Sasagawa bersaudara sedang menunggu kedatangan seseorang. Si sulung, Ryohei bersandar ke dinding, kedua telapak tangannya masuk ke dalam saku celana. Surai putih keabu-abuannya nampak menonjol, berbeda dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Sementara si bungsu, Kyoko sibuk bermain ponsel pintarnya. Sembari membunuh waktu, gadis itu mengecek media social pribadinya.
"Ah, Onii-san! Kyoko-san" panggil seseorang yang membuat dua saudara itu menoleh ke sumber suara.
"Tsuna-kun." Kyoko tersenyum, melihat pemuda berambut coklat berjalan setengah berlari ke arahnya. Dari penampilannya, sepertinya ia baru saja berlari marathon untuk sampai ke sini.
"Aku telat?" tanyanya.
Kyoko menggeleng, "Tidak juga. Kami yang datangnya kecepetan."
Ryohei mengangkat dirinya kemudian berjalan menuju Tsuna dan menepuk pundaknya, "Biar kutebak, pasti kau kesiangan!" ujar Ryohei dengan nada sedikit mengejek.
Tsuna mengangguk, pipinya merona—menahan malu. Kyoko tertawa.
"Aku punya tiket untuk empat orang, katanya Hana-san mau ikut?" Tsuna mengeluarkan empat lembar tiket dari waist bag yang menggantung di dadanya.
"Tadi sudah kutelpon, katanya maaf Hana-chan tidak bisa ikut. Ia harus menjaga keponakannya yang datang berkunjung."
"Yah, sayang sekali." Tsuna menggaruk belakang kepala, "Kalau kita bertiga saja tidak keberatan kan, Onii-san?" tanyanya.
Ryohei memasang pose berpikir, Tsuna menatapnya lekat-lekat. "Gimana yaa…" Ryohei tertawa kecil, menyadari ekspresi polos Tsuna yang tengah menunggu jawabannya. "Tidak apa-apa, Sawada. Tidak perlu kaku begitu." Telapak tangannya yang lebar mengacak surai coklat Tsuna.
"Duh, Onii-san. Jangan bully Tsuna-kun terus." Kyoko menengahi, pipinya mengembung kesal dengan sikap kakaknya yang tidak dewasa.
"Ya gimana ya… Habis Sawada lucu sih, seperti anak kecil." Ucapnya jujur.
.
.
The one that got away
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
Story © Hanyo4
Tidak ada keuntungan komersil yang didapatkan oleh penulis. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk kesenangan semata.
Alternate Reality, Friendship, Angst, (perhaps) mention of Sho-Ai in future chapter. Unrelated oneshoot (chap 1-6).
Chapter 2
-Sasagawa Ryohei-
.
.
Tsuna, Kyoko, dan Kurokawa Hana adalah tiga sekawan yang tak terpisahkan. Banyak orang yang heran mengapa seorang Sawada Tsunayoshi bisa dekat dengan gadis populer dan ratu es—Hana. Ada rumor yang bilang kalau Tsuna hanya memanfaatkan keduanya, ada juga yang bilang kalau Tsuna adalah laki-laki lemah yang bersembunyi di antara gadis-gadis.
Namun semua itu hanyalah opini dari orang-orang yang iri dengan Tsuna. Kyoko menganggap Tsuna sebagai teman yang dapat diandalkan, begitu juga dengan Hana. Meski Tsuna tidak pintar secara akademik atau jago dalam bidang olahraga, tapi ada hal yang membuatnya berbeda dari yang lain. Tsuna adalah orang yang tulus dan suka membantu orang lain.
Ryohei pun berpendapat demikian. Awalnya ia tak suka dengan keberadaan Tsuna yang dekat dengan adik perempuannya, namun nyatanya Tsuna tak seburuk dengan rumor yang ia dengar. Tsuna adalah pemuda naïf yang teramat polos. Bahkan Ryohei menganggap Tsuna sebagai adik laki-lakinya—dan lebih sering mengerjainya karena Tsuna itu menggemaskan.
Berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan, ketiganya berhenti di depan pintu masuk bioskop.
"Tsuna-kun, kau tahu film apa yang akan kita tonton?" Tanya Kyoko.
Tsuna menggeleng polos. Kemarin ia hanya tegoda dengan diskon beli 1 gratis 1 di internet dan tanpa sadar memesan 2 tiket—yang berarti dapat 4 tiket. Filmnya pun ia tak lihat, main langsung booking order.
Ryohei mengeluarkan selembar kertas yang tadi diserahkan Tsuna dan membacanya. "Studio empat yaaa…" pemuda berkulit eksotis itu pun berjalan mencari studio yang tertera di tiket. "Ah, yang ini!" ucapnya.
Muka Tsuna memucat, melihat poster besar yang terpasang di samping pintu. Film horror-thriller.
Kyoko tertawa, "Duh Tsuna-kun seharusnya kau cek dulu film apa yang ingin kau pesan."
"Kalian tunggu sini dulu, aku akan pesan popcorn dan minum." Ujar Ryohei. Sebelum Tsuna menolak, tubuh Ryohei sudah hilang di tengah kerumunan orang yang baru keluar dari salah satu studio.
"Sudah Tsuna-kun, kau kan yang traktir tiket. Biar kita yang traktir makan." Tsuna yang awalnya ingin menolak lagi, jadi tak enak hati.
Ketika pintu studio dibuka, ketiganya masuk. Ryohei menenteng bucket besar popcorn, Tsuna membantu membawa soft drink yang tadi dibeli sementara Kyoko mengekori dari belakang. Mereka duduk berdampingan, Ryohei –Tsuna –Kyoko dan kursi kosong yang seharusnya untuk Hana. Sasagawa bersaudara itu lebih memilih untuk mengapit Tsuna karena ekspresi Tsuna saat menonton film horror jauh lebih menarik ketimbang film itu sendiri.
.
.
"Kyoko-san ingin ke toko buku?" Tanya Tsuna saat mereka sedang berjalan mengelilingi kompleks mall.
Kyoko mengangguk, "Hanya beli buku tulis kosong dan kuas untuk tugas seni budaya minggu depan. Tsuna-kun mau ikut?" tawarnya.
"Hmm, tidak ada yang ingin aku beli sih. Kyoko-san mau aku temani?"
"Biar aku yang temani Kyoko." Ryohei mengalungkan tangan kirinya ke leher Tsuna. "Nanti kau tag tempat di café yang biasa sambil menunggu kita datang."
"Iya, Tsuna-kun. Dari pada repot-repot tunggu kami saja ya di sana."
Tsuna pun mengiyakan. Ia berpisah dengan Sasagawa bersaudara di dekat eskalator. Letak toko buku ada di lantai dua mall, sementara café tempat tujuannya ada di luar, sebrang mall. Café itu lumayan terkenal dan cukup ramai saat akhir pekan seperti sekarang ini.
Tsuna dan Kyoko sangat suka dengan makanan manis, sedangkan Ryohei dan Hana lebih suka makanan asin gurih yang menggugah selera. Dan café ini adalah tempat favorit keempatnya karena menyajikan berbagai macam menu dengan harga yang terjangkau untuk pelajar.
Beruntung, saat Tsuna masuk ke dalam café ada bangku yang baru saja di tinggalkan pengunjung sebelumnya. Salah satu pelayan menghampirinya, Tsuna hanya memesan milkshake stroberi ia akan menunggu Ryohei dan Kyoko datang baru memesan makanan. Pelayan itu mengerti jika Tsuna sedang menunggu kawannya yang lain dan pergi menyiapkan pesanannya.
Bangku itu berada di sudut café, Tsuna memilih bangku yang mengarah ke pintu masuk. Di sebelah kanannya ada jendela besar, ia bisa melihat jalanan besar di akhir pekan yang ramai dengan orang lalu lalang. Ada beberapa mobil dan sepeda yang terparkir di luar café. Tak ada yang janggal di tempat itu. Makanya tak ada satu pun dari mereka yang menyadari bom waktu yang tersimpan dalam salah satu mobil di samping café.
.
.
Ryohei dan Kyoko hendak keluar dari mall, tepat saat mereka keluar dari pintu sebuah ledakan besar terjadi. Ryohei menjadikan dirinya tameng untuk melindungi adiknya, keduanya jatuh tersungkur di lantai.
Suara dengung memonopoli pendengaran Ryohei. Di pengelihatannya, semua bergerak bagai potongan film slow motion. Ia baru sadar dari syok saat seorang petugas keamanan membopong dirinya ke tempat yang lebih aman. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Kyoko.
Kyoko memeluknya, menangis. Ia sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Sebagai kakak, Ryohei mencoba untuk menenangkannya. Beruntung keduanya tak terluka, jarak mereka dengan pusat ledakan lumayan jauh.
"Bom?" Tanya salah satu orang yang ada di sebelah mereka.
"Belum tentu, bisa saja ledakan gas dari café sebrang! Tapi ledakannya besar sekali, bagaimana nasib pengunjung yang ada di sana ya?" celetuk yang lainnya.
Iris Ryohei membola saat mencerna kata 'café' dan 'pengunjung'. Ia sadar, Tsuna ada di sana. Ryohei menggoroh ponsel di sakunya dengan panik. Ia mencoba untuk menghubungi Tsuna, namun panggilannya tak pernah terjawab. Ryohei berteriak, Kyoko makin menangis histeris. Orang-orang yang ada di sekitarnya mencoba untuk menenangkan keduanya.
Ryohei memberontak, mencoba untuk masuk ke dalam tempat kejadian perkara. Sebagai kapten klub boxing Ryohei tentu punya tenaga yang besar, orang-orang yang menahannya sampai kewalahan.
Ryohei berteriak memanggil Tsuna,
Hanya kepulan asap dan debu yang ada di depannya.
.
.
Bom waktu dari sebuah kelompok teroris.
Begitu kata berita.
Banyak korban jiwa yang jatuh karena daya ledak bom yang cukup dahsyat, belum lagi posisi bom berada di atas pipa gas. Total empatpuluh tiga korban meninggal dan ratusan korban luka. Sawada Tsunayoshi adalah salah satu korban yang meninggal.
Di depan altar yang menampilkan foto Tsuna, Ryohei meletakkan setangkai tulip putih. Di belakangnya, Kyoko berdiri sembari dibopong kedua orang tua mereka.
Sejak hari itu, Ryohei tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Andai hari itu Ryohei mengajak Tsuna untuk ikut ke toko buku bersama dengan Kyoko, mungkin saja saat ini Tsuna masih ada bersama mereka dan menjalani hidup normal.
Andai Ryohei tidak menyuruhnya untuk pergi sendiri mencari tempat.
Andai Ryohei…. Tidak ikut menemani Kyoko ke toko buku.
Pasti semua itu jauh lebih baik.
Ryohei merutuki kebodohannya, Ryohei mengutuk eksistensinya. Rasa bersalah menelan segala emosinya.
Ryohei bukanlah seorang kakak yang dapat diandalkan, tidak ia tidak bisa lagi menjadi seorang kakak untuk Kyoko atau siapa pun.
Karena pada hari itu, Ryohei telah membunuh seorang Sawada Tsunayoshi. Sosok yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
-Part Sasagawa Ryohei : End-
Tulip putih : sebagai ucapan maaf, untuk menunjukkan rasa simpati atas meninggalnya seseorang.
Hulla! Selamat datang di part ryohei dimana pada chapter ini lebih ke tragedi ketimbang angst. personally saya memang suka (banget) cerita angst. tapi tenang saja, Tsunanya ga akan selalu disiksa kok /heh. fanfiksi ini konsepnya bitter-sweet story. Kapan sweetnya? mungkin nanti bukan sekarang /hahaha
chapter 2 ini tadinya saya peruntukkan untuk Gokudera Hayato, tapi karena sifat loyal Gokudera yang bukan main, agak sulit untuk saya menentukan prompt yang cocok. tapi tenang segala konsep (angst) untuk guardians lainnya sudah saya pikirkan matang-matang (semoga ff ini tidak berhenti di tengah jalan) /AMIN
Terima kasih telah membaca!
Salam hangat,
Hanyo4
