukan dirinya di dapur.
"Aku yakin kau membuatku mabuk malam itu." Lanjut Sehun. "Aku tidak mungkin membuat kesalahan bodoh seperti itu."
Sehun berdiri di belakang Luhan dengan keadaan yang sangat kacau. Tak sedikitpun terukir di wajahnya raut kebahagiaan seperti yang seharusnya dirasakan oleh pasangan pengantin yang baru menikah.
Sehun yakin ada yang salah. Berulang kali ia memaksakan ingatannya mengingat kembali malam itu, ketika dirinya dan Luhan melakukan hal yang tak seharusnya mereka berdua lakukan.
Kesalahan besar itu menjadi penyebab kerumitan situasi dan keharusannya melepas Baekhyun. Meninggalkan lelaki itu tanpa kabar selama empat bulan dan menghindari segala kesempatan untuk bertemu dengannya karena ia merasa tak punya keberanian untuk mengatakan yang sesungguhnya.
Sehun yakin dirinya dijebak.
"Ya, aku menjebakmu." Luhan menaruh spatula yang ia pegang dan balik menatap sang suami. "Lalu apa yang bisa kau lakukan? Bagaimanapun juga bayi ini adalah darah dagingmu dan kau sudah menjadi suamiku sekarang."
Sehun mengeraskan rahangnya.
Benar. Bayi.
Bayi itu adalah sebuah kesalahan.
"Kau sangat licik. Aku tidak mengerti mengapa kau melakukan ini semua."
"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Oh Sehun."
Tatapan Luhan bergetar dan tersirat sebanyak apa obsesi yang dimilikinya. Lelaki itu memupuk banyak harapan di iris matanya. "Jika saja kau mau membalas perasaanku, ini semua tidak akan pernah terjadi."
Sehun mengerutkan dahinya mendengar jawaban tersebut. Sedikit terkejut pada kejujuran Luhan, namun tergantikan dengan senyuman pahit setelahnya. "Cinta? Kau beralasan semua ini karena cinta?"
Entah sejak kapan lelaki itu menyukainya, Sehun tak pernah tahu dan tak berniat untuk mencari tahu. Selama ini Sehun menganggapnya hanya sebatas rekan kerja dan seingatnya mereka tak pernah terlibat dalam perbincangan serius. Namun yang jelas, lelaki itu sakit jika berpikir hal ini akan membuat Sehun bertekuk lutut padanya.
"Maaf mengecewakanmu, tapi rencanamu ini tidak akan membuatku mencintaimu."
"Aku akan membuatmu melakukannya."
"Aku hanya akan mencintai Baekhyun."
Luhan mengepalkan tangan mendengar hal itu dan berbalik badan memfokuskan semua inderanya membuat makan malam untuk mereka. Mengabaikan hatinya yang hancur berkeping-keping mendengar pernyataan Sehun barusan.
Ia memaksakan diri bersikap normal dengan menyembunyikan gemetar tangannya seolah kalimat Sehun tak menyakitinya sama sekali.
"Aku tidak peduli. Kau milikku sekarang." Jawab Luhan mutlak. "Mandilah. Setelah itu kita akan makan malam."
Tapi Sehun bukanlah lelaki penurut.
Dengan penuh amarah lelaki itu mengangkat kakinya pergi dari rumah, membuat Luhan hampir menjatuhkan air matanya saat mendengar pintu utama yang ditutup dengan kencang.
Seminggu telah berlalu begitu cepat tanpa disadari.
Siang ini Baekhyun tampak sedih saat kakinya menapak di depan sebuah restaurant bergaya Italia.
Kemeja warna biru langit melekat di tubuh Baekhyun di dalam jas putih yang menutupinya, sementara sebuah syal abu-abu menutupi area wajahnya bersama kacamata hitam Louis Vuitton yang selalu ia kenakan kemanapun ia pergi. Untuk surai rambut hitamnya hanya dibiarkan jatuh menutupi alis tanpa harus bersusah payah pergi ke salon.
Ia segera masuk ke dalam restaurant dan seorang pelayan wanita langsung mengantarnya ke sebuah meja dengan seorang lelaki yang duduk membelakanginya di sana.
Dengan berat hati, Baekhyun membawa dirinya melangkah mendekat kemudian menyapa lelaki tersebut.
"Lee Taeyong-ssi?"
Seorang lelaki berambut cokelat tua dengan gaya rambut yang memperlihatkan dahinya lantas menoleh dan bangkit dari duduk. "Oh? Byun Baekhyun-ssi."
"Maaf, saya terlambat." Ucap Baekhyun sopan sambil mendudukan dirinya.
"Bukan masalah. Aku tahu orang sepertimu pasti sangat sibuk, kan?" Balas Taeyong dengan senyuman tampannya.
Baekhyun mengangguk singkat kemudian melepas kacamata hitam berserta syalnya.
Mereka memutuskan untuk memesan makanan dan tak butuh waktu yang lama, para pelayan datang menyajikan berbagai makanan terbaik dan termahal di restaurant mereka dengan gerakan yang gesit namun tetap hati-hati. Setelah pelayan-pelayan tersebut dipastikan pergi, kedua laki-laki berbeda usia tersebut mulai menikmati hidangan mereka.
"Aku sungguh tidak menyangka jika kita dapat bertemu seperti ini. Aku adalah salah satu penggemar beratmu, Baekhyun." Ucap Taeyong mencoba membuka pembicaraan.
"Ah, terima kasih."
Omong-omong Baekhyun sudah mengetahui sedikit informasi mengenai calon tunangannya. Lee Taeyong adalah seorang Direktur muda di salah satu stasiun televisi terbesar di Korea.
"Ternyata jika dilihat secara langsung kau sangat cantik dan seksi ya."
Baekhyun menghentikan kegiatannya dan menatap balik Taeyong. Sedikit terkejut dengan pernyataan tiba-tiba tersebut.
"Aku merasa sepertinya takdir sedang berpihak kepada kita. Dipertemukan seperti ini merupakan sebuah keajaiban, bukan?"
Baekhyun balas tersenyum kecil dan kembali melanjutkan suapan carbonara ke dalam mulutnya, entah mengapa merasa sedikit canggung.
Tiba-tiba saja jemari Taeyong bergerak mengusap punggung tangan Baekhyun yang masih setia memegang garpu. Lelaki itu menatap Baekhyun dengan tatapan memuja yang tersirat.
Baekhyun menunjukan reaksi terkejut, namun sebisa mungkin ia tetap menjaga senyumnya meski mulai merasa tidak nyaman.
"Aku sudah tertarik padamu sejak awal, jadi kurasa pertemuan ini merujuk pada hasil yang memuaskan. Haruskah kita segera mengatur pertemuan kedua kita?" Tanya Taeyong.
Jemarinya bergerak tanpa ijin semakin naik mengelus pergelangan tangan Baekhyun disertai senyum menggoda.
"Bagaimana jika di hotel?"
Baekhyun lantas menarik kembali tangannya, merasa tersinggung mendengar ajakan tersebut. Ia tidak mengerti apakah ini terlalu cepat untuknya atau lelaki di hadapannya memang lelaki bajingan yang senang menggoda. Yang jelas Baekhyun tak menyukai itu.
"Nikmati makananmu, Tuan." Ucap Baekhyun sembari menyantap kembali makanannya, mencoba untuk tetap bersikap tenang meski rasanya ia ingin melempar piring ke wajah lelaki tersebut.
Mendapat reaksi yang tak diinginkan, Taeyong menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan melipat kedua tangannya. Mengabaikan makanan yang belum tersentuh sedikitpun olehnya.
Ia tertawa remeh memandang Baekhyun. "Ayolah, mengapa kau sombong sekali? Jangan berpura-pura kau tidak pernah melakukannya. Aku akan memesankan suite room di hotel bintang lima jika itu yang kau khawatirkan."
Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Maaf?"
"Aku tak ingin kita hanya akan duduk dan makan setiap kali bertemu. Kita bisa saling mengenal lebih dekat dengan menghabiskan malam yang panjang bersama-sama. Kau dan aku."
"Bagaimana jika pergi ke club denganku malam ini?"
Ini sudah cukup keterlaluan. Baekhyun merasa diperlakukan sangat rendah oleh kata-kata tersebut. Ia tak bisa membiarkannya lagi, tak peduli jika orang tersebut adalah kenalan keluarganya.
Lelaki itu menaruh alat makannya dengan kasar dan bersiap untuk berpamitan jika saja seseorang tidak datang tiba-tiba dan langsung memukul wajah Taeyong hingga lelaki tersebut jatuh dari kursinya.
Baekhyun sangat terkejut. Seluruh pengunjung restaurant ikut terkejut dan memandangi meja mereka dengan penasaran.
Namun itu tak mengalahkan rasa terkejut Baekhyun saat menyadari siapa pelaku yang menyerang Taeyong.
"Inilah masalahnya."
"Apa?"
"Aku juga punya kehidupan, Chanyeol. Aku tidak bisa selalu menemanimu makan siang. Kau harus segera mencari kekasih. Harus berapa kali aku menyarankannya?" Keluh Jongin yang berjalan di sebelah Chanyeol.
Chanyeol melirik sekilas. "Sepertinya kau sungguh ingin dipecat, ya?"
"Kenapa kau senang sekali mengancam?" Gerutu Jongin seraya membuka pintu kaca restaurant.
Chanyeol ikut masuk ke dalam restaurant setelah Jongin. Pandangannya menyusuri seluruh ruangan mencari tempat yang cocok untuk keduanya tempati.
Iris matanya mau tak mau terhenti ketika menyadari kehadiran sosok yang familiar bagi Chanyeol. Seorang lelaki mungil dengan balutan kemeja biru dan jas putih. Seseorang yang ia hapal baik wajah maupun suaranya.
"Kau tidak mau duduk?" Suara Jongin menyadarkan Chanyeol.
Pria itu segera berjalan mendekati Jongin dan menempati meja yang berseberangan dengan Baekhyun. Tak dapat dipungkiri ia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang lelaki mungil itu lakukan dengan seorang lelaki bersamanya?
Tapi dari apa yang Chanyeol lihat, lelaki itu nampak baik-baik saja setelah sempat mengacaukan pernikahan adiknya. Chanyeol kira lelaki itu akan terpuruk selama berminggu-minggu.
Chanyeol mengedikan bahu, memilih untuk mengabaikan sosok itu dan membuka buku menu untuk melihat-lihat daftar makanan yang ada di sana. Namun suara yang berasal dari seberang meja sayangnya tertangkap oleh telinganya hingga membuat fokusnya terbagi.
"Ternyata jika dilihat secara langsung kau sangat cantik dan seksi ya."
Chanyeol melirik ke arah meja Baekhyun dari balik buku menunya. Salahkan rasa penasaran yang membuatnya tak tahan ingin mengecek situasi di meja tersebut.
Chanyeol mengerutkan dahi menatap ke arah lelaki di hadapan Baekhyun yang tak hentinya mengatakan kalimat menjijikan, dan Chanyeol sangat menyadari raut tak nyaman Baekhyun yang tersembunyi di balik senyum yang dipaksakan. Hal itu anehnya membuat Chanyeol ikut merasa tidak nyaman.
Baekhyun terlihat menahan marahnya. Lelaki itu jelas sekali tak menyukai lelaki di hadapannya. Tidak, Chanyeol tidak bermaksud untuk peduli. Namun iya, reaksi tubuhnya jelas mengatakan dia peduli.
"Bagaimana jika pergi ke club denganku malam ini?"
Sungguh rendahan. Menjijikan.
Chanyeol mendecih hampir tertawa mengejek sebelum akhirnya ia berdiri dari tempatnya seraya melepas kancing jas dan berjalan angkuh menghampiri lelaki tersebut. Chanyeol tak bisa menahannya lagi.
Tanpa basa-basi Chanyeol langsung meninju tepat di rahang lelaki berambut cokelat itu dengan sekali pukulan.
Jongin menoleh terkejut. "Sajangnim!"
Taeyong jatuh ke lantai dengan sangat keras. Ia memegang wajahnya penuh kesakitan dan menatap Chanyeol dengan marah. "Akkhh! Apa-apaan kau?!"
"Aku bertanya-tanya bagaimana bisa manusia sampah sepertimu masih ada di dunia ini?" Ucap Chanyeol tajam sambil meraih kerah jas Taeyong dan mengangkatnya untuk berdiri kembali.
Tak tanggung-tanggung, Chanyeol memberi beberapa pukulan lagi di wajah tersebut hingga membuat Taeyong kembali jatuh tak berdaya. Menurut Chanyeol, Taeyong lebih dari sekadar pantas mendapatkannya.
Tanpa disadari, Baekhyun memandanginya dengan ekspresi terkejut luar biasa. Tentu mudah bagi Baekhyun untuk mengenali siapa pelaku yang sedang memukuli Taeyong tanpa belas kasihan. Hanya saja Baekhyun tak menyangka jika pria itu akan terlibat dalam urusannya.
Kemudian terlihat beberapa orang berjas hitam datang entah dari mana langsung berdiri di kedua sisi Chanyeol memasang tameng untuk melindungi pria tersebut. Tatapan yang kaku dan tubuh berotot dibalik jas menjelaskan dengan baik siapa mereka.
Mereka adalah pengawal-pengawal setia yang selalu mengikuti kemanapun Chanyeol pergi. Mereka berpencar menjaga sekitar dan hanya akan menunjukan eksistensi di sisi Chanyeol apabila pria itu tengah dalam situasi yang menurut mereka tidak aman.
Bisik-bisik seluruh pengunjung restaurant terdengar sampai ke telinga Baekhyun dan banyak dari mereka yang mulai mengeluarkan ponsel untuk merekam apa yang tengah terjadi. Baekhyun langsung menundukan kepala, sebisa mungkin mencoba menutupi wajahnya dari sorotan kamera.
"Hentikan."
Suara itu membuat Chanyeol menoleh. Detik setelahnya ia tersadar bahwa ia melakukan kesalahan besar dengan membuat mereka menjadi pusat perhatian. Hal yang sangat ditakuti oleh publik figur seperti Baekhyun.
Chanyeol langsung menarik tangan Baekhyun keluar dari restaurant secepat mungkin sementara Jongin yang masih tak mengerti apa yang terjadi hanya mampu mengikuti di belakangnya.
Para pengawal setia Chanyeol dengan sigap membuka jalan dan melindungi ketiga orang tersebut dari tiap pasang mata yang menatap penuh ingin tahu.
Mereka akhirnya tiba di parkiran, dan Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari dalam mobilnya.
"Apa orang-orang sempat melihat wajahmu?" Tanyanya sembari memakaikan topi hitam di kepala Baekhyun.
Chanyeol tentu tahu seterkenal apa Baekhyun dan seberapa mudah dikenalinya lelaki mungil itu di era canggih sekarang. Ia tak bisa membiarkan identitas Baekhyun terekspos dengan kabar miring yang memenuhi headline berita.
"Kau baik-baik saja?"
"Siapa yang menyuruhmu melakukannya?"
Chanyeol menurunkan tangannya dan sontak menatap Baekhyun kebingungan ketika suara menahan marah itu terdengar.
"Ya?"
"Kubilang siapa yang memperbolehkanmu untuk ikut campur?" Tanya Baekhyun dengan raut wajah dingin.
Baekhyun mengepalkan tangannya dengan erat. Tatapannya sangat tajam menyiratkan kebencian yang mendalam. Hatinya mendadak terasa nyeri seolah ada ribuan duri yang menancap di sana.
Chanyeol mengerutkan dahi sedikit terkejut dengan respon Baekhyun. Ia kira ia akan mendapat ucapan terima kasih, namun tanpa diduga lelaki mungil itu justru melakukan yang sebaliknya.
"Aku hanya mencoba menolongmu."
"Apa aku terlihat membutuhkan pertolonganmu? Ah tidakㅡ apa aku bahkan butuh pertolonganmu?"
Setelah apa yang terjadi seminggu yang lalu, pria itu seharusnya tak bersikap seolah mereka baik-baik saja. Seolah mereka tak memiliki permasalahan karena kehadiran pria itu membuat Baekhyun mengingat kembali hari yang ingin ia lupakan.
Baekhyun mengeraskan rahangnya. Ia langsung melepas topi yang Chanyeol berikan dan menginjak-injaknya di tanah tanpa perasaan. Tak peduli jika orang lain mungkin akan melihat dan merekam aksinya kali ini.
Ia mendongakan kepala kembali menatap Chanyeol.
"Menolongku kau bilang? Kau ingat bagaimana ucapanmu hari itu?" Geram Baekhyun dengan dada yang naik turun karena dipenuhi emosi. Ia terbawa oleh perasaan. Semua itu terlihat jelas di matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kau itu hanyalah manusia tak punya hati! Jadi jangan bersikap seperti pria ramah terhadapku! Kau membuatku muak!"
Setelah mengatakan kata-kata itu, Baekhyun segera pergi meninggalkan Chanyeol dan Jongin yang terdiam mematung. Tak lupa mendelik tajam pada pengawal-pengawal yang sedari tadi ada di sekitarnya sementara kedua pria itu masih membisu terkejut dengan suara bentakan yang keluar dari tubuh mungil Baekhyun.
"B-Bukankah itu kekasih Sehun?" Tanya Jongin pada akhirnya.
Chanyeol tak berniat menjawab dan hanya memandang tak percaya topi kesayangannya yang kini tak berbentuk dan menjadi sangat kotor.
Jongin meringis saat ikut melihat ke arah topi malang tersebut. "Astaga.. dia pasti sangat membencimu."
Chanyeol langsung menoleh dengan wajah yang sangat menyeramkan. Mengeluarkan aura yang menciutkan nyali Jongin seketika.
"Bisa kau tutup mulutmu?"
Ini tidak adil untuk Luhan. Ia telah menyimpan rasa untuk Oh Sehun bertahun-tahun lamanya.
Begitu banyak hal yang telah Luhan perjuangkan untuk lelaki tersebut. Salah satunya adalah Luhan rela belajar dengan giat agar bisa menjadi seorang dokter dan bekerja di rumah sakit ternama di mana Sehun bekerja demi mengharapkan sosok itu dapat melihat ke arahnya dan membalas perasaan cintanya.
Namun bagai bayangan tak kasat mata, Sehun tak pernah meliriknya satu kalipun. Tak pernah memandangnya sebagaimana Luhan menatap iris cokelat matanya. Luhan tak bisa menyentuh sosok itu.
Kemudian kabar kejam datang memberi informasi bahwa Sehun menjalin hubungan dengan seorang penulis cantik bernama Byun Baekhyun. Lelaki itu sangat cantik dan memiliki senyuman yang begitu menawan. Bulan sabit di matanya adalah apa yang membuat Luhan sangat iri.
Ketidakadilan ini membuat Luhan semakin hari semakin frustasi. Menurutnya, Baekhyun tak lebih mengenal Sehun dibandingkannya. Baekhyun tak mencintai Sehun sebanyak yang ia lakukan selama ini.
Karena itu, Luhan ingin mengakhiri ketidakadilan yang ia dapatkan. Ia harus memiliki Sehun bagaimanapun caranya. Luhan tak akan menyerah begitu saja. Karena ia percaya perjuangannya butuh sebesar rasa cintanya pada lelaki itu.
Luhan memulainya dengan perencanaan yang matang. Membuat pertemuan antar dokter dalam acara perayaan ulang tahun rumah sakit mereka menjadi kesempatan untuknya menjalankan rencana tersebut.
Mabuk. Luhan tahu Sehun tak pernah kuat minum alkohol dan ia membuat Sehun sangat mabuk dengan terus memberinya arak, dibantu dengan sorakan dokter lain yang memintanya untuk bersikap seperti lelaki jantan yang mampu menerima tantangan.
Luhan tahu ia sudah gila ketika mengajukan diri mengantar Sehun pulang. Ia masuk ke dalam apartment Sehun dan mengantarnya sampai ke kamar. Menidurkan tubuh lelaki itu di tempat tidurnya dan melepas helai demi helai pakaian.
Sorot mata Luhan begitu membara. Obsesi dalam dirinya membuat ia ingin memiliki lelaki tersebut secepat mungkin. Ia tahu apa yang ia lakukan tak dapat dibenarkan namun kesempatan untuk mendapatkan Sehun tidak akan pernah datang dua kali.
Luhan membuang semua rasa khawatir dan harga dirinya. Ia menggoda Sehun. Membuat dirinya memberikan kecupan-kecupan di tubuh indah lelaki itu sementara Sehun yang berada di bawah pengaruh alkohol kehabisan akal untuk menyadari bahwa ia menerima semua perlakuan yang bukan dari kekasihnya. Bahkan terlalu lemas untuk membuka matanya.
Kesadaran Sehun tersisa sangat sedikit ketika Luhan beranjak untuk duduk di atasnya, mencium bibirnya dengan penuh nafsu, dan membiarkan semua mengalir begitu saja tanpa bisa Sehun cegah. Mereka bercinta. Lebih tepatnya hanya Luhan yang menaburkan cintanya dalam seks sepihak tersebut.
Luhan tersenyum ketika tubuh lelahnya terbaring lemas di sebelah Sehun dengan napas yang masih memburu. Ia merasa sangat senang dan lega ketika akhirnya hal yang paling ia jaga telah diambil Sehun.
Luhan menatap penuh harapan pada Sehun yang sudah terlelap beberapa menit lalu. Ini sudah cukup untuknya meski ia harus menahan rasa sakit setiap kali mendengar Sehun menyebut nama orang lain saat mereka bercinta, seolah menganggap ia tengah bercinta hebat dengan kekasihnya dan bukan Luhan.
Tapi tak apa, karena Luhan akan segera memiliki Sehun.
Seperti itulah bagaimana ia bisa mengandung dan meminta Sehun untuk bertanggung jawab. Mereka melakukan tes DNA dan hasil mengatakan bahwa anak yang tengah dikandung oleh Luhan adalah milik Sehun.
Keluarga mereka merencanakan pernikahan yang mendadak sebagai solusi terbaik dari kekacauan yang terjadi dan Luhan bersusah payah untuk tidak memekik bahagia di tengah acara pertemuan keluarga mereka meski Sehun terlihat menolak mentah-mentah keputusan tersebut.
"Kenapa kau melakukannya?" Chanyeol menatap Luhan dengan raut serius ketika hanya ada mereka berdua di rumah utama. Baik keluarga mereka maupun keluarga Sehun telah pergi beberapa menit yang lalu.
Tubuh Luhan sedikit bergetar berhadapan dengan sang kakak. Ia tahu Chanyeol tengah menahan marah saat ini.
"Aku harus membuatnya menjadi milikku.. Hanya itu satu-satunya cara untuk mendapatkannya, Hyung.."
Luhan menundukan tatapannya dengan suara yang melemah. Matanya berkaca-kaca. Ia tak mau Chanyeol menatapnya dengan sangat menghakimi seolah yang ia lakukan adalah hal yang salah meski ia sudah tahu kenyataan tersebut.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Park Luhan."
"Aku mencintainya, Hyung.."
Luhan menangis. Ia tahu kakaknya tak akan tahan ketika melihatnya menangis dan Luhan menjadikan itu sebagai senjata agar Chanyeol mau mendukungnya. Ia tahu betapa besarnya rasa sayang Chanyeol untuknya.
Chanyeol menghela napas kasar dan menyisir rambutnya dengan jemari. "Tapi kau tidak seharusnya melakukan itu. Kenapa kau keras kepala sekali, Luhan?"
Luhan terisak sedih dan mengangkat kepalanya menatap sang kakak dengan tatapan memohon.
"Kumohon hanya buat pernikahan kami lancar. Aku sangat ingin memilikinya, Hyung.. Aku mohon."
"Luhan.."
"Hiks.. Aku mohon, Hyung.. Aku tidak menginginkan apapun selain dia.."
Chanyeol memejamkan matanya sejenak, meredam api yang berkobar di hatinya sebelum menatap kembali kepada adik kesayangannya. Ia menghela napasnya dengan kasar.
"Kau yakin ini akan baik-baik saja?"
Luhan menganggukan kepala dengan penuh air mata. "Semua akan baik-baik saja. Aku memilikimu, Hyung.."
Chanyeol menghela napasnya sekali lagi dan menarik Luhan ke dalam pelukannya. Chanyeol selalu menyayangi Luhan lebih dari apapun hingga tak mampu menolak permintaan sang adik.
Dalam lubuk hatinya, ia menyayangkan sikapnya yang tak mampu bertindak tegas hingga hal seperti ini harus terjadi.
Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan orang lain harus tersakiti demi memenuhi keinginan Luhan.
Katakanlah egois, namun Chanyeol hanya ingin melihat Luhan bahagia meski itu berarti ia harus mengorbankan perasaan orang lain.
.
.
.
.
{ To Be Continued }
TERIMA KASIH KEPADA MAS TAEYONG UNTUK KESEMPATANNYA JADI CAMEO DI FF INI wkwk
Kalem ya gais ini masih chap 2 masih pengenalan situasi dulu jadi cb momennya blm banyak wkwk Udah pada dapet pencerahan kan kenapa sehun nikah? Wekwekwek
Oiya mas canyul disini bukan cowo bgst ya. Boro2 ngelirik orang, yang dipikirin cuma kerjaan sama duit soalnya wkwk dahlah segitu aja cuap2nya. Makasih banyak yang udah fav/foll/ review chap 1 kemarin huhuhu terima kasih untuk dukungannya.. sampai jumpa di chap 3!
