The Good Wife (Versi Indonesia)
Naruto (c) Masashi Kishimoto
The Good Wife (c) ReiraKurenai
Translated by Star Azura
Bagaimana chapter pertama kemarin?
Udah bisa ngerasain bakal seseru apa pertualangan Ino nanti?
Kira-kira akan seperti apa ya hubungan Naruto dewasa dengan Ino remaja nantinya?
Dan bagaimana nasib jiwa Ino dewasa yang sebenarnya?
LetCekidot!
I hope you Happy to read
just like... I'm Happy to translated
Enjoy it!
Mirror. Mirror.
Ino akhirnya tersadar dan membuka matanya, dia mendapati langit-langit berwara putih. Dia mengerang ketika merasakan kepalanya berdenyut dan mencoba untuk duduk..
'Apa itu semua hanya mimpi?' Ino bertanya pada dirinya sendiri. Dia melirik ke sekeliling ruangan. Dan menyadari kalau dia berada nyaman di bawah selimut berwarna-warni di sebuah ruangan yang tidak dikenalinya. Ruangan itu rapi dan terasa luas. Hanya ada sebuah lemari, meja, kursi, dan tempat tidur ganda yang sedang dia tempati untuk beristirahat saat ini didalamnya. Ino menutup matanya dan menggelengkan kepalanya. ' Aku masih bermimpi? Bagaimana itu bisa terjadi?' Ino menurunkan kakinya ke tepi tempat tidur dan berusaha berdiri. Karpet yang diinjaknya terasa ringan dan lembut di bawah kakinya.
Ino melangkah ke luar ruangan dan menyadari kalau dia ada di lantai dua rumah tempat dia terbangun sebelumnya. Dia mengerutkan kening.
"Apa aku masih bermimpi?" dia bertanya pada dirinya sendiri, lagi. Sambil mendesah, Ino melihat kamar mandi dan berlari menuju toilet. Dia membuka penutup closet dan mengerang ketika dia berusaha memuntahkan semangkuk besar Ramen yang dia ingat telah memakannya sebelumnya. Ino terduduk di lantai dan menghela nafas. Dia merasa sangat tidak nyaman. Ino mencoba berdiri dan membasuh wajahnya, lalu minum air sebanyak yang dia bisa telan. Ino menggelengkan kepalanya, menikmati air dingin di kulitnya dan membuka matanya. Dia menatap bayangannya di cermin.
'Apakah itu aku?' tanyanya pada diri sendiri. Refleksinya tampak dewasa dan luar biasa, jauh lebih cantik daripada yang diingatnya sendiri. Rambut pirangnya dipotong pendek sebahu dan mata birunya bersinar seperti berlian. Dua lingkaran emas menggantung di telinganya menggantikan anting perak yang biasa dia kenakan.
"Itu tidak mungkin aku!" Seru Ino tak percaya. Kenapa dia memotong rambutnya begitu pendek? Ino mencintai rambutnya yang panjang! Tentu, dia memotongnya saat ujian Chunin, tetapi hanya digunakan sebagai keuntungan untuk melawan Sakura! Dia memastikan untuk menumbuhkan rambutnya lagi setelah itu!
"Yo," sebuah suara yang terdengar malas menyapanya. Ino melonjak kaget dan berputar, bertatap muka dengan wajah yang sangat dikenalinya, namun berbeda. Dia berkedip. Dia berkedip dua kali dan kemudian mengangkat alisnya.
"Shikamaru?" dia bertanya dengan ragu-ragu. Pria berambut coklat itu menguap. "Sejak kapan kau punya janggut?"
Kali ini Shikamaru mengangkat alisnya, "Aku sudah memilikinya dari dulu." Ino ternganga saat dia menatap rekan satu timnya itu. Dia lebih tinggi dengan bahu lebih lebar. Rambutnya tergerai di pundaknya dan janggut kecil telah muncul secara ajaib di dagunya. Shikamaru tampak sangat berbeda dari yang diingatnya. "Kau baik-baik saja, Ino?" Naruto memanggilnya dan dia terdengar panik.
"Naruto?" Ino bergumam ketika dia menatap dirinya di cermin sekali lagi, "Aku tidak tahu ... tiba-tiba aku bangun di sini dan kemudian dia muncul entah dari mana!" seru Ino pada Shikamaru sambil menunjuk Naruto.
Shikamaru tertawa, "Dia tidak muncul entah dari mana, Ino. Dia tinggal di sini. Wajar baginya untuk muncul di sini, iya kan?"
Ino mengerutkan alisnya, "Kau tidak mengerti Shikamaru! Aku masih enam belas tahun! Aku tidak mungkin berusia tiga puluh tujuh tahun seperti yang dikatakan Naruto!" seru Ino.
Senyum geli Shikamaru menghilang dan tiba-tiba digantikan dengan kerutan, "Enam belas? Apakah kau baru saja bilang kalau kau berumur enam belas tahun?"
"Ya," jawab Ino. Shikamaru mengerutkan bibirnya menjadi garis tipis.
"Baiklah, biarkan aku mendengarkan ceritamu."
.
/
.
/
"Aku mengerti," Shikamaru menarik napas saat dia menyalakan sebatang rokok. Shikamaru dan Ino sedang duduk di luar di sebuah bangku taman di rumah besar itu. Ino terkejut karena rumah itu tampak lebih besar dari luar. Konoha terlihat sama, namun berbeda pada saat yang sama. Beberapa bangunan telah berubah dan wajah Naruto telah ditambahkan ke monumen Hokage. Ino tidak bisa berkata apa-apa selain menatapnya dengan takjub. Naruto adalah Hokage ... dia tidak bisa mempercayainya, bahkan ketika Shikamaru membenarkannya.
"Jadi," ujar Shikamaru ketika dia menghirup asap rokok yang dalam dan kemudian menghembuskannya, "kau bilang kau ... adalah dirimu yang berusia enam belas tahun dan entah bagaimana terjebak dalam diri masa depanmu?"
Ino mengangkat bahu, "Itu yang coba aku simpulkan. Aku tahu kau mungkin tidak percaya padaku ..."
"Tidak," Shikamaru mendengus, "Aku percaya padamu."
"Benarkah?" Ino bertanya, terkejut. Dia pikir Shikamaru akan kaget dan kemudian menuduhnya sebagai penyusup dan mengurungnya di suatu tempat di mana mereka akan menghubungi ayahnya untuk menginterogasinya dan sejumlah omong kosong lainnya.
"Ya," kata Shikamaru, "Jika sesuatu seperti Edo Tensei ada, aku yakin ada beberapa jutsu terlarang yang membuatmu bepergian melalui waktu atau apa pun yang terjadi padamu."
Ino menatap tangannya yang terlipat di pangkuannya, "Itu masalahnya ... ini semua terasa seperti mimpi ... ini terasa tidak nyata."
Shikamaru memperhatikan rekan satu timnya dari sudut matanya, "Kau akan terbiasa dengan itu."
Ino mencengkeram roknya, "Aku tidak tau ... yang pasti tempatku bukan di sini, Shikamaru. Tempatku di masa lalu! Aku harus kembali dan membiarkan masa depanku kembali ke tubuhnya!"
Shikamaru menghela nafas, "Kalau itu masalahnya , aku akan membantumu. Aku tahu kau merasa tidak seharusnya disini, tapi sampai aku menemukan solusinya, kau harus bisa berpura-pura."
Ino mengangkat alisnya, "Berpura-pura?"
Shikamaru mengangguk, "Kau harus bertingkah seolah-olah tidak ada yang berubah. Dengan kata lain kau harus melakukan apa yang biasa Ino dewasa lakukan saat ini."
Ino berkedip. Bagaimana dia akan melakukan itu? Dia tidak tahu tentang hidupnya di sini dan pertemuan dengan Naruto sebelumnya membuatnya takut. Dia bertingkah begitu ... mesra dengannya. Seolah mereka adalah... kekasih.
'Apa kau tidak ingat pernah melahirkannya?' Ino ingat apa yang ditanyakan Naruto. Ino membeku ketika pertanyaan itu menggema di dalam dirinya. Itu tidak mungkin ... kan? Ino bisa merasakan darahnya membeku. Dia bisa memahami semuanya sekarang. Kenapa dia terbangun di rumah itu. Kenapa Naruto berbicara tentang 'ibu' bukannya 'ibuku' atau 'ibumu'. Mengapa gadis kecil itu tampak tidak asing. Kenapa gadis itu memanggil Naruto 'ayah'. Dan kenapa Naruto menanyakan hal itu padanya.
Semua masuk akal, tetapi Ino harus memastikan, dia berbalik menghadap Shikamaru, "Naruto ... dia ... dia suamiku ... ya?"
Shikamaru melirik Ino dari sudut matanya. Dia mempertimbangkan apakah dia harus menjawab pertanyaan itu atau tidak. Setelah hening sejenak, dia menyerah, "Ya."
Ino tidak tahu harus berkata apa. Sampai seluruh mimpi buruk ini dimulai, dia ingat sedang menikmati Ramen dengan si pirang berisik itu sebagai teman. Sekarang mereka sudah menikah. Dan bukan hanya menikah ... mereka punya anak perempuan. Ino meringis. Dia bukan perawan lagi. Pikiran itu jauh lebih mengganggu dari yang dia duga.
"Kurasa aku perlu mandi," gumam Ino ketika dia berdiri dan menatap ke monumen Hokage. Dia menatap wajah Naruto dengan tak percaya.
Shikamaru mengangguk, "Baiklah. Aku akan menghubungimu segera setelah aku mendapat informasi. Mungkin perlu waktu, tapi aku akan melakukan semua yang aku bisa di antara tugas-tugas pentingku yang lain."
Ino tersenyum penuh terima kasih pada rekan satu timnya dan melihatnya pergi. Dia tidak berpikir apa-apa sebelum akhirnya menyadari kalau Shikamaru mengenakan jaket antipeluru gaya Sunagakure. Ino mengangkat alisnya heran. Apa itu?
Ino memutuskan untuk bertanya pada Shikamaru nanti soal jaket itu, jadi dia memutuskan untuk berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah yang seharusnya miliknya. Naruto tidak terlihat, tapi dia mendengar suara di dapur dan aroma bawang memenuhi rumah. Seseorang sedang memasak makanan. Perut Ino menggeram. Setelah memuntahkan isi perutnya, dia menjadi lapar lagi. Ino berjalan ke atas di mana dia mengunci dirinya di kamar mandi dan membuka seluruh bajunya.
Setelah mandi, Ino mengambil handuk, mengeringkan tubuhnya dan kemudian membungkus tubuhnya dengan handuk itu. Perlahan-lahan dia membuka kunci pintu kamar mandi dan menyelinap ke bawah menuju dapur. Naruto berdiri di depan kompor, matanya terfokus pada wajan dengan tumisan. Baunya fantastis. Dia tidak pernah tahu Naruto bisa memasak. Sepertinya disini Naruto punya banyak kejutan.
"Um, Naruto?" Panggil Ino ragu. Kepala Naruto berputar, dan refleks merasa bergairah ketika menyadari kondisi Ino. Ino merasakan darah mengalir deras ke pipinya ketika dia melihat tatapan Naruto beralih ke payudaranya. Laki-laki selalu bisa ditebak. Ino berdeham. Naruto dengan cepat melihat kembali ke matanya. "Di mana ... pakaianku?"
Naruto berkedip, lalu menyeringai, "Di kamar kita."
Ino membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi Naruto lebih dulu bersuara, "Shikamaru sudah mengatakannya padaku."
"Maksudmu?" Ino dengan ragu bertanya.
"Ya," Naruto mengangkat bahu, "kau ada di kamar mandi saat dia kembali. Dia menceritakan semuanya padaku. Termasuk tentang kau yang berumur enam belas tahun. Maaf aku membuatmu takut sebelumnya. Melihatku bertindak seperti itu pastilah...aneh."
Ino menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Aku hanya butuh pakaian."
"Tentu," kata Naruto ketika dia menjelaskan kamar mana yang menjadi milik mereka di lantai atas dan pakaian apa yang menjadi miliknya. Dia tidak bisa mengantar Ino karena masih memasak makanan, tapi Ino lebih dari senang untuk pergi sendiri mencarinya. Dia cepat-cepat berlari ke atas, karena mulai merasakan udara dingin menghampirinya lalu memasuki kamar tidur utama. Dan waw, ini sangat besar. Yah, Naruto adalah Hokage - dia memiliki rumah besar itu masuk akal. Memikirkan ini adalah rumahnya juga ... itu tidak bisa dipercaya. Ino menemukan pakaiannya dengan mudah dan ketika dia menyadari itu adalah walk-in closet, dia merasa takjub. Dia selalu menginginkan walk-in closet sejak anak-anak, dan sekarang dia memilikinya! Dan itu penuh dengan pakaian, sepatu dan aksesoris. Ino merasa seperti seorang ratu.
Ino mengenakan kimono biru yang dihiasi motif ombak laut. Sederhana, tapi indah dan dia menyukainya. Ketika dia menempelkan kain itu ke hidungnya, aroma yang tersisa dari deterjen favorit ibunya memenuhi lubang hidungnya. Jadi dia masih menggunakan deterjen yang sama seperti ketika dia masih kecil. Itu membuatnya merasa nyaman. Ino memutuskan bahwa dia tidak perlu memakai sepatu , tidak juga aksesoris, tetapi ketika matanya mendarat pada sebuah anting emas, dia tidak bisa menahan diri untuk tak memakainya. Anting itu cocok untuknya. Setelah mengenakan anting-antingnya, dia tampak puas pada dirinya sendiri di cermin.
Ino meraih rambut pirang pendeknya dan memainkan jemarinya disana. Dia kecewa karena rambutnya yang panjang telah hilang, tapi sekarang saat dia melihat dirinya sendiri, dia menyadari bahwa potongan rambut pendek cocok untuknya. Dia tampak feminin dan dewasa. Ino tersenyum pada dirinya sendiri. Mungkin kehidupan ini tidak akan seburuk apa yang dia bayangkan.
.
/
.
/
*#To Be Continued#*
Beneran, aku suka banget menterjemahkan fic ini.
Karena ceritanya manis-manis legit gitu ^_^
Gimana menurut kamu?
so...please give me your review
Kalau mau baca versi aslinya, kamu bisa mampir di akunnya ReiraKurenai
s/6678938/1/The-Good-Wife
Thanks...
by : Star Azura
