Ying berdecak. Ia mengerti seberapa besar Taufan masih menyukai Yaya sampai sekarang. Gadis itu jelas masih terngiang di ingatannya. Barangkali tidak akan pernah dirinya terlintas dalam benak Taufan yang kini menjadi kakaknya.

Ying pun mengerti bagaimana dampaknya jika ia terus-terusan menginginkan Taufan untuk jatuh hati padanya. Ia mau bangkit, menyenangkan hidupnya yang telah bosan.

Dirinya seperti lawan dari Taufan dalam beberapa hal. Jika Taufan bisa membaca pikirannya, Ying tidak seperti itu. Jika Ying terus bisa mengingat sesuatu, tidak dengan Taufan. Mana yang lebih menyakitkan? Ying rasa adalah dirinya. Hal indah apa yang bisa ia ingat ketika kini semuanya adalah kabar buruk. Andaikan bisa, Ying ingin menjadi Taufan saja. Tidak apa-apa kehilangan orang yang sangat dicintai jika masih banyak tersedia cinta yang lain. Bagaimana dengan dirinya? Bahkan, ibunya saja tampak mengacuhkannya.

Ying mendongak. Sebuah usapan pada rambutnya menarik perhatiannya. Spontan ia menepis tangan yang melakukan itu padanya. Bukannya membaik, perasaannya kian memburuk.

"Ibu dan aku sayang padamu. Jangan melamun dengan muka itu lagi!"

Tatapan Ying mengikuti Taufan yang meletakkan gelas berisi teh yang sepertinya baru saja dituangi air panas. Kepulan udara di atasnya sudah cukup menjelaskan. Yang tadinya memicing, kini menjadi melotot ke arah pemuda yang telah menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Aku sedang tidak berminat bercanda, Taufan."

Di depan jendela yang terbuka tirainya Taufan terkekeh. "Aku sedang menghiburmu."

Ying berdecak. Ia berdiri lalu beranjak pergi dari ruang tamu, tapi Taufan menarik lengannya hingga ia kembali menghadap Taufan. Ying menatap tajam sepasang mata yang serupa dengan miliknya. Bibirnya terkatup, membiarkan laki-laki di hadapannya segera mengatakan sesuatu yang semoga bukan hal-hal remeh, seperti tempo lalu dia bilang, "Kamu cantik pagi ini.". Spontan pagi itu Ying menampar pipi Taufan. Padahal, ia bisa saja mendorong laki-laki itu hingga terpental menabrak dinding krem rumah mereka.

"Kamu memang di dalam tubuh dia, tapi kamu tetaplah kamu."

Ying tidak bisa membaca pikiran Taufan sekarang, tapi dia tampak serius.

"Kalau bisa, kita bertukar saja, seperti keinginanmu, 'kan?"

Ying menyingkirkan kedua tangan Taufan dari lengannya. Ia terpaksa tersenyum. "Sebentar, ya, aku ingin ke dapur. Aku haus."

Ah, Taufan tidak mengizinkan, sementara Ying tak tahu bagaimana caranya pergi dari situasi ini. Lagi-lagi dia menariknya ke dalam sebuah pelukan. Bukannya terasa hangat, tapi lumayan menyakitkan. Ying ingin segera minum lalu pergi ke sekolah.

"Satu menit saja, Taufan. Sekarang kira-kira tersisa tiga puluh detik lagi."

"Lima menit, ya?"

Ying berucap dalam hati, "Hei, sepuluh detik lagi." Namun, yang ia dapat bukanlah hal yang terlalu mengejutkan lagi, pelukannya makin erat.


Bukan sebuah hal yang menggemparkan lagi ketika Taufan menggenggam tangan Ying sambil berjalan dari tempat parkir menuju kelas. Kelas keduanya berbeda, yaitu Taufan berada di kelas sebelas, sementara Ying di bawahnya maka di pertigaan mereka menuju koridor kelas masing-masing. Ada yang lebih membuat Ying geleng-geleng kepala daripada rutinan paginya itu, yaitu berdasarkan pengamatannya Taufan akan benar-benar tampak sangat peduli padanya pada tiap hari pertama di sekolah baru, mulai dari merangkul pundaknya menuju kelas, membelikan makanan kantin dan mengantarnya ke kelasnya, dan hal-hal manis lainnya.

Ying rasanya nyaris seperti sedang memutar sebuah kaset berisikan kesehariannya sendiri. Ia hapal betul apa yang dilaluinya. Itu berputar tanpa ada hal yang mencolok. Namun, setelah ia membuka pintu kelas, ia dikejutkan oleh teman-temannya sendiri. Kata mereka, selamat ulang tahun. Huh?

Tidak, dulu tidak ada yang seperti ini. Kalau ada pun, rasanya itu sudah sangat lama. Kini Ying berdiri mematung, membiarkan teman sekelasnya melanjutkan rencana mereka, menjabat tangannya, lalu membawakan empat donat di dalam kotak kardus. Seorang lagi memegang lilin yang menyala yang sebelumnya telah ditusuk kayu, bukan dari bagian bawahnya, melainkan dari belakang sehingga jika lilinnya mencair, tangannya tak akan ketetesan.

Lima belas tahun, huh?

"Tiuplah! Ternyata kau yang paling muda di antara kami, ya?"

Ying tak bisa melupakan kenyataan bahwa dirinya lebih tua daripada mereka. Namun, ia bisa tidak mempedulikan hal itu. Senyumnya kini mengembang. Ia menuruti perkataan teman-temannya maka matilah api dari lilin ulang tahunnya.

Apa Taufan tidak bisa mengingat tentang tanggal hari ini? Ying memang tidak memalsukan tentang kelahirannya, kecuali tempat dan tahunnya.

"Aku tidak pernah memberitahu kalian hari ulang tahunku. Jadi, kelas ini memang merayakan ulang tahun tiap siswanya, ya?"

"Oh, iya! Kemarin malam kami sudah mendiskusikan. Kamu sedang tidak punya kuota internet, ya?"

Ying mengangguk. Kejadian sebenarnya adalah ponselnya disembunyikan oleh Taufan dan baru dikembalikan tadi pagi dalam keadaan kehabisan baterai.

"Ini sudah masuk semester dua bagi kita. Akan ada promnight terutama bagi kelas dua belas, setiap kelas sepuluh dan sebelas mengirim satu pasangan untuk mengikuti fashion show sebelum promnight dimulai."

"Lalu?"

"Kau jadi Putri Salju, ya? Fang yang akan menjadi pangeran."

Ah, mengejutkan.


Banyak hal berlalu hingga akhirnya tiba di author note cerita ini.