YELLOW

.

.

Chapter 1

.

.

Duk!

"Aww!!"

Baekhyun sontak membuka mata saat bokong aduhainya mencium lantai kayu dengan cukup keras. Dia rasa ranjang itu masih cukup luas untuk ditempati kenapa bisa sampai terjatuh?

"Akhirnya bangun juga lu kebo."

Mata Baekhyun yang masih rapat karena belek pun terbuka lebar nan segar ketika melihat titisan nyai rompang sedang berkacak pinggang diseberang ranjang. Baekhyun takut kedua mata bulat itu copot dan menggelinding. Dia tidak yakin bisa melotot sebesar itu.

"Kasar banget nyet. Nggak sekalian aja lu siram pake aer panas biar makin sadis." Kata Baekhyun sambil mengusap bokongnya yang berdenyut-denyut.

Kyungsoo, sang pelaku tendangan maut memutar bola matanya malas. "Kasian gue sama kasurnya, basah ntar gue yang jemur."

"Yah goblok emang nih temen."

"Goblok goblok gini juga masih mau nampung gelandangan kaya lu. Mau gue tendang dari rumah hm? Biar nge gembel di luar sana."

Mendengar ancaman Kyungsoo yang memang tidak pernah main-main membuat Baekhyun menggeleng cepat. "Jangan usir gue dong.. lu mau nanggung dosa ngusir anak yatim piatu terus nanti gue doain jadi gembel juga? Fyi, doa orang teraniaya itu didengar Tuhan lho."

"Bodo amat! Gue teraniaya karena lu, doa gue kagak terkabul juga. Yang ada gue makin menderita."

Baekhyun tertawa renyah. "Ya udah ntar gue bantu doa biar lu cepet kaya. Nanti kan gue kecipratan."

"Eitss!!" Kyungsoo menarik lengan Baekhyun kala lelaki itu akan kembali berbaring guna melanjutkan tidurnya.

"Nggak bisa. Sekarang lu mandi terus beres-beres rumah sebelum berangkat kerja. Hari ini gue libur jadi mau istirahat total. Awas ya kalo gak bersih." Baekhyun menatap sebal ke arah ranjang yang kini ditiduri Kyungsoo. Mulutnya tidak berhenti berkomat kamit sambil melenggang menuju kamar mandi.

Baru saja Kyungsoo akan menutup mata sebelum dia teringat kalau tadi sabun mandi stok terakhir di minggu ini-

"KYUNG SABUN MANDINYA MANA?!"

-ditelan kloset, lagi.

》》》

"Kamu kenapa Baek? Masih

pagi udah manyun aja." Tanya Jongdae, rekan kerjanya yang sesama pelayan restoran yang tengah mengelap meja bersama Baekhyun.

Kemudian pria itu mengendus-endus tubuh Baekhyun. "Wangi bener. Berapa liter pake parfumnya tuh." Kelakar Jongdae yang malah semakin membuat bibir Baekhyun lebih mancung daripada hidung.

Tidak mungkin Baekhyun membuka aibnya kalau tadi dia mandi tanpa pakai sabun kan. Yang ada nanti hal itu jadi bahan guyonan para pegawai. Termasuk Bos Maha Benar Park Chanyeol.

"Stok parfum aku banyak. Sayang kalo gak dipake banyak-banyak." Kilahnya.

Jongdae mengangguk, "Ohh.. kirain gak mandi mangkanya pake parfum sebotol."

Baekhyun mendelik, "ya nggak lah!"

"Iya iyaa-"

"Ekhem!"

Kedua manusia itu sontak menoleh kearah sumber suara. Dari arah tangga menuju lantai dua, Park Chanyeol sedang menatap tajam sambil berpangku tangan.

"Gaji kalian saya potong 10%."

.

.

Baekhyun pikir, melarikan diri ke tanah kelahirannya akan membuat hidupnya sedikit berubah menjadi lebih baik. Tapi ternyata, malah semakin bobrok. Jika saja Kyungsoo tidak berbaik hati memungutnya di depan toko roti waktu itu mungkin dia benar-benar menjadi gelandangan.

Disaat orang lain memandangnya miris, dengan senyum yang terukir Kyungsoo mengulurkan tangan padanya. Memberinya secercah harapan, jika masa depan masih menanti untuk dia jejaki.

"Baek dipanggil bos tuh."

"Ngapain?"

Lisa menggedikkan bahunya, "nggak tau. Udah buruan ntar kena semprot lagi."

Baekhyun mengangguk sebelum kemudian dia berjalan cepat menaiki tangga.

Tok! Tok!

"Masuk."

Kepala Baekhyun melongok, mata sipitnya dapat melihat Bos nya itu sedang berkutat didepan laptop. Serius sekali, batinnya.

"Masuk Baekhyun jangan seperti penguntit begitu."

Si mungil tersenyum kikuk sambil masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu. "Ada apa bos manggil saya?"

Chanyeol melirik sebentar. Hanya dua detik. Setelah itu matanya kembali fokus ke arah monitor. "Bereskan ruangan ini. Sebentar lagi orang penting akan datang."

Baekhyun menggaruk pelipisnya yang tidak gatal sama sekali. Matanya masih berfungsi sangat baik untuk melihat kondisi ruangan atasannya yang kinclong. "Bos.."

"Hm?"

"Apa yang harus saya bereskan? Ruangan bos sudah rapi dan bersih begini."

Chanyeol memutus kontak mata dengan layar. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap sang bawahan dengan satu alis terangkat.

"Kalo kamu nggak mau saya suruh tinggal bilang aja. Jangan ngeles. Saya nggak suka orang banyak omong." Sembur Chanyeol pedas.

Baekhyun tidak berani menatap mata Bosnya yang seolah siap menelannya bulat-bulat. Bibir bawahnya ia kulum, kebiasaan baru Baekhyun saat merasa takut dan gugup.

"Bukan begitu.. saya ha-"

Seketika Baekhyun teringat wejangan Jongdae saat pertama kali masuk kerja. 'Jangan berdebat dengan Bos kalau masih ingin terima gaji'

Baekhyun bergidik ngeri. Saat ini uang begitu penting baginya. Cepat-cepat lelaki itu menggeleng.

"Maaf Bos.. akan saya kerjakan sesuai perintah Bapak."

Chanyeol tidak bersuara. Kedua sabit itu mengintip dan mendapati atasannya tengah kembali sibuk dengan laptopnya. Baekhyun menghela nafas, kenapa dia harus berhadapan dengan orang seperti itu lagi?

Diktator.

Baekhyun benci nasibnya yang terus dikelilingi orang-orang egois.

.

.

Baekhyun seperti orang bodoh sekarang. Menyapu lantai yang sama sekali tidak kotor bahkan bersih mengkilap seperti ini, bukan kah itu hanya buang-buang waktu saja?

Beruntung dia sudah berpengalaman menjadi orang penyabar.

Setelah selesai dengan acara menyapu-lantai-bersihnya, kini Baekhyun tengah membenahi bantal sofa yang sekali lagi sudah tertata rapi. Mengelap kaca meja yang sudah sebening kristal dan menyusun ulang buku yang sebelumnya tertata rapi.

Oke,

Semuanya memang terdengar konyol. Tapi, tak apa lah. Daripada gaji bulan ini hangus.

"Sudah selesai Bos." Ucap Baekhyun sambil tersenyum lebar karena merasa bangga dengan pekerjaan 'bohong'nya.

Mata bulat Chanyeol mengedar. Menatap setiap sudut ruangannya yang seolah bersinar bling bling. Bersih. Kinclong. Rapi. Tiga kata itulah yang mendeskripsikan kondisi ruang kerja Chanyeol selaku pemilik restoran.

Pria itu berdehem sebentar. "Ya sudah sana kembali bekerja." Usirnya lengkap dengan kibasan tangan yang membuat Baekhyun merasa seperti pengemis yang tidak diharapkan kedatangannya.

Sabar..

Tarik nafas..

Hembuskan..

Ingat gaji..

Baekhyun menelan umpatannya mentah-mentah. Tidak mungkin dia menyumpahi atasan menyebalkan itu sekarang. Dia masih sayang pada uangnya yang masih gentayangan. Jika mendapat pekerjaan baru, dengan senang hati Baekhyun akan mencaci maki raksasa itu dengan sumpah serapahnya yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

"Baik Bos."

Selama tiga bulan Baekhyun bekerja disini, belum pernah sekalipun dia mendengar Chanyeol berkata,

tolong,

maaf, dan-

terima kasih.

Tiga kata ajaib itu seakan menjadi tiga kata mustahil jika disandingkan untuk Park Chanyeol.

336699777 - Halo sayang, udah makan siang?

Kedua alis Baekhyun menukik tajam saat nomor asing itu kembali mengirim pesan.

Siapa?

Bersambung...